You are on page 1of 19

GERD: Patofisiologi dan Penatalaksanaannya

Citra Indah Puspita


Indriyanti Natasya Ayu Utami Kotten

RS Pusdikkes
2016
Data Pasien
Nama : Nn. KN
No Rekam Medis : 110630
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 24 tahun
Alamat : Batu Ampar, Jakarta
Caretaker : Orang tua
Kebangsaan : Indonesia
Alloanamnesis :-
Tanggal masuk : Selasa, 12 April 2016
Tanggal pemeriksaan : Selasa, 12 April 2016
Ruangan : UGD RS Pusdikkes
Jaminan : Umum
Ilustrasi Kasus
Pasien datang dengan keluhan mual yang dirasakan
hilang timbul sejak kurang lebih satu minggu sebelum
datang ke UGD RS Pusdikkes. Keluhan dirasakan
hampir setiap hari, terasa lebih berat apabila pasien
terlambat makan. Pasien juga sering mengeluh perut
terasa panas, kadang terasa hingga ke tenggorokan.
Keluhan ini terutama dirasakan setelah makan.
Awalnya pasien hanya merasa perut sering terasa
begah tetapi sekarang juga disertai keluhan mual.
Selain itu pasien juga mengeluh perut terasa nyeri.
Keluhan nyeri dada disangkal pasien. Keluhan
muntah berdarah ataupun buang air besar disertai
darah juga disangkal.
Data Pendukung
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah memiliki keluhan seperti ini sekitar satu bulan yang
lalu. Keluhan belum pernah diobati sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat keluhan serupa pada keluarga. Riwayat alergi,
tumor, diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, dislipidemia,
penyakit paru, penyakit jantung, penyakit kulit, sakit kuning, sakit
ginjal disangkal. Riwayat HIV tidak diketahui.

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, dan Lingkungan Keluarga


Di rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal pasien tidak ada
keluhan yang serupa dengan pasien. Pasien sering mengonsumsi
kopi dan teh. Pasien tidak merokok.
Pemeriksaan Fisik (1)
Kesadaran kompos mentis

Appearance Tampak sakit ringan, pucat, tidak ada sianosis

HR 80x/ menit regular, isi cukup

RR 20x/ menit, regular, tidak ada retraksi otot bantu napas

Suhu 37C

Kepala Normosefal, tidak ada deformitas, rambut normal

Mata Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, edema palpebra -/-

Hidung Tidak terdapat sekret dan septum deviasi, pernafasan cuping


hidung
Mulut mukosa basah, oral trush (-) faring tidak hiperemis, T1-T1

Telinga Sekret (-), cairan (-)


Pemeriksaan Fisik (2)
Leher Tidak teraba pembesaran KGB

Paru-Paru tidak ada venektasi, pergerakan dada simetris statis dan


dinamis, retraksi suprasternal dan interkostal (-), sonor +/+,
vesikular +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Abdomen datar, lemas, nyeri tekan regio epigastrium dan


regio lumbal kanan dan kiri (+), bising usus (+)
Hati dan limpa tidak teraba, nyeri tekan (-)
Genital Dalam batas normal

Anus Tidak ada kelainan

Extremitas Akral hangat, CRT <2 detik, pitting edema -/-

Kulit Kuning langsat, turgor normal

Rangsang Meningeal Kaku kuduk, Brudzinski I and II, Kernig, Laseque negatif
Saraf kranial normal
Tindak Lanjut
Daftar Masalah
Susp. GERD

Rencana Tatalaksana
Infus RL 1 kolf + drip Buscopan 1 ampul + Ranitidin 1 ampul +
Ondancetron 1 ampul + Neurobion IM
Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan Widal
Endoskopi saluran cerna bagian atas

Medikamentosa
Sukralfat suspensi 4 x 2 C
Omeprazole caps 1 x 20 mg
Domperidone tab 2 x 4 mg
Vit. B Comp 1 x 1
Definisi
Penyakit saluran
pencernaan berupa
refluks asam lambung
dan kandungan
lambung lainnya yang
disebabkan karena
inkompetensi barier
pada gastroesofageal
junction.
Gejala Klinis
Rasa tidak nyaman Gejala ekstraesofageal
(heartburn) atipik :
Disfagia
Mual /regurgitasi Non-cardiac chest
Rasa pahit di lidah pain (NCCP)
Rasa tidak enak di Suara serak
retosternal Laryngitis
Odinofagia Batuk karena aspirasi
Bronkiestasis/asma.
Patofisiologi GERD

Esofagus dan
Refluks
gaster

Kontraksi Lower
Zona tekanan
Esophageal
tinggi
Sfincter (LES)
Obat
Obat anti
pelemas
kolinergik
otot

Tonus LES

Gradien tekanan
antara esofagus-
gaster hilang
Pengosonga
Asites Obesitas n lambung
lambat

Tekanan
gaster REFLUKS

Hipersekresi
Obstruksi asam
pilorus lambung
Hiatal hernia terlihat dengan esofagografi barrium
Pemeriksaan Penunjang
Endoskopi saluran cerna bagian atas (baku
diagnosis)
o Mucosal break di esofagus (esofagitis refluks)

Histopatologi (biopsi)
Esofagografi (barrium)
Pemantauan pH 24 jam
Tes Bernstein
Pemeriksaan darah samar
Penatalaksanaan
Modifikasi gaya hidup :
o Mengurangi berat badan
o Berhenti merokok
o Tidak makan tiga jam sebelum tidur, dan elevasi
kepala saat tidur
o Mengurangi konsumsi alkohol
o Menghindari konsumsi obat-obatan yang dapat
mengurangi tonus LES (lower esophageal
sphincter) seperti calcium channel blockers, beta-
blockers, nitrat, dan obat-obatan antikolinergik.
Penatalaksanaan
Dua alur pendekatan terapi medikamentosa step
up dan step down.
Step up: antagonis reseptor H2 atau golongan
prokinetik, penghambat pompa proton/PPI
Step down: PPI, dilanjutkan dengan dosis rendah
atau antagonis reseptor H2, prokinetik atau antasid.
Menurut Konsensus Asia Pasifik tentang
Penatalaksanaan GERD (2003) terapi lini pertama
adalah golongan PPI dan digunakan pendekatan
terapi step down.
Medikamentosa
Antasid
Antagonis reseptor H2
Obat-obatan prokinetik
Metoklopramid
Domperidon
Cisapride
Sukralfat
PPI
Komplikasi
Esofagitis: Hampir 50% dari penderita GERD
mengalami esofagitis.
Striktur: Bentuk lanjut dari esofagitis, disebabkan oleh
fibrosis sirkumferensial akibat injury kronik yang
dalam. Striktur bisa mengakibatkan disfagia. Indikasi
untuk terapi bedah.
Barretts esophagus: Komplikasi paling serius dari
GERD. Terjadi pada 8-15% pasien. Akibat refluks
kronik dari sekret gaster ke esophagus. Esofagus
akan mengalami metaplasia, sehingga resiko
keganasan/terjadi esophagus adenocarcinoma
akan meningkat. Diperlukan pemeriksaan
histopatologi untuk mengkonfirmasi hal ini.
TERIMA KASIH