You are on page 1of 20

KELOMPOK 2A

Annida Putri Maharani


Annisa Nurfitriani K
Dimas D Dinnar
Firman Faizal
Fuzti Fauzia
Jayanti Dessy
Karunia Safitri
Naufal F M L
Ronaa Hammada
KASUS

Nama : Ny. L
No. RM : 163394
JK : Perempuan
Usia : 58 Tahun
TB/BB :-/-
Ruang : B1
Status :ASKES
MRS : 18 Februari 2016

Keadaan umum : mual, perut perih disertai rasa terbakar


Diagnosa : gastritis akut, kolelitiasis
RPD : Diabetes Mellitus 16 tahun, Hipertensi 5
tahun
Riwayat Pengobatan : irbesartan, amlodipin HT; glucodex,
insulin novomix, glucobay, glibenklamid,
jamu DM
Alergi Obat : tidak ada
Parameter 18/2

TD (mmHG) 130/90

Nadi (x/menit) 80

T (C) 36

Pemeriksaan Laboratorium

Hasil Urea Breath Test (UBT): (+)

Batu empedu ukuran 1,5 cm, (+)CBD CBD: commont bile duct (batu
empedu
pada kantung empedukolelitiasis).

Parameter Nilai Normal 12/2/14 18/2/14

WBC 4,0-11,0 9,4

Creat 0,5-1,5 1,0

BUN 10-24 53
SOAP
Subjektive Objektive Assesment Plan
Mual, perut perih disertai 1) Hasil Urea Breath Test Gastritis akut et causa H.pylori 1) Lansoprazole

rasa terbakar (UBT): (+) Kerja : menghambat pompa


proton
Dosis : 30 mg, 3x1 pagi hari
sebelum makan selama 8 minggu
Efek samping : Sakit kepala,
diare, ruam, gatal-gatal, pusing,
urtikaria, mual, muntah,
konstipasi, kembung, nyeri
abdomen, lesu, nyeri otot dan
sendi, pandangan kabur, edema
perifer, perubahan hematologic
Monitoring : hati
Interaksi obat : kontrasepsi oral
dan preparat seperti fenitoin,
2) Amoksisilin
Kerja : antibiotika dari penisilin
semisintetik yang stabil dalam
suasana asam, kerja bakterisida
Dosis : Oral 3 dd 375-1000mg
Kontraindikasi :
hipersensitivitas penisislin dan
turunannya.
Efek samping : Diare , Sakit
perut, Muntah , Ruam kulit
ringan
Monitoring : hepar dan ginjal
Interaksi obat : Allupurinol,
Antibakterial, Antikoagulan,
Citotoksik, Estrogen,
Sulfinpirazone.
3) Tetrasiklin
Kerja :
Absorpsi sebagian besar
berlangsung di lambung dan usus
halus bagian atas,
Monitoring : hepar
Dosis : Corsamycin
250-500mg tiap 6 jam selama 5-
10 hari
Penggunaan Obat :
Berikan pada saat perut kosong 1
jam sebelum atau 2 jam sesudah
makan.
Kontra Indikasi :
Hipersensitif, gangguan ginjal.
Hamil, anak < 7 tahun.
Efek samping :
Gangguan GI, gatal di anus dan
vulva. Perubahan warna gigi dan
hipoplasia pada anak, hambatan
pertumbuhan tulang sementara.
Mual, perut perih disertai Batu empedu ukuran 1,5 cm, Koletiasis Ursodeoxycholoc acid
rasa terbakar Kerja : Menghambat sekresi
(+)CBD
kolesterol oleh empedu dan
mengurangi absorpsi kolesterol oleh
usus halus
Peringatan : wanita hamil, anak-anak,
gangguan hati dan usus
Interaksi : Kolestiramin atau Al(OH)3
Kontraindikasi : Batu radio-opak,
batu kolesterol yang mengalami
kalsifikasi, batu radiolusen, pigmen
empedu; kolesistitis akut yang tidak
mengalami remisi
Efek samping : Mual, muntah, diare,
kalsifikasi batu empedu; pruritus, ruam
kulit, kulit kering, keringat dingin,
rambut rontok, gangguan pencernaan
makanan, rasa logam, nyeri abdominal
Dosis : 8-12 mg/kg bb sehari dalam
dosis tunggal menjelang tidur atau
dalam 2 dosis terbagi sampai selama 2
tahun, obat diminum bersama dengan
susu atau makanan. sebagai profilaksis
dilanjutkan selama 3-4 bulan setelah
batunya melarut
Riwayat hipertensi 5 tahun TD = 130/90 mmHg Hipertensi terkontrol irbesartan, amlodipin (
lanjutkan pengobatan )

Riwayat diabetes militus 16 Diabetes militus terkontol glucodex, insulin novomix,


tahun glucobay, glibenklamid,
jamu (lanjutkan pengobatan)

