You are on page 1of 151

OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK

POKOK BAHASAN
OPERASI EKONOMIS SISTEM TENAGA
LISTRIK
PENGATURAN DAYA AKTIF (FREKUENSI)
PENGATURAN TEGANGAN
KEANDALAN SISTEM PEMBANGKIT TENAGA
LISTRIK
OPERASI EKONOMIS
(ECONOMIC DISPATCH)
OPERASI EKONOMIS
(ECONOMIC DISPATCH)
Optimasi
Karakteristik daya dan biaya bahan bakar
pembangkit.
Operasi ekonomis dalam sebuah stasiun
Operasi ekonomis antara stasiun
OPTIMASI
Optimasi : memperoleh nilai minimum atau
maksimum
Fungsi tujuan (objective)
Fungsi kekangan (constraint) :
Kekangan linier (persamaan atau pertidaksamaan)
Kekangan nonlinier (persamaan atau pertidaksamaan)
Batas minimum dan batas maksimum
Contoh
Tentukan nilai X agar diperoleh nilai Y
minimum dari
Y X12 2X32 3 X3

Dengan syarat :
0 X1 10 3 X1 2 X2 X3 30
2 X 2 10 2 X1 3 X2 X3 20
5 X 3 30 X1 2 X22 100
Fungsi tujuan (objective) :
Y X12 2X32 3 X3
Fungsi kekangan (constraint) :
Kekangan linier :
3 X1 2X2 X3 30 2X1 3 X2 X3 20

X1 X1
3 2 1 X2 30 2 3 1 X2 20
X3 X3

A eq
X beq A X b
Equality Inequality

Kekangan nonlinier (equality)


X1 2X22 100 X1 2X22 100 0
Batas minimum dan maksimum :
0 X1 10
Xmin 0 2 5
2 X 2 10
Xmaks 10 10 30
5 X 3 30
OPTIMASI DENGAN MATLAB
[X,Y] = fmincon(fun_tujuan,nilai_awal,A,b,Aeq,beq,X_min,X_maks,nonlcon)

nilai_awal : nilai awal untuk proses iterasi

nonlcon : kekangan equality dan inequlity yang berhubungan dengan


kondisi nonlinier. Keduanya harus didefinisikan sebagai fungsi dan
digabung dengan perintah deal.
clear all
clc
fun_tujuan = @(X) ( X(1)^2 - 2* X(2) ^3 + 3*X(3) )
nilai_awal=[0 0 0];
A = [-2 3 -1]
b = 20
Aeq = [3 2 -1]
beq = 30
X_min=[0 2 5];
X_maks=[10 10 30];
ceq = @(X) ( X(1) + 2* X(2) ^2 - 100)
nonlcon = @(X) deal([],ceq(X));
[X,Y] = fmincon(fun_tujuan,nilai_awal,A,b,Aeq,beq,X_min,X_maks,nonlcon)
PERSAMAAN BIAYA BAHAN BAKAR
F a.P2 b.P c biaya/jam (juta rupiah/jam )

Persamaan biaya bahan bakar diperoleh :


Berdasarkan data penggunaan bahan bakar
dan energi yang dibangkitkan.
Metode numerik (regresi kuadratik atau curve
fitting)
Contoh : Sebuah pembangkit bekerja dengan daya yang tetap pada jam-jam
operasi tertentu
Lama Operasi Daya Energi Penggunaan BBM Biaya Biaya/Jam
(Jam) (MW) (MWh) (Liter) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah/Jam)
2 15 30 7500 45 22.5
5 20 100 21000 126 25.2
7 45 315 56000 336 48
6 60 360 69000 414 69
3 75 225 48000 288 96
1 80 80 17500 105 105
Asumsi harga bbm = Rp 6000/liter

Daya Biaya/Jam 120


(MW) (Juta Rupiah/Jam)
100
15 22.5
80
20 25.2 60
45 48 40
60 69 20
75 96 0
0 20 40 60 80 100
80 105
close
clear all
daya=[15 20 45 60 75 80]
biayaperjam=[22.5 25.2 48 69 96 105]
konstanta = polyfit(daya, biayaperjam,2)
daya = 0 : 100;
biayaperjam = konstanta(1)*daya.^2 + konstanta(2).*daya + konstanta(3);
plot(daya, biayaperjam)

Juta rupiah
F 0,012 P 0,1326 P 17,7515
2

jam
Curve Fitting
Buat file data penggunaan biaya per jam dan
daya, simpan kemudian eksekusi agar
tersimpan dimemori.
Pada jendela command window ketik : cftool
Linear model Poly2:
f(x) = p1*x^2 + p2*x + p3
Coefficients (with 95% confidence bounds):
p1 = 0.01204 (0.01072, 0.01337)
p2 = 0.1326 (0.006355, 0.2588)
p3 = 17.75 (15.35, 20.15)
Juta rupiah
F 0,012 P2 0,1326 P 17,7515
jam
DAYA GUNA MAKSIMUM
Daya guna maksimum diperoleh jika pembangkit dioperasikan pada
daya yang memberikan biaya per MWh yang minimum.

Juta rupiah
F 0,012 P 0,1326 P 17,7515
2

jam
Juta 1.06
MW Juta rupiah/MWh
Rupiah/jam
1.059
35 37.0925 1.05979
1.058
36 38.0771 1.0577
37 39.0857 1.05637 1.057
38 40.1183 1.05574
1.056
39 41.1749 1.05577
40 42.2555 1.05639 1.055
34 36 38 40 42
PERUBAHAN BIAYA BAHAN BAKAR ()

Perubahan daya pembangkitan menyebabkan perubahan


biaya bahan bakar.
Perubahan biaya pembangkitan untuk setiap perubahan
daya adalah :

dF

dP
Juta rupiah
F 0,012 P2 0,1326 P 17,7515
jam

dF Juta rupiah
0,024 P 0,1326
dP MWh

Jika pembangkit beroperasi pada daya 38 MW,


perubahan biaya bahan bakar jika
pembagkitan dinaikkan atau diturunkan
sebesar 1 MW adalah
Juta rupiah
0,024 x 38 0,1326 1,04
MWh
Juta rupiah
F 0,012 P2 0,1326 P 17,7515
jam

dF Juta rupiah
0,024 P 0,1326
dP MWh
Pembebanan Pembangkit
(Djiteng V.2)
PLTD : tidak bermasalah dengan daya min.
tetapi jika berbeban rendah, ruang bakar
cepat kotor karena pembakaran kurang
sempurna
Kendala suhu : tidak dapat mencapai kapasitas
maksimum.
Reaksi terhadap beban : cepat. 0 sd 100 %
kurang dari 10 menit
PLTU
Beban maksimum : bisa lebih dari
kapasitasnya tetapi dalam waktu yang singkat
Beban minimum : 25 %, karena kendala
pengontrolan. Pada beban rendah, nyala api
kurang stabil & mudah padam
Reaksi thd penambahan beban : lambat &
perlu beberapa tahapan.
PLTG
Beban maksimum dapat melebihi
kapasitasnya dalam waktu yang relatif singkat
Beban min : dibatasi oleh biaya operasi yang
mahal jika beban terlalu rendah
Perubahan beban : relatif cepat, 0 sd 100 %
dalam waktu 15 menit
PLTA
Beban minimum dibatasi oleh masalah
kavitasi
Beban maksimum sesuai kapasitasnya
Reaksi terhadap perubahan beban sangat
cepat. 0 sd 100%, kurang dari menit
OPERASI EKONOMIS DALAM SATU
STASIUN

Bagaimana pembagian daya agar diperoleh operasi


yang ekonomis ?
Untuk jumlah daya pembangkitan yang tetap, kenaikan
pembangkitan pada salah satu unit dan penurunan
pembangkitan pada unit lain harus memberikan
penurunan pada biaya total.
Contoh :
Dua unit pembangkit bekerja untuk melayani
beban sebesar 900 MW. Persamaan biaya
bahan bakar setiap unit adalah :
$
F1 0,004 P 8 P1
1
2

jam
$
F2 0,0048 P 6,4 P2
2
2
jam
DAYA BIAYA
TOTAL BIAYA
UNIT 1 UNIT 2 UNIT 1 UNIT 2
405 495 3896.10 4344.12 8240.22
404 496 3884.86 4355.28 8240.14
403 497 3873.64 4366.44 8240.08
402 498 3862.42 4377.62 8240.04
401 499 3851.20 4388.80 8240.01
400 500 3840.00 4400.00 8240.00
399 501 3828.80 4411.20 8240.01
398 502 3817.62 4422.42 8240.04
397 503 3806.44 4433.64 8240.08
396 504 3795.26 4444.88 8240.14
395 505 3784.10 4456.12 8240.22
Bagaimana setiap unit ?
$ dF1 $
F1 0,004 P 8 P1
2 1 0,008 P1 8
1
jam dP1 MWh
$ dF2 $
F2 0,0048 P 6,4 P2
2
2
2 0,0096 P2 6,4
jam dP2 MWh

