You are on page 1of 38

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

LANSIA DENGAN GANGGUAN


BIOLOGIS
DJOKO PRIYONO
Definsi

■ Lansia adalah tahap akhir siklus hidup


manusia, merupakan bagian dari proses
kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan
akan dialami oleh setiap individu.
■ Pada tahap ini individu mengalami
banyak perubahan baik secara fisik maupun
mental, khususnya kemunduran dalam berbagai
fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya.

■ Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses


penuaan normal, seperti rambut yang mulai
memutih, kerut-kerut ketuaan di
wajah, berkurangnya ketajaman panca indera,
serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan
acaman bagi integritas orang usia lanjut.
Lansia Menurut WHO

■ Usia pertengahan (middle age) 45 -59


tahun
■ Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
■ Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
■ Lansia sangat tua (very old) diatas 90
tahun.
Teori Proses Menua : Teori
Biologis
■ Teori genetic clock.
■ Didalam tubuh terdapat jam biologis yang
mengatur gen dan menentukan proses penuaan.
Teori ini menyatakan bahwa menua itu telah
terprogram secara genetic untuk spesies tertentu.
Teori mutasi somatik.

■ Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya


mutasi somatik akibat pengaruh lingkungan yang
buruk.

■ Setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi,


sebagai contoh yang khas adalah mutasi sel
kelamin sehingga terjadi penurunan kemampuan
fungsional sel
Teori Nongenetik

■ Teori penurunan sistem imun tubuh (auto-


immune theory).
■ Mutasi yang berulang dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan sistem imun
tubuh mengenali dirinya sendiri. Jika mutasi
yang merusak membran sel, akan
menyebabkan sistem imun tidak
mengenalinya sehingga merusaknya.
Teori kerusakan akibat radikal
bebas (free radical theory).
■ Teori radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas
dan di dalam tubuh. Tidak stabilnya radikal bebas
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan organik,
misalnya karbohidrat dan protein.
■ Radikal bebas yang terdapat di lingkungan seperti
asap kendaraan bermotor, asap rokok, zat
pengawet makanan, radiasi, sinar ultraviolet yang
mengakibatkan terjadinya perubahan pigmen dan
kolagen pada proses menua.
Teori menua akibat
metabolisme.
■ Telah dibuktikan dalam berbagai percobaan
hewan, bahwa pengurangan asupan kalori ternyata
bisa menghambat pertumbuhan dan
memperpanjang umur, sedangkan perubahan
asupan kalori yang menyebabkan kegemukan
dapat memperpendek umur.
Teori rantai silang (cross link
theory)
■ Teori ini menjelaskan bahwa menua disebabkan
oleh lemak, protein, karbohidrat, dan asam nukleat
(molekul kolagen) bereaksi dengan zat kimia dan
radiasi, mengubah fungsi jaringan yang
mengakibatkan terjadinya jaringan yang kaku,
kurang elastis, dan hilangnya fungsi pada proses
menua.
Teori Fisiologis

■ Teori ini merupakan teori intrinsik dan ekstrinsik.


