You are on page 1of 16

JAJANAN PASAR DI KOPERASI DESA SUNGAI BAMBU

Azkia Himayatu Dini (6661180055)


azkiahimayatu@gmail.com

RINGKASAN

Desa Sungai Bambu terletak di Jl. Sungai Bambu, Kelurahan Sungai Bambu,
Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara. Desa dan kelurahan merupakan ujung
terdepan wilayah yang berhubungan dengan masyarakat. Kemajuan desa dan kelurahan
menjadi indikator kemajuan masyarakatnya. Maka perlu dipikirkan dan direalisasikan
bagaimana desa dan kelurahan dapat maju baik dari segi ekonomi, administrasi maupun
partisipasi masyarakatnya. Upaya agar desa dan kelurahan maju bukan hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah saja ataupun aparatur desa dan kelurahan saja. Tetapi, butuh
peran dari masyarakat dan mitra-mitra yang terlibat.
Penulis tertarik untuk meneliti produk berupa jajanan pasar yang dijual di koperasi
desa Sungai Bambu. Menurut penulis poduk jajanan pasar yang dijual di koperasi desa
Sungai Bambu tidak cocok untuk pangsa pasar kaum millenial. Maka dari itu penulis
ingin memberikan ide inovatif dengan mengajak ibu-ibu PKK untuk mengganti ataupun
menambah produk yang dijual di koperasi tersebut. Selin itu penulis juga ingin
mengetahui peran dari pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan potensi
yang ada di koperasi ini. Juga ingin tahu hasil dari pengembangan potensi koperasi yang
sudah direalisasikan untuk desa.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa dan kelurahan merupakan ujung terdepan wilayah yang berhubungan
dengan masyarakat. Kemajuan desa dan kelurahan menjadi indikator kemajuan
masyarakatnya. Maka perlu dipikirkan dan direalisasikan bagaimana desa dan
kelurahan dapat maju baik dari segi ekonomi, administrasi maupun partisipasi
masyarakatnya. Upaya agar desa dan kelurahan maju bukan hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah saja ataupun aparatur desa dan kelurahan saja.
Tetapi, butuh peran dari masyarakat dan mitra-mitra yang terlibat.
Niat menjadi modal atau langkah awal untuk desa dan kelurahan dapat maju.
Karena, tanpa niat apapun akan sulit dicapai. Informasi mengenai cara-cara
untuk memajukan desa merupakan langkah selanjutnya. Jika informasi tidak ada
maka akan sulit untuk mengetahui apa yang akan diperbuat. Faktor
kepemimpinan, motivasi dan cara komunikais yang baik diibaratkan sebagai
supelmen dalam pengembangan potensi desa. Yang paling utama adalah
kreatifitas dan kesabaran dimana hal ini menjadi penentu dasar agar terciptanya
suatu kegiatan usaha di desa dan kelurahan. Kreatifitas menjadi sangat penting
karena pasti adanya rintangan-rintangan yang terjadi dalam perubahan zaman
(Sujono, 2017 : 1)
Penulis tertarik untuk meneliti produk berupa jajanan pasar yang dijual di
koperasi desa Sungai Bambu. Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan,
termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, properti,
organisasi, informasi dan ide (Kotler dan Keller, 2009).
Alasan penulis meneliti produk jajanan pasar adalah karena produk tersebut
kurang diminati konsumen terutama pemuda pemudi millenial. Faktanya
penyumbang konsumen terbanyak adalah kaum millenial. Kebanyakan penjual
menargetkan kaum millenial sebagai pangsa pasar mereka agar lebih
mendapatkan keuntungan karena kuantitasnya yang banyak. Sedangkan kaum
millenial tersebut kebanyakan lebih memilih untuk membeli produk-produk
yang sedang hits dikalangan nya karena produk tersebut lebih menarik menurut
mereka.
Produk jajanan pasar yang dijual di koperasi desa Sungai Bambu tidak
cocok untuk pangsa pasar kaum millenial. Maka dari itu penulis ingin
memberikan ide inovatif dengan mengajak ibu-ibu PKK yang biasa membuat
kue-kue pasar untuk membuat produk makanan yang sedang hits di kalangan
millenial yaitu “gurita sosis mayo” yang nantinya akan dijual di koperasi desa
Sungai Bmbu. Ide inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan potensi yang
besar agar perekonomian desa Sungai Bambu meningkat.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang masalah yang dipaparkan, maka rumusna masalah yang
dapat dimunculkan adalah :
1. Bagaimana profil desa Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta
Utara?
2. Bagaimana peran pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan
potensi koperasi untuk pemasukan kas desa?
3. Apa saja hasil dari pengembangan potensi koperasi yang sudah teralisasi
bagi desa?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah yang dimunculkan maka tujuan penulisan essai ini
yang pertama adalah untuk mengetahui profil desa Sungai Bambu, Kecamatan
Tanjung Priok, Jakarta Utara. Yang kedua untuk mengetahui peran dari
pemerintah desa dan masyarajat dalam mengembangkan potensi koperasi untuk
pemasukan kas desa. Yang ketiha untuk mengetahui hasil nyata dari
pengembangan potensi koperasi desa, juga untuk menambah wawasan
pengetahuan bagi pembaca.