DAYA BIAYA TOTAL BIAYA LAMDA


P1 P2 F1 F2 F1 + F2 1 2
403 497 3873.64 4366.44 8240.08 11.22 11.17
402 498 3862.42 4377.62 8240.04 11.22 11.18
401 499 3851.20 4388.80 8240.01 11.21 11.19
400 500 3840.00 4400.00 8240.00 11.20 11.20
399 501 3828.80 4411.20 8240.01 11.19 11.21
398 502 3817.62 4422.42 8240.04 11.18 11.22

Biaya minimum diperoleh jika setiap unit bekerja pada


yang sama.
Lamda tersebut disebut sebagai stasiun.
LATAR BELAKANG MATEMATIS
(Pengali Lagrange)
Differensiasi parsial biaya total = 0

Perubahan daya = 0 (daya total pembangkitan = tetap)

Pers. 9.4 dikali lamda


Persamaan biaya bahan bakar dua unit pembangkit
adalah :
$ $
F1 0,004 P 8 P1
1
2
F2 0,0048 P 6,4 P2
2
2
jam jam

Jika beban = 900 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya


minimum ? Berapa nilai lamda ?
Jika beban = 300 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya
minimum ?
dF1 $
1 0,008 P1 8
dP1 MWh
dF2 $
2 0,0096 P2 6,4
dP2 MWh
1 2
0,008 P1 8 0,0096 P2 6,4
P1 P2 900
P1 900 P2

0,008900 P2 8 0,0096 P2 6,4


7,2 0,008P2 8 0,0096 P2 6,4
8,8 0.0176P2
P2 500
P1 400
1 2 stasiun 0,008x 400 8 11,2
DAYA MINIMUM & DAYA MAKSIMUM
PEMBANGKIT
Jika optimasi menghasilkan adanya unit pembangkit
yang bekerja diluar batas daya minimum dan
maksimumnya maka :
Unit pembangkit yang dayanya < daya
minimumnya,
unit tersebut beroperasi pada daya minimumnya atau
tidak dioperasikan
Pilih yang memberikan biaya minimum
unit yang dayanya > daya maksimumnya, maka
unit tersebut harus dioperasikan pada daya
maksimumnya.
Persamaan biaya bahan bakar dua unit pembangkit
adalah :
$ $
F1 0,004 P 8 P1
1
2
F2 0,0048 P 6,4 P2
2
2
jam jam

Daya minimum dan maksimum kedua unit adalah 100


MW dan 625 MW
Jika beban = 300 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya
minimum ?
Jika beban = 1150 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya
minimum ?
Persamaan biaya bahan bakar dua unit pembangkit
adalah :
$
F1 0,004 P12 8 P1
jam
$
F2 0,0048 P22 6,4 P2
jam

Jika beban = 900 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya


minimum ?

P1 = 6400 P2 = -5500 ???????????


METODE PENYELESAIAN
Penyelesaiaanya dapat diperoleh dengan
metode matriks (penyelesaian sistem persamaan
linier). Hanya Jika koofisien a bernilai positif.
Dengan menggunakan tools optimasi pada
matlab (fmincon). Berlaku umum untuk semua
jenis persamaan
CONTOH

Persamaan biaya bahan bakar dua unit pembangkit adalah :

$ $
F1 0,004 P12 8 P1 F2 0,0048 P22 6,4 P2
jam jam

Daya minimum dan maksimum kedua unit adalah 100 MW dan


625 MW.
Jika beban = 900 MW, Berapa P1 dan P2 agar biaya minimum ?
Fungsi tujuan/objektif adalah persamaan
biaya total
FT F1 F2
FT 0,004 P12 8 P1 0,0048 P22 6,4 P2

Fungsi kekangan (linier)


P1 P2 900
P1
1 1 900
P2
A eq 1 1
b eq 900
Batas minimum dan maksimum :
Pmin 100 100
Pmaks 625 625
pers_biaya = @(P) ( 0.004 * P(1)^2 + 8*P(1) +...
0.0048*P(2)^2 + 6.4*P(2) )
Aeq = [1 1]
beq = 900
daya_min=[100 100]
daya_maks=[625 625]
nilai_awal=[0 0]
[daya,biaya] = fmincon(pers_biaya, nilai_awal,[ ],[ ],Aeq,beq, daya_min, daya_maks,[ ])
$
F1 0,004 P 8 P1
1
2

jam
$
F2 0,0048 P 6,4 P2
2
2
jam
clear all
pers_biaya = @(P) ( 0.004 * P(1)^2 + 8*P(1) +...
0.0048*P(2)^2 + 6.4*P(2) )
Aeq = [1 1]
beban=[250 300 350 600 900 1175 1200 1250]
daya_min=[100 100]
daya_maks=[625 625]
nilai_awal=[0 0]
for i=1:8;
beq=beban(i);
[daya,biaya] = fmincon(pers_biaya, nilai_awal,[ ],[ ],Aeq,beq, daya_min, daya_maks,[ ]);
unit_1(i)=daya(1);
unit_2(i)=daya(2);
biaya_total (i)= biaya(1);
end
clc
disp ('===================================')
disp (' beban unit 1 unit 2 biaya total')
disp ('===================================')
for i=1:8
fprintf (' %8.2f %8.2f %8.2f %10.0f\n',beban(i),unit_1(i),unit_2(i),biaya_total(i))
end
Daya Unit Daya Unit
Beban Biaya Total
1 2
200 100 100 1528
300 100 200 2312
350 100 250 2740
600 236.36 363.64 5076
900 400 500 8240
1175 550 625 11485
1200 575 625 11797
1250 625 625 12437
OPERASI EKONOMIS ANTARA STASIUN

PL P2
P1
1 2

Beban1 Beban2

Operasi ekonomis antara stasiun perlu memperhitungkan rugi daya


pada saluran.
Rugi daya pada saluran (PL) dipengaruhi diantaranya oleh
pembangkitan daya aktif (P) pada setiap stasiun,
beban,
perubahan beban
Rugi daya pada saluran (PL) dapat dinyatakan sebagai fungsi
pembangkitan (P) setiap stasiun dan koofisien rugi daya pada
saluran (koofisien B)
Jika rentang beban tidak terlalu besar, koofisien tersebut
memberikan hasil yang cukup akurat.
Untuk variasi beban yang besar, diperlukan beberapa nilai
koofisien B. Setiap nilai digunakan untuk mewakili rentang
beban tertentu.
Bagaimana cara memperoleh koofisien B ? (hal 228)
RUGI DAYA SEBAGAI FUNGSI PEMBANGKITAN

PL P B PT

B11 B12 B1k P1


B B B P
PL P1 P2 ... Pk 21 22 2k 2



k1
B B k2 B kk Pk

PL : Rugi daya
P : Daya pembangkitan setiap stasiun
B : Koofisien kehilangan daya

Persamaan rugi daya pada saluran adalah persamaan nonlinier


Fungsi tujuan/objektif (persamaan biaya total) :
k
FT Fn F1 F2 F3 F4 ... Fk
n1

Fungsi kekangan (kondisi nonlinier)


k

P
n1
n PL PB 0

P
n1
n : Jumlah daya pembangkitan

PL : Rugi daya
PB : Daya beban

Penyelesaian dapat diperoleh dengan metode iteratif (file


operasi ekonomis.pdf) atau dengan optimasi menggunakan
matlab.
CONTOH
Persamaan biaya bahan bakar 3 stasiun pembangkit adalah :
$
F1 0,004686 P12 23,76P1 1683 150 MW P1 600 MW
jam
$
F2 0,00582 P22 23,55 P2 930 100 MW P1 400 MW
jam
$
F3 0,01446 P32 23,7 P3 234 50 MW P1 200 MW
jam

Beban = 850 MW

Koofisien B untuk beban 850 :

3 0 0
B 10-5 x 0 9 0

0 0 12

Berapa pembangkitan setiap stasiun ?


