You are on page 1of 8

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/266587793

Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia


L.)

Article

CITATION READS

1 11,763

7 authors, including:

I Ketut Adnyana Adnyana Elin Yulinah Sukandar


Bandung Institute of Technology Bandung Institute of Technology
93 PUBLICATIONS   1,121 CITATIONS    117 PUBLICATIONS   474 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Andreanus Andaja Soemardji Endang Kumolosasi


Bandung Institute of Technology Universiti Kebangsaan Malaysia
34 PUBLICATIONS   95 CITATIONS    46 PUBLICATIONS   163 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Comprehensive activity of herb : Phyllanthus acidus View project

lipid profile View project

All content following this page was uploaded by Elin Yulinah Sukandar on 22 January 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


I Ketut Adnyana, dkk.

Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Buah Mengkudu


(Morinda citrifolia L.)

I Ketut Adnyana*, Elin Yulinah, Andreanus A. Soemardji, Endang Kumolosasi,


Maria Immaculata Iwo, Joseph Iskendiarso Sigit, Suwendar

Unit Bidang Ilmu Farmakologi-Toksikologi Departemen Farmasi FMIPA ITB Bandung,


Jl. Ganesa 10 Bandung 40132

(Diterima 24 Maret 2004; disetujui 7 Juni 2004)

Abstrak
Telah diuji aktivitas antidiabetes ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan
metode toleransi glukosa pada tikus dan pada mencit diabetes imbasan-aloksan. Uji tole-
ransi glukosa pada tikus menunjukkan penurunan kadar glukosa serum 30, 60 dan 90 menit
setelah pemberian ekstrak pada dosis 500 mg/kg bb, masing-masing sebesar 37,0%, 27,4%,
dan 25,4%; dan pada dosis 1000 mg/kg masing-masing sebesar 28,8%, 19,6% dan 21,8%.
Uji pada mencit diabetes imbasan-aloksan menunjukkan pada hari keempat setelah pembe-
rian ekstrak pada dosis 500 dan 1000 mg/kg bb kadar glukosa serum menurun masing-
masing sebesar 62,1% dan 74,1%, yang berbeda secara bermakna dibandingkan dengan
kelompok kontrol (p < 0,05).
Kata kunci: ekstrak etanol, buah mengkudu, Morinda citrifolia L., toleransi glukosa,
aloksan diabetogen

Abstract
Antidiabetic activity of ethanol extract of mengkudu (Morinda citrifolia L.) fruit had been
examined by glucose tolerance method on rats and on aloxan-induced diabetic mice. In the
glucose tolerance test on rats, 30, 60, and 90 minutes after administration of the extract at
a dose of 500 mg/kg bw, serum glucose concentration decreased by 37.0%, 27.4%, and
25.4%, respectively; and at a dose of 1000 mg/kg, serum glucose concentration decreased
by 28.8%, 19.6%, and 21.8%. While on the aloxan induced mice at the fourth day after
administration of the extract at doses of 500 and 1000 mg/kg bw, serum glucose concentra-
tion at the fourth day decreased by 62.1% and 74.1%, respectively, being significantly
different to that of control group (p<0.05).
Key words: ethanol extract, mengkudu fruit, Morinda citrifolia L., glucose tolerance,
diabetogenic aloxan

Pendahuluan
Mengkudu atau Morinda citrifolia (Rubiaceae) merupakan tumbuhan liar yang
banyak tumbuh di tepi pantai di seluruh nusantara. Kulit akarnya digunakan untuk
bahan pewarna batik; daunnya digunakan sebagai obat sakit perut, sesak nafas,

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 43


I Ketut Adnyana, dkk.

disentri dan luka, serta untuk mengurangi sakit setelah melahirkan; sari buahnya
oleh masyarakat digunakan untuk memperlancar pengeluaran air seni serta mengo-
bati sakit kuning, sedangkan campuran buah yang digiling ditambah cuka diguna-
kan untuk mengobati limpa yang bengkak, penyakit hati, batuk serta untuk mem-
bersihkan luka [1,2]. Beberapa publikasi menyatakan bahwa buah mengkudu
berkhasiat untuk mengobati aterosklerosis, diabetes, tekanan darah tinggi, radang
tenggorokan, batuk, serta mencegah penyerapan lemak dan melancarkan air seni
[3].

