You are on page 1of 27

RUTE ADMINISTRASI

OBAT
Oleh : Kelompok 2
1. Nurbaiti
1211011004
2. Hasanatul Khairiyah
1211011012
3. Dini Hanifa
1211012008
4. Nellia Yasmin
1211012022
5. Mona Ade Lisa
1211012033
6. Miftahul Jannah
1211013007
7. Ratu Aulia Tilqa
1211013017
8. Rezka Fajar R
1211013027

RUTE PEMBERIAN OBAT

RUTE ADMINISTRASI OBAT


Rute administrasi dalam farmakologi dan toksikologi
adalah jalan dimana obat, cairan, racun, atau bahan
lainnya diambil ke dalam tubuh.
Rute pemberian obat ( Routes of Administration)
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek
obat, karena karakteristik lingkungan
fi siologis
anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah
kontak obat dan
tubuh. Karakteristik ini berbeda
karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim
dan getah-getah fi siologis yang terdapat di lingkungan
tersebut berbeda. Hal ini menyebabkan bahwa jumlah
obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu
tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian
obat (Katzung, B.G, 1989).

Gambaran skematik peristiwa absorpsi,


metabolisme, dan ekskresi dari obat-obat
setelah berbagai rute pemberian dapat dilihat
pada gambar dibawah ini
(Ansel, 1989)

RUTE PEMBERIAN OBAT


Pemilihan rute / cara pemberian obat tergantung pada :
1. Tujuan terapi / efek yg diinginkan
a. efek lokal : topikal, intravaginal, rektal, intranasal,
intraokuler, inhalasi / intrapulmonal.
b. efek sistemik : oral, sublingual, bukal, parenteral,
implantasi s.c., rektal.
2. Sifat obat
a. obat merangsang mukosa mulut / mudah rusak oleh
asam lambung / obat menjadi inaktif oleh asam lambung &
sal.
G.I.
sublingual (ISDN), parenteral (inj. Insulin),
rektal
(aminofi lin rektal)
b. obat tidak diabsorpsi oleh usus (mis : streptomisin)
parenteral (injeksi i.m.).

3.

Kondisi pasien & penyakit


- pasien tidak sadar/tidak kooperatif parenteral /
rektal.
- pasien kondisi gawat parenteral (i.v.).
- pasien sulit / tidak mampu menelan hindari
p.o.
- penyakit kronis yg memerlukan efek obat cepat
sublingual pd serangan angina.

RUTE PEMBERIAN OBAT BERDASARKAN


EFEK YANG DIINGINKAN
A. Efek sistemik dapat diperoleh dengan rute
pemberian :

oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal


Parenteral dengan cara intravena, intra muskular,
subkutan
inhalasi langsung kedalam paru-paru

B . e f e k l o ka l d a p a t d i p e ro l e h d e n g a n r u t e p e m b e r i a n :
o I n t r a o ku l a r ( o c u l e r ) , I n t r a n a s a l ( n a s a l i s ) , A u r a l ( a u r i s ) d e n g a n j a l a n
d i t e t e s ka n
1. Intraokular
Te m p a t p e m b e r i a n
: mata
Cara pemberian
: d i t e t e s ka n p d m e m b r a n m u ko s a m a t a , e f e k
l o ka l .
BS O
: suspensi, larutan.
2. Intra nasal
Te m p a t p e m b e r i a n
: hidung
Cara pemberian
: d i t e t e s ka n p d l u b a n g h i d u n g , e f e k
l o ka l .
BS O
: l a r u t a n , s e m p ro t , i n h a l a n , s a l e p .
3. Aural / intraselulaer
Te m p a t p e m b e r i a n
: telinga
Cara pemberian
: d i t e t e s ka n p d l u b a n g t e l i n g a , e f e k
l o ka l .
BS O
: suspensi, larutan.

o Intrarespiratoral, berupa gas yang masuk ke paru-paru,


seperti inhalasi, tetapi beda mekanisme
Intrarespiratori
Tempat pemberian : paru-paru
Cara pemberian : disemprotkan dg kanister / inhalasi
gas/cairan masuk paru-paru, efek lokal.
BSO
: aerosol
keuntungan :
absorpsi cepat ,terhindar dari FPE di hati, pd penyakit paru paru
(asma bronchial),obat dapat diberikan langsung pada bronkus.

kerugian :
diperlukan alat & metoda khusus yg sulit dikerjakan, sukar
mengatur dosis, obatnya mengiritasi epitel paru-paru

o Rektal, Uretr al dan Va ginal dengan jalan dimasukka n.


