You are on page 1of 40

MOTOR MOTOR LISTRIK DALAM INDUSTRI TEKNIK MESIN

PERSIAPAN UJIAN TENGAH SEMESTER 18.2

PENDAHULUAN

Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah


energi listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya,
memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat
bahan, dll. Motor listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di
industri. Motor listrik kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan
bahwa motor-motor menggunakan sekitar
70% beban listrik total di industri.

Motor arus bolak-balik (motor AC) ialah suatu mesin yang berfungsi mengubah
tenaga listrik arus bolak-balik (listrikAC) menjadi tenaga gerak atau tenaga mekanik,
dimana tenaga gerak itu berupa putaran dari pada rotor.

Motor AC dapat dibedakan atas beberapa jenis. Pembagian motor listrik di sini atas
bermacam tinjauan.

Motor
Bolak-balik (AC)

Gambar 1. Klasifikasi Motor Arus Bolak-balik (AC).

Motor arus bolak-balik menggunakan arus listrik yang membalikkan arahnya


secara teratur pada rentang waktu tertentu. Motor listrik memiliki dua buah bagian dasar
listrik: "stator" dan "rotor". Stator merupakan komponen listrik statis. Rotor merupakan
komponen listrik berputar untuk memutar as motor.
1
Keuntungan utama motor DC terhadap motor AC adalah bahwa kecepatan motor
AC lebih sulit dikendalikan. Untuk mengatasi kerugian ini, motor AC dapat
dilengkapi dengan penggerak frekwensi variabel untuk meningkatkan kendali
kecepatan sekaligus menurunkan dayanya. Motor induksi merupakan motor yang paling
populer di industri karena kehandalannya dan lebih mudah perawatannya. Motor induksi
AC cukup murah (harganya setengah atau kurang dari harga sebuah motor DC) dan
juga memberikan rasio daya terhadap berat yang cukup tinggi (sekitar dua kali motor
DC).

Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah energi


listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya, memutar
impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat bahan, dll. Motor
listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di industri. Motor
listrik kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa motor-
motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri.

1. Motor Induksi

Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada berbagai
peralatan industri. Popularitasnya karena rancangannya yang sederhana, murah dan
mudah didapat, dan dapat langsung disambungkan ke sumber daya AC.

Disebut motor induksi, karena dalam hal penerimaan tegangan dan arus pada rotor
dilakkukan dengan jalan induksi. Jadi pada motor induksi, rotor tidak langsung menerima
tegangan atau arus dari luar.

a. Komponen

Motor induksi memiliki 2 komponen utama:

1. Rotor

Motor induksi menggunakan dua jenis Rotor :

-Rotor kandang tupai terdiri dari batang penghantar tebal yang diletakan dalam petak-
petak slots pararel. Batang-batang tersebut diberi hubungan pendek pada kedua ujungnya

2
dengan alat cincin hubungan pendek.
-Lingkaran rotor yang memiliki gulungan tiga fase, lapisan ganda dan terdistribusi
dibuat melingkar sebanyak kutup stator. Tiga fase digulungi kawat pada bagian
dalamnya dan ujung yang lainnya dihubungkan ke cincin kecil yang dipasang pada
batang as dengan sikat yang menempel padanya.

2. Stator

Stator dibuat dari sejumlah stampings dengan slots untuk membawa


gulungan tiga fase. Gulungan ini dilingkarkan untuk sejumlah kutub yang tertentu.
Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120 derajat.

Gambar 2. Motor Induksi (Automated Buildings).

b. Klasifikasi motor induksi


Motor induksi dapat diklasifikasikan dua kelompok utama :
1. Motor induksi satu phase
2. Motor induksi tiga phase

1. Motor induksi satu phase


Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator, beroperasi dengan pasokan daya
satu phase, memiliki sebuah rotor kandang tupai, dan memerlukan sebuah alat untuk
menghidupkan motornya. Sejauh ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum

3
digunakan dalam peralatan rumah tangga, seperti fan angin, mesin cuci dan pengering
pakaian, dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp. Disebut motor satu phase, karena
untuk menghasilkan tenaga mekanik pada motor tersebut dimasukan tegangan satu phase.
Didalam praktek kita sering menjumpai motor 1 phase dengan lilitan 2 phase.

Dikatakan demikian, karena didalam motor satu phase lilitan statornya terdiri dari
dua jenis lilitan, yaitu lilitan pokok dan lilitan bantu. Kedua jenis lilitan tersebut dibuat
sedemikian rupa, sehingga walaupun arus yang mengalir pada motor adalah
arus/tegangan satu phase, maka mengakibatkan arus yang mengalir pada masing-masing
lilitan mempunyai perbedaan phase. Atau dengan kata lain, bahwa arus yang mengalir
pada lilitan lilitan pokok dan bantu tidak sephase. Motor satu phase tersebut disebut motor
phase belah.
Motor satu phase dikenal bermacam-macam, yaitu :
a. Motor kapasitor b. Motor shaded pole
c. Motor repulse d. Motor seri

2. Motor induksi 3 phase


Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh pasokan tiga phase yang seimbang.
Motor tersebut memiliki kemampuan daya yang tinggi, dapat memiliki kandang tupai atau
gulungan rotor (walaupun 90% memiliki rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri.
Diperkirakan bahwa sekitar 70% motor di industri menggunakan jenis ini, sebagai
contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik , dan grinder. Tersedia dalam
ukuran 1/3 hingga ratusan Hp. Disebut motor tiga phase karena, untuk menghasilkan
tenaga mekanik tegangan yang dimasukan pada motor tersebut adalah tegangan tiga
phase. Ditinjau dari jenis rotor yang digunakan, dikenal tiga jenis motor yaitu :
a. Motor dengan rotor lilit
b. Motor dengan rotor sankar tupai c. Motor kolektor
Setiap motor listrik, sudah mempunyai klasifakasi tertentu, sesuai dengan maksud
penggunaanya sebagai alat penggerak yang diperlukan yang diperlukan menurut
kebutuhan yang diinginkan.

c. Prinsip kerja motor induksi

Motor induksi 3 phase


4
Motor induksi adalah alat listrik yang mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Listrik yang diubah adalah listrik 3 phase. Motor induksi sering juga disebut
motor tidak serempak atau motor asinkron. Prinsip kerja motor induksi lihat Gambar
3.

Gambar 3. Prinsip kerja motor induksi.