Diabetes melitus adalah suatu penyakit hiperglikemia yang bercirikan kekurangan


insulin secara mutlak atau penurunan kepekaan sel terhadap insulin. The American
Diabetic Association membedakan diabetes melitus menjadi diabetes jenis-1 untuk
kekurangan insulin yang mutlak, diabetes jenis-2 yang bercirikan resistensi insulin
dan kekurangan sekresi insulin, diabetes jenis-3 yang disebabkan oleh gangguan
endokrin dan diabetes jenis-4 yaitu diabetes gestasional [4].

Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antidiabetes ekstrak buah


mengkudu dengan metode toleransi glukosa dan diabetes imbasan-aloksan.

Percobaan
Bahan
Ekstrak etanol kering buah mengkudu, glukosa, glibenklamid, aloksan, kit uji
glukosa (Human), glukotest (Roche), air suling, etanol 70%.

Alat,
Alat timbang tikus dan mencit, alat suntik oral tikus dan mencit, spektrofotometer
(Clinicon 4010 Mannheim GMBH), tabung sampel mikro, sentrifuge, mikropipet,
mixer.

Hewan percobaan
Tikus putih jantan galur Wistar dari Laboratorium Perhewanan Departemen
Farmasi ITB, mencit jantan Balb/c dengan berat badan 22 - 35 g dari PT Biofarma
Bandung.

Metode percobaan
Pembuatan ekstrak kering dan sediaan uji
Irisan buah mengkudu yang telah dikeringkan diekstraksi dengan etanol 95%.
kemudian ekstraknya dikisatkan dengan alat penguap vakum putar. Sediaan uji
dibuat dengan mensuspensikan ekstrak kering dalam air suling untuk mendapatkan
dosis 500 dan 1000 mg/kg bb.

44 – Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


I Ketut Adnyana, dkk.

Uji antidiabetes dengan metode toleransi glukosa


Hewan percobaan yang telah dikelompokkan secara acak diambil cuplikan darah-
nya (T = 0) untuk penentuan kadar glukosa awal, kelompok uji diberi sediaan uji
secara oral, kelompok kontrol diberi air suling dan kelompok pembanding diberi
glibenklamid. Setelah 30 menit kemudian, semua hewan percobaan diberi larutan
glukosa secara oral. Setiap 30 menit cuplikan darah diambil dari masing-masing
hewan percobaan. Setelah darah dalam tabung sampel mikro disentrifuga, kadar
glukosa dalam serumnya ditentukan secara uji kolorimetri dengan metode enzima-
tik GOD-PAP [5].

Uji antidiabetes pada mencit diabetes imbasan aloksan


Hewan setelah disuntik dengan aloksan secara intravena dipelihara selama satu
minggu untuk melihat kembali ke keadaan glukosa serum normal. Hewan perco-
baan yang telah dikelompokkan secara acak cuplikan darahnya diambil (T = 0).
Hewan kelompok uji diberi sediaan uji, kelompok pembanding diberi glibenkla-
mid, sedangkan kelompok kontrol diberi air suling selama tujuh hari berturut-turut.
Semua hewan diberi makan dan minum ad-libitum. Pada hari ke-1, dilakukan
pengambilan serum untuk penentuan kadar glukosa serum pada pemberian tunggal.
Cuplikan darah yang diambil pada hari ke-4 sebelum diberi sediaan uji digunakan
untuk penentuan kadar glukosa serum pada pemberian berulang (3 hari). Pada hari
ke-8, serum diambil untuk penentuan kadar glukosa serum setelah pemberian
sediaan uji 7 hari berturut-turut. Kadar glukosa serum ditentukan secara uji kolori-
metri dengan metode enzimatik GOD-PAP (pada panjang gelombang 546 nm) [5].

