You are on page 1of 13

Persona, Jurnal Psikologi Indonesia

Januari 2016, Vol. 5, No. 01, hal 15 - 27

Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

Fitrie Uraningsari M As’ad Djalali


fitrieuraningsari@gmail.com drmasda@gmail.com
Fakultas Psikologi Fakultas Psikologi
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Abstract. The purpose of this study to examine the relationship between self-acceptance
and social support and happiness in the elderly community. Research variables were
measured using a scale of self-acceptance, social support scale and the scale of
happiness. Subjects were 90 elderly spread over the area Ketintang, Rungkut and
Sidoarjo, ages 65 years and older. Data were analyzed using regression analysis. The
results showed that the variables of self-acceptance and social support associated with
happiness. Where happiness has a significant relationship with self-acceptance and
social support with results in F = 25.084 and p = 0.00 (p <0.01). With the obtained
partial test Parthia r = 0,143l and t = 1.356, p = 0.178 (p> 0.05) means there is no
connection between self-acceptance with happiness. Social support relationships with
happiness obtained partial r = 0.424 and t = 2.728, p = 0.008 (p <0.001), meaning there
is a positive relationship between social support and happiness

Keywords : self-acceptance, social support, happiness

Intisari. Tujuan penelitian ini untuk menguji hubungan antara penerimaan diri dan
dukungan sosial dengan kebahagiaan pada komunitas lanjut usia. Variabel-variabel
penelitian diukur dengan menggunakan skala penerimaan diri, skala dukungan sosial dan
skala kebahagiaan. Subyek penelitian adalah 90 lanjut usia yang tersebar di kawasan
Ketintang, Rungkut dan Sidoarjo, dengan usia 65 tahun keatas. Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan analisis regresi. Hasil menunjukkan bahwa variabel penerimaan
diri dan dukungan sosial berhubungan dengan kebahagiaan. Dimana kebahagiaan
memiliki hubungan signifikan dengan penerimaan diri dan dukungan sosial dengan hasil
F = 25,084 dan pada p = 0,00 (p<0,01). Dengan uji partial diperoleh r partia = 0,143l dan
t = 1,356 dengan p = 0,178 (p>0,05) berarti tidak ada hubungan antara penerimaan diri
dengan kebahagiaan. Hubungan dukungan sosial dengan kebahagiaan diperoleh r partial
= 0,424 dan t = 2,728 dengan p = 0,008 (p<0,001), berarti ada hubungan positif antara
dukungan sosial dengan kebahagiaan.
Kata kunci : penerimaan diri, dukungan sosial, kebahagiaan.

PENDAHULUAN diawali dengan proses kelahiran, tumbuh


Proses menua adalah suatu proses alami menjadi dewasa, berkembang biak, menjadi tua
yang akan terjadi pada pada setiap makluk dan akhirnya tutup usia. Sedangkan usia lanjut
hidup. Menurut Laslett (Suardiman, 2011) adalah masa yang tidak bisa dielakkan bagi
menyatakan bahwa semua makhluk hidup orang yang dikarunia umur panjang.
memiliki siklus kehidupan menuju tua yang Keberhasilan pembangunan yang telah
dilaksanakan, terutama dalam bidang kesehatan
15
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

berdampak pada angka usia harapan hidup cenderung dapat memberi keuntungan bagi
penduduk. Kemajuan bidang kesehatan dan generasi masa depan yaitu orang-orang lanjut
kemampuan seseorang dalam menjaga usia. Seiring dengan bertambah panjangnya
kesehatan menyebabkan meningkatnya usia usia harapan hidup, pola dan gaya hidup lansia
harapan hidup. Usia harapan hidup yang juga akan berubah. Mereka lebih banyak
meningkat, mencerminkan makin bertambah menikmati waktu luang dengan tetap aktif,
panjangnya masa hidup seseorang yang tetap sejahtera, serta tidak terganggu oleh
membawa konsekuensi makin bertambahnya proses penuaan yang dialaminya.
jumlah penduduk usia lanjut. Kondisi masa tua Ketuaan atau usia tua menurut
yang semakin panjang ini diharapakan tidak Muanandar (2001) menjadikan manusia rentan
menjadi beban, namun tetap menjadi sumber terhadap penyakit. Beberapa kelemahan dan
daya manusia yang memberikan manfaat. peyakit akan terjadi dengan bertambahnya usia,
Pada abad 21 ini, banyak sekali orang tetapi pada saat ini gaya hidup yang aktif dan
lanjut usia yang masih sehat dan tegap. Apalagi pola hidup sehat senantiasa diupayakan dan
dalam beberapa dekade terakhir, usia atau dilakukan. Hidup sehat berarti mengambil
angka harapan hidup penduduk Indonesia telah bagian dalam makan-makanan yang sehat,
meningkat 45,7 % sejak tahun 1970, menjadi menghindari zat-zat yang dapat menyebabkan
58,9% pada tahun 1990 dan 71,7% pada tahun kerusakan pada diri dan organ tubuh, berjalan
2010. Perubahan demografis yang mengarah atau melakukan olahraga (jalan kaki), makan
pada pertumbuhan penduduk lansia harus buah dan sayur. Gaya hidup aktif adalah tetap
diantisipasi mulai sekarang. Memasuki abad terhubung dengan orang-orang yang dicintai,
21, dengan jumlah penduduk lansia yang berpartisipasi dalam kegiatan sosial di
sangat besar, dengan peningkatan harapan komunitas lanjut usia. Lanjut usia tetap di
hidup lebih lama, maka lebih besar pula dorong untuk mencari dan tinggal aktif dalam
kemungkinan untuk menikmati hidup lebih kegiatan masyarakat. Bertambah tua berarti
lama. Hal tersebut dapat terjadi karena gaya pula pula bertambah besar kemungkinan
hidup yang aktif, keterampilan yang positif, menderita berbagai penyakit tua, tetapi tidak
sertaadanya relasi dan dukungan sosial yang berarti harus menghentikan seluruh aktivitas
baik. Menjadi individu yang aktif, penting bagi yang ada atau yang bisa dilakukan. Pesimisme
keberhasilan proses masa tua. Orang lanjut usia lanjut usia dengan berbagai penyakit tua ini
yang tidak memisahkan diri dari kegiatan tidak menghinggapi lansia yang tetap aktif,
masyarakat, seperti kegiatan yang dilakukan di bahkan usia hingga di atas 70 atau bahkan 80.
luar rumah dengan menghadiri berbagai Proses penuaan dan penyakit yang dialami
pertemuan, berpartisipasi dalam kegiatan tidak terlalu mengganggu. Seolah turunnya
pengajian atau senam lansia, serta dapat fungsi berbagai organ tubuh tidak terlalu
berlibur, akan lebih puas dalam menjalani bermasalah dalam kehidupan para lanjut usia
kehidupannya. Orang lanjut usia yang sangat ini. Masyarakat modern, sebagian besar
efektif dalam membina penghayatan akan memiliki andil menciptakan rasio kesehatan
kendali lingkungan dan memiliki pandangan yang baik. Masyarakat modern juga
yang positif mengenai dirinya (kemampuan menyebabkan perubahan nilai sosial
menghasilkan sesuatu yang positif) dapat masyarakat yang mengarah pada tatanan
memiliki kebahagiaan. Mengkaji aspek-aspek masyarakat individualistik. Hal ini akan
positif dari masa tua merupakan trend yang berpengaruh pula bagi para lanjut usia yang
penting dalam perkembangan masa hidup dan merasa kurang mendapat perhatian, merasa
16
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

