You are on page 1of 13

DENTFKAS DAN MTGAS BENCANA TSUNAM

Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami = Gelombang. Jadi Tsunami berarti
pasang laut besar dipelabuhan. Dalam imu kebumian terminology ini dikenal dan baku secara umum. Secara
singkat Tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan
oleh oleh suatu gangguan impulsive yang terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik
atau longsoran.
Gangguan impulsive tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu :
1. Gempa didasar laut,
2. Letusan Gunung api didasar laut, dan
3. Longsoran yang terjadi didasar laut.
Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsive bersifat transien yaitu gelombangnya bersifat
sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat kontinyu, seperti
gelmbang laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Periode tsunami ini berkisar antara 10-60
menit. Gelombang tsunami mempunyai panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km.
Kecepatan rambat gelombang tsunami di laut dalam mencapai 500-1000 km/jam. Kecepatan penjalaran
tsunami ini sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan
kilometer. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan energinya
sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Kalau ditengah laut tingi gelombang tsunami paling besar
sekitar 5 meter, maka pada saat mencapai pantai tinggi gelombang dapat mencapai puluhan meter.
1. IDENTIIKASI DAERAH RAWAN TSUNAMI
1. Analisis Bahaya Tsunami
Analisa bahaya tsunami ditujukan untuk mengidentifikasi daerah yang akan terkena bahaya tsunami.
Daerah bahaya tsunami tersebut dapat diidentifikasi dengan 2 (dua) metode :
1. Mensimulasikan hubungan antara pembangkit tsunami (gempa bumi, letusan gunung api,
longsoran dasar laut) dengan tinggi gelombang tsunami. Dari hasil simulasi tinggi gelombang
tsunami tersebut kemudian disimulasikan lebih lanjut dengan kondisi tata guna, topografi,
morfologi dasar laut serta bentuk dan struktur geologi lahan pesisir.
2. Memetakan hubungan antara aktivitas gempa bumi, letusan gunung api, longsoran dasar laut
dengan terjadinya elombang tsunami berdasarkan sejarah terjadinya tsunami. Dari hasil
analisa tersebut kemudian diidentifikasi dan dipetakan lokasi yang terkena dampak
gelombang tsunami.
1. Analisis Tingkat Kerentanan terhadap Tsunami.
Analisa kerentanan ditujukan untuk mengidentifikasi dampak terjadinya tsunami yang berupa jumlah korban
jiwa dan kerugian ekonomi, baik dalam jangka pendek yang berupa hancurnya pemukiman infrastruktur,
sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun jangka panjang yang berupa terganggunya roda
perekonomian akibat trauma maupun kerusakan sumberdaya alam lainnya.
Analisa kerentanan tersebut didasarkan beberapa aspek, antara lain tingkat kepadatan pemukiman di
daerah rawan tsunami, tingkat ketergantungan perekonomian masyarakat pada sector kelautan,
keterbatasan akses transportasi untuk evakuasi maupun penyelamatan serta keterbatasan akses
komunikasi.
1. Analisis Tingkat Ketahanan Terhadap Tsunami
Analisa tingkat ketahanan ditujukan untuk mengidentifikasi kemampuan pemerintah serta masyarakat pada
umumnya untuk merespn terjadinya bencana tsunami sehingga mampu mengurangi dampaknya. Analisis
tingkat ketahanan tersebut dapat diidentifikasi dari 3 (tiga) aspek, yaitu :
1. Jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk
2. Kemampuan mobilias masyarakat dalam evakuasi dan penyelamatan, dan
3. Ketersedian peralatan yang dapat dipergunakan untuk evakuasi.
1. MITIGASI BENCANA TSUNAMI
1. Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Struktural
Upaya structural dalam menangani masalah bencana tsunami adalah upaya teknis yang bertujuan untuk
meredam/mengurangi energy gelombang tsunami yang menjalar ke kawasan pantai. Berdasarkan
pemahaman atas mekanisme terjadinya tsunami, karateristik gelombang tsunami, inventarisasi dan
identifikasi kerusakan struktur bangunan, maka upaya structural tersebut dapat dibedakan menjadi 2(dua)
kelompok, yaitu :
1. Alami, seperti penanaman hutan mangrove/ green belt, disepanjang kawasan pantai dan
perlindungan terumbu karang.
2. Buatan,
3. Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan
tsunami,
4. Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik bangunan
tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan mengembangkan beberapa
insentif anatara lain Retrofitting dan Relokasi.
1. Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Non Struktural
Upaya Non structural merupakan upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang
kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi structural maupun upaya lainnya. Upaya
non structural tersebut meliputi antara lain :
1. Kebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman bencana,
2. Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta
infrastruktur sarana dan prasarana,
3. Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala local,
4. Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat
ketahanan, sehingga dapat didesain komplek pemukiman "akrab bencana yang
memperhaikan berbagai aspek,
5. Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai,
6. Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami,
7. Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan,
8. Pengembangan system peringatan dini adanya bahaya tsunami.
Ancaman tsunami dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu ancaman tsunami jarak dekat (local) dan
ancaman tsunami jarak jauh. Kejadian tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami local yang
terjadi sekitar 10-20 ment setelah terjadinya gempa bumi dirasakan oleh masyarakat setempat. Sedangkan
tsunami jarak jauh terjadi 1-8 jam setelah gempa dan masyarakat setempat tidak merasakan gempa
buminya.
Sumber : Buku Pedoman Mitigasi Bencana Alam di Wilayah Pesisir dan Pulau2 Kecil, Tahun 2009. Direktorak
Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K Kementrian Kelautan dan Perikanan.
hLLp//kskblogamawordpresscom/2010/03/22/ldenLllkasldanmlLlgaslbencanaLsunaml/

MILIgusI Gempu dun LsunumI Jungun Tundu ugI
MTGAS GEMPA JANGAN DTUNDA AG
OcLober q, zooq 6:1 pm
Bencunu demI bencunu Lerus menguncum ndonesIu. BeIukungun InI bencunu gempu
bumI berLuruL-LuruL mengguncung berbuguI peIosok dI negerI yung memung ruwun
gempu InI. Gempu dengun kekuuLun ;,6 skuIu rIcIcLer sempuL meIuIuI IunLukkun LunuI
mInung. PuduIuI gempu LersebuL suduI dIpredIksI oIeI puru uIII geoIogI beberupu LuIun
yung IuIu. SeunduInyu predIksI LersebuL dIunLIsIpusI dengun meIukukun mILIgusI,
pemunLuuun, pembungunun sIsLIm perInguLun dInI, dun berbuguI IungkuI penLIng
IuInnyu muku jumIuI korbun dupuL dImInImuIkun.
#
MILIgusI bencunu, menuruL UU No zq TuIun zoo; LenLung PenungguIungun Bencunu,
merupukun serungkuIun upuyu unLuk mengurungI rIsIko bencunu, buIk meIuIuI
pembungunun IIsIk muupun penyudurun dun penIngkuLun kemumpuun mengIudupI
uncumun bencunu, duIum IuI InI uncumun gempu bumI, serLu berLujuun mengurungI
dun menceguI rIsIko keIIIungun jIwu serLu perIIndungun LerIudup IurLu bendu dengun
pendekuLun sLrukLuruI dun nonsLrukLuruI. MILIgusI bencunu uduIuI IsLIIuI yung
dIgunukun unLuk menunjuk pudu semuu LIndukun unLuk mengurungI dumpuk durI suLu
bencunu yung dupuL dIIukukun sebeIum bencunu ILu LerjudI, Lermusuk kesIupun dun
LIndukun-LIndukun pengurungun resIko jungku punjung. MILIgusI bencunu mencukup
buIk perencunuun dun peIuksunuun LIndukun-LIndukun unLuk mengurungI resIko-resIko
yung LerkuIL dengun buIuyu-buIuyu kurenu uIuI munusIu dun buIuyu uIum yung suduI
dIkeLuIuI, dun proses perencunuun unLuk respon yung eIekLII LerIudup bencunu-
bencunu yung benur-benur LerjudI.

Ruwun gempu dun LsunumI
KondIsI geoIogI ndonesIu merupukun perLemuun Iempeng-Iempeng LekLonIk
menjudIkun kuwusun InI memIIIkI kondIsI geoIogI yung sunguL kompIeks. SuIuI suLu
konsekuensI IogIs kekompIeksun kondIsI geoIogI InI menjudIkun bunyuk dueruI
memIIIkI LIngkuL keruwunun yg LInggI LerIudup bencunu uIum.
DueruI ruwun bencunu gempu dun LsunumI ndonesIu IumpIr semuunyu berudu pudu
dueruI yungg LIngkuL popuIusInyu sunguL puduL. Kesudurun serLu kesIupun mengIudupI
bencunu uIum InI seIurusnyu dupuL dImIIIkI oIeI musyurukuL meIuIuI sosIuIIsusI
pengenuIun kondIsI IIngkungun geoIogI serLu kesIupun duIum mengIudupI bencunu uIum
dI IIngkungunnyu. HumpIr semuu bencunu InI dI uwuII dengun gejuIu-gejuIu yung perIu
dIkeLuIuI oIeI musyurukuL seIInggu udu kesempuLun unLuk dupuL mengIIndurInyu.
SeperLI, suruLnyu muku uIr IuuL yung LIduk wujur securu LIbu-LIbu seLeIuI Lerusu gempu
merupukun Lundu-Lundu ukun duLungnyu LsunumI.