CONTOH

clear all
clc
pers_biaya = @(P) ( 0.004686 * P(1)^2 + 23.76*P(1) + 1683 + ...
0.00582 * P(2)^2 + 23.55*P(2) + 930 + ...
0.01446 * P(3)^2 + 23.7*P(3) + 234 );
daya_min=[150 100 50];
daya_maks=[600 400 200];
nilai_awal=[0 0 0];
beban = 850;
B = 1e-5*[3 0 0;0 9 0; 0 0 12] ; %matriks B
ceq = @(P) P(1)+P(2)+P(3) - P*B*P'- beban; % kekangan nonlinier (equality)
nonlcon = @(P) deal([],ceq(P)); % penggabungan kekangan nonlinear(inequality & equality)
[daya,biaya] = fmincon(pers_biaya,nilai_awal,[ ],[ ],[ ],[ ],daya_min,daya_maks,nonlcon)
OPTIMASI UNIT-UNIT ANTARA STASIUN-STASIUN
PEMBANGKIT
UNIT 1

UNIT 2

UNIT K UNIT 1
STASIUN 1 JARINGAN SISTEM UNIT 2
TENAGA LISTRIK
UNIT K
UNIT 1
STASIUN K
UNIT 2

UNIT K
STASIUN 2 UNIT 1

UNIT 2

UNIT K
STASIUN 3

Tentukan persamaan biaya untuk setiap stasiun


kemudian lakukan optimasi
Atau semua unit dioptimasi secara bersamaan.
CONTOH
Persamaan biaya bahan bakar untuk unit-unit dari 3 stasiun pembangkit adalah :

Stasiun 1 (terdiri dari 3 unit) :


$
F1 0,0013 P12 20P1 1000 100 MW P1 600 MW
jam
$
F2 0,0015 P22 20 P2 500 100 MW P2 600 MW
jam
$
F3 0,0017 P32 18 P3 200 50 MW P3 700 MW
jam

Stasiun 2 (terdiri dari 2 unit) :


$
F4 0,0013 P42 20P4 1000 100 MW P4 600 MW
jam
$
F5 0,0015 P52 20 P5 500 100 MW P5 600 MW
jam

Stasiun 3 (terdiri dari 2 unit) :


$
F6 0,0015 P62 20 P6 500 100 MW P6 600 MW
jam
$
F7 0,0017 P72 18 P7 200 50 MW P7 700 MW
jam
Beban = 3000 MW

Koofisien B untuk beban 3000 MW :

4 1 2
B 10-5 x 1 5 3

2 3 6

Berapa pembangkitan setiap stasiun ?


Berapa pembangkitan setiap unit pada setiap stasiun ?
clear all;clc
pers_biaya = @(P) ( 0.0013 * P(1)^2 + 20*P(1) + 1000 + ...
0.0015 * P(2)^2 + 20*P(2) + 500 + ...
0.0017 * P(3)^2 + 18*P(3) + 200 + ...
0.0013 * P(4)^2 + 20*P(4) + 1000 + ...
0.0015 * P(5)^2 + 20*P(5) + 500 + ...
0.0015 * P(6)^2 + 20*P(6) + 500 + ...
0.0017 * P(7)^2 + 18*P(7) + 200 );
daya_min=[100 100 50 100 100 100 50];
daya_maks=[600 600 700 600 600 600 700];
nilai_awal=[0 0 0 0 0 0 0];
beban = 3000;
B = 1e-5*[4 1 2;1 5 3;2 3 6];
ceq = @(P) P(1)+P(2)+P(3)+P(4)+P(5)+P(6)+P(7) - ...
[ P(1)+P(2)+P(3) P(4)+P(5) P(6)+P(7)] * B * ...
[ P(1)+P(2)+P(3) P(4)+P(5) P(6)+P(7)]' - beban;
nonlcon = @(P) deal([],ceq(P));
[daya,biaya] = fmincon(pers_biaya,nilai_awal,[ ],[ ],[ ],[ ],daya_min,daya_maks,nonlcon)
TUGAS
CARI DAN REVIEW JURNAL TENTANG OPERASI
EKONOMIS (ECONOMIC DISPATCH)
PENGATURAN DAYA AKTIF DAN
FREKUENSI
PENGATURAN DAYA AKTIF DAN
FREKUENSI
Governor
Speed drop (pengaturan primer : free
governor)
Pengaturan sekunder
Statisme & energi pengaturan
Pengaruh frekuensi terhadap beban
Pelepasan beban (load shedding)
GOVERNOR
Daya aktif berhubungan dengan frekuensi
Sistem tenaga harus menyediakan tenaga
listrik dengan frekuensi pada rentang tertentu
Pengaturan frekuensi pengaturan daya aktif
Pengaturan bahan bakar pengaturan
governor
Penyetelan
N0/F0 N0/F0

N1/F1 N1/F1
Perubahan beban mengharuskan setiap generator menyesuaikan daya
mekaniknya melalui aksi governor.
Governor tidak bisa seketika menyesuaikan daya mekanik, butuh waktu
untuk penyesuaian daya tersebut.
Selama proses penyesuian daya tersebut terjadi percepatan/perlambatan
Kecepatan/frekuensi mengalami perubahan.
Percepatan/perlambatan akan berhenti jika daya mekanis sama dengan
daya elektrik. Tetapi generator telah mengalami perubahan
kecepatan/frekuensi akibat speed drop governor.
Generator akan bekerja pada kecepatan/frekuensi yang baru.
Untuk mngembalikan frekuensi ke nilai nominal, diperlukan pengaturan
sekunder
N0/F0 N1/F1
N0/F0
N0/F0 N1/F1

N1/F1
Speed Drop
(Pengaturan Primer : Governor Free)
Sifat governor yang tidak dapat mengembalikan nilai frekuensi
ke frekuensi semula dikenal dengan : speed drop (merupakan
pengaturan primer)
Frekuensi perubahan frekuensi f
speed drop
perubahan beban P

f Speed drop : kemiringan/gradien


garis daya terhadap frekuensi
f
speed drop (bernilai negatif)
P

Daya
P
Frekuensi Frekuensi

f
S1

f
speed drop S2 > S1 S2
P

Daya
Daya
P
Frekuensi

fA

fB

P1 P2 Daya
PENGARUH SPEED DROP TERHADAP
fSISTEM= f1 =f
2 PERUBAHAN BEBAN

fA
fB Beban A = P1(A) + P2(A)
S2
Beban B = P1(B) + P2(B)
P1 Beban B > Beban A
S1 S2 < S1 P2 > P1
P2

P1(A)P2(A) P1(B) P2(B)

Jika terjadi perubahan beban, pembangkit dengan speed drop yang lebih
kecil akan menanggung perubahan beban yang lebih besar
PERUBAHAN PEMBAGIAN BEBAN
AKIBAT PERUBAHAN SPEED DROP
fSISTEM= f1 = f2 fSISTEM= f1 = f2

fB
fA

P1 P2 P2 P1

Speed drop unit 1 dikurangi


P1 + P2 = konstan, fB > fA
PENGATURAN SEKUNDER
Jika aksi speed drop menghasilkan frekuensi yang terlalu
rendah/tinggi, untuk mengembalikan frekuensi sistem
kefrekuensi semula tanpa mengubah speed drop, diperlukan
pengaturan sekunder untuk menambah daya ke sistem.
Dilakukan secara manual atau otomatis (LFC: Load Frequency
Control)
Frekuensi

fA

fB

PENGATURAN SEKUNDER

P1 P2 Daya
fB fB

fA fA

P1 P2 P1 P2 P1 P2

Pengaturan Sekunder Unit 1 & 2

P1 + P2 = konstan, fB > FA
fB
fA

P1 P2 P2 P1

PENGATURAN SEKUNDER UNIT 1


P1 + P2 = konstan, fB > fA
PENGATURAN PRIMER & SEKUNDER
f f

C C1
S1
C2
S2 S
C3
S
S3 S

P P
CONTOH

Bagaimana pengaturan governor


unit 1 untuk beban 200 sd 350 ?
Load limit unit 1 = 100
Speed drop unit 2 = 0.
CONTOH
Speed drop unit 1 = 5 % kapasitas : 30 MW
Speed drop unit 2 = 2 % kapasitas : 50 MW
Kondisi awal : beban = 25 MW,
Dengan pengaturan sekunder, daya unit 1 diatur
sebesar 10 MW, unit 2 : 15 MW, dan f = 50,5 Hz,
Jika beban dinaikkan menjadi 40 MW berapa daya
unit 1 dan 2 ? Frekuensi ?
Jika speed drop unit 1 diubah menjadi 4 %, berapa
daya unit 1 dan 2 ? Frekuensi ?
f1 S1P1 C1 f1 f2 50,5 f1 0,05P1 51
f1 0,05P1 C1 P1 10 f2 0,02P2 50,8
f2 0,02P2 C2 P2 15 f1 f2
diperoleh 0,05P1 51 0,02P2 50,8
C1 51 P1 P2 40
C 2 50,8 f1 f2 f 50,29 Hz
P1 14,29 MW
52
P2 25,71 MW
51.5