1. Rektal
Te m p a t p e m b e r i a n
Tu j u a n
BS O

: re k t u m / a n u s

: m e m p e ro l e h e f e k l o ka l ( a n t i h e m o ro i d ) & s i s t e m i k
(asma).
: larutan, ointment, suppositoria, enema.

Ke u n t u n g a n p e m b e r i a n re k t a l :
rectum & colon menyerap banyak obat perrektal (untuk efek sistemik)
menghindari kerusakan obat / obat menjadi tidak aktif karena pengaruh
lingkungan perut & usus.
mudah diberikan untuk pasien muntah, sulit menelan, tidak sadar
obat yg diabsorpsi melalui rectal beredar dalam darah tidak melalui hati
sehingga tidak mengalami detoksikasi / biotransformasi yg mengakibatkan
obat terhindar dari tidak aktif
kerugian :

tidak menyenangkan

absorpsi obatnya tidak teratur dan sukar ditentukan

2. Uretral
Tempat pemberian

: uretra

Cara pemberian
: dimasu kkan ke dalam saluran kencing,
efek lokal.
BSO : larutan, su ppositoria.
3. Vaginal
Tempat pemberian
: vagina
Cara pemberian
: dimasu kkan ke dalam lu ban g vagina,efek
lokal
BSO

: larutan, ointment, bu sa emulsi, gel, tablet,


supp ositoria.

insert,

RUTE PEMBERIAN OBAT

A. Enteral
Rute pemberian enteral adalah
rute pemberian yang melalui atau
langsung menuju GastroIntestinal
(saluran
pencernaan).
Rute
enteral ini antara lain oral,
sublingual, dan rektum.

1. Oral
O ba t y a ng c ara pe ng gunaannya masuk melalui mulut.
Keuntung annya:
rela tif
a man,
p raktis,
ekonomis ,
d an
muda h.
D apat
meng guna kan p rod uk ob at lep as seg era atau lep as modifi ka si.
Kerugia nnya:
timb ul efek lamb at;
tid a k bermanfaat untuk p asien yang s ering muntah, d iare,
tid a k s ad ar, tidak koop eratif;
untuk obat iritatif dan rasa tid ak ena k peng gunaannya
terb a tas;
ob a t y ang inak tif/terurai oleh ca iran lamb ung/ usus tidak
b erma nfaat (p enisilin G , insulin);
ob a t a bsorps i tidak teratur. Bebe rapa ob at memp uny ai
a b sorp si errartik, tid ak s tab il dalam saluran ce rna atau
meta bolis me liver seb elum ab sorps i s is temik.

Untuk tujuan terapi serta efek sistematik


yang dikehendaki, penggunaan oral adalah
yang paling menyenangkan dan murah, serta
umumnya paling aman. Hanya beberapa obat
yang mengalami perusakan oleh cairan
lambung atau usus. Pada keadaan pasien
muntah-muntah, koma, atau dikehendaki
onset yang cepat, penggunaan obat melalui
oral tidak dapat dipakai.

2. Sublingual
penempatan di bawah lidah memungkinkan
obat tersebut berdifusi kedalam anyaman
kapiler dan karena itu secara langsung
masuk
ke
dalam
sirkulasi
sistemik.
Pemberian suatu obat dengan rute ini
mempunyai keuntungan obat melakukan
bypass melewati usus dan hati dan obat
tidak diinaktivasi oleh metabolisme.

3. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus.
Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya
lokal dan sistemik.
50% aliran darah dari bagian rektum memintas
sirkulasi portal; jadi, biotransformasi obat oleh hati
dikurangi. Rute sublingual dan rektal mempunyai
keuntungan
tambahan,
yaitu
mencegah
penghancuran obat oleh enzim usus atau pH rendah
di dalam lambung. Rute rektal tersebut juga berguna
jika obat menginduksi muntah ketika diberikan
secara oral atau jika penderita sering muntahmuntah.

B. Parenteral
Penggunaan parenteral digunakan untuk obat yang
absorbsinya buruk melalui saluran cerna, dan untuk
obat seperti insulin yang tidak stabil dalam saluran
cerna. Pemberian parenteral juga digunakan untuk
pengobatan pasien yang tidak sadar dan dalam
keadaan yang memerlukan kerja obat yang cepat,
sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien
yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang
mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan
obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan
dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman,
tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan infeksi).