PemerInLuI Iurus segeru memprIorILuskun progrum mILIgusI bencunu uIum geoIogI
kIususnyu gempu dun LsunumI, pembungunun sIsLIm perInguLun dInI, dun sosIuIIsusI,
IuLIIun-IuLIIun LIndukun penyeIumuLun munusIu duIum bencunu LersebuL. TenLunyu
pemerInLuI Iurus memberIkun uIokusI bIuyu dun unggurun unLuk meIuksunukun
progrum mILIgusI, pemunLuuun, sIsLIm perInguLun dInI dun berbuguI upuyu IuInnyu.
KeLerbuLusun dunu bugI pemerInLuI bukun uIusun unLuk menundu progrum mILIgusI
LersebuL. Perunun swuduyu musyurukuL seperLI pIIuk swusLu, Iebugu sosIuI dun berbuguI
perun serLu musyurukuL IuInnyu sunguL dIperIukun unLuk meIukukun upuyu LersebuL.

MILIgusI gempu
Munujemen bencunu merupukun bugIun uLumu dun sLruLegIs duIum penungunun suuLu
bencunu. SunguLIuI penLIng unLuk menIngkuLkun kesudurun seIuruI umuL munusIu ukun
bencunu uIum, kIususnyu meIuIuI pemuIumun yung IebII buIk mengenuI bencunu uIum
LersebuL. SerLu upuyu mengurungI resIko buIuyu meIuIuI kemumpuun LeknoIogI dun
munujemen. SuIuI suLu bugIun LerpenLIng munujemen bencunu uduIuI mILIgusI.
MILIgusI berurLI mengumbII LIndukun-LIndukun unLuk mengurungI penguruI-penguruI
durI suLu buIuyu sebeIum buIuyu ILu LerjudI. sLIIuI mILIgusI berIuku unLuk cukupun
yung Iuus durI ukLIvILus-ukLIvILus dun LIndukun-LIndukun perIIndungun yung mungkIn
dIuwuII, durI yung IIsIk, seperLI membungun bungunun-bungunun yung IebII kuuL,
sumpuI dengun yung proceduruI. PerIu penggunuun LeknIk-LeknIk yung buku unLuk
menggubungkun penIIuIun buIuyu dI duIum rencunu penggunuun IuIun.
ungkuI uwuI yung dupuL dIIukukun duIum mILIgusI bencunu gempu uduIuI pemeLuun
dueruI ruwun gempu yung bIsu dIIukukun oIeI Iembugu rIseL uLuu perguruun LInggI.
HusII peneIILIun ILu dupuL dIjudIkun Iundusun unLuk kebIjukun pemerInLuI pusuL dun
dueruI serLu unLuk penIngkuLun kesudurun musyurukuL LerIudup uncumun bencunu.
KejudIun gempu musu Iumpuu dun pencuLuLun yung ukuruL durI Iuus IuIun dun
penguruI-penguruInyu. Kecenderungun gempu bumI unLuk muncuI IugI dI dueruI-
dueruI yung sumu seLeIuI musu seruLus LuIun. Perencunuun IokusI unLuk mengurungI
kepuduLun penduduk dI perkoLuun dI dueruI- dueruI geoIogI yung dIkeLuIuI dupuL
meIIpuL gundukun geLurun-geLurun bumI.
DurI duLu LersebuL poIu bencunu gempu bumI dupuL dIcermuLI unLuk sebuguI dusur
perencunuun mILIgusI bencunu gempu bumI. PredIksI seorung pukur seIsmoIogI durI TB,
berdusurkun kujIun IImIuI seIsmoIogI mempredIksI ukun udu gempu dengun skuIu 8,q
rIcILer dun LsunumI 1 meLer dI dueruI SumuLru. MeskIpun bencunu gempu bumI LIduk
bIsu dIkeLuIuI kupun persIs LerjudInyu, puIIng LIduk predIksI LersebuL dupuL dIjudIkun
perencunuun mILIgusI yung cermuL dun LepuL.
Progrum penLIng IuIn duIum mILIgusI uduIuI udunyu uLurun LenLung pendIrIun
bungunun, buIk perumuIun, perkunLorun, muupun IusIIILus pubIIk dengun konsLruksI
yung LuIun gempu, seIInggu bIsu memInImuIIsusI korbun jIwu. HuI InI serIng dIsebuL
mILIgusI sLrukLuruI kurenu menekunkun pudu penguuLun seIuruI bungunun IIsIk.
PemerInLuI sumpuI suuL InI beIum mumpu mengeIuurkun buIIdIng codes dun peruLurun
keseIumuLun bungunun berdusur zonusI kegempuun. SLruLegI mILIgusI sLrukLuruI LersebuL
uduIuI meIukuIkun rekuyusu bungunun-bungunun unLuk menuIun kekuuLun geLurun.
