You are on page 1of 17

PROGRAM TERAPI BERMAIN

“PUZZLE MENCARI KATA PADA ANAK DENGAN HOSPITALISASI”


PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN)
DI RUANG PERAWATAN ANAK LANTAI DASAR
RSUP DR KARIADI SEMARANG
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Praktik Keperawatan Anak
Pembimbing Akademik : Ns. Elsa Naviati, M.Kep.Sp.Kep.An
Pembimbing Klinik : Ns. Aprelia Herdiyanti.,S.Kep

Oleh :
Ubaid Hanif N
22020118210053

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS XXXII


DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak merupakan suatu individu yang unik dengan masa kehidupan
yang sangat berkesan. Kehidupan di masa kanak-kanak merupakan dasar
kehidupan yang selanjutnya. Untuk itu, orang tua ataupun orang yang
lebih dewasa diharapkan dapat memfasilitasi dalam pemenuhan kebutuhan
dasar serta belajar mandiri setiap anak. Akan tetapi, sebagian anak
terkadang mengalami gangguan kesehatan dalam proses tumbuh
kembangnya sehingga harus dilakukan perawatan di rumah sakit atau
mengalami proses hospitalisasi. (Supartini, 2004; Harsono, 2005)
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit
dan dirawat di rumah sakit sehingga anak harus beradaptasi dengan
lingkungan rumah sakit. (Wong, 2000). Hospitalisasi merupakan proses
karena suatu alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk
tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan
kembali ke rumah (Supartini, 2004). Hospitalisasi merupakan perawatan
yang dilakukan di rumah sakit dan dapat menimbulkan trauma dan stres
pada anak. Anak akan mengalami masa sulit karena tidak dapat melakukan
kebiasaan seperti biasanya. Lingkungan dan orang-orang asing, perawatan
dan berbagai prosedur yang dijalani oleh anak merupakan sumber utama
cemas, terutama untuk anak yang pertama kali dirawat di rumah sakit
(Nelson, 2000). Stressor utama dari hospitalisasi antara lain adalah
perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh dan adanya nyeri. Reaksi
anak terhadap krisis-krisis tersebut dipengaruhi oleh usia perkembangan
anak, pengalaman sebelumnya terhadap penyakit, perpisahan,
keterampilan koping yang mereka miliki Terapi bermain puzzle
merupakan salah satu media terapi bermain bagi anak untuk menurunkan
stress yang diakibatkan oleh proses hospitalisasi serta dapat meningkatkan
ketelitian pada anak.
Dengan adanya modifikasi puzzle dengan mencari kata dapat
mengalihkan konsentrasi anak agar dampak hospitalisasi dapat
diminimalisir. Selain itu, bermain melalui terapi puzzle juga akan
membuat anak menjadi lebih bahagia dan dapat kooperatif pada tindakan
medis yang diberikan. (Ahmad, 2010)

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meminimalkan stress akibat proses hospitalisasi dan menghibur anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mengurangi tingkat kecemasan pada anak
b. Media pembelajaran bagi anak untuk lebih konsentrasi menyusun
gambar
c. Menghibur anak
d. Melatih ketelitian anak dalam mencari kata

C. Sasaran
Anak-anak usia sekolah (6-12 tahun) dengan hospitalisasi yang dirawat di
ruang anak lantai Dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang.
BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. Karakteristik Sasaran
Sasaran dari program bermain ini adalah anak-anak yang sedang dirawat
di ruang anak lantai Dasar di RSUP Dr. Kariadi Semarang, dengan
karakteristik :
1. Mengalami reaksi hospitalisasi seperti kecemasan, stress, kejenuhan,
dan ketakutan saat dirawat.
2. Berusia 6-12 tahun.
3. Kondisi pasien yang stabil dan tidak terpasang infus pada tangan yang
dominan.
4. Pasien anak yang tidak sedang dilakukan program terapi yang lain
maupun tindakan medis.
5. Anak bersedia mengikuti program bermain dan diizinkan oleh orang
tuanya.