Hasil Percobaan dan pembahasan


Tikus yang hanya diberi larutan glukosa (kelompok kontrol) memperlihatkan
kenaikan kadar glukosa serum (hiperglikemia) pada menit ke-30 sampai menit ke-
90 (Tabel 1, 2 dan Gambar 1). Hal ini sesuai dengan pustaka [6] bahwa pada meto-
de toleransi glukosa terjadi peningkatan kadar glukosa serum mulai menit ke-30
sampai menit ke-90 dan pada menit ke-120 kadar glukosa serum kembali normal.

Pada uji antidiabetes dengan menggunakan metode toleransi glukosa setiap hewan
dalam satu kelompok perlakuan memperlihatkan perubahan kadar glukosa serum
(awal dan lama kerja) yang beragam mulai dari menit ke-30 sampai menit ke-120
yang menyebabkan data memiliki standar deviasi yang cukup tinggi. Namun rata-
rata perubahan kadar glukosa serum setiap kelompok perlakuan memperlihatkan
pola yang mirip (Gambar 1).

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 45


I Ketut Adnyana, dkk.

Tabel 1: Kadar rata-rata glukosa serum tikus (mg/ml)


Kelompok Waktu setelah pemberian glukosa (menit)
perlakuan 0 30 60 90 120
Kontrol 120,1 ± 15,3 204,1 ± 26,8 195,6 ± 21,6 168,8 ± 16,3 67,9 ± 23,7
M500 131,0 ± 18,8 173,8 ± 10,0 176,1 ± 30,2 146,4 ± 47,3 62,2 ± 6,9
M1000 128,2 ± 6,4 183,9 ± 33,6 186,0 ± 10,3 153,4 ± 43,4 79,1 ± 8,1
GB 0.9 164,6 ± 36,1 184,9 ± 12,3 160,6 ± 19,0 154,4 ± 33,0 84,4 ± 16,8

Tabel 2: Kenaikan kadar rata-rata glukosa serum terhadap menit ke 0 (%) tikus terhadap
kadar awal
Kelompok Waktu setelah pemberian glukosa (menit)
perlakuan 30 60 90 120
Kontrol 72,6 ± 33,7 65,1 ± 28,6 41,8 ± 17,0 –42,4 ± 13,4
M500 35,6 ± 26,8 37,8 ± 32,8 16,3 ± 48,6 –51,3 ± 11,2
M1000 43,8 ± 28,3 45,4 + 12,4 19,1 ± 34,8 –37,32 ± 8,5
GB 0.9 17,4 ± 19,9*) 2,2 ± 22,1*) 2,1 ± 27,5*) –46,77 ± 10,0*)
Keterangan Kontrol = yang diberi glukosa dan air suling.
M500 = yang diberi glukosa dan ekstrak mengkudu 500 mg/kg bb.
M1000 = yang diberi glukosa dan ekstrak mengkudu 1000 mg/kg bb.
GB 0.9 = yang diberi glukosa dan glibenklamid 0,9 mg/kg bb.
*) p < 0,05 berbeda secara berarti dibanding kontrol, Jumlah hewan untuk tiap
kelompok 5 ekor tikus.

