You are on page 1of 22

Tugas Riset Keperawatan

“ASKEP PENURUNAN PENDENGARAN (TULI)”

OLEH :

REZKI FEBRIANTI JUFRI


PO714201151041

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


PRODI D.IV KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi
Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir
zaman.

Atas berkat rahmat serta inayah Allah jugalah penulis telah dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul :“ASKEP PENURUNAN PENDENGARAN”. Adapun penyusunan
makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ‘’RISET
KEPERAWATAN’’ program D4 Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Makassar.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak menutup


kemungkinan apabila masih terdapat kesalahan dan kekurangan.Dengan lapang dada penulis
menerima saran dan kritiknya demi untuk menambah wawasan.Semoga makalah ini
mendatangkan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi rekan-rekan semua pada umumnya.
Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Makassar, 27 Januari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................2

DAFTAR ISI..........................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................................4

B. Rumusan masalah ...................................................................................................... 5

C. Tujuan .........................................................................................................................5

D. Manfaat .......................................................................................................................5

BAB II KONSEP PATOFISIOLOGI

A. Konsep patofisiologi tuli sensorineural .....................................................................6

BAB III TEKNIK PEMERIKSAAN TAJAM PENDENGARAN

A. TEKNIK PEMERIKSAAN ........................................................................................7

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN

A. Konsep Dasar ASKEP ..............................................................................................11

B. ASKEP ......................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................22

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kita di anugerahi dalam banyak hal dan salah satunya adalah kemampuan
untuk menikmati beragam musik yang indah dan bunyi-bunyian yang menarik,
membina suatu komunikasi verbal dengan orang-orang disekitar kita termasuk juga
kemampuan untuk mengetahui dan mengantisipasi adanya bahaya melalui
kemampuan fungsi telinga yang baik. Keberadaan organ ini beserta fungsinya tentu
perlu dijaga dengan sebaik baiknya sehingga akan membuat kita dapat mengetahui
beragam hal baru dan bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup di dunia ini. Sikap
keperdulian yang tinggi untuk mengenali ada tidaknya gejala gangguan pendengaran
yang dapat membuat aktifitas terganggu.
Gangguan pendengaran merupakan defisit sensorik yang paling sering terjadi,
mempengaruhi lebih dari 250 juta orang di dunia. Di Indonesia, gangguan
pendengaran dan ketulian saat ini masih merupakan satu masalah yang dihadapi
masyarakat. Penyerapan informasi melalui mendengar adalah sebesar 20%, lebih
besar dibanding melalui membaca yang hanya menyerap 10% informasi.

Gangguan pendengaran ini dapat menyebabkan tuli konduktif dan tuli


sensorineural. Dari semua kasus kehilangan pendengaran, 90 % merupakan tuli
sensorineural. Tuli sensorineural adalah tuli yang terjadi karena adanya gangguan
pada telinga dalam atau pada jalur saraf dari telinga dalam ke otak. Tuli sensorineural
merupakan masalah bagi jutaan orang. Kehilangan pendengaran ini dibagi dalam
beberapa derajat, yaitu ringan, sedang,dan berat.Tuli ini dapat mengenai segala usia
dengan etiologi yang berbeda-beda.Sekitar 50% kasus merupakan faktor genetik dan
50 % lagi didapat (acquired).
Faktor genetik juga bisa mempengaruhi, misalnya kedua orang tuanya normal,
namun kakek dan neneknya memiliki riwayat pernah mengalami ketulian. Hal ini bisa
berdampak pada anak. Jika anak mengalami tuli sensorineural, tentu tidak bisa
disembuhkan, hanya bisa di bantu dengan alat bantu dengar semata. Terapi yang bisa
membuat kembali mendengar itu tidak ada kecuali untuk para tuli konduktif yang

4
disebabkan karena infeksi. Infeksi ini dapat disembuhkan tetapi ketuliannya belum
tentu sembuh.