Undung-undung bungunun gempu, kepuLuIun LerIudup persyuruLun-persyuruLun
undung-undung bungunun dun dorongun ukun sLundur kuuIILus bungunun yung IebII
LInggI Iurus Lerus dIupuyukun. KonsLruksI durI bungunun-bungunun sekLor umum yung
penLIng menuruL sLundur LInggI durI runcungun LeknIk sIpII. MemperkuuL bungunun-
bungunun penLIng yung suduI udu yung dIkeLuIuI renLun.

ungkuI mILIgusI IuIn yung penLIng uduIuI pembuuLun juIur-juIur evukuusI serLu rumbu-
rumbu, seperLI Lundu pInLu dururuL unLuk membunLu wurgu pudu suuL meIukukun
evukuusI jIku bencunu gempu bumI LerjudI. PembuuLun juIur InI penLIng unLuk
mengurungI kemuceLun, suuL gempu IuIu serLu unLuk mengurungI rIsIko LerjudI
keceIukuun. PembuuLun juIur InI perIu dIIkuLI penyuIuIun dun IuLIIun evukuusI bugI
penggunu juIun ruyu, IuLIIun uLuu sImuIusI menyeIumuLkun dIrI uLuu keIuur securu umun
dun LIduk punIk suuL menggunukun Lunggu dururuL dI gedung-gedung LInggI suuL keIuur
durI pusuL perbeIunjuun, pusur, dun sekoIuI, serLu curu berIIndung dI LempuL yung umun
suuL gempu LerjudI. uLIIun duIum evukuusI gempu LersebuL merupukun pendIdIkun
duIum mILIgusI gempu yung sunguL penLIng dIIukukun. SeIurusnyu IuLIIun dun sImuIusI
IuI InI merupukun kurIkuIum wujIb yung Iurus dIIukukun seLIup LuIun bugI semuu
sekoIuI, kunLor dun LempuL-LempuL umum IuInnyu. SeIInggu keIemuIun dun
kekurungun yung LerjudI senunLIusu dupuL dIperbuIkI.
BIIu berbuguI IungkuI uwuI duIum mILIgusI gempu LersebuL dIIuksunukun dengun buIk
merupukun penceguIun yung LepuL. BIIu ILu dIIukukun bukunnyu LIduk mungkIn
perIsLIwu gempu yung menImpu IoLeI Ambucung dI Pudung yung LIduk mempunyuI
Lunggu dururuL dun pondusI yung IemuI LersebuL LerdeLeksI, dIperbuIkI dun dupuL
memInImuIkun korbun yung LerjudI. BegILu jugu bIIu sImuIusI evukuusI dIIukukun ruLIn
seLIup LuIun mungkIn suju jumIuI korbun rerunLuIun gempu puIuIun murId dI Gedung
bImbIngun beIujur Gumu dupuL dIkurungI.semuu sekoIuI, kunLor,I semuu sekoIuI,
kunLor, LempuL-LempuL umumgempu yung sunguL penLIng dIIukukun. SeIurusnyu IuI I
Tunggup dururuL gempu uduIuI mILIgusI IuIn yung Iurus dIpersIupkun suuL LerjudInyu
bencunu. PenIngkuLun kemumpuun mengIudupI uncumun dengun curu pemberIun
pengeLuIuun dun keLerumpIIun LenLung perLoIongun perLumu, penyIupun peruIuLun
keseIuLun dun kebuLuIun dusur, OrgunIsusI Lunggup dururuL yung LeIuI dIbenLuk
pemerInLuI sumpuI LIngkuL pemerInLuIun LerLenLu dI dueruI jungun Iunyu sekedur dI
uLus kerLus. PerIu Lerus dIIukukun reorgunIsusI dun konsoIIdusI securu berkuIu seIInggu
suuL LerjudI bencunu orgunIsusI Tunggup DururuL dI dueruI Iunyu menjudI mucun
ompong.
MILIgusI nonsLrukLuruI dupuL dIIukukun dengun memperkenuIkun uLuu menerupkun
usurunsI bencunu dI dueruI yung ruwun seIInggu musyurukuL LIduk Iurus menunggu
bunLuun pemerInLuI uLuu donuLur suuL Iurus meIukukun pemuIIIun puscubencunu dun
musyurukuL dupuL kembuII meIukukun berbuguI ukLIvILus sosIuI dun ekonomI IebII
segeru.
