You are on page 1of 16

ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA PROYEKSI SPECTRUM

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Data Kesehatan Lingkungan
dan sebagai Pengganti Ujian Akhir Semester
Dosen Pengampu : Rudatin Windraswara, S.T,. M.Sc.

Disusun oleh :
Brigita Eni Yuliastuti
NIM: 6411415104

Peminatan Kesehatan Lingkungan


JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
Interpretasi dan Analisis Data Population by Age and Sex Group

Piramida populasi penduduk kabupaten Sleman yang tergamabr dalam grafik tersebut
termasuk dalam tipe ekspansive. Ini tercermin dari pola piramida yang melebar di bagian
bawah dan cembung di bagian tengah yang merupakan penduduk usia muda. Sementara di
bagian atas yang merupakan penduduk usia tua meruncing. Piramida tersebut disebut piramida
tipe expensive karena lebih banyak jumlah penduduk usia produktif. Dengan jumlah penduduk
laki-laki usia 20-24 tahun yang terbanyak, yakni mencapai 66.200 jiwa. Dan penduduk wanita
mencapai 58.700 jiwa.

Namun untuk populasi manusia usia lanjut, yang berumur lebih dari 80 tahun pada
piramida penduduk tersebut yang berjenis kelamin lali-laki tidak ada pada tahun 2016.
Sedangkan pada penduduk perempuan berusia diatas 80 tahun sejumlah 11.000 penduduk.
Sedangkan untuk jumlah penduduk usia 0-4 tahun yang berjenis kelamin laki-laki terdapat
sebnayak 46.200 jiwa dan untuk jumlah penduduk perepuan sebesar 43.800 jiwa. Populasi dari
hasil proyeksi dari data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Sleman
pada tahun 2016 menunjukkan jumlah penduduk sebanyak 1.246.662 jiwa. Angka tersebut
terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 629.090 jiwa, sementara penduduk wanita sebanyak
635.572 jiwa. Rasio jenis kelamin penduduk di kabupaten Sleman pada tahun 2016 sebesar
98,98 yang artinya diantara 100 perempuan terdapat 98-99 laki-laki.

Menurut BPS, populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok
umur produktif yakni dari usia antara 15-34 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia
tengah memasuki era bonus demografi, dimana kelebihan penduduk usia produktif bisa
dimanfaatkan untuk peningkatan pembangunan. Diperkirakan, era bonus demografi ini akan
mencapai puncaknya pada periode 2025–2030. Hal ini sama juga yang dialami oleh penduduk
di kabupaten Sleman, jumlah penduduk usia produktif yakni pada rentang usia 15-64 tahun
lebih banyak jumlahnya daripada penduduk usia anak-anak dan usia tua. Artinya kabupaten
Sleman telah memulai memasuki masa bonus demografi, ditandai dengan semakin sedikitnya
angka ketergantungan penduduk anak-anak dan penduduk usai tua. Hal ini dapat terlihat dari
grafik pada gambar yang berwarna biru dimana grafik tersebut diproyeksikan memiliki
kecenderungan untuk terus mengalami kenaikan.
Interpretasi dan Analisis Data Proyeksi Sex Ratio Kabupaten Sleman

Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah suatu angka yang
menunjukkan perbandingan banyaknya jumlah penduduk laki-laki dan banyaknya jumlah
penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam
banyaknya jumlah penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. Data rasio jenis kelamin
ini berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender,
terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan perempuan secara
adil. Selain itu, informasi rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama
untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen.

Rasio diperoleh dari jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan di
daerah yang sama yang dihitung untuk suatu tahun tertentu. Perolehan data penduduk menurut
jenis kelamin didapat dari Sensus Penduduk, Supas atau Susenas dan lain lain.

