You are on page 1of 50

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DGN GANGGUAN PENGGUNAAN


NAPZA (NAPZA)

ERTI IKHTIARINI DEWI


Tujuan:
dapat mengetahui pengertian klien
penyalahgunaan dan ketergantungan
NAPZA.
dapat mengetahui proses terjadinya
masalah klien NAPZA.
dapat melakukan asuhan
keperawatan klien NAPZA.
Rentang Respon Gangguan
Penggunaan Zat Addiktif

Adaptif maladaptif

eksperim rekreasi situasion penyalah ketergan


ental onal al gunaan tungan
Gangguan penggunaan NAPZA
Gangguan penggunaan zat adiktif adalah
suatu penyimpangan perilaku yang
disebabkan oleh penggunaan zat adiktif
yang bekerja pada susunan saraf pusat
yang mempengaruhi tingkah laku, memori,
alam perasaan, proses pikir anak dan
remaja sehingga mengganggu fungsi
sosial dan pendidikannya.
Penyalahgunaan zat
pola penggunaan yang bersifat patologis,
yang menyebabkan remaja mengalami
sakit yang cukup berat dan berbagai
macam kesulitan, tetapi tidak mampu
menghentikannya
Ketergantungan zat
kondisi cukup berat ditandai dengan
adanya ketergantungan fisik yaitu toleransi
dan sindroma putus zat, dan
ketergantungan psikologis.
Pengenalan zat adiktif
Apakah zat addiktif itu???????

Zat addiktif ?
Zat psikoaktif ?
Narkotika ?
Zat/obat yg b`asal dari tanaman atau bukan
tanaman (sintesis/bukan sintesis) yg dpt
NARKOTIKA menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, menghilangkan
nyeri dan dpt menimbulkan ketergantungan

Zat/obat (alamiah maupun sintesis) bukan PSIKOTROPIKA


Narkotika yg b`khasiat psikoaktif melalui
Selektif pd susunan syaraf pusat yg
menyebabkan perubahan khas pd aktifitas mental & perilaku

ZAT ADIKTIF Bahan lain yg bukan narkotika atau


LAINNYA psikotropika yg penggunanya dpt
menimbulkan ketergantungan
8
Jenis & Golongan NAPZA

a. Narkotika (UU RI No.22/1997)


Gol I : heroin, kokain, putaw, ganja
Gol II : morfin, petidin
Gol III: kodein

b. Psikotropika (UU RI No.5/1997)


Gol I : ekstasi, shabu, LSD
Gol II : amfetamin, metil fenidat
Gol III : fenobarbital, flunitrazepam
Gol IV : benzodiazepin, pil koplo, nipam, DUM
c. Zat Aditif Lainnya
- Alkohol: bir, vodka, johny walker
- Inhalansia : lem aica aibon
- Solven : tinner, pembersih cat kuku
- Nikotin
- Kafein
Zat psikoaktif yg bersifat addiksi:
Opioda: morfin,heroin(putaw),candu,codein,petidin
Kanabis: ganja (mariyuana),minyak hassish
Kokain: sebuk kokain,daun koka
Alkohol
Sedatif hipnotik:
BK,rophinol,magadon,nipam,madrax
MDA (Methilene Dioxy Amphetamine):amphetamine
MDMA (Methilene Dioxy meth Amphetamine) : extacy
Halusinogen: LSD,mushrom,kecubung
Solven&inhalasia: saceton,thiner
Nikotin: tembakau
Kafein: kopi dan the
Gol lainnya
Apa yg terjadi bila seseorang
menggunakan zat addiktif???
INTOKSIKASI

TOLERANSI

WITH DRAWL
WITH DRAWL SYNDROM
air mata berlebihan
banyaknya lendir dari hidung
pupil mata membesar
diare
bulu kuduk berdiri
sukar tidur
menguap
jantung berdebar-debar
ngilu pada sendi
PSIKOTROPIKA
BUKAN NARKOTIKA TAPI PUNYA EFEK/BAHAYA
SAMA DENGAN NARKOTIKA

DEPRESANT STIMULANT HALUSINOGEN


MENGURANGI MENGAKTIFKAN MENIMBULKAN
AKTIVITAS SUSUNAN SYARAF HALUSINASI
SUSUNAN PUSAT CTH : ECSTASSY
(KHAYALAN) CTH
SYARAF PUSAT (AMPHETAMINE) : LSD (
CTH : PIL BK, LYCERGIC ALIS
MAGADON, DIETHYLAMIDE )
VALIUM