tersisih dari kehidupan masyarakat. Realita Menurut Selingman, kebahagiaan berasal dari
tersebut dapat dihadapi dengan membentuk campuran berbagai faktor. Ketika ia memegang
kelompok-kelompok bagi usia lanjut, agar para kemudi Asosiasi Psikologi Amerika di tahun
lansia dapat memiliki kegiatan. Kontak sosial 1997, arah kemudi psikologi perlahan-lahan
semacam ini memberi kesempatan pada lansia mengalihkan penelitiannya pada rahasia yang
untuk bertukar informasi, saling belajar, dan membuat manusia bahagia, dan mendorong
saling bercanda. dunia untuk mengambil kebahagiaan itu lebih
Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan serius. Lanjut usia yang hidup dalam
dan teknologi menurut Sari (2002) membawa kelemahan, kemiskinan, dan berbagai penyakit
dampak yang besar. Salah satunya adalah yang menderanya tentu tidak akan dapat
semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan menikmati hidupnya dengan baik. Kebahagiaan
teknologi di bidang kesehatan. Bidang tentu tak akan datang jika individu lanjut usia
kesehatan yang berkembang ini akan diikuti selalu mengalami gangguan, baik gangguan
oleh semakin turunnya angka kematian dan kesehatan, atau gangguan psikologis. Ada
naiknya usia harapan hidup. Hal tersebut lanjut usia yang tidak siap dengan perubahan
menyebabkan semakin diketahui dan diri, lalu menghabiskan seluruh waktu dan
diterapkan cara-cara hidup sehat, seperti: tenaganya untuk tetap muda, maka ia akan
terpenuhi asupan gizi, ada senam lansia, dll. semakin merasa putus asa dan akan semakin
Penemuan alat-alat kedokteran modern dapat terlihat tua.
digunakan untuk membantu mengobati Perjalanan hidup lansia seperti halnya
berbagai macam penyakit yang dulunya belum periode lain dalam perkembangan, juga
dapat disembuhkan. ditandai oleh adanya tugas-tugas per-
Menua merupakan bagian dari proses kembangan yang harus dijalani di dalam masa
kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan hidupnya sesuai dengan norma masyarakat dan
akan dialami oleh setiap individu. Kebahagiaan norma kebudayaan. Apabila lansia mampu
menjalani usia tua bagi para lansia ini menjadi menyelesaikan tugas-tugas perkembangan
pusat dalam penelitian ini. Penelitian yang tersebut maka lansia akan merasa berhasil dan
berawal dari psikologi positif yang dikenalkan akhirnya timbul perasaan bahagia.
oleh Selingman. Kebahagiaan banyak dikejar Problematika Lansia ini baru disadari oleh
dan dicari oleh banyak orang. Menurut Frankl negara-negara berkembang, dalam waktu
(Pink, 2012) kebahagiaan tidak dapat dikejar, kurang lebih pada satu dekade terakhir. Isu
ia pasti terjadi. Tapi dalam kehidupan ini tidak yang berkembang hanya pada masalah
semua orang bisa meraih kebahagiaan. kesehatan, dan ekonomi. Tidak menyoroti
Kebahagiaan tidak selalu bermakna uang, tentang kebahagiaan lansia. Penelitian dalam
tergantung orang dalam memaknai kehidupan proposal ini menyoroti kebahagiaan lansia,
dan sudut pandang seseorang agar dapat tentang aspek-aspek positif dari proses menjadi
memperoleh kebahagiaan. Apalagi sudah sejak tua menjadi kajian yang sangat menarik, karena
lama, dimensi-dimensi positif dari masa selama ini penelitian psikologi selalu mengupas
dewasa akhir diabaikan. Melalui penelitian ini, tentang hal yang tidak baik atau tidak
proposal ini berusaha untuk memberi perhatian menyenangkan, misal stres, depresi, dsb. Hal
pada aspek-aspek positif dari proses menjadi inilah yang melatar belakangi penelitian ini
tua. Bahagia tidak serta merta selalu terhubung dilakukan. Banyak penelitian yang men-
dengan perasaan senang, ceria, dan tersenyum. yebutkan bahwa kebahagiaan berhubungan

