You are on page 1of 8

No. ID dan Nama Peserta : / dr.

Iswina Reniarti
No. ID dan Nama Wahana: / RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle
Topik: Abses Hepar
Tanggal (kasus) : 8 November 2013
Nama Pasien : Tn. J No. RM : 154001
Tanggal presentasi : 2 Desember 2013 Pendamping: dr. Vitalis Thalik, M.Kes
Tempat presentasi: RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle
Obyek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Laki-laki 55 tahun, nyeri perut kanan atas, demam.
Tujuan: Mengenal Gejala Abses Hepar dan Penatalaksanaannya
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
bahasan: pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
membahas: diskusi

Data Pasien: Nama: Tn. J No.Registrasi: 154001


Nama klinik Perawatan Cempaka RSUD H.
Padjonga Daeng Ngalle
Data utama untuk bahan diskusi:
- Diagnosis/gambaran klinis: Dialami + 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan
terus-menerus, seperti ditusuk-tusuk, tembus ke belakang, tidak menjalar ke tempat lain.
Pasien bila berjalan dalam posisi membungkuk ke depan dan memegang bagian perut. Tidak
ada mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Demam sejak 2 hari SMRS, demam terus-menerus,
menggigil, tidak berkeringat. Demam turun bila minum obat penurun panas. Sakit kepala
tidak ada. Sesak tidak ada, batuk tidak ada, lendir tidak ada, nyeri dada tidak ada. BAK seperti
teh, dirasakan sudah 2 hari terakhir, nyeri BAK tidak ada. BAB biasa, warna kuning.
1. Riwayat pengobatan: -

1
2. Riwayat penyakit sebelumnya :
- Riwayat minum ballo sejak usia 30an, ± 2 liter dalam sebulan.
- Riwayat hepatitis tidak ada.
- Riwayat hipertensi tidak ada.
- Riwayat DM tidak ada
- Riwayat OAT tidak ada.

3. Riwayat keluarga: -

4. Riwayat pekerjaan:

Lain-lain:
Laboratorium (9 November 2013)
WBC : 16,1x103/mm3
HGB : 12,8 gr/dL
HCT : 45,0 %
PLT : 264x103/mm3
LYM : 6,9 %
MONO : 14,4 %
GDS : 123 g/dl
Billirubin total : 3,44 g/dL
Billirubin direk : 1,85 g/dL
SGOT : 53 IU/L
SGPT : 74 IU/L
Creatinin : 0,95 mg/Dl

USG Abdomen (9 November 2013) :


Abses hepar

Daftar Pustaka:
1. Abdurachman S.A : Abses Hati. Sulaiman Ali, Daldiyono, Akbar Nurul, et al, eds. In :
Gastroenterologi Hepatologi. Jakarta : CV. Sagung Seto, 1990 ; 395-404.
2. Wenas Nelly T, Waleleng BJ : Abses Hati Piogenik. Sudoyo Aru W, Setiyohadi B, Alwi

2
Idrus, et al, eds. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI, 2007; 461-2.
3. Price, Sylvia, dkk : Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2006 ; 479.
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis, Klasifikasi dan Penatalaksanaan abses hepar
2. Edukasi untuk pencegahan abses hepar

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:

1. Subyektif:
Laki-laki 55 tahun datang dengan nyeri pada abdomen sejak 2 hari SMRS, nyeri dirasakan terus-
menerus, , tembus ke belakang.
Febris sejak 2 hari yang lalu, remitten, menggigil . Febris turun bila minum antipiretik.
BAK warna seperti teh, dirasakan 2 hari terakhir, disuri tidak ada
BAB biasa, warna kuning.
RPS :
Riwayat hepatitis tidak ada. Riwayat minum ballo sejak usia 30an, ± 2 liter dalam sebulan.
Riwayat hipertensi tidak ada. Riwayat DM tidak ada Riwayat OAT tidak ada.

2. Obyektif:
Status present : sakit sedang/gizi baik/composmentis
Tanda Vital :
TD = 130/80 mmHg
N = 102 x/menit
P = 24x/menit
S = 38,70C (axilla)
BB = 62 kg TB = 172 cm
IMT = 62/(1,72)2 = 23,66
Kepala : Anemi tidak ada, ikterus ada, sianosis tidak ada,edema palpebra tidak ada

