You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ISK


(INFEKSI SALURAN KEMIH) DI RUANG ANAK RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH DR. SOEDARSO

A. Pengertian
Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk
mengatakan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih (Marlene.
2016). Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri
pada saluran kemih (Depkes RI, 2014). Infeksi saluran kemih pada bagian
tertentu di saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama
Echerichia coli; risiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks
vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian
instrumen uretral baru, septikemia (Mary. 2014).
Infeksi traktus urianarius pada pria merupakan akibat menyebarnya
infeksi yang berasal dari uretra seperti juga wanita.Namun demikian, panjang
uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya
bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus
urinarius.Akibatnya, ISK pada pria jaraang terjadi. Namun, ketika gangguan ini
terjadi, kali ini menunjukan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari
traktus urianrius (Rudi. 2012)
B. Etiologi
Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi ketika suatu organisme penginfeksi,
biasanya suatu bakteri gram negatif seperti E.coli, masuk ke saluran
kencing.Radang area lokal terjadi, diikuti dengan infeksi ketika organisme
bereproduksi.Bakteri radang muncul di kulit area genital dan memasuki saluran
perkemihan melalui pembukaan uretra.Organisme dapat juga masuk selama
kontak seksual. Dalam hal ini infeksi terjadi sebagai infeksi yang diperoleh dari
komunitas yang tidak kompleks.Pasien dengan kateter perkemihan bisa juga
mengalami infeksi karena adanya kateter yang memberikan suatu jalan kecil
bagi bakteri untuk masuk ke kandung kemih.Beberapa peralatan saluran
kencing, misal cystoscopy, juga memberikan suatu jalan kecil bagi bakteri
untuk masuk kandung kemih. Sebagian dari peralatan tidak disterilkan
sepenuhnya antara pasien satu dengan yang lainnya; peralatan diberi
desinfektan dosis tinggi karena serat optik dan lensa di dalam tidak akan tahan
dengan temperatur tinggi yang diperlukan untuk mensterilkan. Infeksi ini akan
dipandang sebagai nosocomial. (Mary. 2014).
C. Manifestasi klinis
1. Frekuensi terkait dengan iritasi otot kandung kemih
2. Urgensi terkait dengan iritasi otot kandung kemih
3. Susah buang air kecil karena iritasi lapisan mukosal
4. Rasa sesak/ penuh di dalam area suprapublik
5. Pungung bawah sakit
D. Patofisiologi
Menurut Rudi. 2012infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya
mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius.Mikroorganisme ini masuk
melalui kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen,
limfogen.Ada dua jalur utama terjadi isk, yaitu ansending dan hematogen.
1. Secara asending:
Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain faktor
anatomi dimana wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada laki-
laki sehingga insiden terjadinya isk lebih tinggi, faktor tekanan urin saat
miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius
(pemeriksaan sitoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang
terinfeksi. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
2. Secara hematogen:
Sering terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga
mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal
yang memengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah
penyebaran hematogen, yaitu adanya bendungan total urin yang
mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat
jaringan parut.
E. Pathway
F. Pemeriksaan dan Tes Diagnostik
1. Tes kultur dan sensitivitas
Tes kultur melihat kemungkinan adanya bakteri didalam urin. Tes
sensitivitas menentukan antibiotik apa yang dapat digunakan untuk
membunuh bakteri. Laboratorium membagi spesimen urin menjadi dua;
satu bagian dikultur untuk menentukan bakteri mana yang
berkembang.Laporan persiapan harus tersedia dalam 24 jam.Bagian kedua
digunakan untuk menentukan pada antibiotik mana organisme tersebut
peka.
2. Cystoscopy
Tes ini menguji dinding kandung kemih untuk melihat kemungkinan
pertumbuhan dan tumor. Ini juga digunakana sebagai alat untuk
memindahkan tumor kecil, batu dan benda asing dan untuk mendilatasi
saluran kencing (uretra) dan saluran ginjal(ureter). Suatu cystoscope
dimasukan kedalam uretra ke kandung kemih, yang membuat struktur
benar-benar divisualisasikan; misalnya uretra, kandung kemih, ureter dan
prostat.