Jumlah penduduk laki-laki menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Sleman
pada tahun 2016 adalah berjumlah 629.090 orang. Sedangkan jumlah penduduk perempuan
dari data yang sama adalah sebanyak 635.572 orang. Sehingga rasio jenis kelamin penduduk
di kabupaten Sleman pada tahun 2016 adalah 98,98. Artinya, tiap tiap 100 penduduk
perempuan terdapat sebanyak 98-99 penduduk laki-laki.
Jumlah penduduk laki-laki di kabupaten Sleman pada tahun 2016 lebih sedikit
dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Hal ini bisa terjadi dikarenakan berbagai faktor,
diantaranya kemungkinan penduduk laki-laki usia produktif yang lebih banyak merantau ke
daerah lain sehingga tidak tercatat saat dilakukan sensus karena ada kecenderungan kekurangan
pelaporan (under-reporting). Maupun karena daerah kabupaten Sleman yang notabenenya
merupakan kawasan perkebunan dan pertanian yang lebih banyak memerlukan tenaga
penduduk perempuan, sehingga kecenderungan pencatatan/pelaporan lebih banyak.
.Gambaran rasio jenis kelamin di kabupaten Sleman sama dengan gambaran rasio jenis
kelamin secara nasional dimana lebih banyak penduduk perempuan dibanding penduduk laki-
laki. Secara biologis hal ini dapat dijelaskan karena jumlah kelahiran bayi laki-laki pada
umumnya lebih besar dibanding dengan kelahiran bayi perempuan, namun bayi laki-laki lebih
rentan terhadap kematian dibanding bayi perempuan. Selain itu, secara ilmu biologi terdapat
teori yang menyatakan bahwa umur harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan umur
harapan hidup laki-laki, sehingga bukan menjadi hal yang mengherankan jika rasio jenis
kelamin lebih banyak didominasi oleh jumlah perempuan yang lebih banyak daripada jumlah
laki-laki.
Interpretasi dan Analisis Data Proyeksi Total Fertility Rate (TFR)

Fertilitas dalam istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari
seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut
banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan
penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan
reproduksi manusia. Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan, seperti
bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut dan lain sebagainya. Sedangkan paritas
merupakan jumlah anak yang telah dipunyai oleh wanita.

Salah satu masalah kependudukan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan
distribusi yang tidak merata. Hal itu dibarengi dengan masalah lain yang lebih spesifik, yaitu
angka fertilitas dan angka mortalitas yang relatif tinggi. Kondisi ini dianggap tidak
menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi.. Hal itu diperkuat dengan kenyataan bahwa
kualitas penduduk masih rendah sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban daripada
modal pembangunan. Masalah kependudukan yaitu jumlah penduduk yang besar serta
distribusi yang tidak merata di kabupaten Sleman, dikarenakan banyaknya warga yang memilih
tempat tinggal pada daerah-daerah tertentu yang memiliki potensi perkembangan ekonomi
yang cepat di wilayahnya, seperti dekat daerah wisata ataupun dipinggiran kota perbatasan
dengan kotamadya Yogyakarta. Sehingga hal ini mengakibatkan tidak terdistribusinya
kepadatan penduduk yang ada yang kemudian membuat pemerintah kabupaten Sleman harus
membuat kebijakan untuk menganggulanngi masalah kependudukan yang semakin banyak dan
tidak merata distribusinya tersebut.

Karena pada awalnya masalah fertilitas lebih dipandang sebagai masalah


kependudukan, oleh karena itu pemerintah kabupaten Sleman melakukan berbagai kebijakan
yang berkenaan dengan pembatasan serta pengurangan jumlah kelahiran. Salah satu program
pembatasan angka kelahiran yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia tersebut adalah
melalui program KB (Keluarga Berencana). Program ini telah dimulai sejak awal tahun 1970-
an. Tujuan utama program KB ada dua macam yaitu demografis dan non-demografis. Tujuan
demografis KB adalah terjadinya penurunan fertilitas dan terbentuknya pola budaya small
family size, sedangkan tujuan non-demografis adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk
yang merata dan berkeadilan. Keluarga berencana merupakan contoh kebijakan langsung
dibidang fertilitas dan migrasi. Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu dari sekian
banyak variabel yang secara langsung berpengaruh terhadap tingkat fertilitas.

Target atau sasaran di awal program keluarga berencana dilaksanakan di Indonesia


yaitu untuk menurunkan angka kelahiran total (TFR) menjadi separuhnya sebelum tahun 2000.
Dan nyatanya program KB yang dilaksanakan di kabupaten Sleman tersebut terbukti sangat
efektif dalam membatu membatasi serta mengatasi jumlah kelahiran yang terjadi di Indonesia,
bahkan sampai waktu di masa yang akan mendatang berdasarkan proyeksi data fertilitas yang
terdapat pada gambar diatas.