PEMBAHASAN
2.1 Profil Desa Sungai Bambu
Desa Sungai Bambu terletak di Jl. Sungai Bambu, Kelurahan Sungai Bambu,
Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara. Koperasi desa Sungai Bambu
terletak di pos RW 004. Desa Sungai Bambu memiliki potensi yang lumayan
besar dalam aspek ekonomi koperasi. Letaknya yang strategis di pinggir jalan
raya, dimana jalan raya tersebut adalah jalan yang dilewati angkutan umum.
Jalan raya tersebut juga merupakan salah satu jalan besar menuju jalan bypass.
Dengan demikian tingkat lalu-lalang orang sangat tinggi. Konsumen dapat
dengan jelas melihat adanya koperasi di jalan tersebut. Hal itu memungkinkan
koperasi desa Sungai Bambu dapat maju pesat dalam ekonominya.

2.2 Pengembangan Potensi Desa


Potensi desa menjadi salah satu aspek dalam pengembangan desa, tentunya
dapat berkembang jika cara-cara yang dilakukan lebih partisipatif, dengan cara
memperhatikan preferensi (kepentingan) masyarakat, banyak program
pengembangan disusun dengan tidak memperhatikan kebutuhan dan kehendak
masyarakat lokal secara luas, kemudian dengan melakukan pendekatan
pasrtisipasi masyarakat dalam pengembangan yang dilakukan untuk
menciptakan iklim yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya
masyarakat, kemampuan masyarakat untuk berproduksi, mampu menciptakan
lapangan kerja serta peningkatan pendapatan dan taraf hidupnya. Hal yang
ketiga adalah dengan melakukan pendekatan people centered (berbasis pada
sumberdaya manusia).
Pendekatan pengembangan pedesaan cukup banyak, dengan pemberian
penekanan yang berbeda-beda. Dalam menerapkan pendekatan diharapkan
jangan bersifat sempit atau kaku, tetapi hendaknya secara lebih luas dan bersifat
fleksibel untuk mewujudkan pertumbuhan pedesaan yang cepat dan kokoh untuk
mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan yang semakin tinggi.
Memperhatikan kekurangan dan kegagalan perencanaan pembangunan
pedesaan pada masa yang lalu, maka perlu dilakukan penyempunaan terhadap
pendekatan pembangunan pedesaan yang sesuai dengan dinamika
perkembangan dan komplesitas pengembangan serta aspirasi masyarakat.
Konsep pendekatan pengembangan yang lalu yang bersifat sentralistik harus
direformasi menjadi desentralistik, disesuaikan dengan masalah, potensi,
kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat, secara spasial dan terpadu.
Pengembangan potensi desa yang pasrtisipatif merupakan suatu konsep
fundamental yang berlaku dan diterapkan sejak dahulu hingga sekarang dan
tetap relevan untuk masa depan. Partisipasi masyarakat itu mengikuti
perkembangan zaman. Dalam pengembangan potensi desa masa depan, maka
pasrtisipasi masyarakat sangat diperlukan sebagai kekuatan dinamis dan
merupakan perekat masyarakat akar bawah (desa) untuk menunjang
pengembangan desa yang lebih maju.
Partisipasi anggota masyarakat ada;ah keterlibatan dan pelibatan anggota
masyarakat dalam pengembangan, meliputi kegiatan dalam perencanaan dan
pelaksanaan (implementasi) program atau proyek pengembangan potensi yang
di kerjakan di desa tersebut.
Partisipasi atau peran serta masyarakat dalam pengembangan merupakan
aktualisasi dari ketersediaan dan kemauan anggota masyarakat untuk berkorban
dan berkontribusi dalam implementasi program atau proyek yang dilaksanakan.
Peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan
masyarakat (social empowerment) secara aktif yang berorientasi pada
pencapaian hasil pengembangan yang dilakukan dalam desa tersebut.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya masyarakat desa secara lebih efektif dan efisien, baik dari :
