You are on page 1of 18

Upaya Mempertahankan Ergonomik Pada Posisi Berbaring, Duduk, Berdiri,

Dan Berjalan

Dosen : Mariaty A. Sangkai, S.Pd., M.Kes

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK VI

Dony Sentory 2018.C.10a.0965


Fredrick Immanuel 2018.C.10a.0968
Julius 2018.C.10a.0973
Rama 2018.C.10a.0981
Yoga Pratama 2018.C.10a.0992

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Dan kami mengharapkan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi teman teman semua, untuk kedepannya dapat memeperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Selasa, 9 April 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah…...........................................................................................2
1.3 Tujuan Masalah...................................................................................................2
1.4 Manfaat...............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Ergonomi…..........................................................................................4
2.2 Tujuan Ergonomi…............................................................................................7
2.3 Ruang Lingkup Ergonomi…..............................................................................7
2.4 Manfaat Ergonomi..............................................................................................8
2.5 Sikap Berbaring…..............................................................................................8
2.6 Sikap Duduk.......................................................................................................9
2.7 Sikap Berdiri.....................................................................................................10
2.8 Sikap Berjalan...................................................................................................10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................14
3.2 Saran.................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan sudah
menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan.Artinya peralatan dan teknologi
merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan
produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu, akan terjadi dampak
negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin akan
timbul. Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai resiko.
Antara lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang berhubungan
dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat menyebkan kecacataan dan
kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian
antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai
pendekatan ergonomic.
Dalam dunia kerja terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang
ketenagakerjaan yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan
pokok tenaga kerja merupakan subyek dan obyek pembangunan. Ergonomic yang
bersasaran akhir efisiensi dan keserasian kerja memiliki arti penting bagi tenaga kerja,
baik sebagai subyek maupun obyek. Akan tetapi sering kali suatu tempat kerja
mengesampingkan aspek ergonomic bagi para pekerjanya, hal ini tentunya sangat
merugikan para pekerja itu sendiri.
Pada umumnya ergonomic belum diterapkan secara merata pada sector
kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai unsure hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes), tetapi sampai saat ini kegiatan-kegiatan
baru sampai pada taraf pengenalan oleh khususnya pada pihak yang bersangkutan,
sedangkan penerapannya baru pada tingkat perintisan. Fungsi pembinaan ergonomic
secara teknis merupakan tugas pemerintah. Pusat Bina Hiperkes dan Keselamatan
Kerja memiliki fungsi pembinaan ini melalui pembinaan keahlian dan pengembangan
penerapannya. Namun begitu, sampai saat ini pengembangan kegiatan-kegiatannya

1
baru diselenggarakan dan masih menunggu kesiapan masyarakat untuk menerima
ergonomic dan penerapannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud ergonomi?
2. Apa tujuan ergonomi?
3. Apa saja ruang lingkup ergonomi?
4. Apa saja manfaat ergonomi?
5. Bagaimana sikap tubuh dalam bekerja?
6. Bagaimana sikap berbaring?
7. Bagaimana sikap duduk?
8. Bagaimana sikap berdiri?
9. Bagaimana sikap berjalan?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang Ergonomi
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi ergonomi
2. Mengetahui tujuan ergonomi
3. Mengetahui ruang lingkup ergonomi
4. Mengetahui manfaat ergonomi
5. Mengetahui sikap tubuh dalam bekerja
6. Mengetahui sikap berbaring
7. Mengetahui sikap duduk
8. Mengetahui sikap berdiri
9. Mengetahui sikap berjalan

2
1.4 Manfaat
1. Menambah pengetahuan bagi pembaca mengenai masalah ergonomi ditempat
kerja.
2. Sebagai sarana informasi bagi pekerja dan perusahaan untuk lebih
memperhatikan tentang masalah ergonomi ditempat kerja.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Ergonomi
Ergonomi yaitu ilmu yang penerapanya berusaha untuk menyerasikan
pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan
tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui
pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1989).
Ergonomi adalah komponen kegiatan dalam ruang lingkup hiperkes yang
antara lain meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara
timbal balik untuk efisiensi dan kenyamanan kerja.

