You are on page 1of 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Cedera Kepala

1. Pengertian

Cedera kepala (Trauma Capitis) merupakan masalah non

degeneratif dan non kongenital yang merugikan terhadap otak akibat

kekuatan mekanis eksternal, dan kemungkinan menyebabkan kerusakan

fungsi kognitif, fisik dan psikososial permanen, serta dapat menurunkan

tingkat kesadaran (Amyot, Arciniegas, Brazaitis, et al., 2015).

Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

mendefinisikan cedera kepala sebagai gangguan pada fungsi normal otak

yang bisa disebabkan oleh benturan, pukulan, atau sentakan ke kepala

atau cedera kepala yang tembus/penetrasi. Ledakan peledak juga dapat

menyebabkan cedera kepala, terutama di antara mereka yang bertugas di

militer (Frieden, Houry, & Baldwin, 2015).

Cedera kepala adalah cedera yang terjadi pada tulang tengkorak,

otak atau keduanya disertai atau tanpa disertai adanya kerusakan struktur

otak. Cedera kepala dapat bersifat pimer atau sekunder. Cedera primer

adalah cedera yang menimbulkan kerusakan langsung setelah terjadi

misalnya fraktur tengkorak, laserasio, kontusio. Sedangkan cedera kepala

sekunder merupakan efek lanjut dari cedera primer seperti perdarahan

intrkranial, edema serebral, peningkatan tekanan intracranial, hipoksia,

dan infeksi (Hickey, 2013).

15
16

2. Etiologi

Menurut Kristanty, 2016 cidera kepala dapat disebabkan karena beberapa

hal diantaranya adalah :

a. Trauma Tumpul

Kekuatan benturan akan menyebabkan kerusakan yang menyebar.

Berat ringannya cedera yang terjadi tergantung pada proses akselerasi-

deselerasi, kekuatan benturan dan kekuatan rotasi internal. Rotasi

internal dapat menyebabkan perpindahan cairan dan perdarahan peteki

karena pada saat otak “bergeser” akan terjadi “pergeseran” antara

permukaan otak dengan tonjolan-tonjolan yang terdapat di permukaan

dalam tengkorak laserasi jaringan otak sehingga mengubah intervensi

vaskuler otak.

b. Trauma Tajam

Disebabkan oleh pisau, peluru atau fragmen tulang pada fraktur tulang

tengkorak. Kerusakan tergantung pada kecepatan gerak (velocity)

benda tajam tersebut menancap ke kepala atau otak. Kerusakan hanya

terjadi pada area di mana benda tersebut merobek otak (lokal). Obyek

dengan velocity tinggi (peluru) menyebabkan kerusakan struktur otak

yang luas. Adanya luka terbuka menyebabkan resiko infeksi.

3. Klasifikasi Cedera Kepala

Tingkat keparahan cedera kepala umumnya dibagi menjadi tiga,

yaitu cedera kepala ringan (CKR), cedera kepala sedang (CKS), dan

cedera kepala berat (CKB) (Senapathi, Wiryana, Aribawa, et al., 2017).


17

Klasifikasi cedera kepala berdasarkan versi modifikasi Hand Injury

Severity Score (HISS) dibagi menjadi :

Klasifikasi cedera kepala berdasarkan kerusakan jaringan otak


No Jenis Pengertian
1. Komosio serebri Gangguan fungsi neurologi ringan tanpa
adanya kerusakan otak yang terjadi hilangnya
kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa
disertai amnesia retogard, mual dan muntah
2. Kontusio serebri Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan
jaringan otak tetapi kontinuitas otak masih
utuh, hilangnya kesadaran lebih dari 10 menit
3. Laseerio serebri Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan
otak yang berat dengan fraktur tengkorak
terbuka.
Sumber: (Soertidewi, 2012)

Klasifikasi cedera kepala berdasarkan tingkat keparahan

Ringan GCS antara 13-15, tidakada fraktur tulang


(mild head injury) tengkorak, tidak ada kontusio serebri,
hematom serta kehilangan kesadaran kurang
dari 30 menit
Sedang GCS antara 9-12, kehilangan kesadran lebih
(moderate head in jury) dari 30 menit , muntah dan dapat mengalami
fraktur pada tengkorak
Berat GCS 3-8, hilang keasadran lebih dari 24 jam
(serve head injury) serta adanya kontusio serebri dan laserasi
Sumber: (Soertidewi, 2012)
18

