You are on page 1of 57

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan pembangunan Indonesia adalah bidang pendidikan dan

sumber daya manusia yang berkuliatas. Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1)

disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, (2)

setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib

membiayainya.

Tujuan Pendidikan Nasional secara lebih luas, yakni pendidikan nasional

yang bertujuan untuk mengupayakan perluasan dan pemeratan kesempatan untuk

memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia serta

menuju terciptanya manusia indonesia yang berkuliatas tinggi, Meningkatkan

jaminan kesejahteraan tenaga pendidikan mampu berfungsi secara optimal,

Memberdayakan lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah, sebagai

pusat pembudayaan nilai, Sikap dan kemampuan, Serta berorientasi pada masa

depan.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menempuh potensi sumber daya

manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Ada dua buah konsep

kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, Yaitu belajar (learning) dan

1
2

pembelajaran (instruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik dan

konsep pembelajaran pada pihak pendidik. Kegiatan belajar mengajar

melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, Guru (pendidik), tujuan

pembelajaran, isi pelajaran, Metode mengajar, Media, dan evaluasi. Tujuan

pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang positif dari peserta didik

setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar.1

Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang

berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada

ketidakmampuan mental, Emosi atau fisik.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan

memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada

umunya.

Anak berkebutuhan khusus ini memilki apa yang disebut dengan

hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and

deveolpment). oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang

sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh

masing-masing anak.

1
Murtini. upaya meningkatkan kemampuan membaca dengan model pembelajaran talking stick pada
siswa kelas IV Tunagrahita ringan di SDLB Dharma waninit.(Banjarmasin : Skripsi 2012), hal. 2 - 3
3

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa anak

berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak-anak

secara umumnya.

Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang atau

bahkan lebih dalam dirinya.2

Anak Tunagrahita adalah individu yang secara signifikan memiliki

intelegensi normal dengan skor IQ sama atau lebih rendah dari 70. Intelegensi

yang di bawah rata-rata anak normal, Jelas ini akan menghambat segala aktifitas

kehidupan sehari-hari, dalam bersosialisasi, Komunikasi dan yang lebih

menonjol adalah ketidakmampuannya dalam menerima pelajaran yang bersifat

akademik sebagaimana anak-anaknya sebayanya.

Berdasarkan hasil prapenelitian menemukan bahwa anak tunagrahita

sedang kelas V SDLB Paramita Graha Banjarmasin pada kurikurulum kelas V

SD sudah masuk bagian materi penjumlahan dan pengurangan dan anak

tunagrahita itu sudah duduk kelas V SD. Jadi dari hasil pengamatan saat anak

mengikuti pelajaran di dalam kelas, anak terlihat kesulitan untuk memahami

pelajaran khususnya pelajaran matematika mengenal bilangan 1 sampai 10.

misalnya saja jika mengurutkan angka 1 sampai 10, menyebutkan dan

menuliskan angka 1 sampai 10 secara berurutan sudah mampu, tapi apabila

2
Dedy Kustawan dan Yani Meimulyani.mengenal pendidikan khusus&pendidikan layanan khusus
serta implementasikan.(Jakarta timur.Pt luxima.2013), hal 28-29.
4

ditunjuk angka secara acak anak kebingunan dan tidak bisa menyebutkan angka

secara benar. 3

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka permasalahan

dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

Apakah media pembelajaran color box smile dapat meningkatkan kemampuan

mengenal konsep bilangan angka 1 sampai 10 pada anak tunagrahita sedang kelas

V SDLB Paramita Graha Banjarmasin ?

C. Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah agar anak

mampu mengenal konsep bilangan 1 sampai 10 melalui media pembelajaran color

box smile.

D. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Aplikatif

Memberikan pengalaman mengenal angka 1- 10 menggunaan media

pembelajaran color box smile pada anak tunagrahita sedang di kelas VB SDLB

3
Ibid. Hal.30
5

Paramita Graha Banjarmasin dan dapat meningkatkan kemampuan akademik

yang dimiliki anak.

2. Manfaat Teoritis

a. Bagi peneliti

Memberikan pengalaman dan wawasan dalam pengetahuan tentang

bagaimana cara mengajar yang bisa di gunakan pada anak tunagrahita

ringan melalui media pembelajaran color box smile untuk meningkatkan

kemampuan anak mengenal bilangan angka 1 sampai 10.

b. Bagi Guru

Sebagai masukan dalam meningkatkan pengetahuan tentang konsep

mengajar materi mengenal angka 1 sampai 10 pada anak tunagrahita sedang.

c. Bagi Siswa

Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenal angka 1- 10 agar

anak bisa melanjutkan belajar ketahap berikutnya

d. Bagi Sekolah

Sebagai acuan perbaikan kualitas pembelajaran di kelas dalam

meningkatkan proses belajar mengajar khususnya mata pelajaran

matematika.
6

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Anak Tunagrahita

1. Pengertian Anak Tunagrahita

Anak tunagrahita adalah individu yang secara signifikan memiliki

intelegensi dibawah intelegensi normal dengan skor IQ sama atau lebih

rendah dari 70. Intelegensi yang dibawah rata-rata anak normal jelas akan

menghambat aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari, dalam bersosialisasi,

Komunikasi dan yang lebih menonjol adalah ketidakmampuan dalam

menerima pelajaran yang bersifat akademik sebagaimana anak- anak

sebayanya.4

Istilah-istilah tersebut sesungguhnya memiliki arti yang sama, yang

menjelaskan kondisi anak yang kecerdasan jauh di bawah rata-rata. Anak itu

ditandai oleh keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam berinteraksi

sosial.5

4
kemis dan Ati.pendidikan anak berkebutuhan khusus tunagrahita.jakarta timur.PT luxima
media.2013.hal 15-17
5
E.kosasih.cara bijak memahami anak berkebutuhan khusus.Bandung.Yrama widya.2012.hal 140
7

Anak Tunagrahita adalah mereka yang memiliki kecerdasan berada

dibawah rata-rata, di samping itu mereka mengalami keterbelakang dalam

menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa anak

tunagrahita adalah anak yang memiliki intelegensi di bawah rata-rata atau di

bawah dari anak pada umumnya, hal ini dapat menghambat aktifitasnya

dalam kehidupan sehari-hari. misalnya sulit untuk bersosialisasi, komunikasi

dan yang lebih tampak adalah sulitnya dalam menerima pelajaran, khususnya

dalam hal akademik di sekolah.

2. Faktor-faktor Penyebab Tunagrahita

Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor:

a. Genetik

Kerusakan/kelainan Biokimiawi, Abnormalitas Kromosal

b. Sebelum lahir (Pre-natal)

1) Infeksi Rubella (cacar)

2) Faktor rhesus (RH)

c. Kelainan (pre-natal) yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat

kelahiran.
8

d. Setelah lahir (post-natal) akibat infeksi misalnya: meningitis (peradangan

pada selaput Otak) dan problem nutrisi, yaitu kekurangan gizi seperti

kekurangan protein.

e. Faktor sosia-kultural atau sosial budaya lingkungan.

f. Gangguan metabolisme/nutrisi.