Tabel 3 : Kadar rata-rata glukosa serum mencit (mg/dl)


Kelompok Waktu setelah pemberian glukosa (hari)
perlakuan 0 1 4 8
Normal 95,3 ± 22,9 68,6 ± 18,5 79,04 ± 9,1 106,3 ± 19,4
Kontrol 382,8 ± 35,2 351,9 ± 167,1 300,1 ± 23,1 351,8 ± 31,3
M1000 387,3 ± 39,6 260,1 ± 155,4 100,2 ± 87,1*) 350,7 ± 34,8
M500 334,0 ± 100,6 245,9 ± 108,9 126,7 ± 84,7*) 269,4 ± 134,8
GB 0.9 334,0 ± 82,3 387,7 ± 94,4 205,1 ± 111,3 314,4 ± 77,8
Keterangan: Normal = yang diberi air suling
Kontrol = yang disuntik larutan aloksan (iv) dan pembawa (air suling).
M500 = yang disuntik larutan aloksan (iv) dan ekstrak mengkudu 500 mg/kg bb.
M1000 = yang disuntik larutan aloksan (iv) dan ekstrak mengkudu 1000 mg/kg bb.
GB 0.9 = yang disuntik larutan aloksan (iv) dan glibenklamid 0,9 mg/kg bb.
*) p < 0,05 berbeda secara berarti dibanding kontrol. Jumlah hewan percobaan 4-6
ekor tikus

46 – Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


I Ketut Adnyana, dkk.

80 Kontrol
M500

Perubahan thd. menit ke-0 (%)


60
M1000
40 GB 0.9

20

0
0 30 60 90 120
-20

-40

-60 Menit ke- *

Gambar 1: Perubahan relatif kadar glukosa serum tikus


Keterangan : Kontrol = yang diberi larutan glukosa dan pembawa (air suling).
M500 = yang diberi larutan glukosa dan ekstrak mengkudu 500 mg/kg bb.
M1000 = yang diberi larutan glukosa dan ekstrak mengkudu 1000 mg/kg bb
GB 0.9 = yang diberi larutan glukosa dan glibenklamid 0,9 mg/kg bb.
Menit ke- 0 = waktu sebelum diberi larutan glukosa.
* p < 0.05 berbeda secara berarti dibanding kontrol; Jumlah hewan tiap kelompok
5 ekor tikus.

Menit ke

Gambar 2 : Efek pemberian obat terhadap kadar glukosa mencit


Keterangan: Normal = yang diberi air destilasi
Kontrol = yang disuntik larutan aloksan (i.v.) dan pembawa (air destilasi)
M500 = yang disuntik larutan aloksan (i.v.) dan ekstrak mengkudu 500 mg/kg bb
M1000 = yang disuntik larutan aloksan (i.v.) dan ekstrak mengkudu 1000 mg/kg bb
GB 0,9 = yang disuntik larutan aloksan (i.v.) dan glibenklamid 0,9 mg/kg bb
*p<0,05 berbeda secara berarti dibanding kontrol; jumlah hewan tiap kelompok 4-6 ekor
tikus

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 47


I Ketut Adnyana, dkk.

Ekstrak buah mengkudu pada dosis 500 dan 1000 mg/kg bb memperlihatkan efek
penurunan kadar glukosa serum tikus mulai pada menit ke-30 sampai menit ke-90
(Tabel 2). Persentase penurunan relatif kadar glukosa serum pada dosis 500 dan
1000 mg/kg bb terhadap kelompok kontrol pada menit ke-30, 60 dan 90 (masing-
masing 37,0%, 27,4%, 25,4% untuk dosis 500 mg/kg bb dan 28,8%, 19,6%, 21,8%
untuk dosis 1000 mg/kg bb). Penurunan terbesar terjadi pada pemberian ekstrak
buah mengkudu pada dosis 500 mg/kg bb menit ke-30 yaitu sebesar 37,0%. Namun
penurunan kadar glukosa serum tikus pada pemberian ekstrak buah mengkudu
tidak bermakna secara statistik. Hal ini dapat disebabkan oleh besarnya standar
deviasi data.