4. Mekanisme Cedera Kepala

Organ otak dilindungi oleh rambut kepala, kulit kepala, tulang

tengkorak, dan meningen atau lapisan otak, sehingga secara fisiologis

efektif terlindungi dari trauma atau cedera. Cedar kepala terjadi karena

adanya benturan atau daya yang mengenai kepala secara tiba-tiba (Blacks

& Hawks, 2009). Cedera kepala dapat terjadi melalui 2 mekanisme, yaitu

ketika kepala secara langsung kontak dengan benda atau objek dan

mekanisme akselerasi-deselerasi. Akselerasi merupakan mekanisme

cedera kepala yang trejadi ketika benda yang bergerak membentur kepala

yang diam, sedangkan deselerasi terjadi ketika kepala bergerak

membentur benda yang diam (Tarwoto, 2012) ketika benturan terjadi,

energy kinetik diabsorbsi oleh kulit kepala, tulang tengkorak, dan

meningen, sedangkan sisa energy yang ada akan hilang pada bagian atas

otak. Namun demikian jika energy atau daya yang dihasilkan lebih besar

dari kekuatan proteksi maka akan menimbulkan kerusakan pada otak.

Berdasarkan patosiologinya cedera kepala, dibagi menjadi cedera

kepala primer dan cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer

merupakan cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian

cedera. Cedera ini umumnya menimbulkan kerusakan pada tengkorak,

otak, pembuluh darah, dan struktur pendukungnya (Tarwoto, 2012) cedera

kepala sekunder merupakan proses lanjutan dari cedera primer dan lebih

merupakan fenomena metabolik. Pada cedera kepala sekunder pasien

mengalami hipoksia, hpotensi, asidosis, dan penurunan suplai oksigen


19

otak. Lebih lanjut keadaan ini menimbulkan edema serebri dan

peningkatan tekanan intracranial yang ditandai adanya penurunan

kesadaran, muntah proyektil, papilla edema, dan nyeri kepala.

5. Patofisiologi

Adanya trauma mengakibatkan gangguan atau kerusakan struktur

misalnya kerusakan pada parenkim otak. Kerusakan pembuluh darah,

perdarahan odema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan

adenosine tripospat dalam mitokondria, perubahan permeabilitas

vaskuler.

Perdarahan otak menimbulkan hematom, misalnya pada epidural

hematom yaitu berkumpulnya darah antara lapisan periosteum tengkorak

dengan durameter , subdural hematom diakibatkan berkumpulnya darah

pada ruang antara dura mater dengan subarachnoid dan intraserebral

hematom adalah berkumpulnya darah pada jaringan. Cedera otak

dibedakan atas kerusakan primer dan sekunder:

a. Kerusakan primer, yaitu kerusakan otak yang timbul saat cedera,

sebagai akibat dari kekuatan mekanik yang menyebankan deformasi

jaringan. Kerusakan dapat berupa fokal atau difus.

b. Kerusakan sekunder, yaitu kerusakan otak yang timbul akibat

komplikasi dari kerusakan primer tremasuk kerusakan oleh karena

hipoksia, iskemia, pembekakan otak, peninggian TIK, hidrosefalus

dan infeksi. Berdasarakan mekanismenya kerusakan ini dapat


20

dikelompokkan atas dua, yaitu kerusakan hipoksi-iskemi menyeluruh

dan pembekakan otak menyeluruh.

Fokus utama pelaksanaan pasien-pasien yang mengalami cedera

kepala adalah mencegah trejadinya cedera otak sekunder. Pemberian

oksigenasi dan memelihara tekanan darah yang baik dan adekuat untuk

mencukupi perfusi otak adalah hal yang paling utama dan terutama untuk

mencegah dan membatasi terjadinya cedera otak sekunder.

6. Manifestasi Klinik

Mengamati salah satu tanda klinis berikut merupakan perubahan fungsi

otak (Frieden, Houry, & Baldwin, 2015) :

a. Kehilangan atau penurunan kesadaran;

b. Hilangnya memori untuk kejadian segera sebelumnya (amnesia

retrograde) atau setelah luka (amnesia pasca trauma);

c. Defisit neurologis seperti kelemahan otot, kehilangan keseimbangan

dan koordinasi, gangguan penglihatan, perubahan dalam bahasa dan

ucapan, atau kehilangan sensoris.

d. Perubahan dalam keadaan mental pada saat cedera seperti

kebingungan, disorientasi, pemikiran melambat, atau kesulitan

konsentrasi.