Indikasi keberhasilan program pembatasan kelahiran melalui program KB di kabupeten


Sleman tersebut dapat dibuktikan dengan perolehan data proyeksi angka kelahiran penduduk
di kabupaten Sleman yang menunjukan penurunan angka Total Fertility Rate (TFR) secara
terus-menerus setiap tahunnya sebanyak 0,11. Penurunan angka fertilitas tersebut terkait
dengan keberhasilan pembangunan sosial dan ekonomi, yang juga sering diklaim sebagai salah
satu bentuk keberhasilan kependudukan, khususnya di bidang keluarga berencana di Indonesia.
Indikator keberhasilan Program KB di Indonesia adalah penurunan TFR dan penurunan Laju
Perrtumbuhan Penduduk (LPP). Guna mencapai penduduk tumbuh seimbang, Indonesia
ditargetkan memiliki LPP kurang dari 1 persen per tahun dan TFR 2,1 anak per WUS.
Asumsi tentang fertilitas telah ditetapkan secara nasional, yakni tercapainya kondisi
penduduk tumbuh seimbang pada tahun 2015 dan terus berlanjut hingga tahun 2035. Untuk
mencapai Kondisi Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) tersebut, diharapkan angka kelahiran
total (TFR) penduduk di Indonesia sebesar 2,1 per wanita atau sama dengan Net Reproduction
Rate (NRR) sebesar 1 per wanita pada tahun 2015.

Penurunan atau perubahan fertilitas selain dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial,


ekonomi dan budaya, terdapat determinan yang berbeda antara provinsi satu dengan provinsi
lainnya yang menyebabkan bervariasinya angka kelahiran total (TFR). Faktor-faktor yang
mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat fertilitas dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor
demografi dan faktor non demografi. Faktor demografi diantaranya adalah struktur umur,
struktur perkawinan, umur kawin pertama, paritas, disrupsi perkawinan, dan proporsi yang
kawin. Sedangkan faktor non demografi antara lain keadaan ekonomi penduduk, tingkat
pendidikan, perbaikan status perempuan, urbanisasi dan industrialisasi.

Selain itu, salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat fertilitas di Indonesia adalah
masalah kemiskinan. Tingginya persentase penduduk miskin dapat menyebabkan tingginya
tingkat fertilitas pula. Selain itu, masyarakat yang memiliki tingkat pendapatan yang rendah
(masyarakat miskin), menyebabkan mereka kesulitan untuk membeli alat kontrasepsi. Dari sisi
pemerintahan, krisis ekonomi telah menyebabkan kesulitan untuk memberikan subsidi
terhadap harga alat kontrasepsi sehingga harganya menjadi tidak terjangkau oleh golongan
menengah ke bawah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan peran pemerintah
dalam memperlancar pembangunan sosial ekonomi di Indonesia. Pemerintah harus bisa
memainkan perannya dalam hal stabilitas, alokasi, dan distribusi. Pemerintah harus berpihak
pada rakyat karena satu dari beberapa tugasnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi harus disusun untuk lebih memacu pertumbuhan
ekonomi, memperluas lapangan kerja, serta berpihak pada kaum miskin untuk mengurangi
kemiskinan.

Dengan berhasilnya pembangunan sosial ekonomi akan membawa pengaruh terhadap


tingkat pendapatan rumah tangga, meningkatnya partisipasi angkatan kerja wanita,
membaiknya tingkat pendidikan (literasi) serta membaiknya tingkat kesehatan masyarakat.
Semakin besar jumlah pendapatan yang diperoleh semakin besar pula jumlah uang yang
dibelanjakan baik untuk kebutuhan makan maupun untuk kebutuhan bukan makan (meliputi
kebutuhan kesehatan, perumahan, pendidikan dan hiburan). Bahkan semakin besar pendapatan
keluarga, proposi keperluan untuk kebutuhan makan semakin kecil sedangkan untuk kebutuhan
lainnya (non pangan) semakin besar. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula
kesadarannya untuk mempertahankan atau meningkatkan status ekonomi keluarga tersebut.
Dengan makin majunya tingkat pendidikan kaum wanita, maka akan semakin besar pula
tingkat produktivitas ekonomi (pendapatan) mereka. Bahkan akibat kedua hal tersebut, tidak
sedikit kelompok wanita pekerja yang juga menunda usia perkawinannya atau semakin sadar
akan pentingnya keluarga berencana bagi kaum ibu guna mengendalikan besarnya tingkat
fertilitas sehingga berdampak pada penurunan TFR.
Summary Demographic Indicators