MeIIIuL penLIngnyu upuyu mILIgusI bencunu uIum LersebuL, Lumpuknyu Iurus segeru
dIIukukun oIeI semuu pIIuk yung dIprukursuI oIeI depurLemen sosIuI. MILIgusI gempu
LersebuL Iurus dIIukukun securu Lerpudu, Lerus-menerus, dun dIIukukun semuu pIIuk,
seIInggu kerugIun cucuL IIsIk, jIwu dun IurLu bendu,dupuL dImInImuIkun. BerbuguI
kejudIun mengenuskun yung LerjudI duIum bencunu gempu LersebuL uduIuI merupukun
penguIumun berIurgu. SerIngkuII penyesuIun ILu LeruIung IugI Iunyu kurenu LIduk udu
InIsIuLII unLuk memuIuI mILIgusI bencunu yung sunguL penLIng InI
hLLp//medlaanaklndoneslawordpresscom/2010/10/29/mlLlgaslbencanagempadanLsunaml/
Mitigasi Tsunami
Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, dan
mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan. Mitigasi adalah dasar managemen situasi
darurat. Mitigasi dapat didefinisikan sebagai "aksi yang mengurangi atau menghilangkan resiko jangka panjang
bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia dan harta-benda (FEMA, 2000). Mitigasi adalah usaha yang
dilakukan oleh segala pihak terkait pada tingkat negara, masyarakat dan individu.
Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi
alam yang terancam, merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, dan mempersiapkan daerah yang
terancam untuk mengurangi dampak negatif dari bahaya tersebut. Ketiga langkah penting tersebut: 1) 50niIaian
bahaya(hazard assessment), 2) 507ingatan (arning), dan 3) 507sia5an(preparedness) adalah unsur utama model
mitigasi. Unsur kunci lainnya yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi tetapi sangat mendukung
adalah 50n0Iitian yang terkait (tsunami-related research).
P0niIaian Bahaya (Hazard Assessment)
Unsur pertama untuk mitigasi yang efektif adalah penilaian bahaya. Untuk setiap komunitas pesisir, penilaian bahaya
tsunami diperlukan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, dan tingkat ancaman (level of risk).
Penilaian ini membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik sumber tsunami, probabilitas kejadian, karakteristik
tsunami dan karakteristik morfologi dasar laut dan garis pantai. Untuk beberapa komunitas, data dari tsunami yang
pernah terjadi dapat membantu kuantifikasi faktor-faktor tersebut. Untuk komunitas yang tidak atau hanya sedikit
memiliki data dari masa lalu, model numerik tsunami dapat memberikan perkiraan. Tahapan ini umumnya
menghasilkan 50ta 54t0nsi bahaya tsunami, yang sangat penting untuk memotivasi dan merancang kedua unsur
mitigasi lainnya, peringatan dan persiapan.
Data 70aman tsunami (Hist47icaI tsunami data)
Rekaman data umumnya tersedia dalam banyak bentuk dan di banyak tempat. Format yang ada mencakup publikasi
dan katalog manuskrip, laporan penyelidikan lapangan, pengalaman pribadi, berita koran, rekaman film dan video.
Salah satu instansi riset penyimpan data terbesar adalah nternational Tsunami nformation Center di Honolulu,
Hawaii.
Data 5aI04tsunami
Penelitian paleotsunami juga dapat dilakukan pada endapan tsunami di daerah pesisir dan bukti-bukti lainnya yang
terkait dengan pergeseran sesar penyebab gempabumi tsunamigenik.
P0ny0Iidian 5asca tsunami
Survey penyelidikian pasca tsunami dilakukan mengikuti suatu peristiwa tsunami yang baru terjadi untuk mengukur
batas inundasi dan merekam keterangan saksi mata mengenai jumlah gelombang, waktu kedatangan gelombang,
dan gelombang mana yang terbesar.
P0m4d0Ian num07i
Seringkali karena rekaman data minimal, satu-satunya jalan untuk menentukan daerah potensi bahaya adalah
menggunakan pemodelan numerik. Model dapat dimulai dari skenario terburuk. nformasi ini kemudian menjadi dasar
pembuatan peta evakuasi tsunami dan prosedurnya.
P07ingatan (wa7ning)
Unsur kunci kedua untuk mitigasi tsunami yang efektif adalah suatu sistem peringatan untuk memberi peringatan
kepada komunitas pesisir tentang bahaya tsunami yang tengah mengancam. Sistem peringatan didasarkan kepada
data gempabumi sebagai peringatan dini, dan data perubahan muka airlaut untuk konfirmasi dan pengawasan
tsunami. Sistem peringatan juga mengandalkan berbagai saluran komunikasi untuk menerima data seismik dan
perubahan muka airlaut, dan untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang. Pusat peringatan (arning
center) haruslah: 1) c05at memberikan peringatan secepat mungkin setelah pembentukan tsunami potensial
terjadi, 2) t05at menyampaikan pesan tentang tsunami yang berbahaya seraya mengurangi peringatan yang keliru,
dan 3) di507caya bahwa sistem bekerja terus-menerus, dan pesan mereka disampaikan dan diterima secara
langsung dan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Data
Sistem peringatan membutuhkan data seismik dan muka airlaut setiap saat secara cepat (real atau near-real time).