17
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

dengan pendapatan, jenis kelamin dan usia, dengan segala karakteristik dirinya. Individu
pendidikan, pernikahan, ada tidaknya anak, yang dapat menerima dirinya diartikan sebagai
pekerjaan, kesehatan, agama, hubungan sosial, individu yang tidak bermasalah dengan dirinya
dukungan sosial, pengaruh budaya atau sendiri, tidak memiliki beban perasaan
masyarakat, proses kognitif, tujuan atau goals. terhadap diri sendiri, sehingga individu lebih
Kesehatan juga merupakan salah satu banyak memiliki kesempatan untuk beradaptasi
faktor dalam penelitian tentang kebahagiaan. dengan lingkungan.
Orang-orang yang bahagia adalah yang tidak Penelitian yang diajukan ini mengenai
menderita secara klinis tidak mengalami stress penerimaan diri dalam keterkaitannnya dengan
kronis. Keadaan diri dalam stres akan ber- kebahagiaan pada lansia yang masih bertahan
dampak serius pada psikologis seorang hidup dengan umur panjang karena ditunjang
individu dan kebahagiaan seseorang. Di lain oleh kegiatan sosial yang dilakukan dengan
sisi, banyak survey yang menunjukkkan bahwa teman-teman lansia berupa arisan atau
kebahagiaan berkorelasi secara signifikan pertemuan rutin bulanan. Kegiatan sosial yang
dengan agama. Hubungan seseorang dengan dilakukan bersama teman-teman lansia ini
Tuhan, doa, selalu bersyukur dan partisispasi merupakan aspek dukungan sosial. Sehingga
dalam kegiatan kegamaan juga dapat mem- dari berbagai hal yang dikemukakan tersebut di
pengaruhi kebahagiaan seseorang. Dukungan atas dipilih dua hal yang akan menjadi variabel
sosial sebagai salah satu faktor yang dalam penelitian ini, yaitu: penerimaan diri dan
mempengaruhi kebahagiaan membahas tentang dukungan sosial sebagai aspek yang mendasari
pengakraban hubungan atau dalam kegiatan kajian dalam penelitian.
membina hubungan yang akrab dengan orang Penerimaan diri dipilih karena per-
lain. Orang lain adalah obat penawar terbaik jalanan hidup individu pasti dalam per-
bagi kekecewaan hidup yang bisa diandalkan. kembangannya mengalami perubahan-
Sehingga bisa dikatakan kebahagiaan juga perubahan. Perubahan kondisi di usia tua
berhubungan dengan hubungan sosial yang sangat ditakuti, karena perubahan kondisi
positif dengan orang lain. Dukungan sosial tersebut berupa tumbuhnya uban, kulit yang
diperoleh dari hasil interaksi individu dengan mulai keriput, tanggalnya gigi geligi sehingga
orang lain dalam lingkungan sosialnya, dan sulit makan. Terkadang juga timbul aspek
bisa berasal dari siapa saja (teman, pasangan, psikologis berupa perasaan tersisih, tidak
atau keluarga). Para lansia ini memerlukan dibutuhkan lagi, dsb. Penerimaan diri adalah
pengertian dan pemahaman keluarga dan segala apa yang ada pada diri dan dirasakan
masyarakat atas keberadaan dan proses sebagai sesuatu yang menyenangkan, sehingga
ketuannya, dalam mewujudkan kemandirian. individu tersebut memiliki keinginan untuk
Seseorang dapat merasakan afek positif jika ia terus dapat menikmati kehidupan. Perubahan
menerima dukungan sosial dari teman (baik itu apapun yang terjadi berkaitan dengan proses
teman kerja, atasannya atau teman berbagi). menua dapat diterima oleh individu yang
Seseorang akan merasa kesepian jika hidup memiliki penerimaan diri dengan hati yang
sendiri (Ningsih, 2013) lapang, sehingga mereka dapat hidup bahagia.
Dalam penelitian lain, salah satu Sedangkan dukungan sosial dipilih
komponen kebahagiaan bagi lansia adalah karena manusia hidup tidak mungkin terlepas
penerimaan diri. Penerimaan diri menurut dari kebutuhan untuk bersosialisasi dengan
Hurlock (1980) adalah suatu tingkat ke- orang lain, baik itu teman atau pun keluarga.
mampuan dan keinginan individu untuk hidup Dukungan sosial dapat disimpulkan sebagai
18
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

suatu bentuk dukungan yang diberikan kepada nyenangkan dengan meyakini apa yang kita
individu baik secara langsung atau pun tidak pilih demi pilihan itu sendiri. Kita sering
langsung, di mana individu tersebut dapat memilih sesuatu yang membuat kita senang,
merasa diperhatikan, dicintai, serta mem- tapi perlu disadari bahwa seringkali pilihan kita
perkuat perasaan lansia. tidak dibuat demi apa yang kita rasakan.
Contoh yang diberikan oleh Selingman ketika
Kebahagiaan ia mendengarkan latihan piano anaknya, hal
Menurut Hurlock (1980) kebahagiaan tersebut dilakukan bukan karena membuat ia
adalah keadaan sejahtera dan kepuasan hati, senang tapi karena itu adalah tugasnya sebagai
yaitu kepuasan yang menyenangkan yang orang tua dan membuat ia mendapat makna
timbul bila kebutuhan dan harapan tertentu kehidupan. Berlaku sebagai orang tua untuk
individu terpenuhi. Hal ini berbeda dengan keluarga. Manusia pasti menginginkan makna
perasaan senang yang mengandung ‘euphoria’ dan tujuan dalam hidupnya. Kini semua orang
dan ‘fly’. Kebahagiaan oleh Selingman (2013) setuju bahwa keterkaitan dan hubungan dengan
adalah kehidupan yang menyenangkan dengan orang lain adalah sesuatu yang memberi makna
meyakini apa yang kita pilih demi pilihan itu dan tujuan hidup (Selingman, 2013).
sendiri. Sedangkan tentang merasa senang dan Metode tersebut dapat memberi
bahwa cara kita memilih jalan hidup kita petunjuk ‘apakah yang menimbulkan ke-
adalah hanya untuk berusaha memaksimalkan puasaan hidup seseorang’. Metode berikut juga
perasaan kita. Konsep kebahagiaan tersebut dapat menunjukkan penyebab kebahagiaan atau
mendorong psikologi untuk melengkapi tujuan ketidakbahagiaan. Kepuasan hidup yang
mulia, yaitu: menyelidiki apa yang membuat biasanya disebut kebahagiaan timbul dari
hidup layak dijalani dan membangun kondisi- pemenuhan kebutuhan atau harapan, serta
kondisi pendukung bagi hidup yang layak merupakan penyebab atau sarana untuk
dijalani. Teori kebahagiaan ini mengklaim menikmati. Menurut Hurlock (1980) kepuasan
bahwa cara kita membuat pilihan adalah untuk hidup merupakan kemampuan seseorang untuk
memperkirakan betapa banyak kebahagiaan menikmati pengalaman-pengalamannya, yang
yang terjadi, dan kita mengambil jalan untuk disertai tingkat kegembiraan. Menurut kamus
memaksimalkan kebahagiaan di masa depan. umum, kebahagiaan adalah keadaan sejahtera
Psikologi positif yang dikenalkan oleh dan kepuasaan hati, yaitu kepuasan yang
Selingman ditujukan untuk mengurangi menyenangkan yang timbul bila kebutuhan dan
penderitaan, menghilangkan kondisi-kondisi harapan tertentu individu terpenuhi. Ke-
yang merusak dalam kehidupan. Psikologi bahagiaan dan kepuasan ini bersifat relatif.
positif membuat orang lebih bahagia, bahwa Pada semua tingkatan usia, ada saat bahagia
hidup terus mengalir dan bergerak, dan puas, serta ada saat tidak bahagia dan tidak
mengajarkan rasa terima kasih, prestasi, makna puas. Kalau pengalaman-pengalaman yang
hidup, cinta, dll. Kebahagiaan oleh telinga menyenangkan lebih banyak daripada pen-
modern serta merta diartikan sebagai perasaan galaman yang tidak menyenangkan, maka
senang, riang, ceria, dan tersenyum. Tapi orang akan merasa puas dan menganggap diri
secara historis, ‘kebahagiaan’ tidak begitu berbahagia.
berkaitan dengan kesenangan – perasaan riang, Menurut Hurlock (1980) faktor-faktor
dsb. Yang dimaksud kebahagiaan oleh yang relatif penting untuk menunjang kepuasan
Selingman adalah kehidupan yang me- hidup, yaitu pekerjaan, kehidupan keluarga,

