You are on page 1of 8

Latar Belakang

Pertama kali dicurigai di Indonesia tahun 1968 tapi baru dikonfirmasi secara virologi tahun 1970. Dalam jumlah kasus Indonesia menempati urutan kedua setelah Thailand

Sejak 1968 angka kesakitan rata-rata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968) menjadi 8,14 (1973), 8,65 (1983) dan mencapai angka tertinggi pada tahun 1988 yaitu 27,09 per 100.000 penduduk dengan jumlah penderita sebanyak 57.573 orang, 1.527 orang dilaporkan meninggal dari 201 daerah tingkat II. Setelah epidemi tahun 1988, insiden DBD cenderung menurun, yaitu 12,7 (1990) dan 9,2 (1993) per 100.000 penduduk Berdasarkan data pihak Dinas Kesehatan Kota Padang per Januari 2010, sedikitnya 277 warga terserang DBD dan dirawat intensif di sejumlah rumah sakit serta puskesmas. Untuk daerah terparah (endemis) didominasi wilayah pinggiran, seperti Kuranji, Nanggalo dan Koto Tangah. Pada tahun 2009, kasus DBD di Padang cukup memprihatinkan. Total penderita mencapai 1.586 orang dan delapan orang diantaranya meninggal dunia
Di wilayah kerja Puskesmas Andalas, berdasarkan data ditemukan kasus DBD sebanyak 217 kasus pada tahun 2007.6 Pada tahun 2008 jumlah ini berkurang menjadi 102 kasus, tahun 2009 ditemukan 140 kasus, tahun 2010 ditemuka 76 kasus, tahun 2011 ditemukan 141 kasus, dan tahun 2012 sampai dengan bulan Agustus ditemukan 104 kasus.7-11 Akan tetapi, mengingat jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas yakni 77.572 jiwa, maka jumlah kasus yang terdapat pada tahun 2012 ini belum memenuhi indikator Indonesia Sehat 2015 yang menghendaki angka kesakitan DBD sebanyak 2 kasus per 100.000 penduduk

Perumusan Masalah

Mengidentifikasi masalah tingginya angka kejadian DBD di Kecamatan Padang Timur sebagai wilayah kerja Puskesmas Andalas dan upaya peningkatan kesadaran masyarakat guna menurunkan angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

Tujuan Penulisan

Mengidentifikasi masalah yang ada di Puskesmas Andalas. Menetapkan prioritas masalah yang ada di Puskesmas Andalas. Menganalisis penyebab masalah tingginya angka kejadian DBD di Kecamatan Padang Timur. Menentukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak dari DBD sekaligus menurunkan angka kejadian DBD di Padang Timur.

Manfaat Penulisan

Penulis mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan menentukan prioritas masalah serta dapat mencari solusi yang tepat sehingga nantinya dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Andalas, serta penulisan makalah ini juga dapat menjadi media pembelajaran bagi kami dalam merancang suatu perencanaan di Puskesmas. Selain itu, diharapkan makalah ini dapat memberikan masukan kepada pihak puskesmas dalam upaya menurunkan angka kejadian DBD di Kecamatan Padang Timur.

Kesimpulan
1. Masalah - masalah yang telah diidentifikasi di Puskesmas Andalas adalah survey perumahan, PHBS (RT sehat), pencapaian N/D bayi dan balita, pencapaian Imunisasi HBO, penemuan penderita TB ( CDR), tingginya angka kejadian DBD, dan deteksi bumil resiko tinggi.
2. Angka kejadian DBD tahun 2012 sampai dengan bulan Agustus ditemukan 104 kasus. Akan tetapi, mengingat jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas yakni 77.572 jiwa, maka jumlah kasus yang terdapat pada tahun 2012 ini belum memenuhi indikator Indonesia Sehat 2015 yang menghendaki angka kesakitan DBD sebanyak 2 kasus per 100.000 penduduk. Selain itu, beberapa wilayah kerja Puskesmas Andalas termasuk wilayah endemik DBD dengan jumlah kasus yang tinggi, serta salah satu wilayahnya menjadi KLB di bulan Januari 2012. Hal inilah yang menjadi prioritas masalah yang ada di Puskesmas Andalas.

