You are on page 1of 16

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA


“pH meter dan Tirasi pH meter”

OLEH:
KELOMPOK:3
KELAS: STIFA B 2017
Asisten penanggung jawab :Reni Angraeni S,farm

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2018
BAB 1

PENDAHULUAN

I.1.Latar belakang

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat


dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi
biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses
titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai
titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi
oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan
reaksi kompleks dan lain sebagainya.

Berbicara masalah reaksi asam-basa atau yang biasa juga disebut reaksi
penetralan, maka tidak akan terlepas dari titrasi asam-basa. Perlu dipahami
terlebih dahulu bahwa reaksi asam-basa atau reaksi penetralan dapat
dilakukan dengan titrasi asam-basa. Adapun titrasi asam-basa ini terdiri dari
titrasi asam kuat-basa kuat, titrasi asam kuat-basa lemah, titrasi basa lemah-
asam kuat, dan titrasi asam lemah-basa lemah. Titrasi asam-basa ini
ditentukan oleh titik ekuivalen (equivalent point) dengan menggunakan
indikator asam-basa.

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam
“buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan. Pada laporan kali
ini akan di jelaskan mengenai titrasi asam-basa.
I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud pada percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami serta menentukan konsentrasi asam dan basa melalui metode
titrasi dengan menggunakan keras lakmus ,indiator universal dan ph meter.
I.2.2. Tujuan Percobaan
adapun tujuan pada percobaan praktikum ph meter dan titrasi adalah
untuk memahami,mengetahui, dan menentukan konsentrasi asam atau basa
melalui metode titrasi..
I.3. Prinsip Percobaan
Adapun prinsip percobaan pada percobaan ini adalah titrasi asam
basa melibatkan asam dan basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam
basa berdasarkan penetralan.kadar larutan asam ditentukan dengan
menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1.Teori Umum
II.1.1 Titrasi
Sebegitu jauh kita telah memperhatikan disosiasi air menjadi ion-ion.
Meskipun demikian, karena keseimbangan dapat dicapai dari kiri atau kanan
dari persamaan reaksi, maka tetapan keseimbangan yang sama yang
dinyatakan pada disosiasi air juga menyatakan asosiasi atau penggabungan
dari Hᶧ dan OH⁻ membentuk air.Terjadinya asiasi air dalam reaksi-reaksi
netralisasi adalah merupakan dasar dari proses titrasi. Setiap langkah dalam
hidup menyatakan [Hᶧ][OH⁻] = 1,0 x 10 dala larutan (Sastrohamidjojo, 2010)
Salah satu cara menentukan titik ekuivalen suatu larutan adalah
dengan menggunakan zat warna yang mempunyai warna yang sensitif
terhadap konsentrasi ion hidrogen. Zat warna ini dapat digunakan sebagai
indikator dan dapat memeberika keterangan tentang pH suatu larutan.
Indikator dapat dipikirkan sebagai asam lemah Hin yang tersdisosiasi menjadi
Hᶧ dan In⁻.(Sastrohamidjojo, 2010)
II.1.2 Klafisikasi asam basa
a. Menurut Arrhenius
Suatu asam adalah senyawa yang bila dilarutkan dalam air akan
meningkatkan konsentrasi ion hidrogen(Hᶧ) diatas nilainya diatas air murni.
Suatu basa adalah mneingkatkan ion hidroksida ( OH⁻)(oxtoby. D. W, 2001)
b. Menurut bronsted-lowry
Suatu asam didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat memberikan ion
hidrogen ,dan sebuah basa didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat
memberikan ion hidrogen. Dalam reaksi asma-basa bronsted – lowry, ion
hidrogen dipindahkan dari asam ke basa. Sebagai contoh bila asam asetat
dilarutkan kedalam air.(Oxtoby. D. W, 2001)
CH₃COOH(aq) + H₂O(l) H₃O (aq) + CH₃COO⁻(aq)
Asam₁ Basa₂ Asam₂ Basa₁
c. Asam basa menurut Lewis
Kimiawan amerika G.N.Lewis merumuskan definisi ini. Berdasarkan
definisi lewis, basa iyalah zat yang dapat memberikan sepasang elekton, dan
asam ialah zat yang dapat menerima sepasang elektron. Misalnya dalam
protonasi amonia, NH₃ bertindak sebagai basa lewis, sebab ia memberikan
sepasang elektonnya kepada proton Hᶧ yang bertindak sebagai asam Lewis
karena menerima sepasang elektron. Reaksi asam-basa Lewis, dengan
demikian adalah suatu reaksi yang melibatkan pemberian sepasang elektron
dari satu spesi ke spesi lain. Reaksi seperti ini tidak menghasilkan air dan
garam (Chang.R, 2005)

