You are on page 1of 7

TERAPI OKUPASI AKTIVITAS WAKTU LUANG TERHADAP

PERUBAHAN GEJALA HALUSINASI PENDENGARAN


PADA PASIEN SKIZOFRENIA
Ni Made Wijayanti
I Wayan Candra
I Dewa Made Ruspawan
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar
Email: wijayanti_made@yahoo.com

Abstract. The occupational therapy leisure time activity to changes in symptoms of


hallucinations in schizophrenic patients. This study aimed to determine the effect of
occupational therapy leisure time activity to changes in symptoms of hallucinations in
schizophrenic patients. This type of study is pre ekspermental one-group pre-test-
post-test design. Sampling tecnic quota sampling. Sample 20 peoples. After
observation showed symptoms of hallucinations experienced by patients with
schizophrenia before given occupational therapy leisure time activity most 12
peoples (60%) in the moderate category. After a given occupational therapy leisure
time activity most 12 peoples (60%) in the mild category.ilcW oxon sign rank test
results obtained test p=0.000<p=0.010, which means there is a very significant effecf
occupational therapy leisure time activity to changes in symptoms of hallucinations
in schizophrenic patients.

Abstrak.Terapi okupasi waktu luang terhadap perubahan gejala halusinasi


pendengaran pada pasien skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh terapi okupasi (aktivitas waktu luang) terhadap perubahan gejala halusinasi
pada pasien skizofrenia. Jenis penelitian ini adalah pra ekspermental dengan
rancangan One-group pre-test-post-test design. Teknik sampling quota
sampling.Jumlah sample sebanyak 20 orang. Setelah dilakukan pengamatan
didapatkan hasil gejala halusinasi yang dialami pasien skizofrenia sebelum diberikan
terapi okupasi aktivitas waktu luang yang terbanyak 12 orang (60%) dalam kategori
sedang. Setelah diberikan terapi okupasi aktivitas waktu luang gejala halusinasi yang
terbanyak 12 orang (60%) dalam kategori ringan. Hasil uji Wilcoxon sign rank test
didapatkan p=0,000< p=0,010 yang berarti ada pengaruh yang sangat signifikan
pemberian terapi okupasi aktivitas waktu luang terhadap perubahan gejala halusinasi
pada pasien skizofrenia.

Kata Kunci: Terapi okupasi, gejala halusinasi, skizofrenia

Gangguan jiwa yang terjadi di era salah satunya gangguan jiwa yang sering
globalisasi dan persaingan bebas ini ditemukan dan dirawat yaitu skizofrenia
cenderung semakin meningkat. Peristiwa (Maramis, 2008). Sekitar 45% pasien yang
kehidupan yenanugh p dengan tekanan masuk rumah sakit jiwa merupakan pasien
seperti kehilangan orang yang dicintai, skizofrenia dan sebagian besar pasien
putusnya hubungan sosial, pengangguran, skizofrenia tersebut memerlukan perawatan
masalah dalam pernikahan, krisis ekonomi, (rawat inap dan rawat jalan) yang lama
tekanan dalam pekerjaan dan deskriminasi (Videbeck, 2008).
meningkatkan risiko terjadinya gangguan Data American Psychological
jiwa (Suliswati, 2005). Jenis dan Association (APA) tahun 2010
karakteristik gangguan jiwa sangat beragam, menyebutkan, satu persen populasi
penduduk dunia (rata-rata 0.85%) yaitu bulan September sampai dengan
mengalami skizofrenia (Joys, 2011), Nopember tahun 2012 sebanyak 285 orang,
sedangkan Benhard (2010) menjelaskan 285 pasien tersebut 62 orang (21,7%)
angka prevalensi skizofrenia di dunia adalah adalah pasien dengan halusinasi (Rekam
1 per 10.000 orang per tahun. Angka Medik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali,
prevalensi skizofrenia di Indonesia adalah 2012). Pasien skizofrenia dengan halusinasi,
0.3 sampai 1 persen, terjadi pada usia 18 memiliki tingkat frekuensi halusinasi yang
sampai 45 tahun, tetapi ada juga berusia 11 berbeda-beda pada tiap individunya,
sampai 12 tahun. Penduduk Indonesia tahun semakin awal pasien ditangani dapat
2013 mencapai lebih kurang 240 juta jiwa, mencegah pasien mengalami halusinasi
maka diperkirakan sekitar 2,4 juta jiwa fase yang lebih berat sehingga risiko
mengalami skizofrenia (Prabowo, 2010). perilaku kekerasan dapat dicegah
Berdasarkan laporan tahunan RSJ Provinsi (Megayanthi, 2009).