Sistem ini juga membutuhkan rekaman data gempabumi dan tsunami yang pernah terjadi. Kedua jenis data tersebut
dipergunakan untuk dapat secara cepat mendeteksi dan melokalisasi gempabumi tsunamigenik potensial, untuk
mengkonfirmasi apakah tsunami telah terbentuk, dan untuk memperkirakan dampak potensial terhadap daerah
pesisir yang menjadi tanggungjawabnya.
Data s0ismi
Sinyal seismik getaran dari gempabumi yang bergerak secara cepat melalui kulit bumi dipergunakan oleh pusat
peringatan untuk mendeteksi terjadinya gempabumi, dan kemudian untuk menentukan lokasi dan skalanya.
Berdasarkan informasi tersebut, statistik likelihood tsunami yang terbentuk dapat diperkirakan secara cepat, dan
peringatan dini atau informasi yang sesuai dapat dikeluarkan.
Seismometer standard periode pendek (0.5-2 sec/cycle) dan periode panjang (18-22 sec/cycle) menghasilkan data
untuk menentukan lokasi dan skala gempabumi. Seismometer skala luas broadband seismometers (0.01-
100 sec/cycle) dapat pula dipergunakan untuk kedua tujuan diatas dan juga untuk penghitungan momen seismik
yang sangat berguna untuk menyempurnakan analisis data yang dilakukan.
Data mua ai7Iaut
Pengukur variasi muka laut (ater-level gauges) adalah instrumen yang sangat penting dalam sistem peringatan
tsunami. Mereka dipergunakan untuk konfirmasi secara cepat tentang kehadiran atau tidaknya suatu tsunami
mengikuti peristiwa gempabumi, untuk mengamati perkembangan tsunami, untuk membantu estimasi tingkat bahaya,
dan menyediakan alasan untuk memutuskan bahaya telah berlalu. Gauges kadangkala merupakan satu-satunya
cara untuk mendeteksi tsunami ketika data seismik tidak mendukung, atau bila tsunami bukan disebabkan oleh
gempabumi.
Untuk bisa memberikan peringatan secara efektif, gauges perlu diletakkan di dekat sumber tsunami sehingga
konfirmasi secara cepat diperoleh, apakah tsunami telah terbentuk atau tidak, dan perkiraan awal mengenai ukuran
tsunami. Mereka harus pula diletakkan diantara sumber dan daerah pesisir yang terancam untuk memonitor
perkembangannya dan membantu memprediksi dampaknya. Untuk tsunami lokal, gauges dibutuhkan di sepanjang
garis pantai untuk memperoleh konfirmasi tercepat dan untuk evaluasi.
Data 70aman tsunami dan g0m5abumi
Pusat peringatan membutuhkan akses cepat kepada data rekaman tsunami dan gempabumi untuk membantu
memperkirakan apakah suatu gempabumi dari suatu lokasi dapat menyebabkan tsunami, dan apakah tsunami
tersebut berbahaya bagi daerah tanggung jawab mereka. Sebagai contoh, adalah sangat berguna untuk mengetahui
bila zona subduksi pada suatu daerah pernah mengalami gempabumi berskala 8 tetapi tidak pernah menghasilkan
tsunami. Juga sangat berguna untuk mengetahui karakteristik rekaman data muka airlaut untuk tsunami yang
berbahaya dan yang tidak berbahaya pada suatu daerah.
Data m4d0I num07i
Dewasa ini, pusat peringatan mulai mempergunakan data dari model numerik untuk memberikan panduan dalam
prediksi tingkat bahaya tsunami berdasarkan parameter gempabumi dan data muka airlaut tertentu.
Data Iainnya
Jenis data lainnya yang diperlukan oleh pusat peringatan adalah seperti data letusan gunungapi atau tanah longsor
yang terjadi di dekat tubuh airlaut.
K4muniasi
Sistem peringatan tsunami membutuhkan komunikasi yang unik dan ekstensif. Data seismik dan perubahan muka
airlaut harus dikirim dari lokasi secara cepat dan dapat dipercaya oleh penerima.
As0s data real time
Data seismik dan perubahan muka airlaut supaya berguna haruslah dapat diterima secara cepat real atau very near
real time. Banyak teknik komunikasi yang bisa dipergunakan, seperti radio VHF, gelombang mikro, transmisi satelit.