1) Phenylketonuria

2) Gargoylisme

3) Cretinisme

Penyebab Tunagrahita secara umum sebagai berikut :

a. Infeksi atau sebab fisik lain.

b. Rudapaksa dan/atau sebab fisik lain.

c. Gangguan metabolisme, pertumbuhan atau Gizi atau nutrisi.

d. Penyakit otak yang nyata (kondisi setelah lahir / post-natal)

e. Akibat penyakit atau pengaruh sebelum lahir (pre-natal) yang tak diketahui

f. Akibat kelainan kromosom.

g. Gangguan waktu kehamilan.

h. Gangguan pasca-psikiatrik /gangguan jiwa berat

i. pengaruh lingkungan

j. Kondisi-kondisi lain yang tak tergolong.


9

3. Klasifikasi Anak Tunagrahita

Penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran yaitu:


IQ
Klafikasi
Stanford Skala Weschler
Binet
Tunagrahita ringan 68 – 52 69 – 55

Tunagrahita sedang 51 – 36 54 – 40

Tunagrahita berat 32 – 90 39 – 25

Mengutip dari beberapa pendapat di atas, maka peneliti menegaskan

bahwa yang dimaksud dengan anak tunagrahita adalah anak dengan

kemampuan intelegensi di bawah rata-rata yang memiliki kekurangan dalam

adaptasi tingkah laku dan berlangsung pada masa perkembangan.

4. Anak Tunagrahita Sedang

a. Pengertian Anak Tunagrahita sedang


10

Istilah kelainan mental subnormal dalam beberapa referensi disebut

pula dengan keterbelakangan mental, lemah ingatan Feebleminded, mental

subnomal, Tunagrahita. semua makna dari istilah tersebut sama, yaitu

menunjuk kepada seorang yang memiliki kecerdasan mental dibawah

normal. Anak Tunagrahita adalah anak memiliki taraf kecerdasan yang

sangat rendah sehingga tugas untuk meneliti perkembangannya sangat

membutuhkan layanan dan bimbingan secara khusus. (Mohammad Efendi,

2006: 110).

Anak Tunagrahita sedang disebut juga imbesil. kelompok ini memiliki

IQ 51-36 pada skala binet dan 54-40 menurut skala weschler (WISC)

dalam kehidupan sehari-hari masih membutuhkan perawatan yang terus

menerus. Hal ini dilakukan supaya anak dapat bekerja di tempat terlindung

sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akedemik seperti menulis,

membaca, serta berhitung namun anak dapat menulis hal-hal paling

sederhana yakni nama, Dengan kata lain tunagrahita sedang lebih

ditekankan pada kemampuan yang berasal dari dirinya sendrinya, yakni

berupa latihan keterampilan yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari

tidak menekan pada pendidikan akademik, tetapi pada pendidikan sosial,

dapat mengurus diri sendiri, mandi, berpakaian, makan, minum, hingga

mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana.


11

Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan

bahwa anak Tunagrahita sedang adalah golongan anak yang memiliki IQ

berkisar 30/50 sampai 54/50 masih mempunyai potensi yang dapat

dikembangkan baik dibidang akedemik maupun non akedemik, namun

dalam pendidikannya perlu bimbingan dan pelayanan khusus.

b. Karakteristik Anak Tunagrahita sedang

Sikap yang ditampilkan dalam kehidupan seorang anak tunagrahita

sedang akan terlihat saat anak melakukan aktivitas atau kegiatan, dari

perkataan, perbuataan, emosi, sosial, serta kemampuan kognitif yang

dimiliki. Dengan mengamati hal-hal ini, dapat diketahui karekteristik yang

dimiliki anak tunagrahita sedang, yaitu anak tunagrahita yang termasuk

kategori sedang biasa memiliki karaktristik dan gejala klinik dan pada usia

sebelum 5 tahun sudah merupakan keterlambatan mental atau keturunaan6.

IQ anak berhambatan mental berkisar antara 30-50 dn prevalensi 22

kira-kira 20% dari jumlah anak kategori retardasi mental sedangkan khusus

anak tunagrahita sedang yaitu :

a. Karakteristik fisik

Terlihat kecacatannya, penampakan fisik jelas terlihat karena pada

tingkat ini banyak dijumpai tipe Brain Damage, koordinasi motorik

6
Mumpurianti.ortotidatik tunagrahita.yogjakarta.fiy uny.2003.hal 24
12

lemah sekali adalah penampilan yang nampak sekali pada anank

keterbelakangan.

b. Karekteristik psikis

Menginjak umur dewasa anak baru mencapai kecerdasan setaraf anak

normal usia 7 tahun atau 8 tahun. Anak hampir tidak mempunyai

inisiatif, kekanakan-kekankan, sering melamun atau tidak hiperaktif.

c. karakreristik sosial

Banyak diantara anak tunagrahita sedang yang sikap sosialnya kurang

baik, rasa etisnya kurang dan tampak tidak mempunyai rasa terimakasih,

rasa belas kasihan dan rasa keadilan.

d. karakteristik akedemik

Umumnya memiliki kemampuan untuk dilatih dan diberi sedikit

pelajaran membaca, menulis dan berhitung yang fungsional untuk

kehidupan sehari-hari sebagai bekal mengenal lingkungan, serta latihan-

latihan memelihara diri dan beberapa keterampilan sederhana.

karakteristik anak tunagrahita sedang adalah sebagai berikut:

1) Cenderung memilki kemampuan berpikir konkrit dan sukar berpikir

abstrak.

2) Mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.

3) Kemampuan sosialisasinya terbatas.


13

4) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.

5) Kurang mampu menganlisa dan menilai kejadian yang diamati.7

Ahli lain juga berpendapat yang lebih luas dari karakteristik di atas,

karakteristik anak tunagrahita sedang adalah sebagai berikut:8

a. Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkrit dan sukar berpikir

abstrak.

b. Mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.

c. Kemampuan sosialisasinya terbatas.

d. Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.

e. Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang diamati.

f. Kerap kali diikuti gangguan artikulasi bicara.

Perkembangan motorik tidak dapat digunakan sebagai ukuran khusus

bagi perkembangan kognitif. Keterlambatan dalam kecakapan motorik

merupakan presentasi yang umum dijumpai pada gangguan perkembangan.