a. Aspek masukan atau input (SDM, dana, peralatan/sarana,rencana,ide)
b. Dari aspek proses (pelaksanaan, monitoring, dan pengawasan)
c. Dari aspek keluaran atau output (pencapaian sasaran, efektifitas,
efisiensi)
Efektifitas diartikan sebagai rasio antara realisasi dengan target yang
direncanakan, jika rasio tersebut lebih besar dari satu artinya efektif. Sebaliknya,
jika rasio tersebut lebih kecil dari satu berarti tidak efektif. Sedangkan efisiensi
yang dimaksud adalah dapat dilakukan penghematan atau penekanan
pemborosan, dengan demikian biaya produksi per unit dapat ditekan kebawah
untuk menghasilkan laba yang lebih besar.
Anggota bukan hanya merupakan obyek pengembangan semata, tetapi
sebagai subyek pengembangan pula. Kedudukan nya sebgaia subyek
pengembangan potensi berarti anggota masyarakat memiliki kemauan,
kemampuan, kesediaan, kesadaran, motivasi, kerjasama, prakarsa (motivasi),
dan wawasan yang kuat dan melekat pada diri masing-masing terhadap upaya
pengembagan potensi desa kedepan.
Bertambah pentingnya kedudukan anggota masyarakat tersebut dapat pula
diartikan bahwa masyarakat harus diajak untuk berperan secara lebih aktif,
didorong untuk berpartisipasi dalam pengembangan potensi desa dari menyusun
hingga mengimplementasikan program atau proyek.
Mengapa masyarakat diajak utuk berperan serta dan didorong untuk
berpartisipasi. Alasan atau pertimangan nya adalah :
a. Masyarakat dianggap mengetahui sepenuhnya tentang permasalahan
dan kebutuhann mereka.
b. Mereka memahami sesungguhnya tentang keadaan lingkungan ekonomi
desa yang mereka jadikan tempat tinggal.
c. Mereka mampu menganalisis sebab dan akibat dari berbagai kejadian di
desa tersebut.
d. Mereka mampu merumuskan solusi untuk mengatasi permasalahan dan
kendala yang dihadapi.
e. Mereka mampu memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki desa tersebut
untuk meningkatan produksi dan produktivitas dalam rangka mencapai
sasaran pengembangan potensi desa yang tujuan nya adalah peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
f. Mereka dengan upaya meningkatkan kemauan dan kemampuan SDM-
nya sehingga dengan berlandaskan pada kepercayaan diri dan
keswadayaan yang kuat mampu mengurangi bahkan menghilangkan
ketergantungan terhadap pihak luar.
Dengan alasan tersebut, maka diharapkan pengembangan potensi yang
ada di desa akan dapat berjalan dengan baik. Selain itu menganalisis potensi
yang ada dalam pengembangan potensi desa juga diperlukan dengan tujuan
mendorong dan merangsang daya pikir masyarakat dalam menentukan
pilihan berdasarkan keadaan setempat (potensi dan kendalanya) berdasarkan
berbagai pertimbangan yang dianggap paling sesuai (terbaik). Dengan
diketahuinya keadaan internal dan eksternal daerah yang diteliti, maka
dengan mudah dapat diketahui persoalan-persoalan yang dihadapi dengan
melakukan analisis problem (problem analysis).
Yang tidak kalah penting dari yang lainnya adalah analisis kebutuhan.
Pengembangan peluang kegiatan produktif dan industri di suatu desa harus
benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam hal ini adalah
konsumen. Untuk itu perlu dilakukan analisis kenutuhan menurut kelompok-
kelompok yang terdapat dalam masyarakat (interests analysis) dalam hal ini
adalah kalangan konsumen, meliputi :
a. Anak- anak
b. Remaja atau kaum millenial
c. Dewasa
d. Ibu-ibu
e. Bapak-bapak
f. Nenek-nenek
g. Kakek-kakek
Semua kalangan konsumen harus tercakup didalam program atau
perencanaan yang akan dilakukan nantinya.