51

50.5

50

49.5

49

48.5

48
0 10 20 30 40 50
52

51.5
f1 0,04P1 51
51
f2 0,02P2 50,8
50.5
f1 f2
50
0,04P1 51 0,02P2 50,8
49.5
P1 P2 40
49

f1 f2 f 50,33 Hz 48.5

P1 16,7 MW 48
0 10 20 30 40 50
P2 23,3 MW
52

51.5

51

50.5

50

49.5

49

48.5

48
0 10 20 30 40 50
PERHITUNGAN/PENENTUAN SPEED DROP
BERDASARKAN PEMBAGIAN BEBAN
Speed drop harus diatur agar pembagian beban sesuai
dengan yang ditentukan.
TENTUKAN RENTANG BEBAN YANG
MEMBERIKAN PERUBAHAN BEBAN HITUNG PERUBAHAN BEBAN SETIAP
YANG SAMA PADA SETIAP UNIT UNIT
(PERBANDINGAN PERUBAHAN BEBAN : TETAP)

TENTUKAN BATAS MINIMUM DAN HITUNG PERUBAHAN FREKUENSI


MAKSIMUM FREKUENSI f1 f2 ... fsistem

HITUNG SPEED DROP SETIAP UNIT


f1 f
S1 , S 2 2 ...
P1 P2
Bagaimana pengaturan speed drop untuk beban 350
CONTOH sd 1175 jika frekuensi dibatasi antara 49,5 sd 50,5
Hz ?
Pada rentang beban tersebut, perbandingan
perubahan beban pada setiap unit memiliki nilai
yang sama, yaitu : P1 1,2 P2

perubahan beban setiap unit


P1 536,37 100 436,37
P2 613,63 - 250 363.63

f1 f2 fsistem
f1 f2 fsistem 50,5 49,5 1
f1 1
S1 0,002292 0,229%
P1 436,36
f2 1
S2 0,00275 0,275%
P2 363,63
Setelan governor dan perbedaannya terlalu kecil, sebaiknya ubah rentang beban.
CONTOH

P1 54,5454
P2 45,4545

f1 f2 fsistem
Bagaimana pengaturan speed
f1 f2 fsistem 1
drop governor untuk beban 350 sd
450 jika frekuensi dibatasi antara f1 1
49,5 sd 50,5 Hz ? S1 1,83%
P1 54,5454
f2 1
S2 2,2%
P2 45,4545
f1 0,0183 P1 52,33
f2 0,0220 P2 56
55

54

53

52

51

50

49

48
Unit 1
47
Unit 2
46

45
100 150 200 250 300
PENGATURAN PRIMER DAN SEKUNDER
Apa yang harus dilakukan jika beban melebihi 450
MW?
Frekuensi semakin turun, perlu dilakukan
pengaturan sekunder.
Speed drop harus tetap agar pembagian beban
tidak berubah.
Speed drop : untuk perubahan kecil pada beban
Pengaturan sekunder : untuk perubahan beban
yang lebih besar yang frekuensinya tidak bisa
ditanggulangi oleh speed drop.
STATISME
Statisme : speed drop yang mewakili gabungan sejumlah
pembangkit yang terinterkoneksi.
Statisme : perubahan frekuensi untuk setiap MW perubahan
beban sistem (Hz/MW)
Frekuensi
sistem

perubahan frekuensi sistem f1


statisme Statisme
perubahan beban sistem f2
f
statisme sistem
Psistem

P1 P2 Beban
sistem
ENERGI PENGATURAN (Kf)
Energi pangaturan : kebalikan statisme, perubahan
daya sistem untuk setiap Hz perubahan frekuensi
sistem (MW/Hz)

1 Psistem
Kf MW/Hz
Statisme fsistem

1 1 1
Kf ...
S1 S2 S3

S1, S2, S3, : speed drop pembangkit


Jumlah unit dan statisme

S1 Statisme
S1 S2
Statisme
S2 S3

Semakin banyak unit yang beroperasi, statisme semakin kecil


(semakin baik)
55 Dari soal sebelumnya, bagaimana
f1 0,0183 P1 52,33
54 statisme dan energi pengaturan sistem
f2 0,0220 P2 56
53
52 Psistem 1 1
Kf 100 MW/Hz
51 fsistem S1 S1
50 1
Statisme 0,01 Hz/MW
49 Kf
48
Unit 1 Beban 400, f : 50
47
Unit 2
46 fsistem 0,01Psistem 54
45
100 150 200 250 300
51
50.5
50
49.5
49
fsistem 0,01Psistem 54
48.5
48
47.5
47
46.5
46
350 370 390 410 430 450
PENGARUH PERUBAHAN FREKUENSI
TERHADAP BEBAN
Beban-beban seperti peralatan yang mengandung motor
listrik sangat dipengaruhi oleh frekuensi.
Jika frekuensi turun, daya yang digunakan akan turun dan
lebih kecil dari daya nominalnya.

Garis
P
beban D (MW/Hz)
f
f 1 f
Hz/MW gradien : positif
Statisme D P

P
STATISME &
BEBAN SEBAGAI FUNGSI FREKUENSI
Garis Garis
beban 1 beban 2

fnominal
fB
Statisme

P1 P2 P2

Daya beban berubah dari P1 menjadi P2


Karena penurunan frekuensi ,beban pada P2 bergeser ke P2
Daya pada beban 2 < dari daya nominalnya akibat penurunan
frekuensi
PENGATURAN SEKUNDER
& BEBAN SEBAGAI FUNGSI FREKUENSI
Garis
beban 2

fnominal
f
fB

P1 P2 P2
P : Daya yang perlu ditambahkan dengan pengaturan sekunder
agar frekuensi dan beban kembali ke nilai nominalnya
P dipengaruhi oleh karakteristik beban (garis beban)
CONTOH
Sebuah sistem tenaga listrik terdiri dari 2 pusat listrik, yaitu
PLTD dan PLTG. Didalam PLTD terdapat 4 unit yang sama, yaitu
4 x 5 MW, sedangkan dalam PLTG terdapat dua unit yang
sama yaitu 2 x 15 MW. Sebuah unit PLTG tidak siap beroperasi
karena sedang menjalani pemeliharaan
Penyetelan governor dari unit yang beroperasi menghasilkan
energi pengaturan sebesar 3 MW/Hz. Kalau unit-unit PLTD
berbeban 4 x 4 MW dan PLTG berbeban 10 MW dengan
frekuensi sistem 50 HZ, sedangkan karakteristik beban
menunjukkan perubahan beban 1 MW untuk penurunan
frekuensi 1 Hz, maka apabila beban sistem naik 5 MW, tanpa
ada pengaturan sekunder frekuensi sistem menjadi berapa ?
Jika dilakukan pengaturan sekunder sedemikian hingga terjadi
penambahan daya yang dibangkitkan sebesar 1 MW, hitung
frekuensi sistem
(Operasi sistem tenaga listrik, Djiteng Marsudi)
1 1 Beban naik 5 MW selesaikan
Statisme 0,333 MW/Hz
Kf 3
Pbeban 26 5 31 f 0,333 P 58,67
fbeban Pbeban C f P 19
fsistem 0,333 Psistem C
diperoleh
C 50 31 19
Psistem 4 x 4 10 26 P 29,75
fbeban Pbeban 19
fsistem 50 f 48,76
diperoleh
C 58,67

Garis beban
(kondisi awal) Garis beban
fbeban Pbeban 26 setelah penambahan beban
gradien garis beban 1 fbeban Pbeban 19
fA
(karakter beban 1 Hz/MW) fB

Beban awal 26, f 50 Hz Statisme

fbeban 1xPbeban 24
P=29,75
fbeban Pbeban 24 f=48,76

P1 P2 P2
Jika dilakukan pengaturan sekunder sedemikian hingga terjadi
penambahan daya yang dibangkitkan sebesar 1 MW, hitung
frekuensi sistem