Anak dengan rendahnya kemampuan (impairment) motorik mungkin

mempunyai intelegensi yang normal, namun keterlambatan di bidang motorik

merupakan gejala yang umum dijumpai pada retardasi mental dan sering pula

7
muhammad efendi.pengeantar psikopegagogik anak berkalainan.fkipuns.surakarta.2006.hal 110
8
Muhammad Efendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Bumi Aksara,
2006), Hal. 98.
14

merupakan gejala pendahulu daripada gangguan belajar (learning

disabilities)9.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita

mempunyai karakteristik yang unik yang lebih mudah dikenali yakni

mempunyai kecakapan yang rendah baik kecakapan fisik, sosial maupun

psikis. Karakteristik tunagrahita sedang secara fisik menampakkan sekali

sebagai anak terbelakang dengan koordinasi motorik lemah. Karakteristik

sosial yang memerlukan arahan dan bimbingan khusus serta bekal kehidupan

yang harus diberikan untuk masa depannya. Anak tunagrahita sedang hanya

mampu berpikir konkrit sehingga kemampuan yang dapat dikembangkan

yaitu diberikan sedikit pelajaran menghitung, menulis dan membaca yang

berfungsi untuk kehidupan sehari-hari sebagai bekal mengenal lingkungannya

serta latihan-latihan memelihara diri dan beberapa keterampilan sederhana.

Anak tunagrahita sedang dalam melakukan kecakapan hidup sehari-hari masih

membutuhkan bantuan yang intensif dari luar, memerlukan banyak latihan

termasuk latihan untuk meningkatkan kemampuan motorik halusnya.

B. Kajian media pembelajaran

Media pembelajaran memiliki beberapa pengertian dilihat dari sudut

pandang para pakar. Media pembelajaran adalah metode dan teknik yang

9
Lumban Tobing,, Anak dengan Mental Terbelakang, ( Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2001), Hal .8.
15

digunakan untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan

siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran 10.

media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan

untuk pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara

pembelajar, pengajar dan bahan ajar. dapat dikatakan bahwa bentuk

komunikasi tidak akan berjalanan tanpa bantuan saranan untuk menyampaikan

pesan.

Bentuk-bentuk stimulus dapat dipergunakan sebagai media

diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realiatas gambar bergerak

atau tidak, tulisan dan suara yang direkam.11

1. Fungsi Media Pembelajaran permainan

Fungsi media pembelajaran adalah untuk mempermudah guru

menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat menstimulus pikiran,

perasan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga

proses pembelajaran terjadi dan berlangsung efisien.11

Media permainan tidak berbeda dengan media pembelajaran sehingga

fungsinya tidak jauh berbeda dengan media pembelajaran. Sudah pasti media

permainan juga merupakan alat bantu untuk meningkatkan kemampuan anak

10
Yani meimulyani dan Golyoto.media pembelajaran adaftif.PT LUXIMA.Jakarta timur.2013.hal 34
11
Rostina sundayani.media pembelajaran matematika. ALFABETA Bandung.2013.Hal 6.
16

yang memiliki hambatan. Media permainannya juga disesuaikan dengan

kebutuhan anak.

2. Macam- Macam Media

1.) Media auditif

media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara

saja, seperti radio, casette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok

untuk orang tuli atau mempunyai kelainan dalam pendengaran.

2.) Media visual

media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan.

Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti flim strip,

slider (flim bingkai) foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media

visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film

bisu, film kartun.

3. Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur

gambar. jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena

meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua12

3. Pengertian Media Color Box Smile


12
Yani meimulyani dan Golyoto.media pembelajaran adaftif.PT LUXIMA.Jakarta timur.2013.hal 39
17

Pengertian pembelajaran Color Box smile ialah media pembelajaran

yang diperuntukan dalam penelitian ini untuk anak tunagrahita sedang yang

mana bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal

angka bilangan 1-10. Bahwa media pembelajaran color box smile Dalam

penggunaan media color box smile ini menggunakan kardus yang mana

setiap sisi kanan dari color box smile ini bertulisan angka bilangan 1-10

sedangkan disisi kiri dari color box smile ini bertulisan bilangan dengan

ditambah gambar benda sesuai dengan angaka yang tertera di color box

smile.

1) Bahan dan Alat-Alat peraga media color box smile :

a) kardus

b) gambar bilangan angka

c) kartun warna hijau dan kuning

d) Pulpen, pensil, penghapus, buku.

e) Bola kecil

2) Cara membuat Media Color Box Smile

a) Satu buah kardus ukuran sedang berbentuk kontak

b) Kartun warna hijau ditempelkan sisi sebelah kanan dan kartun

warna biru ditempelkan sisi kiri, setelah itu setiap sisi kanan diisi

dengan angka bilangan satu sama sepuluh.


18

c) kardus dilubangi bagian atas agar mudah memasuki benda atau

barang sesuai dengan jumlah bilangan.

3) Cara menggunakan media Color Box Smile

a) Bila ditunjuk angka bilangan satu atau bilangan angka dua pada sisi

color box smile ( setiap sisi color box smile ada angka bilangan 1

sampai 10), Maka anak diminta memasukan benda sesuai dengan jumlah

bilangan yang ditunjuk, misalnya ditunjuk angka bilangan dua. Maka

anak memasukan benda didalam color box smile dan bila anak berhasil

memasukan bendanya sesuai jumlahnya maka anak dikasih gambar

smile dari peneliti .

b) Setelah dimasuki benda sesuai dengan jumlahnya didalam color box

smile maka anak minta menunjuk angka bilangan yang sisi sebelah

kanan atau sebelah kiri (setiap sisi color box box smile ada tulisan

bilangan angka 1 sampai 10).

4). Kelebihan dan Kekurangan Permaianan Media color box smile memiliki

beberapa kelebihan :

a). Media color box smile sebagai sarana meningkatkan dalam mengenal

bilangan angka 1 sampai 10.

b). Membuat anak senang.

c). Bisa digunakan untuk semua anak.

d). Melatih kesabaran anak agar tidak mudah putus asa.


19

e). Dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal angka 1

sampai 10.

f). Melatih fokus dan konsentrasi anak

g). Permainan ini semi kongkrit dan bisa juga permainan ini menjadi

semi.

Kekurangan media ini adalah media cepat rusak karena bahannya terbuat

dari kardus.

4. Pengertian Bilangan

Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk

pencahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang digunakan untuk

suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan. dalam

matematika, konsep bilangan selama bertahun-tahun lamanya telah dikenal

meliputi bilangan nol, bilangan negatif, bilangan rasional, bilangan

irasional dan bilangan kompleks.

Sebuah angka digunakan untuk melambangkan bilangan, suatu

entitas abstrak dalam ilmu matematika. bagi orang-orang awam, angka

dan bilangan seringkali dianggap dua entitas yang sama, mereka pun
20

umumnya menganggap angka dan bilangan sebagai bagian dari

matematika.

memang bahasa Indonesia belum cukup baku sebagai alat

komunikasi dalam ilmu sains, sehingga belum ada konsensus resmi bahwa

angka dan bilangan ''melambangkan dua hal yang sangat berbeda”.

demikian pula,kedua kata angka dan bilangan masih sering dipertukarkan

dengan kata nomor. Kata nomor biasanya menunjuk satu atau lebih angka

yang melambangkan sebuah bilangan bulat dalam suatu barisan bilangan-

bilangan bulat yang berurutan. Misalnya kata nomor 3 menunjuk salah satu

posisi urutan dalam barisan bilangan-bilangan 1,2,3,4,5,6,7,8,9. Jadi kata

nomor sangat erat terkait dengan pengertian 'urutan'.

