You are on page 1of 28

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN


TETANUS
BY :
Ns. HANNY
1. Pengertian Tetanus
Tetanus Adalah suatu penyakit akut
yang disebabkan oleh Clostridium
tetani yg mengahsilkan exotoksin
Penyakit tetanus Neonatorum

disebabkan oleh spora C. tetani yg


masuk melalui luka tali pusat, karena
perawatan atau tindakan yg tidak
memenuhi syarat kebersihan.
2. Etiologi Tetanus
Clostridium tetani ini hidup anerob,berbentuk spora
selama di luar tubuh manusia, tersebar luas di tanah
dan mengeluarkan toksin bila dlm kondisi baik.
Toksin ini dpt menghancurkan sel darah merah,

merusak leukosit dan merupakan tetanospasmin


yaitu toksin yg neurotropik yg dpat menyebabkan
ketegangan dan spasme otot
Kuman ini banyak terdapat dalam kotoran hewan

memamah biak seperti sapi, kuda, dan lain-lain


sehingga luka yang tercemar dengan kotoran
hewan sangat berbahaya bila kemasukan kuman
tetanus.
Lanjutan
Tusukan paku yang berkarat sering juga
membawa clostridium tetani kedalam luka
lalu berkembang biak.
Bayi yang baru lahir ketika tali pusatnya

dipotong bila alat pemotong yang kurang


bersih dapat juga kemasukan kuman
tetanus.
3. Manifestasi Klinis
Trismus (kesukaran membuka mulut) karena
spasme otot-otot mastikatoris
Kaku kuduk sampai opistotonus (karena

ketegangan otot erektor trunki)


Ketegangan pd otot dinding perut

Kejang tonik terutama bila dirangsang karena

toksin yg terdapat pada cornu anterior


Risus sardonikus karena spasme ototmuka

(alias tertarik ke atas) sudut mulut tertarik ke


luar dan ke bawah,bibir tertekan kuat pada
gigi.
Kesukaran menelan, gelisah, iritabel,mudah
dan sensitif pd rangsangan eksternal, nyeri
kepala, nyeri anggota badan sering
merupakan gejala dini.
Laringospasme dan tetani predisposisi utk

respiratory arrest, atelektasis dan


pneumonia. Demam biasanya tidak ada
atau ada tapi ringan. Bila ada demam
kemungkinan prognosis buruk
Tenderness pada ototleher dan rahang
Spasme yg khas yaitu badan kaku dgn
opistotonus, ekstremitas inferior dlm keadaan
ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat.
Anak tetap sadar. Spasme mulaintermiten
diselingi periode relaksasi. Kemudian serangan
lebih sering disertai rasa nyeri
Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada
otot pernapasan dan laring.Retensi urine dpat
terjadi karena spasme otot uretral.Dpat juga
terjadi fraktur kolumna vertebralis karena
kontraksi otot yg sangat kuat(pada waktu sedang
kejang)
Panas biasanya tinggi. Jika timbul demam
tinggi yg biasanya terjadi pd stadium akhir
merupakan prognosis yg buruk
Biasanya terdapat leukositosis ringan dan

kadang peninggian tekanan cairan otak.


4. Patofisiologi
Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka
pada tubuh seperti: luka tertusuk paku,
pecahan kaca, atau kaleng, luka tembak,luka
bakar,luka yg kotor dan pd bayi dpat melalui
tali pusat
Organisme multipel membentuk dua toksin
yaitu tetanospasmin yg merupakan toksin kuat
dan atau neurotropik yg dpt menyebabkan
ketegangan dan spasme otot, dan
mempengaruhi sistem saraf pusat. Kemudian
tetanolysin yg tampaknya tidak significance
Exsotoksin yg dihasilkan akan mencapai pd
sistem saraf pusat dgn melewati akson neuron
atau sistem vaskular. Kuman ini menjadi terikat
pada sel saraf atau jaringan saraf dan tidak
dapat dinetralkan oleh antitoksin spesifik.
Namun toksin yg bebas dlm peredaran darah
sangat mudah dinetralkan oleh arititoksin
Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin,
adalah pertama toksin diabsorbsi pd ujung
saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawa
kornu anterior susunan saraf pusat.
Toksin bereaksi pd myoneural junction yg
menghasilkan otot menjadi kejang dan
mudah sekali terangsang.
Masa inkubasi 2 hari-2 bulan dan rata10

hari. Kasus yg sering terjadi adlh 14 hari.