19
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

persahabatan, kekayaan, kehidupan budaya, Diener (1985) menyatakan bahwa


pelayanan menyeluruh kepada masyarakat dan happiness atau kebahagiaan mempunyai makna
kesenangan dalam hidup. Kebahagiaan yang sama dengan subjective wellbeing dimana
bersinonim dengan kepuasan hidup dan subjective wellbeing terbagi atas dua komponen
dipergunakan untuk menunjukkan kepuasaan didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah
akibat dari pemenuhan kebutuhan dan harapan. komponen afektif dan komponen kognitif.
Kebahagiaan dalam penelitian Dalai Lama Furnham (2008) juga menyatakan bahwa
adalah suatu keterampilan yang dapat kebahagiaan merupakan bagian dari
dibudidayakan. Cara untuk menjadi bahagia, kesejahteraan, contentment, to do your life
dengan berusaha untuk menjadi bahagia. Kita satisfaction or equally the absence of
semua, sadar atau tidak sadar, kompeten atau psychology distress. Ditambahkan pula bahwa
tidak, secara naluriah pasti berusaha konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim
meletakkan atau menjauhkan semua yang dari kepuasan hidup atau satisfaction with life
menakutkan atau hal yang tidak diinginkan di (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga
luar, tapi mana mungkin hal tersebut menyatakan bahwa satisfaction with life
dikendalikan. Tidak ada pula yang menyangkal merupakan bentuk nyata dari happiness atau
keinginan bahwa hidup berumur panjang, kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut
sehat, mencintai dan dicintai, bisa keliling merupakan sesuatu yang lebih dari suatu
dunia, dihormati. Studi dari seluruh populasi pencapaian tujuan dikarenakan pada
manusia mengharapkan dapat menikmati pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan
kondisi tersebut. dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas
Arti kata “bahagia” berbeda dengan yang lebih tinggi serta tempat kerja yang lebih
kata “senang”. Secara filsafat kata “bahagia” baik.
dapat diartikan dengan kenyamanan dan Dengan demikian, dapat disimpulkan
kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang
kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam membuat pengalaman yang menyenangkan
pikiran sehingga merasa tenang serta damai. berupa perasaan senang, damai dan termasuk
Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat juga didalamnya kesejahteraan, kedamaian
disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat pikiran, kepuasan hidup serta tidak adanya
berhubungan dengan kejiwaan dari yang perasaan tertekan. Semua kondisi ini adalah
bersangkutan (Dalam Kosasih, 2002). Sumner merupakan kondisi kebahagiaan yang
(dalam Veenhoven, 2006) menggambarkan dirasakan seorang individu.
kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap
positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya Penerimaan Diri
merupakan bentuk dari kepemilikan komponen Menurut Hurlock (1980) penerimaan
kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari diri adalah suatu tingkat kemampuan dan
kebahagiaan terdiri dari suatu evaluasi positif keinginan individu untuk hidup dengan segala
terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui karakteristik dirinya. Individu yang dapat
standard atau harapan, dari segi afektif menerima dirinya diartikan sebagai individu
kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut yang tidak bermasalah dengan dirinya sendiri,
secara umum sebagai suatu rasa kesejahteraan tidak memiliki beban perasaan terhadap diri
(sense of well being), menemukan kekayaan sendiri, sehingga individu lebih banyak
hidup atau menguntungkan atau perasaan puas memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan
atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.” lingkungan. Segala apa yang ada pada dirinya
20
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, individu yang mampu menerima dirinya adalah
sehingga individu tersebut memiliki keinginan individu yang dapat menerima kekurangan
untuk terus dapat menikmati kehidupan. dirinya sebagaimana dirinya mampu menerima
Perubahan apapun yang terjadi berkaitan kelebihan yang terdapat pada dirinya.
dengan proses menua dapat diterima oleh Menurut Chaplin dalam Ariyanti (2013)
individu dengan hati yang lapang. penerimaan diri atau self acceptance adalah
Penerimaan diri ini mengandaikan sikap yang merupakan cerminan dari perasaan
adanya kemampuan diri dalam psikologis puas terhadap diri sendiri dengan kualitas-
seseorang yang menunjukkan kualitas diri. Hal kualitas dan bakat-bakat diri, serta pengakuan
ini berarti bahwa tinjauan tersebut akan akan keterbatasan yang ada dalam diri.
diarahkan pada seluruh kemampuan diri yang Individu menerima kodrat mereka apa adanya.
mendukung perwujudan diri secara utuh. Penerimaan diri menurut Crumbough (Alwisol,
Penerimaan diri sangat erat berhubungan 2012) adalah suatu tingkat kemampuan dan
dengan lingkungan, contoh penerimaan orang keinginan individu untuk hidup dengan segala
tua pada anaknya. Hal tersebut karena adanya karakteristik hidupnya.
kasih sayang, kelekatan, kepedulian, dukungan, Jadi bisa dikatakan bahwa penerimaan
dan pengasuhan. Sehingga orang tua bisa diri adalah sikap positif individu yang
merasakan dan mengekspresikan rasa sayang ditunjukkan dengan rasa senang dan puas akan
pada anaknya. dirinya, baik secara fisik maupun psikis,
Penerimaan diri menurut Aryanti dengan segala kelemahan dan kelebihan yang
(2013) adalah orang yang selalu terbuka ada dalam diri tanpa rasa kecewa, serta mau
terhadap setiap pengalaman serta mampu berusaha mengembangkan diri seoptimal
menerima setiap masukan dan kritikan dari mungkin.
orang lain. Penerimaan diri sebagaimana
adanya adalah suatu tahapan yang harus Dukungan Sosial
dilakukan karena akan membantu dalam Menurut Habfoll & Sroke dalam jurnal
menyesuaikan diri, yang merupakan salah satu yang ditulis oleh Adawiyah menyebutkan
dari aspek kesehatan mental. Kriteria orang bahwa dukungan sosial adalah interaksi sosial
yang bermental sehat adalah: memiliki atau hubungan sosial yang memberikan
pandangan yang sehat terhadap diri dan bantuan yang nyata atau perasaan kasih sayang
lingkungan, mampu menyesuaiakan diri dalam kepada individu atau kelompok yang dirasakan
segala kemungkinan serta mampu mengatasi oleh individu yang bersangkutan sebagai
permasalahan hidup, dan dapat mencapai perhatian atau cinta.
kepuasan pribadi juga ketenangan hidup tanpa Sedangkan dukungan sosial menurut
merugikan orang lain. Sarafino (1998) adalah dukungan menyatakan
Hjelle dan Ziegler (1981) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada
bahwa individu dengan penerimaan diri memberikan kenyamanan kepada orang lain,
memiliki toleransi terhadap frustasi atau merawat serta menghargainya. Pendapat senada
kejadian-kejadian yang menjengkelkan, dan juga diungkapkan oleh Saroson (Smet, 1994)
toleransi terhadap kelemahan diri tanpa harus yang menyatn bahwa dukungan sosial adala
menjadi sedih atau marah. Individu ini dapat adanya transaksi interpersonal yang
menerima dirinya sebagai seorang manusia ditunjukkan dengan memberikan bantuan pada
yang memiliki kelebihan dan kelemahan. Jadi, individu lain, di mana bantuan itu umumnya