Bali tahun 2010 pasien yang dirawat Satu diantaranya penanganan pasien
sebanyak 1282 klien terdapat 1174 (91,56%) skizofrenia yang mengalami halusinasi
pasien yang menderita skizofrenia, tahun adalah dengan terapi okupasi. Terapi
2011 pasien yang dirawat sebanyak 1293 okupasi merupakan suatu cara atau bentuk
orang terdapat 1198 (92,65%) pasien yang psikoterapi suportif yang penting dilakukan
mengalami skizofrenia dan tahun 2012 untuk meningkatkan kesembuhan pasien
pasien yang dirawat sebanyak 1302 orang (Djunaedi & Yitnarmuti, 2008). Terapi
terdapat 1218 (93,54%) pasien yang okupasi membantu menstimulasi pasien
mengalami skizofrenia (Rekam Medik melalui aktivitas yang disenangi
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, 2012). pasien.Satu jenis terapi okupasi yang
Skizofrenia merupakan salah satu diindikasikan untuk pasien halusinasi
gangguan jiwa berat yang ditandai dengan adalah aktivitas mengisi waktu luang.
gangguan realitas (halusinasi dan waham), Aktivitas ini bertujuan untuk memberi
ketidakmampuan berkomunikasi, afek yang motivasi dan memberikan kegembiraan,
tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif hiburan, serta mengalihkan perhatian psien
(tidak mampu berfikir abstrak) serta dari halusinasi yang dialami sehingga
mengalami kesukaran melakukan aktivitas pikiran pasien tidak terfokus dengan
sehari-hari (Keliat, 2010). Pasien halusinasinya (Djunaedi & Yitnarmuti,
Skizoprenia mengalami halusinasi 2008)
disebabkan karena ketidakmampuan pasien Aktivitas mengisis waktu luang yang
dalam menghadapi stressor dan kurangnya diberikan adalah berupa aktivitas sehari-
kemampuan dalam mengenal dan cara hari, yaitu aktivitas mengisi waktu luang
mengontrol halusinasi. Tanda dan gejala seperti menyapu, membersihkan tempat
halusinasi seperti bicara sendiri, senyum tidur dan membuat canang/sesajen.
sendiri, tertawa sendiri, menarik diri dari Aktivitas waktu luang dapat membantu
orang lain, tidak dapat membedakan yang pasien mencegah terjadinya stimuli panca
nyata dan tidak nyata (Maramis, 2008). indra tanpa adanya rangsang dari luar dan
Halusinasi yang tidak mendapatkan membantu pasien untuk berhubungan
pengobatan maupun perawatan lebih lanjut dengan orang lain atau lingkungannya
dapat menyebabkan perubahan perilaku secara nyata (Creek, 2010).
seperti agresi, bunuh diri, menarik diri dari Aktivitas pekerjaan yang biasanya
lingkungan, dan dapat membahayakan diri diberikan pada terapi okupasi di Rumah
sendiri, orang lain, dan lingkungan (Stuart Sakit Jiwa Provinsi Bali bersifat aktivitas
dan Sundeen, 2007). kelompok seperti sembahyang bersama
Data dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi (sembahyang secara Agama Hindu karena
Bali di Bangli, jumlah rata-rata pasien yang mayoritas pasien adalah beragama Hindu),
dirawat tiap bulan dalam tiga bulan terakhir kegiatan olahraga (senam dan permainan),
membuat sesajen, dan membuat dupa. bergantian selama 7 hari. Setelah terapi
Pasien dapat memilih kegiatan membuat okupasi dilaksanakan selama 7 hari,
kerajinan tangan seperti merenda, dilakukan pengukuran kembali (post-test)
menyulam, menjahit, mengukir, dan gejala halusinasi pendengaran pada pasien
melukis. Bagi pasien laki-laki aktivitas skizofrenia. Instrumen pengumpulan data
waktu luang biasanya diberikan kegiatan yang digunakan pada tahap pre test dan post
berupa menabuh gong atau gamelan Bali test berupa lembar wawancara dan observasi
dan membuat batako. untuk mengukur gejala halusinasi pada
pasien skizofrenia berdasarkan instrumen
METODE yang sudah baku dari Rawlins, William dan
Penelitian ini merupakan penelitian pre Beck, (1993). Instrumen ini terdiri dari isi
eksperimental dengan rancangan One-group halusinasi, frekuensi haalusinasi, situasi
Pre-test-posttest Design. Populasi dalam pencetus, dan respon pasien. Teknik analisa
penelitian ini adalah populasi terjangkau data yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu seluruh pasien skizofrenia dengan adalah uji Wilcoxon sign rank test.
