You are on page 1of 35

STPK

Periode Keraton

KAJIAN PERIODESASI
K E RAT O N

Berdasarkan literatur yang didapatkan, maka


dalam studi ini digunakan tiga periode :
Periode sebelum Hamengku Buwono IXHamengku Buwono IX
Periode Hamengku Buwono IX- akhir
Hamengku Buwono IX
Periode akhir Hamengku Buwono IXsekarang

KONDISI FISIK
K E R A T O N

1758

Bangunan Keraton

Taman Sari
Segaran Pulo
D i b a n g u n a Dalem
GedongPanembahan
n
Letak bangunan-bangunan ini berada di
sisi timur dan barat Keraton, selanjutnya
didirikan juga tempat tinggal para
pejabat Keraton.

Perkembangan bangunan-bangunan permu

tanah palungguh di sekitar Keraton


Sentono Dalem

tinggal di dalam kawasan Keraton


Abdi Dalem

HASIL

membentuk pola spasial


dengan keraton sebagai
pusat orientasi.

BATAS-BATAS WILAYAH

24,99
34HaKadipate
% n
28,57
40HaPatehan
%
Kawasan dalam benteng, dibatasi

47,14
66HaPanembah
% an

dengan dinding kelilingi kawasan


yang disebut Benteng Baluwarti. Luas
wilayah kawasan kurang lebih
139,9375 Ha, yang mencakup tiga
kelurahan yaitu Kadipaten,
Panembahan, Patehan
-Utara = Kecamatan Gondomanan
-Selatan = Mantrijeron
Batas wilayah:
-Timur = Gondomanan dan Mergangsan
-Barat = Ngampilan

BELAN
DA

M A S U K N YA
PEMERINTAHA
Memberi pengaruh
Nterhadap tata ruang kawasan

1812

Tentara Rafles membuat jalan yang


melewati
Plengkung
Madyasuro
di
Suryomentaraman ke arah barat dengan
alasan sirkulasi
Selanjutnya dibuat jalan-jalan pola grid yang membagi
permukiman abdi dalem di bagian selatan menjadi
kelompok-kelompok
yang
masing-masing
yang
dipisahkan oleh jalan.

angunan dalem mulai hancur dan hilang

Karena

dibuat jalan dari Plengkung


Tarunasura yang melewati komplek
bangunan dalem panembahan

Keturunan
Menikah

Sentono Dalem & Abdi Dalem

Dengan orangorang luar


kawasan
keraton
kemudian mereka tinggal
di dalam
kawasan

Disini terjadi perkembangan penduduk yang cukup pesat yang


mempengaruhi pola struktur masyarakat dan pola spasial

POLA

SPASIAL
RUANG

Periode sebelum Hamengku


Buwono IX-Hamengku Buwono IX

Di ruang yang tidak terbangun

Ruang-ruang bernilai kultura

Terjadi penambahan jumlah permukiman


Pada

PERMUKIMAN
Terbentuk

ruang-ruang publik yang terbuka dan


dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan
komunal
Selanjutnya, permukiman dimanfaatkan
semaksimal mungkin sebagai ruang Privat,
terlihat budaya komersialitas

POLA

SPASIAL
RUANG

Periode Hamengku Buwono IXakhir Hamengku Buwono IX

Spasial Ruang

Konsep
Yang terbentuk, menggunakan

Penghormatan kepada Raja dengan strata so

Dasar Strata Sosial

Skala Komunal
Ruang Publik

Berkonsep Kultural menjadi ruang terbuka

Pertambahan Banguna
Di sekitar

lan penghubung menjadi


GANG
Sirkulasi, serta area kegiatan komunal
Di sekitar

DALEM PANGERAN

Berdiri banyak hunian

&

TATA LETAK
ARAH HADAP

Ditentukan
Keraton,
menyesuaikan
dengan
bangunan yang

1
2
3

Dalem Kadipaten yang dulunya Ruma


Sakit kemudian menjadi Kampus
Pasar Ngasem. Di sekitar kawasan
ini dibangun bangunan untuk
disewakan pada pedagang dan
mahasiswa
Perubahan penggunaan lahan, dari
bangunan perlangkapan Keraton
menjadi permukiman masyarakat

