You are on page 1of 19

KONSEP NYERI

Pada umumnya penyakit pada tubuh menimbulkan rasa nyeri, selanjutnya


kemampuan unutuk mendiagnosis bermacam macam penyakit tergantung dengan
berapa jauh pengetahuan dokter mengenai bermacam macam kualitas rasa nyeri.
Dengan alasan tersebut bab berikut ini mencurahkan perhatian pada rasa nyeri dan
dasar dasar fisiologinya yang berkaitan dengan fenomena klinik.
Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh rasa nyeri timbul bila
ada jaringan rusak hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara
memindahkan stimulus nyeri. Bahkan aktifitas ringan saja. Penderita yang telah
kehilangan rasa sakitnya misalnya setelah mengalami mengalami kecelakaan pada
medula spinalis tidak akan mempunyai rasa nyeri sehingga tidak akan mempunyai
rasa nyeri sehingga tidak akan merubah posisinya. Akhirnya, keadaan ini
menimbulkan ulerasi apada daerah yang tertekan(Ganong, 2002).

A. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah suatu kondisi yang lebih dari pada sensasi tunggal yang
disebabkan oleh stimulus tertentu. (Guyton, 1997)
Nyeri merupakan mekanisme fisiologi yang bertujuan untuk melindungi
diri. Bila seseorang merasakan nyeri maka perilaku akan berubah, misalnya
seseorang kakinya terkilir pasti akan menghindari aktivitas mengangkat
barang penuh pada kakinya untuk mencegah cedera lebih lanjut (Ganong,
2002).
Nyeri merupakan suatu kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan
bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang
dalam hal skala atau tingkatannya dan hanya tersebutlah yang dapat
menjelaskan atau mengevaluasi raasa nyeri dialaminya (Alimul, 2007).
Menurut Mc. Coffery nyeri adalah suatu keadaan yang memengaruhi
seseorang yang keberadaannya diketahui hanya jika orang tersebut pernah
mengalaminya, menurut Wolf Weifsel Feurst nyeri adalah suatu perasaan
menderita secara fisik maupun mental atau perasaan yang bisa menimbulkan

1
ketegangan, menurut arthut C. Curton nyeri adalah suatu mekanisme produksi
bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu
tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri dan menurut
Scrunum nyeri adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat
terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak
dan diikuti oleh reaksi fisik (Alimul, 2007).

B. Fisiologi Nyeri
Fisiologi nyeri meliputi resepsi , persepsi dan reaksi.impuls saraf yang
di hasilkan stimulus nyeri menyebar disepanajang serabut saraf aferen. Saraf
ini mengonduksi 2 stimulus nyeri : serabut A-delta bermielinasi dan cepat
dan serabut C lambat.serabut A-delta dan serabut C mentransmisikan implus
akan melepaskan mediator biokimia yang mengaktifkan respon nyeri.
Kemudian neurotransmiter dilepaskan menyebabkan teranmisi sinapsis saraf
perifer yang mentransmisikan implus nyeri ke sisitem saraf pusat. Lalu
neuroregulator di lepaskan untuk menghambat stimulasi nyeri. Respon reflek
protektif melalui serabut A-delta umpan balik ke medula spinalis merangsang
implus motorik ke otot perifer menyebabkan kontransi otot menarik diri dari
sumber nyeri.
Gate control
Teori gate control dari melzack dan wall (1965) mengusulkan bahwa
implus nyeri dapat diatur atau di hambat oleh mekanisme pertahanan di
sepanjang sistem saraf pusat.teori ini mengatakan bahwa implus nyeri di
hantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan implus di hambat saat sebuah
petahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar
terapi menghilangkan nyeri.terdapat mekanoreseptor neuron beta-A yang
melepaskan neurotransmiter penghambat. Mekanisme penutupan ini dapat di
lihat dari seorang perawat mengosok punggung klien, jika masukan yang
dominan dari serabut delta-A dan C maka akan di buka.
Saat individu sadar akan nyeri maka akan terjadi rekasi kompleks.
Menurut McCaffery , 3 sistem interaksi persepsi nyeri yaitu motivasi , afektif,

2
kognitif-evaluatif.bentuk reaksi nyeri yaitu respon fisilogis,stimulasi cabang
simpatis menghasilkan respon fisiologis. Jika nyeri terus menenrus ,maka
saraf parasimpatis akan menghasilkan aksi. Fase pengalaman nyeri sebagai
respon nyeri:
1. Antisipasi : memungkinkan individu belajar tentang nyeri. Ada upaya
menghilangkan nya
2. Sensai:ketika merasakan nyeri . gerakan khas,ekspresi wajah
mengindikasikan nyeri seperti mengeretakan gigi,membungkuk
menyertai nyeri
3. Akibat / aftermath : nyeri berkurang atau berhenti. Namun masih tetap
butuh perhatian perawat meski sumber nyeri dapat dikontrol.

Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya


rangsangan. Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor, merupakan
ujung-ujung saraf sangat bebas memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki
myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada visera,
persendian, dinding arteri, hati dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat
memberikan respon akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi
tersebur berupa zat kimiawi seperti histamin, bradikin, prostaglandin dan
macam-macam asam yang dilepas apabila tersdapat kerusakan pada jaringan
akibat kekurangan oksigenasi. Stimulasi lain dapat beruapa termal, listrik atau
mekanis.
Selanjutnya stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut
ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh
dua jenis serabut yang bermyelin rapat atau serabut a (delta) dan serabut
lamaban (Serabut C). Impuls-impuls ini yang ditransmisikan oleh serabut
delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C. Serabut-
serabut aferen masuk ke spinal melalui akar dorsal serat sinaps pada dorsal
horn. Dorsal horn terdiri atas beberapa lapisan yang saling bertautan. Diantara
lapisan dua dan tiga berbentuk substansia gelatinosa yang merupakan saluran
utama impuls. Kemudian impuls nyeri menyeberangi susmsum tulang

3
belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens yang
paling utama, yaitu jalur spinothalamic (STT) atau jalur spinonathalamus dan
spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi tentang sifat dan lokasi
nyeri. Dari proses transmisi terdapat dua jalur mekanisme terjadinya nyeri,
yaitu jalur opiate dan jalur nonopiate. Jalur opiate ditandai oleh pertemuan
reseptor pada otak yang terdiri atas jalur spinal dessendens dari thalamus
melalui otak tengah dan medula ke tanduk dorsal dari sumsum tulang
belakang yeng berkonduksi dengan nocireseptor impuls supresif. Serotonin
merupakan neurotransmiter dalam impuls supresif. Sistem supresif lebih
mengaktifkan stimulasi nocireseptor yang ditransmisikan oleh serabut A.
Jalur nonopiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan respons
terhadap terhadap naloxone yang kurang diketahui mekanismenya (Alimul,
2007).
Nyeri merupakan campuran reaksi fisik ,emosi dan perilaku. Cara untuk
mengetahui nyeri ada di komponen nyeri yaitu:
1. Resepsi
Semua kerusakan seluler yang disebabkan oleh stimulus termal,
mekanik, kimia atau stimulus listrik yang menyebabkan pelepasan
subtansi yang menyebabkan nyeri. Pemaparan terhadap panas atau dingin,
tekanan friksi dan zat-zat kimia menyebabkan pelepasan substansi, seperti
histamine ,bradikinin dan kalium,yang bergabung dengan lokasi reseptor
untuk memulai transmisi neural yang terkait dengan nyeri. Tidak semua
jaringan terdiri dari reseptor yang mengtransmisikan tanda nyeri.
Impuls saraf yang dihasilkan oleh stimulus nyeri, menyebar di
sepanjang serabut saraf perifer aferen. Dua tipe serabut saraf periifer
mengonduksi stimulus nyeri. Serabut A mengirim sensasi yang
tajam,terlokalisasi dan jelas yang meklokalisai sumber nyeri dan
pendeteksi intensitas nyeri. Serabut C menyampaikan impuls yang
terlokalisai buruk, fiseral dan terus menerus misalnya setelah menginjak
sebuah paku.(Ganong, 2002)

4
2. Persepsi
Merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, stimulus nyeri
ditransmisikan naik ke medulla spinalis ke talamus dan otak tengah. dari
talamus serabut mentransmisikan pesan nyeri ke berbagai area otak,
setelah transmisi berakhir di dalam pusat otak yang lebih tinggi maka
individu akan mempersepsikan sensasi saraf.(Ganong, 2002)
3. Reaksi
Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisiologi dan perilaku
yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri (Ganong, 2002).