Pada penelitian antidiabetes ekstrak buah mengkudu dengan metode induksi


aloksan, semua kelompok mencit yang disuntik dengan aloksan secara intravena
memperlihatkan peningkatan kadar glukosa (hiperglikemia) 250 – 306% diban-
dingkan dengan kelompok normal (Tabel 3). Pada hari pertama pemberian ekstrak
buah mengkudu (pemberian tunggal), kadar glukosa serum mencit menunjukkan
penurunan namun tidak bermakna secara statistik (Tabel 3 dan Gambar 2). Pada
hari keempat pemberian ekstrak buah mengkudu (pemberian berulang) pada dosis
500 dan 1000 mg/kg bobot badan, kadar glukosa serum mencit menunjukkan
penurunan dari kadar awal 62,07% pada dosis 500 mg/kg bb dan 74,13% pada
dosis 1000 mg/kg bb, dan ini berbeda secara bermakna dibandingkan dengan
kelompok kontrol (p < 0.05). Bila dibandingkan dengan kelompok normal, kadar
glukosa serum mencit pada pemberian ekstrak buah mengkudu pada dosis 500 dan
1000 mg/kg bobot badan (pada hari keempat) tidak menunjukkan perbedaan yang
bermakna (Tabel 3 dan Gambar 2). Penurunan kadar glukosa serum mencit pada
pemberian ekstrak buah mengkudu pada dosis 500 mg/kg bb tidak menunjukkan
perbedaan bermakna dibandingkan dengan yang diberi dosis 1000 mg/kg bb. Pada
hari kedelapan (setelah perlakuan dihentikan), terjadi peningkatan kadar glukosa
serum semua kelompok perlakuan.

Pada pemberian pembanding (glibenklamid 0.9 mg/kg bb), kadar glukosa serum
mencit tidak menunjukkan penurunan yang berarti dibandingkan dengan kontrol
(Tabel 3 dan Gambar 2). Hal ini disebabkan glibenklamid tidak bekerja memperba-
iki sel pankreas-β yang rusak akibat imbasan aloksan, tetapi menstimulasi pelepa-
san insulin dari sel pankreas-β [7,8]. Berdasarkan data tersebut diduga mekanisme
kerja ekstrak buah mengkudu dalam menurunkan kadar glukosa serum mencit
berbeda dengan glibenklamid.

Kesimpulan
Ekstrak buah mengkudu menurunkan kadar glukosa serum tikus pada model
toleransi glukosa, namun tidak bermakna secara statistik. Pada uji dengan mencit
48 – Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004
I Ketut Adnyana, dkk.

diabetes imbasan aloksan, ekstrak buah mengkudu menunjukkan aktivitas


antidiabetes pada dosis 500 dan 1000 mg/kg bb secara bermakna.

Ucapan terimakasih
Penelitian ini merupakan bagian kerjasama penelitian antara Departemen Farmasi
FMIPA-ITB dan PT. Rinjaya Cagar Sakti. Tim peneliti mengucapkan terimakasih
atas dukungan biaya dari PT. Rinjaya Cagar Sakti.

Daftar Pustaka
1. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, vol.3, Badan Litbang Kehu-
tanan, Jakarta, , 1795-1799.
2. Ogata, Y., 1986, Medicinal Herb Index in Indonesia, 2nd ed., PT. Eisai Indonesia,
Tokyo, 276.
3. Arianto, Y., 2002, Khasiat Buah Mengkudu, PT. Dian Rakyat, Jakarta, 101-102.
4. Corwin, E.J., 2000, Handbook of Pathophysiology, 2nd ed., Lippincott, New York,
573.
5. Kelompok Kerja Ilmiah, 1993, Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia
dan Pengujian Klinik, Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica,
Jakarta, 15-17.
6. Hayes, A.W., Principles and Methods of Toxicology, 4th ed., Taylor & Francis,
Boston, 1408-1409.
7. Goodman Gilman, A., Hardman, J. G., and Limbird, L. E. (Eds.), 2001, Goodman
& Gilman’s the Pharmacological Basis of Therapeutics, 10th ed., McGraw-Hill,
New York, 1701.
8. Harvey, R.A., Champe, P.C., 1992, Lippincott’s Illustrated Reviews: Pharma-
cology, Lippincott-Raven, New York, 260.

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 49

View publication stats

You might also like