You are on page 1of 26

STATUS PASIEN

Nama : Tn. K
Umur : 41 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Petani
Alamat : Bunut
Agama : Islam
Tanggal MRS : 27 Maret 2017
ANAMNESIS
Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD)
RSUD Kayuagung dengan keluhan sesak nafas sejak
1 hari SMRS. Menurut pasien dia sulit mengeluarkan
nafas tetapi tidak ada masalah saat menarik nafas.
Pasien mengaku ada batuk berdahak dan dahaknya
putih sejak 3 hari yang lalu, dahak encer, tidak
berbau dan sulit dikeluarkan. Keluhan demam
disangkal, pilek disangkal. . Sebelumnya pasien sudah
berobat ke Bidan, diberi obat Salbutamol dan
Ambroxol namun sesak tidak berkurang.
Menurut pasien, batuk dan sesak sering terjadi
pada malam hari dan terutama saat udara dingin.
Pasien menyangkal adanya sakit kepala, berat badan
berkurang. Nafsu makan pasien biasa, BAB dan BAK
normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit diabetes melitus : disangkal
Penyakit Hipertensi : disangkal
Penyakit alergi : alergi dingin (+)
Penyakit asma : Sejak Kecil (+) tapi jarang Kambuh.

Riwayat Penyakit Keluarga.


Pasien menyangkal adanya riwayat DM, hipertensi, asma, dan
penyakit jantung.

Riwayat Pengobatan
OS menyatakan pernah berobat ke bidan sebelumnya dan diberi obat
Salbutamol dan ambroxol.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasiena dalah seorang laki laki dengan pekerjaan berkebun dengan
status gizi cukup, merokok dan tidaka dariwayat menggunakan obat-
obatan terlarang. Pasien mempunyai status ekonomi menengah dan
telah menikah.
PEMERIKSAAN FISIK

Status Thorax
Generalis Cor: BJ I/II normal, Murmur (-),
Gallop (-)
Kesadaran : Compos mentis Pulmo :
Tekanan darah : 150/90 mmHg Inspeksi : Simetris
Nadi : 92 x/menit Palpasi : Vocal Fremitus sama
Pernafasan : 35 x/menit pada kedua paru
Suhu : 36,5C Perkusi : Sonor pada seluruh
lapangan paru
Tinggi badan : 170 cm
Auskultasi : Suara nafas
Beratbadan : 68 kg
vesikuler, Rh -/-, Wh +/+

Kulit, Kepala, Mata, Leher, Abdomen


KGB dalam batas normal Dalam batas normal

Ekstremitas
Akral hangat
PEMERIKSAAN
TAMBAHAN
LABORATORIUM :
Hb : 12,2 g/dl
Ht: 38%
Trombosit: 167.000 /dl
Leukosit : 13.200 /ul

BSS : 142mg/dl
Ureum : 2,3 mg%
Kreatinin : 0,7 mg%
DIAGNOSIS KERJA
STATUS ASMATIKUS

