You are on page 1of 22

Asuhan Keperawatan Pada

Lansia Menjelang Ajal-Keadaan


Terminal
Kelompok 8

Definisi
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia diatas 60 tahun. (UU nomor
13 tahun 1998).
Lanjut usia didefinisikan berdasarkan karakteristik social masyarakat yang
menganggap bahwa orang telah tua jika menunjukkan ciri fisik seperti rambut
beruban,hilangnya gigi,kulit keriput (Reimer;1999,Stanley and beare ;2007 ).
WHO menggolongkan lansia berdasarkan kronologi / biologis menjadi 4
kelompok yaitu:
- usia pertengahan (Middle age ) usia antara 45-59 tahun
- lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun
- lanjut usia tua (old) berusia 75-90 tahun
- usia sangat tua (very old) lebih dari 90 tahun.

Tugas perkembangan lansia (Burnside,1979) (Duvall, 1977) (Havighurst ,1953)


dikutip oleh Potter dan perry,2005).
1. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan.
2. Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan.
3. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan.
4. Menerima diri sendiri sebagai individu lansia
5. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup.
6. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup.
7. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa.

Tipe-tipe kepribadian lanjut usia( menurut Kunjtoro 2002)


1. Tipe
2. Tipe
3. Tipe
4. Tipe
5. Tipe
6. Tipe

kepribadian tergantung (Dependent Personality)


kepribadian Konstruktif (Construction personality)
kepribadian mandiri (Independent Personality)
kepribadian kritik diri (Self hate personality)
kepribadian Defensive
kepribadian bermusuhan (Hostile personality)

Dying
Dying / menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan yang merupakan proses
menuju akhir (kematian).
Kematian adalah apabila seseorang tidak lagi teraba denyut nadinya, tidak
bernafas selama beberapa menit, dan tidak menunjukan segala reflex, serta
tidak ada kegiatan otak.
Perawat berkewajiban untuk memberikan pandangan yang jelas mengenai
makna kematian bagi individu, keluarga sehingga perawatan pada klien
menjelang ajal harus nyaman dan terhormat. (Hockey,1989 ; Hurtig &
Steven ,1990).

Manifestasi Klinik Menjelang Ajal/ Terminal


1. Fisik
2. Psikososial
Tahap Menjelang Ajal
(Menurut Elizabeth Kubler Ross)
1. Tahap pertama (penolakan/Denial and isolation)
2. Tahap kedua (marah/anger)
3. Tahap ketiga (tawar-menawar/ bergaining)
4. Tahap keempat (sedih/depresi)
5. Tahap kelima (menerima/acceptance)

Hak Asasi Pasien Menjelang Ajal


Lanjut usia berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai ia
mati.
Perilaku Menjelang Ajal
Seseorang yang menjelang ajal, ada 4 pola perjalanan klinis yang ditunjukkan
oleh perilaku klien (menurut Marthoccio pattern of living dying)
1. Pola landai turun sedikit sedikit
2. Pola dataran yang turun
3. Pola tebing yang menurun
4. Pola puncak dan lembah

Tanda- Tanda Kematian


1. Pernafasan terhenti, penilaian > 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi)
2. Terhentinya sirkulasi, penilaian 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, dapat juga terjadi pada spasme agonal
4. Pembuluh darah retina bersegmentasi, beberapa menit pasca kematian.
Pemenuhan Kebutuhan Klien Menjelang Kematian
1. Kebutuhan jasmaniah
2. Kebutuhan emosi

Perawatan Paliatif Pada Lanjut Usia Menjelang Ajal


Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif yang meringankan beban
penderita,terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Yang dimaksud dengan
tindakan paliatif antara lain mengurangi/menghilangkan rasa nyeri dan
keluhan lain serta memperbaiki aspek psikologis,social,dan spiritual
Tujuan perawatan paliatif adalah mencapai kwalitas hidup maksimal bagi si
sakit (lanjut usia)dan keluarganya. Perawatan paliatif hanya diberikan kepada
lanjut usia yang menjelang akhir hayatnya.tetapi juga diberikan segera
setelah didiagnosis oleh dokter bahwa lanjut usia tersebut menderita
penyakit yang tidak harapan untuk sembuh (misalnya : menderita kanker).