P=30,75
karakter beban 1 MW/Hz
P 1
f=49,76

fC
fB 48,76
fB
f fC fB
1
P 1
1 MW
diperoleh
fc 49,76 Hz
P2 P2
LATIHAN (dikumpulkan)
Stasiun 1 :
Unit 1 Speed drop = 15 % kapasitas : 30 MW
Unit 2 Speed drop = 10 % kapasitas : 50 MW
Stasiun 2 :
Unit 3 Speed drop = 12 % kapasitas : 40 MW
Unit 4 Speed drop = 12 % kapasitas : 40 MW
Kondisi awal : beban = 70 MW, f = 50 Hz
daya unit 1 : 10 MW,
daya unit 2 = unit 3 = unit 4 = 20 MW,
Karakter beban : beban berkurang 0,5 MW jika frekuensi turun 1 Hz.
Daya nominal beban dinaikkan menjadi 120 MW,
Jika pengaruh frekuensi terhadap beban diperhitungkan, :
berapa daya beban ?
berapa frekuensi sistem ?
Berapa daya pada setiap unit ?
Berapa daya yang harus ditambahkan melalui pengaturan sekunder pada
setiap unit agar frekuensi dan beban kembali kenilai nominalnya? (speed drop
tetap)
daya beban = 119,2611 MW
frekuensi sistem = 48,52217 Hz
daya pada setiap unit :
unit 1 = 19,8522 MW
Unit 2= 34,77833 MW
Unit 3=32,31527 MW
Unit 4=32,31527 MW
Berapa daya yang harus ditambahkan melalui pengaturan sekunder pada
setiap unit agar frekuensi dan beban kembali kenilai nominalnya? (speed drop
tetap)
Kekurangan daya Psistem = 120 119,2611 = 0,738916 MW
f
P
S
f f f f
P1 : P2 : P3 : P4 : : :
S1 S2 S3 S4
P1 P2 P3 P4 Psistem
UTS
LOAD SHEDDING
Ketika ada unit pembangkit yang terganggu, daya
pembangkitan berkurang.
Daya pembangkitan < daya beban. Rotor mengalami
perlambatan sehingga kecepatan putaran & frekuensi juga
semakin berkurang
Pembangkit : Dapat merusak turbin, Power system protection
(PM Anderson) bab 20
Beban, terutama yang menggunakan motor listrik, mengalami
penurunan daya.
Untuk menjaga frekuensi, pelepasan sebagian beban harus
dilakukan.
Rele untuk pelepasan beban : Under Frequency Relay (UFR)
Turbin uap dirancang untuk beroperasi pada rentang frekuensi
tertentu
Contoh :
Turbin uap dengan ukuran blade 25 44 in,
frekuensi untuk kondisi kontinu : 59,5 60, 5 Hz.
Untuk frekuensi 58,5 59,5 hanya diijinkan selama 60 menit
Untuk frekuensi 56 58,5 hanya diijinkan selama 10 menit
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELEPASAN BEBAN
Kecepatan penurunan frekuensi (df/dt):
Jumlah daya pembangkitan unit-unit yang tidak
terganggu dan beban : selisih daya pembangkitan
(Pm) dan beban (Pe) : daya perlambatan
Energi mekanik (kinetik) yang tersimpan pada unit-
unit yang tidak terganggu : kelembaman sistem (H)
Pengaruh perubahan beban akibat perubahan
frekuensi (D)
Waktu untuk reaksi governor : pengaturan primer
& sekunder
Setelan UFR :
Setelan frekuensi
waktu tunda (delay)
Semakin lambat kecepatan penurunan Frekuensi

Reaksi Governor
frekuensi, Kondisi ini semakin baik,
ada kemungkinan pelepasan beban
f (UFR)
tidak perlu dilakukan.
Penurunan frekuensi semakin lambat, Pelepasan beban

semakin lama waktu yang tersedia


bagi governor untuk menyesuaikan t1 t2 Waktu

daya pembangkitannya sebelum UFR t1 = waktu pelepasan beban


t2 = Waktu yang dibutuhkan agar governor bereaksi

memberikan reaksi.
Frekuensi
Frekuensi sistem dapat kembali kenilai Reaksi Governor

nominalnya.
Cat : pengaturan primer governor f (UFR)

membutuhkan waktu kira-kira 4 detik


(djiteng hal 268), pengaturan sekunder
dengan LFC, t > 6 detik (djiteng hal
287). t1 t2 Waktu

t1 = Waktu yang dibutuhkan agar governor bereaksi


t2 = waktu pelepasan beban
PENGARUH PENGURANGAN DAYA
PEMBANGKITAN TERHADAP df/dt
wtws Tm
Pada kondisi sinkron, daya pembangkitan tetap
= daya beban. Tidak terdapat selisih daya
yang menyebabkan timbulnya torsi untuk Te
percepatan/perlambatan
Semakin besar daya pembangkitan unit
yang terganggu, torsi perlambatan juga
semakin besar. wt
berkurang
Penurunan kecepatan dan frekuensi Tm

semakin cepat. T

Hubungan perubahan kecepatan dan Te

frekuensi :
df dw df 1 dw
2
dt dt dt 2 dt
PENGARUH KELEMBAMAN TERHADAP df/dt

Bagian-bagian yang berputar dari pembangkit (turbin dan


rotor) menyimpan energi kinetik.
Energi kinetik yang tersimpan tergantung dari dimensi
turbin/rotor (momen kelembaman (J ) Kg.m2)
Energi kinetik tersebut dapat diketahui dari data konstanta H
pembangkit :
Energi kinetik
H (detik)
Rating generator (MVA)
Nilainya berkisar antara 1 sd 9 detik (tergantung dari jenis, dimensi &
kecepatan putaran pembangkit (stevenson hal. 355)
Semakin besar jumlah w1(t)
momen kelembaman unit Tm
T
yang tidak terganggu, Te
semakin sulit mengalami
perubahan kecepatan. J1 (Kg.m2)

penurunan frekuensi
semakin lambat. w2(t)
Tm
T
J1 J2 Te

dw1 dw2

dt dt
J2 (Kg.m2)
df1 df2

dt dt
PERHITUNGAN KONSTANTA H SISTEM

Dua unit pembangkit,


pembangkit 1 : kapasitas 200 MVA, H = 2 detik
pembangkit 2 : kapasitas 300 MVA, H = 5 detik
Hitung H setiap pembangkit dan H sistem pada
dasar 1000 MVA
Energi kinetik
H (detik) H1
400 MJ
0,4 detik
Rating generator (MVA) 1000
EK1 400 MJ 1500 MJ
H2 1,5 detik
1000
EK 2 1500 MJ
1900 MJ
EK 1900 MJ Hsistem 1,9 detik
1000
Daya Daya beban
PENGARUH PERUBAHAN BEBAN (Pe)
Daya unit yang
tidak terganggu
AKIBAT PERUBAHAN FREKUENSI (D) (Pm)

TERHADAP df/dt
Daya peralatan yang mengandung motor Daya
perlambatan
listrik sangat dipengaruhi oleh frekuensi. (Pm-Pe)

Turunnya frekuensi menyebabkan daya


yang digunakan beban berkurang. 1 2 3 4 5 Waktu
0.5 0.3 0.2 0.1 0 Pm-Pe (perunit)

P 50 49,5 49 48,5 48 frekuensi


D (MW/Hz)
f Daya Daya beban
(Pe) Daya unit yang

D gbr bawah > gbr atas. tidak terganggu


(Pm)

Semakin besar D, pengurangan daya


perlambatan semakin cepat (daya Daya
perlambatan semakin teredam). perlambatan
(Pm-Pe)
Penurunan frekuensi akan semakin lambat.
Nilai D berkisar 1% sd 2 % (imam robandi) 1 2 3 Waktu
0.5 0.25 0 Pm-Pe (perunit)
50 49,7 49,4 frekuensi
Daya

Pe0
Pe Pe(t) Daya beban pada waktu t :
P
D (MW/Hz)
f

P Df

Pe Pe0 Pe Pe0 Df
t Waktu
ANALISIS DENGAN MODEL PERSAMAN
DIFFERENSIAL ORDE 1
Frekuensi dipengaruhi oleh kecepatan rotor. Persamaan yang
mengatur gerakan rotor didasarkan pada mekanika gerak putar :

dwm Ta Tm Te

dt J J

J : momen kelembaman rotor (Kg.m2)


wm : perubahan kecepatan mekanis
Ta : Momen putar percepatan (N.m)
Tm : Momen putar mekanis dari penggerak mula (N.m)
Te : Momen putar perlambatan (momen elektromagnetik) (N.m)