7. Komplikasi

Cidera kepala yang tidak teratasi dengan segera atau tidak optimal dalam

terapi maka dapat menyebabkan beberapa komplikasi yaitu :


21

a. Kejang Pasca Trauma

Kejang merupakan salah satu masalah yang dapat timbul setelah terjadi

trauma kepala. Kejang pada minggu pertama setelah cedera kepala

disebut kejang pasca-trauma dini. Kejang lebih dari tujuh hari setelah

cedera otak disebut kejang pasca trauma lambat. Memiliki lebih dari

satu kejang disebut epilepsy.

b. Hidrosefalus

Gejala klinis hidrosefalus ditandai dengan muntah, nyeri kepala, papil

oedema, demensia, ataksia dan gangguan miksi. Berdasarkan sebuah

penelitian dapat diidentifikasi empat faktor utama yang terkait dengan

hidrosefalus pasca-trauma, yaitu perdarahan intraventrikular,

perdarahan subarachnoid, fraktur dasar tengkorak, dan hygroma

subdural interhemispheric (Nor, Rahman, Adnan, 2013).

c. Agitasi

Di antara komplikasi cedera kepala, agitasi merupakan masalah

perilaku yang sering dijumpai. Ketidakpercayaan, defisit memori, dan

disorientasi adalah konsekuensi dari cedera kepala yang dapat

menyebabkan agitasi. Agitasi telah didefinisikan sebagai keadaan

kebingungan selama periode gangguan kesadaran yang mengikuti

cedera awal, juga disebut amnesia pasca-trauma, dan ditandai dengan

perilaku yang berlebihan seperti kerusuhan emosional, akognisia,

impulsif, pemikiran yang tidak teratur atau disinhibisi, dan agresi.

Faktor risiko yang diduga untuk agitasi mengikuti cedera kepala


22

meliputi rangsangan lingkungan, usia, nyeri, infeksi, pola tidur

terganggu, dan kerusakan lobus frontal (Williamson, Frenette, Burry,

et al., 2016).

d. Edema paru

Edema paru terjadi akibat refleks chusing yang disebabkan

peningaktan tekanan intra kranial yang berakibat terjadinya

peningkatan respon simpatis. Peningkatan vasokonstriksi tubuh secara

umum akan lebih banyak darah yang dialirkan ke paru. Perubahan

permeabilitas pembuluh darah paru berperan dalam berpindahnya

cairan ke alveolus. Kerusakan difusi oksigen dan karbondioksida dari

darah akan menimbulkan peningkatan tekanan intra kranial lebih

lanjut.

e. Kebocoran cairan serebrospinal

Hal ini dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen yang terjadi

pada 2-6% pasien dengan cedera kepala tertutup. Kebocoran ini

berhenti spontan dengan elevasi kepala setelah beberapa hari. Drainase

lumbal dapat mempercepat proses ini. Walaupun pasien memiliki

resiko meningitis yang meningkat (biasanya pneumokok). Otorea atau

rinorea cairan serebrospinal yang menetap atau meningitis yang

berulang merupakan indikasi operasi reparatif .

f. Perdarahan intra kranial

g. Gangguan Psikiatri
23

8. Pemeriksaan penunjang Trauma Kepala

1. Pemeriksaan diagnostik

a. CT scan

b. MRI dengan / tanpa menggunakan kontras

c. Angiografi serebral menunjukan kelainan sirkulasi serebral

d. EEG memperlihatkan keadaan atau berkembangnya gelombang

patologis

e. BAER menentukan fungsi korteks dan batang otak

f. PET menunjukan perubahan aktivitas metabolisme pada otak

2. Pemeriksaan laboratorium

a. AGD (PO²,PH,HCO³) untuk mengkaji keadekuatan ventilisasi

agar AGD dalam rentang normal untuk menjamin aliran darah

serebral adekuat atau dapat juga untuk melihat masalah oksigenasi

yang dapat meningkatkan tekanan intrakrnial

b. Elektrolit serum

c. Hematologi meliputi leukosit, Hb, albumin, globulin, protein

serum

d. CSS untuk menentukan kemungkinan adanya perdarahan

subarachnoid (warna, komposisi, tekanan)

e. Pemeriksaan toksikologi untuk mendeteksi obat yang

mengakibatkan penurunan kesadaran

f. Kadar antikonvulsan darah untuk mengetahui tingkat terapinyang

cukup efektif untuk mengatasi kejang


24

9. Penatalaksanaan Cedera Kepala

1) Primary survey

a. Nilai tingkat kesadaran

b. Lakukan penilaian ABC:

 A-Airway : kaji apakah ada muntah, perdarahan, benda asing

dalam mulut

 B-Breathing : kaji kemampuan bernafas, peningkatan PCO2

akan memperburuk edema serebri

 C-Circulation : nilai denyut nadi dan perdarahan

c. Imobilisasi kepala atau leher dengan collar neck atau alat lain

dipertahankan sampai x-ray membuktikan tidak ada fraktur

servical.