POLA

SPASIAL
RUANG

Periode akhir Hamengku


Buwono IX-sekarang

Ruang Terbuka

merupakan bagian dari ruang permukiman masyarakat


dan menjadi bagian dari ruang hidup mereka
Kegiatan Privat
Ruang
Terlihat pada

Publik

ni menunjukkan, dengan komunitas tersebut, masyarakat menjadi

SATU KELUARGA

Terjadi ikatan darah satu dengan yang l

B u d a y a
Kepercayaan

Periode sebelum HB IX

&

Gunung
pola
KONSEP
KOSMOLOGI UTARA SELATAN
Menghormati ALamLaut

KONSEP KULTURAL

pola

pola
KONSEP
STRATA SOSIAL

Budaya

ANIMISME & DINAMISM

B u d a y a
Kepercayaan

&

eriode HB IX akhir HB IX

Ruang

KULTURAL
NILAI HIERARKI TINGGI

Menjadi pusat orientasi bangunan dan pusat kegiatan pu


Menjadi pusat kegiatan kultural

Budaya

penghormatan sebesarbesarnya kepada raja

FEODALISME

B u d a y a
Kepercayaan

&

eriode akhir HB IX-sekarang

Orientasi

Ke Ruang yang bersifat Komersiak


Karena nilai Ekonomis

Ruang Publik

Dimanfaatkan
Sebagai

bangunan Komersil

Muncul bangunan-bangunan umu

Nilai

Periode sebelum HB IX
H ie ra rk i

Nilai Hierarki
TERTINGGI
Ruang para masyarakat berstrata sosial tinggi

Raja &

Ruan
Pelaksanaan Kegiatan Religius
Paling
Ketinggian lantai lebih tinggi daripada ruang
g
Tersembunyi

KONSEP
Bangunan Berundak
HINDU
Peninggalan

BUDDHA

Nilai

Periode HB IX-akhir HB IX
H ie ra rk i

Nilai Hierarki Tinggi

Tumbuh permukiman
RAJA

Ruang yang berkaitan dengan

Antara Hierarki Tinggi dan Rendah


Ruang Publik

Nilai Hierarki Rendah


Ruang yang dipakai untuk permukiman

Nilai

eriode akhir HB IX-sekarang


H ie ra rk i

Hierarki Tertinggi

Nilai Ekonomis Tinggi

Ruang Publik

Sifat Komunal berganti ke Komersil

1
2

Jalan utama Kawasan, yang


menghubungkan kawasan komersil dan
permukiman dengan ruang luar
Jalan-jalan Gang, yang
menghubungkan jalan utama
kawasan dan jalan lingkungan
dengan permukiman penduduk

Periode sebelum HB
IX

Periode HB IX-akhir
HB IX

Periode akhir HBsekarang

Pola
Spasial
Ruang

Pemukiman di lahan
sekitar ruang kultural
Ruang komunal terbuka
sbg Ruang Publik,
Pemukiman sbg Ruang
Privat

Pemukiman berdasarkan
konsep dasar strata sosial
Ruang-ruang yang
berkonsep kultural menjadi
ruang terbuka yang
bersifat publik

Ruang terbuka publik


merupakan bagian dari
ruang permukiman
masyarakat dan menjadi
bagian dari ruang hidup
mereka

Kepercay
aan

Agama Islam
Konsep kosmologi utara
selatan
Animisme-dinamisme

Agama Islam
Konsep kosmologi utara
selatan
Animisme-dinamisme

Agama Islam
Konsep kosmologi utara
selatan
Animisme-dinamisme

Budaya

Konsep strata sosial

Feodalisme

Komersialisme

Nilai
Hierarki

Ruang-ruang yg
berkaitan dengan
kelompok-kelompok
masyarakat yang berada
di strata sosial tinggi
(Ruang paling privat)
Perbedaan ketinggian
lantai

Ruang-ruang yg berkaitan
dengan keberadaan raja

Ruang public
Jalan-jalan komersial
penghubung

Orientasi
Bangunan

keraton sebagai pusat


orientasi

ruang yang memiliki nilai


hierarki (religius dan
kultural) menjadi orientasi
bangunan

Orientasi ke ruang yg
bersifat komersial.
Jalan penghubung
menjadi pusat orientasi