Ketika tegangan phasa U masuk ke belitan stator menjadikan kutub S (south =


selatan), garis-garis gaya mahnet mengalir melalui stator, sedangkan dua kutub lainnya
adalah N (north = utara) untuk phasa V dan phasa W. Kompas akan saling tarik-menarik
dengan kutub S. Berikutnya kutub S pindah ke phasa V, kompas berputar 120°,
dilanjutkan kutub S pindah ke phasa W, sehingga pada belitan stator timbul medan
magnet putar. Buktinya kompas akan memutar lagi menjadi 240°. Kejadian berlangsung
silih berganti membentuk medan magnet putar sehingga kompas berputar dalam satu
putaran penuh, proses ini berlangsung terus menerus. Dalam motor induksi kompas
digantikan oleh rotor sangkar yang akan berputar pada porosnya. Karena ada perbedaan
putaran antara medan putar stator dengan putaran rotor, maka disebut motor induksi
tidak serempak atau motor asinkron. Susunan belitan stator motor induksi dengan dua
kutub, memiliki tiga belitan yang masing-masing berbeda sudut 120° Gambar 3 Ujung
belitan phasa pertama U1- U2, belitan phasa kedua V1-V2 dan belitan phasa ketiga W1-
W2. Prinsip kerja motor induksi dijelaskan dengan gelombang sinusoidal Gambar 4
terbentuknya medan putar pada stator motor induksi. Tampak stator dengan
dua kutub, dapat diterangkan dengan empat kondisi.

5
Gambar 4. Belitan Stator Motor Induksi 2 Kutup.

Gambar 5. Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar


pada stator motor induksi.
1. Saat sudut 0°.
Arus I1 bernilai positip dan arus I2 dan arus I3 bernilai negatip dalam hal ini
belitan V2, U1 dan W2 bertanda silang (arus meninggalkan pembaca), dan belitan V1,
U2 dan W1 bertanda titik (arus listrik menuju pembaca). Terbentuk fluk magnet pada
garis horizontal sudut 0°. Kutub S (south = selatan) dan kutub N (north = utara).
2. Saat sudut 120°.
Arus I2 bernilai positip sedangkan arus I1 dan arus I3
bernilai negatip, dalam hal ini belitan W2, V1, dan U2 bertanda silang (arus meninggalkan
pembaca), dan kawat W1, V2, dan U1 bertanda titik (arus menuju pembaca). Garis fluk
magnit kutub S dan N bergeser 120° dari posisi awal.
3. Saat sudut 240°.
Arus I3 bernilai positip dan I1 dan I2 bernilai negatip, belitan U2, W1,
dan V2 bertanda silang (arus meninggalkan pembaca), dan kawat U1, W2, dan V1

6
bertanda titik (arus menuju pembaca). Garis fluk magnit kutub S dan N bergeser 120° dari
posisi kedua.
4. Saat sudut 360°.
posisi ini sama dengan saat sudut 0°, di mana kutub S dan N kembali keposisi
awal sekali. Dari keempat kondisi di atas saat sudut 0°, 120°, 240°, dan 360°, dapat
dijelaskan terbentuknya medan putar pada stator, medan magnet putar stator akan
memotong belitan rotor. Kecepatan medan putar stator ini sering disebut kecepatan
sinkron,
tidak dapat diamati dengan alat ukur tetapi dapat dihitung secara teoritis besarnya

putaran per menit.

Rotor ditempatkan di dalam rongga stator, sehingga garis medan magnet putar
stator akan memotong belitan rotor. Rotor motor induksi adalah beberapa batang
penghantar yang ujung-ujungnya dihubungsingkatkan menyerupai sangkar tupai, maka
sering disebut rotor sangkar tupai (Gambar 5.), kejadian ini mengakibatkan
pada rotor timbul induksi elektromagnetis. Medan magnet putar dari stator saling
berinteraksi dengan medan magnet rotor, terjadilah torsi putar yang berakibat rotor
berputar.

Gambar 6. Bentuk Rotor Sangkar Tupai. Kecepatan medan magnet

putar pada stator :

ns = kecepan sinkron medan stator (rpm)

7
f = frekuensi (Hz); nr = kecepatan putar rotor (rpm)
slip = selisih kecepatan stator dan rotor

d. Kontruksi Motor Induksi


Konstruksi motor induksi secara detail terdiri atas dua bagian, yaitu: bagian
stator dan bagian rotor (Gambar 7). Stator adalah bagian motor yang diam terdiri: badan
motor, inti stator, belitan stator, bearing, dan terminal box. Bagian rotor adalah bagian
motor yang berputar, terdiri atas rotor sangkar, dan poros rotor. Konstruksi motor
induksi tidak ada bagian rotor yang bersentuhan dengan bagian stator, karena dalam motor
induksi tidak komutator dan sikat arang.

Gambar 7 Fisik motor induksi.

Konstruksi motor induksi lebih sederhana dibandingkan dengan motor DC,


dikarenakan tidak ada komutator dan tidak ada sikat arang (Gambar 7). Sehingga
pemeliharaan motor induksi hanya bagian mekanik saja, dan
konstruksinya yang sederhana motor induksi sangat handal dan jarang sekali rusak secara
elektrik. Bagian motor induksi yang perlu dipelihara rutin adah pelumasan bearing, dan
pemeriksaan kekencangan baut-baut kabel pada terminal box karena kendor atau bahkan
lepas akibat pengaruh getaran secara terusmenerus.

Rumus mengitung daya input motor induksi :


8
P1 (Watt)
P1 = Daya input (Watt)
U I = Tegangan (Volt)
= Arus (Ampere)
Cos = Faktor Kerja

e. Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi

Gambar 8. Rugi-rugi daya motor induksi.

Memiliki rugi-rugi yang terjadi karena dalam motor induksi terdapat


komponen tahanan tembaga dari belitan stator dan komponen indukt or belitan stator.
Pada motor induksi terdapat rugirugitembaga, rugi inti, dan rugi karena gesekan
danhambatan angin.
Besarnya rugi tembaga sebanding dengan I2 · R, makin besar arus beban maka rugi
tembaga makin besar juga. Daya input motor sebesar P1, maka daya
yang diubah menjadi daya output sebesar P2. Persamaan menghitung rugi-rugi motor
induksi: Rugi-rugi motor = P1 – P2 Persamaan menghitung efisiensi motor induksi
:

P1 Daya input (watt) dan P2 Daya output (watt)

Menghitung momen torsi yang dihasilkan motor induksi lihat Gambar 8.