3. Penyebab utama tingginya angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas adalah:
Kurangnya motivasi petugas kesehatan dalam usaha merubah pola perilaku masyarakat. Terbatasnya jumlah petugas khususnya pada program penanggulangan DBD. Tidak ada lagi kader yang berperan sebagai jumantik (juru pemantau jentik). Kadernya kurang aktif. Kurang aktifnya lurah, RW, RT menggerakkan warganya untuk gerakan 3M Plus. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit, cara penularan, pengobatan dan pencegahan DBD. Belum optimalnya program foging dan sasaran program foging untuk pencegahan penyakit DBD. Adanya tanah-tanah kosong di lingkungan masyarakat yang berisi barang- barang Belum optimalnya pelaksanaan gotong bekas yang dapat menjadi tempat royong bersama untuk membersihkan genangan air lingkungan sekitar rumah warga di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Banyaknya air tergenang di pot-pot rumah warga dan barang-barang bekas. Belum optimalnya pemberian bubuk abate Adanya kamar mandi yang tidak digunakan untuk memberantas jentik-jentik nyamuk. tapi baknya tetap diisi air dan dibiarkan. Masih kurangnya pemanfaatan media informasi publik tentang kasus kesakitan Belum optimalnya penyuluhan kesehatan dan kematian akibat penyakit DBD. mengenai penyakit DBD, cara penularan dan pencegahannya dimana penyuluhan Masih kurangnya ketersediaan dan yang dilakukan tidak komunikatif pemanfaatan media informasi seperti (komunikasi satu arah). papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang pencegahan dan bahaya Tidak ada lagi program pemantauan jentik DBD. berkala di tiap kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Masyarakat di kelurahan belum melaksanakan geakan 3M Plus secara optimal.

4. Berdasarkan analisis masalah yang ada, dibuatlah beberapa alternative pemecahan masalah, diantaranya : Melaksanakan penyuluhan tentang DBD secara berkesinambungan dan terjadwal di dalam dan di luar gedung.

Sambungan

Sambungan

Memotivasi petugas untuk dapat melaksanakan program dengan baik dan mencapai indikator yang ada berupa pemberian reward dari pimpinan Puskesmas

Menjadikan orang tua yang pernah menderita DBD atau anaknya pernah sakit, meninggal karena DBD sebagai kader aktif di wilayah masing-masing.

Melakukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat dengan memberikan pengumuman melalui toa mesjid agar warga bersama melakukan gotong royong, menutup bak penampungan air, membersihkan tanah kosong di lingkungan sekitarnya yang bisa menjadi tempat perindukan nyamuk dengan mensweeeping dan mengubur barangbarang bekas.

Membentuk kader jumantik di masingmasing kelurahan.

Mengadakan perlombaan Kelurahan Sehat.

Memanfaatkan media informasi publik seperti media cetak lokal dan radio lokal untuk menginformasikan fakta kasus kesakitan dan kematian yang sedang terjadi di masyarakat.

Merencanakan rapat lintas sektoral dengan pihak kelurahan untuk membentuk tim penanggungjawab terlaksananya gerakan 3 M plus.

Melaksanakan upaya pencegahan DBD seperti melakukan fogging secara berkala dan membagikan bubuk abate ke rumah-rumah warga.

Membagikan leaflet kepada warga masyarakat dalam setiap pelaksanaan penyuluhan serta memasang pamflet, poster dan stiker mengenai informasi DBD di tempat umum yang strategis, seperti: kantor kelurahan, sekolah, tempat-tempat organisasi masyarakat dan angkot, mesjid, kedai.

Saran
Membuat jadwal penyuluhan dan materi penyuluhan yang menarik. Melakukan penyuluhan yang berkesinambungan baik di dalam maupun di luar gedung Membentuk kader jumantik pada masing-masing kelurahan. Merencanakan rapat lintas sektoral dengan pihak kelurahan untuk membentuk tim penanggungjawab terlaksananya gerakan 3 M Plus. Menjadikan orang tua yang pernah menderita DBD atau anaknya pernah sakit, meninggal karena DBD sebagai kader aktif di wilayah masing-masing. Menjalin kerjasama dengan media informasi baik media cetak atau media elektronik dalam menginformasikan kasus kesakitan dan kematian atau bahaya DBD yang telah terjadi di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Membagikan leaflet tentang DBD kepada warga masyarakat dalam setiap pelaksanaan penyuluhan. Memasang pamflet, poster dan stiker berisikan upaya pencegahan dan bahaya DBD di tempat umum yang strategis, seperti: kantor kelurahan, sekolah, tempat-tempat organisasi masyarakat dan angkot, mesjid, kedai.

Pemegang program DBD

Pimpinan Puskesmas

Pemberian reward dari kepala Puskesmas kepada petugas yang telah melaksanakan tugas sesuai indikator yang telah ditetapkan agar petugas menjadi lebih semangat dan aktif. Mengadakan perlombaan kelurahan sehat dengan salah satu indikatornya adalah wadah air bebas jentik antar kelurahan di Padang Timur.

Melakukan fogging secara berkala, menyediakan bubuk abate dan meyediakan media poster, spanduk dan stiker tentang upaya pencegahan dan bahaya DBD.

DKK

Kelurahan

Membentuk tim penanggungjawab terlaksananya gerakan 3 M plus dan mengetahui anggota masyarakatnya yang mengalami kesakitan dan kematian akibat DBD sebagai peringatan dalam merencanakan tindak lanjutnya.

Masyarakat

Melaksanakan gerakan 3 M secara optimal untuk mencegah DBD. Melaksanaan gotong royong bersama untuk membersihkan lingkungan sekitar dengan: melakukan survey terhadap tanah-tanah kosong yang ada di wilayah kerja puskesmas, melakukan sweeping terhadap pot-pot dan barang-barang bekas yang tergenang airnya di rumah warga, sekolah, mesjid dan pasar.