C. Klasifikasi Nyeri
1. Menurut tempat
a. Periferal pain
1) Nyeri permukaaan
2) Nyeri dalam
3) Nyeri alihan
b. Sentral pain
Terjadi karena perangsangan pada susunan saraf pusat batang otak
dan lain sebagainya.
c. Psyhogeni pain
Nyeri disebabkan tanpa penyebab organik , tetapi akibat dari
trauma psikologi
d. Phantom pain
Merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tidak ada lagi
contoh amputasi
2. Menurut sifat
a. Insidentil : timbul sewaktu waktu kemudian hilang
b. Steady : nyeri timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama
c. Paroksimal : nyeri dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali
d. Intractable pain : nyeri yang resisten yang diobati

5
3. Menurut berat ringannya
a. Nyeri ringan : dalam intensitas rendah
b. Nyeri sedang : menimbulkan suatu reaksi fisiologi dan psikologis
c. Nyeri berat: dalam intensitas tinggi
4. Menurut waktu serangan
Terdapat beberapa cara untuk mengklasifikasikan tipe nyeri. Nyeri
akut timbul akibat dari cidera akut, penyakit atau pembedahan. Sedangan
nyeri kronik diasosiasikan dengan cidera jaringan yang tidak progresif
atau yang menyembuh.
Rasa nyeri dapat dibagi menjadi dua rasa nyeri utama, rasa nyeri
cepat dan rasa nyeri lambat. Bila diberikan stimulus nyeri, maka rasa nyeri
dapat timbul jika dalam waktu kira kira 0,1 detik, sedangkan rasa nyeri
lambat timbul setelah 1 detik atau lebih dan kemudian secara perlahan
bertambah. Rasapat nyeri cepat juga digambarkan dengan nama pengganti
rasa nyeri tajam, rasa nyeri tertusuk, rasa nyeri akut, dan rasa nyeri
elektrik. Jenis rasa nyeri ini akan terasa bila jarum ditusukan pada kulit.
Rasa nyeri lambat juga mempunyai banyak nama tambahan , seperti rasa
nyeri terbakar lambat, nyeri pegal, nyeri berdenyut denyut, mual dan nyeri
kronik. Jenis rasa nyeri ini biasanya diakaitkan dengan kerusakan jaringan.
Ras nyeri ini dapat berlangsung lama, menyakitkan dan dapat menjadi
penderitaan yang tak tertahankan. Rasa nyeri ini dapat berlangsung di kulit
dan hampir semua jaringan dalam satu organ (Ganong, 2002).
5. Nyeri pascatrauma dan neuropatik
Nyeri pascatrauma akan menetap selagi luka dalam masa
penyembuhan. Kadaan ini ditandai oleh nyeri yang berlebihan
(hiperalgesia) bila daerah luka terkena rangansangan yang biasanya hanya
menyebabkan nyeri yang ringan, dan rangsang tak berbahaya seperti
rangsangan raba dapat menyebabkan rasa nyeri (alodinia). Bila serat saraf
kedaerah tersebut rusak, nyeri yang dirasakan dan dapat menetap dan
menjadi lebih hebat meskipn luka telah sembuh (nyeri neuropatik).

6
6. Nyeri dalam
Perbedaaan utama antara para nyeri permukaan dan nyeri dalam
adalah perbedaan sifat nyeri yang timbul oleh rangsang yang
membahayakan. Tidak seperti nyeri permukaan, nyeri dalam tidk jelas
lokasinya, menimbulkan mual, dan sering dusertai pengeluaran keringat
serta perubahan tekanan darah.
7. Nyeri otot
Bila otot berkontraksi secara ritmis dengan peredaran darah ke otot yang
cukup, maka biasanaya tidak timbul nyeri.
8. Nyeri visceral
Nyeri yang berasal dari visera tidak dapat ditentukan lokasinya dengan
baik, tidak enak, disertai mual dan gejala-gejala otonom lain.(Ganong,
2002)
9. Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan nyeri alih pada permukaan kepala yang berasal
dari struktur bagian dalam. Nyeri kepala yang asalnya intrakarnial
a. Daerah-daerah sensitive pada tempurung kepala
b. Daerah-daerah kepala tempat peralihan nyeri kepala intrakarnial
10. Macam-macam nyeri kepala intrakarnial
a. Nyeri kepala pada meningitis
Salah satu nyeri kepala yang hebat adalah akibat penyakit meningitis,
yang menyebabkan semua selaput otak, termasuk daerah-daerah dura
dan daerah sensitif disekelilingi sinus venosus
b. Nyeri kepala akibat rendahnya tekanan cairan serebrospinal
Pembuangan cairan serebrospinal ini akan menghilangkan
kemampuan mengambang otak yang dalam keadaan normal dapat
dilaksanakan oleh cairan serebrospinal.
c. Nyeri kepala migren
Nyeri kepala migren adalah jenis nyeri kepala khusus yang diduga
akibat fenomena vaskular yang abnormal, walaupun mekanisme yang
sebenarnya belum diketahui