3
Leher : Massa tumor tidak ada, nyeri tekan tidak ada, pembesaran KGB tidak
ada, deviasi trakea tidak ada, DVS R-2cmH2O.
Thorax : Inspeksi : simetris kiri dengan kanan
Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak, VF kiri=kanan
Perkusi : sonor, batas paru hepar ICS VI kanan depan.
Auskultasi : Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-
Cor : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak, batas jantung kesan normal (batas jantung kanan
terletak pada linea sternalis kanan, batas jantung kiri
sesuai dengan ictus cordis terletak pada linea
mideoklavikularis kiri, batas atas jantung pada sela iga 3
kiri.
Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, Bunyi tambahan tidak
ada
Abdomen : Inspeksi : datar ikut pernapasan
Palpasi : Massa tumor tidak ada, Hepar teraba 3 jari bac, permukaan
rata, tepi tajam, konsistensi kenyal. Nyeri tekan ada. Bruit
tidak ada. Lien tidak teraba
Perkusi : bunyi tymphani , tidak ada shifting dullness, tidak ada
undulasi
Auskultasi : Peristaltik, kesan Normal
Ekstremitas : Edema tidak ada
Diagnosis sementara : -suspek abses hepar e.c abses amubik
DD/ suspek abses hepar e.c abses piogenik
Suspek chocystitis akut
3. Assesment:
Dari anamnesis, pasien masuk dengan keluhan utama nyeri bagian perut, terutama di
bagian kanan atas . Banyak penyakit yang dapat menimbulkan nyeri perut kanan atas, antara lain
abses hepar, hepatoma, cholecystitis, dan lain – lain. Pada kasus ini, diketahui bahwa pasien
mengalami nyeri perut kanan atas yang terus menerus, tembus ke belakang dan bertambah berat

4
saat batuk. Pasien membungkuk bila berjalan. Pasien juga mengalami demam dalam 2 hari
terakhir yang bersifat terus-menerus disertai dengan menggigil dan turun dengan minum
antipiretik. Dari gejala-gejala tersebut diagnosis dapat diarahkan kepada suatu penyakit infeksi.
Dari pemeriksaan fisis, khususnya pada abdomen nyeri tekan didapatkan di seluruh regio
abdomen, khusunya di regio hipochondrium kanan, hepar teraba 3 jari di bawah arcus costa
(permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam), peristaltik kesan normal. Dari hasil
pemeriksaan pasien ini dapat kita curigai sebagai suatu abses yang didiagnosis banding dengan
cholecystiitis akut.
Berdasarkan hasil laboratorium yang ditemukan pada pasien terdapat peningkatan enzim –
enzim hati (SGOT, SGPT) yang menunjukkan telah terjadinya gangguan fungsi hepar. Adanya
proses infeksi dapat memicu peningkatan produksi enzim – enzim hati sehingga kadar enzim –
enzim tersebut tinggi di dalam darah. Leukositosis sendiri muncul sebagai akibat dari proses
infeksi, sebagai salah satu upaya sistem imun untuk melawan mikroorganisme penyebab infeksi..
Pada pemeriksaan radiologi didapatkan:
- Hasil USG abdomen: Hepar : Tampak membesar, terihat abses ukuran ±4,5 x 5,1 cm
di segmen 4 b lobus sinistra. Kesan : abses hepar.
Gambaran USG yang sangat mencurigakan abses hati amebic adalah :
1. Lesi hioekoik pada “gain” normal maupun ditinggikan pada gain tingggi jelas tampak eko
halus homogeny tersebar rata.
2. Lesi berbentuk bulat oval, padda abses hepar tampak loblasi, tidak berdinding, terleyak
dekat permukaan hati.
3. Terdapat peninggian eko pada distal abses.
Sebanyak 75% orang yang memiliki kandung empedu tidak memperlihatkan gejala.
Sebagian besar gejala timbul bila batu menumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi karena
batu yang kecil melewati ke dalam duktus koledokus. Penderita batu empedu sering memiliki
gejala cholicystitis akut atau kronis. Bentuk akut ditandai oleh nyeri hebat mendadak pada
epigastrium atau abdomen kuadran atas ; nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan.
Sedangkan pada abses hepar amebic, khusunya pada bentuk akut, gejalanya lebih nyata dan
biasanya timbul dalam masa kurang dari 3 minggu. Keluhan yang sering diajukan yaitu rasa
nyeri di perut kanan atas. Rasa nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk dan panas, demikian nyerinya
sampai perut dipegang, terutama kalau berjalan sampai membungkuk ke depan kanan. Demam