Terdiri atas teori oksidasi stress, dan teori dipakai-
aus (wear and tear theory).
■ Di sini terjadi kelebihan usaha dan stress
menyebabkan sel tubuh lelah dipakai (regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kstabilan
lingkungan eksternal).
Perubahan Biologis Pada Lansia
■ Menurut Nugroho (2000) perubahan fisik yang terjadi pada
lansia adalah sebagai berikut:
■ Sel
■ 1. Jumlah sel menurun/menjadi sedikit.
■ 2. Ukuran sel lebih besar.
■ 3. Berkurangnya cairan tubuh dan cairan intra seluler.
■ 4. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan
hati.
■ 5. Jumlah sel otak menurun.
■ 6. Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
■ 7. Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%.
■ 8. Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.
Sistem Respirasi
■ Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat
atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku.
■ Aktivitas silia menurun.
■ Paru kehilangan elastisitas
■ Berkurangnya elastisitas bronkus.
■ Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
■ Karbondioksida pada arteri tidak berganti.
Pertukaran gas terganggu.
■ Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang.
■ Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan
otot pernafasan menurun seiring pertambahan
usia.
Sistem Kardiovaskuler
■ Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
■ Elastisitas dinding aorta menurun
■ Kemampuan jantung memompa darah menurun 1%
setiap tahun sesudah berumur 20 tahun.
■ Curah jantung menurun.
■ Kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah,
efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
berkurang, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke
berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun
menjadi 65mmHg (mengakibatkan pusing mendadak).
■ Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi
dari pembuluh darah perifer, sistol normal ±170 mmHg,
diastol normal ± 95 mmHg
Sistem Persarafan
■ Respon menjadi lambat dan hubungan antara
persyarafan menurun.
■ Berat otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap
orang berkurang setiap harinya).
■ Mengecilnya saraf panca indra sehingga
mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan
dan pendengaran, mengecilnya saraf penciuman
dan perasa, lebih sensitif terhadap suhu,
ketahanan tubuh terhadap dingin rendah.
■ Defisit memori.
Sistem Pencernaan
■ Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal
disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun.
■ Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput
lendir yang kronis, atrofi indra pengecap (±80%)
■ Rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun),
asam lambung menurun, motilitas dan waktu
pengosongan lambung menurun.
■ Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
■ Fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi
terganggu, terutama karbohidrat).
■ Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan
menurun, aliran darah berkurang.
Sistem Genitourinaria
■ Vesika urinaria. Otot menjadi lemah, kapasitasnya
menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi
buang air kecil meningkat. Pada pria lanjut usia, vesika
urinaria sulit dikosongkan sehingga mengakibatkan
retensi urine meningkat.
■ Pembesaran prostat. Kurang lebih 75% dialami oleh pria
usia di atas 65 tahun.
Sistem Muskuloskeletal
■ Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh.
■ Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama
vertebrata, pergelangan, dan paha. Insiden osteoporosis
dan fraktur meningkat pada area tulang tersebut.
■ Kifosis.
■ Gangguan gaya berjalan.
■ Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
(tingginya berkurang).
■ Komposisi otot berubah sepanjang waktu (myofibril
digantikan oleh lemak, kolagen, dan jaringan parut).
Sistem Penglihatan
■ Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
■ Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa),
menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan
penglihatan.
■ Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya
adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah
melihat dalam gelap.
■ Lapang pandang menurun: luas pandangan
berkurang.
■ Daya membedakan warna menurun, terutama
warna biru atau hijau pada skala.
Sistem Pendengaran
■ Gangguan pendengaran. Hilangnya daya
pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi, suara
yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia di atas umur 65 tahun.
■ Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras
karena meningkatnya keratin.
■ Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa
bernada tinggi atau rendah, bisa terus menerus
atau intermitten).
■ Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti
bergoyang atau berputar).
Sistem Reproduksi
Wanita
■ Vagina mengalami kontraktur dan mengecil.
■ Ovarium menciut, uterus mengalami atrofi.
■ Atrofi payudara.
■ Atrofi vulva.
■ Selaput lender vagina menurun, permukaan
menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya
menjadi alkali dan terjadi perubahan warna.
Pria
■ Testis masih dapat memproduksi
spermatozoa, meskipun ada penurunan
secara berangsur-angsur.
■ Dorongan seksual menetap sampai usia di
atas 70 tahun, asal kondisi kesehatannya
baik.
Sistem Endokrin
■ Produksi hampir semua hormon menurun.
Sistem Integumen
■ Kulit menjadi keriput dan mengkerut akibat kehilangan
jaringan lemak.
■ Permukaan kulit cenderung kusam, kasar, dan bersisik
(karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan
ukuran dan bentuk sel epidermis).
■ Timbul bercak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang
tidak merata pada permukaan kulit sehingga tampak
berbintik-bintik atau noda cokelat.
■ Terjadi perubahan pada daerah sekitar mata, tumbuhnya
kerut-kerut halus di ujung mata akibat lapisan kulit menipis.
■ Respons terhadap trauma menurun.
Penyakit-Penyakit Pada
Lansia
Sistem Pernapasan
■ Emfisema
■ Asma
■ Pneumonia
■ Bronkitis
Sistem Kardiovaskuler

■ Hipertensi
■ Penyakit Jantung Koroner (PJK)
■ Gagal Jantung
Sistem Persarafan

■ Penyakit Alzheimer
■ Stroke Penyakit
■ Parkinson
Sistem Pencernaan

■ Inkontinensia Alvi(Kontrol BAB)


■ Diare
Sistem Perkemihan

■ Gagal Ginjal Akut


■ Gagal Ginjal KronisBPH (Benign Prostat
Hiperplasia/Hipertropi)
■ Inkontinensia Urine
Sistem Muskuloskeletal

■ Osteoartritis
■ Artritis rheumatoid (arthritis simetris)
■ Ankylosing spondylitis
■ Psoriatic arthritis
■ Pirai (gout)
■ Artritis pada lupus
■ Peradangan sendi
■ Osteoporosis
Sistem Penglihatan

■ Katarak
Sistem Pendengaran

■ Presbiskusis
Sistem Endokrin

■ Diabetes
Sistem Reproduksi

■ Disfungsi Ereksi
Diagnosa Keperawatan Yang
Sering Muncul
■ Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. peningkatan
produksi sputum, penyempitan jalan napas.
■ Ketidakefektifan pola napas b.d. edema paru,
bronkokontriksi.
■ Gangguan pertukaran gas b.d. kerusakan alveolus.
■ Nyeri akut b.d. peningkatan tekanan vascular serebral.
■ Inkontinensia alvi/urine b.d. menurunnya fungsi fisiologis
otot-otot sfingter karena penuaan
■ Kelebihan volume cairan b.d. kerusakan fungsi ginjal.
■ Defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan berlebihan
karena diare.
■ Nyeri akut/kronis b.d. fraktur dan spasme otot, inflamasi dan
pembengkakan, distensi jaringan akibat akumulasi
cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.
■ Konstipasi b.d. imobilitas atau terjadinya ileus (obstruksi
usus).
■ Kerusakan mobilitas fisik b.d. nyeri, alat imobilisasi, dan
keterbatasan beban berat badan, deformitas skeletal.
■ Peningkatan kadar gula darah b.d. kerusakan insulin.
■ Risiko tinggi infeksi b.d. perawatan luka gangren yang tidak
adekuat.
■ Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan suplai darah ke
daerah perifer.
■ Gangguan pola seksual b.d. nyeri, kelemahan, sulit mengatur
posisi, dan kurang adekuat lubrikasi.
■ Ketidakberdayaan b.d. perubahan fisik dan psikologis akibat
penyakit.
■ Gangguan citra tubuh b.d. perubahan kemampuan untuk
melakukan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan
energi atau ketidakseimbangan mobilitas.
■ Kerusakan integritas kulit b.d. imobilisasi/tirah baring
yang lama.
■ Defisit perawatan diri b.d. kerusakan musculoskeletal,
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak atau
depresi.
■ Gangguan pola tidur b.d. nyeri, fibrosistis.
■ Risiko cidera b.d. kerusakan penglihatan, kesulitan
keseimbangan.