2016 2021 2026 2031 2036

KABUPATEN SLEMAN

Fertility

Input TFR 0 1,58 1,05 0,53 0

Calculated TFR 0 1,58 1,05 0,53 0

GRR 0 0,78 0,52 0,26 0

NRR 0 0,65 0,31 0,08 0

Mean age of childbearing 0 30,77 30,77 30,77 30,77

Child-woman ratio 0 0,26 0,16 0,07 0,02

Fertility table: Custom

Mortality

Male LE 0 60,86 40,57 20,27 20

Female LE 0 60,86 40,57 20,27 20

Total LE 0 60,86 40,57 20,27 20

IMR 0 87,13 184,42 311,59 0

U5MR 0 128,94 315,17 564,44 0

Total 45q15 0 190,7 386,3 625,08 628,67

Fertility table: UN South Asia

Migration

Male (Thousands) 0 52,74 35,16 17,58 0

Female (Thousands) 0 63,87 42,58 21,29 0

Total (Thousands) 0 116,62 77,74 38,87 0

Vital Rates

CBR per 1000 0 12,53 8,33 4,2 0


CDR per 1000 0 15,19 25,8 38,12 35,16

RNI percent 0 -0,27 -1,75 -3,39 -3,52

GR percent 0 8,8 4,65 0,26 -3,52

Doubling time 0 8,22 15,24 264,93 0

Annual births and deaths

Births (Thousands) 0 16,12 10,12 4,46 0

Deaths (Thousands) 0 19,54 31,34 40,55 31,56

Population

Total (Millions) 1,26 1,29 1,21 1,06 0,9

Male (Millions) 0,63 0,64 0,61 0,54 0,46

Female (Millions) 0,64 0,64 0,6 0,52 0,44

Percent 0-4 7,12 6,51 4,12 1,9 0,45

Percent 5-14 13,14 13,62 13,71 11,05 6,09

Percent 15-24 17,06 13,21 13,45 15,63 16,88

Percent 15-49 52,59 51,66 53,92 58,5 62,99

Percent 15-64 66,12 66,76 70,35 76,46 83,3

Percent 65 and over 13,62 13,11 11,82 10,58 10,16

Percent females 15-49 51,11 50,21 52,52 57,04 61,3

Sex ratio 98,98 100,25 101,7 103,59 105,53

Dependency ratio 0,51 0,5 0,42 0,31 0,2

Median age 32,63 34,09 35,78 38,03 40,82

Analisis dan Interpretasi Data Proyeksi Kependudukan (Summary)

Population, jumlah keseluruhan penduduk disuatu daerah pada waktu tertentu.


Populasi dari hasil proyeksi dari data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS)
kabupaten Sleman pada tahun 2016 menunjukkan jumlah penduduk sebanyak 1.246.662 jiwa.
Angka tersebut terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 629.090 jiwa, sementara penduduk
wanita sebanyak 635.572 jiwa.

Sex ratio, suatu angka yang menunjukkan perbandingan banyaknya jumlah penduduk
laki-laki dan banyaknya jumlah penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu
tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya jumlah penduduk laki-laki per 100 penduduk
perempuan. Rasio jenis kelamin penduduk di kabupaten Sleman pada tahun 2016 sebesar 98,98
yang artinya diantara 100 perempuan terdapat 98-99 laki-laki.

Migration, jumlah penduduk baik yang keluar maupun masuk ke suatu daerah tertentu.
Dari data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Sleman pada tahun 2016
menunjukan bahwa total migrasi yang terjadi sebanyak 116.620 jiwa dengan 54.740
dianatranya penduduk laki-laki dan 63.870 lainnya penduduk perempuan. Proyeksinya
diprediksi akan mengalami tren menurun hingga tahun 2036.

Mortality, jumlah angka kematian yang terjadi pada daerah dan pada suatau waktu
tertentu. Dari data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Sleman pada
tahun 2016 menunjukan bahwa total angka kematian sebanyak 60.860 jiwa.

Total fertility rate, angka kelahiran total adalah jumlah anak rata-rata yang akan
dilahirkan oleh seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya. TFR dihitung dengan cara
menjumlahkan angka kelahiran menurut umur (ASFR) kemudian dikalikan dengan interval
kelompok umur. Dari hasil perhitungan data kependudukan yang diperoleh dari BPS kabupaten
Sleman pada tahun 2016 diketahui angka fertilitas total 1,58 per wanita, ini berarti bahwa rata-
rata setiap perempuan di kabupaten Sleman akan mempunyai anak antara 1 sampai dengan 2
orang selama masa reproduksinya. Dan angka fertilitas ini diproyeksikan akan tersu menurun
hingga pada tahun 2031 menjadi hanya 1 anak selama masa reproduksi perempuan, hal ini
dapat dipengaruhi oleh berbagai hal termasuk keberhasilan program pembatasan kelahiran
pemerintah yaitu Keluarga berencana (KB).