II.1.3 Sifat-Sifat Basa

Basa melepaskan ion hidroksida ke dalam air. (Atau, dalam model


Bronsted-Lowry, yang menyebabkan suatu ion hidroksida dilepaskan ke
dalam aiar karena menangkap ion hidrogen yang dilepaskan molekul air).
Basa menetralkan asam dalam reaksi netralisis. Kalimat reaksinya adalah:
Asam ditambahkan basa menghasilkan air dan garam. Bila dinyatakan
dengan simbol, di mana ‘Y’ adalah anion dari asam ‘HY’ dan ‘X’ adalah kation
dari basa ‘XOH’, dan ‘XY’ merupakan garam produk, reaksinya adalah
(Abdul. A, 2010) :

HY + XOH → HOH + XY

Basa mendenaturasi protein. Fenomena inilah yang sebenarnya


bertanggung jawab ketika tangan kita terasa licin jika terkena basa. Basa
kuat yang dapat terlarut baik dalam air itu, seperti basa natrium (NaOH) atau
kalium (KOH) sangat berbahaya bagi tubuh karena sebagian besar zat
pembangun tubuh manusia terbuat dari protein. Kerusakan serius lebih jauh
pada daging dapat dihindarkan dengan penggunaan basa kuatsecara hati-
hati (Abdul. A, 2010).

Basa dapat mengubah lakmus merah menjadi biru. Hal ini tidak berarti
kita katakan bahwa lakmus merupakan satu-satunya indikator asam-basa,
tetapi ketahuilah ia merupakan satu indikator yang paling tua dikenal pada
peradaban manusia (Abdul. A, 2010).

Basa terasa pahit. Ada sangat sedikit bahan makanan yang bersifat
basa, kecuali itu ia terasa pahit. Basa agak lebih penting diperhatkan dalam
tes rasa. Tes rasa lebih berbahaya darpi pada asam karena bas alebih kuat
dalam mendenaturasi protein (Abdul. A, 2010).

II.1.4 Asam Kuat dan Basa

Asam-asam dalam daftar di bawah disebut asam-asam kuat, karena


kekuatan asam ditentukan oleh konsentrasi hidrogen yang terionisasi. Anda
mungkin tidak sering melihat HBr atau Hl di laboratorium karena kedua asam
ini harganya mahal. Anda juga mungkin tidak sering melihat asam peklorat
karena ia dapat meldak apabila tidaka ditangani secara hati-hati. Asam-asam
lain terionisasi tidak lengkap disebut asam-asam lemah, karena terdapat
konsentrasi hidrogen terionisasi yang lebih sedikit dalama larutan. Perbedaan
konsentrasi asam ini diberi istilah encer atau opekat. Muriatic acid adalah
nama yang iberikan pada asam klorida kualitas industri yang digunakan
dalam proses akhir pembuatan beton (Abdul. A, 2010).

II.1.5 Kekuatan Asam Basa

Asam kuat ialah elektrolit kuat , yang untuk kebanyakan tujuan praktis,
dianggap terionisasi sempurn dalam air. kebanyakan asam kuat adalah asam
anorganik: asam klorida (HCl), asam nitrat (HNO₃), asam peklorat (HClO₄),
dan asam sulfat (H₂SO₄). Kebanyakan asam terionisasi hanya sedikit dalam
air. Asam seperti ini digolongkan ke dalam asam lemah. Pada
kesetimbangan, larutan berair dari asam lemah mengandung campuran
antara molekul asam yang terionisasi, ion H₃O⁺, dan basa konjugat. contoh
asam lemah antara lain : asam hidrofluoriat (HF), asam asetat (CH₃COOH),
dan ion amonium (NH₄⁺) (Chang.R, 2005).

Basa kuat ialah semua elektron kuat yang terionisasi sempurna dalam
air :

NaOH(s) H₂O Na⁺ (aq) + OHˉ (aq)

KOH(s) H₂O K⁺(aq) + OHˉ(aq)

Ba(OH)₂(s) H₂O Ba⁺(aq) + 2OHˉ(aq)

Basa lemah, sama seperti asam lemah, adalah elektrolit lemah.Amonia


adalah basa lemah, yang sedikit terionisasi dalam air :

NH₃(aq) + H₂O(l) NH⁺₄(aq) + OHˉ(aq)