B. RUMUSAN MASALAH

1. apa definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis pada pasien dengan tuli
sensorineural
2. bagaimana konsep patofisiologi tuli sensorineural
3. bagaimana proses asuhan keperawatan yang akan dilakukan dari mulai pengkajian,
menegakkan diagnosa keperawatan intervensi keperawatan sampai dengan evaluasi
keperawatan.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan tuli sensori neural.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis dengan tuli
sensorineural.
b) Mengetahui konsep patofisiologi tuli sensorineural.
c) Mengetahui proses asuhan keperawatan yang akan dilakukan dari mulai
pengkajian, menegakkan diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan
sampai dengan evaluasi keperawatan.
D. MANFAAT

1. Memberikan informasi dan menambah pengetahuan serta wawasan mengenai tuli


sensorineural.
2. Untuk penulisan makalah yang sejenis.

5
BAB II

KONSEP PATOFISIOLOGI

Tuli sensorineural

Tuli sensorineural
Tuli sensorineural retrokoklea
koklea
Proses degenerasi Penyebab lain: Pemaparan bising dari
tulang dalam pd lansia Aplasia(kongenital), lingkungan - Neuroma akustik
Tuli mendadak
labirintis(oleh infeksi - Tumor sudut pons serebelum
viru,bakteri), intoksikasi - Mieloma multiple
Presbicusis Lama terpapar, intensitas
Penyebab tertentu obat - Cedera otak
tinggi, frekuensi tinggi - Perdarahan otak
(sterptomisin,kanamisin,ga
Perubahan struktur
ramisin,neomisin,kina,aset - Kelainan otak
koklea&nervus akustik Iskemia koklea
osal,alkohol),trauma Bising dg intensitas > 90dB
Atrofi & degenerasi sel-sel rambut kapitis, trauma akustik
Tuli timbul mendadak
getar koklea, perubahan vaskularis, Kerusakan reseptor
jumlah&ukuran sel gangliion saraf pendengaran corti
Tuli unilateral, bilateral Kesulitan
menurun
berkomukasi
Kurang pendengaran, terutama
Pendengaran berkurang secara Tinitus, vertigo NYERI tinitus, sukar menangkap grup
perlahan, progresif&simetris
pada kedua telinga percakapan

RESIKO Perubahan
Sensasi pendengaran CEDERA status
dengan intensitas yang kesehatan
rendah GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI ;
PENDENGARAN ANSIETAS
HAMBATAN KOMUNIKASI 6
VERBAL
BAB III

TEKNIK PEMERIKSAAN TAJAM PENDENGARAN

A. Teknik pemeriksaan tajam pendengaran dapat dilakukan dengan 3 cara :


1. Garputala
2. Uji berbisik
3. Audiometrik
Berikut penjelasannya..

1. Garputala

Garputala terdiri dari satu set, lima buah, dengan frekuensi 128 Hz, 256 Hz,
512 Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz. Untuk tes garputala biasanya dipakai garputala 512
herz, dan diperiksa di ruang periksa, tidak perlu di ruang kedap suara, asalkan tidak
terlalu riuh. Ada 3 macam pemeriksaan :

a. Uji rinne, ialah membandingkan hantaran melalui udara dan melalui


tulang. Caranya ialah garputala digetarkan, lalu diletakkan pada tulang di
belakang telinga, dengan demikian getaran melalui telinga akan sampai ke
telinga dalam. Apabila pasien tidak dapat mendengar bunyi dari garputala
yang digetarkan itu lagi, maka garputala dipindahkan ke depan liang
telinga, kira-kira 2,5 cm jaraknya dari liang telinga. Hantaran di sini ialah
hantaran melalui udara. pada Pasien yang pendengaranya masih baik,
maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Jadi
garputala yang tadi diletakkan di tulang belakang telinga tidak dapat
terdengar lagi. Hal yang demikian disebut uji rinne positif.
b. Uji weber, yaitu membandingkan hantaran tulang telinga kanan dantelinga
kiri. Caranya ialah, garputala digetarkan, lalu dasar garputala ditmpelkan
pada garis tengah, seperti di ubun-ubun, dahi, atau pertengahan gigi seri.
Pasien pada gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu
telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Pada orang normal akan
mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunyi kiri dan kanan. Bila
lebih keras ke kanan, disebut lateralisasi ke kanan.