7
d. Nyeri kepala alkhoholik
Biasanya nyeri kepala akan timbul sesudah minum alkhohol yang
berlebihan, karena alkhohol ini toksik terhadap jaringan, langsung
merangsang selaput otak dan menyebabkan nyeri intrakarnial.
e. Nyeri kepala akibat konstipasi
Pada kebanyakan orang, konstipasi akan menimbulkan nyeri kepala.
Karena keadaan ini dapat terjadi pada penderita yang mengalami
pemotongan medula spinalis.
11. Macam-macam nyeri ekstrakranial
a. Nyeri kepala akibat spasme otot
Diduga nyeri akibat spasme otot-otot kepala ini akan dialihkan ke
daerah kepala yang lebih dalam, sehingga nyeri kepala yang timbul
sama seperti jenis nyeri kepala akibat lesi intrakranial.
b. Nyeri kepala akibat iritasi hidung dan struktur-struktur sekitar
hidung.
Mukosa membran hidung serta semua sinus nasalis sensitif terhadap
rasa nyeri, namun tak begitu hebat.
c. Nyeri kepala akibat kelainan mata
Kesulitan seseorang untuk memfokuskan mata agar timbul
penglihatan yang jelas akan menimbulkan kontraksi yang
berlebihan pada otot-otot siliaris. Walaupun otot-otot ini sangat
kecil, kontraksi tonik pada otot-otot ini diduga akan menimbulkan
nyeri kepala didaerah retro-orbital.

Klasifikasi nyeri secara umum terbagi menjadi dua : yakni nyeri akut
dan nyeri kronis. Nyeri akut adalah nyeri yang timbul secara mendadak
dan cepat menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan ditandai dengan
adanya peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis adalah nyeri yang timbul
secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama,
yaitu lebih dari 6 bulan.

8
Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis
Karakteristik Nyeri Akut Nyeri kronis
Pengalaman Satu kejadian Satu situasi, status
eksistensi
Sumber Sebab eksternal atau Tidak diketahui atau
penyakit dari dalam pengobatan yang terlalu
lama
Serangan Mendadak Bisa mendadak,
berkembang dan
terselubung
Waktu Sampai 6 bulan Lebih dari 6 bulan, bisa
sampai bertahun-tahun
Pernyataan nyeri Daerah nyeri tidak Daerah nyeri sulit
diketahui dengan pasti dibedakan intensitasnya,
sehingga sulit dievaluasi
Gejala-gejala klinis Pola respon yang has Pola respon yang
dengan gejala yang bervariasi dengan
lebih jelas sedikit gejala
Pola Terbatas Berlangsung terus,
dapat beravariasi
Perjalanan Bisanya berkurang Penderitaan meningkat
setelah beberapa saat setelah beberapa saat

D. Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri


1. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji
respon nyeri pada anak. Pada dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah
patologis dan mengalami kerusakan fungsi. sedangkan pada lansia
cenderung memendam nyeri yang dialami karena mereka mengangap nyeri
adalah hal yang alami yang harus dijalani dan mereka takut kalau
mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

9
2. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki laki dan wanita tidak berbeda secara
signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi oleh faktor
budaya.
3. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon
terhadap nyeri
4. Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan
bagaimana mengatasinya
5. Perhatian
Tingkat seorang klain memfokuskan perhatiannya pada nyeri yang dapat
mempengaruhi persepsi tentang nyeri
6. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan
seseorang cemas
7. Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau dan saat
ini nyeri sama timbul ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya
8. Pola koping
Pola koping adaktif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri
9. Dukungan keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung pada anggota
keluarga untuk memperoleh dukungan keluarga
10. Keletihan
Keletihan meningkatkan persepsi nyeri yang menurunkan kemampuan
koping.