Untuk analisis, semua besaran mekanis perlu diubah berdasarkan


besaran listrik
Sebelum gangguan, daya mekanik sama dengan daya elektrik
(kondisi sinkron). Daya mekanik pada kecepatan sinkron :
P Twm( s )
Persamaan ayunan menjadi :
dwm Pm Pe

dt Jwms
Jwms : momentum sudut.
Koofisien tersebut tentukan berdasarkan data konstanta
kelembaman generator (H), yaitu :
1 Jwm( s )
2

H pu
2 Sbase

2HSbase
Jwms
wm( s )
dwm wms Pm Pe Daya elektrik (beban) :

dt 2H Sbase
Pe Pe0 Pe Pe0 Dfs
dwm wm( s )
Pm Pe
dt 2H Jadi :
(P dalam pu) dfs fs0
Pm Pe Dfs
dt 2H
dws ws
Pm Pe
dt 2H
dfs t Dfs0 fs0
fs t Pm Pe
dfs fs0 dt 2H 2H
Pm Pe
dt 2H
persamaan diffrensial orde 1
dy
ay b
dx

b b ax dy
y e be ax
a a dx

dfs t Dfs0 fs0


fs t Pm Pe
dt 2H 2H

f t
Pm Pe Pm Pe
e

Dfs 0
2H
t
s
D D
Kondisi mantap Kondisi peralihan

fs t fs t fs 0
ANALISIS DENGAN MODEL
SYSTEM FREQUENCY RESPONSE (SFR)
Pengaruh governor, turbin, jaringan dapat dianalisis
untuk memperoleh hasil yang lebih akurat (SFR model)
: Power system protection (PM Anderson) bab 20
Tetapi model pers. diff. orde 1 (exp) memberikan hasil
yang lebih aman (mengurangi resiko terburuk)
Contoh (djiteng marsudi hal 281)
Sebuah sistem terdiri dari beberapa unit pembangkit.
Kapasitas sistem 2000 MW. Konstanta H sistem 5 s
(dasar 2000 MVA). Kondisi beban sistem 1800 MW
dengan frekuensi 50 Hz.
Salah satu unit pembangkit mengalami gangguan.
Kapasitas unit tersebut 250 MW, dan saat terganggu
menyuplai daya 200 MW. Kontanta H unit tersebut 5
detik (atas dasar kapasitas pembangkit)
Pengaruh frekuensi terhadap daya beban (D) dianggap
1800 MW/50 Hz = 36 MW/Hz.
Hitung frekuensi sistem setelah 6 detik
Dasar 2000 MVA
Frekuensi sinkron awal (fs(0)) = 50 Hz
Beban (Pe) = 1800/2000 = 0,9 pu
Pembangkitan (Pm) = (1800-200)/2000 = 0.8 pu
D = 36/2000 = 0,018 pu
H sistem (awal) = 5
H sistem unit yang terganggu = 5 s (atas dasar 250 MW).
atas dasar 2000 MVA :
Ek = 250 x 5 = 1250 MJ,
H = 1250/2000 = 0,625 s
H sistem (tanpa unit yang terganggu) = 5 0.625 = 4.375 s

f t
Pm Pe
Pm Pe e

Df
2H
s 0
t
s
D D
fs t fs t fs 0

f = 50 + (0.8-0.9)/0.018 - (0.8-0.9)/0.018*exp(-0.018*50/(2*4.375)*6)
f = 47.44 Hz
% Djiteng hal 281
close;clear all;
dasar_daya =2000; fs0 = 50; H=5-0.625
Pm = 1600/dasar_daya
Pe = 1800/dasar_daya
D= 36/dasar_daya
t = [0:0.1:10] ;
perubahan_frekuensi = (Pm-Pe)/D - (Pm-Pe)/D * exp (-D*fs0/(2*H)*t)
frekuensi = perubahan_frekuensi + fs0
plot(t,frekuensi);legend 'Frekuensi ';grid on
UFR
UFR mendeteksi frekuensi untuk melepaskan
sebagian beban.
Pelepasan sebagian beban akan mengurangi
laju penurunan frekuensi sehingga waktu
untuk reaksi governor dapat tercapai dan
sistem bekerja pada rentang frekuensi yang
diijinkan.
Pelepasan beban dilakukan pada beban-beban
yang bukan beban vital.
Setelan UFR : setelan frekuensi dan time delay.
Contoh setelan UFR (djiteng marsudi) frekuensi
nominal 50 Hz, 3 step :
48 Hz, tanpa delay
48,5 Hz, delay 1 detik
49 Hz, delay 2 detik

Tahap, daya pelepasan beban, frekuensi dan


time delay disesuaikan dengan kondisi operasi
UFR minimal harus dapat melepaskan beban
sesuai dengan unit terbesar dalam sistem.
Jika selisih daya pembangkitan dan beban
tidak terlalu besar, ada kemungkinan frekuensi
dapat dipertahanakan pada rentang yang
diijinkan tanpa pelepasan beban
Batas frekuensi yang terlalu tinggi
memberikan resiko bahwa pelepasan beban
sesungguhnya tidak perlu dilakukan.
Batas frekuensi yang terlalu rendah
memberikan resiko pelepasan beban
terlambat dan bisa mengakibatkan gangguan
total.
Pada soal sebelumnya, berapa beban yang
harus dilepaskan agar frekuensi dapat dijaga
pada nilai 49,5 Hz jika pengaruh governor
diabaikan ?
f t
Pm Pe
s
D
0.5
0,8 Pe
0.018
Pe 0.8090
pelepasan beban 0,9 - 0,809 0.0910 pu 182 MW
Jika pengaturan oleh governor terjadi pada
detik ke 7, berapa beban yang harus
dilepaskan pada detik ke 3 agar pada detik ke
7 frekuensi tidak turun dibawah 48 Hz ?
Jika pada detik ke 7 governor bereaksi, berapa
daya yang harus ditambahkan agar frekuensi
kembali ke 50 Hz ?
PENYELESAIN NUMERIK DENGAN
MATLAB
dfs t Dfs0 fs0
fs t Pm Pe
dt 2H 2H

dfs t fs0 Dfs 0


Pm Pe fs t
dt 2H 2H

function df_dt = persamaan_differensial(t,delta_f)


