You are on page 1of 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

LANSIA DENGAN TUBERCULOSIS


PULMONAR

Kelompok IV/A1
TBC PULMONAL

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit menular


yang menyerang paru-paru dan tak menutup
kemungkinan organ tubuh lainnya, seperti otak,
dan tulang pun dapat terinfeksi.
Sekitar 95% kematian akibat TB terjadi pada negara
berkembang dan 60% di antaranya terjadi di 6
negara; salah satunya adalah Indonesia.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Ditjen


Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada tahun
2015, proposi pasien TB diketahui mengalami
peningkatan dari tahun 2013 (13%) hingga tahun
2015 (14%).
Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri yang
bernama Mycobacterium tuberculosis. Sama seperti
penyakit flu, bakteri ini dapat menular melalui
udara (droplet)

Biasanya, yang berisiko tertular adalah mereka


yang sangat dekat dan terus menerus kontak
langsung dengan penderita TB. Benteng utama
tubuh agar terhindar dari infeksi bakteri TB adalah
sistem imun yang sehat.
Penyakit ini dapat ditangani dan juga disembuhkan.
Sesuai dengan strategi yang direkomendasikan oleh WHO, saat ini
fasilitas kesehatan sudah menerapkan sistem DOTS (Directly
Observed Treatment Short-course) dalam penanganan TB. Dengan
adanya strategi ini, diharapkan TB dapat diatasi dengan tepat.
Berdasarkan data WHO, sejak tahun 2000 sampai dengan tahun
2015, sekitar 49 juta jiwa dapat di “selamatkan” karena diagnosis
dan pengobatan TB.

Apabila tidak patuh, bakteri yang ada di dalam tubuh akan segera
menjadi kebal terhadap obat TB (Multidrug resistant tuberculosis-
MDR TB)
Asuhan keperawatan TB-Paru pada Lansia
PENGKAJIAN (DATA FOKUS)
 S. RESPIRASI ?
 Subjektif :Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
 Objektif :Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum
hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks
paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural),
sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.),
perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal
(penyebaran bronkogenik).

 STATUS NUTRISI ?
 Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat
badan.
 Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak
sub kutan.
PENGKAJIAN (DATA FOKUS)
 PX PENUNJANG ?
 Kultur Sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif
 Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif
 Foto Thoraks: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas ;
Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti
awan dengan batas tidak jelas ; Pada kavitas bayangan,
berupa cincin ; Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-
bercak padat dengan densitas tinggi.
 Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau
kerusakan paru karena proses penyakit TB paru.
 Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).
 Spirometri: penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital
menurun.
PENGKAJIAN (DATA FOKUS)

MENGENALI
MASALAH
KESEHATAN

MEMANFAATKAN MENGAMBIL
KEPUTUSAN
FASILITAS PELKES
TUGAS YANG TEPAT

KELUARGA
(KES)
???

MERAWAT
MEMODIFIKASI ANGGOTA
LINGKUNGAN KELUARGA YANG
SAKIT
DIAGNOSA KEPERAWATAN
(PRIORITAS)
 BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF B.D
 POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF B.D
 DEFISIT NUTRISI B.D
 KETIDAKEFEKTIFAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
B.D
 KETIDAKEFEKTIFAN MANAJEMEN KESEHATAN B.D
BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF B.D
HIPERSEKRESI JALAN NAPAS
TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAL

Setelah diberikan askep 1.Pantau rate, irama, kedalaman, 1.Mengetahui tingkat gangguan yang terjadi dan membantu dalam
selama 5x 24 jam, dan usaha respirasi menetukan intervensi yang akan diberikan.
2.Perhatikan gerakan dada, 2.menunjukkan keparahan dari gangguan respirasi yang terjadi dan
diharapkan bersihan jalan
amati simetris, penggunaan otot menetukan intervensi yang akan diberikan
nafas klien kembali aksesori, retraksi otot 3.suara napas tambahan dapat menjadi indikator gangguan
efektif dengan kriteria supraclavicular dan interkostal kepatenan jalan napas yang tentunya akan berpengaruh terhadap
hasil: 3.Auskultasi bunyi nafas kecukupan pertukaran udara. Adanya bunyi ronchi menandakan
•Frekuensi pernapasan tambahan; ronchi, wheezing. terdapat penumpukan sekret atau sekret berlebih di jalan nafas.
dalam batas normal (16- 4.Anjurkan asupan cairan 4.Mengoptimalkan keseimbangan cairan dan membantu
adekuat. mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan
20x/mnt)
5.Ajarkan dan anjurkan 5.Teknik batuk efektif Membantu mengeluarkan sekret
•Irama pernapasn normal penggunaan batuk efektif 6.Fisioterapi dada/ back massage dapat membantu menjatuhkan
•Kedalaman pernapasan 6.Lakukan fisioterapi dada secret yang ada dijalan nafas
normal 7.Bersihkan sekret dari mulut dan 7.Mencegah obstruksi atau aspirasi. Penghisapan dapat diperlukan
•Klien mampu trakea; lakukan penghisapan bia klien tak mampu mengeluarkan sekret sendiri.
mengeluarkan sputum sesuai keperluan. 8.posisi memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya
8.Berikan posisi yang nyaman pernapasan. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan
secara efektif
untuk mengurangi dispnea. meningkatkan gerakan sekret ke jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
•Tidak ada akumulasi 9.Kolaborasi pemberian oksigen 9.Meringankan kerja paru untuk memenuhi kebutuhan oksigen serta
sputum 10.Kolaborasi pemberian memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh.
broncodilator sesuai indikasi. 10.Broncodilator meningkatkan ukuran lumen percabangan
trakeobronkial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara.
POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF B.D
PENURUNAN ENERGI
TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAL
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 1.Posisikan pasien semi fowler 1.Untuk memaksimalkan potensial
24jam pasien menunjukkan 2.Auskultasi suara nafas, catat ventilasi
keefektifan pola hasil penurunan daerah ventilasi 2.Memonitor kepatenan jalan napas
nafas, dengan kriteria hasil: atau tidak adanya suara adventif 3.Melihat apakah ada obstruksi di
1. Frekuensi, irama, 3.Catat pergerakan dada, salah satu bronkus atau adanya
kedalaman pernapasan simetris atau tidak, menggunakan gangguan pada ventilasi
dalam batas normal otot bantu pernafasan 4.Teknik relaksasi napas dalam
2. Tidak menggunakan otot- 4.Ajarkan dan anjurkan dapat membantu memenuhi
otot bantu pernapasan penggunaan teknik relaksasi kebutuhan oksigenasi (ventilasi
3. Tanda Tanda vital dalam nafas dalam perfusi )
rentang normal (tekanan 5.Kolaborasi dalam pemberian 5.Meningkatkan ventilasi dan asupan
darah, nadi, pernafasan) (TD oksigen terapi oksigen
120-90/90-60 mmHg, nadi 6.Monitor aliran oksigen 6.Menjaga aliran oksigen mencukupi
80-100 x/menit, RR : 18-24 7.Monitor kecepatan, ritme, kebutuhan pasien
x/menit, suhu 36,5 – 37,5 C) kedalaman dan usaha pasien saat 7.Memonitor respirasi dan
bernafas keadekuatan oksigen
8.Monitor pernapasan dan status 8.Monitor keadekuatan pernapasan
oksigen yang sesuai
DEFISIT NUTRISI B.D PENINGKATAN
KEBUTUHAN METABOLISME
TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAL

Setelah dilakukan asuhan 1.Kaji status nutrisi pasien 1.Pengkajian penting dilakukan untuk
keperawatan selama 5×24 jam 2.Jaga kebersihan mulut, anjurkan mengetahui status nutrisi pasien sehingga
diharapkan pemenuhan untuk selalu melalukan oral hygiene. dapat menentukan intervensi yang
kebutuhan pasien tercukupi 3.Berian informasi yang tepat terhadap diberikan.
dengan kriteria hasil : pasien tentang kebutuhan nutrisi yang 2.Mulut yang bersih dapat meningkatkan
tepat dan sesuai. nafsu makan
•Intake nutrisi tercukupi. 4.Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi 3.Informasi yang diberikan dapat
•Asupan makanan dan cairan makanan tinggi zat besi seperti sayuran memotivasi pasien untuk meningkatkan
tercukupi hijau intake nutrisi.
•Penurunan intensitas terjadinya 5.Anjurkan pasien makan sedikit demi 4.Zat besi dapat membantu tubuh sebagai
mual muntah sedikit tapi sering. zat penambah darah sehingga mencegah
•Penurunan frekuensi terjadinya 6.Anjurkan pasien untuk makan selagi terjadinya anemia atau kekurangan darah
mual muntah. hangat 5.Makan sedikit demi sedikit dapat
7.Delegatif pemberian nutrisi yang meningkatkn intake nutrisi.
sesuai dengan kebutuhan pasien : diet 6.Untuk membantu memenuhi kebutuhan
pasien diabetes mellitus. nutrisi yang dibutuhkan pasien.
8.Delegatif pemberian terapi antiemetik 7.Antiemetik dapat digunakan sebagai
•Ondansentron 2×4 (k/p) terapi farmakologis dalam manajemen
•Sucralfat 3×1 CI mual dengan menghamabat sekres asam
lambung.
KETIDAKEFEKTIFAN PEMELIHARAAN
KESEHATAN MASYARAKAT
TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAL

Setelah dilakukan Kaji pengetahuan tentang pencegahan primer dan Untuk mengidentifikasi stressor yang menjadi factor risiko
kegiatan selama 1 ajarkan pentingnya pencegahan sekunder masalah kesehatan dan intervensi sesuai kebutuhan
bulan diharapkan Berikan pengetahuan yang diperlukan untuk Jika lansia mengetahui alasan tentang perilaku yang
masalah mengatasi masalah spesifik, mereka menjadi lebih termotivasi untuk merubah
pemeliharaan gaya hidup
kesehatan pada
Akses sumber-sumber yang menyediakan Megidentifikasi dimana area edukasi yang bisa membawa
Lansia dapat kembali
adekuat pembelajaran /pelatihan/ perawatan di komunitas perubahan

Bantu anggota komunitas mengidentifikasi sumber Sumberdaya yang menyediakan kebutuhan kesehatan yang
lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan, spesifik dapat meningkatkan pilihan sesuai dengan
contohnya kelompok penduduk yang lebih kebutuhan
tua mungkin membutuhkan pelayanan dukungan
nutrisi dan keluarga yang mempunyai bayi
kemungkinan membutuhkan informasi mengenai
imunisasi dan keamanan anak
Bantu organisasi komunitas seperti kelompok social Menyediakan sumber secara terus menerus membantu
keagamaan mengembangkan penjelasan mengenai anggota komunitas untuk mandiri /tidak memerlukan
sumber-sumber pelayanan kesehatan yang dapat bantuan orang lain
diakses
Diskusikan dengan anggota organisasi Ketika adanya kesadaran tentang sumber daya,
kemasyarakatan tentang sumber daya yang ada, dan kemungkinan ini dapat menjadi poin yang dibutuhkan untuk
kemungkinan untuk mengusulkan pelayanan yang berubah
dibutuhkan
KETIDAKEFEKTIFAN MANAJEMEN
KESEHATAN MASYARAKAT
TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAL

Setelah 1. Luangkan waktu bersama lansia 1. Membangun kepercayaan antara perawat dan
dilakukan 2. Mendukung lansia untuk menghadiri dan lansia
kegiatan berpartisipasi di dalam tahap pengobatan 2. Membantu mengevaluasi proses penyembuhan
selama 1 bulan 3. Bantu lansia untuk menyatakan perasaan yang 3. Mengetahui kondisi mental lansia
diharapkan berhubungan dengan penyakit 4. Lansia memiliki kualitas hidup yang positif
masalah 4. Mendorong kepercayaan 5. Membantu lansia mengerti dan kooperatif
Ketidakefektif individu/kepercayaan diri lansia tentang selama proses perawatan terhadap kepatuhan
an Manajemen penyakit minum obat dan modifikasi gaya hidup
Pengobatan 5. Ajarkan lansia mengenal proses penyakit dan 6. Membantu lansia mengeliminasi gaya hidup
pada Lansia jelaskan hubungan antara proses penyakit yang memperburuk keadaan saat ini
dapat kembali dan regimen pengobatan dan proses penularan 7. Mengefektifkan kemampuan lansia dalam
adekuat 6. Bantu lansia mengklarifikasi nilai yang beraktivitas
berhubungan dengan gaya hidup 8. Menjamin asuransi lansia di masa yang akan
7. Bekerjasama dengan lansia untuk datang
mengembangkan aktifitas sehari-hari yang
megatur regimen pengobatan yang sesuai
dengan gaya hidup
8. Arahkan lansia ke agensi yang sesuai bila
dibutuhkan
TERIMAKASIH