9
Gambar 9. Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros.

M = F · r (Nm)
P2 = M · ω (Watt)
ω=2·π·n
M = Torsi (Nm)
F = Gaya (newton)
P2 = Daya output (watt)
ω = Kecepatan sudut putar
n = Kecepatan motor (putaran/detik)

f. Putaran Motor Induksi


Motor induksi memiliki dua arah putaran motor, yaitu putaran searah jarum
jam (kanan) Gambar 9, dan putaran berlawanan jarum jam (ke kiri) dilihat dari poros
motor. Putaran motor induksi tergantung jumlah kutubnya, motor induksi berkutub
dua memiliki putaran poros sekitar 2.950 Rpm, yang berkutub empat memiliki putaran
poros mendekati 1.450 Rpm. Putaran arah jarum jam (kanan) didapat dengan cara
menghubungkan L1- terminal U, L2- terminal V dan L3-terminal W. Putaran arah
berlawanan jarum jam (kiri) didapat dengan menukarkan salah satu dari kedua kabel
phasa, misalkan L1- terminal U, L2- terminal W dan L3- terminal V. Dengan memasang
dua buah kontaktor, sebuah motor induksi dapat dikontrol untuk putaran kanan, dan
putaran ke kiri. Aplikasi praktis untuk membuka dan menutup pintu garasi dengan motor
induksi dapat memanfaatkan kaidah putaran kanan dan kiri ini, dengan melengkapi
dengan sensor cahaya atau sakelar manual motor dapat dihidupkan untuk membuka dan
menutup pintu garasi.

10
Gambar 10. Putaran motor dilihat dari sisi poros.

g. Karakteristik Torsi Motor Induksi


Karakteristik torsi motor induksi (Gambar 10), disebut torsi fungsi dari slip
(T = f(slip)). Garis vertikal merupakan parameter torsi (0–100%) dan garis
horizontal parameter slip (1,0–0,0). Dikenal ada empat jenis torsi, yaitu:
1. MA, momen torsi awal,
2. MS, momen torsi pull-up,
3. MK, momen torsi maksimum,
4. MB, momen torsi kerja.

Gambar 11. Karakteristik torsi motor induksi.

11
Torsi awal terjadi saat motor pertama dijalankan (slip 1,0), torsi pull-up terjadi
saat slip 0,7, torsi maksimum terjadi slip 0,2 dan torsi kerja berada ketika slip
0,05. Torsi beban harus lebih kecil dari torsi motor. Bila torsi beban lebih besar dari
torsi motor, akibatnya motor dalam kondisi kelebihan beban dan berakibat belitan stator
terbakar. Untuk mengatasi kondisi beban lebih dalam rangkaian kontrol dilengkapi
dengan pengaman beban lebih disebut thermal overload, yang dipasang dengan kontaktor.
Karakteristik torsi juga bisa disajikan dalam bentuk lain, kita kenal karakteristik putaran
= fungsi torsi, n = f (torsi) lihat Gambar 11. Garis vertikal menunjukkan parameter
putaran, garis horizontal menunjukkan parameter torsi. Ketika motor berputar pada garis
n’ didapatkan torsi di titik M’. Ketika putaran berada di nn didapatkan torsi motor di
Mn. Daerah kerja putaran motor induksi berada pada area n’ dan nn sehingga torsi kerja
motor induksi juga berada pada area M’ dan Mn. Berdasarkan grafik n = fungsi (torsi)
dapat juga disimpulkan ketika putaran rotor turun dari n’ ke nn pada torsi justru
terjadi peningkatan dari M’ ke Mn.

Gambar 12. Karakteristik putaran fungsi torsi beban.

Gambar 13. Karakteristik parameter efisiensi, putaran, faktor kerja dan arus beban.

12
Karakteristik motor induksi lainnya lihat Gambar 13 mencakup parameter
efisiensi, faktor kerja, ratio arus, dan ratio putaran. Dengan membaca karakteristik motor
induksi dapat diketahui setiap parameter yang dibutuhkan. Saat torsi mencapai 100%
dapat dibaca ratio arus I/Io = 1; faktor kerja cosφ 0,8; efiseiensi motor 0,85; dan ratio
putaran n/ns: 0,92.

h. Pengasutan Motor Induksi


Saat motor induksi distarting secara langsung, arus awal motor besarnya antara
500% sd 700% dari arus nominal. Ini akan menyebabkan drop tegangan yang besar pada
pasokan tegangan PLN. Untuk motor daya kecil sampai 5 kW, arus starting tidak
berpengaruh besar terhadap drop tegangan. Pada motor dengan daya diatas 30 kW sampai
dengan 100 kW akan menyebabkan drop tegangan yang besar dan menurunkan kualitas
listrik dan pengaruhnya pada penerangan yang berkedip. Pengasutan motor induksi
adalah cara menjalankan pertama kali motor, tujuannya agar arus starting kecil dan drop
tegangan masih dalam batas toleransi. Ada beberapa cara teknik pengasutan, di antaranya
:

1. Hubungan langsung (Direct On Line = DOL)


2. Tahanan depan Stator (Primary Resistor)
3. Transformator
4. Segitiga-Bintang (Start-Delta)
5. Pengasutan Soft starting
6. Tahanan Rotor lilit

i.Prinsip Kerja Motor AC Satu Phase


Motor AC satu phase berbeda cara kerjanya dengan motor AC tiga phase. Pada
motor AC tiga phase, belitan stator terdapat tiga belitan yang menghasilkan medan putar
dan pada rotor sangkar terjadi induksi dan interaksi torsi yang menghasilkan putaran.
Pada motor satu phase memiliki dua belitan stator, yaitu belitan phase utama (belitan
U1-U2) dan belitan phase bantu (belitan Z1-Z2) Gambar 14.

13
Gambar 14. Prinsip medan magnet utama dan medan magnet bantu motor satu phase

Grafik arus belitan bantu Ibantu dan arus belitan utama Iutama berbeda phasa
sebesar φ Gambar 15,

Gambar 15. Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama

Hal ini disebabkan karena perbedaan besarnya impedansi kedua belitan tersebut.
Perbedaan arus beda phasa ini menyebapkan arus total, merupakan penjumlahan vektor
arus utama dan arus bantu. Medan magnet utama yang dihasilkan belitan utama juga
berbeda phase sebesar φ dengan medan magnet bantu. Belitan bantu Z1-Z2 pertama
dialiri arus Ibantu menghasilkan fluk magnet Φ tegak lurus, beberapa saat ke mudian
belitan utama U1-U2 dialiri arus utama Iutama yang bernilai positip. Hasilnya adalah
medan magnet yang bergeser sebesar 45° dengan arah berlawanan jarum jam (Gambar
16).

14
Gambar 16. Medan magnet pada stator motor satu phase

Kejadian ini berlangsung terus sampai satu siklus sinusoida, sehingga


menghasilkan medan magnet yang berputar pada belitan statornya. Rotor motor satu
phase sama dengan rotor motor tiga phase berbentuk batang-batang kawat yang ujung-
ujungnya dihubung singkatkan dan menyerupai bentuk sangkar tupai, maka sering disebut
rotor sangkar (Gambar 17).