II.1.6 Indikator Asam-Basa

Titik ekuivalen, sebagaimana kita ketahui, ialah titik pada saat jumlah
mol ion OH⁺ yang ditambahkan ke larutan sama dengan jumlah mol ion H⁺
yang semula ada. Jadi, untuk menentukan titik ekuivalen dalam suatu titrasi,
kita harus mengatahui dengan tepat berapa volume basa yang ditambahkan
dari buret ke asam dalam labu. Salah-satu cara untuk mencapai tujuan ini
ialah dengan menambahkan beberapa tetes indikator asam-basa ke larutan
asam saat awal titrasi. Indikator biasanya ialah suatu asam atau basa organik
lemah yang menunjukkan warna yang sangat berbeda antara bentuk tidak
terionisasi dan bentuk terionisasinya. Kedua bentuk ini berkaitan dengan pH
larutan yang melarutkan indikator tersebut. Titik akhir titrasi terjadi bila
indikator berubah warna. Namun, tidak semua indikator berubah warna pada
pH yang sama, jadi pilihan indikator untuk titrasi tertentu bergantung pada
sifat asam dan basa yang digunakan dalam titrasi (dengan kata lain, apakah
mereka kuat dan lemah). Dengan memilih indikator yang tepat untuk titrasi,
kita dapat menggunakan titik akhir untuk menentukan titik ekuivalen
(Chang.R, 2005).

Untuk menjadi indikator efektif, HIn dan basa konjugatnya, Inˉ, harus
memiliki warna yang berbeda. Dalam larutan, asam ini sedikit terionisasi :

Hin(aq) H⁺(aq) + Inˉ(aq)

Jika indikator berada dalam medium yang cukup asam, maka


kesetimbangan, menurut asas Le Chatelier, bergeser ke kiri dan warna
indikator yang dominan ialah warna dari bentuk tak-terionisasi (Hin).
Sebaliknya, dalam medium basa, kesetimbangan bergeser ke kanan dan
warna larutan akan timbul terutama adalah warna dari basa konjugat (Inˉ).
Secara kasar, kita dapat menggunakan perbandingan konsentrasi berikut
untuk memprediksi warna indikator yang timbul:

[HIn]
≥ 10 warna asam (Hin) akan dominan
[Inˉ]

[HIn]
≤ 0,1 warna basa konjugat (Inˉ) akan dominasi
[Inˉ]

Jika [HIn] ≈ [Inˉ], maka warna indikator adalah kombinasi dari warna HIn dan
Inˉ (Chang.R, 2005).

Titik akhir suatu indikator tidak terjadi pada satu pH spesifik, melainkan
ada kisaran pH dimana titik akhir terjadi. Pada praktiknya, kita memilih
indikator yang kisaran titik akhirnya terletak pada bagain curam dari kurva
titrasi. Karena titik ekuivalen juga terletak pada bagain curam dari kurva,
pilihan ini menjamin bahwa pH pada titik ekuivalen akan berada dalam
kisaran terjadinya perubahan warna indikator. Fenolftalein adalah indikator
yang cocok untuk titrasi NaOH dan HCl. Fenolftalein tidak berwarna dalam
larutan asam dan larutan netral, tetapi pink kemerahan dalam larutan basa.
Pengukuran menunjukkan bahwa pada pH < 8,3 indikator tidak berwarna
tetapi mulai berubah pink kemerahan bila pH melampaui 8,3 (Chang.R,
2005).

Banyak indikator asam-basa adalah pigmen tumbuhan. Contohnya,


dengan mendidihkan irisan kubis merah dalam air kita dapat mengekstraksi
pigmen yang menunjukkan berbagai warna pada berbagai pH. Pilihan
indikator tertentu oleh kekuatan asam dan basa yang akan dititrasi (Chang.R,
2005).
BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1. Alat
Adapun alat yang digunakan di dalam percobaan ini yaitu buret
25mL,Erleyenmeyer 250 mL, Gelas piala 250 mL, PH meter
III.1.2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan di dalam percobaan ini yaitu larutan HCl
0.1 N, larutan Na2HPO4, larutan NaOH 0.1 N ,0,05N, 0,01N, 0,005N
III.2 Prosedur Kerja
1. Disiapkan larutan baku dan larutan yang akan diukur (usahakan pada suhu
yang sama)

2. Dibilas ujung elektroda dengan aquadest dan dilap dengan tissue.


Usahakan tangan tidak menyentuh elektroda .