Memperjelas pengertian bilangan, berikut diberikan dua contoh

penggunaanya: "Bilangan sepuluh ditulis dengan dua buah angka (double

digits), yaitu angka 1 dan angka 0.'' tanpa penjelasan lebih lanjut, kata

‘bilangan' disini selalu diartikan bilangan dalam sistem baris 10.

Macam-macam Bilangan :

1) Bilangan Asli

Bilangan Asli adalah bilangan bulat positif, contoh 1,2,3,4,5,6,7,8

2) Bilangan Prima
21

Bilangan Prima adalah bilangan-bilangan sail/asli yang hanya bisa dibagi

oleh dirinya sendiri dan satu, atau bilangan yang memiliki 2 faktor dan

angka satu bukan bilangan prima. contoh:2,3,5,7,11,13,17...

3) Bilangan cacah

Bilangan cacah adalah bilangan bulat positif digabung dengan nol.

contoh:0,1,2,3,4,5,6,7,....

4) Bilangan Bulat

Bilangan Bulat adalah bilangan yang terdiri dari seluruh bilangan baik

negatif, nol dan positif. contoh:-3,-2,-1,0,1,2

5) Bilangan Rasional

Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai p/q

dimana p,q bilangan bulat dan q ≠ 0 atau dapat dinyatakan sebagai

suatu bilangan desimal secara berulang ulang.contoh -2,2/7,52/11.13

C. Kerangka Berpikir

13
Dian Astari.meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan menggunakan media
pembejaran ular tangga bagi anak tunagrahita riang.(Banjarmasin: Fkip Universitas Lambung
Mangkurat, 2013), hal.
22

Anak Tunagrahita sedang adalah anak yang memilliki kecerdasan

dibawah rata-rata atau intelegensi dibawah rata-rata maka itu anak

tunagrahita sedang lemah dalam bidang akedemik. Maka dari itu untuk

pelajaran matematika sangat di perlukan media untuk meningkatkan

kemampuan anak dalam mengenal angka. salah satu media permainan yang

di gunakan adalah color box smile.

Color box smile ini sebuah kontak setiap sisi kontak tulisan bilangan

angka dan dimasuki bola didalam kontak itu sesuai jumlahnya. Anak

diminta memasuki bola sesuai dengan jumlah di dalam kontak itu dan anak

berhasil memasuki bola sesuai jumlahnya anak diminta menunjukan

bilangan angka pada sisi color box smile. Pembuatan media color box

smile angka ini disesuaikan dengan kemampuan anak tunagrahita yang sulit

untuk mengenal angka khususnya bilangan 1 – 10. Untuk lebih jelasnya,

dapat diuraikan dalam skema kerangka berfikir sebagai berikut:

Anak tunagrahita sedang

Meningkatkan kemampuan anak tunagrahita


sedang dalam mengenal angka 1 sampai 10.

Pemecahan masalah sulit mengenal angka

Menggunakan media color box smile


untuk meningkatkan kemampuan
mengenal bilangan 1 sampai 10.
23

Gambar 2.1
skema kerangka berfikir

D. Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah media color

box smile angka dapat meningkatkan kemampuan mengenal angka bilangan 1-

10 pada siswa tunagrahita sedang kelas V di SDLB Paramita Graha

Banjarmasin.
24

BAB III

METOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan

kuantitatif. Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel

sebagai objek penelitian, dan variabel-variabel tersebut harus didefinisikan dalam

bentuk operasional dari masing-masing variabel. Reliabilitas dan validitas

merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan


25

ini, karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan

kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis.

selanjutnya penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan

pengujian yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, Seperti

penentuan teknik analisa dan uji statistik yang akan digunakan pendekatan ini

juga lebih memberikan makna dalam hubungan dengan penafsiran angka statistik,

bukan secara kebahasaan dan kulturalnya.

Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam melakukan penelitian dengan

menggunakan pendekatan kuantitatif adalah menguji teori, membangun fakta,

menunjukan hubungan dan pengaruh serta perbandingan antarvariabel,

memberikan deksripsi statistik, Menafsir dan meramalkan hasilnya.14 Arif furhan

membagi desain eksperimen menjadi tiga yaitu desain pra eksperimen, desain

eksperimen sejati dan eksperimen semu. dalam penelitian ini menggunakan

desain pra eksperimen.

B. Desain penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pra

eksperimen. Bahwa penelitian pra eksperimen hasilnya merupakan variabel

dependen. bukan semata- mata dipengaruhi oleh variabel indepen.'' Hal ini dapat

14
Syofian siregar.Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif.PT BUMI AKSAR.jakarta.tahun
2013.hal 30
26

terjadi, karena tidak adanya variabel kontrol, dan sampel tidak dipilih secara

random. Metode ini bertujuan untuk mengetahui ada kemampuan akedemiknya.

Desain penelitian merupakan rancangan bagaimana penelitian

dilaksanakan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah one

group pretest posttest design. Dalam desain ini, sebelum perlakuan diberikan

terlebihi dahulu sampel diberi pretest (tes awal) dan akhir pembelajaran sampel

diberi post test design. Desain ini gunakan sesuai dengan tujuan yang hendak

dicapai yaitu ingin mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dan hasil

belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran berbasis masalah. Berikut

merupakan tabel desain penelitian one group pretes posstest design.

Tabel 3.1

Desain penelitian one group pretes-prosttest design

Pretest Treatment Post-test

O1 X O2

(Sugiono, 2008:111)

Keterangan :

O1 : Pre-tes diberikan sebelumnya mendapat perlakuan

X : Perlakuan yang diberikan kepada sampel penelitian

O2 : Post-tes diberikan sesudah mendatkan perlakuan


27

Pengambilan data pada desain penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali

yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Pengambilan data yang

dilakukan sebelum eksperimen adalah O1 (pre-test) dan data sesudah

eksperimen adalah O2 (Post-tes). perbedaan antara o1 dan o2 merupakan efek

dari treatment atau eksperimen.

C. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDLB B/C Paramita Graha Banjarmasin yang

beralamat di Jalan Kelayan B Kecamatan Banjarmasin Barat, Kelurahan

Kelayan Barat, Kota Banjarmasin.

Sekolah ini adalah salah satu sekolah berkebutuhan khusus yang memiliki

banyak siswa ABK, Seperti anak Autis, Tunarungu, Tunagrahita dan Tunadaksa,

khususnya anak tunagrahita dan tunarungu yang populasinya lebih banyak.

