You are on page 1of 21

MAKALAH MANAJEMEN LABORATORIUM

PENYIMPANAN ALAT DAN BAHAN

DISUSUN OLEH

KELOMPOK III

HERFITA AISHA MAGHFIRA


INGGIT GARNASIH
IRMA RESTU FUJIANA
LILIK INDRIANI
RAHAYU JUNIARTI
RIZKA DHIA KALILA BALI
SELY ATIFAH AGUSTYN
SIROJUTTOLIBIN
SONIA LARASATI DARUN
ZELLA YAUMIN NASRI

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MATARAM

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
nikmat dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Makalah Manajemen
Laboratorium ini sebagaimana mestinya.

Tak lupa pula saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen
Manajemen Laboratorium yang dengan sabar, tulus dan tidak kenal lelah dalam
membimbing dan mengajari kami demi lancarnya pembelajarann yang kami
laksanakan.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu
diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi
kesempurnaan laporan saya. Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Mataram, April 2018

Penyusun
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Laboratorium merupakan salah satu infrastruktur di perguruan tinggi
yang mendukung kegiatan perkuliahan seperti bidang kimia, biologi dan
fisika. Denganadanya laboratorium kita bisa melakukan pembuktian antara
teori yang didapatkan dengan realita yang sebenarnya.
Alat dan bahan praktikum merupakan sarana yang sangat penting
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar khususnya bagi mahasiswa
fakultas matematika dan ilmu pengetahuan (MIPA). Kurangnya pengetahuan
tentang alat dan bahan dapat membuat proses praktikum tidak sesuai seperti
yang diinginkan. Oleh karena itu diperlukan pengatahuan tentang penggunaan
dan pemeliharaan alat dan bahan yang ideal.
Penyimpanan alat dan bahan harus sesuai dengan standar yang ideal
agar tetap utuh sehingga dapat tahan lama. Mengingat bahwa sering terjadinya
kebakaran, ledakan, atau bocornya bahan-bahan kimia yang beracun maka
dalam penyimpanan bahan-bahan kimia perlu diperhatikan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tempat penyimpanan alat dan bahan kimia yang ideal?
2. Bagaimana penanganan yang baik bagi alat dan bahan tersebut?
3. Bagaimana perbandingan laboratorium FMIPA Universitas Mataram
dengan laboratorium Universitas Gadjah Mada?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui tempat penyimpahan alat dan bahan kimia yang ideal.
2. Untuk mengetahui cara penanganan yang baik bagi alat dan bahan kimia
yang ada di laboratorium.
3. Untuk mengatahui perbandingan laboratorium FMIPA Universitas
Mataram dengan Laboratorium Universitas Gadjah mada yang Berstandar
ISO 17025.
BAB II PEMBAHASAN

A. TEMPAT PENYIMPANAN ALAT DAN BAHAN KIMIA


1. Penyimpanan Alat
Alat laboratorium terbagi menjadi dua bagian yaitu alat gelas dan alat
instrument. Alat gelas dapat berupa Erlenmeyer, gelas ukur, tabung reaksi
dll. Bahannya yang dari kaca membuat alat gelas harus diletakkan di
tempat yang sesuai yaitu lemari khusus yang biasanya terbuat dari kaca
untuk memudahkan pemantauan alat pecah atau rusak. Alat instrument
berupa spektrofotometer visible, spektrovotometer UV, pH Meter dll.
Adapun tempat penyimpanan untuk alat-alat instrument yaitu ditempatkan
pada suatu ruangan khusus yang hanya berisi alat instrument saja.
2. Penyimpanan bahan
Bahan-bahan laboratorium dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian,
yaitu:
a. Bahan mudah terbakar
Bahan ini merupakan bahan kimia yang mudah bereaksi dengan
oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran. Misalnya: belerang,
fosfor, benzene, dll.