2) Intervensi primer

a. Bukan jalan nafas dengan teknik “jaw-thrust” – kepala jangan

ditekuk, isap lendir kalau perlu

b. Beri O2 4-6 liter/menit untuk mencegah anoksia serebri

c. Hiperventilasi 20-25 x/menit menignkatkan kontriksi pembuluh

darah otak sehingga edema serebri menurun

d. Kontrol perdarahan, jangan beri tekanan pada luka perdarahan di

kepala, tutup saja dengan kassa, diplester. Jangan berusaha

menghentikan aliran darah dari lubang telinga atau hidung dengan

menyumbat/menutup lubang tersebut.


25

3) Operasi

Dilakukan untuk mengeluarkan darah pada intraserebral, debridemen

luka, kranioplasti, prosedur shunting pada hidrocepalus, kraniotomi.

4) Pengobatan

a. Diuretic untuk mengurangi edema serebral misalnya monitol 20%,

furodemid (lasik).

b. Antikonvulson untuk menghentikan kejang misalnya dengan

dilantin, tegretol, valium.

c. Kortokosteroid untuk menghambat pembentukan edema misalnya

deksametason.

d. Antagonis histamin untuk mencegah terjadinya iritasi lambung

karena hipersekresi akibat efek trauma kepala misalnya dengan

cemetidin, ranitidine

e. Antibiotik jika terjadi luka yang besar.

B. Penilaian Kesadaran / Glasgow Coma Scale (GCS)

1. Pengertian

GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk

menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma

atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang

diberikan. Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu

reaksi membuka mata , bicara dan motorik (Nursingbegin.com, 2009).

Skala Koma Glasgow (GCS), memberikan tiga bidang fungsi

neurologik, memberikan gambaran pada tingkat responsif pasien dan


26

dapat digunakan dalam percarian yang luas pada saat mengevaluasi status

neurologik pasien yang mengalami cedera kepala. Evaluasi ini tidak dapat

digunakan pengkajian neurologik yang lebih dalam, cukup hanya

mengevaluasi motorik pasien, verbal dan respon membuka mata. Elemen-

elemen ini selanjutnya dibagi menjadi tingkat-tingkat yang berbeda.

Masing-masing respon diberikan sebuah angka (tinggi untuk normal dan

rendah untuk gangguan), dan penjumlahan dari gambaran ini memberikan

indikasi beratnya keadaan koma dan sebuah prediksi kemungkinan yang

terjadi dari hasil yang ada. Nilai terendah adalah 3 (respon paling sedikit),

nilai tertinggi adalah 15 (paling berespon) (Smeltzer & Bare, 2015).

Semakin rendah nilai GCS, semakin banyak defisit dan semakin

tinggi tingkat mortalitasnya. Nilai GCS terbukti konsisten pada regio-

regio berbeda dengan mekanisme dan pengobatan yang berbeda. Penilaian

ini juga dapat dilakukan di lapangan sebelum dibawa ke rumah sakit

(Greenberg, 2008).

2. Faktor yang mempengaruhi kesadaran

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai

faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti

keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak,

dan tekanan berlebihan didalam rongga tulang. Adanya defisit tingkat

kesadaran memberi kesan adanya hemiparese atau system aktivitas

reticularmengalami injuri. Penurunan tingkat kesadarn berhubungan

dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas


27

(kematian). Jadi sangat penting dalam mengukur status neurogical dan

medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari

vital sign..

3. Faktor penyebab penurunan kesadaran

Penyebab penurunan kesadaran mengidikasikan defisist fungsi

otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami

kekurangan oksigen (hipoksia), kekurangan aliran darah, penyakit

metabolic seperti diabetes mellitus, pada keadaan hipo atau hipernatremia,

dehidrasi, asidosis, alakalosis, pengaruh obat-obatan, alcohol,

keracunan,hipertermi, hipotermi, dan lainnya seperti peningkatan tekanan

intracranial.

4. Kualitas Kesadaran

a. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar

sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan

sekelilingnya.

b. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan

dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.

c. Delirium yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu)

memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berkhayal.

d. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon

psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat

pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi,

mampu memberi jawaban verbal.


28

e. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada

respon terhadap nyeri.

f. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon

terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek

muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya)

(Ruhyanudin, 2011).