global fs0 H Pm Pe Pe_1 D t1 t2 Pm_1
global pelepasan_beban penambahan_pembangkitan
if t <= t1 ; Pe = Pe_1 ; end
if t > t1 ; Pe = Pe_1 - pelepasan_beban ; end
if t <= t2 ; Pm=Pm_1 ; end
if t > t2 ; Pm=Pm_1 + penambahan_pembangkitan ; end
df_dt = [ fs0/(2*H)*(Pm -Pe) - D*fs0/(2*H) * delta_f];
close;clc;clear all
global fs0 H Pe_1 D t1 t2 Pm_1
global pelepasan_beban penambahan_pembangkitan
dasar_daya =2000;
fs0 = 50;
H=5-0.625
D= 36/dasar_daya
Pm_1 = 1600/dasar_daya
Pe_1 = 1800/dasar_daya
pelepasan_beban = 95/dasar_daya
penambahan_pembangkitan = 105/dasar_daya
t1 = 3 %waktu pelepasan beban
t2 = 7 %waktu penambahan pembangkitan
nilai_awal_delta_f =0
t = [0:0.001:60] ;
[t,delta_f] = ode45('persamaan_differensial', t,nilai_awal_delta_f);
plot(t,delta_f + 50);legend 'frekuensi';grid on
Jika pada soal sebelumnya dilakukan
pelepasan beban :
Detik ke 2 : 70 MW
Detik ke 3 : 60 MW
Detik ke 4 : 50 MW
Berapa frekuensi pada detik ke 7?
Jika aksi governor diabaikan, berapa frekuensi
sistem ?
function df_dt = persamaan_differensial(t,delta_f)
global fs0 H Pm Pe Pe_1 Pe_2 Pe_3 D dasar_daya t1 t2 t3
global pelepasan_beban_1 pelepasan_beban_2 pelepasan_beban_3
if t <= t1 ; Pe = Pe_1 ; end
if t > t1 ; Pe = Pe_1 - pelepasan_beban_1 ; end
if t > t2 ; Pe = Pe_1 - pelepasan_beban_1 - pelepasan_beban_2 ; end
if t > t3 ; Pe = Pe_1 - pelepasan_beban_1 - pelepasan_beban_2 - pelepasan_beban_3 ; end
df_dt = [ fs0/(2*H)*(Pm -Pe) - D*fs0/(2*H) * delta_f];
close;clc;clear all
global fs0 H Pm Pe Pe_1 Pe_2 Pe_3 D dasar_daya t1 t2 t3
global pelepasan_beban_1 pelepasan_beban_2 pelepasan_beban_3
dasar_daya =2000
fs0 = 50
H=5-0.625
Pm = 1600/dasar_daya
Pe_1 = 1800/dasar_daya
pelepasan_beban_1 = 70/dasar_daya
pelepasan_beban_2 = 60/dasar_daya
pelepasan_beban_3 = 50/dasar_daya
t1 = 2 %waktu pelepasan beban pertama
t2 = 3 %waktu pelepasan beban kedua
t3 = 4 %waktu pelepasan beban ketiga
D= 36/dasar_daya
nilai_awal_delta_f =0
t = [0:0.001:7] ;
[t,delta_f] = ode45('persamaan_differensial', t,nilai_awal_delta_f);
plot(t,delta_f + 50);legend 'frekuensi';grid on
LATIHAN (dibahas minggu depan jika
Stasiun 1 :
ada masalah)
Unit 1, H = 2 s kapasitas : 30 MVA
Unit 2, H = 3 s kapasitas : 50 MVA
Stasiun 2 :
Unit 3 H = 5 s kapasitas : 40 MVA
Unit 4 H = 5 s kapasitas : 40 MVA
Kondisi awal : beban = 120 MW, f = 50 Hz
unit 1 = 20 MW
Unit 2= 36 MW
Unit 3=32 MW
Unit 4=32 MW
Karakter beban : beban berkurang 2 MW jika frekuensi turun 1 Hz.
Unit 1 mengalami gangguan, berapa frekuensi sistem setelah 7 detik ?
Berapa frekuensi sistem dalam kondisi mantap jika tidak dilakukan pelepasan
beban ?
Berapa waktu yang dibutuhkan untuk reaksi governor agar frekuensi tidak turun
dibawah 49,5 Hz ?
PENGATURAN TEGANGAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JATUH TEGANGAN
Tegangan rel-rel pada jaringan harus dijaga agar berada pada batas-
batas normal pengoperasian.
Perubahan tegangan pada rel disebakan oleh jatuh tegangan pada
saluran, trafo dll
Semakin besar arus yang melewati saluran, jatuh tegangan semakin
besar.
Kuat arus dipengaruhi oleh daya aktif (P) dan daya reaktif (Q)
Jatuh tegangan oleh daya P dipengaruhi oleh resistansi (luas
penampang) penghantar.
Jatuh tegangan oleh daya Q dipengaruhi oleh reaktansi penghantar
(jarak antar penghantar). Reaktansi penghantar dapat diperkecil
dengan konfigurasi jarak penghantar yang lebih dekat, tetapi
dibatasi oleh kemampuan penghantar untuk menahan tegangan
(isolasi).
Jatuh tegangan dapat diperbaiki dengan menyalurkan daya pada
tegangan tinggi
VTT VTT
TT _
_22
TT _
_11

S2 PB jQB
P jQ PB P1 PR
S11 P11 jQ11 ITT ** V2 V1 V
S1 P1 jQ1
TT
VTT
TT QB Q1 QR
P11 jQ11
ITR P ** jQ1 PRR I2TT
2
ITR V1TR
TR TTR
TR *
VTR
QR I2TT X

V R jX ITT
PENGATURAN TEGANGAN
Karena perubahan beban maka diperlukan pengaturan
tegangan, melalui :
Pengaturan sadapan (tapping) tranformator, autotrafo
Pengaturan daya reaktif :
Eksitasi generator
Kapasitor
Fixed capasitors
Switched capasitors
Flexible AC Transmission Systems (FACTS) :
Paralel (shunt), seri, shunt & parelel
Static Compensator(STATCOM), Thyristor Controlled Series
Capacitors (TCSC), dll (handbook : Flexible AC Transmission
Systems (Xiao-Ping Zhang, Christian Rehtanz, Bikash Pal
SADAPAN (TAPPING) TRAFO
Akibat pengaruh beban yang selalu berubah-ubah, tegangan primer
trafo juga akan berubah-ubah.
Agar tegangan pada sisi beban trafo berada dalam batas yang
diijinkan, maka tapping trafo harus disesuaikan dengan tegangan
primer.
Tapping trafo dapat diubah secara manual (tanpa beban) atau
dalam keadaan berbeban dengan menggunakan On Load Tap
Changer (OLTC)
Pada jaringan radial : tegangan pada sisi sumber akan semakin kecil

TT
TR
Sebelum pengaturan tapping
Setelah pengaturan tapping
AUTOTRAFO
Autotrafo : trafo satu satu kumparan
Auto trafo digunakan jika kenaikan/penurunan
tegangan yang diinginkan tidak terlalu besar.
Jumlah lilitan dan kapasitas trafo akan lebih
kecil dibandingkan jika menggunakan trafo 2
kumparan.
N2
N2

V1 N1 V2 V1 N1 V2

V1 N1 N2 V1 N1 N2

V2 N1 V2 N1
PENURUN PENAIK
TEGANGAN TEGANGAN
PENGATURAN TEGANGAN MELALUI PENGATURAN
ARUS EKSITASI GENERATOR

Pada kondisi tanpa beban, tegangan terminal stator sama dengan


tegangan internal yang dibangkitkan oleh kumparan-kumparan
stator, yaitu :
E=CN
E : tegangan terminal tanpa beban
N : kecepatan putaran generator (rpm)
C : konstanta generator
: fluks yang dihasilkan oleh arus eksitasi
E

If /
KONDISI BERBEBAN (MEDAN PUTAR STATOR)
Arus stator (arus beban) juga menghasilkan fluks, yaitu jumlah fluks dari
setiap fasa.
Penjumlahan fluks tersebut menghasilkan fluks yang berputar disekeliling
stator dengan frekuensi sama dengan frekuensi sinkron.

Fluks tersebut akan berikatan dan mempengaruhi fluks yang dihasilkan


rotor (REKASI JANGKAR)
Gandengan fluks rotor (fluks utama) dengan fluks yang
dihasilkan stator, bisa semakin kuat atau semakin lemah.
Pengaruh fluks yang dihasilkan stator terhadap fluks utama
dikenal dengan REAKSI JANGKAR
Jika beban bersifat induktif, reaksi jangkar akan memperlemah
fluks utama sehingga tegangan terminal akan turun.
Jika beban bersifat kapasitif maka reaksi jangkar akan
memperkuat fluks utama dan tegangan terminal akan naik.
Reaksi Jangkar
(Pengaruh Beban Induktif)
Fluks arus eksitasi/fluks rotor
Tegangan akibat fluks rotor
Arus stator/beban
Fluks akibat arus beban
Resultan fluks

Tegangan oleh fluks resultan


(tegangan terminal)

Perubahan tegangan akibat


reaksi jangkar
Sudut beban (tertinggal) :
beban induktif
Bagaimana cara menaikkan tegangan terminal ?
Tambah arus eksitasi
Reaksi Jangkar
(Pengaruh Beban Kapasitif)
Fluks arus eksitasi/fluks rotor
Tegangan akibat fluks rotor
Arus stator/beban
Fluks akibat arus beban
Resultan fluks

Tegangan oleh fluks resultan


(tegangan terminal)

Perubahan tegangan akibat


reaksi jangkar
Sudut beban (tertinggal) :
beban induktif
Bagaimana cara menurunkan tegangan terminal ?
Kurangi arus eksitasi
V1 V2
V jX I

S PB jQB
S P jQ

V1 V2

S PB jQB
S P jQ

IF

Penyebab jatuh tegangan adalah daya reaktif saluran (reaktansi saluran)


sehingga daya reaktif yang dibutuhkan beban berkurang.
Sumber daya reaktif (eksitasi generator) berada jauh dari beban,
meningkatkan rugi daya.
Daya reaktif yang bisa diberikan generator dibatasi oleh arus rotor (arus
eksitasi)
PENGATURAN TEGANGAN DENGAN KOMPENSASI
SHUNT MENGGUNAKAN KAPASITOR
Daya reaktif beban disuplai dari kapasitor yang diletakkan
pada sisi beban, sehingga daya reaktif dari sumber
berkurang.
Kapasitor
Fixed capasitors
Switched capasitors
Jika jumlah kapasitor terbatas, lokasi dan ukuran kapasitor
harus dianalisis agar diperoleh hasil optimal.