E. Patofisiologi Nyeri
Antara stimulus cidera jaringan dan pengalaman subyektif nyeri
terdapat tempat proses tersendiri yaitu transduksi, transmisi, modulasi,

10
persepsi.Tranduksi nyeri adalah proses rangsangan yang menggangu sehingga
menimbulkan aktivitas listrik di reseptor nyueri. Transmisi nyeri melibatkan
proses penyaluran impuls nyeri dari tempat transduksi melewati saraf perifer
sampai keterminal di medulla spinals dan jaringan neuron neuron pemancar
yang naik dari medulla spinalis ke otak .modulasi nyeri melibatkan faktor-
faktor kimia yang menimbulkan atau meningkatkan aktivitas di reseptor nyeri
aferen primer. Akhirnya persepsi nyeri adfalah pengalaman subyektif nyeri
yang bagaimna juga dihasilkan oleh aktivitas transmisi nyeri oleh saraf.
Ada tiga tingkatan tempat informasi saraf yang dapat dimodifikasi
sebagai sebagai respon terhadap nyeri yaitu luas dan durasi respon terhadap
stimulus nyeri di sumbernya dapat dimodifikasi, perubahan kimiawi dapat
terjadi disetiap neuron atau bahkan dapat menyebabkan perubahan pada
karakteristik anatomi neuron neuron di sepanjang jalur penghantar nyeri dan
pemanjangan stimulus dapat menyebabkan modulasi neuro transmiter.
Berdasarkan patofisiologinya nyeri terbagi dalam 3 bagian yaitu
1. Nyeri neuropatik
Adalah nyeri yang timbul akibat disfungsi primer pada sistem saraf.
Gangguan atau pneyakit yang ditandai dengan rasa sakit atau rasa yang
berhubungan dengan sinyal-sinyal saraf. Rasa sakit yang bisanya timbul
ialah seperti terbakar, nyeri seperti adanya sengatan listrik.
2. Nyeri idiopatik
Adalah nyeri dimana kelainan patologi yang tidak dapat ditemukan
3. Nyeri psikologik

F. Interprestasi Skala Nyeri


Interprestasi skala nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri
diarasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan
individual. Kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat
berbeda oleh 2 orang yang berbeda, pengukuran nyeri dengan pendekatan
objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh
terhadap nyeri itu sendiri. Namun pengukuran dengan teknik ini dapat

11
memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu, karakteristik paling subyektif
pada nyeri ini klien sering kali diminta untuk mendiskripsikan nyeri seyang
ringan ,sedang ataupun berat. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi
perawat dan klien dari pada waktu atau skla nyeri yang pertama kali
dikatakan klien. (Guyton, 1997)
Skala deskritif meerupakan alat pengukur tingkat keparahan nyeri yang
dialami oleh obyektif, skla pendeskripsian verbal (Verbal Descriptor Scale
atau VDS) merupakan sebuah garih yang terdiri dari tiga samapai lima kata
pendeskripsian yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis
tersebut dengan gambaran nyeri yang tak tertahankan. Sedangkan penilaian
numerik (Numeric rating scales atau NRS) telah digunakan sebagi
penggantipendeskriosian kata dari skala 0-10, skla ini paling efektif
digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi
terapeutik. (Guyton, 1997)
Skala analog visual (Visual analog scale atau VAS) tidak melebel
subdivisi VAS adalah suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri VAS
dapat menggunakan pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih sensitif
karena klien dapan mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada
dipaksa memilih satu kata atau angka. Skala nyeri harus dirancang sehingga
skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkonsumsi banyak waktu pada
klien. (Guyton , 1997)

G. Penanganan Nyeri
Stimulus menuju otak dalam mengurangi nyeri ada 4 tahapan yaitu :
1. Tranduction adalah sistem saraf yang merubah stimulus nyeri menjadi
impuls di ujung saraf
2. Transmission adalah impuls yang bergerak menuju otak
3. Perception adalah otak yang merecognisi
4. Modulation adalah ativitas tubuh yang memerlukan respon inhibisi
untuk mengurangi nyeri.