14
Faktor pendukung gangguan
penggunaan NAPZA

1. Fx.Biologis
2. Fx. Psikologis
3. Fx. sosiokultural
Fx.Biologis
- genetik
- metabolik
- infeksi pd organ
- penyakit kronis
Fx.psikologis
- tipe kepribadian
- harga diri yg rendah
- disfungsi keluarga
- individu yang mempunyai perasaan tdk aman
- cara pemecahan masalah yg menyimpang
- individu mengalami krisis identitas
- rasa bermusuhan dgn keluarga
Lanjutan faktor
Fx.sosiokultural
- masy yg ambivalensi ttg penggunaan zat
- norma kebudayaan pd suku bangsa tertentu
- lingkungan tempat tinggal,sekolah,teman
sebaya bnyk mengedarkan & menggunakan zat
adiktif
- persepsi & penerimaan masy thdp
penggunaan zat addiktif
- remaja yg lari dari rumah
- penyimpangan seksual usia dini
- tindak kriminal usia dini
- kehidupan beragama yg kurang
Stressor pencetus
Pernyataan dan tuntutan utk mandiri dan
membutuhkan teman sebaya sebagai
pengakuan
Reaksi sbg cara mencari kesenangan
Kehilangan sesuatu yg berarti
Pengasingan
Kompleksitas & ketegangan modernitas
Tersedianya zat adiktif
Pengaruh peer group
Kemudahan mendapatkan
Film & iklan
Pesan masy yg keliru
Gangguan psikiatrik yg muncul
akibat NAPZA:
26% mengalami gangguan alam perasaan
seperti depresi, mania
26% gangguan ansietas
18% gangguan kepribadian antisosial
7% skizofrenia
Pengaruh Penyalahgunaan NAPZA
Tergantung Pada :

Jenis NAPZA yang digunakan


Jumlah/dosis
Frekuensi pemakaian
Cara pemakaian
Beberapa NAPZA yang digunakan
bersama
Kondisi fisik pemakai
Pengaruh NAPZA Pada Susunan Saraf Pusat:

Gangguan daya ingat mudah lupa


Gangguan perhatian sulit konsentrasi
Gangguan perasaan & kemampuan otak untuk
menerima, memilah & mengolah informasi
tidak dapat bertindak rasional
Gangguan persepsi ilusi & halusinasi
Gangguan motivasi malas belajar & bekerja
Gangguan kendali diri tidak mampu
membedakan mana yang baik & benar
Komplikasi Medik-Psikiatri (Ko-Morbiditas):