21
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

diperoleh dari orang yang berarti bagi individu meyakini bahwa ia dicintai, dirawat, dihargai,
yang bersangkutan. Dukungan tersebut dapat berharga, dan merupakan bagian lain dari
berupa pemberian informasi, bantuan tingkah lingkungan sosial.
laku, ataupun materi yang didapat dari Pierce (dalam Kail dan Cavanaugh,
hubungan sosial yang akrab, sehinggga dapat 2000) mendefinisikan dukungan sosial sebagai
membuat individu merasa diperhatikan, sumber emosional, informasional, atau
bernilai, dan dicintai. pendampingan yang diberikan oleh orang-
Menurut Santrock (2012) dukungan orang di sekitar individu untuk menghadapi
sosial berperan penting terhadap kesehatan setiap permasalahan dan krisis yang terjadi
fisik dan mental orang lanjut usia. Dukungan sehari-hari dalam kehidupan. Begitu pula
sosial dapat membantu semua individu untuk dengan Gotlieb (dalam Smet, 1994)
mengatasi masalah secara lebih efektif. menyatakan bahwa dukungan sosial terdiri atas
Dukungan sosial yang memberikan emosi informasi yang diperlukan bagi yang menerima
positif adalah dukungan keluarga dan teman. bantuan, tingkah laku tertentu yang diberikan,
Keluarga berperan penting dalam dukungan ataupun berupa bantuan materi.
sosial terhadap orang lanjut usia, namun teman Dengan kata lain, dukungan sosial juga
atau pun sahabat juga berperan penting. dapat berarti hubungan antar pribadi yang di
Sebuah studi baru-baru ini me- dalamnya terdapat satu atau lebih ciri-ciri,
ndokumentasikan pentingnya persahabatan di antara lain: adanya bantuan atau pertolongan
antara orang-orang lanjut usia. Studi di AS dalam bentuk fisik, perhatian emosional,
yang melibatkan hampir 1.700 orang dewasa pemberian informasi atau pujian. Dukungan
yang berusia 60 tahun ke atas, mengungkapkan sosial mempunyai fungsi terhadap kehidupan
bahwa dibandingkan relasi keluarga, seseorang, yang berfungsi membantu individu
persahabatan itu lebih penting. Orang lanjut untuk percaya bahwa mereka diperhatikan,
usia yang kontak sosialnya terbatas pada dicintai, dihargai, dan diikutsertakan dalam
anggota keluarga, cenderung lebih depresif. jaringan komunikasi, tanggung jawab, serta
Orang lanjut usia yang berpartisipasi di dalam menjadi kekuatan bagi individu, karena dapat
organisasi cenderung hidup lebih panjang menolong secara psikologis. Berkaitan dengan
dibandingkan rekan-rekannya yang tingkat hubungan dengan orang lain, Christopher
partisipasinya rendah. Orang lanjut usia dalam Selingman (2013) mengatakan bahwa
cenderung memiliki motivasi yang kuat untuk penjelasan psikologi positif tentang hubungan
meluangkan waktu menjalin relasi dengan positif jika dijelaskan dalam dua kata atau
kawan-kawan dekat dan anggota keluarga yang kurang menyebut tentang orang lain. Orang
menyenangkan. lain adalah obat penawar bagi kekecewaan
Dukungan sosial yang diterima dapat hidup yang dapat diandalkan. Di samping itu,
membuat individu merasa tenang, diperhatikan, sesuatu yang positif jarang berdiri sendiri.
timbul rasa percaya diri dan kompeten. Kapan terakhir kali anda tertawa terpingkal-
Tersedianya dukungan sosial akan membuat pingkal? Terakhir kali anda merasakan
individu merasa dicintai, dihargai dan menjadi kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan? Terakhir
bagian dari kelompok. Senada dengan pendapat kali merasakan makna dan tujuan yang
tersebut, beberapa ahli seperti Cobb, Gentry mendalam? Apakah anda memiliki teman yang
dan Kobasa, Wallston, Alagna dan Devillis tanpa rikuh anda bisa menelponnya kapan saja
(dalam Sarafino, 1998) menyatakan bahwa untuk menceritakan masalah anda? Jika anda
individu yang memerole dukungan sosial akan menjawab ‘iya’ maka kemungkinan hidup anda
22
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