7
c. Uji schwabach, yaitu membandingkan hantaran tulang pasien dengan
pemeriksa yang pendengarannya normal. Caranya ialah, garputala
digetarkan, lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga
pasien. Setelah pasien mengatakan bahwa ia tidak dapat mendengar lagi,
maka dasar garputala diletakkan ke tulang di belakang telinga pemeriksa.
Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi, maka dikatakan bahwa
telinga pasien uji schwabachnya memendek.

2. Uji berbisik
Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang, dengan panjang 6 meter.
Pemeriksa duduk ke samping, telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu,
sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Pemeriksa mengucapkan
kata yang terdiri dari 2 suku kata, diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi.
Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Dimulai sejak jarak 6 meter,
makin lama pemeriksa makin mendekat, sampai pasien dapat menyebut kata dengan
benar. Hasiluji berbisik orang normal ialah 5/6 - 6/6.

3. Uji audiometrik
Pada uji audiometrik ini, dibuat audiogram nada murni, atau pemeriksaan lain
yang lebih khas, seperti tes SISI, tes Bekesy. Bagian dari audiometer ialah adanya 1)
tombol pengatur intensitas bunyi, 2) tombol pengatur frekuensi, 3) headphone
untuk memeriksa hantaran udara (AC), 4) konduktor tulang untuk memeriksa
hantaran tulang (BC).
Pada pencatatan hasil audiogram, digambarkan warna merah untuk telinga
kanan, sedangkan warna biru untuk telinga kiri. Untuk menggambarkan grafik AC
(hantaran melalui udara) dibuat dengan garis lurus penuh, sedangkan untuk grafikBC
(hantaran melalui tulang) dengan garis terputus-putus.
Pemeriksaan di lakukan di dalam ruang kedap suara. Pasien diberi tahu,
supaya apabila mendengar bunyi segera memncet tombol yang disediakan, dan
apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan.
Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan
headphone pada pasien. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 Hz, kemudian
intensitas dinaikkan mulai dari 0 decibell (dB), sampai dengan mendengar bunyi.
Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz, 1000 Hz, 1500 Hz, 2000 Hz,
8
sampai 8000 Hz. Pada telinga kanan, kemudian telinga kiri. Setelah itu headphone
diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di
belakang telinga untuk memeriksa hantaran melalui tulang (BC), dan dilakukan
pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC.
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran
normal, tuli hantar (konduktif), tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Juga dapat
terlihatapakah kurang dengarnya ringan, sedang atau berat.

9
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TULI


1. ANATOMI TELINGA
a. Telinga luar
Terdiri atas aurikel atau pina, yang pada binatang rendahan berukuran
besar serta dapat bergerak dan membantu mengumpulkan gelombang suara;
dan meatus audiotorius eksterna yang menjorok ke dalam menjauhi pina,
serta menghantarkan getaran suara menuju membrane timpani.
Liang ini berukuran panjang sekitar 2,5 sentimeter, sepertiga luarnya
adalah tulang rawan sementara dua pertiga dalamnya berupa tulang.liang ini
dapat diluruskan dengan cara mengangkat daun telinga ke atas dan
kebelakang. Halini biasanya dilakukan bila kita hendak menyemprot telinga.
Cairan semprotan itu harus diarahkan ke dinding posterior dan dinding atas
liang telinga. Setelah disemprot dan diperiksa, cairan selebihnya dapat
dikibaskan ke luar oleh pasien.
Aurikel berbentuk tidak teratur serta terdiri atas tulang rawan dan
jaringanfibrus, kecualipada ujung paling bawah, yaitu cuping telinga, yang
terutama terdiri atas lemak.
Ada tigakelompok otot yang terletak pada bagian depan, atas, dan
belakang telinga. Kendati demikian, manusia hanya sanggup menggerakkan
telinganya sedikit sekali, sehingga hampir-hampir tidak kelihatan.
b. Telinga tengah
Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang
mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membrane timpani atau
gendang telinga, yang memisahkan rongga itudari meatus audiotorius
eksterna. Rongga itu sempit serta memiliki dinding tulang dan dinding
membranosa, sementara pada bagian belakangnya bersambung dengan antrum
mastoid dalam prosesus mastoideuspada tulang temporalis, melalui sebuah
celah yang disebut aditus.