2.3 Pemasaran dan Konsumen


A. Sikap Konsumen
Sikap konsumen merupakan faktor penting yang akan memengaruhi
keputusan konsumen, bila mendefinisikan sikap, para ahli psikologi sosial
berfokus pada kecenderungan untuk menyukai atau tidak menyukai (sikap atau
perilaku pada objek) tertentu. Sehingga sikap didefinisikan sebagai tendensi
untuk mengevaluasi objek aoakah disukai atau tidak disukai (Bem 1970, Eagly
& Chaiken 1993, Fazio 1990, Olson & Zanna 1993, Petty, Wegener, &Fabrigar
1997, dan Wood 2000).
Menurut Peter dan Olson (1999), sikap adalah suatu evaluasi menyeluruh
seseorang untuk suatu konsep , sedangkan Schiffman dan Kanuk (1994)
mendefinisikan sikap sebagai suatu ekspresi dari perasaan yang merefleksikan
apakah seseorang memilih atau tidak terhadap suatu objek. Walaupun
demikian, banyak definisi mengenai sikap telah dikemukakan oleh para ahli,
tetapi semua definisi ini memiliki kesamaan yang umum yaitu bahwa sikap
diartikan sebagai evaluasi dari seseorang (Sumarwan, 2004).
Sikap dapat diarahkan ke suatu objek yang teridentifikasi dalam lingkungan
kita seperti pada kelompok orang (misla grup etnis tertentu), suatu isu
kontroversial (misal legalisasi aborsi), atau pada suatu objek nyata dan jelas
(misal kerupuk). Berdasarkan functional theory of attitudes (Katz 1960) ,
keberadaan sikap adaalh akrena menyediakan beberapa fungsi kepada
seseorang. Konsumen yang memiliki ekspektasi bahwa mereka akan
mengahdapi situasi yang sama di masa depan akan mulai membentuk sikap
kepada beberapa objel untuk alasan yang berbeda-beda. Sehingga akan sangat
membantu seorang pemasar untuk tahu mengapa suatu sikap itu tetap ada
sebelum diusahakan berubah (Solomon, 2007). Fungsi sikap yang
diidentifikais Katz sebagai berikut :
1. Fungsi Utilitarian , dimana fungsi ini berhubungan dnegan prinsip
dasar dari adanya manfaat atau resiko dari keberadaan objek sikap
tersebut. Misalnya manfaat produk bagi konsumenlah yang
menyebabkan konsumen menyukai produk tersebut.
2. Fungsi ekspresi nilai, dimana berfungsi untuk menyatakan nilai-nilai,
gaya hidup, dan identitas sosial seseorang. Sikap akan
menggambarkan minat, hobi, kegiatan, dan opini seorang konsumen.
Jadi, seseorang membentuk sikap produk bukan karena manfaat yang
dituju, tetapi karena apa yang dinyatakan produk tersebut tentang
konsumen tersebut sebagai seseorang.
3. Fungsi mempertahankan ego, fungsinya untuk meningkatkan rasa
aman dari ancaman yang datang dna menghilangkan keraguan yang
ada dalam diri konsumen. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan diiri
yang lebih naik untuk meningkatkan citra diri.
4. Fungsi pengetahuan, pengetahuan yang baik mengenai produk sering
mendorong seseorang untuk menyukai produk tersebut. Oleh karena
itu, sikap positif terhadap suatu produk sering mencerminkan
pengetahuan konsumen terhadap suatu produk. Misalnya seseorang
terbiasa mengonsumsi suatu produk karena tahu benar manfaat yang
dianggap akan didapatkannya dari mengonsumsi produk tersebut.