Crude birth rate, angka kelahiran kasar adalah banyaknya kelahiran dalam satu tahun
tertentu per seribu penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Dari hasil perhitungan data
kependudukan yang diperoleh dari BPS kabupaten Sleman pada tahun 2016 menunjukkan
bahwa jumlah penduduk 1.246.662 jiwa dan jumlah kelahiran 16.120 kelahiran, sehingga CBR
sebesar 12,53 berarti bahwa dari setiap 1.000 penduduk di kabupaten Sleman terdapat 12
kelahiran hidup pada tahun 2016.

Child women ratio, rasio anak wanita adalah perbandingan antara jumlah anak di
bawah lima tahun (0-4 tahun) dengan jumlah penduduk perempuan usia reproduksi. Jumlah
anak usia di bawah lima tahun sebagai pembilang merupakan jumlah kelahiran selama lima
tahun sebelum pencacahan. Jumlah perempuan usia reproduksi sebagai penyebut dapat berasal
dari kelompok umur 15-44 atau 15-49 tahun. Dari hasil perhitungan data kependudukan yang
diperoleh dari BPS kabupaten Sleman pada tahun 2016 dilaporkan ada sekitar 43.800 anak usia
0-4 tahun. Pada saat yang sama, banyaknya perempuan pada kelompok umur 15-49 tahun
adalah 324.800 orang. Dengan demikian, ukuran CWR dapat diketahui sebesar 741 anak per
1.000 perempuan usia 15-49 tahun.

Gross reproductive rate, angka reproduksi bruto adalah banyaknya bayi perempuan
yang akan dilahirkan oleh perempuan selama usia reproduksi mereka. Dengan hasil
perhitungan data kependudukan yang diperoleh dari BPS kabupaten Sleman pada tahun 2016
dapat diketahui bahwa GRR adalah 0,78 perempuan. Artinya setiap perempuan akan digantikan
oleh 1 orang anak perempuan yang akan menggantikan ibunya melahirkan, tanpa
memperhitungkan kenyataan bahwa banyak bayi perempuan yang lahir, yang meninggal dan
tidak sempat mengalami usia reproduksi.

Netto reproductive rate, angka reproduksi neto adalah angka fertilitas yang telah
memperhitungkan faktor mortalitas, yaitu kemungkinan bayi perempuan meninggal sebelum
mencapai akhir masa reproduksinya. Asumsi yang dipakai adalah bayi perempuan tersebut
mengikuti pola fertilitas dan pola mortalitas ibunya. Dari data hasil perhitungan data
kependudukan yang diperoleh dari BPS kabupaten Sleman pada tahun 2016 diperoleh nilai
NRR 0,65. Angka 0,65 tersebut berarti bahwa 100 orang perempuan di kabupaten Sleman pada
tahun 2016 akan digantikan oleh 65 orang anak perempuan yang akan tetap hidup sampai
seumur ibunya waktu melahirkan mereka. Dari proyeksi yang didapat, diketahui bahwa NRR
terus merus menurun hingga menjadi 0,08 pada tahun 2031.

Depedency Ratio, adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0-14 tahun +
65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun.Dari data BPS
kabupaten Sleman pada tahun 2016 diperoleh rasio ketergantungan adalah 0,51%. Sekitar
6,358 penduduk usia tidak produktif di kabupaten Sleman bergantung pada sekitar 1.246.662
juta penduduk pada usia produktif (15—64 tahun). Rasio ini adalah satu indicator demografi
ekonomi yang jika kian tinggi, beban yang ditanggung penduduk produktif untuk membiayai
penduduk tidak produktif kian tinggi. Dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA

https://slemankab.bps.go.id/ (diakses tanggal 20 Juni 2018, 13.44 WIB)

www.bps.go.id (diakses tanggal 20 Juni 2018, 13.22 WIB)

Bagoes Mantra, Ida. 2009. Demografi Umum. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

http://dispendukcapil.surakarta.go.id/20XIV/index.php/en/beritadanagenda/item/66-
penduduk-demografi/66-penduduk-demografi (diakses tanggal 20 Juni 2018, 14.14
WIB)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18186/4/Chapter%20II.pdf (diakses tanggal


20 Juni 2018, 14.34 WIB)

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=253696&val=6845&title=Alumni%20M
ahaiswa%20Program%20Doktor%20Ilmu%20Ekonomi%20%20Pascasarjana%20Unt
ag%201945%20Surabaya (diakses tanggal 20 Juni 2018, 14.41 WIB)

https://mediakesehatanmasyarakat.files.wordpress.com/2012/06/jurnal-3.doc (diakses tanggal


20 Juni 2018, 14.50 WIB)