10
Tuba eustakhius bergerak ke depan dari rongga telinga tengah menuju
nasofaring, lantas terbuka. Dengan demikian tekanan udara pada kedua sisi
gendang dapat diatur seimbang melalui meatus audiotorius eksterna, serta
melalui tuba eustakhius (faring timpani). Celah tuba eustakhius akan terutup
jika dalam keadaan biasa, dan akan terbuka setiap kali kita mnelean. Dengan
demikian tekanan udara dalam ruang timpani dipertahankan tetap seimbang
dengan tekanan udara dalam atmosfer, sehingga cedera atau ketulian akibat
tidak seimbangnya tekanan udara dapat dihindarkan. Adanya hubungan
dengan nasofaring ini memungkinkan infeksi pada hidung atau tenggorokan
dapat menjalar masuk ke dalam rongga telinga tengah.
Tulang-tulang pendengaran adalah tiga tulang tengah seperti rantai
yang bersambung dari membran timpani menuju rongga telinga dalam. Tulang
sebelah luaradalah maleus , berbentuk seperti martil dengan gagang yang
terkait pada membrane timpani, sementara kepalanya menjulur ke dalam ruang
timpani.
Tulang yang berada di tenga adalah inkus atau landasan, sisi luarnya
bersendi dengan maleus, sementara sisi dalamnya bersendi dengan sisi dalam
sebuah tulang kecil, yaitu stapes.
Stapes atau tulang sanggrudi dikaitkan pada inkus dengan ujungnya
yang lebih kecil, sementara dasarnya yang bulat panjang terkait pada
membrane yang menutup fenestra vestibuli, atau tingkap-jorong. Rangkaian
tulang-tulang ini berfungsi mengalirkan getaran suara dari gendang telinga
menuju rongga telinga dalam.
c. Prosesus mastoideus
Merupakan bagian tulang temporalis yang terletak di belakang telinga;
sementara ruang udara yang berada pada bagian atasnya adalah antrum
mastoideus yang berhubungan dengan rongga telinga tengah. Infeksi dapat
menjalar dari rongga telinga tengah hingga antrum mastoid, dan dengan
demikian menimbulkan mastoiditis.
d. Telinga dalam
Telinga dalam terdiri dari labirin tulang dan labirin membrane, yang
dipisahkan oleh perilimfa. Di dalam membrane terdapat endolimfa.
Labirin tulang terdiri dari dari tiga buah kanalis semisirkulasis,
kokleadan vestibula. Kanalis semisirkularisberisi saluran membranosa,
11
vestibulum mengandung utrikel membran dan sakulus membran,
sedangkan koklea mengandung duktus membranosa dan mempunyai organ
untuk mendengar (organ corti)
Saluran membranosa dan utrikel diperlukan untukkeseimbangan,
sedangkan sakulus dan duktuskoklea diperlukan untuk pendengaran.

2. KONSEP TULI SENSORINEURAL


a. DEFINISI
Gangguan pendengaran sensorineural yaitu : kerusakan pada telinga
dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak. Gangguan
pendengaran sensorineural disebabkan oleh hilangnya atau rusaknya sel saraf
(sel rambut) dalam rumah siput dan biasanya bersifat permanen. Perlu
diketahui bahwa untuk mendengar dan mengerti suatu bunyi diperlukan suatu
proses penghantaran, pengolahan di telinga dalam, dan dilanjutkan dengan
interprestasi bunyi (di otak). Kadang dijumpai suatu kasus fungsi
penghantaran dan pengolahan baik, namun karena ada gangguan di otak, maka
bunyi tidak dapat diartikan.

b. ETIOLOGI
1) Degeneratif : Presbikusis (penurunan pendengaran karena usia lanjut).
2) Kongenital : aplasia.
3) Trauma : fraktur pars petrosa os temporalis, trauma kapitis, pajanan bising.
4) Radang, bisa karena : syndrom rubella kongenital, sifilis kongenital.
5) Ototoksik, disebabkan karena : aspirin, streptomicin, alkohol.
6) Tumor, contoh pada neuroma akustik, multiple myeloma.
7) Penyakit Susunan saraf pusat : perdarahan otak.

c. MANIFESTASI KLINIK
Pada dasarnya manifestasi klinis pada tuli sensorineural hampir sama
dengan tuli konduktif.
1) Rasa penuh pada telinga.
2) Pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar, biasanya dikarenakan
proses peradangan.