12
Penanganan nyeri yang dapat dilakukan perawat yaitu :
1. Kompres hangat atau dingin
2. Latihan napas dalam
3. Mendengarkan musik
4. Aroma terapi
5. Hipnosis
6. Imajinasi terbimbing
7. Relaksasi
Inhibisi pusat & iritan kontra
Telah lama diketahui bahwa tentara yang terluka dalam pertempuran
mungkin tidak merasakan nyeri. Sampai pertempuran selesai (analggesia
stres). Dari pengalaman orang belajar bahwa tindakan menyentuh atau
menggoyang bagian tubuh yang cidera. Perangsngan dengan vibrator listrik di
tempat nyeri juga agak mengurang rasa nyeri.
Inbilitasi dipusat jaras sensorik mungkin dapat menjelaskan efek iritasi
kontra. Perangsngan kulit di atas alat dalam yang meradang dapat mengurangi
nyeri. Pengobatan dengan plaster mustard yang lebih lama diketahui
maanfaatnya mungkin bekerja berdasarkan prinsip ini.
1. Kerja morfin & enkefalin
Morfin menghilangkan nyeri. Otot ii lebih efektif bila diberikan
secara intratekal. Reseptor yang mengikat morfin dan ”morfin morfin
uang bersal dari tubh sendiri (endogen)”. Yaitu peptida eploid.
Opioid dapat menimbulkan analgesia di paling sedikit 3 tempat
yaitu di perifer, di tempat luka, di gerbang korno dorsalis, tempat sinapa
serat nosisptif dengan sel ganglion radiks . reseptor oploid dibentuk di
sel ganglion radiks dorsalin dan dapat bermigrasi baik parifer maupun
ke pusat sepanjang serat sarafnya. Di perifer, inflamasi akan
menyebabkan pembentukan peptida oploid oleh sel-sel imun. Dan
mungkin akan bekerja pada reseptor reseptor di serat aferen untuk
mengurangi pada nyeri yang seharusnya terasa. Reseptor oploid di

13
daerah kornu dorsalis dapat bekerja di presinaps untuk mengurangi
pelepasan zat p, tetapi ujung saraf presinaps bahwa dapat diindentifikasi.
2. Asetilkolin
Epibatidin, suatu agonis kalinergik yang pertama kali diisolasi dari
kulit kodok. Merupakan zat analgesik mempercepat serta bentuk
sintetisnya yang lebih kuat telah dapat menghambat kolinergik. Dan
sampai saat ini belum diperoleh bukti zat-zat ini menimbulkan adikal
sebaiknya efek analgenik nikotin dapat dikurangi pada mencit yang
tidak mempunyai reseptor kolinegik nikotin subunit dari hasil
pengamatan ini tampak adanya peran mekanisme koligenik nikotin
dalam pengaturan nyeri,meskipun peran tersebut masih harus
dubuktikan.
3. Golongan kanabinoid
Golongan kanabinoid anandamida dan PEA dihasilkan secara
endogen dan dapat berikatan dengan reseptor CB dan CB anandamida
menunjukan efek analgenik yang jelas dan terdapat neuron yang
mengandung anandamida di area periakuaduktus grisca dan area lainnya
yang berperan dalam nyeri Ganong, 2002)

H. Hal – hal yang dapat Menimbulkan Nyeri


Rasa nyeri timbul dapat diakibatkan karena adanya :
1. Trauma
Trauma dapat dibagi menjadi 4 yaitu
a. Trauma Mekanik ,yaitu rasa nyeri yang timbul karena ujung saraf
mengalami kerusakan misalnya seperti terkena benturan,gesekan,dan
luka.
b. Trauma Thermis, yaitu nyeri yang timbul karena saraf reseptor yang
mendapatkan rangsangan akibat adanya panas ,dingin dan rusak
misalnya karena panas api ,air kimia dan lain sebagainya yang
diterima oleh reseptor nyeri thermosensitif.
c. Trauma Chemis