5. Mengukur tingkat kesadaran

Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk

mengetahui tingkat kesadaran sesorang yaitu Glasgow Coma Scale

(GCS). GCS pertama kali didefinisikan oleh Sir Graham Tisdale dan

Bryan Jennet tahun 1974 (Senapathi, Wiryana, Aribawa, et al., 2017).

Skor GCS dapat digunakan untuk menilai status neurologis dan derajat

keparahan disfungsi otak termasuk cedera kepala.

Metode lain menggunakan system APVU, dimana pasien

diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal),

hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien sadar sehingga

tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri. (unresponsive).

Ada metode lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan

hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU. Dalam

mengguanakan metode ACDU pasien diperiksa kesadarannya apakah baik

(alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan

tidak ada respon (unresponsiveness).


29

Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu

reaksi membuka mata, bicara dan motorik. Nilai maksimum (normal) dari

masing-masing parameter adalah membuka mata/eye (E) = 4, respon

motorik terbaik (M) = 6, dan respon verbal (V) = 5 (Bhaskar, 2017).

Berikut ini tabel penilaian tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale

(GCS).

Tabel 1. Penilaian Tingkat Kesadaran dengan Glasgow Coma Scale


(GCS).

Aspek yang dinilai Nilai


Buka mata (E) Spontan 4
Dengan perintah 3
Dengan nyeri 2
Tidak buka mata 1
Respon Verbal (V) Orientasi baik 5
Bicara kacau 4
Kata-kata yang tidak sesuai 3
Suara yang tidak jelas 2
Tidak ada 1
Respon Motorik (M) Mengikuti perintah 6
Melokalisasi nyeri 5
Fleksi untuk menghindari nyeri 4
Fleksi abnormal (dekortikasi) 3
Ekstensi (deserebrasi) 2
Tidak ada 1
Sumber: (American College of Surgeons, 2012).

Skor GCS dapat diklasifikasikan :

a. Skor 14-15 : compos mentis


b. Skor 12-13 : apatis
c. Skor 11-12 : somnolent
d. Skor 8-10 : stupor
e. Skor < 5 : koma (Lenterabiru.com, 2010).
30

Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :

a. GCS : 13 – 15 = CKR (cedera kepala ringan)

b. GCS : 9 – 12 = CKS (cedera kepala sedang)

c. GCS : 3 – 8 = CKB (cedera kepala berat) (Bhaskar, 2017).

C. Terapi Murottal Al-Qur’an

1. Definisi Terapi Murottal Al-Qur’an

Murrottal adalah rekaman suara al-Qur’an yang dilagukan oleh

seorang qori’/pembaca al-Qur’an (Siswantinah, 2011). Firman Allah

Ta’ala dalam Q. S. Al Furqan : 32:

   


  
   
   
  
Terjemahnya :
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil,”(Q. S. Al Furqan
32).

Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang di turunkan kepada

Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an diartikan sebagai bacaan, Al-qur’an

merupakan petunjuk bagi orang yang beriman. Barang siapa yang

membaca Al-Qur’an akan dibalas oleh Allah sebagai suatu kebaikan

(Syarifudin, 2012 ). Al-Qur’an merupakan kitab orang Islam dan semata-

mata bukan hanya kitab fikih yang membahas ibadah saja tetapi

merupakan kitab yang membahas secara komprehensif baik bidang

kesehatan atau kedokteran maupun bidang-bidang ilmu-ilmu lain

(Sadhan, 2009). Al-Qur’an sendiri dibeberapa penjelasan secara ilmiah

merupakan obat yang menyembuhkan dan menyehatkan manusia, baik


31

penyakit jasmani maupun rohani. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

SAW “Berobatlah Kalian Dengan Madu Dan Al-Qur’an” (Izzat & Arif,

Kementerian Agama, 2011).

Murottal adalah lantunan ayat-ayat Suci Al-Qur’an yang dilakukan

oleh seorang Qori direkam serta di perdengarkan dengan tempo yang

lambat serta harmonis. Bacaan Al-Qur’an secara murottal mempunyai

irama yang konstan, teratur, dan tidak ada perubahan yang mendadak.

Tempo murottal Al-Qur’an berada antara 60-70/ menit, serta nadanya

rendah sehingga mempunyai efek relaksasi dan dapat menurunkan

kecemasan (Siswantinah,2011).