Gangguan tidur, gangguan fungsi seksual,


cemas, depresi berat (pada penyalahguna
heroin/putaw)
Paranoid, psikosis, depresi berat kadang-
kadang percobaan diri, mania, agitasi, cemas
sampai panik (pada penyalahguna stimulansia)
Gangguan psikotik, gangguan cemas, paranoid,
kehilangan motivasi, acuh tak acuh & gangguan
daya ingat (pada penyalahguna ganja)
Depresi, cemas sampai panik & paranoid (pada
penyalahguna alkohol & sedatif hipnotika)
ASUHAN
KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
FISIK
EMOSIONAL
SOSIAL
INTELEKTUAL
SPIRITUAL
KELUARGA
FISIK
Nyeri
gangguan pola tidur
menurunnya selera makan
Konstipasi
Diare
perilaku seks melanggar norma
tidak merawat diri
potensial komplikasi.
Tujuan : klien mampu untuk hidup teratur
EMOSIONAL
Perasaan gelisah (takut diketahui)
tidak percaya diri
curiga dan tidak berdaya
Potensial mengalami gangguan mental
dan perilaku
Tujuan : Klien dapat mengontrol dan
mengendalikan emosinya
SOSIAL
Lingkungan sosial yang biasa akrab
dengan klien adalah teman pengguna zat,
anggota keluarga lain, pengguna zat di
lingkungan sekolah atau kampus
INTELEKTUAL
Pikiran yang selalu ingin menggunakan
zat adiktif, perasaan ragu untuk berhenti,
aktivitas sekolah atau kuliah yang
menurun sampai berhenti, pekerjaan
terhenti.
Tujuan : klien mampu berkonsentrasi dan
meningkatkan daya pikir ke hal-hal positif
SPIRITUAL
Kegiatan keagamaan kurang atau tidak
ada, nilai-nilai kebaikan ditinggalkan
karena perubahan perilaku mis: mencuri,
berbohong.
Tujuan : klien mampu meningkatkan
ibadah, pelaksanaan nilai-nilai kebaikan
KELUARGA
Ketakutan akan perilaku klien, malu pada
masyarakat, penghamburan dan
pengurasan ekonomi keluarga oleh klien,
komunikasi dan pola asuh tidak efektif,
dukungan moril terhadap klien tidak
terpenuhi
Tujuan : keluarga mampu merawat klien
sampai akhirnya mampu mengantisipasi
terjadinya kekambuhan (relapse)
Data Khusus
jumlah dan kemurnian zat yang digunakan
Sering menggunakan
Metode penggunaan (dirokok, intravena, oral)
Dosis terakhir digunakan
Cara memperoleh zat (dokter, mencuri, dll)
Dampak bila tidak menggunakan
Jika over dosis, berapa beratnya
Stressor dalam hidupnya
Sistem dukungan (keluarga, sosial, finansial)
tingkat harga diri klien, persepsi klien terhadap zat adiktif
Tingkah laku
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan persepsi sensori
Gangguan proses pikir
Koping individu tidak efektif
Gangguan konsep diri:harga diri rendah
dll
PENDEKATAN TERAPI NAPZA
Terapi Organobiologis
Terapi Relaksasi
Terapi Psikologis ( Psikoterapi)
Terapi Sosial
Pembinaan Spiritual
Terapi Individu
Terapi Kelompok
Terapi Keluarga
Terapi Penunjang Lainnya
TERAPI ORGANOBIOLOGIS
Menggunakan Medikamentosa pada keadaan:
Mengatasi keadaan darurat, misalnya
intoksikasi.
Mengatasi komplikasi medik, misalnya infeksi.
Membantu mengurangi rasa sakit akibat putus
zat (pada detoksifikasi).
Mengatasi gejala psikiatrik yang menyertainya,
misalnya ansietas, depresi, gangguan psikotik,
dan lain-lain
TERAPI RELAKSASI
Terapi relaksasi dapat menetralkan kembali pengeluaran
hormon yang berlebihan akibat stress (adrenalin dan
kortisol), sehingga menyebabkan:
Denyut jantung dan tekanan darah menurun.
Pernafasan menurun dan teratur.
Mengurangi rasa sakit dan ketegangan pada otot.
Keringat berkurang.
Mengurangi rasa lelah.
Tidur adekuat dan bangun pagi segar.
Olahraga secara teratur mendorong kesegaran jasmani
dan keluarnya endorfin dalam otak yang mempunyai
efek rasa gembira sehingga mereka tidak perlu lagi
memakai opiat dari luar untuk mendapatkan efek
tersebut
TERAPI PSIKOLOGIS
(PSIKOTERAPI)
Psikoterapi adalah terapi secara psikologis
terhadap masalah yang bersifat emosional
yang dilakukan oleh seorang yang sudah
dengan sengaja membentuk lingkungan
yang profesional dengan pasien yang
bertujuan untuk menghilangkan atau
mengurangi gejala, memperantarai pola
tingkah laku yang terganggu, dan
meningkatkan perkembangan kepribadian
yang positif
TERAPI SOSIAL
Terapi sosial bertujuan untuk memberikan
ketrampilan hidup dan ketrampilan sosial yaitu
kemampuan untuk mengatur pikiran dan
perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial atau budaya. Ketrampilan
sosial akan memperbaki hubungan sosial pasien
dengan lingkungan, dan mengubah gaya hidup
pasien sehingga dia tidak lagi melakukan
kegiatan yang sama yang merupakan bagian
dari kehidupan sebelumnya
PEMBINAAN SPIRITUAL
Pembinaan spiritual sesuai dengan agama yaitu
membimbing pasien untuk memperkuat iman dan takwa,
sehingga dapat membentengi mereka agar tidak
terjerumus ke perilaku negatif. Bila mengalami stres,
pasien diajak berdzikir atau berdoa, memohon dan
berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa, agar tidak
selalu menyesali keadaan yang mereka alami. Dalam
keadaan demikian, maka pasien akan merasa rileks
sehingga stresnya dapat diatas dengan baik.Pembinaan
agama ini mengutamakan pengkajian nilai-nilai luhur
yang terkandung dalam agama itu dan bagaimana cara
bertobat memohon ampunan terhadap kesalahan yang
dibuat selama ini, bukan terfokus pada dosa dan