Gambar 17. Rotor sangkar

Belitan rotor yang dipotong oleh medan putar stator, menghasilkan tegangan
induksi,interaksi antara medan putar stator dan medan magnet rotor
menghasilkan torsi putar pada rotor.
15
2. Motor Sinkron
Motor sinkron adalah motor AC, bekerja pada kecepatan tetap pada sistim
frekwensi tertentu. Motor ini memerlukan arus searah (DC) untuk pembangkitan daya
dan memiliki torque awal yang rendah, dan oleh karena itu motor sinkron cocok untuk
penggunaan awal dengan beban rendah, seperti kompresor udara, perubahan frekwensi
dan generator motor. Motor sinkron mampu untuk memperbaiki faktor daya
sistim, sehingga sering digunakan pada sistim yang menggunakan banyak listrik.
Konturksi motor sinkron sama dengan kontruksi generator sinkron. Perbedaanya adalah
pada penggunaanya. Generator sinkron diputar untuk menghasilkan tenaga listrik,
sedangkan motor sinkron padanya dimasukkan tenaga listrik untuk menghasilkanputarn
atau untuk memperbaiki Cos .

Gambar 18. Motor sinkron Komponen utama motor sinkron Rotor


( bagian yang berputar) :

Terdiri dari belitan-belitan penguat, inti magnet dan slip ring / sikat. Slip ring /
sikat ini fungsinya untuk memasukan listrik DC pada belitan penguat sehingga timbul
kutup magnet pada rotor. Perbedaan utama antara motor sinkron dengan motor induksi
adalah bahwa rotor mesin sinkron berjalan pada kecepatan yang sama dengan
perputaran medan magnet. Hal ini memungkinkan sebab medan magnit rotor tidak lagi
terinduksi. Rotor memiliki magnet permanen atau arus DC-excited, yang dipaksa
untuk mengunci pada posisi tertentu bila dihadapkan dengan medan magnet lainnya.

Stator (bagian yang diam) :


Terdiri dari belitan-belitan stator. Pada belitan stator tersebut diberi aliran listrik,
untuk menghasilkan flux magnet stator (medan putar).

16
Stator menghasilkan medan magnet berputar yang sebanding dengan frekwensi yang
dipasok. Motor ini berputar pada kecepatan sinkron, yang diberikan oleh persamaan
berikut (Parekh, 2003):

dimana: Ns = 120 f / P
f = frekwensi dari pasokan frekwensi
P= jumlah kutub

Type rotor pada mesin sinkron ada dua macam, yaitu :

- Rotor penuh : type rotornya diberi alur-alur sebagaimana rotor-rotor slip ring.
Biasanya untuk putan tinggi.
- Rotor kutub: rotor type ini terdiri dari inti-inti kutub dengan belitan penguat.
Biasanya banyak, untuk putaran rendah.

a. Prinsip Kerja Motor Sinkron

Gambar 19. Kontruksi Motor sinkron.

Gambar diatas adalah gambar dari sebagian dari stator dan rotor motor sinkron.
Belitan-belitan stator tidak digambarkan disini, tetapi pada stator itu dibayangkan
adanya kutub-kutub khayal yang sedang berputar dengan arah tertentu dan dengan
kecepatan kecepatan :

Banyaknya putaran tiap menit dari kutub-kutub khayal tersebut dinamakan


kecepatan medan putar atau kecepatan sinkron.
Pada rotor terdapat kutub-kutub magnet yang sesungguhya. Apabila rotor dengan
kutub-kutub rotor magnet itu berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan
17
putar, maka rotor itu akan dapat berputar dengan terus, mengikuti putaran kutub-kutub
khayal. Jadi motor serempak tak dapat berputar dengan sendirinya. Ini disebabkan karena
kutub-kutub rotor tidak dapat tiba-tiba mengikuti kecepatan medan putar pada waktu
saklar motor terhubung dengan jala-jala.
Gaya tarik antara kutub rotor dengan kutub khayal yang berhadapan, akan silih
berganti dengan gaya tolak dengan cepat sekali. Karena hal tersebut dan
kenyataanya rotor dengan seluruh kutub-kutub magnet adalah berat, akibatnya tak ada
kopel sama sekali. Rotor hanya bergetar saja. Supaya rotor ini dapat berputar bersama-
sama dengan medan putar, maka rotor perlu diputar dahulu sampai
mendapatkan kecepatan sinkron

Setelah dicapai kecepatan sinkron, barulah belitan-belitan stator tiga phase itu
dihubungkan dengan jala-jala.

Seperti kita ketahui, bahwa untuk terjadinya kutub magnet, diperlukan sumber DC. Jadi
motor sinkron untuk penguatannya harus tersedia sumber DC (battery, accu, generator
arus searah).

b. Motor Sinkron Berbeban

Gambar 20. Kedudukan kutub rotor terhadap terhadap kutub khayal pada
saat motor berbeban.

Jika motor sinkron diberi beban, maka letak kutub-kutub maganet rotor tidak
dapat tepat berhadapan dengan kutub-kutub khayal, tetapi agak ketinggian sedikit. Dalam
hal ini tidak berarti putaran rotor kurang dari kecepatan sinkron tetapi tetap sebesar :

18
Apabila beban makin berat, maka kutub magnet β pada rotor akan makin
ketinggalan terhadap kutub khayalnya. Dengan bertambahnya beban, β bertambah
besar juga (kutub rotor makin ketinggalan terhadap kutub khaayal), dalam hal ini
putaran rotor masih tetap

meskipun kutub

-kutub magnet tidak dapat berpegangan tegak pada kutub-kutub khayal.


Apabila beban motor ditambah terus pada suatu saat kutub-kutub magnet rotor terlepas
dari pegangannya (yaitu kutub-kutub khayal), sehingga rotor akan berhenti berputar,
meskipun beban putar tetap ada.

c. Sifat-sifat Motor Sinkron

Pada motor-motor DC dan motor sinkron keduanya akan beraksi sebagai generator
waktu motor bekerja (beputar). Hal ini disebabkan GGL induksi ( E ) selalu dibangkitkan
kalau ada gerakan relatip antara kumparan dan garis-garis gaya. Pada motor DC, GGL
induksi terbentuk pada bagian rotor, sedangkan pada motor sinkron GGL induksi
terbentuk pada bagian stator pada waktu bekerja.