BUN 53 Disfungsi ginjal Hindari obat yang melibatkan


fungsi atau kerja ginjal
PEMBAHASAN
1. Lansoprazol
Mekanisme
Lansoprazol merupakan obat golongan Penghambat Pompa Proton (PPI) dengan mekanisme kerja menghambat asam
lambung dengan cara menghambat sistem enzim adenosine trifosfat hydrogen-kalium (pompa proton) dari sel parietal
lambung. Obat-obat senyawa tersebut merupakan obat pilihan bagi esofagus erosif, derajat yang lebih ringan biasanya
memberikan respon terhadap perubahan gaya hidup.
Farmakokinetik :
Lansoprazole dengan cepat diserap, dengan konsentrasi maksimum rata-rata yang terjadi sekitar 17 jam setelahdosis oral.
Lansoprazole 97% terikat pada protein plasma,dimetabolisme di hati dan diekskresikan dalam urin. Antagonis reseptor H2,
antasida atau stimulant motilitas.
Dosis
Tukak lambung, 30 mg sehari pada pagi hari selama 8 minggu
Tukak duodenum, 30 mg sehari pada pagi selama 4 minggu ; pemeliharaan 15 mg sehari. Tukak duodenum atau gastritis
karena H.pylori menggunakan regimen eradikasi.
Refluks gastroesofagus, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya
sembuh; pemeliharaan 15-30 mg sehari pada pagi hari selama 2-4 minggu.
Anak-anak tidak dianjurkan.
Indikasi
Tukak lambung dan tukak duodenum, tukak duodenum karena H.pylori, refluks gastroesofagus,dyspepsia karena asam
lambung.
Kontraindikasi
Hipersensitivitas
Efek Samping
Sakit kepala, diare, ruam, gatal-gatal, pusing, urtikaria, mual, muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,
nyeri otot dan sendi, pandangan kabur, edema perifer, perubahan hematologik (termasuk eosinofilia,
trombositopenia, leucopenia, perubahan fungsi hati juga dilaporkan, depresi dan mulut kering.
Interaksi Obat
Lansoprazole dimetabolisme di hati, oleh sebab itu ada kemungkinan interaksi dengan obat-obat yang
dimetabolisme di hati. Terutama harus hati-hati bila diberikan bersama-sama dengan obat-obat kontrasepsi oral
dan preparat seperti fenitoin, teofilin dan warfarin.
Antasida dan sukralfat akan mengurangi bioavailabilitas lansoprazole dan jangan diberikan antara satu jam
setelah makan lansoprazole.
Hubungan umur pasien dengan obat
Orang tua : Tidak perlu penyesuaian dosis. Dosis 1 kali sehari 30 mg.
Anak-anak : Tidak ada pengalaman pemberian lansoprazole pada anak-anak.
Aturan pemakaian obat
Lansoprazole diberikan 1 kali sehari. Untuk mencapai efek penghambatan asam yang optimal dan kesembuhan yang
cepat dan hilangnya gejala-gejala, lansoprazole sebaiknya diberikan pagi hari sebelum makan.
Lama penggunaan obat untuk terapi
Pengobatan jangka panjang dengan lansoprazole tidak dianjurkan pada saat ini karena pengalaman klinis terbatas.
2. Amoxicillin (Antibiotik)

Mekanisme:

Setelah diabsorpsi amoksisilin didistribusikan ke berbagai jaringan tubuh. Kadar terapi dalam jaringan-jaringan seperti cairan sendi,
pleural, pericardium dan empedu. Dalam jumlah kecil ditemukan dalam sekresi prostate, jaringan otak, dan cairan intraokuler.

Amoksisilin adalah derivat-hidroksi (1972) dengan aktivitas sama dengan ampisilin. Tetapi resorbsinya lebih lengkap dan pesat dengan
kadar darah dua kali lipat. Waktu paruhya 1-2 jam. Persentasi pengikatan pada protein jauh lebih ringan daripada pen-G dan pen-V.
Difusinya ke jaringan dan cairan tubuh lebih baik, antara lain ke dalam air liur pasien bronchitis kronis. Kadar bentuk aktifnya dalam kemih
jauh lebih tinggi daripada ampisilin (ca 70%) hingga lebih banyak digunakan pada infeksi saluran kemih. Efek samping. Gangguan
lambung usus dan rash lebih jarang terjadi (Tjay dan Kirana, 2002). Amoksisilin merupakan antibiotika dari penisilin semisintetik yang
stabil dalam suasana asam, kerja bakterisida, atau pembunuh bakterinya seperti ampisilin.