12
3) Tinnitus.
4) Apabila bercakap dengan lawan bicara kadang tidak sesuai dengan apa
yang dibicarakan oleh lawan bicaranya.
5) Sering meminta lawan bicaranya untuk mengulang apa yang disampaikan.
6) Pada anak-anak biasanya ditemukan :
 Pada pasien dengan gangguan pendengaran sejak lahir biasanya akan
mengalami gangguan tumbuh kembang terutama pada proses bicara.
Hal ini disebabkan anak tidak mampu menangkap semua elemen
pembicaraan dengan jelas sehingga anak akan mengalami kesulitan
meniru ucapan dengan betul dan baik. Anak juga akan mengalami
gangguan pola berbicara yang sering rancu dengan masalah
intelegensinya.
 Cenderung berusaha melihat muka lawan bicara dengan tujuan mencari
petunjuk dari gerak bibir dan ekspresi muka guna mendapat informasi
tambahan apa yang diucapkan.
 Anak kelihatannya kurang perhatian terhadap apa yang terjadi
disekitarnya, kecuali yang bisa dinikmati dengan melihat. Anak tidak
mudah tertarik dengan pembicaraan atau suara-suara yang ada
disekelilingnya.
 Kemampuan berbicara dan pemahaman kata-kata terbatas. Anak
dengan gangguan pendengaran akan mengalami penurunan
kemampuan mendengar dan memahami arti kata-kata sehingga
menghambat proses perkembangan bicara.

d. PATOFISIOLOGI
Pada tuli sensorineural terjadinya gangguan pendengaran adalah
karena terdapat kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran, dan jalur
saraf pendengaran di otak, sehingga bunyi tidak dapat diproses sebagaimana
mestinya.
Berdasarkan kerusakan yang timbul pada tuli sensorineural dibagi dua, yaitu :
sensori koklea dan sensori retrokoklea. Pada sensori koklea, gangguan
pendengaran dikarenakan terjadi perubahan struktur koklea dan nervus
pendengaran sehingga terjadi penurunan pendengaran. Sedangkan pada

13
sensori retrokoklea bisa terjadi karena infeksi, trauma kepala, dan gangguan
pembuluh darah yang menyebabkan kelumpuhan pada saraf pendengaran.

e. PENATALAKSANAAN
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada
penyebabnya.Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh
adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka
dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.Jika penyebabnya tidak
dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan
pencangkokan koklea.
1) Alat bantu dengar.
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan
batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi
bisa berjalan dengan lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:
 Sebuah mikrofon untuk menangkap suara.
 Sebuah amplifier untuk meningkatkan volume suara.
 Sebuah speaker utnuk menghantarkan suara yang volumenya telah
dinaikkan.

Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa


menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum
(audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali
dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran). Alat bantu dengar
sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada
penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan
suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan
hal-hal berikut:
 Kemampuan mendengar penderita.
 Aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja.
 Keterbatasan fisik.
 Keadaan medis.
 Penampilan.

14
 Harga.
Jenis alat bantu dengar :
a) Alat Bantu Dengar Hantaran Udara.
Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran
telinga dengan sebuah penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang
terbuka.
b) Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan.
Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang
paling kuat. Alat ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan
dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat yang dipasang di saluran
telinga.Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena
pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak.
c) Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga.
Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai
berat.Alat ini dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang
lain.
d) CROS (Contralateral Routing Of Signals).
Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi
pendengaran pada salah satu telinganya.Mikrofon dipasang pada telinga yang
tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada telinga yang berfungsi melalui
sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini.Dengan alat ini,
penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak berfungsi.
e) BICROS (bilateral CROS).
Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi
pendengaran yang ringan,maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras
dengan alat ini.
f) Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang.
Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu
dengar hantaran udara, misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga
atau jika dari telinganya keluar cairan otore. Alat ini dipasang di kepala,
biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis.Suara
dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam. Beberapa alat bantu
dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga.

