You are on page 1of 19

dr. Ajutor Donny T, SpAn.

EVALUASI PRABEDAH (PREOP-


VISIT)
 Dilakukan sehari sebelum operasi untuk kasus-kasus
elektif atau beberapa jam sebelum operasi untuk kasus
emergency.
 Penting untuk mengetahui kondisi fisik, psikis serta
perubahan-perubahan biokimia yang terjadi pada
penderita yang diberi anestesi dan menjalani operasi.
Ada empat hal yang perlu dievaluasi saat kunjungan preop
1. Surgical disease : penyakit yang menyebabkan penderita
dioperasi.
2. Internal disease : penyakit-penyakit lain yang menyertai
surgical disease-nya misalnya penderita dengan hernia
tetapi juga menderita kencing manis atau iskemia
jantung
3. Kesulitan pemberian anestesi : mis. Kesulitan intubasi
pada waktu pemberian anestesi umum atau kesulitan
penyuntikan pada analgesia regional
4. Komplikasi anestesi yang mungkin terjadi baik selama
maupun setelah operasi.
Pemeriksaan prabedah meliputi
a. Anamnesis :
• Identifikasi pasien : nama, jenis kelamin, umur, berat
badan, alamat, pekerjaan, dll
• Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita
(asma bronkiale, DM, hipertensi dll)
• Riwayat alergi terhadap obat-obatan atau makanan
(alergi penisilin, anestesi lokal atau NSAID)
• Riwayat obat-obatan yang sedang atau telah
digunakan yang mungkin menimbulkan interaksi
dengan obat anestesi mis : kortikosteroid,
antihipertensi, antidiabetik, antibiotik dll
• Riwayat operasi & anestesi yg pernah dialami sebelumnya.
Apakah ada riwayat kesulitan atau komplikasi pemberian
anestesi sebelumnya terutama riwayat MH (Malignant
Hyperthermia) berupa hipertermia yang timbul akibat
pemberian anestetik (halotan, suksinil-kolin dll). Penderita
dewasa tidak boleh mendapat halotan 2 kali dalam 3 bulan.
• Kebiasaan sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi
anestesi :
1. Perokok berat ( > 20 batang / hari) dapat mempersulit
induksi anestesi karena mudah batuk dan sekresi jalan
napas yang banyak. Rokok sebaiknya dihentikan 24 jam
sebelumnya untuk menghindari adanya gas CO dalam
darah.
2. Peminum alkohol, umumnya resisten terhadap obat-obat
anestesi khususnya golongan barbiturat.
b. Evaluasi Keadaan Umum Penderita
• Keadaan fisik : status gizi (malnutrisi / obesitas)
• Keadaan psikis : gelisah, takut, depresi, kesakitan
• Tanda-tanda penyakit saluran napas : batuk-batuk,
sputum kental atau encer, sesak napas, wheezing,
hemoptisis dll
• Tanda-tanda penyakit jantung & kardiovaskuler :
hipertensi, aritmia, dispnue atau ortopnue, sianosis,
clubbing finger, nyeri dada, edema tungkai dll
• Kelainan gastrointestinal : mual, muntah, diare,
hematomesis, melena, ileus obstruksi dll
• Kelainan hepatobilier : ikterus obstruktiva dan
hepatitis
• Kelainan urogenital : gagal ginjal kronik
• Kelainan endokrin : DM, Basedow dll
• Kelainan neuromuskuler : hemiparesis, paralisis,
neuropati dll
• Kelainan hematologi : anemia, bleeding tendency, dll
c. Riwayat Keluarga
Apakah ada penyakit-penyakit tertentu dalam
lingkungan misalnya malignant hyperthermia,
kematian karena serangan jantung, apopleksia dll
d. Pemeriksaan Fisis
• Tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, frekuensi napas,
suhu tibuh, dan nyeri.
• Pemeriksaan paru-paru : apakah bunyi napas simetris dan
vesikuler atau ada ronkhi, wheezing atau rales
• Pemeriksaan jantung : apa bunyi jantung murni atau ada
bising (murmur)
• Pemeriksaan abdomen : apakah flat atau extended, defanse
lokal atau general, periltastik usus normal, meninggi atau
melemah.
• Pemeriksaan organomegali : hepatomegali, splenomegali
dll
• Kelainan tulang belakang : skoliosis, kifosis, atau lordosis
• Pemeriksaan mulut : Kemampuan buka mulut, gigi geligi
yang goyang atau gigi palsu
e. Pemeriksaan Laboratorium
• Darah :
- Rutin
- Faal pembekuan darah
- Gula darah
- Faal hati
- Faal ginjal
• Urine : rutin
f. Pemeriksaan Tambahan, jika diperlukan
• Pemeriksaan faal paru : untuk mengetahui kapasitas
vital paru serta ada atau tidaknya obstruksi atau
retriksi paru.
• Foto toraks : untuk mengetahu ada tidaknya
pneumotoraks, emfisema paru, bronkoektasis, posisi
trakea dll
• Pemeriksaan EKG, pada umur di atas 40 tahun atau
bila ada indikasi
• Elektolit (Na, K, Cl) serta gas darah
• Untuk menghindari kesulitan intubasi perlu dilakukan
identifikasi pasien yang berpotensi terjadi kesulitan