Beberapa sifat dari motor sinkron adalah :

- Pada pembebanan yang berubah-ubah, kecepatan motor selalu tetap sesuai rumus

Jika terjadi pembebanan yang terlalu berat, motor langsung berhenti. Adapun
karakteristik n = f ( T ) dapat dilukiskan seperti gambar 21
n

T
Gambar 21. n = f ( T ).
- GGL induksi ( E ) pada motor sinkron tergantung pada besar arus penguat
magnet pada rotor.
19
Besarnya GGL induksi kemungkinan sama, lebih kecil atau lebih besar
dibandingkan tegangan sumber ( V ).

d. Cara Menjalankan Motor Sinkron


1. Mesin DC dikopel dengan motor sinkron.
Pada waktu start motor DC berfungsi sebagai penggerak hingga motor sinkron
mencapai kecepatan sinkron. Setelah motor berjalan normal, mesin DC berfungsi
sebagai generator DC dan merupakan beban dari motor sinkron.
2. Motor induksi dikopel dengan motor sinkron.
Jumlah kutub motor induksi lebih sedikit dibandingkan jumlah kutub motor sinkron
(biasanya berselisih dua), sehingga dengan adanya slip motor induksi masih
mampu menggerakkan mencapai putaran sinkronnya. Seetelah motor berjalan normal
motor indu ksi dilepas.
3. Dijalankan dengan prinsip rotor hubung singkat.
Caranya pada rotor motor sinkron dipasang penghantar-penghantar yang dihubung
singkat satu sama lain. Penghantar-penghantar tersebut dipasang pada tiap-tiap sepatu
kutub (disebut damper grids). Jika lilitan stator dihubungkan sumber 3 phase, maka
rotor akan berputar sesuai dengan prinsip rotor sangkar tupai. Setelah motor
berputar norma, penghantar-penghantar tersebut tak berfungsi lagi.

Gambar 22. Damper grids.


Motor AC Asinkron 3 fasa

20
Motor AC asikron 3 fasa banyak digunakan pada mesin-mesin penggerak di
Industri karena daya keluaran mesin – mesin tersebut lebih besar dari 1. Adapun kelebihan
dan kekurangan motor induksi bila dibandingkan dengan jenis motor lainnya, adalah :

Kelebihan Motor Induksi


 Mempunyai konstruksi yang sederhana.
 Relatif lebih murah harganya bila dibandingkan dengan jenis motor
yanglainnya.
 Menghasilkan putaran yang konstan.
 Mudah perawatannya.
 Untuk pengasutan tidak memerlukan motor lain sebagai penggerak mula.
 Tidak membutuhkan sikat-sikat, sehingga rugi gesekan bisa dikurangi.
Kekurangan Motor Induksi
 Putarannya sulit diatur.
 Arus asut yang cukup tinggi, berkisar antara 5 s/d 6 kali arus nominal

A. Prinsip kerja
Bila pada ke-3 fasa belitan stator diberikan tegangan 3-fasa seimbang maka pada
inti stator akan terjadi medan putar, yang berputar sesuai dengan kecepatan sinkron.

120  f
Ns 
p

Ns : kecepatan putaran sinkron


F : frekuensi tegangan stator
p : jumlah kutub motor

Fluksi yang berputar di sepanjang inti stator itu akan memotong batang-batang
konduktor rotor, sehingga terimbas suatu tegangan imbas di rotor. Karena batang rotor
terhubung singkat maka akan mengalir arus rotor pada batang-batang rotor tersebut, yang
merupakan gaya putar rotor. Motor berputar dengan kopel putar sebesar gaya tersebut kali
jari-jari (jarak batang konduktor - as).

21
Gambar 23. Medan Putar Pada Motor 3 Fasa

Jumlah putaran stator motor Asinkron dapat dihitung dengan rumus :

60  f
ns 
p

n = Jumlah putaran / menit


f = Frekuensi
p = Jumlah pasang kutub

Bila salah satu fasa masukan terputus, jadi motor hanya mendapat masukan 2-fasa
maka tak akan terjadi medan putar sehingga kopel motor tidak terbangkitkan dan motor
gagal start. Pada kondisi motor tanpa beban maka putaran motor mendekati Ns.

Ns  N
S
Slip = Ns

S akan selalu ada pada operasi motor asinkron.

Pada beban mekanis motor makin besar, S akan makin besar pula. Saat itu kopel
motor akan mengimbangi kopel beban. Beban yang besar akan menarik arus motor yang
besar pula sehingga kopel motor = kopel beban dan terjadi pada putaran kerja sistem
motor-beban.

22
B. Torsi dan Daya
Seperti telah dibahas pada sub bab mengenai konstruksi dan prinsip kerja motor
induksi, tidak ada suplai listrik yang dihubungkan secara langsung ke bagian rotor motor,
daya yang dilewatkan senjang udara adalah dalam bentuk magnetik dan selanjutnya
diinduksikan ke rotor sehingga menjadi energi listrik. Rata-rata daya yang melewati
senjang udara harus sama dengan jumlah rugi daya yang terjadi pada rotor dan daya yang
dikonversi menjadi energi mekanis.

Daya yang ada pada bagian rotor menghasilkan torsi mekanik, tetapi besarnya torsi
yang terjadi pada poros motor dimana tempat diletakkannya beban, tidak sama dengan
besarnya torsi mekanik, hal ini disebabkan adanya torsi yang hilang akibat gesekan dan
angin.

 Daya motor 3 Fasa

Diagram aliran daya dari sebuah Motor Induksi Tiga Fasa seperti diperlihatkan
pada gambar 24
Daya Masuk Stator = Daya Keluar Stator + Rugi Tembaga Stator
Daya Masuk Rotor = Daya Keluar Stator
Daya Keluar Rotor Kotor = Daya Masuk Rotor - Rugi Tembaga Rotor

Gambar 24. Diagram Alir daya motor 3 Fasa

23
Keterangan :

Daya Keluar Rotor kotor = Pout rotor

Daya Masuk Rotor = Pin rotor

Rugi Tembaga Rotor = Pcu rotor

Pout rotor = Tg .2.  .Nr

24
Rugi Tembaga Rotor untuk Sistem Tiga Fasa, adalah :

Daya Mekanik (Pm) atau

Pout rotor =(1 - S) Pin rotor

25
Gambar 25. Rangkaian Ekuivalent Motor AC 3 fasa

C. Kontruksi dan tipe


1 Bagian bagian Motor

Gambar 26. Bagian – bagian motor 3 Fase.


26
2. Konstruksi
Stator dibuat dari besi plat berlapis, berfungsi untuk mengurangi eddy current.
Belitan stator dan pembagi medan magnit dihubungkan Y atau ∆.