hukuman yang akan diterima kelak
TERAPI INDIVIDU
Terapi individu dilakukan dengan cara
membicarakan hal-hal yang bersifat
rahasia mengenai masalah yang dihadapi
saat ini dan merencanakan masa depan
yang spesifik untuk pasien tersebut. Pada
pasien tertentu juga dilakukan terapi
psikoanalisis yaitu membantu menemukan
insight terhadap konflik intrapsikis yang
dilakukan oleh seorang terapis yang
memang mahir untuk ini
TERAPI KELOMPOK
Terapi Kelompok yaitu terapi yang dilakukan dalam
kelompok dgn menggunakan dinamika kelompok,
sehingga diantara pasien terjalin hubungan yang saling
mempengaruhi untuk proses pematangan diri dan
pemulihan terhadap ketergantungan NAPZA. Hal yang
ditangani dalam terapi kelompok adalah membina
kelompok untuk ke arah pematangan mandiri,
meganalisis perilaku pengguna zat dan membantu
mengatasi perilaku, mengembangkan metode
pertahanan diri, menyelesaikan masalah dan mengambil
keputusan, ketrampilan berkomunikasi, berpikir secara
kritis, asertif, pengembangan diri, mengurangi stres, cara
memilih teman, membuat pilihan yang beresiko rendah,
mengembangkan self esteem dan cara menolak
tawaran
Keunggulan terapi kelompok:
Pasien yang umumnya remaja dan dewasa muda sangat
membutuhkan dukungan teman sebaya.
Sosialisasi melalui modelling kelompok untuk
medapatkan keterampilan baru.
Saling memberi dan mendapat informasi dari kelompok.
Belajar memperbaiki hubungan interpersonal.
Rasa keterikatan dalam kelompok.
Timbul rasa kasih sayang pada sesama, sehingga rela
bekerja untuk orang lain.
Katarsis emosional, terutama menyatakan rasa marah
pada figur otoriter
Terapi keluarga
Terapi keluarga bertujuan untuk mengubah
interaksi yang mal adaptif dalam keluarga,
sehingga terciptalah lingkungan yang kondusif
untuk membantu pemulihan pasien. Seringkali
tanpa disadari, keluarga merasa malu, bersalah,
dan saling menyalahkan. Bila masalah dalam
keluarga belum terselesaikan,
seringkali menjadi pemicu bagi pasien untuk
menggunakan zat lagi, walaupun sebelumnya
dia sudah berhenti
Terapi penunjang lainnya
Terapi penunjang yang sering digunakan
adalah terapi okupasional, terapi musik,
terapi rekreasi, psikodrama dan role
playing yang sangat bermanfaat bila
dilakukan oleh orang yang ahli dalam
bidang tersebut. Semua terapi di atas
harus dilakukan oleh profesional yang
mempunyai sikap hangat, empati, dan
menghargai orang lain
Persiapan sebelum pemberian terapi:
Pemastian diagnosis wawancara (anamnesis),
pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan
penunjang lainnya.
Menanggulangi keadaan darurat yaitu mengatasi over
dosis dan komplikasi medik yang timbul akibat
pemakaian NAPZA.
Pemantapan di berbagai bidang meliputi: mental-
emosional, sosial, spiritual, edukasional, dan vokasional
yang berlangsung selama 3 9 bulan. Resosialisasi
atau penyaluran kembali ke masy dengan dibekali
keterampilan sosial dan ketrampilan hidup, sehingga
pasien mempunyai rasa tanggung jawab sosial. Proses
ini berlangsung selama 3 12 bulan. Bimbingan lanjutan
dalam masyarakat untuk mencegah kekambuhan
(relapse) berlangsung selama 2 3 tahun
Faktor faktor pencetus relapse:
Pasien kembali kepada kelompok beresiko tinggi yang
memicu pasien untuk kembali menggunakan zat.
Kembalinya pasien ke tempat yang mengingatkan dia
untuk memakai zat kembali.
Terdapatnya gangguan psikiatrik, seperti ansietas,
depresi, gangguan psikotik, atau gangguan kepribadian.
Kurangnya dukungan dari keluarga atau teman sebaya.
Kurangnya aktivitas sehari-hari baik berupa pekerjaan,
sekolah, atau kegiatan pengisi waktu senggang.
Timbulnya rasa malu, bersalah, hampa, dan hidup tidak
berarti.
Adanya sakit fisik yang kronis
Cara mencegah relapse
Cegah pasien kembali ke lingkungan beresiko
tinggi, seperti bertemu dengan sesama pemakai
atau pergi ke tempat pasien biasa
menggunakan zat.
Beri kesempatan pada pasien untuk
mengungkapkan isi hatinya dan beri dorongan
untuk meningkatkan harga dirinya.
Atasi depresi, ansietas, dan gangguan psikotik.
Ubah gaya hdup pasien ke arah kegiatan positif
Rehabilitasi (Depkes, 2002)
upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh
dan terpadu melalui pendekatan non medis,
psikologis, sosial dan religi agar pengguna
NAPZA yang menderita sindroma
ketergantungan dapat mencapai kemampuan
fungsional seoptimal mungkin
Tujuannya pemulihan dan pengembangan
pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual
Sarana rehabilitasi yang disediakan harus
memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan
kebutuhan
Harapan dari rehabilitasi, klien
akan:
Mempunyai motivasi kuat untuk tidak
menyalahgunakan NAPZA lagi
Mampu menolak tawaran penyalahgunaan
NAPZA
Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah
dirinya
Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku
sehari-hari dengan baik
Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan
baik dalam pergaulan dengan lingkungannya
selama darah masih mengalir maka
PERJUANGAN untuk PERUBAHAN harus
DILAKUKAN sampai titik darah
penghabisan,apapun MEDIA, CARA,
METODE untuk melakukan suatu

PERUBAHAN yg terpenting adalah PROSES