Beberapa kekhususan pasien lanjut usia dalam stdium paliatif :


1. Lanjut usia mengadahapi kondisi yang penyakitnya tidak dapat
disembuhkan. Artinya terapi yang diberikan hanya bersifat simtomatis atau
paliatif (bukan kuratif).
2. Lanjut usia cenderung mengalami kelemahan dan kerapuhan, baik fisik
maupun mental. Dengan demikian, kemungkinan pasein lanjut usia tidak
mampu menghadapi stress fisik dan mental yang timbul dari luar atau dari
lingkunganya.
3. Lanjut usia berada diambang kematian, yang terutama akan menimbulkan
ketakuatan dan kegelisahan,yang sudah tertentuperlu mendapat simpati
dan dukungan mental atau spiritual.

Asuhan Keperawatan Pada Lansia


Menjelang Ajal-Keadaan Terminal

Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan penyakit terminal, menggunakan pendekatan holistik
yaitu suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap klien bukan hanya pada penyakit
dan aspek pengobatan dan penyembuhan saja akan tetapi juga aspek psikososial
lainnya. Salah satu metode untuk membantu perawat dalam mengkaji data psikososial
pada klien terminal yaitu dengan menggunakan metode PERSON.
P: Personal Strenghat, yaitu kekuatan seseorang ditunjukkan melalui gaya hidup,
kegiatannya atau pekerjaan.
E: Emotional Reaction, yaitu reaksi emosional yang ditunjukkan dengan klien.
R: Respon to Stress, yaitu respon klien terhadap situasi saat ini atau dimasa lalu.
S: Support System, yaitu keluarga atau orang lain yang berarti.
O: Optimum Health Goal, yaitu alasan untuk menjadi lebih baik (motivasi)
N: Nexsus, yaitu bagian dari bahasa tubuh mengontrol seseorang mempunyai penyakit
atau mempunyai gejala yang serius.

Pengkajian yang perlu diperhatikan klien dengan penyakit terminal


menggunakan pendekatan meliputi :
1. Faktor predisposisi
2. Fokus Sosiokultural
3. Faktor presipitasi
4. Faktor perilaku
5. Mekanisme koping
a. Denial
b. Regresic
c. Kompensasi

Diagnosa Keperawatan
1. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial berhubungan

dengan kondisi sakit terminal.


2. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsi
3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan terminal
4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai dengan
klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak (fisik),
raut muka klien yang cemas
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan kematian,
ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya, menyalahkan
Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial dengan
keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawat.
6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam
melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan klien
merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat.
7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan

Intervensi Keperawatan
Dx 1 : Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial
berhubungan dengan kondisi sakit terminal
Tujuan :
Klien merasa tenang menghadapi sakaratul maut sehubungan dengan sakit
terminal
Intervensi :
1. Dengarkan dengan penuh empati setiap pertanyaan dan berikan respon jika
dibutuhkan klien dan gali perasaan klien.
2. Berikan klien harapan untuk dapat bertahan hidup.
3. Bantu klien menerima keadaannya sehubungan dengan ajal yang akan
menjelang.
4. Usahakan klien untuk dapat berkomunikasi dan selalu ada teman di
dekatnya.
5. Perhatikan kenyamanan fisik klien.

Dx 2 : Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan


fungsi
Tujuan :
Mempertahankan rasa aman, tenteram, percaya diri, harga diri dan martabat
klien
Intervensi :
1. Gali perasaan klien sehubungan dengan kehilangan.
2. Perhatikan penampilan klien saat bertemu dengan orang lain.
3. Bantu dan penuhi kebutuhan dasar klien antara lain hygiene, eliminasi.
4. Anjurkan keluarga dan teman dekat untuk saling berkunjung dan
melakukan
hal hal yang disenangi klien.
5. Beri klien support dan biarkan klien memutuskan sesuatu untuk dirinya,
misalnya dalam hal perawatan.