DIAGNOSIS BANDING
Bronkhitis Kronik
PPOK
CHF
PENATALAKSANAAN
O2 4-6 liter/m (sungkup)
Nebulizer ventolin 1 flash + NaCl 0.9% 3cc (1) wheezing (+)
Nebulizer ventolin 1 flash + NaCl 0.9% 3cc (2) wheezing (+)
Nebulizer ventolin 1 flash + NaCl 0.9% 3cc (3) wheezing (+)
Drip Aminofilin 11/2 Ampul dalam 500cc D5% gtt XV/menit
Injeksi Dexamethasone 3x1 amp
Injeksi Ranitidin 2x1 amp
Salbutamol tab 3x2mg (p.o)
Ambroxol tab 3x30mg (p.o)
Paracetamol tab 3x500mg (p.o)
FOLLOW UP
Tanggal 28 Maret 2017 Abdomen :
S : Sesak Nafas, demam (+), batuk Datar Lemas, BU (+) normal.
(+) Extremitas : Akral Hangat
O:
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
A : Asma Attack Derajat
TD : 140/90 mmHg
Sedang
Nadi : 84 x/menit P:
RR : 30 x/menit O2 2-3 liter/m (nasal)
Suhu :38 C Nebulizer ventolin 1 flash +
NaCl 0.9% 3cc / 8 jam
Kepala : KA (-), SI (-), pupil Drip Aminofilin 11/2 Ampul
isokor dalam 500cc D5% gtt
Thorax : XV/menit
Cor : BJ I-II Normal , Injeksi Dexamethasone 3x1
Murmur (-), Gallop (-) amp
Paru : suara nafas versikuler, Salbutamol tab 3x2mg (p.o)
ronkhi (-), Wheezing (+)
Ambroxol tab 3x30mg (p.o)
FOLLOW UP
Tanggal 29 Maret 2017 Abdomen :
S : Sesak Nafas, demam (+), batuk Datar Lemas, BU (+) normal.
(+) Extremitas : Akral Hangat
O:
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
A : Asma Attack Derajat
TD : 140/80 mmHg
Sedang
Nadi : 86 x/menit P:
RR : 26 x/menit O2 2-3 liter/m (nasal)
Suhu : 37 C Nebulizer ventolin 1 flash +
NaCl 0.9% 3cc / 8 jam
Kepala : KA (-), SI (-), pupil Drip Aminofilin 11/2 Ampul
isokor dalam 500cc D5% gtt
Thorax : XV/menit
Cor : BJ I-II Normal , Injeksi Dexamethasone 3x1
Murmur (-), Gallop (-) amp
Paru : suara nafas versikuler, Salbutamol tab 3x2mg (p.o)
ronkhi (-), Wheezing (+)
Ambroxol tab 3x30mg (p.o)
FOLLOW UP
Tanggal 30 Maret 2017
S : Sesak Nafas, demam (+), batuk Abdomen :
(+) Datar Lemas, BU (+) normal.
O: Extremitas : Akral Hangat
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
TD : 130/90 mmHg A : Asma Attack Derajat
Nadi : 80 x/menit Sedang
RR : 22 x/menit P:
Suhu : 36,5 C Drip Aminofilin 11/2 Ampul
dalam 500cc D5% gtt
Kepala : KA (-), SI (-), pupil XV/menit
isokor Salbutamol tab 3x2mg
Thorax : (p.o)
Cor : BJ I-II Normal ,
Ambroxol tab 3x30mg (p.o)
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : suara nafas versikuler,
ronkhi (-), Wheezing (-)
FOLLOW UP
Tanggal 31 Maret 2017
S : Sesak Nafas, demam (+), batuk
(+) Abdomen :
O: Datar Lemas, BU (+) normal.
KU : Tampak sakit sedang
Extremitas : Akral Hangat
Kesadaran : Compos mentis
TD : 130/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit A : Asma Attack Derajat
RR : 20 x/menit Sedang
Suhu : 36,2 C P:
Rawat Jalan.
Kepala : KA (-), SI (-), pupil Salbutamol tab 3x2mg
isokor (p.o)
Thorax :
Ambroxol tab 3x30mg (p.o)
Cor : BJ I-II Normal ,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : suara nafas versikuler,
ronkhi (-), Wheezing (-)
PEMBAHASAN
Asma bronkiale
Asma Bronkiale ..
Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya
terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek
(Price, 1995).
Nelson mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda
dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan
karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodik dan
atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari),
musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas
fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun
dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau
atopi lain pada pasien/keluarga (Nelson 1996).
FAKTOR RESIKO ASMA
BRONKIALE
PATOFISIOLOGI ASMA
BRONKIALE
Penyumbatan paling berat adalah selama ekspirasi karena jalan nafas
intratoraks menjadi lebih kecil selama ekspirasi. Penyumbatan jalan
nafas difus, Atelektasis segmental atau subsegmental dapat terjadi,
memperburuk ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. Hiperventilasi
menyebabkan penurunan kelenturan, kerja pernafasan bertambah.
Kenaikan tekanan transpulmuner yang diperlukan untuk ekspirasi
melalui jalan nafas yang tersumbat dapat menyebabkan penyempitan
lebih lanjut, atau penutupan dini jalan nafas total selama ekspirasi dan
menaikkan risiko pneumotoraks .
ETIOLOGI ASMA
Asma
BRONKIALE
merupakan gangguan kompleks yang melibatkan faktor
autonom, imunologis, infeksi, endokrin dan psikologis dalam
berbagai tingkat pada berbagai individu. Ujung sensoris vagus pada
epitel jalan nafas, disebut reseptor batuk atau iritan, tergantung
pada lokasinya, mencetuskan refleks arkus cabang aferens, yang
pada ujung eferens merangsang kontraksi otot polos bronkus
KLASIFIKASI ASMA
BERDASARKAN GEJALA
DIAGNOSIS
Anamnesis..
emeriksaan Fisik..
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan
fisik dapat normal. Kelainan pemeriksaan fisik yang paling sering
ditemukan adalah mengi pada auskultasi.
Pada keadaan serangan, kontraksi otot polos saluran napas,
edema dan hipersekresi dapat menyumbat saluran napas; maka
sebagai kompensasi penderita bernapas pada volume paru yang
lebih besar untuk mengatasi menutupnya saluran napas.
Hal itu meningkatkan kerja pernapasan dan menimbulkan tanda
klinis berupa sesak napas, mengi dan hiperinflasi. Pada serangan
ringan, mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi paksa.
Walaupun mengi dapat tidak terdengar (silent chest) pada
serangan yang sangat berat, tetapi biasanya disertai gejala lain
misalnya sianosis, gelisah, sukar bicara, takikardi, hiperinflasi dan
penggunaan otot bantu napas.
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
DIAGNOSIS BANDING
PENATALAKSANAAN
ASMA
Prognosis akan tergantung pula
dari umur, pengobatan, lama observasi dan
definisi. Prognosis selanjutnya ditentukan banyak
faktor. Dari kepustakaan didapatkan bahwa asma
pada anak menetap sampai dewasa sekitar 26%
- 78%
Asma yang mulai timbul pada usia lanjut
biasanya berat dan sukar ditanggulangi.
Komplikasi pada asma terutama infeksi dan
dapat pula mengakibatkan kematian
TERIMA KASIH
PERTANYAAN :
1.
2.
3.