B. Analisa Kasus
Setelah dilakukan observasi selama di ruangan, sebagian besar
anak yang dirawat di ruang anak lantai Dasar RSDK merasa takut dan
bosan selama menjalani perawatan.. Anak terlihat cemas, takut dan rewel
saat dilakukan tindakan keperawatan. Hal tersebut dapat memberikan
dampak yang kurang baik bagi anak dalam masa penyembuhan, anak
menjadi kurang kooperatif dan akhirnya mempengaruhi lama perawatan.
Oleh karena hal tersebut, perawat perlu melakukan terapi bermain untuk
mengurangi kecemasan dan kebosanan selama hospitalisasi pada anak.
Proses hospitalisasi dapat menimbulkan stress bagi anak karena
lingkungan yang asing, kebiasaan yang berbeda atau perpisahan dengan
keluarga. Selain itu, anak yang dirawat di rumah sakit biasanya merasa
bahwa mereka akan disakiti sehingga menimbulkan perasaan tidak
nyaman baik pada anak maupun keluarga. Menurut Ngastiyah (2005),
salah satu cara untuk menurunkan stress hospitalisasi pada anak usia
prasekolah adalah dengan terapi bermain. Hal ini di dukung oleh penelitian
Barokah (2012) yang berjudul, “Pengaruh Terapi Bermain Puzzle
Terhadap Perilaku Kooperatif Anak Usia Pra Sekolah Selama
Hospitalisasi di RSUD Tugurejo Semarang” yang menyatakan bahwa
terapi puzzle dapat menurunkan tingkat kecemasan pada anak usia
prasekolah, dari tingkat kecemasan berat menjadi sedang dan tingkat
kecemasan sedang menjadi ringan.

C. Prinsip Bermain Menurut Teori


Menurut Supartini (2004), terapi bermain pada anak yang mengalami
proses hospitalisasi harus memperhatikan kondisi kesehatan serta
kemampuan anak. Terdapat 4 prinsip bermain pada anak di rumah sakit,
yaitu :
1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang
dijalankan anak.
2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan
sederhana.
3. Permianan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan.
4. Melibatkan orang tua.

D. Karakteristik Permainan Menurut Teori


1. Bermain adalah sukarela
Karena didorong oleh motivasi dari dalam diri seseorang sehingga
akan dilakukan oleh anak apabila hal itu betul-betul memuaskan
dirinya, bukan karena iming-iming hadiah atau karena diperintah orang
lain. Jadi, permainan yang dilakukan anak adalah suatu kepuasan
tersendiri karena tidak harus memenuhi tuntutan atau harapan dari luar,
anak-anaklah yang menentukan perannya sendiri dalam bermain.
2. Bermain adalah pilihan anak
Anak-anak memilih secara bebas sehingga apabila seorang anak
dipaksa untuk bermain, sekali pun mungkin dilakukan dengan cara
yang halus maka aktivitas itu bukan merupakan aktivitas dan bukan
lagi kegiatan bermain atau non play.
3. Bermain adalah permainan yang menyenangkan
Anak-anak merasa senang dan bahagia dalam melakukan aktivitas
bermain bukan menjadi tegang dan stres.
4. Bermain adalah simbolik
Melalui kegiatan bermain anak akan mampu menghubungkan
pengalaman mereka dangan kenyataan sekarang, misalnya mewarnai
buah.
BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. Judul Permainan
Puzzle Mencari Kata

B. Deskripsi Permainan
Program bermain yang akan dilakukan adalah bermain puzzle mencari
kata. Sebelum pelaksanaan terapi bermain puzzle mencari kata, mahasiswa
terlebih dahulu melakukan kontrak waktu dengan anak dan orang tua yang
akan diikut sertakan dalam program bermain. Adapun puzzle yang akan
dimainkan adalah gambar dengan potongan acakan huruf yang akan dicari
baik secara vertikal, horizontal dan miring untuk mencari satuan kata. Saat
kegiatan berlangsung, orang tua atau keluarga berperan untuk
mendampingi anak, agar anak tetap merasa nyaman saat mencari kata
dalam puzzle. Setelah selesai bermain menebak gambar dalam puzzle
kemudian anak-anak diberikan kesempatan untuk mencari kata yang ada
pada gambar.

C. Tujuan Permainan
1. Tujuan Umum
Meminimalkan stress akibat proses hospitalisasi dan menghibur anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mengurangi tingkat kecemasan pada anak
b. Media pembelajaran bagi anak untuk lebih konsentrasi menyusun
gambar
c. Menghibur anak
d. Melatih ketelitian anak dalam mencari kata
D. Keterampilan yang Diperlukan
Anak dituntut untuk memiliki keterampilan khusus yaitu keterampilan
bahasa dan spasial. Pada pelaksanaan terapi ini lebih mencari sasaran anak
usia sekolah karena terdapat permainan mencari kata. Anak juga
dibebaskan mencari kata-kata dalam puzzle sesuai dengan keinginannya
baik dari atas, samping maupun bawah, dan didampingi oleh orang tua.

E. Jenis Permainan
Jenis permainan adalah kompetitif, dimana anak diberikan kebebasan
dalam bermain dan mengungkapkan ekspresinya dan yang paling banyak
menemukan kata ialah pemenangnya. Terapi bermain puzzle diberikan
untuk mengalihkan rasa takut, cemas, jenuh, dan stress selama proses
hospitalisasi.