Dalam penyimpanannya harus diperhatikan sebagai berikut :


 Disimpan pada tempat yang cukup dingin untuk mencegah
penyalaan tidak sengaja pada waktu ada uap dari bahan bakar dan
udara
 Tempat penyimpanan mempunyai peredaran hawa yang cukup,
sehingga bocoran uap akan diencerkan konsentrasinya oleh udara
untuk mencegah percikan api
 Lokasi penyimpanan agak dijauhkan dari daerah yang ada bahaya
kebakarannya
 Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat,
bahan yang mudah menjadi panas dengan sendirinya atau bahan
yang bereaksi dengan udara atau uap air yang lambat laun menjadi
panas.
 Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan mudah
dicapai
 Singkirkan semua sumber api dari tempat penyimpanan
 Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok
 Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta
dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa secara
periodic
b. Bahan kimia beracun
Bahan kimia beracun merupakan bahan kimia yang dapat
menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan
kematian apabila masuk atau terserap ke dalam tubuh karena tertelan,
lewat pernafasan atau kontak lewat kulit. Misalnya: Hidrokarbon
alifatik ( bensin), Hidrokarbon terhalogenasi ( kloroform ), Alkhohol, (
etanol, metanol )

Syarat penyimpanan:
 Ruangan dingin dan berventilasi
 Jauh dari bahaya kebakaran
 Disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung
tangan
 Dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi
 Kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat jika
tidak sedang dipergunakan
c. Bahan mudah meledak
Bahan kimia mudah meledak (atau campuran) adalah sebuah padatan
atau cairan yang dengan sendirinya mampu bereaksi secara kimia
menghasilkan gas pada suhu dan tekanan tertentu dan dengan
kecepatan tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan sekeliling.
Misalnya: KClO3, NH4NO3, Trinitro Toluena (TNT), dan lain-lain.
Syarat penyimpanannya yaitu:
 Ruangan dingin dan berventilasi.
 Jauhkan dari panas dan api.
 Hindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis.
 Berjarak minimal 60 meter dari sumber tenaga, terowongan, dll.
 Ruang penyimpanan berupa bangunan kokoh dan tahan api.
 Lantai terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan loncatan api.
 Sirkulasi udara yang baik.
 Penerangan dari alam/lampu listrik yang dapat dibawa/bersumber
dari luar penyimpanan.
 Bangunan tidak boleh dekat dengan oli, bensin, sisa zat yang
terbakar, api.
 Bebas rumput kering, sampah/material yang mudah terbakar
d. Bahan pengoksidasi
Bahan kimia yang termasuk oksidator adalah bahan kimia yang
menunjang proses pembakaran dengan cara melepaskan oksigen atau
bahan yang dapat mengoksidasi senyawa lain. Misalnya KMnO4,
FeCl3, NaNO3, (H2O2).
Syarat penyimpanannya sebagai berikut:
 Ruangan dingin dan berventilasi
 Jauhkan dari sumber api dan panas
 Tersedianya alat pelindung diri
e. Gas bertekanan
Gas bertekanan telah banyak diigunakan dalam industry Jenis gas
yang tersimpan di dalam tabung bisa berupa gas yang mudah terbakar
(flammable), gas beracun (toxic), inert gas, gas mudah meledak
(explosive) dan lain-lain.
Syarat penyimpanan bahan:
 Silinder gas-gas bertekanan harus disimpan dalam keadaan berdiri
dan diikat kuat dengan rantai pada suatu penyangga tambahan.
 Ruang penyimpanan harus dijaga agar sejuk, bebas dari sinar
matahari langsung, jauh dari saluran pipa panas didalam ruangan
yang ada peredaran udara.
 Gedung penyimpanan harus tahan api dan harus ada tindakan
preventif agar silinder tetap sejuk bila terjadi kebakaran, misalnya
dengan memasang sprinkler
f. Bahan radioaktif
Radioaktif adalah zat yang secara spontan memancarkan sinar/radiasi.
Misalnya: uranium, palladium, radium, dan lain-lain.

Syarat penyimpanan:
Bahan radioaktif harus disimpan di suatu tempat yang terawasi dan
terjaga keamanannya dari kehilangan oleh orang yang tak bertanggung
jawab. Pada tempat penyimpanan harus dituliskan kata “HATI-HATI
BAHAN RADIOAKTIF ( CAUTION RADIOACTIVE MATERIALS)”.
g. Bahan sensitif terhadap cahaya
Merupakan zat-zat kimia bila terkena cahaya akan mudah terurai.
Misalnya perak nitrat, hindrogen peroksida, argentums klorida, dan
lain-lain.