masalah keperawatan halusinasi
pendengaran yang dirawat di ruang Kunti HASIL DAN PEMBAHASAN
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali kurun Sebelum hasil penelitian secara rinci
waktu satu bulan yaitu bulan Mei-Juni 2013. diuraikan dalam hasil dan pembahasan ini,
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien terlebih dahulu dikemukakan berbagai
skizofrenia dengan masalah keperawatan karakteristik subyek penelitian. Karakteristik
halusinasi pendengaran yang di rawat di subyek penelitian dalam penelitian ini
Ruang Kunti Rumah Sakit Jiwa Provinsi diuraikan berdasarkan umur, status
Bali yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah perkawinan dan tingkat pendidikan sebagai
sample sebanyak 20 orang. Teknik berikut.
pengambilan sampel dalam penelitian adalah Tabel 1.Karakteristik subyek penelitian
non probability sampling jenis Quota berdasarkan umur
Sampling. Kegiatan penelitian diawali
dengan melakukan bina hubungan saling No Umur f %
percaya (BHSP) pada pasien skizofrenia 1 20-30 th 3 15,00
yang mengalami halusinasi pendengaran 2 31-40 th 7 35,00
serta yang memenuhi kriteria inklusi. 3 41-50 th 10 50,00
Selanjutnya dilakukan pengumpulan data Total 20 100
berupa pre test pada pasien skizofrenia yang
mengalami halusinasi pendengaran. Setelah Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa
melakukan pengukuran pre-test pada sample sebagain besar responden berada pada
penelitian berkaitan dengan gejala golongan umur 41 – 50 tahun sejumlah 10
halusinasi, peneliti melakukan terapi orang (50,00) %.
okupasi kepada responden penelitian. Terapi Tabel 2.Karakteristik subyek penelitian
okupasi dilakukan terdiri dari empat tahap berdasarkan status perkawinan
yaitu tahap persiapan, tahap orientasi, tahap
kerja, dan tahap terminasi. Jenis terapi No Status
okupasi yang diberikan adalah aktivitas f %
Perkawinan
waktu luang seperti menyapu, 1 Kawin 9 45,00
membersihkan tempat tidur dan membuat 2 Tidak kawin 11 55,00
canang/sesajen. Waktu untuk melakukan Total 20 100
tiap-tiap aktivitas tersebut adalah 45 menit.
Aktivitas menyapu, membersihkan tempat Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa
tidur dan membuat canang/sesajen dilakukan sebagian besar responden tidak kawin
sehari dua kali dan dilakukan secara sejumlah 11 orang (55,00%)
Tabel 3.Karakteristik subyek penelitian Hasil penelitian yang didapat
berdasarkan status perkawinan menunjukan sebelum diberikan terapi
okupasi aktivitas waktu luang gejala
No Pendidikan f % halusinasi pendengaran yang dialami pasien
skizofrenia sebagian besar dalam kategori
1 Dasar 9 45,00 sedang. Hal ini disebabkan karena pasien
2 Menengah 11 55,00 belum pernah mendapatkan terapi okupasi
Total 20 100 sehingga responden tidak dapat mengalihkan
dan mengotrol halusinasi yang dialaminya.
Tabel 3 di atas menunjukkan sebagian Halusinasi merupakan salah satu respon
besar responden berpendidikan tingkat maladaptif individu yang berada dalam
menengah sejumlah 11 orang (55,00%) rentang respon neurobiologi. Pasien yang
Hasil penelitian secara lengkap dapat sehat mampu mengidentifikasi dan
diuraikan sebagai berikut. menginterpretasikan stimulus berdasarkan
Tabel 4. Gejala halusinasi sebelum (pre-test) informasi yang diterima melalui panca indra,
diberikan perlakuan pasien dengan halusinasi mempersepsikan
suatu stimulus dengan panca indera yang
No Gejala Halusinasi sebenarnya stimulus tersebut tidak ada.