Kegiatan praktek lapangan dilakukan disekolah ini, maka peneliti lebih

tertarik dan memilih untuk melakukan penelitian disekolah tersebut karena lebih

efisien dalam waktu dan sangat terbuka dalam memberikan data-data penelitian

tentang kemampuan berhitung penjumlahan pada murid tunagrahita sedang di

SDLB B/C Paramita Graha Banjarmasin. Anak didk yang diteliti dalam peneliti

ini yaitu anak Tunagrahita kelas V.


28

D. Subjek penelitian

Subjek penelitian adalah sesuatu yang dijadikan bahan atau sasaran dalam

penelitian. Penelitian ini terfokus pada satu subjek saja. "Subjek penelitian

adalah benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian yang

dipermasalahkan melekat15.

Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa tunagrahita sedang yang duduk

kelas V di SLDB B/C Paramitha Graha Banjarmasin, dengan jenis kelamin laki-

laki yang bernama Saifullah alamat rumah di Jalan Sungai lulut, Banjarmasin.

E. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru kelas V di SDLB B/C

Paramita Graha Banjarmasin. tujuan penelitian ini untuk mengetahui media

pengajaran yang selama ini digunakan serta untuk memperoleh data tentang

permasalahan pembelajaran matematika, khususnya mengenal bilangan angka 1

sampai 10 yang diberikan kepada siswa tunagrahita sedang. Untuk mendapatkan

data tersebut, maka peneliti menggunakan teknik tes dan observasi.

Sumber data didapatkan dari siswa Tunagrahita sedang yang berjumlah 1

orang siswa, 1 anak autis dan 1 anak tunalaras. jadi didalam kelas berjumlah 3

15
Arikunto. Prosuder penelitian suatu pendekatan pratik.PT rineka cipta.Jakarta.2003.hal 81
29

orang siswa semua berbeda ABK yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana

kemampuan mengenal bilangan 1 sampai 10 pada anak Tunagrahita sedang.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar tes kemampuan yang telah

disusun peneliti dan disesuaikan dengan ketidakmampuan anak tunagrahita

sedang dalam melakukan mengenal bilangan angka 1 sampai 10. (Terlampir)

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi

tahap-tahap sebagai berikut.

1.) Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang

spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan

kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan

orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek

alam yang lain. mengemukan bahwa observasi merupakan suatu proses yang

kompleks, suatu proses yang tersusun dari perbagi proses biologis dan

psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan

dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan obsrvasi digunakan bila,


30

peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam

dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.16

2.) Tes

Data yang diungkap dalam penelitian dapat dibedakan menjadi tiga

jenis, yaitu fakta, pendapat, dan kemampuan. Untuk mengukur ada atau

tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti, digunakan tes.17

jadi intinya tes merupakan suatu penilaian untuk mengukur tingkat

kemampuan anak, tes bisa berbentuk serangkaian soal yang di kerjakan oleh

pelajar.

Tes ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pada saat pretest (sebelum

diberikan perlakuan ) dan pos-test (sesudah diberikan perlakuan ). Soal test

yang diberikan terhadap siswa pada saat pretest berbeda tetapi mempunyai

bobot ( tingkat kesulitan) yang sama pada soal saat pos-test.

H. Teknik Analis Data

Data yang telah terkumpul melalui tes disusun sedemikian rupa untuk

memudahkan pengolahaan dan analisis data, teknik analis data yang digunakan

analisis deksriptif kuantitatif yang dilakukan terhadap skor yang diperoleh

16
Sugiyono.metode peneliti pendidikan pendekatan kuantitatif ,kualitatif,dan
R&D.ALFABETA.bandung.hal 203
17
Arikunto.Prosuder penelitian suatu pendekatan pratik.PT rineka cipta.Jakarta.hal 266.
31

anak. Nilai yang peroleh selanjutnya dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan

minimal sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengambilan kesimpulan mengenai hasil belajar kemampuan dalam

mengenal bilangan angka 1 sampai 10 pada anak tunagrahita sedang kelas V di

SDLB B/C Paramita Graha Banjarmasin melalui penggunakan media color box

smile. Untuk mempermudah pemahaman mengenai teknik analisis data pada

penelitian in maka dapat dijabarkan ke dalam bentuk rumus perhitungan berikut

ini:

Kemampuan mengenal angka bilangan sebelum Treatment =

skor anak
x 100 %
skor maks

Setelah didapatkan hasil dari perhitungan tersebut dan dilakukan

Treatment atau pembelajaran dengan menggunakan media color box smile,

Maka selanjutnya dilakukan tes akhir terhadap kemampuan anak lalu hasilnya

dimasukan ke rumus berikut ini :

Kemampuan mengenal bilangan angka 1 sampai 10 sesudah Treatment =

skor anak
x 100 %
skor maks
32

Setelah didapatkan hasil perhitungan tersebut. Maka dapat dibandingkan

besar nilai kemapuan mengenal bilangan angka 1 sampai 10 pada anak sebelum

dan sesudah Treatment.

I. Jadwal penelitian

Fase Kegiatan Bulan

Maret April Mei Juni Juli


Minggu Minggu Minggu Minggu
Minggu

1. Persiapan a. Penyusunan Proposal

b.Persetujuan Proposal

2. Pengumpul a. Pengumpulan Data Primer


an Data
b. Pengumpulan Data Sekunder
33

3. Penulisan a. Membuat Daptar Laporan


Laporan
b. Bimbingan

4. Ujian a. Ujian
Skripsi
b. Perbaikan

5. Penyerahan a. Penyerahan Skripsi


Skripsi

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDLB Paramita Graha yang terletak di Kota

Banjarmasin, Tepatnya di Jalan Kelayan B, Gang Suka ria Kelurahan Kelayan barat

Kecamatan Banjarmasin barat. Letak sekolah merupakan daerah perkotaan dan


34

mudah dijangkau oleh masyarakat. Sekolah tersebut berdekatan dengan sekolah

SDN Kelayan Barat dan dekat perumahan warga sekitar.

SDLB Paramita Graha merupakan Sekolah swasta yang dikelola oleh

Yayasan Paramita. Bangunan sekolah SDLB Paramita Graha Banjarmasin terdiri

dari 4 ruangan, 2 ruangan digunakan untuk belajar mengajar, didalam satu ruangan

terbagi jadi 3 kelas, 1 ruangan untuk perpustakaan dan sisanya untuk ruangan guru.

buku yang ada di perpustakaan SDLB Paramitha Graha Banjarmasin cukup

memadai, hanya saja ruangan yang belum sesuai dengan kapasitas buku dan siswa.

Selain buku – buku pelajaran sekolah, perpustakaan ini juga memiliki majalah,

koran, buku cerita, buku pengetahuan umum dan lain-lainya.

