You are on page 1of 5

A.

KOMPLIKASI
Komplikasi syok meliputi (Nugroho, 2016) :
1. SIRS,dapat terjadi bila syok tidak tidak dikoreksi
2. Gagal ginjal akut (ATN)
3. Gagal hati
4. Ulserasi akibat stress

A. KLASIFIKASI
Klasifikasi menurut Badan POM RI (2014) adalah : (Gambar 2.1)
Manifestasi Klinis
Stadium Saluran Saluran
Kulit Kardiovaskular
Cerna Napas
Pruritus,
kemerahan,
I - - -
urtikaria,
angioedema
Pruritus, Takikardia,
Rinorea,
kemerahan, perubahan
II Mual, kram hoarseness,
urtikaria, tekanan darah,
dispnea
angioedema* aritmia
Pruritus,
Muntah, Edema larin,
kemerahan,
III defekasi, bronkospas, Syok
urtikaria,
diare sianosis
angioedema*
Pruritus,
Muntah,
kemerahan,
IV defekasi, Henti napas Henti jantung
urtikaria,
diare
angioedema*

B. PATOFISIOLOGI
Anafilaksis adalah reaksi sistemik yang disebabkan oleh antigen khusus yang bereaksi
dengan molekul Ig E pada permukaan sel mast dan basophil yang menyebabkan penegluaran
segera beberapa mediator yang kuat. Satu efek utamanya adalah menyebabkan basophil
dalam darah dan sel mast dalam jaringan prekapiler melepaskan histamine atau bahan seperti
histamine.
Histamine selanjutnya menyebabkan:
1. Kenaikan kapasitas vascular akibat dilatasi vena.
2. Dilatasi anterior yang mengakibatkan tekanan arteri menjadi sangat menurun.
3. Kenaikan luar biasa pada permeabilitas kapiler dengan hilangnya cairan dan protein ke
dalam ruang jaringan secara cepat. Hasil akhirnya merupakan penurunan luar biasa pada
aliran baik vena dan sering menimbulkan syok serius sehingga pasien meninggal dalam
beberapa hari.
4. Mediator ini menyebabkan timbulnya gejala- gejala urtikaria, kangiodema, spasme
bronkus, spasme laring, meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, vasodilatasi, dan
nyeri abdomen. Jika seseorang sensitive terhadap suatu antigen dan kemudian terjadi
kontak lagi terdahap antigen tersebut, akan timbul reaksi hipersensitifitas. Anti gen yang
bersangkutan terkait antibody dipermukaan sel mast sehingga terjadi degranulasi,
pengeluaran histamine, dan zat vasoaktif lain. Keadaan in menyababkan peningkatan
permeabilitas dan dilatasi kapiler menyeluruh dan menyebabkan odema.
Mekanisme anafilaksis melalui beberapa fase
1. Fase sentisitasi
Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan Ig E sampai diikatnya oleh reseptor spesifik
pada permukaan mastosit dan basophil. Allergen masuk lewat kulit, mukosa saluran
napas atau saluran makan ditangkap oleh makrofag. Makrofag segera mempresentasikan
antigen tersebut kepada Limfosit T, dimana akan sitokinin yang mengindukasi Limfosit B
berproliferasi menjadi sel plasma (plasmosit). Sel plasma memproduksi Imunoglobin E
(Ig E) spesifik untuk antigen tersebut. Ig E ini kemudian terikat pada receptor permukaan
sel Mast (Mastosit) dan basophil.
2. Fase aktivasi
Yaitu waktu selama terjadinya pemaparan ulang dengan antigen yang sama. Mastosit dan
basophil melepaskan isinya yang berupa granula yang menimbulkan reaksi pada
pemaparan ulang. Pada kesempatan lain masuk allergen yang sama ke dalam tubuh.
Allergen yang sama tadi akan diikat oleh Ig E spesifik dan memicu terjadinya reaksi
segera pelepasan mediator vasoaktif antara lain histamine, verotin, bradikinin dan
beberapa bahan vasoaktif lain dari granula yang disebut dengan istilah preformek
mediators. Ikatan antigen- antibody merangsang degradasi asam arakidonat dari
membrane sel yang akan menghasilkan Leukotrien (LT) dan Prostaglandin yang terjadi
beberapa waktu setelah degranulasi yang disebut Newly formed mediators.
3. Fase efektor
Yaitu waktu terjadinya respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator yang
dilepas mastosit atau basofil dengan aktivitas farmakologik pada organ-organ tertentu.
Histamine memberikan efek bronkokonstriksi meningkatkan permeabilitas kapiler yang
nantinya menyebabkan edema, sekresi mucus dan vasodilatasi jantung, menunjukkan
suplai darah yang tidak memadahi ke otot jantung. Bahkan darah dibuat untuk
menentukan bakteri benyebab infeksi.
PADWAY

Alergen (obat- obatan


gigitan serangga)
Makanan

Lambung Masuk kevili mukosa Sirkulasi Aktivitas komplemen


usus (Ig A)

Hipermotilitas Reaksi antigen


saluran ceran antibosi dalam tubuh Reaksi kompleks
NOC: (Ig E) imun
1. Kontrol Nyeri
Nausea, muntah, sakit (1605)
perut Basofil dan sel mast
melepaskan histamine

Nyeri akut NIC :


1. Manajemen Nyeri
(1400)
Histamine meningkat

Peningkatan Vasodilatasi perifer Vasodilatasi


permeabilitas kapiler menyeluruh pembuluh darah
setempat

Red flase
Cairan dan protein (kemerahan) Peningkatan tekanan
hilang ke dalam kapiler dan
ruang jaringan secara peningkatan
Urtikaria Peningkatan
cepat permeabilitas
permeabilitas kapiler
setempat
Risiko kerusakan Kebocoran cairan
Banyak plasma hilang
integritas kulit yang cepat dalam
Pembengkakan pada hidung
area terbatas jelas
(hives) dan gatal
Syok sirkulasi
dinding Hiper-sekresi Pembeng-
kakan
mukosa
Perembesan cairan Spasme otot polos hidung
keluar pembuluh bronkus Bersin-bersin
darah
Kesulitan
bernafas
Sesak nafas Odema laring
Kulit pucat, dingin,
hipotensi
Gangguan
Ketidakefektifan Risiko terhadap
pertukaran gas
pola napas penghentian
Gangguan perfusi pernafasan
jaringan perifer
Ketidakefektifan Ketidakefektifan Gangguan
perfusi jaringan pola nafas pertukaran gas
perifer

NOC: NOC: NOC:


1. Perfusi 1. Status 1. Status
jaringan perifer pernafasan pernafasan:
(0407 pertukaran gas
(0415) (0402)
2. Keparahan
NIC:
syok NIC:
1. Manajemen
anafilaktik 1. Manajemen
Syok (4250)
(0417) jalan nafas
(3140)
NIC: 2. Monitor
1. Manajemen pernafasan
Anafilaksis (3350)
(6412)
2. Monitor
Pernafasan
(3350)