You are on page 1of 33

Undang-Undang Perpajakan yang

Baru
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 28 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 Tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang

WAJIB PAJAK
Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan,
meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
pemungut pajak, yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai
dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan
perpajakan.

Untuk Pajak Penghasilan, orang pribadi


yang menjadi wajib pajak adalah orang
pribadi
yang merupakan subjek pajak
dalam
negeri
yang
penghasilannya
melebihi besaran Penghasilan Tidak Kena

Untuk menghitung besarnya Penghasilan


Kena Pajak dari WP orang pribadi dalam
negeri, penghasilan netonya dikurangi
dengan PTKP.
Disamping untuk dirinya, kepada WP yang
sudah kawin diberikan tambahan PTKP.
Bagi WP yang isterinya menerima atau
memperoleh penghasilan yang digabung
dengan penghasilannya, maka WP tersebut
mendapat tambahan PTKP untuk isteri
dengan besaran yang sama dengan PTKP WP.

WP yang mempunyai anggota keluarga


sedarah dan semenda dalam garis keturunan
lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya,
misalnya orang tua, mertua, anak kandung,
anak angkat, diberikan tambahan PTKP
untuk paling banyak 3 (tiga) orang.
Anggota keluarga yang menjadi tanggungan
sepenuhnya adalah anggota keluarga yang
tidak mempunyai penghasilan dan seluruh
biaya hidupnya ditanggung oleh WP.

Uraian
WP sendiri
Status Kawin
Istri penghasilan digabung
(istri bekerja)
Tanggungan (max. 3 orang), @

setahun

sebulan

13.200.000
1.200.000

1.100.000
100.000

13.200.000
1.200.000

1.100.000
100.000

Uraian
WP sendiri
Status Kawin
Istri penghasilan digabung
(istri bekerja)
Tanggungan (max. 3 orang), @

setahun

sebulan

15.840.000
1.320.000

1.320.000
110.000

15.840.000
1.320.000

1.320.000
110.000

No.
1.
2.
3.
4.

Status WP
TK/ 0
TK/ 1
TK/ 2
TK/ 3

No.
1.
2.
3.
4.
No.
1.
2.
3.
4.

PTKP (Rupiah)
Sebulan
Setahun
1.320.000
15.840.000
1.430.000
17.160.000
1.540.000
18.480.000
1.650.000
19.800.000

Status WP

PTKP (Rupiah)
Sebulan
Setahun
1.430.000
17.160.000
1.540.000
18.480.000
1.650.000
19.800.000
1.760.000
21.120.000

Status WP

PTKP (Rupiah)
Sebulan
Setahun
2.750.000
33.000.000
2.860.000
34.320.000
2.970.000
35.640.000
3.080.000
36.960.000

K/ 0
K/ 1
K/ 2
K/ 3

K/ I/ 0
K/ I/ 1
K/ I/ 2
K/ I/ 3

Kewajiban Wajib Pajak


Mendaftarkan
diri untuk
memperoleh
NPWP
Kewajiban
Mendaftarkan diri
berlaku bagi
karyawan
berpenghasilan di
atas PTKP dan
Pemberi Kerja

NPWP Untuk Wanita


Menikah

Mendaftarkan
diri untuk
memperoleh
NPWP

Kewajiban
Mendaftarkan diri
berlaku bagi
karyawan
berpenghasilan di
atas PTKP dan
Pemberi Kerja

NPWP Untuk Wanita Menikah


Wanita menikah/kawin yang tidak pisah harta dapat
memilih :
Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP, di mana
kewajiban perpajakan menyatu dengan suami NPWP
sama dengan NPWP suami, kecuali kode WP

atau
Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP, di mana
kewajiban perpajakan terpisah dari suami NPWP
berbeda dari NPWP suami

NPWP ISTRI = NPWP SUAMI


Tn. Cahyadi seorang karyawan swasta yang tinggal di Maguwoharjo,
Sleman sejak tahun 2005 telah terdaftar sebagai wajib pajak dengan
NPWP: 08.123.456.9-542.000. Ny. Cici, istri Tuan Cahyadi, sejak
tahun 2008 berkerja sebagai dosen di UGM dan mendaftarkan diri ke
KPP Pratama Sleman untuk dikukuhkan sebagai wajib pajak karena
pengahasilannya di atas PTKP. Ny. Cici memilih untuk mendaftarkan
diri dan menginginkan melaksanakan kewajiban perpajakan menyatu
dengan suami.