P0ny0ba7an 50san
Penyampaian pesan kepada para pengguna juga sama pentingnya sebagaimana mendapatkan data secara real
time. Penyampaian pesan dapat secara cepat dilakukan melalui Global Telecommunications System(GTS)
atau Aeronautical Fixed Telecommunications Netork (AFTN). Pesan dapat pula disampaikan secara konvensional
melalui e-mail, telpon atau fax.
P07sia5an
Kegiatan kategori ini tergantung pada penilaian bahaya dan peringatan. Persiapan yang layak terhadap peringatan
bahaya tsunami membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkina terkena bahaya (peta inundasi
tsunami) dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus mengevakuasi dan kapan
saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tanpa kedua pengetahuan akan muncul kemungkinan kegagalan mitigasi
bahaya tsunami. Tingkat kepedulian publik dan pemahamannya terhadap tsunami juga sangat penting. Jenis
persiapan lainnya adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas vital masyarakat seperti
sekolah, kantor polisi dan pemadam kebakaran, rumah sakit berada diluar zona bahaya. Usaha-usaha keteknikan
untuk membangun struktur yang tahan terhadap tsunami, melindungi bangunan yang telah ada dan
menciptakan breakater penghalang tsunami juga termasuk bagian dari persiapan.
Evauasi
Rencana evakuasi dan prosedurnya umumnya dikembangkan untuk tingkat lokal, karena rencana ini membutuhkan
pengetahuan detil tentang populasi dan fasilitas yang terancam bahaya, dan potensi lokal yang dapat diterapkan
untuk mengatasi masalah. Tsunami lokal hampir tidak menyediakan waktu yang cukup untuk peringatan formal dan
disertai gempabumi, sementara tsunami distan mungkin memberi waktu beberapa jam untuk persiapan sebelum
gelombang yang pertama tiba. Sehingga persiapan evakuasi dan prosedurnya harus disiapkan untuk kedua skenario
tersebut.
Evauasi untu tsunami I4aI
Ketika tsunami lokal terjadi, satu-satunya tanda yang ada mungkin hanyalah goncangan gempabumi, atau suatu
kondisi yang tidak biasa pada tubuh airlaut. Masyarakat harus mampu mengenali tanda-tanda bahaya tersebut,
kemudian pindah segera dan secepatnya kearah darat atau ke arah dataran tinggi karena gelombang tsunami dapat
menghantam dalam hitungan menit. Para pengungsi juga menghadapi bahaya yang disebabkan oleh gempabumi
seperti tanah longsor, runtuhnya bangunan dan jembatan yang mungkin menghambat usaha mereka dalam
menyelamatkan diri. Untuk itu diperlukan sekali kepedulian publik dan pendidikan tentang tsunami dan kemungkinan
bahaya yang mengikuti. Hal ini juga membutuhkan perencanaan resmi tentang zona bahaya dan rute evakuasi yang
aman. Kunci utama untuk memotivasi pendidikan publik adalah pemahaman tentang bahaya tsunami dan dimana
kemungkinan banjir tsunami tersebut terjadi.
Evauasi untu tsunami distan
Pada kasus tsunami distan, pihak yang berwenang masih memiliki waktu yang cukup untuk mengorganisir evakuasi.
Mengikuti peringatan dari pusat peringatan bahwa tsunami telah terbentuk dan waktu kedatangan gelombang
pertama telah diketahui, pihak yang berwenang membuat keputusan tentang apakah evakusi diperlukan. Keputusan
ini didasarkan kepada data rekaman atau model tentang ancaman dari sumber tsunami dan panduan lebih lanjut dari
pusat peringatan tentang pergerakan tsunami. Masyarakat diinformasikan tentang bahaya yang mengancam, dan
diinstruksikan tentang bagaimana, kemana, dan kapan harus mengungsi. Badan-badan pelayanan masyarakat
seperti polisi, pemadam kebakaran dan tentara, difungsikan untuk membantu kelancaran pengungsian. Zona
evakuasi dan rute pengungsian harus ditentukan secara aman, masyarakat harus cukup diberi pengarahan tentang
bahaya tsunami dan prosedur evakuasi, sehingga mereka tidak tetap berada di tempat tinggal ketika tsunami datang
atau telah kembali ketika ancaman masih belum berakhir. Evakuasi yang tidak perlu harus dikurangi untuk menjaga
kepercayaan publik terhadap sistem.
P0ndidian
Mitigasi tsunami harus mengandung rencana untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan oleh masyarakat
luas, pemerintah lokal, dan para pembuat kebijakan tentang sifat-sifat tsunami, kerusakan dan bahaya yang
disebabkan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi bahaya.
P0ndidian 5ubIi
Pendidikan publik yang dilaksanakan akan efektif bila ikut memperhitungkan bahasa dan budaya lokal, ada-istiadat,
praktek keagamaan, hubungan masyarakat dengan kekuasaan, dan pengalaman tsunami masa lalu.