F. Alat yang Diperlukan


1. Papan puzzle ukuran 6 x 6 huruf
2. Spidol/Pulpen

G. Waktu Pelaksanaan
Tanggal : Kamis, 8 November 2018
Waktu : 09.00-10.20 WIB
Tempat : Ruang bermain anak lantai Dasar RSUP Dr. Kariadi / Bed
Pasien

H. Proses Bermain
No Kegiatan Waktu Keterangan
1. Persiapan (Pra Interaksi) 5 menit Ruangan, alat-
a. Menyiapkan ruangan alat, anak dan
b. Menyiapkan alat-alat keluarga siap
c. Menyiapkan anak dan orang
tua atau keluarga yang
mendampingi
d. Memberikan kesempatan anak
untuk ke kamar mandi atau
makan dan minum
2. Pembukaan (Orientasi) 3 menit Anak dan orang
a. Mengucapkan salam tua menjawab
b. Memperkenalkan diri dan salam, anak dan
mempersilahkan untuk anak- orang tua
anak saling berkenalan memperhatikan
c. Menjelaskan kepada anak dan mahasiswa
keluarga tentang tujuan dan
manfaat dari program program
bermain
d. Kontrak waktu untuk bermain
3. Kegiatan (Kerja) 10 menit Anak dan orang
a. Menjelaskan tata cara tua
pelaksanaan terapi puzzle memperhatikan
kepada anak dan orang tua penjelasan, anak
b. Memberikan kesempatan mulai menyusun
kepada anak dan/atau orang puzzle yang
tua untuk bertanya jika belum diberikan oleh
jelas mahasiswa
c. Membagikan papan puzzle dengan
beserta potongan puzzle didampingi oleh
d. Fasilitator mendampingi anak orang tuanya,
dan memberi motivasi kepada anak mencari
anak kata yang ada
e. Menanyakan kepada anak pada gambar
apakah telah seleseai acakan huruf,
menyusun puzzle mahasiswa
f. Memberikan kesempatan pada memberikan
anak untuk mengekspresikan pujian terhadap
perasaannya hasil kerja anak.
g. Meminta anak mencari kata
yang ada pada acakan huruf
h. Memberikan pujian positif
terhadap anak yang menysun
puzzle dan mencari kata
4. Penutup (Terminasi) 2 menit Anak dan orang
a. Menanyakan perasaan peserta tua tampak
b. Memberikan reward pada senang, anak dan
anak atas kemampuan orang tua
mengikuti kegiatan bermain menjawab salam
sampai selesai
c. Mengucapkan terima kasih
dan salam penutup
I. Hal-hal yang Perlu Diwaspadai
1. Anak tidak kooperatif.
2. Anak bosan saat mengikuti terapi puzzle mencari kata.
3. Kesulitan dalam bahasa

J. Antisipasi Meminimalkan Hambatan


1. Melibatkan orang tua dalam kegiatan bermain.
2. Tidak memaksa anak untuk ikut bermain.
3. Leader dapat membangun suasana bermain yang menyenangkan untuk
anak.
4. Waktu bermain yang tidak terlalu lama dan menyelesaikan terapi
bermain tepat waktu.

K. Pengorganisasian
1. Struktur organisasi
Perawat sebagai leder : Ubaid Hanif N
Peserta : Anak dan orang tua
: leader
: pasien
: orang tua

2. Uraian Tugas
a. Leader
1) Menyiapkan alat dan bahan
2) Melakukan kontrak waktu dengan anak dan orang tua
3) Menjelaskan tujuan dan manfaat terapi bermain puzzle mencari
kata
4) Menjelaskan aturan bermain pada anak dan orang tua
5) Memimpin jalannya kegiatan terapi bermain
6) Mempertahankan kehadiran anak
7) Mengevaluasi perasaan perasaan setelah pelaksanaan
b. Keluarga
1) Memberi motivasi kepada anak untuk mnyusun puzzle
2) Ikut berpartisipasi dalam mengawasi anak saat kegiatan terapi
bermain berlangsung
L. Kriteria Evaluasi
1. Struktur
a. Kondisi lingkungan tenang, dilakukan di tempat tertutup sehingga
anak dapat berkonsentrasi terhadap kegiatan
b. Permainan dilakukan di tempat bermain jika memungkinkan
c. Peserta bersedia untuk mengikuti kegiatan
d. Alat yang digunakan tidak membahayakan anak
e. Leader dan orang tua berperan sesuai tugasnya
2. Proses
a. Leader mampu memimpin acara
b. Orang tua mampu memotivasi anak saat kegiatan berlangsung
c. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir
3. Hasil
a. Diharapkan rasa cemas, takut, bosan, dan stress akibat hospitalisasi
pada anak dapat berkurang dengan indikator anak tidak lagi
menangis, rewel dan takut dengan perawat.
b. Anak menyampaikan perasaan setelah melakukan kegiatan
BAB IV
PELAKSANAAN BERMAIN