NPWP SUAMI : 08.123.456.7-542.000


NPWP ISTRI : 08.123.456.7-542.001

NPWP ISTRI NPWP SUAMI


Tn. Cahyadi seorang karyawan swasta yang tinggal di Maguwoharjo,
Sleman sejak tahun 2005 telah terdaftar sebagai wajib pajak dengan
NPWP: 08.123.456.9-542.000. Ny. Cici, istri Tuan Cahyadi, sejak
tahun 2008 berkerja sebagai dosen di UGM dan mendaftarkan diri ke
KPP Pratama Sleman untuk dikukuhkan sebagai wajib pajak karena
pengahasilannya di atas PTKP. Ny. Cici memilih untuk mendaftarkan
diri dan menginginkan melaksanakan kewajiban perpajakan secara
terpisah dari suami.

NPWP SUAMI : 08.123.456.7-542.000


NPWP ISTRI : 48.987.654.3-542.000

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK


FUNGSI UTAMA NPWP

Sarana dalam administrasi perpajakan


Tanda pengenal diri atau identitas WP
dalam melaksanakan hak dan
kewajiban perpajakannya.
Menjaga ketertiban dalam pembayaran
pajak dan pengawasan administrasi
perpajakan.
Setiap WAJIB PAJAK satu NPWP

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK


MANFAAT NPWP

Bebas Fiskal bila bepergian ke luar


negeri (mulai 1 Januari 2009).
Tarif pajak PPh normal. Bila WP
tidak ber-NPWP akan dikenakan
sanksi tarif pajak yang lebih tinggi
(mulai 1 Januari 2009).

TARIF PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN

P
O
T
/
P
U
T

Kewajiban Wajib Pajak

3M
Menghitung
Membayar
Melapor

Pajak yang
terutang

3M
Menghitung pajak sesuai tarif
dan ketentuan yang berlaku
Membayar pajak melalui
kantor pos atau bank-bank yang
ditunjuk dengan menggunakan
formulir Surat Setoran Pajak
(SSP)
Melapor pajak - ke KPP dengan
menggunakan formulir Surat
Pemberitahuan (SPT)

TARIF WP ORANG PRIBADI


Ketentuan Lama:

T
A
R
I
F

Ketentuan Baru

Penurunan Tarif PPh WP OP


Konsekuensi: PPh terutang yang harus
dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih
kecil daripada sebelumnya.
Antisipasi: Pemberi Kerja/Bendahara
harus menghitung PPh karyawan
secara benar sesuai dengan tarif PPh
yang saat ini berlaku, agar karyawan
tidak dirugikan. Selain itu karyawan
sebagai WP OP juga harus menghitung
PPh berdasarkan tarif pajak yang
berlaku.

MEKANISME PEMBAYARAN PAJAK

1. MEMBAYAR
SENDIRI PAJAK
TERUTANG

2. MELALUI
PEMOTONGA
N ATAU
PEMUNGUTA
N PIHAK
LAIN

PPh Pasal 25 (LS)


PPh Pasal 29

PPh Psl. 4
ayat (2), Psl
15, Psl 21,
22, 23 serta
PPh Pasal 26

Pembayaran PPh WP OP
WP OP yang berstatus sebagai karyawan tidak harus
membayar pajak setiap bulan, karena telah PPh
terutang telah dipungut oleh pemberi kerja/bendahara
pada saat menerima gaji bulanan atau pada saat
menerima honorarium dari suatu kegiatan/pekerjaan.
Pemotongan pajak yang dilakukan oleh pemberi kerja/
bendahara menjadi kredit pajak bagi WP OP yang akan
diperhitungkan pada akhir tahun pajak.
Meminta bukti pemotongan PPh atas gaji/penghasilan
bulanan yang dilakukan oleh pemberi kerja/bendahara
berupa formulir 1721 A1 atau A2.
Meminta bukti pemotongan PPh atas honorarium dari
suatu kegiatan/pekerjaan yang dilakukan oleh pemberi
kerja/bendahara
Melunasi kekurangan pembayaran PPh Pasal 29 paling
lambat sebelum SPT Tahunan disampaikan oleh WP.