lebih lama daripada seseorang yang menggunakan skala kebahagiaan, skala


jawabannnya ‘tidak’. Hubungan terjadi dalam penerimaan diri, dan skala dukungan sosial.
setiap proses kehidupan manusia. Skala kebahgiaan disusun berdasarkan konsep
Menurut Selingman, orang yang sangat Selignman terdapat 31 butir yang memiliki
bahagia menghabiskan sedikit waktunya daya diskriminasi tinggi dengan hasil alpa
sendirian dan sebagian besar waktunya untuk cronbach = 0,855. Skala penerimaan diri
orang lain. Demikian pula dengan dukungan disusun berdasarkan konsepCrumbough yang
sosial. Dukungan sosial merupakan cara untuk terdiri atas 48 butir dengan hasil alpha
menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan cronbach = 0,917. Skala dukungan sosial
penghagaan untuk orang lain. disusun berdasarkan konsep Sarafino yang
terdiri atas 30 butir dengan hasil alpa cronbach
HIPOTESIS = 0,828.
Berdasarkan kerangka berpikir dan
kajian pustaka yang telah dikemukakan, serta HASIL
permasalahan yang dipaparkan, maka hipotesis Hasil penelitian yang didapat setelah uji
yang diajukan dalam penelitian ini adalah : analisa dilakukan adalah: Hasil analisa regresi
a) ada hubungan antara penerimaan diri diperoleh F = 25,084 dengan P = 0,00 (p<0,01)
dan dukungan sosial dengan berarti ada hubungan signifikan antara
kebahagiaan dukungan sosial dan penerimaan diri dengan
b) ada hubungan antara penerimaan diri
kebahagiaan, diperoleh r partial = 0,143 dan t
dengan kebahagiaan
c) ada hubungan antara dukungan sosial = 1,356 dengan p = 0,178 (p > 0,05) berarti
dengan kebahagiaan. tidak ada hubungan antara penerimaan diri
dengan kebahagiaan, diperoleh r partial = 0,424
METODE dan t = 2,728 dengan p = 0,008 (p < 0,01)
Subjek penelitian ini adalah para lanjut berarti ada hubungan positif sangat signifikan
usia (lansia) yang merupakan masa tua akhir antara dukungan sosial dengan kebahagiaan.
ditujukan pada laki-laki dan perempuan lansia Hasil penelitian juga menunjukkan R2 = 0,366
dengan usia di atas 65 tahun. Responden yang berarti bahwa 36,60% proporsi variasi
bermukim di wilayah Ketintang, Rungkut- prososial dijelaskan secara bersama-sama
Surabaya dan Sidoarjo. Proses penelitian dari melalui variabel penerimaan diri dan dukungan
pengumpulan data hingga proses pemilihan sosial, sisanya sebesar 63,40% perilaku
subjek diambil secara Multistage Cluster kebahagiaan dipengaruhi faktor lain yang tidak
Sampling dengan cara random. dianalisis dalam penelitian ini.
Instrumen adalah alat ukur yang
digunakan untuk mengungkap aspek yang ingin
diteliti dalam suatu penelitian. Penelitian ini

PEMBAHASAN terhadap kebahagiaan. Temuan tersebut sejalan


Hasil penelitian membuktikan ada dengan hipotesis yang diajukan bahwa ada
hubungan penerimaan diri dan dukungan sosial hubungan antara penerimaan diri dan dukungan
dengan kebahagiaan lansia. Variabel sosial dengan kebahagiaan. Hipotesis
penerimaan diri dan dukungan sosial Penelitian yang menyatakan ada hubungan
berkorelasi dan memiliki prediksi positif positip antara penerimaan diri dan dukungan