S PB jQB
jQC
PENGATURAN TEGANGAN DENGAN
STATIC COMPENSATOR(STATCOM)
KEANDALAN SISTEM PEMBANGKIT
(LOLP)
Forced Outage Rate (FOR)
FOR adalah peluang suatu pembangklit tidak dapat beroperasi (unavailability
/ketidaktersediaan), diukur untuk masa satu tahun (8760 jam).
FOR dipengaruhi oleh jumlah gangguan dan waktu untuk perbaikan gangguan.

xMTTR
FOR
xMTTR 8760
: rata-rata jumlah gangguan per tahun
MTTR : rata-rata waktu perbaikan setiap gangguan

FOR tahunan untuk PLTA berkisar 1%, PLTG 7%, PLTU (minyak) 9%, PLTU (batubara)
10 %.
PROBABLITAS KETERSEDIAAN
(availability)
Peluang ketersediaan dianalisis berdasarkan nilai FOR
(ketidaktersediaan)
INGAT KEMBALI MATERI PROBABILITAS
PROBABLITAS KETERSEDIAAN
(availability)
Tiga unit pembangkit dengan FOR :
UNIT DAYA F.O.R.
1 500 0.01
2 1000 0.03
3 1000 0.02

Berapa kemungkinan cara pengoperasian pembangkit.


Berapa peluang setiap cara pengoperasian ?
Berapa daya total yang bisa disediakan dari setiap cara
pengoperasian pembangkit ?
KEMUNGKINAN CARA PENGOPERASIAN
NO Daya total PROBABILITAS
UNIT 1 UNIT 2 UNIT 3
Pembangkitan
1 1 1 1 2500 0.9410940
2 0 1 1 2000 0.0095060
3 1 0 1 1500 0.0291060
4 1 1 0 1500 0.0192060
5 0 0 1 1000 0.0002940
6 0 1 0 1000 0.0001940
7 1 0 0 500 0.0005940
8 0 0 0 0 0.0000060
1.0000000

Berapa peluang daya pembangkitan total = 1000


Cara pengoperasian 5 atau 6, peluangnya :
0.0002940 + 0.0001940 = 0.000488

Berapa peluang daya pembangkitan total : 1000


Cara pengoperasian 5/6, atau 7 atau 8,
peluangnya :
= 0.000488 + 0.0005940 + 0.0000060 =
0.001088
PROBABILITAS KOMULATIF
Dua kejadian yang tidak bisa terjadi bersamaan, maka peluang
terjadinya paling kurang (minimal) salah satu kejadian adalah
komulatif dari peluang kedua kejadian
Berapa peluang daya pembangkitan total :
1000
2500
KEMUNGKINAN PENGOPERASIAN
Daya Total PROBABILITAS
NO PROBABILITAS
Pembangkit UNIT 1 UNIT 2 UNIT 3 (KOMULATIF)

1 2500 1 1 1 0.9410940 1.0000000


2 2000 0 1 1 0.0095060 0.0589060
3 1 0 1 0.0291060
1500 0.0494000
4 1 1 0 0.0192060
5 0 0 1 0.0002940
1000 0.0010880
6 0 1 0 0.0001940
7 500 1 0 0 0.0005940 0.0006000
8 0 0 0 0 0.0000060 0.0000060
FREKUENSI HARAPAN
Kemungkinan banyak kali suatu kejadian
berlangsung = peluang x jumlah semua
kejadian
Dadu dilempar 100 kali, berapa jumlah
kejadian yang diharapkan untuk munculnya
mata dadu 4 ?
Dadu dilempar 100 kali, berapa jumlah
kejadian yang diharapkan untuk munculnya
mata dadu kurang dari 4 ?
LOLP
Terdapat kemungkinan unit-unit pembangkit tidak
dapat beroperasi sehingga daya pembangkitan total
tidak mampu melayani seluruh beban.
Angka yang menggambarkan jumlah hari unit-unit
pembangkit tidak mampu melayani sebagian beban
disebut "loss of load probability.
Untuk memperoleh nilai LOLP, dibutuhkan :
Peluang daya total pembangkitan daya beban
jumlah hari (jumlah seluruh kejadian) yang menunjukkan
lamanya beban berlangsung (kurva lama beban)
KURVA LAMA BEBAN
Kurva lama beban diperoleh dari kurva beban harian selama satu tahun.

Berapa jam daya beban lebih dari 250 MW berlangsung ?


Jika kapasitas pembangkitan 250 MW, berapa jam pemadaman sebagian beban
berlangsung?
LOLP = p x t

keterangan
p : probabilitas tersedianya daya pembangkitan sebesar c.
t : lamanya waktu (hari) dimana daya pembangkit an total kurang dari daya
beban
Berapa jumlah hari terjadi pemadaman pada sebagian beban karena daya
pembangkitan total 1000 ?

KURVA LAMA BEBAN


2500

BEBAN (kW) 2000

1500

1000

500

0
0 100 200 300 400
HARI

Daya beban diatas 1000 berlangsung selama 270 hari


Peluang daya pembangkitan 1000 : 0.0010880
Kemungkinan jumlah hari pemadaman akibat daya pembangkitan 1000 adalah
0.0010880 x 270 = 0.2938 hari
Karena peluang memperoleh daya total
pembangkitan dipengaruhi oleh kemungkinan
pengoperasian unit-unit pembangkit, maka
kemungkinan jumlah hari pemadaman adalah
komulatif dari setiap daya total pembangkitan.
LOLP yang dijadikan standar untuk menilai
keandalan sistem pembangkit adalah LOLP
komulatif.
Jawa : 1 hari/tahun, luar jawa 5 hari/tahun
Hitung keandalan sistem pembangkit pada soal sebelumnya jika kurva
lama beban :
KURVA LAMA BEBAN
2500

2000

BEBAN (kW)
1500

1000

500

0
0 100 200 300 400
HARI

KEMUNGKINAN PENGOPERASIAN Daya


Daya Total PROBABILITAS LOLP
NO PROBABILITAS Pembangkit
Pembangkit UNIT 1 UNIT 2 UNIT 3 (KOMULATIF) (HARI/TAHUN)
< BEBAN
1 2500 1 1 1 0.9410940 1.0000000 (hari/tahun)
0 0.0000
2 2000 0 1 1 0.0095060 0.0589060 0 0.0000
3 1 0 1 0.0291060
1500 0.0494000 100 4.9400
4 1 1 0 0.0192060
5 0 0 1 0.0002940
1000 0.0010880 270 0.2938
6 0 1 0 0.0001940
7 500 1 0 0 0.0005940 0.0006000 365 0.2190
8 0 0 0 0 0.0000060 0.0000060 365 0.0022
LOLP komulatif : 5.4550

Kemungkinan jumlah hari terjadi pemadaman beban dalam 1 tahun : 5,5 hari
LATIHAN
Sebuah sistem terdiri dari beberapa unit pembangkit. Kapasitas
sistem 2000 MW. Konstanta H sistem 5 s (dasar 2000 MVA). Kondisi
beban sistem 1800 MW dengan frekuensi 50 Hz. Salah satu unit
pembangkit mengalami gangguan. Kapasitas unit tersebut 300 MW,
dan saat terganggu menyuplai daya 250 MW. Kontanta H unit
tersebut 8 detik (atas dasar kapasitas pembangkit). Pengaruh
frekuensi terhadap daya beban (D) adalah = 70 MW/Hz.
Hitung frekuensi sistem setelah 5 detik.
berapa beban yang harus dilepaskan agar frekuensi dapat dijaga
pada nilai 49.5 Hz ?
Berapa waktu yang dibutuhkan untuk reaksi governor agar
frekuensi tidak turun dibawah 49,5 Hz ?
Faktor apa saja yang mempengaruhi besar beban yang akan
dilepaskan ?
DAYA
UNIT F.O.R.
(kW)
1 1500 0.15
2 1000 0.2
3 1000 0.2

3000

2500 2500
2250
2000

1500 1500 1400


1300

1000 1000
800

500

100
0
0 50 100 150 200 250 300 350 400

Hitung LOLP sistem tersebut ?


Jika ditambahkan sebuah unit pembangkit dengan nilai FOR 0.1, berapa
kapasitas unit tersebut agar LOLP sistem lebih kecil dari 1 hari/tahun ?
TAMAT