B. Pengambilan Keputusan Konsumen


Menurut Schiffman dan Kanuk (1994), suatu keputusan didefinisikan
sebagai pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Secara
tradisional, banyak peneliti melakukan pendekatan proses pengambilan
keputusan dari perspektif rasional. Dalam pandnagan ini, manusia mengambil
keputusan secara hati-hati dan tenang mengintegrasikan berbagai informasi
tentang suatu produk yang telah mereka ketahui, menghitung plus dan
minusnya dari setiap alternatif, serta tiba pada suatu keputusan yang
memuaskan.

2.5 Koperasi
Koperasi lahir karena alasan kesamaan kepentingan ekonomi atau
kebutuhan anggota. Kata koperasi sendiri berasal dari akar kata coorperation
atau kerjasama. Esensi koperasi terletak pada “kebersamaan” sebagai lawan
kata individualitas. Bangun dasar koperasi, menjaid syarat bagi setiap orang
mendirikan atau bergabung didalamnya. Bekerja bersama, berusaha bersama,
dan meraih tujuan bersama. Dalam bahasa yang lain, kebersamaan diartikan
sebagai solidaritas, sebgaimana dikemukakan Muhammad Hatta dalam
berbagai pandangan, dan pidato hari Ulang tahun Koperasi (Muhammad Hatta
: 1987). Kesiapan orang untuk hidup dalam kerjasama (coorperation)
merupakan syarat mutlak. Kestidaksiapan orang untuk bekerjasama,
kemanfaatan bersama dari dna untuk tujuan bersama, tidak cocok berkoperasi.
Kerjasama merupakan resiko. Dari landasan kerjasama ini, wajar banyak
koperasi lahir melalui wadah perkumpulan, asosiasi seperti perkumpulan
kelompok usaha produktif. Tujuan pokok berkoperasi yaitu meningkatkan
kemampuan ekonomi (usaha) anggota nya. Bukan hanya itu saja dalam kasus
ini koperasi dapat dijadikan sebagai maskot pengembangan desa.

2.6 Inovasi Produk


Dalam essay ini penulis ingin memaparkan inovasi produk yang akan dibuat
penulis, kemudian produk tersebut akan dijual kepada koperasi sebagai contoh
untuk ibu-ibu PKK agar dapat membuatnya guna meningkatkan daya beli
masyarakat dan ekonomi desa. Inovasi produk nya berupa makanan yaitu gurita
sosis mayo. Adapun gurita sosis mayo ini adalah snack dengan bahan utama
sosis. Snack ini selain mudah dibuat juga memiliki rasa yang cocok untuk
semua kalangan, terutama kaum millenial. Snack ini berbentuk sosis yang
dipotong ujungnya berbentuk kaki gurita dan digulung dengan adonan terigu
serta tepung panir. Penulis akan memaparkan resep pembuatan snack gurita
sosis mayo, yaitu :