23
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

sosial dengan kebahagiaan, teruji. Semakin Hasil penelitian membuktikan ada


tinggi penerimaan diri dan dukungan sosial hubungan dukungan sosial dengan kebahagiaan
yang diperoleh lansia semakin tinggi lansia. Variabel dukungan sosial berkorelasi
kebahagiaan mereka, semakin rendah dan memiliki prediksi positif terhadap
penerimaan diri dan dukungan sosial semakin kebahagiaan. Artinya semakin tinggi dukungan
rendah pula kebahagiaan lansia. sosial lansia, semakin tinggi kebahagiaan
Hasil penelitian melalui uji partial lansia. Temuan tersebut sejalan dengan
membuktikan tidak ada hubungan antara hipotesis yang diajukan bahwa ada hubungan
variabel penerimaan diridengan kebahagiaan antara dukungan sosial dan kebahagiaan pada
lansia. Variabel penerimaan diri tidak lansia.Hipotesis penelitian yang menyatakan
berkorelasi dan menunjukkan hasil tidak ada hubungan positip dukungan sosial dengan
signifikan terhadap kebahagiaan. Semakin kebahagiaan, teruji. Semakin tinggi dukungan
tinggi penerimaan diri maka semakin rendah sosial yang diperoleh lansia semakin tinggi
kebahagiaan, sebaliknya semakin rendah kebahagiaan mereka, semakin rendah
penerimaan dirimaka semakin tinggi dukungan sosial semakin rendah kebahagiaan
kebahagiaan lansia. Hasil temuan ini tidak lansia.
sejalan dengan hipotesis yang diajukan bahwa Kebahagiaan adalah kehidupan yang
terdapat korelasi positip antara penerimaan diri menyenangkan dengan meyakini apa yang kita
dan kebahagiaan. Temuan tersebut tidak pilih demi pilihan hidup itu sendiri. Konsep
sejalan dengan hipotesis yang diajukan bahwa kebahagiaan tersebut mendorong psikologi
ada hubungan antara penerimaan diri dengan untuk melengkapi tujuan mulia yaitu
kebahagiaan pada lansia karena hasil penelitian menyelididki apa yang membuat hidup layak
yang didapat menyatakan tidak signifikan. dijalani dan membangun kondisi-kondisi
Hipotesis penelitian yang menyatakan ada pendukung bagi hidup yang layak dijalani.
hubungan positip penerimaan diri dengan Kebahagiaan juga dipengaruhi oleh kehadiran
kebahagiaan, secara partial tidak teruji. orang lain, terutama yang memberikan
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dukungan kepada keberadaan kita.
bahwa penerimaan diri dipengaruhi oleh Kebahagiaan akan terjadi pada lansia dengan
lingkungan. Lansia mampu menerima dirinya adanya peranan dukungan sosial dari
atau tidak juga mendapat pengaruh dari lingkungan, teman, keluarga di mana mereka
lingkungan. Jika komunitas lansia bergaul tinggal, berada dan beraktivitas. Hasil
dengan orang-orang sebaya, maka lingkungan penelitian menemukan adanya korelasi positif
mendukung keberadaan lansia yang sama-sama antara dukungan sosial terhadap kebahagiaan
sudah lanjut usia. Penerimaan diri memberikan lansia.
kontribusi kecil terhadap kebahagiaan yaitu Dalam arti, lansia lebih memerlukan
0,144%, hal ini berarti ada variabel selain keberadaan orang lain untuk mengakui
penerimaan diri yang memiliki konstribusi keberadaannya. Lansia lebih memerlukan
yang lebih besar terhadap kebahagiaan. teman di usianya yang lanjut ini. Mereka akan
Temuan ini memiliki implikasi bagi peneliti tersiksa atau tidak bahagia jika tidak ada orang
berikutnya untuk menguji kembali hubungan yang memperdulikan keberadaan lansia.
penerimaan diri dengan kebahagiaan, Dampak positif dukungan sosial ini, lansia
mengingat hasil temuan penelitian ini dapat memperoleh teman yang sebaya dengan
menunjukkan kontribusi kecil terhadap usianya, dapat menumpahkan segala keluh
kebahagiaan. kesah, dapat memperoleh nasihat atau anjuran
24
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

tanpa ada penghalang generasi. Efek saling Mereka juga merasa gelisah dengan masalah
menjaga secara fisik, bersilahturahmi ketika pendengaran yang semakin berkurang. Hal
sakit dapat menambah kebahagiaan lansia. tersebut lebih dikarenakan kehidupan di kota
Keberadaan orang lain dan dukungan sosial besar yang memerlukan mobilitas yang tinggi.
yang diberikan sangat berarti bagi lansia. Hal Lansia masih ada yang mengantarkan cucunya
tersebut dikuatkan pula oleh Cohen dan ke sekolah dengan mengendarai mobil,
Hoberman (1983) yang menemukan bahwa sehingga masalah pendengaran menyebabkan
orang yang menerima sedikit dukungan sosial kegelisahan tersendiri pada kehidupan mereka.
akan lebih sering mengalami sakit kepala dan Hanya saja penolakan atas ketidakmampuan
gangguan tidur, dibandingkan dengan orang tersebut tetap dapat membuat seorang lansia
yang menerima dukungan sosial tinggi. bahagia. Mereka bahagia karena masih
Dukungan sosial menyatakan hubungan dikelilingi orang-orang tercinta. Adanya
positif sebagai variabel kebahagiaan. pasangan, anak, tetangga atau teman yang
Dukungan sosial dapat diperoleh dari teman, masih menghargai keberadaan mereka. Mereka
keluarga, dan lingkungan. Dukungan sosial memberikan support kepada lansia, sehingga
lebih berperan positif pada variabel lansia masih merasa dihargai, merasa
kebahagiaan, karenaseseorang akan lebih keberadaan mereka masih diperlukan oleh
tersiksa atau tidak bahagia, ketika tidak orang-orang sekitar kehidupannya. Hal ini
mempunyai teman atau tidak mendapat lebih membahagiakan kehidupan lansia.
dukungan sosial. Dalam arti lansia lebih Hal tersebut di atas semakin
membutuhkan keberadaan teman. Dukungan menegaskan hasil penerimaan diri yang tidak
orang lain dapat membuat orang lebih bahagia, signifikan dan hubungan dukungan sosial
karena tidak merasa tersisih, kehadirannnya dengan kebahagiaan yangn signifikan ketika
masih diperlukan dan bermanfaat bagi orang dianalisa secara partial. Hipotesa yang
lain. Hal ini juga terbukti dari aitem yang menyatakan ada hubungan antara penerimaan
berbunyi ‘saya merasa senang jika dipuji’ diri dengan kebahagiaan ternyata ditolak
mendapat skor tinggi. disinyalir terjadi akibat kurang pahamnya
Besarnya sumbangan efektif responden, karena responden merupakan orang
penerimaan diri dan dukungan sosial pada tua lanjut usia, sehingga ada kekurangan dalam
kebahagiaan lanjut usia sebesar 36,6% dapat memahami pertanyaan-pertanyaan yang
dipahami bahwa masih ada variabel lain yang ditanggapi dalam angket yang diberikan oleh
lebih besar dalam memberikan sumbangan peneliti. Di mana pada usia tersebut terjadi
efektif pada kebahagiaan, hanya saja hal penurunan berbagai fungsi, termasuk memori,
tersebut tidak diteliti dalam penelitian ini. dalam diri lansia sehingga jawaban yang
Seseorang dengan penerimaan diri yang diberikan tidak tepat sasaran.
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan Dukungan sosial dari orang-orang
diri pada masa tuanya atau menolak tercinta lebih membahagiakan bagi lansia,
kemampuannya untuk menyesuaikan diri karena lansia merasa masih dibutuhkan atau
dengan situasi dan kondisi terhadap perubahan keberadaan mereka masih diharapkan. Teman
ketuaannya, seperti menyesuaikan diri dengan sesama lansia juga memberikan dukungan
keadaan gigi yang banyak tanggal, keadaan diri sosial yang baik dengan saling mengunjungi
yang sudah tidak menarik, tapi masih ingin ketika sakit, masih mengadakan pertemuan
tetap tampil rapi di setiap penampilannnya. sebulan sekali, ada kegiatan pengajian yang