intubasi dengan melakukan tes Mallampati.
• Pasien posisi duduk membuka mulut semaksimal
mungkin disertai lidah dijulurkan. Pada saat itu kita
melihat daerah faring bagian posterior. Bila bagian
posterior tidak terlihat kemungkinan akan terjadi
kesulitan intubasi.
Di samping itu pada pasien yang akan diintubasi dilakukan
“cek 8 T”
• T1 = Teeth = Gigi
Apakah gigi atas mengalami penonjolan, goyang, atau
memakai gigi palsu ? Gigi yang menonjol atau goyang
mudah terlepas pada pemasangan ETT. Gigi palsu jika
fiksasinya baik tidak perlu dikeluarkan
• T2 = Tongue = Lidah
Apakah lidah besar? Lidah yang besar dapat menyulitkan
tindakan intubasi
• T3 = Temporomandibular joint
Apakah sendi temporomandibular mengalami kekakuan?
Sehingga pasien sukar membuka mulut(trimus). Jika
penderita tidak mampu buka mulut lebih lebar dari 2 jari
(5 cm) berarti akan ada kesulitan intubasi
• T4 = Tonsil
Apakah ada hipertrofi tonsilyang dapat menyulitkan jalan
napas.
• T5 = Torticollis
Apakah ada torticollis yang dapat menyulitkan dalam
proses fleksi dan ekstensi kepala
• T6 = Thyroid Notch
Apakah jarak antara tiroid dengan simfisis
mandibulakurang dari 3 jari dengan ekstensi kepala
maksimal (7 cm). Jika kurang akan menulitkan intubasi.
• T7 = Trakhea
Apakah trakhea mengalami deviasi yang biasanya
disebabkan adanya tumor di leher.
• T8 = Tumor
Apakah ada tumor atau polip dalam faring atau laring
g. Penentuan Status Fisik (Phisical State = PS) pasien
Dibagi dalm 6 kelompok :
• PS 1 : Tidak ada gangguan organik, biokimia maupun psikiatri (pasien
dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi). Proses patologis
yang akan dilakukan operasi terbatas lokasinya dan tidak akan
menyebabkan gangguan sistemik.
- Dewasa muda sehat akan menjalani operasi hernia ingunalis
- Wanita muda sehat dengan mioma uteri akan dilakukan miomektomi
• PS2 : Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai sedang :
- Pasien jantung organik tanpa pembatasan aktifitas atau pembatasan
ringan direncanakan operasi hernia
- DM ringan direncanakan appendectomy
- Hipertensi terkontrol
- Leukositosis
- Anemia
- Umur ekstrim (neonatus/geriatri) tanpa penyakit sistemik
- obesitas
• PS3 : Pasien dengan gangguan sistemik berat misalnya
- DM berat
- Penyakit jantung : Angina pektoris, post miokarditis
• PS4 : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang secara
langsung membahayakan jiwanya
- Dekompensasi kordis
- Gangguan paru berat
- Gagal ginjal
- Sirosis hepatis
• PS5 : Pasien dengan keadaan terminal dengan kemungkinan
hidup kecil sekali
- Trauma kapitis yang berat
- Emboli paru masif
- Aneurisma abdominalis yang pecah
• PS6 : Pasien stadium terminal (mati batang otak) yang akan
melakukan donor organ
Operasi darurat : Setiap pasien dari masing-masing
kelas di atas jika mengalami pembedahan darurat
dipertimbangkan menjadi dalam kondisi fisik yang
jelek. Dibelakang angka yang menunjukkan kelasnya
ditulis huruf E (Emergency)
Penundaan Operasi Karena Alasan Klinis :
• Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas
Sekret hidung, demam, & pemeriksaan fisik toraks
menunjukkan adanya kelainan akibat ISPA
pembedahan elektif harus ditunda
• Penyakit tidak terkontrol yang ada sebelumnya &
terapi obat-obatan
Pasien yg menderita penyakit lain yang tidak
terkontrol dgn baik yg kemungkinan memberikan
hasil buruk setelah anestesi, untuk pembedahan
elektif harus ditunda sampai mendaoatkan
jawaban/saran dari dokter ahli lain yang sesuai dgn
bidangnya. Hal yg sama pada pasien yang sedang
menjalani terapi
• Resusitasi yang tidak adekuat pada pembedahan darurat
Penundaan ditunda dalam 1-2 jam untuk menghasilkan
keadaan sirkulasi yang lebih baik. Hal ini perlu
diperhatikan, apalagi bila perdarahan sangat ekstensif &
berlangsung terus-menerus.
• Pasien makan/minum beberapa saat sebelum operasi
Untuk operasi elektif pasien dipuasakan paling kurang 6
jan untuk makanan padat & minimal 2 jam untuk clear
fluid dgn jumlah yang tidak banyak.
• Pasien belum memberikan inform consent
Semua pasien dewasa yg dianggap mampu wajib
memberikan persetujuan untuk tindakan anestesi atau
pembedahan. Bila ada keraguan atau pasien belum
memberikan persetujuan, maka operasi ditunda utk
sementara sampai mendapatkan izin dari pasien atau
keluarga.