Pemotongan PPh oleh Pemberi


Kerja_1

Wajib memotong PPh Pasal 21 dari karyawan yang


berkerja pada instansi/perusahaan; baik atas gaji/
penghasilan rutin bulanan maupun atas
honorarium dari suatu kegiatan/pekerjaan.
Wajib memotong PPh 22 dan 23 serta 23 dari
rekanan yang memiliki hubungan kerja dengan
instansi/perusahaan pemberi kerja/bendahara.
Meminta NPWP dari karyawan dan rekanan.
Memungut pajak lebih tinggi apabila karyawan
maupun rekanan yang tidak memiliki NPWP
sebagaimana mestinya.
Menyetorkan pajak terutang yang telah dipungut
dari karyawan atau rekanan ke tempat
pembayaran yang ditunjuk dengan menggunakan
SSP tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang

TARIF PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN
P
O
T
/
P
U
T

Pemotongan PPh oleh Pemberi


Kerja_2

Pemberi kerja/bendahara menyetorkan pajak terutang


yang telah dipungut dari karyawan atau rekanan ke
tempat pembayaran yang ditunjuk dengan menggunakan
SSP secara tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh dan PPh
Pasal 23 yang dipotong oleh Pemotong PPh disetor paling
lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya.
Dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran pajak
bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau
hari libur nasional, penyetoran pajak dapat dilakukan
pada hari kerja berikutnya.
PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara dan PPN yang
pemungutannya dilakukan oleh bendahara dibayar paling
lambat tanggal 7 bulan berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir
Pemberi kerja/bendahara membuat bukti pemotongan PPh

Pemotongan PPh oleh Pemberi


Kerja_3
Memberikan bukti potong atas honorarium dari suatu
kegiatan/pekerjaan kepada karyawan.
Membuat bukti potong pajak dan menyampaikannya
kepada rekanan.
Membuat formulir 1721 A1 atau A2 pada akhir Masa
Pajak terakhir apabila pemberi kerja/karyawan
melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas
gaji/penghasilan rutin bulanan karyawan yang berhenti
atau mutasi keluar dari instansi/perusahaan pemberi
kerja/bendahara pada bagian tahun pajak dan
memberikannya kepada karyawan dimaksud.
Meminta formulir 1721 A1 atau A2 dari karyawan yang
masuk berkerja atau mutasi ke dalam
instansi/perusahaan pemberi kerja/bendahara pada
bagian tahun pajak. Formulir tersebut diperlukan agar
dapat menghitung dan memotong PPh terutang

MEKANISME PELAPORAN PAJAK


SURAT
PEMBERITAHUAN
(SPT)
SPT MASA

Sarana bagi Wajib Pajak


dalam melaporkan dan
SPT
mempertanggungjawab
kan penghitungan
jumlah pajak yang
sebenarnya terutang
INGAT BATAS WAKTU
PELAPORAN !!

TAHUNAN

Pelaporan SPT Tahunan PPh WP


OP_1

Karyawan sebagai WP OP harus melaporkan perhitungan


dan pembayaran PPh selama satu tahun dalam SPT
Tahunan PPh WP OP
Paradigma selama ini, karyawan merasa bahwa setiap
bulan PPh atas gajinya sudah dipotong oleh pemberi
kerja/bendahara sehingga tidak punya kewajiban apaapa lagi.
Paradigma ini harus diluruskan karena pelaporan pajak
adalah salah satu kewajiban sesuai dengan sistem self
assessment.
Walaupun PPh Pasal 29 setelah dihitung pada akhir
tahun ternyata nihil (karena semua PPh terutang sudah
dipotong oleh pemberi kerja, dan WP tidak mempunyai
penghasilan lain), WP tetap melaporkan SPT Tahunan
PPh WP OP, dengan status nihil.
Formulir 1721 A1 atau A2 serta bukti potong PPh lainnya