P0ndidian untu 5a7a 4507at47 sist0m 507ingatan, manag07 b0ncana aIam, dan 50mbuat 0bijaan
Operator sistem peringatan, manager bencana alam, dan pembuat kebijakan harus memenuhi suatu tingkat
pendidikan dan pemahaman terhadap bahaya tsunami. Sebab tsunami, baik lokal maupun distan, jarang terjadi pada
suatu daerah tertentu, sehingga orang-orang kunci tersebut tidak memiliki pengalaman probadi terhadap fenomena
yang menjadi dasar keputusan menyangkut persiapan atau tindakan yang harus dilakukan ketika bahaya tersebut
menimpa.
Tata guna Iahan
Sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk global, daerah pesisir yang rawan tsunami berkembang dengan cepat.
Karena tidak mungkin untuk menghentikan pembangunan, sebaiknya dilakukan pencegahan pembangunan fasilitas
umum pada zona rawan bencana tsunami, seperti sekolah, polisi, pemadam kebakaran dan rumah sakit yang
memiliki arti penting bagi populasi ketika bahaya sewaktu-waktu terjadi. Sebagai tambahan, hotel dan penginapan
juga perlu ditempatkan pada lokasi yang sesuai dengan prosedur evakuasi untuk memberikan keamanan kepada
para tamunya.
K0t0nian
Keteknikan dapat membantu mitigasi tsunami. Bangunan dapat diperkuat sehingga tahan terhadap tekanan
gelombang dan arus yang kuat. Fondasi struktur dapat dikonstruksikan menahan erosi dan penggerusan oleh arus.
Lantai dasar suatu bangunan dapat dibuat terbuka sehingga mampu membiarkan airlaut melintas, hal ini menolong
mengurangi sifat penggerusan arus pada fondasi. Bagian penting dari suatu bangunan seperti generator cadangan,
motor elevator dapat ditempatkan pada lantai yang tidak terkena banjir. Benda-benda berat berbahaya seperti tanki
yang dapat hanyut terbawa banjir sebaiknya ditanamkan ke tanah. Sistem transportasi dikonstruksikan atau
dimodifikasi sehingga mampu memfasilitasi evakuasi massal secara cepat keluar dari daerah bahaya. Beberapa
struktur penahan gelombang laut seperti seaall, sea dikes, breakaters, river gates, juga mampu menahan atau
mengurangi tekanan tsunami.
P0n0Iitian
Meskipun tidak terkait langsung dengan aktivitas mitigasi, penelitian yang terkait dengan tsunami sangatlah penting
untuk meningkatkan kualitas mitigasi. Riset yang menyelidiki bukti-bukti paleotsunami, mengembangkan database,
kuantifikasi dampak bahaya tsunami, atau pemodelan numerik dapat meningkatkan tingkat akurasu penilaian
bahaya. Teknik sistem peringatan untuk penilaian cepat dan akurat bahaya gempabumi tsunamigenik potensial dari
data seismik dan instrumen pengukur muka airlaut dikembangkan melalui riset. Penelitian juga mampu meningkatkan
cara pendidikan publik sehingga tingkat kepedulian masyarakat akan bahya tsunami meningkat. Menciptakan
prosedur evakuasi yang efektif juga membutuhkan riset tersendiri tentang bahaya susulan, terutama pada kasus
tsunami lokal. Penelitian juga memberikan panduan perencanaan tata ruang dalam zona inundasi potensial.
Demikian juga halnya riset mengenai sifat keteknikan untuk meningkatkan daya tahan struktur dan infrastruktur
terhadap tekanan tsunami.
P0nutu5
Bencana tsunami senantiasa mengintai masyarakat pesisir ndonesia, karena kepulauan ndonesia tergolong
sebagai daerah gempa aktif. Untuk itu masyarakat diminta mempersiapkan diri dalam menghadapi ancama tersebut
dan pihak yang berwenang harus dengan serius melakukan program mitigasi bencana tsunami.
Salah satu tahapan paling penting yang harus segera dilakukan dalam mitigasi adalah pembuatan 50ta (z4nasi)
da07ah 7awan tsunami. Pembuatan peta tersebut membutuhkan pengetahuan tentang: 1) kemungkinan sumber
tsunami dan karakteristiknya, 2) karakteristik tsunami, 3) probabilitas kejadian, dan 4) karakteristik morfologi dasar
laut dan garis pantai. Pembuatan peta tersebut juga membutuhkan data rekaman tsunami dan/atau data
paleotsunami. Apabila data-data tersebut tidak tersedia secara lengkap, seperti di ndonesia, maka pemodelan
numerik merupakan jalan keluar yang menarik

hLLp//anakpaslslawordpresscom/2010/02/02/mlLlgaslLsunaml/