You are on page 1of 10

Antibiotik Penicillinum

• Jenis Ferm : cair


• Des Ferm : Batch
Jenis fermentasi cair adalah fermentasi yg melibatkan
air sbg fase kontinyu dari sistem pertumbuhan sel
bersangkutan/substrat, baik sumber karbon maupun mineral
terlarut atau tersuspensi sbg partikel2 dlm fase cair. Dalam
pembuatan antibiotik penisillin digunakan jenis ferm cair, dmn
brrt bahan baku yang digunakan juga dalam bentuk cairan.
Pemb penisillin menggunakan bahan baku utama berupa
glukosa, laktosa, serta mineral2. kualitas cairan bergantung
pada derajat pengenceran hingga diperoleh konsentrasi yg
diinginkan.
Desain fermentator yg digunakan yaitu batch. Dmn
desain ini dilakukan dgn pencampuran sekali proses, dgn
memasukkan substrat di+ bakteri sekaligus, kemudian di
diamkan sampai proses fermentasi harus dihentikan.
• Substrat : Jamur
• Faktor yg mempengaruhi keberhasilan
1. tersedianya nutrien, air, suhu, oksigen, pH, adanya zat-zat
penghambat, dan adanya mikrobia lain. Pembentukan biomasa
oleh ketersediaan nutisi dalam medium dan keadaan
lingkungan sekitar. Penicillium chrysogenum memerlukan
sumber C organik dalam jumlah sekitar 4-5%. Sumber N bagi
pertumbuhan mikrobia diperlukan untuk sentesis berbagai
senyawa sel yang penting termasuk asam amino, protein, asam
nukleat, dan beberapa vitamin

2. Air sangat vital artinya bagi kehidupan mikroorganisme karena


semua aktivitas metabolisme terjadi dalam substrat yang
mengandung air bebas. Tiap jenis mikrobia mempunyai
kelembaban optimum tertentu, pada umumnya khamir dan
bakteri membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi dibanding
jamur. Tidak semua air dalam medium digunakan oleh
mikrobia, air yang digunakan disebut air bebas.
3. Suhu optimum adalah suhu paling baik untuk pertumbuhan mikrobia.
kebanyakan kapang bersifat mesofilik, yaitu mampu tumbuh baik pada suhu kamar.
Suhu optimum untuk produksi penisilin oleh Penicillium chrysogenum dan kapang
lainnya dalam memproduksi penisilin berkisar antara 24-30oC. Oksigen merupakan
unsur yang terdapat dalam molekul hayati seperti asam amino, nukleotida dan
gliserida. Kebutuhan oksigen dipenuhi bersama dengan masuknya molekul lain
seperti protein dan lipid. Disamping itu, oksigen dalam bentuk O2 juga diperlukan
untuk menjalankan respirasi aerobik. Aerasi dan agitasi (pengadukan) diperlukan
untuk mensuplai oksigen bagi aktivitas metabolik mikrobia. Jumlah oksigen yang
kurang dari kebutuhan minimal akan menghambat pertumbuhan sel dan sintesis
produk.

4. nilai pH sangat menentukan aktivitas enzim. Selama pertumbuhan mikrobia


dapat menyebabkan perubahan pH medium sehingga tidak sesuai lagi untuk
pertumbuhan, karena itu diperlukan buffer di dalam medium untuk mencegah
perubahan pH. Kontrol pH dalam fermentasi sangat penting dilakukan karna pH
yang optimum harus tetap di pertahankan, kapang mempunyai kisaran pH untuk
pertumbuhan 3-8,5. kebanyakan kapang dapat tumbuh baik pada pH 2,0-8,5,
tetapi biasanya pertumbuhan akan baik pada kondisi pH rendah atau asam.
Kebanyakan spesies fungi dapat tumbuh dalam rentang pH yang lebih lebar dari
sangat asam sampai sangat alkali. Dalam biakan fungi dapat tumbuh pada pH 2-3
dan beberapa cenderung masih aktif pada pH 9 atau lebih, seperti antibiotik
Penicilium (penisilin)
5. Beberapa jenis jamur memproduksi komponen penghambat bagi
mikrobia lainya, misalnya Penicillium chrysogenum dengan memproduksi
penisilin. Aktivitas penisilin dari Penicillium chrysogenum mampu
menghambat bakteri Staphyloccocus aureus dan Escherichia coli,
ditunjukkan dengan luas zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi air
lindi 45% dengan penambahan konsentrasi gula tebu 6% yaitu sebesar 0,833
dan 0,145 cm2. Beberapa komponen kimia bersifat mikrostatik,
menghambat pertumbuhan jamur misal asam sorbat, propianat, asetat atau
fungisida yang mematikan jamur.