Pelaporan SPT Tahunan PPh WP


OP_2
Dalam
hal terdapat kekurangan PPh Pasal 29, WP harus
melampirkan SSP pelunasan PPh Pasal 29 pada saat
memasukkan SPT Tahunan PPh WP OP.
Pada SPT Tahunan WP wajib mencantumkan daftar harta dan
kewajiban serta penghasilan yang merupakan objek pajak, baik
yang sudah dipotong pajak maupun belum, serta penghasilan
yang bukan objek pajak.
WP OP dapat melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak
dengan menggunakan formulir SPT PPh 1770, 1770 S, atau
1770 SS.
SPT Tahunan PPh WP OP harus disampaikan ke KPP Pratama
tempat WP terdaftar paling lambat akhir bulan ketiga setelah
berakhirnya tahun pajak (31 Maret tahun berikutnya).
Penyampaian SPT Tahunan PPh dapat dilakukan secara
langsung, menggunakan pos tercatat, menggunakan jasa
ekspedisi dengan tanda terima, atau secara elektronik.
Apabila WP terlambat menyampaikan SPT Tahunan PPh, maka
kepadanya akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda

Pelaporan SPT Tahunan PPh


Wanita Menikah

Karena wanita menikah sebagai WP OP diberi pilihan


dalam hal pendaftaran sebagai wajib pajak, maka
pelaksanaan kewajiban pelaporan pajak juga ada dua
kemungkinan, sesuai dengan alternatif yang dipilih oleh
wanita menikah tersebut.
Apabila wanita menikah memilih untuk melaksanakan
kewajiban perpajakan menyatu dengan suami sehingga
NPWP istri sama dengan NPWP suami, pelaporan SPT
Tahunan PPh dilakukan oleh suami, dengan demikian
wanita menikah tersebut tidak perlu menyampaikan SPT
Tahunan PPh. Formulir 1721 A1 atau A2 maupun bukti
potong PPh lainnya menjadi lampiran bagi SPT Tahunan
PPh suaminya.
Apabila wanita menikah memilih untuk melaksanakan
kewajiban perpajakan terpisah dari suami sehingga
NPWP istri berbeda dari NPWP suami, pelaporan SPT
Tahunan PPh oleh wanita menikah tersebut dan

Pelaporan SPT Masa Pemberi Kerja


Pemberi kerja/bendahara yang telah melakukan pemotongan
pajak dari karyawan atau rekanan harus melaporkan
pemotongan tersebut dengan menggunakan SPT Masa.
Membuat catatan atau kertas kerja perhitungan PPh Pasal 21
untuk masing-masing penerima penghasilan, sebagai dasar
pelaporan SPT
Penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21 yang dipotong oleh
Pemotong PPh dan SPT Masa PPh Pasal 23 yang dipotong
oleh Pemotong PPh dilakukan paling lambat 20 hari setelah
Masa Pajak berakhir.
Penyampaian SPT Masa PPh Pasal 22 yang dipungut oleh
bendahara dan SPT Masa PPN yang pemungutannya
dilakukan oleh bendahara dilakukan paling lambat 14 hari
setelah Masa Pajak berakhir.
Dalam hal batas akhir pelaporan bertepatan dengan hari
libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pelaporan
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Pelaporan SPT Masa Pemberi


Kerja
Apabila pemberi kerja/bendahara terlambat
menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21 atau
Pasal 23, maka kepadanya akan dikenakan
sanksi administrasi berupa denda sebesar
Rp 100.000,00.
Apabila bendahara terlambat
menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 22,
maka kepadanya akan dikenakan sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp
100.000,00.
Apabila bendahara terlambat
menyampaikan SPT Masa PPN, maka
kepadanya akan dikenakan sanksi

Santen Parutan Klopo


Cukup Semanten Presentasi Kulo
Matur Nuwun ....