3. Studi sinar x ginjal, ureter, kandung kemih (KUB)
Studi KUB adalah sinar x abdominal yang digunakan untuk mendeteksi
batu ginjal, bisul abdominal, paralytic ileus atau obstruksi.
4. Prostate spesific antigen (PSA) test
Tes ini mengukur tingkat PSA didalam darah. Tingkat PSA akan naik pada
psien dengan BPH (Begign Prostatic Hypertropy) atau kanker prostat.
Kenaikan tingkat PSA tidak memberi dokter cukup informasi untuk
membedakan antara kanker dan kondisi-kondisi protat jinak;namun, dokter
akan mempertimbangkan hasil tes ketika memutuskan apakah akan
mengorder penyaringan tambahan untuk kanker prostat. Tes ini juga
digunakan untuk memonitor perawatan dan untuk menguji kekambuhan
kanker prostat.
5. Pengumpulan urin 24 jam
Ini adalah tes diagnostik yang melibatkan pengumpulan urin pasien selama
24 jam.Tes ini biasanya digunakan untuk mengukur volume dan berbagai
faktor fungsi ginjal dan juga untuk menentukan pengeluaran sehari-hari
unsur tertentu seperti protein, elektrolit dan lain-lain.
6. Urinalysis
Urinalysis (analisa urin) adalah pengujian urin secara fisik, kimia, dan
mikroskopis.Pengujian inimeliputi sejumlah tes untuk mengevaluasi
spesimen urin mengenai penampilan, warna, kejelasan, pH, berat jenis, dan
kehadiran bakteri, darah kepingan-kepingan, glukosa, keton leukosit,
protein, RBC, dan WBC. Tes digunakan untuk mengkonfirmasikan gejala
ISP, untuk memeriksa diabetes karena kelebihan kadar glukosa, dan untuk
memonitor fungsi ginjal pada pasien gagsl ginjal.
7. Urine flow studies
Urine flow studies, juga dikenal sebagai uroflowmetry, mengukur kekuatan
dan volume per detik aliran urin dari kandung kemih ketika pasien buang
air kecil ke dalam mesin tes. Tes ini membantu mengidentifikasi sumbatan
atau kelainan Saluran kencing dan membantu mengevaluasi seberapa baik
atau seberapa buruk pasien buang air kecil.
8. Voiding cystogram
Tes ini melibatkan pengambilan gambar sinar x kandung kemih dan uretra
selama perkemihan.Suatu material kontras radiopaque ditanamkan ke
dalam kandung kemih via kateter Foley ke dalam sluran tubuh. Setelah
sinar x diambil, kateter dipindahkan. Pasien buang air kecil sementara sinar
x diperoleh. Tes ini dilakukan untuk mencari kelainan sistem perkemihan,
tumor kandung kemih, ureter, dan uretra, atau untuk mengeluarkan (
refluks) urin dari kandung kemih ke ureter.
G. Penatalaksanaan
Menurut Marlene. 2016
1. Pencegahan
a. Hindari dehidrasi : ajurkan asupan harian (recommended daily
allowance,RDA) cairan pada dewasa aktif sekitar 30 ml/kg/hari.
b. Hindari konstipasi (perbanyak asupan cairan,serat diet, dan olah raga
rekreasional)
c. Tangani retensi urien, inkontinensia urien atau obstruksi pada saluran
keluar kandung kemih.
d. Pertimbangan perbaikan sistokel pada wanita pascamenopause
penderita pengosongan kandung kemih tanpa sempurna dan ISK
kambuhan.
e. Ajari wanita mengenai higienis yang baik setelah ke toilet dan
berkemih setelah senggama.
f. Tangani infeksi sejak dini, terutama pada pasien dengan penurunan
fungsi imun atau pasien dengan retensi urien, atau disfungsi berkemih.
g. Lepas kateter yang yang terpasang dan tangani pasien yang mengalami
disfungsi berkemih dengan program penatalaksanaan alternatif seperti
pelatihan kandung kemih, farmakoterapi untuk inkontinensia urien,
kateterisasi intermiten dan/ atau berkemih terjadwal.
2. Infeksi saluran kemih akut
a. Penatalaksanaan empiris cukup memadai untuk infeksi yang pertama
pada wanita muda yang tidak sehat ; mulai penatalaksanaan empiris
sebelum diperoleh hasil kultur dan sensitivitas untuk infeksi saluran
kemih febris atau komplikata
b. Antipiretika dan rawat inap dengan cairan intravena diperlukan bila
pielonefritis disertai dengan mual dan muntah yang bermakna atau
urosepsis.
c. indikasi), frekuensi pemberian , risiko vaginitis, biaya yang ditanggung
pasien, dan risiko peningkatan resistensi bakteri.
d. Tekankan kepatuhan pada pemberian antibiotik ; tangani infeksi non
komplikata selama 3 hari, infeksi komplikasi selama 7 hari, dan ISK
febris selama 14 hari.
e. Penanganan suplemen antibiotika dengan analgesik sistem Perkemihan
(pyridium tersedia sebagai obat yang dijual bebas) atau obat kombinasi,
seperti Urised.
f. Mulai penanganan profilaksis menggunakan krem antijamur pada
wanita dengan riwayat vaginitis saat mendapatkan terapi antibiotika,
kecuali bila diberikan nitrofurantoin.
g. Dorong asupan cairan yang memadai; hindari iritan kandung kemih.
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Keluhan klien
c. Pemeriksaan fisik
- Kesadaran
- TTV
- Pemeriksaan head to toe:
Rambut:
keadaan kepala klien ISK biasanya baik (tergantung klien): distibusi
rambut merata, warna rambut normal (hitam), rambut tidak
bercabang, rambut bersih. pada saat di palpasi keadaan rambut klien
ISK biasanya lembut, tidak berminyak, rambut halus.
Mata:
keadaan mata penderita ISK biasanya normal. Mata simetris, tidak
udema di sekita mata, sklera tidak ikterik, konjugtiva anemis,
pandangan tidak kabur.
Hidung:
normal. Simetris tidak ada pembengkakan ,tidak ada secret, hidung
bersih
Telinga:
Normal. telinga simetris kiri dan kanan, bentuk daun teling normal,
tidak terdapat serumenm,keberihan telinga baik
Mulut
mukosa bibir kering, keadaan dalam mulut bersih(lidah,gigi,gusi).
Leher:
biasanya pada klien ISK Normal
I : leher simetris,tidak ada penonjolan JVP,terlihat pulsasi
Pa: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran
nodus limfa
Paru:
I : dada simetris kiri dan kanan, pergerakan dada sama, pernapasan
cepat dan dangkal, tidak ada penonjolan rusuk.
Pa : Normal.tulang rusuk lengkap, tidak ada nyeri tekan dan nyeri
lepas serta edema atau massa.tractil fremitus positif kiri dan kanan.
Pe: suara dullness pada daerah payudara, dan suara resonan pada
intercosta.
Au: Normal.tidak terdengar suara tambah pada pernapasan
(ronchi,whezing)
Jantung:
biasanya klien dengan ISK Normal. Yaitu Tidak ada terjadi
ganguan pada jantung klien (kecuali klien memilki riwayat sakit
jantung).teraba pulsasi pada daerah jantung klien pada intercosta 2
dan pada intercosta 3-5 tidak teraba, pada garis mid klavikula teraba
vibrasi lembut ketukan jantung.suara jantung S1 dan s2 terdengar
dan seimbang pada intercosta ke 3 dan pada intercosta ke 5 bunyi s1
lebih dominan dari pada s2.
Abdomen:
I : perut rata, tidak ada pembesaran hepar yang di tandai dengan
perut buncit, tidak ada pembuluh darah yang menonjol pada
abdomen, tidak ada selulit.
Pa : ada nyeri tekan pada abdomen bagian bawah akibat penekanan
oleh infeksi
Pe : bunyi yang di hasilkan timpani
Au : bising usus terdengar
Ekstremitas:
kekuatan eks.atas dan eks.bawah baik, dapat melakukan pergerakan
sesuai perintah, tidak ada nyeri tekan atau lepas pada ekstermitas,
tidak ada bunyi krepitus pasa ekstermitas
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologis
Tujuan : Nyeri hilang dengan spasme terkontrol
KH : Nyeri menghilang ditandai dengan klien melaporkan tidak
nyeri waktu berkemih, tidak nyeri pada daerah suprapubik
Intervensi :
- Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan
keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang
- Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri
- Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan.
- Berikan perawatan perineal
- Jika dipasang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari.
- Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
- Kolaborasi pemberian analgetik
b. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan sering berkemih,
urgensi dan hesitancy
Tujuan : Pola eliminasi urine membaik
KH : Pola eliminasi urine membaik ditandai dengan klien
melaporkan berkurangnya frekuensi ( sering berkemih) urgensi dan
hesistensi.
Intervensi :
- Kaji pola eliminasi klien
- Dorong pasien untuk minum sebanyak mungkin dan mengurangi minum
pada sore hari
- Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-3 jam dan bila tiba- tiba dirasakan.
- Siapkan / dorongan dilakukan perawatan perineal setiap hari.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan nokturia
Tujuan : Pola tidur membaik
KH : Pola tidur membaik ditandai dengan klien melaporkan dapat
tidur, klien nampak segar
Intervensi :
- Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi
- Berikan tempat tidur yang nyaman
- Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur misalnya, mandi hangat
dan masase,segelas susu hangat
- Kurangi kebisingan dan lampu
- Instruksikan tindakan relaksasi
Daftar Pustaka

Brashers, Valentina L. (2008). Aplikasi Klinis Patofisiologi. Jakarta : ECG

Hariyono, Rudi. (2012). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Perkemihan.


Yogyakrta: KDT

Digiulio, Mary ., dkk. (2014). Keperawatan Medikal Bedah . Yogyakarta: KDT

Hurst, Marlene. (2016). Belajar Mudah Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :


EGC
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ISK
(INFEKSI SALURAN KEMIH) DI RUANG ANAK RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH DR. SOEDARSO

Oleh:

SULIYANTISARI
SRP 18315109

PROGRAM KHUSUS S1 KEPERAWATAN SEKOLAH


TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
TAHUN 2019