25
Fitrie Uraningsari dan M As’ad Djalali

dilakukan bersama, begitu pula dengan senam menghadapi masa pensiun dan menikmati masa
lansia. Kegiatan yang dilaksanakan untuk tua mereka dengan dikelilingi orang-orang
membuat lansia tidak merasa tersisih dalam tercinta yang saling menjaga dan
kehidupan membuat mereka bahagia dalam memperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah. 2013. Manusia dan Kebahagiaan. Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta:
Jurnal Aqidah. Vol 1 No 1. Penerbit Erlangga.
Adawiyah, Raden Ajeng Rabiatul. 2013. Isnawati, Dian. 2013. Hubungan Antara
Kecerdasan Emosional, Dukungan Sosial Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian
Dan Kecenderungan Burn Out. Persona Diri Masa Persiapan Pensiun Pada
Jurnal Psikologi Indonessia. Volume 2 Karyawan PT Pupuk Kaltim. Jurnal
No 2. Halaman 101. Psikologi Industri dan Organisasi.
Akmal, Sari Zakiah. 2009. Kekuatan Volume 02 nomor1.
Karakter Dan Kebahagiaan Pada Suku Jacobsen, Michael Hviid. 2014. Sociology
Minang. Jurnal Psikologi. Volume 3 No and Happiness. The Journal of Happi-
1. Ness & Well Being. Vol 2 No 1.
Ashkanasy, Neal M. 2011. International Koeswara. 1987. Psikologi Eksistensial
Happiness. Journal Academy. Suatu Pengantar. Bandung: PT Eresco.
Athota, Vidya S. 2013. The Role of Moral Kuntz, Kristin K. 2006. Social Support and
Emotions in Happiness. The Journal of Quality of Life in Women
Happiness and Well Being. Vol 1 No 2. WithCongestive Heart Failure.
Cohen, She Denldon, dan Hoberman, Harry Disertation for the Degree Doctor of
M. 1983. Positive Events and Social Philosophy In The Ohio State University.
Support as Buffer of Life Change Stress. Mitcher, Mary Moser. 2006. Parents Stress
Journal of Applied Social Psychology, and Coping With Their Children’s
13.99.125. Attention Deficit Hyperactivity Disorder.
http://www.psy.cmu.edu/scohen/ISEL. Disertasi the faculty of the University of
Diener, Robert Biswas. 2011. Manipulating Maryland. Doctor of Philosophy.
Happiness. International Journal Meina, Nina Wulan. 2012. Hubungan Antara
Wellbeing. Volume 1 No 2. Bersyukur dengan Kebahagiaan Pada
Glanz. 1997. Health Behavior and Health Pedagang Pasar Tradisional Pulogadung.
Education: Theory, Research and Jurnal Psikologi.
Practise. San fransisco: Jossey Bass Ningsih, Didin Agustin. 2013. SWB Ditinjau
Publisher. Dari Faktor Demografi. Jurnal Psikologi.
Hidayat, Kommmaruddin. 2012. Tiga Pilar Vol 01 No 02.
Kebahagiaan. Post, Stephen G. 2005. Altruism, Happiness,
Hjelle, L.A. and Ziegler, D.J. 1981. and Health: Its Good To Be Good.
Personality Theories: Basic International Journal of Behavioral
Assumptions,Research, and Application. Medicine. Volume 12. No 2.
2nd Edition. Tokyo: Mc Graw-Hill Ricard, Matthieu. 2011. The Dalai Lama:
Kogakusha Ltd. Happiness from Within. International
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Journal of Well being. Volume 1 No 2.
Perkembangan: Suatu Pendekatan 274-290.
26
Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Pada Lanjut Usia

Selingman, Martin. 2013. Beyond Authentic


Sapmaz, Fatma. 2013. Turkish Version of Hapiness: Menciptakan Kebahagiaan
The Short Depressin – Happiness Scala. Sempurna dengan Psikologi Positif.
The Journal of Happiness & Well Being. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Vol 1 No 1. Suardiman, Siti Partrini. 2011. Psikologi
Santrock, John W. 2011. Psychology Usia Lanjut. Yogyakarta: Gajah Mada
Essentials. Surabaya: Penerbit Erlangga. University Press.
Santrok, John W. 2012. Life Span Totan, Tarik. 2013. Psychometric Properties
Development: Perkembangan Masa of Turkish Version of the Subjective
Hidup. Edisi ketiga belas jilid 2. Happiness Scale. The Journal of
Surabaya: Penerbit Erlangga. Happiness & Well Being. Vol 1 No 1.
Sarafino, E.P. 1998. Health Psychology: Vaillant. George E. 2001. Succesful Aging.
Healthy Psychology Biophysocial American Journal of Psychiatry. 158:
Interactions. New York: John Willeyant. 839-847.
Sari, Endah Puspita. 2002. Penerimaan Diri Wirawan, Henny E. 2011. Kebahagiaan
Pada Lanjut Usia Ditinjau Dari Menurut Dewasa Muda Indonesia. Jurnal
Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi. Psikologi. hemirawan@ yahoo. Com.
Nomor 2. Halaman 73-88.
Schultz, D. 1987. Growth Psychology: Model
ofthe Healthy Personality. New York: D
Van Mostrad.

27