2. Manfaat Murottal Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci agama islam, sebagai pedoman hidup

umatnya. Al-Qur’an mempunyai beberapa istilah diantaranya adalah

istilah As-syifa. Istilah As-syifa menunjukkan bahwa al-Qur’an sebagai

obat dari berbagai penyakit baik penyakit fisik maupun nonfisik. Dalam

al-Qur’an terdapat hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran dan

pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit fisik. Dalam al-Qur’an

terdapat cara-cara mengobati penyakit fisik dari luar dan didalam al-

Qur’an juga dapat menyembuhkan penyakit nonfisik yaitu penyakit hati

ataupun jiwa, kegundahan hati dan kesedihan. (Heru, 2008).

Al-Qur’an merupakan obat yang komplit untuk segala jenis

penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit fisik, baik penyakit dunia

maupun penyakit akhirat (Siswantinah, 2011).


32

Manfaat mendengarkan Murottal yaitu membuat perasaan rileks,

meningkatkan rasa rileks, memberikan perubahan fisiologis,

meningkatkan respon fisiologis bayi baru lahir premature, terapi murottal

secara teratur adalah obat nomor satu dalam menyembuhkan berbagai

penyakit, seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah Al-isra 17

:82

  


   
   
   

Terjemahanya:

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar


dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah
menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Al-isra:82)

Kata ‫(شفاء‬syifa) pada surat al-Isra [17]: 82 memiliki arti penawar

yang dapat menyembuhkan baik penyakit hati maupun fisik. Makna syifa

lebih luas daripada makna ‫(دواء‬dawa) yang berarti obat bagi tubuh saja.

Al-Qurthubi (2008) menjelaskan bahwa ada dua makna dari syifa.

Pertama, penawar hati seperti, iri, dengki, kecemasan dan lain-lain.

Kedua, adalah penawar berbagai penyakit fisik. Sedangkan kata ‫ رحمة‬pada

surat al-Isra [17]: 82 mempunyai arti belas kasih (Munawwir, 2017). Hal

ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada

mahklukNya yang beriman, sehingga dapat menambah keyakinan dan

keimanan kepadaNya. Oleh karena itu, al-Quran mempunyai dua peran

yaitu sebagai syifa dan rahmat bagi jiwa. Murottal mempunyai beberapa

manfaat antara lain:


33

a. Mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan tartil akan

mendapatkan ketenangan jiwa

b. Lantunan al-Qur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia,

sedangkan suara manusia merupakan instrumen penyembuhan yang

menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau. Suara dapat

menurunkan hormon-hormon stress, mengaktifkan hormon endorphin

alami, meningkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan perhatian dari

rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki system kimia tubuh

sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan,

detak jantung, denyut nadi, dan aktifitas gelombang otak. Laju

pernafasan yang lebih dalam atau lebih lambat tersebut sangat baik

menimbulkan ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam

dan metabolisme yang lebih baik.

c. Dengan terapi murottal maka kualitas kesadaran seseorang terhadap

Tuhan akan meningkat, baik orang tersebut tahu arti al-Qur’an atau

tidak. Kesadaran ini akan menyebabkan totalitas kepasrahan kepada

Allah SWT, dalam keadaan ini otak pada gelombang alpha,

merupakan gelombang otak pada frekuensi 7-14 Hz . ini merupakan

keadaan energi otak yang optimal dan dapat menyingkirkan stress dan

menurunkan kecemasan (Heru, 2008)

3. Mekanisme murottal Al-Qur’an sebagai terapi

Terapi Al-Qur’an merupakan sebagai terapi alternatif telah

dikembangkan pada berbagai bagian di rumah sakit untuk mengatasi


34

berbagai jenis penyakit, khususnya dalam rehabilitasi neurologis.

Setelah lisan kita membaca Al-Qur’an atau mendengarkan bacaan Al-

Qur’an impuls atau rangsangan akan diterima oleh daun telinga

pembacanya kemudian telinga memulai proses mendengarkan. Secara

fisiologi pendengaran merupakan proses dimana telinga menerima

gelombang suara, membedakan frekuensi dan mengirim informasi ke

susunan saraf pusat. Setiap bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi

atau getaran udara akan diterima oleh telinga. Getaran tersebut akan

diubah menjadi impuls elektrik ditelinga dalam dan diteruskan melalui

saraf pendengaran menuju korteks pendengaran di otak.

Getaran suara bacaan Al-Qur’an akan ditangkap oleh daun

telinga yang akan dialikan ke lubang telinga dan mengenai membran

timpani (membran yang ada di dalam telinga) sehingga membuat

bergetar. Getaran ini akan di teruskan ke tulang-tulang pendengaran

yang bertautan antara satu dengan yang lainnya. Rangsangan fisik tadi

diubah oleh adanya perbedaaan ion kalium dan ion natrium menjadi

aliran listrik melalui N.VII(Vestibule Coclearis) menuju otak tepatnya

di area pendengaran.