Syarat penyimpanan:
Penyimpanan bahan kimia yang sensitif cahaya harus dipisahkan atas
dasar tingkat kebahayaannya.
h. Bahan korosif
Korosif adalah sifat suatu subtantsi yang dapat menyebabkan benda
lain hancur atau memperoleh dampak negatif. Korosif dapat
menyebabkan kerusakan pada mata, kulit, sistem pernapasan, dan
banyak lagi. Contoh bahan kimia yang bersifat korosif antara lain
asam sulfat,asam astetat,asam klorida dan lain-lain.
Syarat penyimpanan:
 Pisahkan asam-asam tersebut dari basa dan logam aktif seperti
natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dll.
 Pisahkan asam-asam organik dari asam mineral dan asam mineral
oksidator,
 Penyimpanan asam organik biasanya dibolehkan dengan cairan
flammable dan combustible.
 Pisahkan asam dari bahan kimia yang dapat menghasilkan gas
toksik dan dapat menyala seperti natrium sianida (NaCN), besi
sulfida (FeS), kalsium karbida (CaC2) dll.
 Gunakan wadah sekunder untuk menyimpan asam itu, dan
gunakan botol bawaannya ketika dipindahkan ke luar lab.
 Simpanlah botol asam pada tempat dingin dan kering, dan
jauhkan dari sumber panas atau tidak terkena langsung sinar
matahari.
 Simpanlah asam dengan botol besar pada kabinet atau lemari rak
asam. Botol besar disimpan pada rak lebih bawah daripada botol
lebih kecil.
 Simpanlah wadah asam pada wadah sekunder seperti baki plastik
untuk menghindari cairan yang tumpah atau bocor. Baki plastik
atau panci kue dari pyrex sangat baik digunakan lagi pula murah
harganya. Khusus asam perklorat harus disimpan pada wadah
gelas atau porselen dan jauhkan dari bahan kimia organik.
 Jauhkan asam oksidator seperti asam sulfat pekat dan asam nitrat
dari bahan flammable dan combustible.

Penyimpanan basa padatan atau cairan seperti amonium hidroksida


(NH4OH), kalsium hidroksida, Ca(OH)2, kalium hidroksida (KOH),
natrium hidroksida (NaOH) harus dilakukan sebagai berikut :

 Pisahkan basa dari asam, logam aktif, bahan eksplosif, peroksida


organik, dan bahan flammable.
 Simpan larutan basa anorganik dalam wadah polyethylene
(plastik).
 Tempatkan wadah larutan basa dalam baki plastik untuk
menghindari pecah atau keborocan.
 Simpanlah botol-botol besar larutan basa dalam lemari rak atau
cabinet yang tahan korosif. Botol besar disimpan pada rak lebih
bawah daripada botol lebih kecil.
i. Bahan Gas Terkompresi
Gas bertekanan ini merupakan gas yang disimpan dibawah
tekanan, baik gas yang ditekan maupun gas cair atau gas yang
dilarutkan dalam pelarut dibawah tekanan. Gas-gas tersebut dapat
disimpan dalam silinder dalam bentuk gas tekan seperti udara, cair dan
terlarut. Contoh asetilen, hidrogen, nitrogen dll.

Syarat penyimpanan :

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika kita menyimpan


bahan kimia berupa gas yang terkompresi.
 Pisahkan dan tandai mana tabung gas yang berisi dan mana yang
kosong.
 Amankan bagian atas dan bawah silinder dengan menggunakan
rantai dan rak logam.
 Atur regulator ketika gas dalam silider digunakan.
 Pasang tutup pentil ketika silinder tidak digunakan.
 Jauhkan silinder dari sumber panas, bahan korosif bahan
berasap maupun bahan mudah terbakar.
 Pisahkan silinder yang satu dengan yang lainnya jika gas dari
silinder satu dapat menimbulkan reaksi dengan gas dari silinder
lain.
 Gunakan lemari asap untuk mereaksikan gas yang diambil dari
silinder.
 Gunakan gerobak yang dilengkapi rantai ketika memindahkan
silinder gas berukuran besar.
 Jagalah sumbat katup jangan sampai lepas ketika menggeser-
geserkan silinder, karena gas dalam silinder memiliki tekanan
tinggi.
j. Bahan reaktif
Bahan kima ini sangat mudah bereaksi dengan air dengan
mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar. Contoh : Na, K,
CaO dll.
Syarat penyimpanan:
 Simpan bahan kimia pembentuk peroksida itu dalam botol tertutup
rapat (tidak kontak dengan udara) atau dalam wadah yang tidak
terkena cahaya.
 Berikan label pada wadah tentang tanggal diterima dan dibuka
bahan tersebut.
 Uji secara periodik (3 atau 6 bulan) terjadinya pembentukan
peroksida. Buanglah peroksida yang telah dibuka setelah 3 - 6
bulan.
 Buanglah wadah bahan kimia pembentuk peroksida yang tidak
pernah dibuka sesuai batas kadaluarsa yang diberikan pabrik atau
12 bulan setelah diterima.