KONDISI
AGAMA/IDEOLOGI/KEYAKINAN
Pada dasarnya, ketiga periode yang
K Edisebutkan
R A T O Ndiatas

menganut
agama/ideologi/keyakinan
yang
absolut. Sejak awal terbentuknya
Keraton
Yogyakarta
yang
merupakan pecahan dari Kerajaan
Mataram Islam, ideologi Islam tetap
dianut oleh Sultan Hamengku
Buwono I beserta para pengikutnya.

Ideologi Islam yang dianut di


Keraton
Yogyakarta
diimplementasikan
ke
dalam
kegiatan-kegiatan
keagamaan
yang diperingati dengan upacaraupacara tertentu dengan Masjid
Agung sebagai pusat keagamaan
Hari raya idul fitri dan adha
(upacara garebeg )
Garebeg riyaya
Idul fitri
Garebeg besar Idul adha

KONDISI
POLITIK
K E R A T O N
Periode
Sebelum Hamengku Buwono IX-Hamengku Buwono IX
Masa penduduk kolonial Belanda merupakan periode di
mana aktifitas politik lebih dominan daripada aktivitas
ekonomi. Deandels turut ikut campur tangan dalam
kekuasaan
Yogyakarta
dengan
memaksa
Sultan
Hamengkubuwono
II
mengundurkan
diri
dan
memaksanakan
perjanjian-perjanjian
baru
terhadap
Yogyakarta
yang
isisnya
mencakup
penghentian
Periode
pembayaran uang sewa
Belanda kepada Sultan.

Hamengku Buwono IX- akhir Hamengku Buwono IX


Pada periode ini berkembang Feodalisme, dimana
feodalisme merupakan sistem sosial atau politik yang
memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan
bangsawan. Dalam hal ini masyarakat memberikan
penghormatan sebesar-besarnya kepada raja (dalam hal
ini Sultan).

Periode
Akhir Hamengku Buwono IX-sekarang

Sebagai bagian dari Indonesia yang adalah negara berkembang, Yogyakarta


berkembang dengan politik negara berkembang saat ini, yaitu komersialisasi.
Komersialisasi adalah perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan.

KONDISI EKONOMI
K E R A T O N
Periode
Sebelum Hamengku Buwono IX-Hamengku Buwono IX
Pada tahun 1596 1628 di awali dengan kedatangan Belanda
pertama kali di Pulau Jawa disertai perkuatan ekonomi melalui
penguasaan perdagangan pada tahun 1727 1740. Saat itu,
terjadi pengaturan kependudukan penduduk Tionghoa dan beberapa
konflikyang terjadi antara Belanda dengan etnis Tionghoa. Pada tahun
1755-1800 yang di tandai dengan pengakuan Kesultanan
Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti, hingga pembubaran VOC

Periode
Hamengku Buwono IX- akhir Hamengku Buwono IX
Perkembangan kota pada periode sebelumnya mengalami
perkembangan pesat oleh masuknya VOC dan sejumlah
pembangunan oleh Belanda, diantaranya bank, kantor,
niaga, dan pasar. Untuk kawasan keraton sendiri
berkembang pesat pada periode ini dengan adanya pasar
Ngasem sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat

Periode
Akhir Hamengku Buwono IX-sekarang

Perkembangan ekonomi saat ini ditunjang oleh berbagai fasilitas ekonomi yang memadai.
Selain itu, pemerintah juga menyediakan berbagai tunjangan yang meringankan
masyarakat ekonomi lemah dalam memenuhi kebutuhannya akan kesehatan, pendidikan,
misalnya BPJS, Dana Bos, dsb