Dari daerah pendengaran sekunder (area interpretasi auditorik)

sinyal bacaan Al-Qur’an akan diteruskan ke bagian posterotemporalis

lobus temporalis otak yang dikenal dengan area wrenicke. Di area

inilah sinyal dari area asosiasi somatic, visual, dan auditorik bertemu

satu sama lain.


35

Setelah diolah di area Wernicke maka melalui berkas yang

menghubungkan dengan area prefontal sinyal-sinyal diarea Wernicke

dikirim ke area asosiasi perfontal. Sementara itu disamping diantarkan

ke korteks auditorik primer dari thalamus juga diantarkan ke amigdala

(tempat penyimpanan memori emosi) yang merupakan bagian

terpenting dari sistem limbik (sistem yang mempengaruhi emosi dan

perilaku) disamping menerima sinyal dari sistem thalamus, amigdala

juga menerima sinyal dari semua bagian korteks limbik.

Thalamus juga menjalankan sinyal ke nerkoteks (area otak yang

berfungsi untuk berfikir atau mengolah data informasi yang masuk ke

otak). Di neokorteks sinyal disusun menjadi benda yang dipahami dan

dipilah-pilah menjadi maknanya sehingga otak mengenali masing-

masing objek dan arti kehadirannya. Kemudian amigdala menjalankan

sinyal ke hipokampus. Hipokampus sangat penting untuk membantu

otak menyimpan ingatan yang baru. Hal ini dimungkinkan karena

hipokampus merupakan salah satu dari sekian banyak jalur keluar

penting berasal dari area “ganjaran” dan “hukuman . diantara motivasi-

motivasi ini terdapat dorongan dalam otak untuk mengingat

pengalaman-pengalaman , pikiran yang menyenangkan dan tidak

menyenangkan. Walaupun demikian membaca Al-Qur’an tanpa

mengetahui maknanya juga tetap bermanfaat apabila membacanya

dengan keikhlasan dan kerendahan hati sebab Al-Qur’an akan

memberikan kesan positif pada hipokampus dan amigdala sehingga


36

menimbulkan suasana hatiyang positif selain dengan membacanya Al-

Qur’an kita juga dapat memperoleh manfaat dengan hanya

mendengarkannya (Sherwood, 2011).

Efek yang ditimbulkan adalah menurunkan stimulus sistem

syaraf simpatis. Respon yang muncul dari penurunan aktivitas tersebut

adalah menurunnya aktivitas adrenalin, menurunkan ketegangan

neuromuskular, meningkatnya ambang kesadaran. Indikator yang bisa

diukur dengan penurunan adalah menurunnya Heart Rate, Respiratory

Rate, dan penurunan tekanan darah (Novita, 2011).

Terapi murottal memberikan dampak positif bagi psikologis.

Peneliti menggunakan audio murottal surat Al-Fatihah sebagai salah satu

terapi diperdengarkan kepada pasien, efek suara dari audio berkaitan

dengan proses impuls suara yang di transmisikan kedalam tubuh dan

mempengaruhi sel – sel tubuh. Suara yang di terima oleh telinga kemudian

di terima oleh saraf pusat kemudian di transmisikan keseluruh bagian

tubuh. Selanjutnya saraf vagus dan sistem limbik membantu kecepatan

denyut jantung, respirasi mengontrol emosi. Al Kaheel (2012)

mengemukakan bahwa seperangkat frekuensi yang terdapat dalam

murottal yang sampai ke telinga, dan dikirimkan ke sel-sel otak lalu

mempengaruhi sel melalui medan listrik antar neuron. Sel-sel dan medan
37

listrik itu saling merespon sehingga mengubah getaran sel menjadi stabil.

Menurut Abdurrachman (2008) bahwa kestabilan tersebut diperoleh

karena stimulan murottal akan menghasilkangelombang delta sebesar

63,11% di daerah frontal dan sentral sebelah kanan dan kiri otak.Daerah

frontal sebagai pusat intelektualdan pengontrol emosi, sedangkan daerah

sentral sebagai pusat pengontrol gerakan.