3. Dikunci pH pada suhu yang dikehendaki

4. Dimasukkan elektroda kedalam larutan standar (gunakan gelas piala 50mL


yang bersih dan kering) ukur pH larutan

5. Diulangi percobaan ini pada pH yang berbeda

6. Dimasukkan elektroda ke dalam larutan yang akan diperiksa dan catat pH


larutan

7. Dibilas elektroda dengan aquadest dan di lap dengan tissue setiap selesai
mengukur pH larutan

8. Dipipet 10 mL larutan NaOH 0,1 N, masukkan kedalam gelas piala 250 mL


lalu larutan HCl 0,1 N menggunakan buret dan tiap selang 1 mL ukur pH
larutan.(hentikan penambahan jika telah terjadi perubahan pH yang
mencolok)

9. Diulangi poin ke-8 menggunakan larutan NaOH 0,05 N ; 0,001 N dan


0,005 N
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil Pengamatan


Nama Bahan pH

SAMPEL PENITRAAN Awal 1 2 3 4 5


Kelompok mL mL mL mL mL

I NaOH HCl 10 9 8 7 6 5
0,1 N 0,1 N

II HCI NaOH 0 0 0 0-1 1 1


0,5 N 0,05 N

III HCI NaOH 3 3 5 6 7 8


0,1 N 0,1 N

IV HCI NaOH 4 11 9 9 13 11
0,01 N 0,01 N

V NaOH HCI 12 12 11 11 11 11
0,1 N 0,01 N

Sampel Penambahan Hasil (lakmus)

HCl 0,1N (5 ml) NaOH 0,1N (1ml) M–M

HCl 0,1N (5 ml) NaOH 0,1N (2ml) M–M

HCl 0,1N (5 ml) NaOH 0,1N (3ml) M–M


HCl 0,1N (5 ml) NaOH 0,1N (4ml) M–M

HCl 0,1N (5ml) NaOH 0,1N (5ml) M–B

IV. 2 Pembahasan
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan
volume tertentu menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya
dan mengukur volumenya secara pasti. Titrasi asam basa merupakan suatu
metode yang memungkinkan dilakukannya analisis kauntitatif untuk
menentukan konsentrasi laruranasam-basa yang tidak diketahui. Larutan
yang telah diketahui konsentrasinya disebut debgan titrasi.
Skala pH pada cairan adalah antara 0 sampai dengan 14. Angka 0
adalah batas minimum pada skala pH dan angka 14 bertindak sebagai batas
maksimum, dengan angka 7 sebagai titik (titik netral). Semakin rendah suatu
pH maka semakin asam suatu cairan, sedangkan 0 berarti suatu zat yang
sangat asam (asam kuat) dan sebaliknya pH 14 berarti suatu zat sangat basa
(basa kuat).
Pengukuran pH dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain
menggunakan indikator universal dan pH meter. Indicator universal adalah
kumpulan cairan indikator yang menujukkan perubahan warna dalam larutan,
yang menginpretasikan larutan tersebut asam atau basa. Indicator universal
dapat berbentuk kertas maupun larutan. Sama halnya dengan alat ukur
lainnya, pH meter perlu dan harus terlebih dahulu dikalibrasi agar dapat
memberikan akuran dengan tingkat keakurasia yang tepat..
Untuk melakukan pengecekan tingkat keasaman maupun kebasaan
satuan larutan kita bisa menggunakan bantuan keras lakmus. Lakmus adalah
kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan kedalam
larutan asam atau basa. Warna yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh
kadar pH dalam larutan yang ada.
Jika setelah dilakukan uji asam basa, kertas lakmus menujukkan warna
merah setelah dicelupkan pada larutan maka berarti larutan yang diperiksa
adalah larutan asam dengan nilai pH dibawah 7. Sedangkan jika kertas
lakmus memperlihatkan warna biru setelah dicelupan, maka berarti larutan
tersebut merupakan larutan basa dengan skala pH diatas 7. Kertas lakmus
yang telah digunakan sebalikanya tidak digunakan kembali agar tidak terjadi
kesalahan dalam pengujian asam basa suatu larutan.
Pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan sampel dan
penitran yang bersifar asam kuat HCL (0,1 N, 0,5 N, & 0,01 N) dan basa kuat
(0,1 N, 0,01 N & 0,05 N). Dilakukan titrasi pada sempel untuk melihat
perubahan pH yang terjadi dengan menggunakan Indikator warna pH. Cara
penggunaan dengan menggunakan pH universal yaitu dicelupan kertas
indikator universal dalam larutan sampel NaOH maupun HCI, dicocokkan
warna yang dihasilkan dengan kertas indikator PH untuk menentukan PH dari
larutan sampel meskipun tidak seakurat PH meter yang mempunyai tingkat
ketelitian tinggi
Pada percobaan ke-1 menggunakan sampel NaOH dengan penitraan
HCI 0,1 N, pH awal sampel 10, dititrasi dengan volume penitrat 1mL pH =5, 2
mL pH =8, 3 mL pH =7, 4 mL pH=6, dan 5 mL pH =5. Terjadi perubahan pH
menjadi asam dikarenakan konsentrasi sampel dan penitrat adalah sama.
Pada perconaan ke-2 menggunakan sampel HCl 0,5 N dengan
penitraan NaOH 0,05 N, pH awal sampel 0, dititrasi dengan volume penitrat 1
mL pH =0, 2 mL pH =0, 3 mL pH =0-1, 4 mL pH =1 dan 5 mL pH =1. Belum
terjadi perubahan pH hingga asam dikarenakan kecilnya konsentrasi yg
direaksikan dengan sampel.
Percobaan ke-3 menggunakan sampel HCl 0,1 N dan penitrat NaOH
0,1N, pH awal sampel =3, dititrasi dengan volume penitrat 1 mL pH =3, 2 mL
pH=5, 3 mL pH =6, 4 mL pH =7, dan 5 mL pH=8. Terjadi perubahan pH
sampel menjadi basa pada penitraan 5 mL.
Percobaan ke-4 menggunakan sampel HCl 0,01 N dan penitrat NaOH
0,01 N. PH awal sampel 4, dititrasi dengan volume penitrat 1 mL pH=11, 2
mL pH=9, 3 mL pH=9 4 mL pH=13, dan 5 mL pH=15. Terjadi perubahan pH
sampel menjadi basa pada volume penitraan ke 1 sampai ke 5 mL.
Pada percobaan ke-5 menggunakan sampel NaOH 0,1 N dan penitrat
HCl 0,01 N, dititrasi dengan volume penitran 1 mL pH=12, 2 mL pH=11, 3 mL
pH =11, 4 mL pH=11, 5 mL pH=11. Belum terjadi pH hingga menjadi asam
dikerenakan karena kecilnya konsentrasi penitraan yg direaksikan dengan
sampel.
Pada percobaan ke-6 menggunakan sampel HCl 0,1N sebanyak 5mL
ditambahkan NaOH sebanyak 5mL dengan konsentrasi 0,1N. Pengamatan
dilakukan dengan mengukur pH setiap penambahan 1mL HCl 0,1N ketika
diukur menggunakan kertas lakmus merah hasilnya tidak berubah (asam).
Pada penambahan 1mL NaOH 0,1N ke dalam sampel kertas lakmus merah
juga tidak berubah yaitu tetap berwarna merah (asam). Dan pada
penambahan NaOH 2mL kertas lakmus tetap berwarna merah (asam). Pada
penambahan 3mL NaOH kertas lakmus merah tetap berwarna merah (asam).
Penambahan NaOH 0,1N 4mL ke dalam sampel hasil yang diperoleh tetap
berwarna merah (asam). Dan pada penambahan NaOH 5mL dengan
konsentrasi 0,1N kertas lakmus merah berubah menjadi berwarna biru
(basa). Hal ini menunjukkan bahwa penambahan 5mL NaOH ke dalam
sampel yaitu HCl 0,1N (5mL) membuat yang bersifat asam menjadi bersifat
basa.
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:

1.Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat untuk
menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah
diketahui konsentrasinya.

2.Asam kuat ialah elektrolit kuat, yang untuk kebanyakan tujuan praktis,
dianggap terionisasi sempurna dalam air.

3. Titik ekuivalen,sebagaimana kita ketahui, ialah titik pada saat jumlah mol
ion OHᶧ yang ditambahkan ke larutan sama dengan jumlah mol ion Hᶧ yang
semula ada.

4. Pengukuran pH dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain


menggunakan indikator universal,kertas lakmus dan pH meter.

V.2 Saran

V.2.1 Saran Untuk Laboratorium

Adapun saran untuk laboratorium yaitu agar laboratorium dapat di perluas


lagi.

V.2.2 Saran Untuk Dosen

Adapun saran untuk dosen yaitu sekiranya ikut hadir dalam praktikum.

V.2.3 Saran Untuk Asisten

Adapun saran untuk asisten yaitu sekiranya dapat hadir dan mendampingi
praktikan saat praktikum berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA

Sastrohamidjojo. H. 2010.”Kimia Dasar”. Gadjah Mada University Press


:Yogyakarta

Chang, R.2005.”Kimia Dasar”. Erlangga:Jakarta

Oxtoby.D.W. 2001.”Kimia Modern”. Erlangga:Jakarta

Ahmad,Hizkia.2004.” Kimia fisika”. Muha: Yogyakarta

Dr.sukardjo.1997.”Kimia fisika”.PT Rineka cipta: Jakarta

Razid.2010.”Kimia fisika untuk paramedis”. Erlangga:Yogyakarta