You are on page 1of 27

ASUHAN KEPERAWATAN

LEUKIMIA PADA ANAK


Astri Nuraeni
Endang Dinilah Rahmat
Fitria Palka
Lestari Indah Putri
Novan Alvian
Riska Tri Rahmawati
Viska Dwi Utami
Nababan Tiur Monica
Pengertian
Leukemia, berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos-putih dan
haima-darah. Leukemia adalah jenis kanker yang mempengaruhi
sumsum tulang dan jaringan getah bening.
Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur
dalam jaringan pembentukan darah.(Suriadi & Yuliani, 2006).
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel
pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves,
2001).
Klasifikasi
Leukemia sering diklasifikasikan sesuai galur sel yang terkena:
1. Leukemia Mielogenus akut
2. Leukimia Mielogenus Kronis
3. Leukimia Limfositik Akut
4. Leukimia Limfositik Kronis
Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya leukimia, yaitu:
1. Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell
leukimia lymphoma virus/ HTLV)
2. Radiasi
3. Obat-obat imunosupresif, obat obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
4. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
5. Kelainan kromosom, misalnya pada Down Syndrome
Patofisiologi
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan
tubuh terhadap infeksi. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada
sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel
darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel leukemia memblok
produksi sel darah normal, merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel
leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel
darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada
jaringan.
Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel
darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah
keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali
bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Translokasi
kromosom mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga
sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Kanker ini juga bias
menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening,
ginjal, dan otak.
Manifestasi Klinik
1. Pilek tidak sembuh sembuh
2. Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3. Demam dan anorexia berat badan menurun
4. Ptechiae, memar tanpa sebab
5. Nyeri pada tulang dan persendian
6. Nyeru abdomen
7. Lymphadenopathy
8. Hepatisplenomegaly
9. Abnormal WBC
Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan darah tepi : terdapat leikosit yang imatur.
2. Aspirasi sumsum tulang (BMP) : hiperseluler terutama banyak terdapat sel muda.
3. Biopsi sumsum tulang.
4. Lumbal punksi untuk mengetahui apakah sistem saraf pusat terinfil-trasi.
5. Hitung darah lengkap (CBC) - anak dengan BCB kurang dari 10.000/mm3 saat
didiagnosis memiliki prognosis paling baik; jumlah leukosit lebih dari 50.000/mm3
adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
6. Foto toraks - mendeteksi keterlibatan mediastinum.
7. Pemindaian tulang atau survei kerangka - mengkaji keterlibatan tulang.
8. Pemindaian ginjal, hati, dan limpa - mengkaji infilrat leukemik.
9. Jumlah trombosit - menunjukan kapasitas pembekuan.
Komplikasi
1. Gagal sumsum tulang
2. Infeksi
3. Hepatomegali
4. Splenomegali
5. Limfadenipati
6. Kougulasi intravaskular diseminata (KID)
7. Iron Deficiency Anemia (IDA)
Penatalaksanaan Medis
1. Pelaksanan Kemoterapi
Terdapat tiga fase pelaksanaan kemoterapi :
a. Fase Induksi
b. Fase Profilaksis
c. Konsolidasi
2. Terapi Biologi
3. Terapi Radiasi
4. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)
Konsep Asuhan Keperawatan
Leukimia Pada Anak
Pengkajian
1.Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Suku Bangsa, Alamat,
No. Medrec, R. Rawat, Dx. Medis,Tanggal Masuk, Tanggal Pengkajian
2. Keluhan Utama
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
6. Pemeriksaan Fisik
Diagnosa Keperawatan

1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan
penurunan jumlah trombosit
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi
dan atau stomatitis
INTERVENSI
Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
Tujuan:
Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi:
1. Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional: untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
2. Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasive
Rasional: untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
3. Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat
penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Rasional: untuk intervensi dini penanganan infeksi
4. Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional: diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan: terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi:
1.Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas
sehari-hari
Rasional: menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
2. Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan
Rasional: mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi
3.Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri
Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
Tujuan: klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Intervensi:
1. Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional: untuk mencegah perdarahan
2. Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional: untuk mencegah perdarahan
3. Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan
pucat)
Rasional: untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
4. Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional: karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah,
efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
Tujuan: Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi:
1. Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas
gizi pada saat selera makan anak meningkat
Rasional: untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
2. Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual
bebas
Rasional: untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
3. Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
Rasional: untuk mendorong agar anak mau makan
4. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
Rasional: kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa
suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang
adekuat
Kasus pemicu :
Klien An. C berumur 7 tahun terlihat wajahnya sangat pucat dan
orangtuanya berkata ia seringkali pingsan. Berat badan anak tersebut
menurun drastis (anoreksia) sering mengeluh nyeri pada abdomen
tulang dan persendian serta sering terdapat memar tanpa sebab. Saat
dikaji, An. C terdapat banyak sariawan dalam rongga mulutnya,
sehingga ibu An. C membawa anaknya ke puskesmas dan saat di
puskesmas di rujuk ke RSIA Hermina dan An. C mendapatkan
diagnosa medis oleh dokter yaitu Leukimia akut.
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 01 Mei 2017 pukul 09.00 WiB di ruang
melati 1 rumah sakit Hermina , Data di peroleh dengan observasi, wawancara
dengan keluarga.