Ketika pasien di dengarkan terapi audio system saraf

mengkomunikasikan hipotalamus untuk mensekresi atau meningkatkan

hormon endofrin di kelenjar piutary dan menekan hormon stres, epineprin

dan non epineprin di kelenjar adrenal sehingga terapi audio mampu

menurunkan tekanan darah, menurunkan denyut nadi, memperlambat

pernafasan, memperlambat aliran darah ke otak akan mempercepat waktu

pulih sadar.

Al-Quran terdiri dari 114 surat, 6666 ayat, dan surat pembukanya

adalah surat al-Fatihah . Surat al-Fatihah termasuk surat makkiyyah yang

terdiri dari 7 ayat, mempunyai makna pembuka. Surat al-Fatihah

merupakan surat pembuka dari mushaf al-Quran, dinamakan ummul Quran

karena seluruh makna dalam surat tersebut, dibahas mendetail oleh ayat-

ayat al-Quran. Keutamaan tersebut sudah cukup mewakili fungsi dari al-

Quran itu sendiri, walaupun masih banyak sekali makna yang terkandung

di dalam al-Quran, karena setiap ayat di dalamnya bermakna penting.

Surat al-Fatihah memberikan efek terhadap sel saraf otak, sehingga

paparan murottal tersebut mampu direspon positif oleh sel, hal ini dapat
38

terjadi karena seluruh komponen alam bertasbih kepada Allah swt, tidak

terkecuali juga sel yang berperan sebagai penyusun terkecil mahkluk

hidup.

Selain itu al-Fatihah juga disebut Ar-Ruqyah, karena dapat

mengobati orang sakit. Keutamaan surat al-Fatihah adalah yang disebutkan

dalam hadits qudsi, bahwa Allah SWT, "Aku membagi shalat antara

diriKu dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia

minta" Yang dimaksud dengan 'shalat' di sini adalah surat al-Fatihah,

karena surat al-Fatihah merupakaan bacaan shalat, sedangkan secara

bahasa shalat artinya doa, dan surat alFatihah penuh dengan doa. Maksud

dari membagi surat al-Fatihah menjadi dua ialah karena surat al-Fatihah

terdiri dari tujuh ayat, sehingga tiga setengah ayat bagi Allah Subhaanahu

wata'ala dan tiga setengah ayat sisanya untuk hambanNya (Al-Fauzan,

2010).

secara ilmiah murottal al-Quran surat al-Fatihah dapat

berpengaruh positif terhadap sel saraf otak, karena menurut Mayrani

(2013) adanya suara yang dihasilkan oleh murottal berkaitan dengan

proses impuls yang mempengaruhi sel-sel tubuh. Selain itu murottal al-

Quran mempunyai frekuensi seperti musik, sehingga murottal juga

memungkinkan berpengaruh positif terhadap sel saraf otak. Meskipun

keduanya mempunyai kesamaan dari segi frekuensinya, namun murottal

mengandung pembeda yang sekaligus menjadi keutamaan al-Quran yaitu

makna yang tidak tertandingi. Al-Qattan (2012) menjelaskan bahwa


39

makna alQuran termasuk kalam Ilahi Robbi, sehingga ketika dibaca dan

didengarkan akan memberikan suasana spiritual yang begitu menenangkan

Surah al-Fatihah dalam Al-Qur’an akan digunakan sebagai

stimulasi untuk meningkatkan kesadaran pasien. Karakteristik terapi audio

murottal surah al-Fatihah mempunyai tempo 79,8 beatz/minute. Tempo ini

termasuk dalam tempo lambat yaitu 120 bpm, tempo lambat merupakan

seiring detak jantung sehingga jantung akan mensingkronkan detaknya

sesuai dengan suara (Maryani & elis, 2013)

D. Kerangka Teori

Trauma tumpul
Dan trauma tajam
(Benturan, Kecelakaan)

Cedera kepala

Kerusakan otak Faktor-faktor yang


mempengaruhi nilai
GCS
Penurunan kesadaran atau 1. Peningatan TIK
penurunan nilai GCS 2. Letak
Perdarahan

Intervensi

Farmakologi Non-farmakologi

1. Monitol Pemeberian terapi murottal


2. Furosemide AL-Qur’an
3. koertikosteroid
40

E. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Pemeberian terapi
Peningkatan Glasgow Coma
murottal AL-Qur’an
Scale (GCS)
(QS.Al-Fatihah)

F. Kerangka Kerja

Pupolasi

Sampel

One group pre test-post test


design
Pre test

Kelompok eksperimen/
intervensi

Observasi nilai GCS

Perlakuan (terapi Murratal Al-Qur’an)

Observasi nilai GCS

Post test

Analisa data

Penyajian Hasil

kesimpulan