Sedangkan utk neonatus biasanya 5 sampai
14 hari.
Gambaran Umum yang Khas pada
Tetanus
1). Badan kaku dengan epistotonus
2). Tungkai dalam ekstensi
3). Lengan kaku dan tangan mengepal
4). Biasanya kesadaran tetap baik
5). Serangan timbul proksimal dan dapat dicetuskan
oleh karena :
a.Rangsang suara, rangsang cahaya, rangsang
sentuhan, spontan.
b.Karena kontriksi sangat kuat dapat terjadi asfiksia,
sianosis, retensi urine, fraktur vertebralis (pada anak-
anak), demam ringan dengan stadium akhir. Pada saat
kejang suhu dapat naik 2-4 derajat celsius dari normal,
diaphoresis, takikardia dan sulit menelan
5. Komplikasi
Spasme otot Faring yg menyebabkan
terkumpulnya air liur di dalam rongga mulut
dan keadaan ini memungkinkan terjaadinya
aspirasi serta dpt menyebabkan pneumonia
aspirasi
Asfiksia
Ateletaksis karena obstruksi secret
Fraktur kompresi
6. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan fisik: adanya luka dan
ketegangan otot yang khas terutama pada
rahang.

2. Pemeriksaan darah (kalsium dan fosfat).


6. Penatalaksanaan
a. Medik
Pengobatan yg diberikan:
1. Pengobatan spesifik dgn ATS 20.000 U/hari selama 2
hari berturut-turut secara IM dgn didahului oleh uji
Kulit dan mata.
Bila hasilnya positif,pemberian dilakukan secara
Besredka (Pemberian ATS skrng dpat dimasukkan di
dlm cairan infus dgn dosis.40.000 U sekaligus)
2. Antikolvulsan dan penenang. Bila kejang hebat dpat
diberikan fenobarbital dgn dosis awl: utk anak umur
kurang dri 1 tahun 50 mg dan utk anak umur 1 tahun
atau lebih diberikan 75 mg, dilanjutkan dgn dosis
5mg/kg BB/hari dibagi menjadi 6 dosis.
-. Diazepam dgn dosis 4 mg/kg BB/hari,dibagi
6 dosis (bila perlu IV)
-. Largatil dgn dosis 4 mg/kg BB/hari dibagi 6
dosis. Bila kejang sukar diatasi diberikan
khoralhidrat 5 % dgn dosis 50 mg/kgBB/hari
dibagi dlm 3-4 dosis secara per rektal.
Penisilin prokain 50.000 U/kg BB/hari

intamuskular diberikan sampai 3 hari


demam turun
Diet harus cukup kalori dan protein
Isolasi utk meghindari rangsangan (suara atau
kesibukan)
Bila perlu diberikan oksigen dan kadng diperlukan

tindakan trakeostomi utk menghindari obstruksi jln


napas
Pasien dirwat diruang khusus jika:

-. Kejang yg sukar diatasi dgn obat-obatan


antikonvulsan biasa
-. Spasme laring
-. Komplikasi yg memerlukan perwatan khusus sprti
sumbatan jln napas, kegagalan pernapasan,
hipertensi dsb.
b. Keperawatan
Masalah pasien tetanus yg perlu
diperhatikan adl bahaya terjadi gangguan
pernapasan, kebutuhan nutrisi tidak
adekuat, gangguan rasa aman dan nyaman,
resiko terjadi komplikasi/bahaya, kurangnya
pengetahuan ortu mengenai penyakit.
7. Pengkajian
Keperawatan.
Riwayat kehamilan prenatal. Ditanyakan apakah
ibu sudah diimunisasi TT.
Riwayat natal ditanyakan. Siapa penolong

persalinan karena data ini akan membantu


membedakan persalinan yang bersih/higienis atau
tidak. Alat pemotong tali pusat, tempat persalinan.
Riwayat postnatal. Ditanyakan cara perawatan tali

pusat, mulai kapan bayi tidak dapat menetek


(incubation period). Berapa lama selang waktu
antara gejala tidak dapat menetek dengan gejala
kejang yang pertama (period of onset).
Riwayat imunisasi tetanus pada anak.
Ditanyakan apakah sudah pernah imunisasi
DPT/DT atau TT dan kapan terakhir
Pemeriksaan fisik.
Pada awal bayi baru lahir biasanya belum

ditemukan gejala dari tetanus, bayi normal


dan bisa menetek dalam 3 hari pertama.
Hari berikutnya bayi sukar menetek, mulut
mecucu seperti mulut ikan. Risus
sardonikus dan kekakuan otot ekstrimitas.
Tanda-tanda infeksi tali pusat kotor.
Hipoksia dan sianosis
Pada wajah : Risus Sardonikus ekspresi
muka yang khas akibat kekakuan otot-
otot mimik, dahi mengkerut, alis
terangkat, mata agak menyipit, sudut
mulut keluar dan ke bawah
Opisthotonus tubuh yang kaku akibat
kekakuan otot leher, otot punggung, otot
pinggang, semua trunk muscle.
Pada perut : otot dinding perut seperti
papan. Kejang umum, mula-mula terjadi
setelah dirangsang lambat laun anak
jatuh dalam status konvulsius.
8. Diagnosa Kep.
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d.
meningkatnya sekresi atau produksi mucus
b. Risiko Injury b.d aktivitas kejang
c. Risiko kurangnya volume cairan b.d intake
cairan yg kurang
d. Nyeri b.d toksin dlm sel saraf dan aktivitas
kejang
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d kesukaran menelan dan membuka
mulut dan adanya aktivitas kejang
Lanjutan..
f. Kurang Perawatan diri b.d tirah baring dan
aktivitas kejang
g. Kurangnya pengetahuan b.d
penatalaksanaan gangguan kejang
9. Intervensi Kep.
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d.
meningkatnya sekresi atau produksi mucus
Intervensi :
1. Kaji status pernapasan

2. Lakukan penghisapan lendir dgn hati dan


pasti
3. Pertahankan kepatenan jalan napas dan
bersihkan mulut
4. Miringkan ke samping utk drainage

5. Pemberian oksigen sesuai program


Lanjutan
b. Risiko Injury b.d aktivitas kejang
Intervensi :
1. Pasang pengaman tempat tidur
2. Tempatkan anak pd tempat tidur atau pengalas yg
lembut
3. Hindari hal yg dpt meningkatkan rangsangan
kejang,suara,sinar yg terang,sentuhan
4. Anak harus diistirahatkan dan tempatkan pada ruangan
khusus
5. Tempatkan anak pd posisi miring ke samping saat
kejang utk mencegah lidah jatuh ke belakang yg dpat
menyebabkan obstruksi jalan nafas
6. Berikan antikejang dan antibiotik sesuai program
Lanjutan.
c. Risiko kurangnya volume cairan b.d intake
cairan yg kurang
Intervensi:
1. Kaji intake dan output
2. Kaji tndadehidrasi:ubun,membran
mukosa,turgor kulit
3. Berikan dan pertahankan intake cairan
oral atau perparenteral sesuai indikasi.
Lanjutan..
Nyeri b.d toksin dlm sel saraf dan aktivitas
kejang
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri
2. Hindari hal-hal yg dpat menimbulkan
rangsangan
3. Berikan suasana lingkungan yg tenang
4. Kolaborasi pemberian analgetik