KONDISI SOSIAL
BUDAYA
K E awal
R A mulanya,
T O N budaya Keraton
Sejak
Yogyakarta
merupakan
akulturasi
budaya
Islam
dan
Hindu,
yang
diimplementasikan kedalam kosmologi
(sumbu imajiner Utara-Selatan), tradisi
dan gaya seni yang hadir dalam
kehidupan masyarakatnya.
Hingga saat ini, budaya hasil akulturasi
Hindu dan Islam masih dianut oleh
masyarakat Keraton, walaupun pada
jaman penjajahan Belanda dibangun
bangunan-bangunan yang berusaha
menggeser poros kosmologi UtaraSelatan.
Kemudian pada peiode kota
modern dengan gaya arsitektur
internasional style, art deco, dan
elektisme keberadaan bangunan
kolonial mengarah ke timur barat
dengan pintu masuk beroientasi
ke alun-alun utara

Batasan
Kawasan
Penelitian

Utara
:
Jl. Kauman
Jl. Alun-alun Utara
Jl. Ibu Ruswo
Timur
:
Jl. Wijilan
Jl. Mangkuat
Selatan :
Jl. Mantringawen Kidul
Jl. Polo Wijayan
Barat
:
Jl. Ngasem

Tata Guna Lahan


Periode 1
Bangunan-bangunan masih
sedikit dan kebanyakan
berkumpul di sekitar Kraton.
Periode 2
Mulai muncul beberapa
bangunan yang menambah nilainilai guna pada sekitar kawasan
Kraton seperti Pasar Ngasem.
Terlihat penggunaan area publik
untuk fungsi komersial pada
pasar Ngasem.
Bangunan hunian bermunculan di
sekitar pasar Ngasem.
Periode 3
Permukiman dimanfaatkan
semaksimal mungkin sebagai
ruang privat sehingga tidak ada
ruang publik di dalam
permukiman.

Permukiman
Komersial
Fasilitas Publik
Sekolah
Ruang Terbuka Hijau

Massa Bangunan

Bangunan-bangunan pada kawasan Kraton dari periode 1 hingga


periode 3 tidak terlalu banyak mengalami perubahan.
Periode 1
Hampir semua bangunan merupakan bangunan 1 lantai baik pada bangunan
Kraton maupun bangunan hunian pada permukiman masyarakat.
Periode 2
Munculnya bangunan berlantai 2.
Periode 3
Bertambahnya bangunan berlantai 2, dan terdapat satu bangunan berlantai

Sirkulasi
Sirkulasi dalam
perannya pada kawasan
Kraton menjadi nilai
penting sebagai jalur
transportasi masyarakat
dan juga Sri Sultan
Hamengkubuwono.
Pola dan bentuk periode 1
adalah pola organik.
Terlihat bahwa pemerintah
daerah pada zaman
tersebut masih kurang
memerhatikan masalah
pola sirkulasi.
Selanjutnya, pada periode
dimana bangsa Belanda
tiba ke tanah Jawa, terjadi
perubahan pada pola dan
bentuk sirkulasi kawasan
Kraton. Penerapan pola

Pedestrian
Periode 1
Jalur-jalur pejalan kaki
masih belum dibangun.
Belum ada pembedaan
antar jalur pejalan kaki
dengan jalur
transportasi.
Periode 2
Mulai muncul jalur
khusus pejalan kaki di
sisi kiri dan kanan jalanjalan utama yakni
trotoar.
Periode 3
Trotoar pada kawasan
Kraton juga digunakan
untuk furniture jalan,
seperti pot-pot bunga

Parkir
Fasilitas parkir pada kawasan Kraton baru berkembang pada periode
3.

Pendukung
Aktivitas
Pendukung aktifitas
merupakan fungsi
bangunan dimana
pada bangunan atau
area tersebut terjadi
aktifitas-aktifitas
komunal yang
melibatkan
masyarakat untuk
berkumpul serta
melakukan interaksi
sosial.
Area-area seperti ini
cukup banyak terdapat
di kawasan Kraton pada
periode-periode
selanjutnya dari
perkembangan kawasan
Kraton. Perpustakaan,

Penandaan
Periode 1
Penandaan-penandaan
pada kawasan Kraton
masih belum ada dan
belum digunakan.
Masyarakat pada masa
itu masih belum
mengetahui fasilitas
penandaan untuk
diterapkan pada
kawasan-kawasan
perkotaan termasuk
kawasan Kraton.
Periode 2-3
Mulai muncul penandaanpenandaan pada
beberapa spot dalam
kawasan Kraton.