Dx 3 : Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan


terminal
Tujuan :
Mengurangi rasa takut, depresi dan kesepian
Intervensi :
1. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan sedih, marah dan lain lain.
2. Perhatikan empati sebagai wujud bahwa perawat turut merasakan apa yang
dirasakan klien.
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi sumber koping, misalnya dari teman
dekat, keluarga ataupun keyakinan klien.
4. Berikan klien waktu dan kesempatan untuk mencerminkan arti
penderitaan, kematian dan sekarat.
5. Gunakan sentuhan ketika klien menunjukkan tingkah laku sedih, takut
ataupun depresi, yakinkan bahwa perawat selalu siap membantu.
6. Lakukan hubungan interpersonal yang baik dan berkomunikasi tentag
pengalaman pengalaman klien yang menyenangkan.

Dx 4 : Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai


dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak
(fisik), raut muka klien yang cemas
Tujuan :
Klien tidak cemas lagi dan klien memiliki suatu harapan serta semangat hidup
Intervensi :
1. Kaji tingkat kecemasan klien.
2. Jelaskan kepada klien tentang penyakitnya.
3. Tetap mitivasi (beri dukungan) kepada klien agar tidak kehilangan harapan hidup
dengan tetap mengikuti dan mematuhi petunjuk perawatan dan pengobatan.
4. Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
5. Datangkan seorang klien yang lain yang memiliki penyakit yang sama dengan klien.
6. Ajarkan kepada klien dalam melakukan teknik distraksi, misal dengan
mendengarkan musik kesukaan klien atau dengan teknik relaksasi, misal dengan
menarik nafas dalam.
7. Beritahukan kepada klien mengenai perkembangan penyakitnya.
8. Ikut sertakan klien dalam rencana perawatan dan pengobatan.

Dx 5 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan


kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya,
menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial dengan
keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawat
Tujuan :
Koping individu positif
Intervensi :
1. Gali koping individu yang positif yang pernah dilakukan oleh klien.
2. Jelaskan kepada klien bahwa setiap manusia itu pasti akan mengalami suatu
kematian dan itu telah ditentukan oleh Tuhan.
3. Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
4. Perawat maupun keluarga haruslah tetap mendampingi klien dan mendengarkan
segala keluhan dengan rasa empati dan penuh perhatian.
5. Hindari barang barang yang mungkin dapat membahayakan klien.
6. Tetap memotivasi klien agar tidak kehilangan harapan untuk hidup.
7. Kaji keinginan klien mengenai harapa untuk hidup/keinginan sebelum menjelang
ajal
8. Bantu klien dalam mengekspresikan perasaannya.

Dx 6 : Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien


dalam melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai
dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat
Tujuan :
Kebutuhan spiritual dapat terpenuhi yaitu dapat melakukan sholat dalam
keadaan sakit
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai ibadah sholat.
2. Ajarkan pada klien cara sholat dalam keadaan berbaring.
3. Ajarkan tata cara tayamum.
4. Ajarkan kepada klien untuk berzikir.
5. Datangkan seorang ahli agama.

Dx 7 : Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan


Tujuan :
Membantu individu menangani kesedihan secara efektif
Intervensi :
1. Motivasi keluarga untuk menverbalisasikan perasaan perasaan antara lain
: sedih, marah dan lain lain.
2. Beri pengertian dan klarifikasi terhadap perasaan perasaan anggota
keluarga.
3. Dukung keluarga untuk tetap melakukan aktivitas sehari hari yang dapat
dilakukan.
4. Bantu keluarga agar mempunyai pengaharapan yang realistis.
5. Berikan rasa empati dan rasa aman dan tenteram dengan cara duduk
disamping keluarga, mendengarkan keluhan dengan tetap menghormati
klien serta keluarga.
6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk melakukan upacara keagamaan
menjelang saat saat kematian.

Terimakasih