f %
pre-test Halusinasi yang dialami pasien skizofrenia
1 Berat 8 40,00 disebabkan karena ketidakmampuan
2 Sedang 12 60,00 responden dalam menghadapi stressor dan
3 Ringan 0 0 kurangnya kemampuan dalam mengenal dan
Total 20 100 cara mengontrol halusinasi sehingga
responden mempersepsikan sesuatu yang
Tabel 4 di atas menunjukkan gejala sebenarnya tidak terjadi. Responden tidak.
halusinasi pendengaran yang dialami pasien mampu membedakan rangsang internal dan
skizofrenia sebelum diberikan terapi okupasi eksternal, tidak dapat membedakan lamunan
aktivitas waktu luang paling banyak dalam dan kenyataan, dan tidak mampu memberi
kategori sedang yaitu 12 orang (60 %). Hasil respon secara tepat.
penelitian sejenis belum ada, akan tetapi Hasil penelitian yang didapat, sesuai
peneliti menemukan dari penelitian yang dengan teori (Maramis, 2008) bahwa pasien
dilakukan oleh Purwanto (2010) mengenai Skizoprenia mengalami halusinasi
pengaruh terapi kerja terhadap perubahan disebabkan karena ketidakmampuan pasien
gejala halusinasi pada pasien psikosis di RSJ dalam menghadapi stressor dan kurangnya
daerah Surakarta. Hasil penelitian diperoleh kemampuan dalam mengenal dan cara
sebelum diberikan terapi kerja sebagian mengontrol halusinasi. Tanda dan gejala
besar yaitu 7 orang (70%) gejala halusinasi halusinasi yaitu bicara sendiri, senyum
dalam kategori berat. Penelitian yang sendiri, ketawa sendiri, menarik diri dari
dilakukan oleh Wahyuni (2010) yang orang lain, tidak dapat membedakan yang
meneliti tentang pengaruh terapi okupasi nyata dan tidak nyata.
aktifitas menggambar terhadap frekuensi Tabel 5.Gejala halusinasi pasien skizofrenia
halusinasi pasien skizofrenia di Ruang setelah (pos-test) diberikan
Model Praktek Keperawatan Profesional perlakuan
Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru. Hasil
penelitian menyebutkan bahwa sebelum No Gejala halusinasi
diberikan terapi okupasi aktivitas f %
pos-test
menggambar sebagian besar yaitu 17 orang 1 Berat 2 10,00
(85%) mengalami peningkatan frekuensi 2 Sedang 6 30,00
halusinasi. 3 Ringan 12 60,00
Total 20 100
Tabel 5 di atas menunjukkan gejala Selain itu terjadinya penurunan frekuensi
halusinasi pendengaran yang dialami pasien halusinasi pendengaran setelah pemberian
skizofrenia setelah diberikan terapi okupasi terapi okupasi waktu luang, karena adanya
aktivitas waktu luang paling banyak dalam beberapa pasien yang mampu melakukan
kategori ringan yaitu 12 orang (60,00%). aktivitas dengan baik pada saat pelaksanaan
Hasil penelitian sejenis belum ada,akan terapi. Hal ini mempengaruhi pasien lain
tetapi peneliti menemukan penelitian yang untuk fokus dan menikmati aktivitas yang
dilakukan oleh Purwanto (2010) mengenai diberikan mengikuti teman sekelompoknya,
pengaruh terapi kerja terhadap perubahan sehingga halusinasi dapat dialihkan. Hal ini
gejala halusinasi pada pasien psikosis di RSJ sesuai dengan yang diungkapkan oleh Keliat
Daerah Surakarta. Hasil penelitian diperoleh (2005) bahwa salah satu peran dari
setelah diberikan terapi kerja sebagaian kelompok adalah sebagai pendorong
besar yaitu 9 orang (90%) gejala halusinasi (encourager) yang berfungsi sebagai
dalam kategori ringan. pemberi pengaruh positif pada anggota
Penelitian ini juga sesuai dengan hasil kelompok yang lain.
penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni Hasil penelitian menunjukkan ada
(2010) yeng meneliti pengaruh terapi pengaruh yang sangat signifikan pemberian
okupasi aktivitas menggambar terhadap terapi okupasi aktivitas waktu luang
frekuensi halusinasi pasien skizofrenia terhadap perubahan gejala halusinasi
diruang Model Praktek Keperawatan pendengaran pada pasien skizofrenia
Profesional (MPKP) Rumah Sakit Jiwa (p=0,000<p=0,010). Hasil penelitian sejenis
Tampan Pekanbaru. Hasil penelitian di belum ada akan tetapi peneliti menemukan
peroleh hasil setelah diberikan terapi penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni
okupasi aktivitas menggambar sebagian (2010) yang meneliti pengaruh terapi
besar yaitu 15 orang (75%) mengalami okupasi aktivitas menggambar terhadap
penurunan frekuensi halusinasi. frekuensi halusinasi pasien skizofrenia
Hasil penelitian menunjukkan sebagaian diruang Model Praktek Keperawatan
besar gejala halusinasi pendengaran yang Profesional (MPKP) Rumah Sakit Jiwa
dialami responden setelah diberikan terapi Tampan Pekanbaru. Hasil penelitian yang di
okupasi aktivitas waktu luang dalam peroleh p=0,018 <p= 0,05 yang berarti ada
kategori ringan, dan 15 responden pengaruh terapi okupasi menggambar
mengalami penurunan gejala halusinasi terhadap frekuensi halusinasi pasien
pendengaran. Terjadinya penurunan gejala skizofrenia. Penelitian yang dilakukan oleh
halusinasi pendengaran setelah diberikan Purwanto (2010) mengenai pengaruh terapi
terapi okupasi karena pada saat pelaksanaan kerja terhadap perubahan gejala halusinasi
terapi pasien diajari melalui tuntunan oleh pada pasien psikosis di RSJ Daerah
pemimpin terapi okupasi atu fasilitator Surakarta, menggunakan desain penelitian
untuk melakukan tindakan tertentu yaitu quasi experiment. Pada penelitian ini
dituntun untuk fokus dan berespon pada didapatkan nilai p=0,001<p=0,050 yang
stimulus yang diberikan dengan positif. Hal berarti ada pengaruh terapi kerja terhadap
ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh perubahan gejala halusinasi pada pasien
Bandura dalam Satrianto dan Putra (2008) psikosis.
bahwa belajar modeling dan observasi dapat Terapi okupasi berpengaruh terhadap
mempengaruhi penguasaan tingkah laku perubahan gejala halusinasi pendengaran
sosial tertentu. Salah satu belajar modeling pada pasien skizofrenia karena proses terapi
adalah verbal instrucsions yaitu dengan okupasi adalah merangsang atau
adanya tuntunan untuk melakukan tindakan menstimulasikan pasien melalui aktivitas
tertentu, sehingga pasien belajar untuk fokus yang disukainya dan mendiskusikan
dan memberi respon kepada stimulus yang aktivitas yang telah dilakukan untuk
diberikan berupa aktivitas. mengalihkan halusinasi pada dirinya. Selain
itu, adanya pengaruh terapi okupasi terhadap DAFTAR RUJUKAN
gejala halusinasi pada pasien skizofrenia ini American Psychological Association, 2010,
disebabkan karena pada saat pelaksanaan Publication manual of the American
Psychological Association.
terapi okupasi diberikan reinforcement Washington, DC. American
positive atau penguatan positif yang salah Psychological Association.
satunya melalui pujian pada tugas-tugas
yang telah berhasil pasien lakukan seperti Benhard, 2010, Hubungan Lama Hari Rawat
dengan Kemampuan Pasien
pasien mampu melakukan aktivitas waktu Skizofrenia Mengontrol Halusinasi
luang dengan baik. Dengan memberikan di Ruang MPKP RSJ Magelang.
reinforcement positive, responden merasa (diakses 10 Desember 2012),
dihargai dan keinginan bertambah kuat http://www.skripsistikes.com
untuk mengulangi perilaku tersebut sehingga Creek, 2010, Comprehensive Texbook of
terjadi pengalihan halusinasi dengan Psychiatry. Seventh Edition. New
aktivitas-aktivitas yang dilakukan dan York: Williams & Wilkins.
disenangi pasien. Hal ini sesuai dengan
Djunaedi & Yitnarmuti, 2008, Psikoterapi
yang diungkapkan oleh Sudiatmika (2010) Gangguan jiwa. Jakarta: PT. Buana
bahwa metode penguatan positif atau Ilmu Populer.
reinforcement positif memiliki pengaruh
berarti terhadap pengulangan perilaku. Joys, 2011 Deskripsi Perubahan
Kemampuan Mengontrol Halusinasi
Penguatan positif memiliki kekuatan yang Pada Klien Dengan Terapi Individu
mengesankan sebagai alat pembentuk di Ruang MPKP RSJ Magelang.