6. Penggunaan metode yg menjamin sterilitas media sebelum memasukkan


organisme ke dalam medium dan memelihara kondisi biakan tetap aseptik.
Kadang-kadang kondisi aseptik juga diperlukan selama pemisahan sel dan
produk, sesudah fermentasi berakhir. Mikroba yang tak dikehendaki harus
dicegah memasuki fermentor bersama gas, suspensi media, inokulum atau
larutan lain yang ditambahkan selama pertumbuhan sel dan sintesis produk
berlangsung, karena mikroba kontaminan dapat mengubah sifat kimia
nutrien, pH, menimbulkan buih dan menghambat atau memperlambat
pertumbuhan mikroorganisme dan biosintesis produk fermentasi.
• Skema
1. tahapan seleksi strain Penicillium chrysogenum pada media agar di
laboratorium dan perbanyakan pada tangki seeding. (tangki pengaduk
untukfermentasi diinokulasikan dengan kultur Penicillium notatum atau
Penicillium chrysogenum. Jamur-jamur tersebut tumbuh pada suhu 24°C,
suplai O2 cukup, dan pH yang agak basa. Setelah 30 jam, penisilin mulai
dihasilkan dan akan mencapai hasil maksimum setelah 4 hari). Setelah proses
seleksi dilakukan, maka dilanjutkan dengan sterilisasi media fermentasi
melalui pemanasan dengan steam bertekanan sebesar (120 0C) selama ½ jam.
Sterilisasi ini dilanjutkan dengan proses pendinginan fermentor dengan air
pendingin yang masuk ke dalam fermentor melalui coil pendingin.

2. Saat temperatur mencapai 75oF (24oC), media ini diinokulasi pada kondisi
aseptik dengan memasukkan spora-spora kapang Penicillium chrysogenum.
Selama proses fermentasi berlangsung dilakukan pengadukan, sementara
udara steril dihembuskan melalui sparger kedalam fermenter. Proses
fermentasi ini akan berlangsung selama 100 – 150 jam dengan tekanan
operasi 5 – 15 psig. Temperatur operasi dijaga konstan selama fermentasi
penisilin berlangsung dengan cara mensirkulasikan air pendingin melalui coil.
Busa-busa yang terbentuk dapat diminimalkan dengan penambahan agen
anti-foam. Kapang aerobik dibiarkan tumbuh selama 5 – 6 hari saat gas
CO2 mulai terbentuk.
3. Pada saat penisilin sudah dihasilkan dalam jumlah
yang maksimum, maka cairan hasil fermentasi
tersebut didinginkan hingga 28oF (2oC), dan
dimasukkan kedalam rotary vacumfilter untuk
memisahkan miselia dan penisilin. Miselia akan
dibuang, sehingga diperoleh filtrat berupa cairan
jernih yang mengandung penisilin. Cairan yang
mengandung penisilin diekstraksi secara kimia lalu
dimurnikan menggunakan pelarut untuk membuat
kristal murni.

4. Setelah proses ini, penisilin dikemas siap untuk


digunakan.
• Waktu pemanenan ab yg dihasilkan
Produksi berhenti setelah 6 hari. Pada saat
tersebut, kandungan (isi) tangki fermentor
ditampung. Oleh karena penisilin diproduksi di luar
sel jamur, maka misellium jamur disaring, dicuci,
dan dibuang. Zat sisa yang mengandung penisilin
diekstraksi secara kimia lalu dimurnikan
menggunakan pelarut untuk membuat Kristal
murni.
• Downstream (kualitas tinggi)
Rangkaian proses yang dilakukan setelah selesainya
proses fermentasi, yang mencakup pemisahan,
pemurnian sampai pada pengepakan produk. Disain
dan operasi proses harus efisien dengan
menghasilkan rendemen tinggi.
Proses hilir (downstream process) merupakan proses
dr pemanenan hasil fermentasi sampai menjd
produk jadi (antibiotik penisillin)
Pd pembuatan antibiotik penisillin menggunakan
high grade, agar tidak terjadi kontaminan dan
didapatkan antibiotik yg berkualitas tinggi. Dilakukan
bbrp proses yaitu:
• Dilakukan pemisahan cairan-padatan
Dilakukan penggumpalan/koagulasi menjd partikel-partikel kecil. Dr hasil
penggumpalan tsb, suspensi (partikel) yg mengendaplah yg akan diambil. Stlh
didptkan partikel-partikel/endapan tsb, selanjutnya dilakukan
• Ekstraksi (pemekatan) untuk mengambil/menangani bahan selain partikel
padat/endapannya (menangani airnya) (proses isolasi)
• Kemudian dr hasil ekstraksi tsb dihasilkan crude berupa bentuk kasar dari
hasil antibiotik cair tsb, lalu di keringkan beku (freezedrying) Kebanyakan
produk penicillin diproses hingga menjadi sodium kristal atau garam
potassium.
• Selanjutnya garam penicillin membentuk kristal dikumpulkan secara
aseptis pada filter. Operasi kristalisasi harus dijalankan dalam kondisi
aseptis untuk menghindari kontaminasi produk dari mikroorganisme.
Garam kristal kemudian dikeluarkan dari filter lalu dikeringkan pada
tekanan vakum
• Selanjutnya dilakukan purifikasi (pemurnian) dengan melakukan
kromatografi
• Kemudian antibiotik dirancang formulasinya agar dihasilkan produk yg
berkualitas tinggi dan dapat dikonsumsi
• selanjutnya dilakukan pencetakan dan polishing
• Selanjutnya di apply (pengepakan) dibuat produk jadinya yg kemudian
produk tsb dpt dipasarkan dan dikonsumsi utk konsumen