Preservasi
Bangunan-bangunan zaman dulu dengan fungsi tertentu yang kemudian digunakan
kembali dengan fungsi yang berbeda pada masa ini merupakan bentuk dari preservasi.
Beberapa bangunan pada periode 1 menjadi bangunan dengan fungsi lain pada periode
3 seperti beberapa bangunan di jalan Ngasem.

Asumsi Keadaan Kawasan Studi


Periode sebelum Hamengkubuwono IX Awal
Hamengkubuwono IX.
Sumber:Dok. Pribadi

Asumsi Keadaan Kawasan Studi


Periode Hamengkubuwono IX.
Sumber:Dok. Pribadi

Asumsi Keadaan Kawasan Studi


Periode Akhir Hamengkubuwono
IX sampai sekarang.
Sumber:Dok. Pribadi

KESIMPULAN
Keraton Yogyakarta memiliki berbagai macam benda hasil
kebudayaan yang dapat kita lihat dengan cara mengelilingi dan
melihat-lihat
Keraton
Yogyakarta
beserta
bangunan-bangunan
peninggalan zaman dahulu, yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh.
Kawasan Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya yang
tidak ternilai harganya, baik yang berbentuk upacara maupun bendabenda kuno dan bersejarah.
Pada Keraton terdapat banyak kehidupan sosial masyarakat,
banyak masyarakat yang hidupnya bergantung pada Keraton,
contohnya pemandu wisata, penjual jasa, pedagang sekitar Keraton,
penarik becak, dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan keraton
menghidupi masyarakat dan kelangsungan hidup mereka tergantung
pula pada kelangsungan keraton.
Kawasan Keraton Yogyakarta memiliki nilai budaya yang sangat
tinggi, dimana Keraton mengatur semua hal yang menjadi pedoman
masyarakat Jawa dalam bertindak atau bermasyarakat. Keraton
Yogyakarta memberikan contoh bagaimana hubungan manusia dengan
Tuhan (adanya masjid gede disekitar alun-alun utara), hubungan
masyarakat dengan masyarakat lain dan hubungan antara masyarakat

KESIMPULAN
KONDISI POLA SPASIAL RUANG
Periode sebelum Hamengku Buwono IX-Hamengku
Buwono IX
Penambahan jumlah permukiman di ruang yang tidak terbangun sekitar
ruang-ruang bernilai kultural.

Periode Hamengku Buwono IX- akhir Hamengku


Buwono IX
Pada Periode ini Spasial Ruang yang terbentuk cenderung
menggunakan konsep dasar strata sosial yang ada dalam masyarakat.
Penghormatan terhadap raja sebagai kelompok masyarakat yang
berstrata sosial tinggi, terlihat dalam pola spasial ruang permukiman
masyarakat.

Periode akhir Hamengku Buwono IX-sekarang


Pola spasial pada periode ini, memperlihatkan bahwa ruang terbuka
publik merupakan bagian dari ruang permukiman masyarakat dan
menjadi bagian dari ruang hidup mereka.

KESIMPULAN
KONDISI
AGAMA/IDEOLOGI/KEYAKINAN
Pada dasarnya, ketiga periode yang
disebutkan
diatas
menganut
agama/ideologi/keyakinan yang absolut.
Sejak
awal
terbentuknya
Keraton
Yogyakarta yang merupakan pecahan
dari Kerajaan Mataram Islam, ideologi
Islam tetap dianut oleh Sultan Hamengku
Buwono I beserta para pengikutnya.

KESIMPULAN
ORIENTASI BANGUNAN
Periode sebelum Hamengku Buwono IX-Hamengku
Buwono IX
Keraton sebagai pusat orientasi
Periode Hamengku Buwono IX- akhir Hamengku
Buwono IX
Ruang yang memiliki nilai hierarki (religius dan kultural)
menjadi orientasi bangunan
Periode akhir Hamengku Buwono IX-sekarang
-Orientasi ke ruang yg bersifat komersial.
-Jalan penghubung menjadi pusat orientasi bagunan.