Bahan-bahan
1. 10 buah sosis
2. 250gr tepung tapioka
3. ¼ sdt lada bubuk
4. 1 sdt garam
5. 3 siung bawang putih
6. 1 batang daun bawang
7. Air mendidih
8. Tepung panir

Langkah-langkah
1. Ambil sosis, kupas kulitnya. Kemudian potong ujungnya menjadi 4 jangan
sampai putus
2. Haluskan bawang putih
3. Campurkan terigu, bawang putih halus, lada bubuk, garam, masukan air
sedikit demi sedikit sampai menjadi bubur kental
4. Masukan tepung tapioka, daun bawang uleni dengan tangan
5. Selimutkan adonan pada sosis kecuali bagian yang dibelah menjadi 4
6. Rebus di air mendidih yang diberi minyak sedikit sampai mengapung
7. Angkat, lalu gulingkan pada tepung panir
8. Simpan dalam kulkas agar benar-benar menempel
9. Goreng dengan api sedang
10. Angkat, tiriskan dan hidangkan dengan mayonise dan saus sambal
2.7 Peran Masyarakat dan Pemerintah
Dalam mengelola koperasi desa sungai bambu, masyarakat desa tersebut
memiliki andil besar, yaitu ibu-ibu PKK yang menggerakan roda koperasi desa
tersebut khususnya dalam membuat produk jajanan pasar. Ibu-ibu PKK
mendapatkan untung berjualan dari selisih harga asli dan harga jual produk
jajanan pasar ibu-ibu PKK kepada koperasi. Sedangkan koperasi mendapat
untung dari selisih harga jual koperasi dan harga beli koperasi.
Selain dari ibu-ibu PKK, masyarakat biasa di desa itu pun memiliki andil
dalam mengembangkan potensi koperasi untuk meningkatkan kas desa. Yaitu
dengan ikut membuat jajanan pasar terpisah dengan ibu-ibu PKK. Masyarakat
di desa sebelah pun (desa umbaran) ikut andil untuk menjual produk nya di
koperasi desa sungai bambu. Hal ini menunjukkan potensi yang dimiliki
koperasi desa sungai bambu amat besar. Faktor-faktor seperti lokasi strategis
(depan jalan raya, samping lapangan indoor futsal, jalan raya yang menjadi
akses satu-satu nya ke jalan bypass, akses angkutan umum) dan juga partisipasi
dari masyarakat desa maupun luar desa yang begitu antusisas dalam hal
ekonomi.
Kemudian peran pemerintah dalam pengembangan potensi koperasi ini
adalah dengan menyediakan sarana dan prasarana yaitu tempat. Menurut ibu-
ibu yang sering menjaga koperasi itu pemerintah tingkat RT dan RW sangat
mendukung adanya koperasi di desa Sungai Bambu ini. Bukti konkret nya
adalah pembangunan kantor RW menjadi lantai 2, dimana bangunan koperasi
desa Sungai Bambu menjadi satu dengan kantor RW. Di pelataran depan kantor
RW tersebut adalah koperasi desa. Sebelumnya koperasi hanya diberikan
etalase saja, tetapi saat ini koperasi diberikan ruangan khusus yang lebih
memadai. Dengan demikian diharapkan peran dari pemerintah ini dapat
meningkatkan semangat masyarakat untuk mengembangkan lagi koperasi yang
sudah ada serta meningkatkan jumlah konsumen. Karena dengan tempat yang
lebih memadai akan lebih menarik untuk konsumen membeli produk di
koperasi.
2.8 Hasil Pengembangan Potensi Desa
Penulis meneliti bahwa adanya hasil yang tercapai pada usaha
pengembangan potensi desa ini, yaitu konsumen meningkat dengan adanya
inovasi produk baru yang dijual di koperasi desa Sungau Bambu. Hal tersebut
menyebabkan kas koperasi meningkat dan tentunya menjadi kas bagi desa itu
sendiri. Menurut ketua II tim penggerak PKK, ibu Novilia pengembangan
potensi koperasi ini baik dilakukan karena hasil dari meningkatnya kas desa
bisa dipergunakan untuk pengadaan pelatihan industri kreatif bagi warga.
Dengan adanya kas lebih maka dengan mudah kita bisa mendatangkan
pemateri maupun orang-orang yang terkenal dibidang industri kreatif untuk
dapat berbagi ilmu nya dengan masyarakat sekitar. Jadi masyarakat dapat lebih
mandiri dalam hal ekonomi dan pengetahuan nya bertambah walaupun hanya
tamatan SD/SMP hal tersebut dapat mendukung kehidupan warga menjadi
lebih baik.