14
Diterima oleh reseptor nyeri chemosensitif misalnya karena
terkena asam dan basa yang kuat.
d. Trauma Elektrik , trauma dikarenakan oleh aliran listrik yang kuat
mengenqi reseptor rasa nyeri akibat kekejangan otot dan kerusakan
yang diperoleh dari sengatan listrik atau terbakar.
2. Neoplasma
Neoplasma dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Neoplasma Jinak ,yaitu nyeri karena ada tekanan pada ujung saraf
reseptor nyeri
b. Neoplasma Ganas , yaitu nyeri akibat terjadinya kerusakan jaringan
yang mengandung reseptor nyeri dan juga karena tarikan ,jepitan atau
karena metastase.
3. Peradangan ,yaitu sebuah nyeri yang terjadi karena adanya kerusakan
pada ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya pembengkakan misalnya
pada abses dan pleuritis.
4. Gangguan sirkulasi darah dan kelaianan pada pembuluh darah yang sering
dikenal pada kasus penyakit jantung koroner atau PJK dan Burger
Desease
5. Trauma Psikologis
6. Spasme organ visera yang berlombang
Spasme usus, kandung empedu, saluran empedu, ureter, atau setiap
organ isi perut berlobang akan menimbulkan rasa nyeri serabut nyeri
secara mekanis. Atau mungkin disebabkan oleh berkurangnya aliran darah
ke otot yang dibarengi dengan naiknya kebutuhan nutrisi otot sewaktu
proses metabolisme. Sering rasa nyeri yang timbul akibat spasme organ
visera dicetuskan dalam bentuk kram, rasa nyeri akan menghebat dan
selanjutnya akan menghilang, proses ini akan berlangsung secara ritmis
yang timbulnya setiap beberapa menit sekali. Beberapa rasa nyeri klinis
abnormal dan sensasi somatik lainnya
d. Hiperalgesia
Penyebab pokok dari hiperalgesia adalah

15
1) Karena reseptor nyeri sendiri yang sangat peka, disebut
hiperalgesia primer
2) Adanya fasilitasi pada penjalaran sensorik, yang disebut
hiperalgesia sekunder.
Contoh untuk keadaan hiperalgesia primer adalah keadaan
sensitivitas ekstrem pada kulit yang terbakar sinar matahari.
Hiperalgesia sekunder seringkali disebabkan oleh jelas pada
medula spinalis atau talamus.
e. Sindrom talamikus
Ada anggapan bahwa pada sindrom talamikus, nukleus medialis ini
menjadi mudah terangsang dan kepekaan jaras rasa nyeri kronik
paleospinotalamikus yang menjalarkan nyeri dan menyebabkan
banyak persepsi afektif sekunder akan meningkat.

I. Reseptor Nyeri
Seluruh reseptor nyeri merupakan ujung saraf bebas. Reseptor rasa nyeri
yang terdapat pada kulit dan juga di dlam jaringan dalam tertentu, misalnya
periosteum, dinding arteri dan permukaan sendi, dan falks serta tentorium
tempurung kepala. Sebagian besar jaringan dalam lainya tidak begitu banyak
disarafi oleh ujung saraf rasa nyeri, namun setiap kerusakan jaringan yang luas
dapat saja bergabung pada daerah tersebut akan timbul tipe rasa nyeri pegal
yang lambat dan kronik.
Reseptor nyeri itu spesifik, dan nyeri bukan timbul karena rangsangan
yang berlebihan pada reseptor lain. Namun rangsang yang adekuat untuk
reseptor nyeri tidak spesifik bila dibandingkan dengan rangsang untuk
reseptor yang lain, karena reseptor nyeri dapat dirangsang oleh bermacam-
macam rangsang yang kuat. Reseptor nyeri misalnya akan memberi respon
terhadap panas, tetapi dengan ambang rangsang yang 100 kali lebih besar dari
pada ambang untuk reseptor panas. Reseptor nyeri juga dapat memberi respon
terhadap energi listrik , mekanis, dan terutama kimia.

16
Nyeri diduga diperantarai oleh proses kimia dan semua rangsang yang
mencetuskanya akan melepaskan zat kimia yang akan meragsang ujung
syaraf. Zat kimia tersebut mungkin ATP. ATP membuka kanal berpintu-
ligand pada neuron sensorik, melalui reseptor p2X. Selain itu ATP juga
terdapat di ekstrak sitoplasma yang dapat menyebabkan nyeri, dan ATP
menyebabkan nyeri bila disuntikan secara intradermal. Zat lain yang mungkin
dapat menyebabkan nyeri ialah suatu senyawa endogen untuk reseptor
kapsaisin yang belum diketahui. Kapsaisin ialah zat yang menimbulkan rasa
pedas waktu makan cabai. Reseptor kapsaisin merupakan kanal ion non
selektif yang bila teraktivasi akan memasukkan natrium dan klorida kedalam
neuron nosiseptif sehingga terjadi depolarisasi. Reseptor ini juga disebut
reseptor vanioid karena struktur kapsaisin mirip vanila, juga teraktifasi oleh
rasa panas dan mungkin merupakan reseptor panas. Selain itu reseptor ini juga
dapat teraktivasi oleh proton. Respon reseptor kapsaisin Knockout mice
menurun untuk rangsangan panas dan rangsangan kimiawi yang
membahayakan, tetapi respons terhadap rangsangan yang membahayakan
mekanis tetap normal (Ganong, 2002).