Ergonomi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Ergon dan Nomos. Ergon
memiliki arti kerja dan Nomos memiliki arti hukum; jadi pengertian
Ergonomik itu sendiri secara garis besar adalah “Studi tentang manusia untuk
menciptakan system kerja yang lebih sehat, aman dan nyaman” (Arif, 2009).
Pusat dari ergonomi adalah manusia. Konsep ergonomi adalah
berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia.
Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas,
efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja,
pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.
Konsep ergonomi serta keselamatan kesehatan kerja merupakan konsep
penting untuk diterapkan dalam suatu industri, khususnya dalam perancangan
stasiun kerjanya. Kecenderungan yang ada saat ini adalah, pada industri skala
kecil menengah. Konsep tersebut kurang begitu diperhatikan, sehingga dapat
menimbulkan resiko kerja baik dari segi bahaya kondisi lingkungan fisik,
sikap dan cara kerja (Laksmiwaty, 2009).
Tujuan penerapan ergonomi adalah untuk peningkatan kualitas kehidupan
yang lebih baik. Dengan penerapan ergonomi ini, maka akan tercipta
lingkungan kerja aman, sehat dan nyaman sehingga kerja menjadi lebih

4
produktif dan efisien serta adanya jaminan kualitas kerja (Tim Ergoinstitute,
2008).
Definisi ergonomi juga dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya
dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993)
dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut:
a. Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan
produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari
manusia hidup dan bekerja.
b. Secara tujuan
Tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi
kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan
keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya.
c. Secara pendekatan
Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-
keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan
motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas
manusia tersebut sehari-hari.
Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut diatas, definisi ergonomi dapat
terangkumkan dalam definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu
ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-
informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan
karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem,
pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan,
kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-
informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam
rangka membuat sistem kerja yang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan
efisien). Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan
dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Keduanya mengarah kepada tujuan yang

5
sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life).
Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada
perusahaan, yang berujung kepada produktivitas dan kualitas kerja (Arif,
2009).
Ergonomi mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan
pekerjaan manusia. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat
bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi
ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk
menurunkan stress atau tekanan yang akan dihadapi. Salah satu upaya yang
dilakukan antara lain menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi
tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembapan. Hal
ini bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Ada salah satu
definisi yang menyebutkan bahwa ergonomi bertujuan untuk “fitting the job
to the worker”. Ergonomi juga bertujuan sebagai ilmu terapan biologi
manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan
kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain
meningkatkan produktivitasnya.
Contoh : suatu perusahaan kerajinan mengubah cara kerja duduk di lantai
dengan bekerja di meja kerja, mengatur tata ruangan menjadi lebih baik,
mengadakan ventilasi, menambah penerangan, mengadakan ruang makan,
mengorganisasi waktu istirahat, menyelenggarakan pertandingan olahraga,
dan lain-lain. Dengan usaha ini, keluhan-keluhan tenaga kerja berkurang dan
produksi tidak pernah terganggu oleh masalah-masalah ketenagakerjaan.
Dengan begitu, produksi dapat mengimbangi perluasan dari pemasaran.

6
2.2 Tujuan Ergonomi
Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang
sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi akan
dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat
menciptakan system serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
Adapun tujuan penerapan ergonomic adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental dengan meniadakan beban kerja
tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan
meningkatkan kepuasan kerja
2. Meningkatkan kesejahteraan social dengan jalan meningkatkan kualitas
kontak sesame pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan
system kebersamaan dalam tempat kerja.
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik,
ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan
meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.

