You are on page 1of 16

FARMAKOLOGI HIPERTENSI NINDIA ATSILAH

1610211059
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan umum hipertensi mengacu pada JNC VIII 2013. Pengelolaan lipid
agresif dan pemberian aspirin sangat bermanfaat
Pasien hipertensi pasca infark jantung  sangat mendapat manfaat dlm
pengobatan dg beta blocker, ACE inhibitor dan antialdosteron
Pasien hipertensi dengan risiko PJK yg tinggi  pengobatan diuretik, beta blocker
dan kalsium inhibitor
Pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ventrikel  pengobatan diuretik,
ACE/ARB inhibitor, beta blocker dan antagonis aldosteron
Bila pasien sdh pd tahap gagal jantung hipertensi  pengobatan diuretik, ACE/ARB
inhibitor, beta blocker dan antialdosteron
FARMAKOLOGI DIURETIK
Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah
dan cairan ekstraseluler. Akibatnya, terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah
Selain itu, beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifer sehingga menambah efek
hipotensinya
Efek ini diduga akibat penurunan natrium di ruang interstisial dan didalam sel otot polos pembuluh
darah yang selanjutnya menghambat influx kalsium.
DIURETIK
A. Golongan Tiazid (Hidroklorotiazid)

Mekanisme Kerja: mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan
tahanan vaskuler menurun. Dan menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam ginjal. Hilangnya K+,
Na+ dan Cl- menyebabkan peningkatan pengeluaran urin 3x >>
Farmakokinetik: diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna. Didistribusi keseluruh ruang ekstrasel dan hanya
ditimbun dalam jaringan ginjal
Indikasi: digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal jantung, chirosis hati, gagal ginjal kronik dan
hipertensi.
LOOP DIURETIK

FUROSEMID
Sediaan obat: Tablet, kapsul, injeksi
Mekanisme kerja: bekerja di ansa henle asenden bagian epitel tebal dengan cara
menghambat kotransport Na+, K+, Cl- dan menghambat reabsorpsi air dan elektrolit.
Indikasi: diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR (glomerulus filtration rate) rendah
dan kedaruratan hipertensi. Juga edema untuk mengeluarkan banyak cairan seperti pada
edema paru akut yang disebabkan CHF
ANTAGONIS ALDOSTERON

SPIRONOLAKTON (Aldactone)
Mekanisme Kerja: antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+) . Secara
langsung meningkatkan ekskresi Na+ dan menurunkan sekresi K+ dalam tubulus kontortus
distal
Indikasi: digunakan dengan tiazid untuk edema (pada CHF), sirosis, dan sindrom nefrotik.
Juga untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldosteronisme
DIURETIK HEMAT KALIUM

AMILORIDE
Mekanisme kerja: secara langsung meningkatkan ekskresi Na+ dan menurunkan
sekresi K+ dalam tubulus kontortus distal
Indikasi: digunakan bersama diuretik lain, karena efek hemat K+ mengurangi efek
hipokalemik
BETA BLOCKER

ATENOLOL
Golongan ini merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan TD bekerja dengan melalui proses memperlamat
kerja jantung dan vasodilatasi
Mekanisme kerja: (1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung,
(2) hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan produksi angiotensin II, (3) efek sentral
yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis; perubahan sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adregenik
perifer dan peningkatan biosintesis protasiklin.
Indikasi: Hipertensi ringan-sedang, aritmia
ALFA BLOCKER

PRAZOSIN
Mekanisme kerja: Hambatan reseptor alfa-1 menyebabkan (1) vasodilatasi di arteriol dan venula sehingga
menurunkan resistensi perifer. (2) venodilatasi yang menyebabkan aliran balik vena berkurang yang selanjutnya
menurunkan curah jantung
Indikasi: hipertensi, bersama dengan diuretik
Efek samping: (1) Hipotensi ortostatik pada pemberian dosis pertama (fenomena dosis pertama) dengan gejala
berupa pusing sampai sinkop. (2) Efek samping lain berupa sakit kepala, palpitasi, edema perifer, mual, dll
ADRENOLITIK SENTRAL
METHYLDOPA
Mekanisme kerja: efek antihipertensi disebabkan karena stimulasi reseptor alfa-2
di sentral sehingga mengurangi sinyal simpatis ke perifer. menurunkan resistensi
vaskular (vasodilatasi) tanpa banyak mempengaruhi frekuensi dan curah jantung
Indikasi: hipertensi (efektif bila dikombinasi dengan diuretik)
Efek samping: sedasi, pusing, mulut kering, sakit kepala, anemia hemolitik, dll
ACE INHIBITOR

KAPTOPRIL
Sediaan obat: tablet
Mekanisme kerja: Menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat
menurunnya pelepasan renin dan aldosteron. Selain itu, degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar
bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek vasodilatasi. Vasodilatasi scr langsung akan
menurunkan TD, sedangkan menurunnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan natrium dan retensi kalium.
Indikasi: ACE inhibitor terpilih untuk hipertensi dengan gagal jantung kongestif, dengan renin tinggi, dengan hipertrofi
ventrikel kiri, dengan PJK, dll.
ANGIOSTENSIN RECEPTOR BLOCKER

LOSARTAN
Mekanisme kerja: menghambat semua efek angiotensin II seperti: vasokontriksi, sekresi
aldosteron, rangsangan saraf simpatis, efek sentral angiotensin II (sekresi vasopresin,
rangsangan haus)
Farmakokinetik: diabsorpsi dengan baik melalui saluran cerna dengan bioavailbilitas sekitar
33% . Absorpsi nya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan di lambung
CALCIUM CANAL BLOCKER

AMLODIPINE
Efek antihipertensi amlodipin adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi
vaskular, serta penurunan TD.
Mekanisme kerja: menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung. Sehingga
mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung.
Indikasi: hipertensi, angina stabil kronik, angina dengan vasospastik.
Efek samping : edema, sakit kepala, rasa kelelahan, mual, berkeringat, nyeri, dan peningkatan atau penurunan BB.
Interaksi : amlodipine dapat di berikan bersama dengan penggunaan diuretik golongan tiazid, alfa-blocker, beta-blocker, ACE Inhibitor.
CALCIUM CANAL BLOCKER

NIFEDIPIN
Mekanisme kerja : bekerja sebagai antagonis calsium dengan menghambat arus ion kalsium masuk ke dalam otot
jantung dari luar sel. Karena kontraksi otot polos tergantung pada ion kalsium ekstrasel, maka dengan adanya
antaginus kalsium daoat menimbulkan efek inotropik negatif
Indikasi: pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner terutama angina pektoris, hipertensi kronik dan hipertensi
urgensi
Interaksi: efek antihipertensi dari nifedipin dapat ditingkatkan oleh obat-obat antihipertensi lain
VASODILATOR

HIDRALAZIN
Mekanisme kerja: bekerja langsung merelaksasi otot polos arteriol dengan mekanisme yang belum dapat
dipastikan. Vasodilatasi yang terjadi menimbulkan reflek kompensasi yang kuat berupa peningkatan
kekuatan dan frekuensi denyut jantung, peningkatan renin dan norepinefrin plasma.
Farmakokinetik: hidralazin diabsorpsi dengan baik melalui saluran cerna, tapi bioavailbilitas nya relatif
rendah karena adanya metabolisme lintas pertama yg besar
Efek samping: sakit kepala, mual, flushing, hipotensi, takikardia, palpitasi, angina pektoris
TERIMAKASIH 