B. CARA PENANGANAN
1. Bahan kimia yang mudah meledak
Bahan kimia yang reaktif atau tidak stabil dapat bersifat mudah meledak.
Peledakan terjadi karena reaksi amat cepat serta menghasilkan panas dan gas
dalam jumlah yang besar. Ledakan adalah kecelakaan yang sering terjadi di
laboratorium kimia, sehingga banyak menimbulkan korban dan jiwa. Simpanlah
bahan yang mudah meledak di tempat yang segar. Jangan biarkan penyimpanan
lembab atau kotor waktu hujan.Hindari pula sesuatu yang dapat menyebabkan
pemanasan dan loncatan api dan jangan simpan berdekatan dengan zat yang
dapat bereaksi, karena peristiwa peledakan selalu disertai kebakaran. Jika
melakukan percobaan dengan senyawa yang dapat meledak maka lakukan dalam
lemari asam, pakai alat pelindung dan siapkan alat pemadam kebakaran.
2. Bahan kimia beracun
Pada dasarnya semua bahan kimia berbahaya namun ada aksinya lambat dan
ada yang cepat. Bahan kimia di laboratorium pada umumnya aksinya lebih cepat
disbanding dengan yang digunakan dalam industry. Bila memungkinkan
penggunaan bahan kimia beracun diusahakan diganti dengan zat lain yang setara
dan tidak beracun atau sifat toksisitasnya rendah.Contoh benzene diganti dengan
toluene, CCl4, atau CHCl3 diganti dengan CH2Cl2. Bila bekerja dengan bahan
kimia beracun maka pengamannya di lemari asam dengan menggunakan masker
yang spesifik ( tidak universal). Spesifikasi masker dapat dilihat dari pita yang
melekat pada filternya seperti tabel di bawah ini

Warna Pita Bahan beracun yang dicegah

Putih Asam pekat


Hitam Asam sianida

Hijau Amoniak

Biru CO

Putih strip kuning Gas klor

Kuning Asam dan uap organic

Coklat Asam, uap organic, dan amoniak

Mekanik (perban) Debu

Untuk pelindung tangan digunakan sarung tangan tipis dari karet, penahan
panas digunakan sarung tangan dari kapas atau asbes tergantung tingkat
kepanasannya.

3. Bahan korosif
Bahan kimia seperti asam klorida, asam nitrat, dan asam sulfat, belerang
dioksida, asam-asam, asam anhidrida dan alkali dapat merusak logam (mineral)
yang ada dalam tubuh kita, missal aasam sulfat dapat menyebabkan luka
setempat dan asam sulfide dapat menyebabkan efek sistemik. Bahan korosif yang
berbentuk gas lebih berbahaya daripada yang berbentuk cairan dan cairan lebih
berbahaya dari yang berbentuk padatan. Bahaya dapat diproteksi dengan masker,
sarung tangan, kacamata dan lemari asam. Bahan korosif disimpan di ruangan
yang dingin dan berventilasi, wadah tertutup rapat, berlabel, hindari kontaminasi
dengan udara, pernafasan serta kontak dengan kulit dan mata, dan dipisahkan
dari bahan beracun (toxic).
4. Bahan yang mudah terbakar
Laboratorium yang banyak menggunakan bahan kimia khususnya bahan
senyawa organic makin rentan terhadap bahaya kebakaran. Sumber-sumber api
dapat dari peralatan yang digunakan untuk pemanasan termasuk dari instalasi
listrik. Contoh eter dapat terbakar dengan jarak 4 meter dari sumber api. Logam
Natrium, Butil-Litium bila kontak dengan air akan menimbulkan api
(kebakaran).
Terjadinya kebakaran dapat dimengerti bila kita memahami segitiga api
oksigen