2.3 Ruang Lingkup Ergonomi


Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:
1. Tehnik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot
dan persendian
5. Sosiologi
6. Fisiologi, kaitanya dengan temperature tubuh, oxygen up take, dan aktifitas
otot
7. Desain, dll

7
2.4 Manfaat Ergonomi
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja.
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat

2.5 Sikap Berbaring


Posisi klien penting telentang (dorsal RACKBIKE — tergeletak di
belakang), rawan (berbaring pada perut), Sims' (semi-rawan-berbaring di
samping [biasanya kiri] — dengan atas lutut tertekuk), Fowler di (tergeletak di
belakang, dengan kepala tinggi), lutut-dada atau genupectoral (berbaring di
lutut, dengan dada beristirahat di tempat tidur), dorsal lithotomy (tergeletak di
belakang, dengan kaki di sanggurdi), dan lateral (berbaring di samping). Posisi
telentang dapat dimodifikasi dengan menekuk lutut dan menempatkan kaki
datar di tempat tidur. Trendelenburg's (posisi kepala-down — berbaring dengan
kepala lebih rendah dari kaki)-digunakan untuk mengobati sengatan, dengan
mempromosikan aliran darah ke otak. Posisi ini juga digunakan untuk beberapa
bagian dari postural drainase, untuk membantu mengeringkan sekresi dari
segmen paru-paru. Posisi terbalik Trendelenburg dapat digunakan untuk
meningkatkan tabung pakan dan sebagai prosedur darurat untuk membantu
menghentikan pendarahan di cedera kepala (Lihat bab 43). Dua lainnya, kurang
posisi umum digunakan adalah posisi berdiri diubah (berdiri sementara
membungkuk ke depan), dan posisi yang digunakan untuk pungsi lumbal.

8
2.6 Sikap Duduk
Tulang punggung merupakan bagian tubuh yang memiliki peranan
sangat besar dalam menjaga kestabilan tubuh. sebagian besar aktivitas sehari-hari
dapat dilakukan dalam posisi duduk, sehingga penting untuk mengetahui posisi
tubuh saat duduk yang benar untuk menjaga kesehatan tulang punggung
Posisi Duduk Yang Benar :
1. Duduk tegak dengan punggung lurus dan bahu ke belakang. Paha menempel di
dudukan kursi dan bokong harus menyentuh bagian belakang kursi. Tulang
punggung memiliki bentuk yang sedikit melengkung ke depan pada bagian
punggung, sehingga dapat diletakkan bantal untuk menyangga kelengkungan
tulang punggung tersebut.
2. Pusatkan beban tubuh pada satu titik agar seimbang. Usahakan jangan sampai
membungkuk. Jika diperlukan, kursi dapat ditarik mendekati meja agar posisi
duduk tidak membungkuk.
3. Posisi lutut mempunyai peranan penting juga. Untuk itu tekuklah lutut hingga
sejajar dengan pinggul. Usahakan untuk tidak menyilangkan kaki.
4. Jika dudukan kursinya terlalu tinggi, penggunaan pengganjal kaki juga
membantu menyalurkan beban dari tungkai.
5. Jika ingin menulis tanpa meja, gunakanlah pijakan di bawah kaki namun posisi
kaki tetap sejajar dengan lantai. Akan tetapi hal ini sebaiknya tidak dilakukan
terlalu lama karena akan membuat tulang ekor menahan sebagian beban yang
berasal dari paha.
6. Usahakanlah istirahat setiap 2 jam sekali dengan cara berdiri, peregangan
sesaat, atau berjalan-jalan di sekitar ruangan untuk mengembalikan kesegaran
tubuh agar dapat tetap berkonsentrasi dalam belajar
7. Tangan dibuat senyaman mungkin di atas meja, namun jangan lupa untuk
mengistirahatkan lengan dan siku. Jika diperlukan, dapat menggunakan
sandaran tangan untuk membantu mengurangi beban pada bahu dan leher anda
agar tidak mudah lelah.