KESIMPULAN
Koperasi desa Sungai Bambu adalah salah satu potensi yang dapat
dikembangkan di desa Sungai Bambu. Koperasi ini memiliki peran sangat vital
bagi desa tersebut. Selain sebagai sumber pendukung kas desa, koperasi juga
sebagai sumber penghasilan bagi sebagian warga desa tersebut. Inovasi produk
perlu dilakukan karena sudah bukan zaman nya lagi menjual produk yang
statis. Jajanan pasar sudah tidak lagi relevan jika dibandingkan dengan pangsa
pasar zaman sekarang.
Dengan maraknya jajanan-jajanan hits saat ini, konsumen lebih cenderung
memilih untuk membeli jajanan hits daripada membeli jajanan pasar yang
sudha tidak zaman lagi. Maka dari itu penulis membuat inovasi produk jajanan
yang hits dan relevan dijual pada zaman sekarang ini, yang akan mendatangkan
konsumen lebih banyak dari biasanya. Dengan adanya inovasi produk yang
dijual di koperasi desa Sungai Bambu maka hasilnya adalah meningkatnya
konsumen dan meningkatnya kas koperasi yang menjadi bagian dari kas desa
tersebut. Kas desa bertambah maka dengan mudah untuk membuat pelatihan-
pelatihan mengenai industri kreatif yang dipandu oleh pemateri terkenal
dibidangnya. Maka warga di desa akan lebih mendapat pengetahuan dan
mandiri dalam ekonomi. Hal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup
mereka.
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Rahardjo. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta


: Graha Ilmu
..........2013. Pembangunan Perdesaan Pendekatan Partisipatif, Tipologi, Strategi,
Konsep Desa Pusat Pertumbuhan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Damsar dan Indrayani. 2016. Pengantar Sosiologi Perdesaan. Jakarta : KENCANA
Mutis, Thoby. 1992. Pengembangan Koperasi. Jakarta : Grasindo
Prijambodo. 2018. Out Of The Box Koperasi : Tantangan Perubahan Kini dan
Nanti. Yogyakarta : Phoenix Publisher
Sujono, E. 2017. Mengembangkan Potensi Mayarakat Di Desa & Kelurahan.
Yogyakarta : DEEPUBLISH
Sumarwan, Ujang. 2012. Riset Pemasaran dan Konsumen. Bogor : IPB Press
..........2011. Pemasaran Strategik : Perspektif Value Based Marketing dan
Pengukuran Kinerja. Bogor : IPB Press
Swasty, Wirania. 2016. Branding. Bandung : PT. REMAJA ROSDAKARYA
Wicaksono, Nugroho. 2015. Kuasai Seni dan Strategi Pemasaran 60 Smart Selling.
Jakarta : KOMPAS GRAMEDIA
LAMPIRAN

Gambar 1.1 Hasil Percobaan Gambar 1.2 Gurita Sosis Mayo

Gambar 1.3 Gambar 1.4


Koperasi Sebelum Direnovasi Koperasi Sesudah Direnovasi