bahan bakar sumber api

Kebakaran akan terjadi bila tiga unsure di atas terpenuhi sehingga untuk
mencegah kebakaran adalah dengan hanya mengisolasi salah satu unsure di
atas.Bila kebakaran terjadi maka perlu diketahui jenis kebakarannya agar dapat
diambil langkah yang tepat, karena tidak semua kebakaran dapat dipadamkan
dengan air. Secara umum klasifikasi kebakaran didasarkan pada jenis bahan
bakarnya seperti tabel di bawah ini :

Kelas Kebakaran Bahan mudah terbakar (Burning material)

(Fire Class)

A Kertas, Kayu, Tekstil, Plastik, dan sejenisnya

B Pelarut yang mudah terbakar seperti Benzene,


Toluene, dan Eter

C Instalasi Listrik seperti Travo, dan peralatan listrik

D Logam alkali seperti logam Na dan Li

Memadamkan kebakarazzn dilakukan dengan cara disesuaikan dengan kelas


kebakarannya sebagai tindakan pertama sebelum memanggil pemadam
kebakaran sebagai berikut :

Tindakan pertama Warna Tabung Untuk Kelas Kebakaran

Air Merah A, B, dan C

Busa (foam) Krem A dan B

Tepung (powder) Biru A,B, C, dan D

Halon (halogen) Hijau A,B, C, dan D

Karbon dioksida Hitam A,B, C, dan D

Pasir - A dan B
Selain alat pemadam kebakaran maka di laboratorium sudah harus disediakan
selimut api, dan manual caara memadamkan kebakaran.

5. Gas bertekanan
Disimpan di ruangan dingin dan tidak terkena langsung dengan sinar
matahari. Hindari panas, api, bahan korosif yang dapat merusak keran dan katub.
Bila tidak digunakan disimpan dalam keadaan tidur, bila digunakan disimpan
dalam keadaan berdiri dan terikat ke dinding khususnya untuk tabung yang
tinggi.
6. Bahan radioaktif
Contoh : Uranium, Radium dan Torium. Ruangan penyimpan perlu didesain
khusus.

C. PERBANDINGAN LABORATORIUM
1. Laboratorium UGM yang telah berstandar ISO
2. Laboratorium Universitas Mataram
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Tempat penyimpanan alat dan bahan yang baik harus sesuai dengan
karakteristik alat dan bahan tersebut, seperti alat gelas pada lemari kaca yang
berisi hanya alat gelas dan alat instrument pada suatu ruangan khusus yang
hanya berisikan alat-alat instrument. Sedangkan untuk bahan diletakkan di
tempat yang sesuai dengan cara penyimpanannya.
2. Cara penganan untuk alat dan bahan yaitu dengan menghindarkannya dengan
semua bahan yang dapat membuat alat tersebut rusak maupun bahan itu
bereaksi. Apabila ingin mengambil bahan-bahan yang berbahaya harusla
memakai safety yang lengkap dan sesuai prosedur untuk menghindarkan dari
segala kemungkinan yang dapat terjadi.
3. Perbandingan antara laboratorium di Universitas Mataram khususnya
laboratorium Kimia Dasar dan Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam dengan LPPT Universitas Gadjah Mada sangat jauh
berbeda. Hal ini dapat dilihat dari banyak hal mulai dari alat-alat yang
dimiliki LPPT UGM yang lebih lengkap, tempat penyimpanan yang sesuai
yang menyebabkannya mendapatkan akreditasi sebagai laboratorium yang
berstandar ISO 17025 dari Komite Akreditasi Masional (KAN).

B. SARAN
Mari bersama-sama menjaga laboratorium kita dengan cara meletakkan peralatan
praktikum pada tempatnya. Mungkin laboratorium kita memang jauh dari standar
ISO 17025 akan tetapi laboratorium itu sudah cukup memadai untuk melakukan
praktikum. Jadi jagalah apa yang kita miliki dengan baik agar dapat digunakan
pula oleh generasi setelah kita.
DAFTAR PUSTAKA