15
2) Pencangkokan koklea
Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat
yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar.
Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4
bagian:
 Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
 Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara
yang tertangkap oleh mikrofon
 Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima
sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang
listrik
 Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan
mengirimnya ke otak.

Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi


pendengaran yang normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris
kepada penderita tuli dan membantu mereka dalam memahami percakapan.
Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar. Alat bantu dengar
berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian
telinga dalam yang mengalami kerusakan.
Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi
gelombang listrik oleh telinga dalam.Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak
dan kita menerimanya sebagai suara. Implan koklea bekerja dengan cara yang
sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan bunyi yang berarti dan
kemudian mengirimnya ke otak.

16
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Biodata :
Yang dikaji adalah : nama, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status,
agama, alamat.
Pada usia lanjut biasanya terjadi proses degeneratif serta penurunan kemampuan
fungsi organ telinga. Pada anak-anak biasanya karena kelainan kongenital.
b. Riwayat Kesehatan :
 Keluhan utama
Pasien biasanya mengeluhkan pendengaran berkurang baik ringan maupun
berat, bisa pada satu sisi telinga atau keduanya. Kadang disertai suara
berdenging. Rasa nyeri yang timbul dari dalam telinga.
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Pernah menderita penyakit rubella dengan penanganan yang kurang adekuat,
pernah mendapatkan trauma kepala, pernah menderita infeksi telinga dengan
penanganan yang kurang adekuat, terjadi kelainan kongenital seperti atresia
liang telinga.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Gangguan pendengaran juga bisa diturunkan oleh gen yang dominan dan
resesif. Kelainan yang diturunkan dapt berupa gangguan pendengaran yang
ringan hingga sampai yang berat.
Pada seorang ibu yang mempunyai kebiasaan minum minuman yang
mengandung alkohol, perokok bisa menimbulkan efek otositoksik pada
janinnya. Riwayat keluarga dengan karsinomagenik.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Test Weber :
Pada tuli konduksi di dapatkan hasil garputala akan mengalami lateralisasi
pada telinga yang lebih sehat sedangkan pada tuli sensorineural, telinga yang sakit
akan lebih jelas dalam menerima rangsangan.
2) Test Rinne :
Pada tuli konduksi didapatkan hasil negatif (-) BC > AC. Sedangkan pada tuli
sensorineural didaptkan hasil positif (+) AC > BC.

17
3) Uji audiometri :
Uji ini untuk menentukan derajat keparahan tuli dari skala frekwensi 250 Hz
hingga 8000 Hz.
4) Radiologi (MRI/CT) :
Biasanya didapati kelainan pada koklea seperti hipoplasia atau aplasia.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada telinga dalam.
b. Gangguan persepsi sensori; pendengaran berhubungan kerusakan pada telinga
dalam.
c. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakmampuan
mendengar stimulus suara
d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang gangguan
pendengaran (tinnitus),
e. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan proses pendengaran.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN.
a. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada telinga dalam.
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
Nyeri yang dirasakan kien berkurang dengan skala 2-0 dari rentang skala 0-10
Intervensi Keperawatan :
1) Ajarkan teknik relaksasi pada pasien dengan mengajarkan teknik relaksasi
(misalnya bernafas perlahan, teratur, atau nafas dalam).
2) Kolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian analgetik.
3) Kaji kembali nyeri yang dirasa oleh pasien setelah 30 menit pemberian
analgetik.
4) Beri informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab yeri yang
dirasa.
Rasional :
1) Teknik relaksasi yang benar dan efektif dapat membantu mengurangi nyeri
yang dirasa.
2) Analgetik dapat menekan pusat saraf rasa nyeri, sehingga nyeri dapat
berkurang.
18
3) Untuk mengetahui keefektifan pemberian analgetik.
4) Informasi yang cukup dapat mengurangi kecemasan yang dirasa oleh
pasien dan keluarga.