A. Waktu Bermain
1. Hari/Tanggal : kamis, 8 November 2018
2. Jam : 09.00-10.20 WIB
3. Ruang : Anak lantai Dasar

B. Persiapan
1. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan (di ruang bermain).
2. Melakukan kontrak waktu kepada orang tua dan anak (1 hari sebelum).
3. Memberikan kesempatan anak untuk memenuhi kebutuhan dasar
(BAB, BAK, makan dan/atau minum).
4. Mencuci tangan sebelum melakukan kegiatan.

C. Orientasi
1. Mengucapkan salam, menyapa, menanyakan keadaan saat ini untuk
menciptakan hubungan saling percaya dengan anak dan orang tua.
2. Memperkenalkan diri kepada anak dan orang tua yang mendampingi.
3. Menjelaskan kepada anak dan orang tua tentang tujuan dan manfaat
dari program bermain.

D. Kontrak
Melakukan kontrak waktu bermain sekitar 1 x 20 menit kepada anak dan
orang tua.

E. Tahap Kerja
1. Menjelaskan aturan bermain puzzle mencari kata kepada anak.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya.
3. Memberikan papan puzzle, serta contoh gambar utuh.
4. Mendampingi dan memotivasi anak untuk mencari kata dalam puzzle.
5. Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencari kata yang ada
pada acakan huruf.
6. Memberikan pujian positif kepada anak karena sudah berhasil
menyelesaikan menyusun puzzle dan mencari kata.
7. Mengajak cuci tangan bersama-sama dengan hand rub.

F. Timbal Balik
Kegiatan bermain puzzle mencari kata ini diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan bermain pada anak dan dapat menjadi salah satu distraksi pada
anak untuk mengurangi dampak hospitalisasi seperti cemas, takut, nyeri,
stress dan lain sebagainya.

G. Proses Pelaksanaan
Kegiatan bermain puzzle mencari kata dilakukan pada hari kamis tanggal
8 november 2018 di ruang bermain, ruang anak lantai dasar RSUP Dr.
Kariadi Semarang. Kegiatan ini awalnya diikuti oleh satu klien, akan tetapi
teman-teman klien juga antusias untuk ikut bermain mencari kata dalam
puzzle. Saat pembukaan, mahasiswa melakukan salam terapeutik dan
memperkenalkan diri. Kemudian mahasiswa menjelaskan tujuan, mafaat
dan aturan dari kegiatan puzzle mencari kata. Sebelum memulai bermain,
mahasiswa terlebih dahulu melakukan kontrak waktu dengan anak dan
orang tua untuk melakukan kegiatan bermain puzzle mencari kata
dilaksanakan sekitar 20 menit. Setelah anak dan keluarga menyetujui
kegiatan ini, baru kegiatan ini dimulai dengan meminta anak untuk
menyusun potongan puzzle menjadi gambar utuh terlebih dahulu. Setelah
anak seleseai menyusun, mahasiswa memberikan kesempatan pada anak
untuk mencari kata pada acakan huruf dan memberikan pujian positif
kepada anak. Setelah kegiatan selesai, mahasiswa mengajak anak dan
orang tua untuk melakukan cuci tangan bersama-sama dengan hand rub.
Pelaksanaan bermain berjalan lancar, anak tidak menangis dan anak
tampak senang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah dilakukan terapi bermain puzzle mencari kata pada An. T dan
orang tua dapat disimpulakan bahwa :
1. Anak dapat menyusun potongan gambar yang terlah diacak
2. Anak dapat mengenali susunan huruf menjadi sebuah kata
3. Anak tampak senang dan tidak takut dengan petugas kesehatan.

B. Saran
Pemberian terapi bermain puzzle mencari kata pada anak sekolah
diharapkan dapat dilanjutkan untuk mengurangi dampak hospitalisasi pada
anak seperti cemas, takut, nyeri, stress dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka

Ahmad Barokah, Sri. 2012. Pengaruh Terapi Bermain Puzzle Terhadap


Perilaku Kooperatif Anak Usia Pra Sekolah Selama Hospitalisasi di
RSUD Tugurejo Semarang. Semarang. Portal garuda

Ahmad Susanto. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana


Prenada. Media Group

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Ed 15 volume 3. Jakarta: EGC.

Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit. Edisi 2, EGC, Jakarta

Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta :


EGC.

Wong, Donna L. 2009. Buku ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.


Dokumentasi