Amoksisilin diabsorbsi dengan cepat dan baik di saluran pencernaan, tidak tergantung adanya makanan dalam lambung dan setelah 1 jam
konsentrasinya dalam darah sangat tinggi sehingga efektivitasnya tinggi. Amoksisilin diekskresikan atau dibuang terutama melalui ginjal,
dalam air kemih terdapat dalam bentuk aktif. Amoksisilin sangat efektif terhadap organisme gram positif dan gram negatif. Penggunaan
amoksisilin seringkali dikombinasikan dengan asam klavulanat untuk meningkatkan potensi dalam membunuh bakteri.

Dosis :

Oral 3 dd 375-1000mg, anak-anak < 10 tahun 3 dd 10 mg/kg, 3-10 tahun 3 dd 250 mg, 1-3 tahun 3 dd 125 mg, 0-1 tahun 3 dd 100 mg. juga
diberikan secara i.m./i/v.
Indikasi:

Infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positip dan gram negatip yang peka terhadap Amoxicillin, seperti infeksi pada saluran
pernapasan bagian atas, otitis media, bronchitis akutdan kronik, pneumonia cystitis, urethris, pyelonephritis, gonorhea yang tidak
terkomplikasi,infeksi kulit dan jaringan lunak.

Kontraindikasi:

Penderita yang hipersensitif terhadap Penicillin dan turunannya. Bayi baru lahir dimana ibunya hipersensitif terhadap Penicillin atau
turunannya.-Jangan digunakan untuk pengobatan meningitis atau infeksi pada tulang sendi karena Amoxicillin oral tidak menembus ke

dalam cairan cerebrospinal atau sinovial.


:

Interaksi obat : Allupurinol Meningkatkan risiko ruam saat amoxicillin atau ampicillin
diberikan bersama allupurinol

Antibakterial Absorbsi phenoxymetilpenicilin berkurang oleh neomycin

Antikoagulan INR dapat terganggu dengan pemberian penisilin spectrum luas seperti
ampicillin, meskipun studi gagal menunjukkan interaksi dengan coumarin
atau phenindione

Citotoksik Penisilin mengurangi pengeluaran metotrexate (meningkatkan risiko


toksisitas)

Probenesid Pengeluaran/ekskresi penisilin dikurangi oleh probenesid (risiko kecil)

Citotoksik Mungkin mengurangi efek kontrasepsi dari estrogen

Sulfinpirazone Pengeluaran penisilin dikurangi oleh sulfinpirazon


Hubungan umur dengan obat
Untuk pasien dewasa, dosis therapi untuk Amoxicillin pada adalah 250 mg setiap 8 jam, 500 mg setiap 8 jam, 500 mg
setiap 12 jam, terggantung dari derajat keparahan dari penyakit yang di derita.
Lama penggunaan untuk terapi
Tergantung pada jenis dan tingkat kegawatan dari infeksinya, juga tergantung pada respon klinis dan respon bakteri
patogen. Sebagai contoh untuk bakteri yang persisten, obat ini digunakan selama beberapa minggu. Jika amoksisilin
digunakan untuk penanganan infeksi yang disebabkan oleh grup A streptococcus hemoliticus, terapi digunakan kurang
dari 10 hari guna menurunkan potensi terjadinya demam reumatik dan glomerulonephritis.
Jika amoksisilin digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih maka kemungkinan bisa lebih lama, bahkan beberapa
bulan setelah menjalani terapipun, tetap direkomendasikan untuk diberikan.
3). Tetrasiklin

Farmakokinetik

Absorbsi

Kira-kira 30-80% tetrasklin diserap lewat saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di

lambung dan usus halus bagian atas. Berbagai faktor dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam lambung (kecuali doksisiklin

dan monosiklin), pH tinggi, pembentukan kelat (kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca2+, Mg2+, Fe2+, Al3+, yang terdapat

dalam susu dan antasid). Oleh sebab itu sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan.

Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorbsinya dari sediaan tetrasiklin biasa

Distribusi

Dalam plasma serum jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi. Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan

oksitetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar 2,0-2,5 g/ml.

Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh diberikan pada gagal ginjal. Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar

golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dalam

jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati, limpa dan sumsum tulang, serta di dentin dan email gigi yang

belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri, dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin

lainnya, daya penetrasi doksisiklin dan minosiklin ke jaringan lebih baik


Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati. Doksisiklin dan minosiklin mengalami metabolisme di hati yang
cukup berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55%
golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar
10 kali kadar serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik; maka
obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau
gangguan faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.
Antibiotik golongan tetrasiklin yang diberi per oral dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan sifat farmakokinetiknya, yaitu :
Tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa paruh 6-12 jam.
Demetilklortetrasiklin. Absorpsinya lebih baik dari masa paruhnya kira-kira 16 jam sehingga cukup diberikan 150mg per oral
tiap 6 jam.
Doksisiklin dan minosiklin. Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17-20 jam. Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1
atau 2 kali 100 mg sehari
Farmakodinamik