1. Intravena (IV)
suntikan
intravena
adalah
cara
pemberian
obat
parenteral yang sering dilakukan. Untuk obat yang tidak
diabsorbsi secara oral, sering tidak ada pilihan. Dengan
pemberian IV, obat menghindari saluran cerna dan oleh
karena itu menghindari metabolisme fi rst pass oleh
hati. Rute ini memberikan suatu efek yang cepat dan
kontrol yang baik sekali atas kadar obat dalam sirkulasi.
Namun, berbeda dari obat yang terdapat dalam saluran
cerna, obat-obat yang disuntukkan tidak dapat diambil
kembali
seperti
emesis
atau
pengikatan
dengan
activated charcoal . Suntikan intravena beberapa obat
dapat
memasukkan
bakteri
melalui
kontaminasi,
menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan karena
pemberian terlalu cepat obat konsentrasi tinggi ke
dalam plasma dan jaringan-jaringan. Oleh karena it,
kecepatan infus harus dikontrol dengan hati-hati.
Perhatian yang sama juga harus berlaku untuk obatobat yang disuntikkan secara intra-arteri.

2. Intramuskular (IM)
adalah
obat-obat
yang
diberikan
secara
intramuskular dapat berupa larutan dalam air atau
preparat depo khusus sering berupa suspensi obat
dalam vehikulum non aqua seperti etilenglikol.
Absorbsi obat dalam larutan cepat sedangkan
absorbsi
preparat-preparat
depo
berlangsung
lambat. Setelah vehikulum berdifusi keluar dari otot,
obat tersebut mengendap pada tempat suntikan.
Kemudian
obat
melarut
perlahan-lahan
memberikansuatu dosis sedikit demi sedikit untuk
waktu yang lebih lama dengan efek terapetik yang
panjang.

3. Subkutan
Suntikan
subkutan
mengurangi
resiko
yang
berhubungan
dengan
suntikan
intravaskular.
Contohnya pada sejumlah kecil epinefrin kadangkadang dikombinasikan dengan suatu obat untuk
membatasi area kerjanya. Epinefrin bekerja sebagai
vasokonstriktor lokal dan mengurangi pembuangan
obat seperti lidokain, dari tempat pemberian.
Contoh-contoh
lain
pemberian
obat
subkutan
meliputi bahan-bahan padat seperti kapsul silastik
yang berisikan kontrasepsi levonergestrel yang
diimplantasi unutk jangka yang sangat panjang.

C. LAIN-LAIN

1. Inhalasi
Inhalasi memberikan pengiriman obat yang cepat
melewati permukaan luas dari saluran nafas dan
epitel paru-paru, yang menghasilkan efek hampir
sama
dengan
efek
yang
dihasilkan
oleh
pemberian obat secara intravena. Rute ini efektif
dan menyenangkan penderita-penderita dengan
keluhan pernafasan seperti asma atau penyakit
paru obstruktif kronis karena obat diberikan
langsung ke tempat kerja dan efek samping
sistemis minimal.

2. Intranasal
Desmopressin diberikan secara intranasal
pada pengobatan diabetes insipidus; kalsitonin
insipidus; kalsitonin salmon, suatu hormon
peptida yang digunakan dalam pengobtana
osteoporosis, tersedia dalam bentuk semprot
hidung
obat
narkotik
kokain,
biasanya
digunakan dengan cara mengisap.

3. Intratekal/intraventrikular
Kadang-kadang perlu untuk memberikan
obat-obat secara langsung ke dalam cairan
serebrospinal,
seperti
metotreksat
pada
leukemia limfostik akut.

4. Topikal
Pemberian secara topikal digunakan bila
suatu efek lokal obat diinginkan untuk
pengobatan. Misalnya, klortrimazol diberikan
dalam bentuk krem secara langsung pada
kulit dalam pengobatan dermatofi tosis dan
atropin atropin diteteskan langsung ke dalam
mata
untuk
mendilatasi
pupil
dan
memudahkan pengukuran kelainan refraksi.

5. Transdermal
Rute pemberian ini mencapai efek sistemik
dengan pemakaian obat pada kulit, biasanya
melalui suatu transdermal patch. Kecepatan
absorbsi sangat bervariasi tergantun pada
sifat-sifat fi sik kulit pada tempat pemberian.
Cara
pemberian
obat
ini
paling
sering
digunakan untuk pengiriman obat secara
lambat, seperti obat antiangina, nitrogliserin.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh., 1990, Perjalanan dan Nasib Obat dalam
Badan, Gadjah Mada University Press, D.I
Yogayakarta.
Ansel, H.C., Allen, L.V. & Popovich N.G. (1989).
Pharmaceutical Dosage Forms and Drugs Delivery
System. 7 t h Ed. London: Lippincott Williams & Wilkins.
Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik ,
Salemba Medika, Jakarta.
Siswandono dan Soekardjo, B, 1995, Kimia
Medisinal,Airlangga Press, Surabaya.