Rotor dililit dihubung Y dan ujung yang lain disambung slip ring dengan sikat arang,
berfungsi sebagai penghubung singkat kumparan, jika motor sudah berjalan normal dengan
mengatur tahanan asut

D. Karakteristik

Gambar 27. Operasi motor asinkron. a) Karakteristik T-N motor dan beban
b) Diagram kerja motor

Pada gambar tersebut terlihat bahwa keseimbangan putaran terjadi pada n = N di


mana pada saat itu kopel beban = kopel putar motor.

Daya mekanis keluar motor saat itu :

TL  N
PO 
5250

Po [Hp] ; 1 lb = 0,45 kg

TL (ft - lb) ; 1 ft = 0,33 m

N (Rpm)

Bila saat itu motor mendapat tegangan catu 3-fasa V dan arus jala-jala I dengan faktor
kerja = cos Ǫ maka daya masuk motor:

Pin  3  V  I cos 
27
PO

sehingga efisiensi motor = Pin Kembali ke Gambar 2:

Pada saat start, motor mendapat momen/ kopel percepatan sebesar :

Ta  TS  TSB

Ta : Kopel percepatan motor saat start


TS : Kopel start motor
TSB : Kopel lawan dari beban saat start

Dari hubungan (6) itu terlihat bahwa kecepatan start motor adalah tergantung pada
tegangan masuknya. Untuk motor yang sama,

T  k V 2

Selanjutnya diagram pada Gambar 3 memperlihatkan karakteristik motor asinkron


dalam melayani beban.

Pada beban yang lebih besar, waktu start motor akan lebih panjang, arus kerja motor
lebih tinggi dan putaran kerja motor lebih rendah. Sementara itu oleh besarnya arus motor,
temperatur kerja motor akan lebih tinggi pula. Batas pembebanan motor ditentukan oleh
batas kenaikan temperatur yang terjadi yang masih dapat ditolerir oleh isolasi belian motor.
Tiap jenis isolasi beliatan motor mempunyai batas temperatur kerja maksimum sendiri-
sendiri yang tak boleh terlewati. Bila terlewati maka isolasi belitan tersebut akan rusak
hingga terjadi hubung singkat yang kemudian membakar isolasi belitan motor.

28
Gambar 28. Diagram perjalanan waktu dari arus dan
putaran motor untuk dua macam pembebanan
Start motor asinkron

Masalah kopel motor ini erat hubungannya dengan cara-cara start motor
asinkron.

Pada cara start wye - delta misalnya, kopel start motor:

T kV 2
 2
3
T1  
kV 
 3

1
Di mana T1 = kopel motor pada cara kerja wye-delta = 3 kopel start motor pada start
langsung hubungan delta.

Namun sementara itu, latar belakang penggunaan start semacam itu adalah
untuk menurunkan arus start motor. Istart sebesar itu (lihat persamaan 8) akan terus
mengalir sebelum motor berputar.

Vp
I start 
Zm

Vp : Tegangan masuk motor / fasa

Zm : Impedansi motor / fasa


29
Oleh Zm motor yang rendah maka Istart akan tinggi sekali yang selain
mengakibatkan jatuh tegangan sesaat yang besar dijaringkan (antara sumber - motor)
juga dapat mengganggu frekuensi pembangkit serta pengamanan pengaman arus
gangguan, terutama pada motor besar.

Vp / 3
Dengan start wye-delta, I start  , arus diperkecil 3 kali semula.
Zm

Dengan start melalui R depan atau X depan,

Vp
I start 
Zm  X d

Setelah motor berputar barulah Istart turun, sesuai :

V E
Is 
Zm

dimana E adalah ggl lawan motor.

Besarnya Xm ataupun Vstart adalah tergantung pada batas arus start minimum yang
masih dapat diterima oleh sistem motor - beban di mana motor pada kondisi start tersebut
masih sanggup membawa beban ke putaran nominal yang ditujunya.

Pengereman Motor Asinkron

Untuk mesin putaran cepat , cara mematikan harus melalui sistem pengereman.
Ada beberapa cara sistem pengereman :

 Sistem Mekanis.
Konstruksi : rotor dan stator berbentuk kerucut

Prinsip Kerja :
Posisi mati : rotor tak bergerak (direm) Saat start : rotor digeser oleh daya magnetis
ke dalam kira-kira 1 mm ( v ) sehingga rem (B) lepas dan motor mulai berputar.

Saat off pegas ( F ) menekan rotor keluar sehingga motor tererem kembali.

30
Rangkaian ekivalen motor asinkron

Sebagaimana juga dengan mesin listrik tak berputar: transformator, motor asinkron
mempunyai pula suatu rangkaian ekivalen. Rangkaian ekivalen motor asinkron diciptakan
untuk mempermudah pekerjaan analisa atas motor. Lihat gambar 4.

Gambar 9. Rangkaian ekivalen motor asinkron per fasa.

di mana :

Vm / fasa : tegangan masuk motor / fasa


R1 : tahanan stator
X2 : reaktansi
2
a R2 : tahanan rotor dilihat dari stator
a2 X2 : reaktansi
Rc : tahanan rangkaian magnetisasi motor
Xc : reaktansi rangkaian magnetisasi motor
1 S
 a 2  R2 : menggambarkan tahanan yang mewakili beban yang merupakan
S
fungsi dari S; a: perbandingan lilitan stator dan rotor

Nilai parameter rangkaian ekivalen motor diperoleh dari hasil pengukuran


laboratorium. Contoh penggunaan rangkaian ekivalen ini misalnya untuk menhitung
efisiensi, daya keluaran dan lain-lain. Untuk putaran motor tertntu maka nilai I1 dapat
dicari. Demikian pula nilai I2 dan keluaran motor adalah :

1 s
P0  3  I 2   a 2  R2
2

rugi-rugi motor adalah :

Ploss  I1 R1  I RC R0  I 2 a 2 R2
2 2 2

31
1 S
Cos  motor adalah dicari setelah nilai  a 2  R2 diperoleh, dilanjutkan cara
S
perhitungan menurut teori rangkaian listrik untuk jaringan R dan XL.

Masukan motor adalah :

Pin  3  I1  V1  cos 

Dengan demikian efisiensi motor dapat dicari.