Ruang kelas di SLDB Paramitha Graha Banjarmasin rata-rata luasnya 3m x

3m dengan sarana dan prasarana seperti papan tulis, lemari, kipas angin, meja dan

kursi. halaman yang ada disekolah ini bergabung dengan lapangan sekolah SDN

Kelayan 2 Timur, tetapi dengan bangunan sekolah yang terpisah. Kondisi

lingkungan sekolah terlihat sederhana. Bagian luar sekolah tidak ada tempat khusus

untuk menanam pohon sebagai upaya penghijauan sekolah. jumlah murid disekolah

ini 65 orang dan guru pengajar berjumlah 12 orang, terdiri 2 laki-laki 10 wanita.

Visi sekolah SDLB Paramita Graha Banjarmasin adalah terampil Imtaq.

Indikator terampil sebagai berikut yaitu : terampil membaca, terampil menghitung,

terampil menulis, terampil berbicara, terampil merawat diri sendiri, terampil

berolahraga, terampil berkesenian dan terampil beragama.


35

B. Keadaan lingkungan kelas

Kelas V mempunyai lima orang siswa. Semua siswa laki-laki. pada penelitian

ini, tidak semua siswa kelas V yang menjadi subjek penelitian, melainkan hanya satu

orang siswa tunagrahita sedang yang dijadikan subjek penelitian. Udara di dalam

ruangan kelas cukup baik, karena kelas mempunyai jendela yang memudahkan udara

untuk masuk sehingga kondisi ruangan tidak terlalu panas dan juga tidak lembab.

C. Pelaksanaan Penelitian

Data hasil penelitian adalah data yang peroleh dari hasil pengukuran

penguasaan siswa terhadap materi setelah pelaksanaan pembelajaran mengurut

bilangan menggunkan media pembelajaran Color Box Smile serta hasil observasi.

selama pelaksanaan tindakan. Data peneliti ini diolah dalam cara yaitu secara

kuantitatif. data yang dianalisis secara kuantitatif.

D. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Hasil Tes Awal (Pre test)

Tes awal penelitian ini dilakukan pada 12 Mei 2016 dikelas V SDLB Paramita

Graha Banjarmasin. Anak yang mengalami Tunagrahita sedang memiliki

kesulitan pada pelajaran matematika khususnya mengenal bilangan angka 1

sampai 10. Ada pun kemampuan anak dalam mengenal angka, peneliti sajikan

adalah hasil dibawah ini .


36

Tabel 4.1
Hasil Tes awal (pre test)
Skala

1 2 3 4 5 Skor Skor
No Perilaku Indikator
anak maks
1 Menyebutkan angka 1 sampai 5 5,3,2,4,1 √ 4 10
secara acak

2 Menyebutkan angka 6 sampai 10 7,9,6,8,10 √ 2 10


secara acak

3 Menuliskan bilangan angka 1 5,4,3,2,1 √ 4 10


sampai 5 secara acak

4 Menuliskan bilangan angka sesuai 10,9,8,7,6 √ 2 10


urutannya 6 sampai 10

12 40
Keterangan skala :
Skala 1 : anak tidak mampu.
Skala 2 : anak dibantu secara penuh.
Skala 3: sedikit di bantu.
Skala 4: anak mampu mengeal angka 1 -10 tetapi kadang-kadang salah.
Skala 5 : anak mampu mengenal bilangan secara mandiri.
Grafik 4.2
Hasil Tes Awal
37

10 Skor skala 1
Maks
10 Skor Maks
Skala 2

10 Skor Maks
Skala 3
10 Skor Maks

Skala 4

Bedasarkan grafik hasil tes awal diketahui bahwa pada perilaku

pertama anak memperoleh skala 2 artinya anak dibantu secara penuh untuk

menyebutkan angka 1 sampai 5 secara acak. pada perilaku kedua anak

memperoleh skala 1, artinya anak tidak mampu untuk menyebutkan angka 6

sampai 10 secara acak. Hasil perilaku ketiga anak memperoleh skala 2,

artinya anak dibantu secara penuh untuk menuliskan bilangan angka 1

sampai 5 secara berurutan. Pada perilaku keempat anak memperoleh skala 1,

artinya anak tidak mampu menuliskan angka 6 sampai 10 secara berurutan

Sebelum dilakukan Treatment menggunakan media colour box smile dapat

dihitung menggunakan rumus berikut :

Kemampuan anak sebelum Treatment =

skor anak
38

x 100 %
skor maks

12 X 100% = 0,3 X 100% = 30%


40

Berdasarkan perhitungan di atas diketahui bahwa kemampuan anak

dalam mengenal bilangan angka 1 sampai 10 hasilnya 30%.

Grafik tabel 4.3

35

30

25

20

15 30

10

0
pre test

2.Treatment (Kegiatan pembelajaran)

Treatment pada penelitian ini dilakukan sebanyak lima kali, dimulai

pada pertemuan pertama yang dilakukan pada tanggal 13 Mei 2016,

kemudian berlanjut pada tanggal 15 Mei 2016. Pertemuan keempat pada

tanggal 16 Mei 2016, pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 17 Mei


39

2016. pertemuan kelima pada tanggal 18 Mei 2016. Untuk lebih jelasnya,

dapat disebutkan dalam bentuk tabel dibawah ini :

Tabel 4.4
Jadwal Pertemuan Treatment
No Hari dan Tanggal Jam Pelaksanaan Tempat

1 Jum'at 13 Mei 2016 09.00-10.15 Pelaksaan Treatment Ruang kelas

2 Senin 15 Mei 2016 08.00-09.15 Pelaksaan Treatment Ruang kelas

3 Selasa 16 Mei 2016 08.00-09.15 Pelaksaan Treatment Ruang kelas

4 Rabu 17 Mei 2016 08.00.09.15 Pelaksaan Treatment Ruang kelas

5 Kamis 18 Mei 2016 08.00-09.15 Pelaksaan Treatment Ruang kelas

Treatment dilakukan dengan menginstrusikan anak untuk memasukan

sejumlah benda kedalam color box smile sesuia dengan angka yang tanyakan

oleh peneliti. Contohnya, Peneliti menujukan sebuah angka ada sisi color box

smile, anak kemudian menyebutkan angka yang tunjuk dan memasukan

sejumlah benda kedalam lubang color box smile.

Treantment pertama materi diajarkan kepada anak, peneliti menujukan

angka bilangan pada sisi color box smile kemudian anak menyebutkan angka

tersebut setelah itu anak memasukan benda kedalam color box smile sesuai
40

dengan jumlahnya bilangan yang sebutkan hasilnya anak hanya mampu

memasukan benda sampai 3 buah benda sesuai jumlahnya.