perilaku. Aktivitas waktu luang yang dapat (diakses 10 Desember 2012),
menurunkan gejala halusinasi pendengaran http://www.skripsistikes.com
pada pasien skizofrenia. Keliat, B.A., 2005, Peran serta keluarga
dalam perawatan klien gangguan
SIMPULAN jiwa. Jakarta : EGC
Gejala halusinasi pendengaran yang
Keliat, B.A., 2010, Model praktek
dialami pasien skizofrenia sebelum keperawatan professional jiwa.
diberikan (pre-test) terapi okupasi aktivitas Jakarta: EGC
waktu luang terbanyak 12 orang (60,00%)
berada dalam kategori sedang.Gejala Maramis, 2008, Catatan Ilmu Kedokteran
Jiwa. Surabaya : Airlangga
halusinasi pendengaran yang dialami pasien University Press
skizofrenia setelah diberikan (pos-test)
terapi okupasi aktivitas waktu luang Megayanthi, 2009, Deskripsi Peruhahan
terbanyak 12 orang (60,00%) berada dalam Kemampuan Mengontrol Halusinasi
Pada Klien Dengan Terapi Individu
kategori ringan. Hasil penelitian di Ruang MPKP RSJ Magelang.
menunjukan ada pengaruh yang sangat Semarang : Skripsi. Tidak
signifikan pemberian terapi okupasi aktivitas dipublikasikan.
waktu luang terhadap perubahan gejala
Purwanto, 2010, Pengaruh Terapi Kerja
halusinasi pendengaran yang dialami oleh Terhadap Perubahan Gejala
pasien skizofrenia (p=0,000<p=0,010). Halusinasi Pada Pasien Psikosis di
Pemberian terapi okupasi aktivitas waktu RSJ Daerah Surakarta. Jakarta:
luang dapat menurunkan gejala halusinasi Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia. Tidak
pendengaran pada pasien skizofrenia. Hasil dipublikasikan.
penelitian ini menunjukkan bahwa
pemberian terapi okupasi aktivitas waktu Putra, R. E. & Tirta, I G.R., 2008, Terapi
luang dapat menurunkan gejala halusinasi Okupasi Pada Pasien Skizofreniadi
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.
pendengaran pada pasien skizofrenia Makalah Disampaikan pada
diberbagai tatanan pelayanan kesehatan Kongres Nasional Skizofrenia
yang ada.
V, Mataram, Nusa Tenggara
Barat,
24 – 26 Oktober 2008
Purwanto, 2010, Pengaruh Terapi Kerja
Terhadap Frekuensi Halusinasi Pada
Pasien Psikosis Di RSJ Daerah
Surakarta. Jakarta: Skripsi. Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Prabowo, 2010, Pengaruh Family
Psychoeducation terhadap Beban dan
Kemampuan Keluarga dalam
Merawat Klien dengan Halusinasi di
Kabupaten Bantul Yogyakarta.
Jakarta: Tesis. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas
Indonesia.Tidak dipublikasikan.
Rawlins, William dan Beck, 1993, Mental
Health Psychiatric Nursing : a
Holistic Life-Cycles Approach. St
Louis : The C.V. Mosby Company.
Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Propinsi
Bali, 2012, Laporan Tahunan
Rumah Sakit Jiwa Propinsi Bali.
Bangli.
Sudiatmika, 2010, Efektivitas Cognitive
Behaviour Therapy dan Rational
Emotive Behaviour Therapy
terhadap Klien dengan Perilaku
Kekerasan dan Halusinasi di Rumah
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.
Jakarta : Tesis. FIK UI. Tidak
dipublikasikan.
Suliswati, Payapo T.A., Maruhawa Jeremia,
Sianturi Yenny, Sumijatun, 2005,
Konsep Dasar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Stuart dan Sundeen, 2007, Principles and
practice of psychiatric nursing. St
Louis Missouri: Mosby year book.
Videbeck, 2008, Buku Ajar Keperawatan
Jiwa. Jakarta : EGC
Wahyuni, 2010, Pengaruh Terapi Okupasi
Aktivitas Mengambar Terhadap
Frekuensi Halusinasi Pasien
Sizofrenia Diruang Model Praktek
Keperawatan Profesional (MPKP)
Rumah Sakit Jiwa Tampan
Pekanbaru.. Medan: Skripsi. USU.
Tidak dipublikasikan