E. Penggunaan
F. Proteksi
G. Kesalahan pada Motor 3 Fase
Kesalahan atau kerusakan yang terjadi pada motor 3 fase ini di tandai motor tidak
dapat berputar saat dijatu dengan tegangan. Kesalahan atau kerusakan ini antara lain :

Kesalahan :

- Tidak ada sumber


- Sumber tidak cocok
- Pengereman mekanis
Kerusakan :

− Pada pengaman motor

− Pada saklar motor

− Pada belitan motor ( pada terminal motor )

Cara pencarian kesalahan / kerusakan pada motor


a. Memutar poros/as motor dengan tangan

Petunjuk : Motor kecil, beban kecil → Pengereman kecil

Motor besar, beban besar → Pengereman besar

Jika As motor tidak mau berputar maka terjadi “ gangguan mekanis yaitu :

− Kerusakan/penjepitan dari lacker (bearing)


32
− Gear rusak

b. Mengukur tegangan dengan voltmeter

Untuk mengetahui apakah motor hubung singkat atau terjadi kebocoran arus atau
ada kerusakan lain, maka dilakukan pengukuran tegangan dengan voltmeter.

b.1). Mengukur diatas saklar

Pengukuran R-S, S-T, R-T

V1 = V2 = V3 Kondisi sekering baik

V1 = V2 = V3 Pengaman putus atau hantaran bocor.

b.2). Mengukur dibawah saklar

V1 = V2 = V3 sama pengukuran dengan b.1 kondisi saklar baik Jika tidak sama kondisi
saklar rusak

b.3). Mengukur pada terminal motor

a. Jika V1, V 2, V3, tidak ada tegangan’maka hermorelay p utus


b. Jika V1 ≠ V2 ≠ V3 atau antara fase dengan

HP tidak sama besarnya Kerusakan dalam hantaran atau terminal baut kurang keras.

33
c. Mengukur antara HP dengan titik bintang Jika besar tegangan 0-10 V
( pada U = 380 V ) Kumparan masih baik, tapi jika tegangan lebih dari 10 V, maka
bisa dikarenakan Sumber tegangan kurang simetris

Jika tegangan sumber sudah simetris, tapi pengukuran tegangan lebih dari 10 V
( pada U = 380 V ), berarti Kumparan kontak dengan badan motor Ada kegagalan
isolasi dengan U = 380 V

c. Mengukur arus motor

Mengukur arus motor tujuannya adalah untuk mengetahui dan membandingkan


dengan /arus nominal motor. Cara yang baik adalah dengan menggunakan tang amper,
karena bisa mengetahui arus start motor ( 5 - 7 × Ιn ).

Jika Semua hasil pengukuran sama atau dibawah In arus motor baik.

Hasil pengukuran sama, kadang-kadang / terus menerus semakin besar dari In, berarti
beban terlalu besar, tetapi jika dalam waktu pendek, agar aman perlu diukur suhunya.
Jika arus dari semua fase tidak sama/melebihi In maka terjadi hubung singkat atau
kumparan bocor.

34
d. Pengukuran Tahanan

Awas : motor harus dimatikan dan terminal motor harus bebas tegangan.

Mengukur masing-masing tahanan, Titik Y atau ∆ harus dilepas, Jika besar tahanan
dari masing-masing belitan sama belitan baik ( Untuk daya motor simetris )

e. Pengukuran tahanan isolasi

Cara pengukurannya dilakukan : Masing-masing kumparan diukur dengan badan


motor menggunakan megger.

Jika tahanan isolasi besarnya ± 1 K Ω/Volt motor baik


Jika dibawah harga tersebut : Terjadi kegagalan isolasi

f. Pengukuran putaran

Jika putaran motor dibawah putaran nominal hal ini disebabkan oleh :

Beban motor terlalu besar


Motor salah sambung biasanya terjadi pada motor 2 kecepatan / dahlander

g. Pengukuran Suhu

Hal ini jarang dilakukan, karena biasanya pengukuran langsung didalam motor
dan tidak boleh dibenarkan diatas body.

Suhu motor akan menentukan klas isolasi, berikut tabel klas isolasi

35
A
1050 C
E
B 1200 C
F
H 1300 C

Toleransi harga nominal :

± 10 %

Tegangan Pada hubungan Y/∆ ± 10 % ( Dari beban penuh 100 %

s/d 10 % ) ( tanpa beban )

Daya yang dihasilkan Antara beban penuh s/d tanpa beban


bisa lebih 10 % waktu singkat
± 10 %

Tabel Prosedure pencarian kiesalahan pada motor Asynchron 3 fase

Motor tidak berputar Pada peralatan pengaman Pengaman putus/rusak Jika pengaman
( Zekering, MCB, thermo baik Kesalahan pada kontaktor dan
relay ). saklar hantaran(putus)

Tegangan motor tidak ada Kumparan motor putus pada


Motor tidak ada reaksi sambungan (Y atau ∆ )

Untuk mengetahui kumparan yang


putus/normal

36
•Motor tidak berputar Memutar As motor Gangguan mekanis Rusak atau
• Putaran kurang baik Peralatan pengaman putus Hubung singkat / putus
• ( berbunyi ) Tegangan pada motor pada hantaran Kumparan rusak
• Peralatan pengaman dengan jembatan Y/∆ Kumparan putus Hubungan
• langsung jatuh yangdibuka singkat
Tidak ada/kurang Hubungan singkat sumber
• Peralatan pengaman
Ada tegangan mengukur /kumparan
• putus terus jika kopel
tahanan ( tergantung Kebocoran antara belitan dengan
• terminal dibuka body
besarnya ) Isolasi motor

• Motor berputar Penyetelan / setting arus Setelan harus sama In


thermorelay putus
pada hermorelay dibawah Ventilator rusak / kotor udara
dalam waktu singkat
Ι nominal tertutup kotoran
• Motor panas
Beban motor > dari daya motor .
• Motor berputar lambat Pengukuran suhu motor
Momen beban > momen
• Daya motor kurang Arus asut (sampai 10 × Ιn ) dayaCelah udara antara rotor
danstator terlalu besar. Ada
• Putaran lambat dan bagian besi rusak,Lacker rusak
berbunyi
Tegangan betul Teg. kecil Teg. besar ∆ /Y
• Untuk motor yang baru Sambungan keras dan Meneliti antar fasa dari
disambung betul ? motor
HP baik Start langsung = In
Putaran betul/salah Start Y/∆ Thermorelay dalam hantaran
Sebelum thermorelay saklar = Ιn
TR dalam hantaran suplai
motor : 0,58 × In

SOAL LATIHAN

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan :


a. Kelistrikan dalam Industri b. Transformator d. Generator e. Motor listrik

2. Jelaskan pendapat saudara mengapa hal tersebut dapat terjadi :


a. Slip ( s ) pada motor listrik arus balak balik asinkron
b. Beda fasa antara daya nyata ( Watt ) dengan daya semu (VA)

3. Sebutkan cara-cara pengasutan motor listrik 3 dengan menggunakan saklar - , dan


gambarkan instalasi pemasangannya, seperti dalam praktikum?