Golongan tetrasiklin menghambat sintesisprotein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya
anti biotik ke dalam ribosom bakteri gram negative, pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui sistem
transport aktif. Setelah masuk anti biotik berikatan secara revarsible dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan tRNA amino
asil pada kompleks mRNA ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang tumbuh dan berakibat
terhentinya sintesis protein (1)
Interaksi

Golongan tetrasiklin dengan antasida, tetrasiklin dengan garam bismuth, tetrasiklin dengan
cholestyramine atau colestipol, tetrasiklin dengan pengalkali urin, tetrasiklin dengan anti
koagulan oral, tetrasiklin dengan kontrasepsi oral, tetrasiklin denga digoxin
Dosis
Corsamycin 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari

Penggunaan obat
Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.

Kontraindikasi
Hipersensitif, gangguan ginjal. Hamil, anak < 7 tahun.
4. Ursodeoxycholoc acid
Mekanisme:
Menghambat sekresi kolesterol oleh empedu dan mengurangi absorpsi kolesterol oleh usus halus, serta di gunakan untuk
menghancurkan batu kolesterol pada pasien yang memiliki kandung empedu yang berfugsi normal . juga akan
meningkantakan sekresi empedu oleh hati dan memperbaiki pengosongan kandung empedu . UDCA dapat di gunakan
hingga 2 tahundan selanjutnya 3-4bulan sesudah batu empedu menghilang.
Namun deikian batu empedu tidak semuanya hancur sehingga dapat menimbulkan kekambuhan 1-1,5 tahun berikutnya.
UDCA dapat memiliki efek samping minimal, kurang menyebabkan diare dan tidak meningkatkan kolesterol serta tidak
menyebabkan toksisitas pada hepar.
Indikasi:
Pelarutan batu empedu, sirosis empedu primer.
Peringatan:
Bagi wanita yang sedang hamil atau menyusui disarankan untuk tidak mengonsumsi asam ursodeoksikolat kecuali
disarankan oleh dokter sebagai tindakan yang perlu dilakukan. Asam ursodeoksilat tidak direkomendasikan untuk
diberikan kepada anak-anak.
Harap berhati-hati bagi penderita gangguan hati, penyakit yang berhubungan dengan usus (misalnya penyakit Crohns dan
kolitis ullseratif), dan penyakit yang berhubungan dengan kandung empedu selain penyakit batu empedu.
Harap berhati-hati juga bagi orang yang pernah menjalani prosedur operasi pada usus.
Konsultasikan kepada dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat apa pun, terutama obat-obataan golongan pengganti
hormon dan kontrasepsi. Jangan menggunakan asam ursodeoksikolat bersamaan dengan obat-obatan lainnya tanpa
petunjuk dari dokter. Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan efek samping yang merugikan. Jika terjadi reaksi alergi
atau overdosis, segera temui dokter.
Interaksi:
Kolestiramin atau Al(OH)3 memblok absorpsi asam ursodeoksikolat.
Kontraindikasi:
Batu radio-opak, batu kolesterol yang mengalami kalsifikasi, batu radiolusen, pigmen empedu; kolesistitis akut yang tidak
mengalami remisi, kolangitis, obstruksi biliar batu pankreas atau fistula biliar gastrointestinal; kehamilankandung empedu
tidak berfungsi; penyakit radang dan kondisi lain dari usus halus; kolon yang menganggu sirkulasi enterohepatik garam-
garam empedu; penderita dengan kalsifikasi batu empedu
Efek Samping:
Mual, muntah, diare, kalsifikasi batu empedu; pruritus, ruam kulit, kulit kering, keringat dingin, rambut rontok, gangguan
pencernaan makanan, rasa logam, nyeri abdominal, kolesistitis, konstipasi, stomatitis, flatulen, pusing, lelah, ansietas,
depresi, gangguan tidur, atralgia, mialgia, nyeri punggung, batuk, rinitis.
Dosis:
Pelarutan batu empedu, 8-12 mg/kg bb sehari dalam dosis tunggal menjelang tidur atau dalam 2 dosis terbagi sampai
selama 2 tahun, obat diminum bersama dengan susu atau makanan; pengobatan dilanjutkan selama 3-4 bulan setelah
batunya melarut.Sirosis empedu primer: 10-15 mg/kg bb sehari dalam 2-4 dosis terbagi. Pemutusan pemberian asam
ursodeoksikolat selama 4 minggu berarti pengobatan harus dimulai lagi dari awal.
GUIDLINE TERAPI

..\Downloads\Helicobacter_guidance_update_post_Maastricht_IV_24_10.pdf
..\Downloads\Kolesistisis.pdf
..\Downloads\661.pdf
TERIMA KASIH