Treantment kedua yaitu peneliti menunjukan angka bilangan 5 dan 6

pada sisi color box smile. yaitu hasilnya anak berhasil menyebutkan

angkanya sesuai dengan di tunjuk oleh peneliti. Anak diperintahkan

memasukan benda kedalam color box smile sesuai angka bilangan 5 dan 6,

hasilnya anak berhasil memasukan 5 benda kedalam color box smile dan

memasukan 6 benda kedalam color box smile sesuai dengan jumlah bilangan

.Treantment ketiga yaitu peneliti menunjukan angka bilangan 7 pada sisi

color box smile. Anak menyebutkan angka bilangan 7 yaitu hasilnya

anak berhasil menyebutkan angkanya sesuai dengan di tunjuk. Anak

diperintahkan memasukan benda kedalam color box smile sesuai angka

bilangan 7, hasilnya anak tidak berhasil memasukan 7 benda kedalam color

box smile. Anak hanya berhasil menyebutkan bilangan tetapi anak tidak

berhasil memasukan kedalam color box smile dengan sesuai jumlanya.

Treantment keempat yaitu peneliti menunjukan angka bilangan 8 pada

sisi color box smile. Anak menyebutkan angka bilangan yaitu hasilnya anak

salah menyebutkan angkanya. Anak diperintahkan memasukan benda

kedalam color box smile sesuai angka bilangan 8, hasilnya anak tidak sampai

8 buah benda yang di masukan benda kedalam color box smile yang masuk

anak sampai 7 buah benda kedalam color box smile.


41

Treantment kelima yaitu peneliti menunjukan angka bilangan 9 pada

sisi color box smile. Anak menyebutkan angka bilangan 6 hasilnya anak

salah menyebutkan bilangan angkanya. Anak diperintahkan memasukan

benda kedalam color box smile sesuai angka bilangan 9, hasilnya anak tidak

sampai 9 buah benda yang di masukan benda kedalam color box smile yang

masuk anak sampai 8 buah benda kedalam color box smile.

3. Hasil Tes akhir (post tes)

Tes akhir (post tes) dalam penelitian ini dilaksanakan pada pertemuan

terahir pada tanggal 23 Mei 2016. Untuk mempermudah mengetahui

kemampuan anak sesudah dilakukan Treatment dapat dilihat pada tabel tes

akhir (post test) dibawah ini.


42

Tabel 4.5
Hasil Tes akhir (post Test)

Skala

1 2 3 4 5 Skor Skor maks


No Perilaku Indikator anak
1 Menyebutkan angka 1 sampai 5,3,2,4,1 √ 8 10
5 secara acak

2 Menyebutkan angka 6 sampai 7,9,6,8,10 √ 6 10


10 secara acak

3 Menuliskan bilangan angka 5,4,3,2,1 √ 8 10


sesuai urutannya 1 sampai 5

4 Menuliskan bilangan angka 10,9,8,7,6 √ 6 10


sesuai urutannya 6 sampai 10

Skor 28 40

Keterangan skala :

Skala 1 : anak tidak mampu.

Skala 2 : anak dibantu secara penuh.

Skala 3: sedikit di bantu.

Skala 4: anak mampu mengeal angka 1 -10 tetapi kadang-kadang salah.

Skala 5 : anak mampu mengenal bilangan secara mandiri.


43

Grafik 4.6 skala Pre test

Hasil skala pre test

10 Skor Maks skala 1

10 Skor Maks
Skala 2

10 Skor Maks Skala 3


10 Skor Maks

Skala 4

Pada perilaku tes pertama, Dari kegiatan indikator yang dinilai anak

mencapai skala 4 yang berarti anak mampu mengenal angka tetapi terkadang

salah untuk menyebutkan angka 1 sampai 5 secara acak. Pada perilaku tes

kedua, anak mencapai skala 3 yang berarti anak sedikit bantu untuk

menebutkan angka 6 sampai 10 secara acak. Pada perilaku ketiga anak

mencapai skala 4 ini berarti anak mampu mengenal angka tetapi terkadang salah

untuk menuliskan bilangan angka sesuai urutannya 1 sampai 5. Pada perilaku

keempat anak mencapai rentang skala 3 berarti anak sedikit dibantu untuk

menuliskan bilangan angka sesuai urutannya 6 samapi 10. Berdasarkan hasil

tes akhir (post test) diketahui bahwa skor peroleh anak yang diperoleh anak
44

yaitu 28. Maka untuk mengentahui besar kemampuan mengenal angka 1

sampai 10 pada anak setelah dilakukan Treatment.

kemampuan anak sesudah Treatment =


`
Skor yang diperoleh anak X 100
Skor maksimal

26 X 100% = 0,65 X 100 % = 65%.


40

Berdasarkan perhitungan di atas diketahui bahwa kemampuan anak dalam

mengenal bilangan angka 1 sampai 10, Sesudah Treatment menggunakan

media color box smile adalah 65%. Melalui hasil tes akhir (post test) dapat

disimpulkan bahwa kemampuan anak dalam mengenal bilangan 1 sampai 10

mendekati behasil. Karena anak bisa mengenal angka sampai 6 sedangkan

angka 7 smpai 8 anak masih memerlukan bantuan guru.


45

Grafik 4.7
Hasil Tes Akhir

70%

60%

50%

40%

65%
30%

20%

10%

0%
post tes

E. PEMBAHASAN

Saifullah merupakan siswa Tunagrahita Sedang. Kelas V SDLB Paramita

Graha Banjarmasin yang menjadi subjek penelitian ini. Anak Tunagrahita adalah

anak memiliki taraf kecerdasan yang sangat rendah sehingga untuk meneliti

tugas perkembangan sangat membutuhkan layanan dan bimbingan secara khusus.

Anak Tunagrahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ

51-36 pada skala binet dan 54-40 menurut skala weschler (WISC) dalam

kehidupan sehari-hari masih membutuhkan perawatan yang terus menerus. Hal


46

ini dilakukan supaya anak dapat bekerja di tempat terlindung sangat sulit bahkan

tidak dapat belajar secara akedemik seperti menulis, membaca, serta berhitung

namun anak dapat menulis hal-hal paling sederhana yakni nama, dengan kata

lain tunagrahita sedang lebih ditekankan pada kemampuan yang berasal dari

dirinya sendirinya, yakni berupa latihan keterampilan yang berhubungan dengan

aktivitas sehari-hari tidak menekan pada pendidikan akademik, Tetapi pada

pendidikan sosial, dapat mengurus diri sendiri, mandi, berpakaian, makan,

minum, Hingga mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana.

Menunjukan dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan anak

tunagrahita sedang adalah golongan anak yang memiliki IQ berkisar 30/50

sampai 54/50 masih mempunyai potensi yang dapat dikembangkan baik

dibidang akedemik maupun non akedemik, namun dalam pendidikannya perlu

bimbingan dan pelayanan khusus. Pada tahap ini media color box smile

memiliki peranan untuk membatu siswa Tunagrahita sedang dalam

meningkatkan kemampuan mengenal angka 1 sampai 10. Sebagaimana yang

telah dijelaskan bahwa fungsi dari media color box smile adalah media

pembelajaran yang diperuntukan dalam penelitian ini untuk anak tunagrahita

sedang yang mana bertujuan nuntuk meningkatkan kemampuan anak dalam

mengenal angka bilangan 1-10. Bahwa media pembelajaran color box smile.