a. Identitas Pasien
b. Penanggung jawab
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik
Lanjutan…..
◦ Sistem pernafasan
Nafas pendek,dispnea, takipnea, RR menurun, Ronchi (+).
Distensi abnormal, bising usus menurun, anoreksia, mual,
muntah,penurunan berat badan,stomatitis, ulkus mulut,
hipertropi gusi, diare,feses hitam, nyeri tekan perianal.

◦ Sistem Kardiovaskuler
Palpitasi, takikardi, mur mur jantung, kulit dan membran
mukosa pucat, konjungtiva anemis.
Lanjutan ….
◦ Sistem perkemihan
penurunan output urine, hematuri (+).

◦ Sistem persarafan
Defisit saraf kranial atau tanda pendarahan serebral, penurunan koordinasi,kesemutan,
parestesi, otot iritabilita,kejang,pusing, sakit kepala, disorientasi.

◦ Sistem muskuloskeletal
Nyeri tulang atau sendi, nyeri tekan sternal,kram otot, kelemahan,kelelahan, aktivitas.
Analisa data
Gejala Etiologi Masalah
1. DS : Ibu klien Ketidakmampuan Ketidakseimbangan
mengatakan anaknya mencerna makanan nutrisi: kurang dari
nyeri di bagian perut kebutuhan tubuh
dan kesulitan menelan
makanan karena
sariawan.
DO :
-TTV :
-TD : 90/50
-RR : 18x/menit
-Nadi : 90/menit
-Suhu : 38 o
penurunan BB
anoreksia
diare
sariawan
Gejala Etiologi Masalah

2. DS : - Risiko Infeksi
DO :
TTV :
-TD : 90/50
-RR : 18x/menit
-Nadi : 90/menit
-Suhu : 38 o
- Hb : 9 gram/dL
Diagnosa Keperawatan

◦ Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
◦ Resiko infeksi
Intervensi Keperawatan
NO Diagnosa NOC NIC
1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi:
nutrisi: kurang dari tindakan keperawatan, 1. Identifikasi adanya alergi
kebutuhan tubuh klien dapat atau intoleransi makanan yang
berhubungan dengan meningkatkan status dimiliki klien.
ketidakmampuan nutrisi, dengan kriteria 2. Bantu pasien dalam
mencerna makanan hasil dalam waktu menentukan pedoman atau
3x24 jam: piramida makanan yang paling
Asupan makanan cocok dalam memenuhi
dipertahankan pada kebutuhan nutrisi dan
skala 3 (cukup preferensi. (misalnya piramida
menyimpang dari makanan vegetarian)
rentang normal). 3. Berikan pilihan makanan
Ditingkatkan ke skala sambil menawarkan bimbingan
4 (sedikit terhadap pilihan makanan yang
menyimpang ke lebih sehat.
rentang normal).
NO Diagnosa NOC NIC

2. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi:


keperawatan, klien dapat 1. Alokasikan kesesuaian luas
mengkontrol resiko: proses ruang perpasien seperti yang
infeksi dengan kriteria hasil diindikasikan oleh pedoman
dalam waktu 3x24 jam: pusat pengendalian dan
Mengidentifikasi faktor resiko pencegahan penyakit.
infeksi, dipertahankan pada 2. Anjurkan klien mengenai
skala 3 (kadang-kadang teknik mencuci tangan dengan
menunjukan). Ditingkatkan ke tepat.
skala 2 (jarang menunjukan). 3. Ajarkan klien dan anggota
keluarga mengenai bagaimana
menghindar infeksi.
Dafar Pustaka
Behrman, Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC
Betz, Cecily, L & Sowden, Linda, A. (2002). Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC
Suriadi & Yuliani, Rita. (2006). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Sagung Seto
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Merdeka.