4. Didal am kelistrikan dikenal hal-hal sebagaiberikut, jelaskan apa yang saudara


ketahui :
a. Tentang Factor daya (cosφ ) pada saluran listrik arus bolak-balik.
b. Masalah daya nyata ( Watt ) dan daya semu (VA)
37
5. Sebuah motor arus bolak-balik 3 fasa dijalankan, kemudian salah satu fasanya tak
terhubung apa yang terjadi ? dan berapakah tegangan dan arus kumparan, jika
dibandingan dengan arus normalnya.

6. Jelaskan mengapa, jika akan menghubungkan motor listrik 3 phasa dengan tegangan
Jarring an 220/380 V motor harus digunakan dalam hubungan bintang, dan jika
motor dihubungkan dengan jaringan 127/220 V, motor terhubung dalam segi tiga ?.

7. Berikan penjelasan bahwa dalam penggunaan energi listrik, harus mempertimbangkan


hal tersebut:

a). Mengapa menggunakan tegangan bolak- balik (AC), lebih menguntungkan


daripada tegangan Searah (DC).
b). Bila pada ke-3 fasa belitan stator diberikan tegangan 3-fasa seimbang, maka pada
inti stator akan terjadi medan putar, berikan penjelasan prinsip kerja dari motor
tersebut.

8. Berikan penjelaskan apakah yang dimaksud dengan hal tersebut ?.

a). Slip ( s ) pada motor listrik arus bolak- balik asinkron


b). Beda fasa antara daya nyata ( Watt ) dengan daya semu (VA)

9. Motor induksi merupakan motor listrik yang paling populer di industri karena
kehandalannya dan lebih mudah perawatannya.:
a). Apakah yang dimaksud dengan motor induksi
b). Berikan penjelasan klasifikasi dari motor tersebut
c). Jelaskan fungsi dari komponen-komponen pada motor yang dimaksud.

10. Berikan penjelasan hal yang dapat penyebab rugi-rugi daya, pada motor listrik.

a). Perbedaan daya masuk (Pin) dan daya keluar (Pout),

b). Apakah tujuannya dilakukan pengukuran arus pada motor yang sedang bekerja.

II ( Soal Hitungan )

1. Sistem pemanasan pada mesin industri untuk produksi pembuatan ban dari karet
mempunyai data sbb: Daya terpasang sebesar 150 KWatt; tegangan kerja 220 V;
Factor daya(cos  )= 0,86 lagging. Dioperasikan pada beban penuh untuk memenuhi
energi listrik sebesar 150 Kjoule, untuk pemanasan mesin produksi selama 6 jam,
tentukan :
a. Arus listrik yang dibutuhkan
b. Bila tarif listrik perKwh Rp 450,- berapa biaya yang harus dikeluarkan ?
38
2. Sebuah perusahaan air minum akan memasang tiga buah motor untuk pompa air dengan
kapasitas daya terpasang untuk pompa I = 21,12 kW, pompa II = 7,92 kW, pompa III =
26,40 kW. Karena merk motor serupa dari satu pabrik, maka mempunyai faktor daya
yang sama sebesar 0,85 dan Tegangan suplai yang digunakan 380V disuplai dari satu
sisi. Sedangkan jarak pemasangan beban, dihitung dari titik suplai berurutan 15 m,
68 m, 104 m. Kabel suplai digunakan NYFGbY kabel tanah dengan luas penampang
kabel dimana-mana sama dengan  = 0,02 x 10-6 m. Rugi tegangan yang
diperbolehkan sebesar 5%.

Ditanyakan :
a. Jumlah arus dari ketiga motor tersebut ?
b. Luas penampang kabel penghantar standar yang digunakan ?
c. Tunjukkan besarnya tegangan di tiap titik penghubung dari ketiga motor
dengan ketentuan ( dihitung berdasarkan kabel ukuran standar yang digunakan)

3. Dalam suatu perencanaan pemasangan instalasi listrik sistem 3 fasa dengan tegangan
kerja terpasang 380/220 volt, 50 Hz. Sedangkan beban yang terpasang berupa motor-
motor listrik sebagaimana terlihat pada gambar dibawah. Kabel suplai digunakan
NYFGbY kabel tanah dengan luas penampang kabel dimana-mana dianggap sama
dengan  = 0,02 x 10-6 m. Rugi tegangan yang diperbolehkan maks 4%.

75m 50m 60m

I A B C D
I=15 HP II= 20 HP III= 10 HP
pf = 0,8 pf = 0,77 pf = 0,85
Pertanyaan:

a. Hitung kuat arus yang mengalir pada masing masing PHB

b. Gambarkan bagan instalasinya , dan tentukan besar pengaman lebur yang dipasang

c. Tentukan luas penampang penghantar yang harus digunakan.

d. Tunjukkan besarnya tegangan di tiap titik penghubung dari ketiga motor

dengan ketentuan ( dihitung berdasarkan kabel ukuran standar yang digunakan)

DAFTAR PUSTAKA

1. A Text Book of Electrical Technology, B.L. Theraja 17th edition, 1970, Nirja
Contruction and Deveploment Co (P) Ltd.

39
2. Basic Electrical Engineering, Fitzgerald, Grabel & Higgibotham, third edition,
MC. Graw Hill.

3. Electrical Machines, Charles S. Siskind, Second edition, MC Graw Hill.


4. Dasar Tenaga Listik, Zuhal, 1977 ITB.
5. Mesin Listrik Jilid 2, Drs. Soeparno dan Drs. Bambang Soepatah,
Departemen P dan K.

6. Automated Buildings www.automatedbuildings.com/news/jul01/art/abbd/abbf2.gif

7. Bureau of Energy Efficiency (BEE), Ministry of Power, India.


Components of an Electric Motor 2005 .www.energymanagertraining.com
/equipment_all/ electric_motors/eqp_co mp_motors.htm

8. Bureau of Energy Efficiency, Ministry of Power, India. Energy Efficiency in


Electrical Utilities. Book 3. 2004

9. Bureau of Indian Standards. Indian Standard Code for Motors –


IS1231.C.R. Nave, Department of Physics and Astronomy, Georgia State
University. How does an electric motor work? In: Hyperphysics, Electricity
and Magnetism. 2005 http://hyperphysics.phy- astr.gsu.edu/hbase/hframe.html

10. DirectIndustry. Virtual Industry Exhibition. 2005. www.directindustry.com


Electricians Toolbox Etc (E.T.E.). Motor Characteristics. 1997.
www.electoolbox. com/motorchar.htm Integrated Publishing. Synchronised
Motors, In: Neets, Module 01, Introduction to Matter.

40