Dalam penggunaan media color box smile ini menggunakan kardus yang mana

setiap sisi kanan dari color box smile ini bertulisan angka bilangan 1-10
47

sedangkan disisi kiri dari color box smile ini bertulisan bilangan 1 sampai 10

dengan ditambah gambar benda sesuai dengan angka yang tertera di color box

smile.

Berdasakan hasil tes awal (pre test) dan tes akhir (post test) yang sudah

dipaparkan sebelumnya, diketahui bahwa nilai kemampuan mengenal bilangan

angka 1 sampai 10 pada Tes awal yaitu 30% dan besar nilai kemampuan

mengenal bilangan angka 1 sampai 10 pada Tes akhir anak yaitu 65% . Agar

mempermudah dalam menganalisa hasil perhitungan besar mengenal angka 1

sampai 10 tersebut, maka dapat dipresentasikan ke dalam bentuk grafik balok

sebagai berikut .

Grafik 4.3

Perubahan kemampuan mengenal angka 1 sampai 10 pada anak

70

60

50

40

30 60%
20

10
30%
0
tes awal(pre test) Tes akhir (pos test)
48

Dari grafik di atas dapat dilihat dengan jelas terdapat peningkatan mengenal

angka bilangan pada anak tunagrahita sedang dari sebelumnya Treatment

dengan menggunakan media Color box smile dan sesudah mendapatkan

Treatment. Sesuai dengan hasilnya peneliti di lapangan dan teori kajian pustaka

pada bab sebelumnya, didapatkan kecocokan atau kesamaan hasil. Ternyata anak

mengalami perubahan sikap menjadi lebih semangat dan antusias dalam belajar,

Indikator atau standar kemampuan mengenal angka 1 sampai 10 bagi anak

tunagrahita sedang yang awalnya berada di bawah rata-rata setelah

menggunakan media color box smile menjadi mengenal angka.

Berdasarkan analisa hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa

hipotesisi peneliti benar atau diterima karena menggunakan media color box

smile dapat meningkatan dalam mengenal bilangan angka 1 sampai 10 bagi anak

Tunagrahita sedang di kelas V C SDLB Paramita Graha Banjarmasin tahun

ajaran 2016.
49

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil penelitian meningkatkan dalam mengenal angka bilangan 1

sampai 10 pada anak tunagrahita sedang kelas V SDLB B/C Paramita Graha

Banjarmasin dengan menggunakan permainan media color box smile dapat

disimpulkan media color box smile dapat memberi pengaruh yang positif

terhadap meningkatnya kemampuan meningkatkan dalam mengenal angka

bilangan 1 sampai 10. Kesimpulan dari hasil pengamatan dan analisa dari

penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Anak yang diteliti bisa mengenal angka 1 sampai 10 tapi secara beurutan,

namun secara tidak berutan atau secara acak kemampuan anak masih

masih belum cukup baik dibandingkan anak seusianya. Kemampuan

mengenal bilangan angka 1 sampai 10 anak terlihat sangat jelas ketika

dilaksanakan tes awal (pre tes) yang hasilnya 30%

2. Treatment hasil anak mampu sampai bilangan 6 keberhasiln dalam

menyebutkan angka dan memasukan benda sesuai dengan jumlahnya.

3. Hasil keseluruhan yang dilalui dengan membandingkan pre test dan pos

tes dengan menggunakan permainan media color box smile hasil 60%

dari pos tes setelah Treatment.


50

B. Saran

1. Bagi anak atau siswa di sekolah, diharapkan anak lebih aktif lagi dalam

belajar mengenal bilangan angka.

2. Bagi orang tua, media color box smile sebagai media yang bias menjadi

rekomendasi alat yang mampu meningkatkan kemampuan mengenal

angka 1 sampai 10 pada anak

3. Bagi guru, media color box smile menjadi media yang representatif guna

melatih emosi dan konsentrasi pada diri anak.


51

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.2003. Prosuder penelitian suatu pendekatan pratik. Jakarta : PT. Rineka


Cipta

Arikunto.2010. Prosuder penelitian suatu pendekatan pratik.Jakarta : PT. Rineka


Cipta

Dedy Kustawan dan Yani Meimulyani. 2013. mengenal pendidikan


khusus&pendidikan layanan khusus serta implementasikan. Jakarta timur. PT.
Luxima

Dian Astari. 2013. meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan


menggunakan media pembejaran ular tangga bagi anak tunagrahita riang..
Banjarmasin: Fkip Universitas Lambung Mangkurat

E. Kosasih.2012. cara bijak memahami anak berkebutuhan khusus. Bandung :


Yrama widya

Kemis dan Ati. 2013. pendidikan anak berkebutuhan khusus tunagrahita.jakarta


Timur : PT luxima media

Muhammad efendi.2006. pengeantar psikopegagogik anak berkalainan. surakarta :


fkipuns.

Mumpurianti.2003. ortotidatik tunagrahita.yogjakarta : fiy uny

Murtini. 2012. upaya meningkatkan kemampuan membaca dengan model


pembelajaran talking stick pada siswa kelas IV Tunagrahita ringan di SDLB
Dharma waninit. Banjarmasin : Skripsi
Rostina sundayani. 2013. media pembelajaran matematika. Bandung : Alfabeta
Sugiyono. 2003. metode peneliti pendidikan pendekatan kuantitatif ,kualitatif,dan
R&D. Bandung : Alfabeta
Syofian siregar.2013. Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif. Jakata : PT.
Bumi Aksar
Yani meimulyani dan Golyoto.2013. media pembelajaran adaftif. Jakarta timur : PT
Luxima
52

Yani meimulyani dan Golyoto.2013. media pembelajaran adaftif. Jakarta timur : PT.
Luxima

No Skala

Perilaku Indikator 123


53

1 menyebutka 5,3,2,4,1
n angka 1
sampai 5
secara acak

menyebutka 7,9,6,8,10
n angka 1
sampai 5
secara acak
menuliskan
bilangan
angka sesuai
uruta

sesuai
urutannya
54

Indikator skala

No Perilaku 1 2 3

1 menyebutkan 5,3,2,4,1 √
angka 1 sampai 5
secara acak

menyebutkan
2 7,9,6,8,10
angka 6 sampai 10
secara acak

3 menuliskan
bilangan angka
5,4,3,2,1
sesuai urutannya 1
sampai 5

menuliskan
4 bilangan angka 10,9,8,7,6
sesuai urutannya 6
sampai 10
55
56

No.

4
57