b. Gangguan persepsi sensori; pendengaran berhubungan kerusakan pada


telinga dalam.
Tujuan : Persepsi / sensoris membaik.
Kriteria hasil :
Pasien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaran sampai
pada tingkat fungsional.
Intervensi Keperawatan :
1) Ajarkan pasien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara
tepat.
2) Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman dalam
perawatan telinga (seperti: saat membersihkan dengan menggunakan
cutton bud secara hati-hati, sementara waktu hindari berenang ataupun
kejadian ISPA) sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
3) Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.
4) Instruksikan pasien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang
diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).
Rasional :
1) Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan/ketulian,
pemakaian serta perawatannya yang tepat.
2) Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang
tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi.
3) Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah
pendengaran rusak secara permanen.
4) Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan
organisme sisa resisten sehingga infeksi akan berlanjut.

19
a) Hambatan Komunikasi Verbal berhubungan dengan Ketidakmampuan
mendengar stimulus suara.
Tujuan:
 Pasien akan ikut serta dalam proses komunikasi dalam keterbatasan
gangguan
 Pasien akan menunjukkan kemampuan untuk membaca gerak bibir
Kriteria Hasil:
 pasien akan melanjutkan praktik keperawatan di lingkungan rumah
 pasien berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan teknik
komunikasi yang baik
Intervensi Keperawatan:
1) Anjurkan pasien untuk mengikuti program rehabilitasi
2) Ajari bahasa yang memiliki tujuan bermakna
3) Ajarkan pasien untuk dapat membaca gerak bibir
Rasional:
1) Untuk melanjutkan pembelajaran di rumah
2) Untuk komunikasi
3) Untuk meningkatkan proses komunikasi

d) Ansietas b/d kurangnya informasi tentang gangguan pendengaran (tinnitus)


Tujuan: Tidak terjadi kecemasan
kriteria hasil :
pengetahuan pasien terhadap penyakit meningkat
Intervensi Keperawatan:
1) Kaji tingkat kecemasan / rasa takut
2) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang gangguan yang di alaminya
3) Berikan penyuluhan tentang tinnitus
4) Berikan motivasi pada pasien dalam menghadapi penyakitnya
5) Libatkan keluarga pasien dalam proses pengobatan
Rasional :
1) untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien terhadap penyakitnya
guna implementasi selanjutnya

20
2) sebagai tolak ukur untuk member informasi selanjutnya mengenai
penyakit yang di deritanya
3) informasi/ penyuuhan yang adekuat dapat mengurangi kecemasan
pasien terhadap penyakitnya
4) motivasi yang adekuat dapat menurunkan tingkat kecemasan sekaligus
dapat memberikan perhatian pada pasien
5) keluarga pasien mempunyai peranan yang penting dalam proses
penyembuhan dan menurunkan kecemasan pasien.
e) Resiko cedera berhubungan dengan penurunan proses pendengaran.
Tujuan : Tidak terjadi cedera
Kriteria hasil :
Pasien dapat melakukan aktifitasnya dengan aman.
Intervensi Keperawatan
1) Berikan pengetahuan kepada pasien tentang penyakitnya, pengobatan
komplikasi serta resiko cedera yang bisa terjadi.
2) Anjurkan pasien untuk selalu berhati-hati pada saat melakukan kegiatan di
luar rumah.
Rasional :
1) Agar pasien mengerti dan memahami tentang penyakitnya, serta dapat
mencegah resiko cedera.
2) Pada saat pasien berada di lingkungan luar rumah seperti di jalan raya akan
sangat berbahaya karena tidak dapat mendengar bunyi peringatan.

4. EVALUASI KEPERAWATAN
a. Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri
b. Pasien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik
c. Pasien dapat melakukan aktivitas dengan baik
d. Pasien dapat berkomunikasi dengan baik
e. Pasien mampu menunjukkan penurunan perasaan cemas
f. Pasien terminimalkan mengalami cedera atau tidak terjadi cedera
g. Pola koping pasien adekuat
h. Pasien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria

21
DAFTAR PUSTAKA

 Iskandar, H. Nurbaiti. 2006. Ilmu Penyakit THT untuk perawat. Edisi ke-2.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
 Bashiruddin Jenny,dkk. 2008. Masalah pendengaran dan keseimbangan.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
 Pearce C Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.

22