J. Sistem Penekan Rasa Nyeri (Analgesia) dalam Otak dan Medula Spinalis
Derajat reaksi seseorang terhadap rasa nyeri sangat bervariasi. Keadaan
ini sebagian disebabkan oleh kemampuan otak sendiri untuk menekan
besarnya sinyal nyeri yang masuk kedalam sistem syaraf, yaitu dengan
mengaktifkan sistem pengatur rasa nyeri, disebut sistem analgesia.
Sistem analgesia terdiri dari tiga komponen utama (ditambah dengan
komponen tambahan): (1)Area periakuaduktus grisea dan periventrikular dari
mesense falon dan bagian atas pons yang mengelilingi akuaduktus sylvus dan
bagian yang berdekatan dengan ventrikel ketiga dan keempat. Neuron-neuron
dari daerah ini akan mengirimkan sinyalnya ke (2)Nukleus rafe magnus , yang
merupakan nukleus tipis digaris tengah yang terletak dibagian bawah pons dan
bagian atas medula oblongata, dan nukleus retikularis paragigantoselularis
yang terletak disebelah lateral dari medula. Dari nuklei ini, sinyal-sinyal

17
dijalarkan kebawah kolumna dorsolateralis dimedula spinalis menuju ke (3)
kompleks penghambat rasa nyeri didalam radiks dorsalis medula spinalis.
Pada tempat ini, sinyal analgesia dapat menghambat sinyal rasa nyeri
dipancarkan ke otak meliputi :
1. Penghambatan penjalaran nyeri oleh sinyal sensorik
Peristiwa lain yang penting dalam kisah pengaturan rasa nyeri adalah
penemuan yang menjelaskan bahwa perangsangan serabut-serabut
sensorik tipe A β yang berasal dari reseptor taktil diperifer, akan dapat
menekan penjalaran sinyal nyeri. Efek ini diduga merupakan akibat dari
jenis inhibisi lateral setempat.
2. Nyeri alih (referred pain)
Seringkali seseorang merasakan nyeri dibagian tubuh yang letaknya
jauh dari jaringan yang menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini disebut
nyeri alih.
3. Mekanisme nyeri alih
Cabang-cabang serabut nyeri viseral bersinaps dengan neuron kedua
dalam medula spinalis, neuron kedua ini menerima serabut nyeri yang
berasal dari kulit. Bila serabut nyeri viseral terangsang, maka sinyal nyeri
yang berasal dari viseral selanjutnya akan dijalarkan melalui beberapa
neuron yang sama yang juga menjalarkan sinyal nyeri yang berasal dari
kulit, dan akibatnya orangb itu akan merasakan sensasi yang benar-benar
berasal dari daerah kulit.
4. Nyeri viseral
Salah satu perbedaan penting antara rasa nyeri permukaan dan rasa
nyeri viseral adalah, walaupun organ visera mengalami kerusakan yang
berat jarang mencetuskan rasa nyeri yang hebat.
5. Penyebab rasa nyeri viseral yang murni
Pada dasarnya, semua nyeri viseral yang murni dalam ruang toraks
dan ruang abdomen dijalarkan melalui serabut saraf sensorik yang
berjalan dalam saraf otonom, terutam saraf simpatis. Serabut-serabut ini

18
adalah serabut kecil tipe C, dan oleh karena itu, hanya dapat menjalarkan
rasa nyeri tipe pegal-pedih-kronik.
6. Iskemia
Iskemia menyebabkan nyeri viseral dengan cara yang tepat sama
seperti timbulnya rasa nyeri dijaringan lain, hal ini mungkin karena
terbentuknya produk akhir metabolik yang asam atau produk yang
dihasilkan oleh jaringan degeneratif, seperti bradikinin, enzim proteolitik,
atau bahan lain yang merangsang ujung serabut nyeri.
7. Stimulus kimia
Pada suatu saat, bahan-bahan yang rusak keluar dari traktus
gastrointestinal masuk ke dalam rongga peritonium (Ganong, 2002).

19