5
hamper ditemukan hamper pada seluruh kasus yaitu pada 92-96,8 %.
Kriteria diagnosis untuk abses hepar amebic
1. Hati yang membesar dan nyeri
2. Leukositosis tanpa anemia pada penderita abses amebic yang akut, atau leukositosis
ringan disertai anemia pada abses tipe kronik
3. Adanya pus amebic yang mungkin mengandung tropozoit E. hystolitica
4. Pemeriksaan serologic terhadap E. hystolitica positif
5. Gambaran radio,logi yang mencurigakan, terutama pada foto thoraks posteroanterior dan
lateral kanan.
6. Adanya filling defect pada sidik hati
7. Respon yang baik terhadap terapi metronidazole
Manifestasi sistemik abses hepar piogenik biasanya lebih berat daripada abses hati
amebic. Demam merupakan keluahan paling utama dengan tipe remitten, intermitten, atau febris
kontinu disertai dengan menggigil. Keluhan lain ialah nyeri di abdomen (68%). Sedangkan pada
abses hati amebic demam biasanya tidak begitu tinggi, kurva suhu biasa intermitten dan
remitten. Leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri didapatkan pada 60-78% kasus.
Anemia ditemukan pada 50%, sedangkan peninggian fosfatase alkali (90%), kadar albumin
serum di bawah 3 gr% (33-74%) dan waktu protrombin memanjang (34-54%) menunjukkan
bahwa kegagalan fungsi hati ini disebabkan abses di dalam hati.pada zaman sebelum ada
antibitika bakteri penyebab abses ini ialah E.coli, S.aurens dan S.hemolyticus ; tetapi semenjak
ditemukannya dan digunakannya antibiotik maka bakteri yang resisten antibiotic terutama
bakteri aerob gram negative seperti P. vulgaris, A.aerogenes, S.faecalis dan P.aeruginosa secara
tersendiri tau bersama-sama dapat ditemukan pada kultur dari pus abses hati. Selain itu kuman
anaerob (bacteriodes, Fusobacterium, Clostridium dan Actinomyces) juga bias ditemukan pada
pus yang berbau bususk.
Setelah era pemakaian antibiotik yang adekuat, gejala dan amnifestasi klinis abses hati
piogenjik adalah malaise, demam yang tidak terlalu tinggi, dan nyeri tumpul pada abdomen yang
menghebat dengan adanya pergerakan. Apabila abses hati piogenik letaknya dekat dengab
diafragma, maka akan terjadi iritasi difragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan,
batuk ataupun terjadi atelektasis. Gejala lainnya adalah rasa mual dan muntah, berkurangnya
nafsu makan, terjadi penurunan berat badan yang unintentional, kelemahan badan, ikterus,

6
buamng air besar berwarna seperti kaopur dan bbuang air kecil berwarna gelap.
Selanjutnya, pemeriksaan yang menjadi baku emas untuk penegakan diagnosis abses hepar
adalah melalui kultur darah yang memperlihatkan bakteri penyebab. Pada pemeriksaan pus,
bakteri penyebab seperti Proteus vulgaris, Pseudomonas aeroginosa bisa ditemukan Namun,
pemeriksaan ini sulit dilakukan karena pengambilan pus dari hepar akan sangat menyakitkan
bagi pasien.
Pengobatan pada pasien dilakukan dengan pemberian infus cairan isotonis sebagai cairan
rumitan. Pada pemberian antibiotik diberikan Metronidazole inj 0,5 gr/12jam/iv sebagai
antibiotik untuk bakteri anaerob dan amebisid jaringan. Tetapi dalam perjalanan penyakitnya,
pasien tidak memberikan respon yang baik terhadap pemberian antibiotik tersebut, maka
selanjutnya pasien diberikan antibiotik yaitu Cephalosporin generasi III sebagai antibiotic
spektrum luas untuk kuman negatif gram dan untuk coccus gram positif.

Pada AHP, pemeriksaan fisis didapatkan keadaan penderita yang septic, nyeri perut
kanan atas dan hepatomegali. Adanya ikterus pada 24-52% kasus biasanya menunjukkan adanya
penyakit system bilier yang disertai kolangitis dengan prognosis yang buruk.

Plan :
Diagnosis : didiagnosis apabila seseorang mengeluh nyeri perut kanan atas, demam, yang pada
pemeriksaan fisis didapatkan nyeri tekan pada bagian perut kanan atas.
Pengobatan : Penanganan berupa Tirah baring, pemberian cairan, pemerian antibiotik, dan obat-
obatan simptomatik.
Konsultasi : Konsultasikan segera ke dokter penyakit dalam jika tidak ada perubahan
Rujukan : (-)
Kontrol : kontrol ke poli penyakit dalam

Kegiatan Periode Hasil yang diharapkan


Penanganan abses hepar 3 hari pertama Nyeri berkurang
Nasihat Selama perawatan Pasien mendapat edukasi tentang
penyakit.

7
Takalar , 2 Desember 2013

Peserta Pendamping

dr. Iswina Reniarti dr. Vitalis Thalik, M.kes