9
8. Jika ingin mengambil sesuatu yang berada disamping atau di belakang, jangan
memuntir punggung. Putarlah keseluruhan tubuh sebagai satu kesatuan.
9. Posidi duduk yang benar Posisi duduk yang salah

2.7 Sikap Berdiri


Ketika mengangkat, berjalan, atau melakukan kegiatan tubuh, keselarasan
tubuh yang tepat penting untuk menjaga keseimbangan. Ketika tubuh seseorang
di alignment yang benar, Semua otot bekerja sama untuk gerakan paling aman
dan paling efisien, tanpa ketegangan otot. Peregangan tubuh setinggi mungkin
menghasilkan keselarasan. Ini dapat dicapai melalui tepat postur (Lihat rajah 48-
2). Ketika berdiri, berat badan sedikit ke depan dan didukung di bagian luar kaki.
Sekali lagi, kepala tegak, punggung lurus, dan perut terselip in. (ingat bahwa
klien tempat tidur harus di sekitar posisi yang sama sebagai jika dia berdiri [Gbr
48-3].)

2.8 Sikap Berjalan


Berjalan kaki adalah salah satu latihan fisik benturan ringan yang
bermanfaat bagi kesehatan. Selain bisa memperbaiki suasana hati, berjalan kaki
juga membantu mengatasi depresi. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat
obesitas di negara-negara yang penduduknya biasa berjalan kaki lebih rendah
daripada negara-negara yang penduduknya mengandalkan mobil sebagai sarana
transportasi. Cara berjalan yang baik adalah:
1. Biasakan berjalan dengan tubuh yang tegak. Walaupun setiap orang
memiliki cara berjalan yang unik, ada sikap tertentu yang banyak orang
lakukan saat berjalan, terutama dalam hal postur tubuh. Biasakan berjalan
dengan punggung tegak dan mengangkat dagu agar sejajar dengan lantai.
Dengan menjaga postur ini selama berjalan, Anda bisa bernapas lebih leluasa
sebab tulang punggung Anda tetap lurus sehingga tidak menekan diafragma.
Jangan berjalan sambil menunduk atau membungkuk sebab postur tubuh

10
yang buruk lambat laun membuat punggung terasa nyeri, leher kaku, dan
bahkan muncul keluhan lain yang lebih serius
2. Gunakan otot betis, paha belakang, dan kuadrisep agar Anda bisa berjalan
dengan baik. Gerakan berjalan yang efektif melibatkan hampir semua otot
tungkai, bukan hanya satu. Visualisasikan bahwa saat ini Anda sedang
berjalan. Langkahkan kaki kanan ke depan dengan meletakkan tumit di
lantai lalu gunakan otot paha belakang dan kuadrisep kaki kiri untuk
menggerakkan tubuh ke depan sampai Anda bisa memindahkan tumit kiri ke
depan. Biasakan melangkah dengan gerakan menggulung telapak kaki, yaitu
mengangkat telapak kaki dimulai dari tumit sampai ke jari-jari kaki dengan
arah lurus ke depan. Cara ini akan mengaktifkan otot betis sehingga telapak
kaki membentuk sudut yang tepat saat terangkat dari lantai setiap kali Anda
melangkah.
3. Tariklah kedua bahu sedikit ke belakang, tetapi biarkan tetap rileks. Saat
berjalan, Anda akan lebih banyak mengandalkan otot kaki dan otot perut.
Walau demikian, Anda harus tetap memperhatikan postur tubuh atas.
Menarik bahu sedikit ke belakang dalam kondisi rileks akan banyak
manfaatnya. Postur ini menjaga tubuh Anda agar tetap kuat dan stabil saat
Anda meluruskan punggung dari leher sampai pinggul. Melakukan postur
ini sambil menegakkan punggung dan mengangkat dagu akan mencegah
ketegangan di punggung dan menghindari terjadinya cedera. Selain itu, cara
ini membantu Anda membentuk kebiasaan berjalan yang baik sehingga
tubuh Anda tidak bungkuk yang cenderung menimbulkan nyeri dan
ketegangan bahu. Terakhir, dengan menarik bahu sedikit ke belakang,
penampilan Anda akan lebih baik karena postur ini menunjukkan
kepercayaan diri dan kekuatan. Walaupun terkesan sepele, hal ini sangatlah
penting
4. Ayunkan lengan selama Anda berjalan. Mengayunkan lengan adalah hal
biasa bagi banyak orang. Biarkan kedua lengan tergantung ke bawah secara
alami. Saat mulai berjalan, lengan Anda akan berayun sedikit. Semakin cepat

11
Anda berjalan, semakin lebar ayunannya. Mengayunkan lengan adalah
sesuatu yang alami ketika Anda berjalan. Penelitian membuktikan bahwa
cara ini bisa meningkatkan efisiensi dari setiap langkah Anda. Berjalan
sambil mengayunkan lengan membantu Anda melangkah lebih lebar dengan
energi metabolik yang sama besarnya seperti jika Anda tidak mengayunkan
lengan.[3] Jadi, jangan takut mengayunkan lengan saat berjalan. Jangan
khawatir, Anda tidak akan terlihat seperti pendekar. Jika cuaca tidak terlalu
dingin, jangan masukkan tangan ke dalam saku agar Anda bisa
mengayunkan lengan. Dengan demikian, Anda akan memperoleh
manfaatnya, yaitu berjalan lebih cepat dan lebih jauh.

2.8.1 Cara Mengangkat beban


1. Pemanasan : Sama halnya seperti olahraga yang mengharuskan
pelakunya untuk pemanasan supaya terhindar dari cedera.
Kemudian, jaga bagian kaki dalam posisi lebar atau terbuka.
Tujuannya agar dapat menopang tubuh Anda saat mulai
mengangkat barang. Posisi kaki harus kuat, sama halnya seperti
posisi kuda-kuda dalam olahraga karate.
2. Jongkokan badan ke bawah, pastikan Anda membengkokan bagian
pinggul dan lutut. Lipat satu kaki di depan dan lipat satu kaki
lainnya di lantai, posisi ini biasa disebut half kneeling. Kondisikan
posisi badan Anda agar selalu tegak karena dapat meluruskan
tulang belakang. Angkat barang secara perlahan sambil meluruskan
lutut dan pinggul Anda. Ketika mengangkat barang hindari gerakan
memutar.
3. Angkat barang agar tetap dekat dengan bagian perut. Ketika
mengganti arah, putar bagian pinggul terlebih dahulu kemudian
bahu. Saat menurunkan badan jongkokan badan secara perlahan
diikuti dengan bengkokan lutut dan pinggul.

12
4. Jangan gunakan pinggang Anda untuk mengangkat dan
menurunkan barang. Sebagian besar cedera dikarenakan
melakukan posisi membungkuk ketika mengambil barang. Posisi
membungkuk dapat memberikan tekanan pada pinggang bagian
bawah.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu
dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai
tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua
pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang
bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan,
petunjuk teknis dan pedoman K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas
program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya

3.2 Saran

Pendekatan disiplin ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki performansi


kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, accuracy, keselamatan kerja
disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi
datangnya kelelahan yang terlalu cepat. Disamping itu disiplin ergonomi diharapkan
mampu memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan
kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia (human errors). Manusia
adalah manusia, bukannya mesin. Mesin tidak seharusnya mengatur manusia, untuk
itu bebanilah manusia (operator/pekerja) dengan tugas-tugas yang manusiawi.

14
DAFTAR PUSTAKA

file:///D:/NHM/SMT%203/TUGAS/K3%20KEL%204/PENGARUH%20POSISI%20
PENGOPERASIAN%20KOMPUTER%20.pdf
http://what-when-how.com/nursing/body-mechanics-and-positioning-client-
care-nursing-part-1/
Dias. 2009. Definisi dan ruang lingkup ergonomi. (Online). (diakses tanggal 11
September 2015)
Mangapan, Tobi. 2015. Pengenalan Ergonomi dan Faal Kerja. (Online),
(file:///E:/ergonomi/FKM%20UNHAS%202013%28REMPS%29%20%20m
akalah%20k3%20ergonomi%20dan%20faal%20kerja.htm, diakses tanggal
03 September 2015)
Suma’mur. 1987. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: CV. Haji
Masagung,.
Tresnaningsih. 2007. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan.
(Online). (www.depkes.go.id, diakses tanggal 11 September 2015)

15