You are on page 1of 84

PELAYANAN IMUNISASI DI RS MENDUKUNG PROGRAM PEMERINTAH

DALAM PENINGKATAN CAKUPAN DAN KUALITAS IMUNISASI UNTUK


MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN IMUNISASI

RODMAN TARIGAN
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK RSUP HASAN SADIKIN/FK UNPAD

KABUPATEN BANDUNG BARAT, 12 APRIL 2018


LANDASAN HUKUM
UUD 1945
Pasal 28B ayat 2: Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh & berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan & diskriminasi.
Pasal 28 H ayat 1:Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir & batin, bertempat tinggal & mendapatkan lingkungan
hidup yang baik, sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan
UU Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014
“Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak -
haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan,
UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009
•Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dg ketentuan utk mencegah terjadinya penyakit yg
dapat dihindari melalui imunisasi
•Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak
UU Pemerintahan Daerah No. 23 Tahun 2014
“Pemerintah Daerah harus memperioritaskan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan
Dasar dengan berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat”

Hukum Pemberian Imunisasi di Indonesia :


WAJIB
UU No. 36 Tahun 2009 ttg Kesehatan
BAB V
Bagian Kesatu

Tenaga Kesehatan
Pasal 27
Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan
hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya

Hak perlindungan hukum


• KUHP ps 50 karena jalankan UU
• KUHP ps 51 atas perintah atasan
Tenaga Kesehatan yang di atur dalam Pasal 11 ayat (1) UU No 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan, bahwa Tenaga Kesehatan terdiri dari:

Tenaga medis meliputi Dokter dan Dokter Gigi.


Tenaga keperawatan meliputi Perawat dan Bidan.
Tenaga kefarmasian meliputi Apoteker, Analis Farmasi, dan Asisten Apoteker.
Tenaga masyarakat meliputi Epidemiolog Kesehatan, Entomolog Kesehatan,
Mikrobiolog Kesehatan, Penyuluh Kesehatan Administrator Kesehatan, dan Sanitarian.
Tenaga gizi meliputi Nutrisionis dan Dietisien.
Tenaga keterapian fisik meliputi Fisioterapis, Okupasi Terapis, dan Terapis Wicara.
Tenaga keteknisian medis meliputi Radiografer, Radioterapis, Teknisi Gigi, Teknisi
Elektromedis, Analis Kesehatan, Refraksionis Optisen, Othotik Prostetik, Teknisi
Transfusi, dan Perekam Medis.
Pasal 84 ayat (1) dan (2) UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Tenaga Kesehatan, menyatakan bahwa setiap Tenaga Kesehatan
yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan Penerima
Pelayanan Kesehatan menderita luka berat, dapat dipidana
penjara paling lama 3 tahun. Jika kelalaian berat tersebut
sampai mengakibatkan kematian, maka hukuman penjara akan
menjadi paling lama 5 tahun.
Untuk itu, pihak penuntut atau masyarakat yang ingin menuntut
ganti rugi harus dapat membuktikan adanya empat unsur di
bawah ini:
a. Adanya sebuah kewajiban bagi petugas kesehatan
terhadap penderita atau pasien, tetapi tidak dilakukan;
b. Petugas kesehatan telah melanggar standar pelayanan kesehatan (medis) yang
lazim digunakan;
c. Penggugat atau penderita dan atau keluarganya
menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti rugi;
d. Secara jelas (factual) kerugian itu disebabkan oleh
tindakan di bawah standar atau ketentuan profesi kesehatan/medis.
Selain pasal – pasal terkait sanksi pidana, terdapat pula pasal – pasal yang
mengatur hal – hal yang sifatnya perdata. Hal tersebut diterangkan di
dalam pasal 77 dan pasal 78 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan, yang menerangkan bahwa dalam hal seorang Tenaga
Kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya
yang menimbulkan kerugian kepada Penerima Pelayanan Kesehatan,
maka perselisihan yang timbul akibat kelalaian tersebut harus
diselesaikan terlebih dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar
pengadilan, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang – undangan.
Berdasarkan hal – hal diatas maka, sanksi yang dihadapi oleh tenaga kesehatan
adalah :

Ganti rugi jika penerima tindakan kesehatan mengalami kerugian atas KELALAIAN
dari tindakan tenaga kesehatan.

Pidana penjara 3 (tiga) tiga tahun jika tenaga kesehatan melakukan KELALAIAN BERAT
yang menyebabkan penerima tindakan kesehatan LUKA BERAT.

Pidana penjara 5 (lima) tahun jika tenaga kesehatan melakukan KELALAIAN BERAT
yang menyebabkan penerima tindakan kesehatan MENINGGAL.

Sanksi adminitratif jika tenaga kesehatan mengalami masalah masalah administratif


seperti masalah perijinan praktek.
Dari empat point diatas dapat disimpulkan bahwa tenaga kesehatan
dapat mengalami masalah hukum bila yang bersangkutan melakukan
KELALAIAN dan sebab timbulnya kelalaian itu dapat di kategorikan
menjadi 4 yaitu :

Kesalahan diagnose

Kesalahan tindakan yang dilakukan terhadap


Penerima Pelayanan Kesehatan

Keterlambatan dalam menegakkan diagnose

Keterlambatan dalam melakukan tindakan medis


UU No. 36 Tahun 2009 ttg Kesehatan

• Kesehatan Ibu, Anak, Remaja, Lanjut Usia dan Penyandang Cacat


Bab VII • Bagian ke satu : Kesehatan ibu, bayi dan anak

• Upaya pemeliharaan kesehatan bayi & anak harus ditujukan


Pasal 131 utk mempersiapkan generasi yg akan datang, yg sehat, cerdas
ay.1 & berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi &
anak

Pasal 131 • Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak anak masih
dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia
ay.2 18 tahun

Pasal 131 • Upaya pemeliharaan kes. bayi & anak menjadi tanggung jawab
& kewajiban bersama bg org tua, keluarga, masyarakat &
ay.3 pemerintah, & pemerintah daerah

TANGGUNG JAWAB
DAN KEWAJIBAN BERSAMA!!!!!
Buku KIA : instrumen integrasi pelayanan KIA
Keputusan Menteri Kesehatan No 284/Menkes/SK/III/2004

• UU no. 23/2002 Pasal 27 Pembuatan akta


kelahiran ... penelantaran bayi, ……..surat
keterangan lahir
• catatan kesehatan ibu (hamil, bersalin, dan nifas)
• Deteksi dini ibu hamil melalui kegiatan P4K (stiker)
• catatan kesehatan dan pertumbuhan perkembangan
anak (bayi baru lahir, bayi dan anak balita)
• Bukti claim JKN ANC dan PNC (Permenkes 59 th
2014 ttg tarif JKN
• Bukti claim Program Keluarga Harapan

 Informasi: Hak

 Tugas: Kewajiban
Hak Anak berdasarkan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1996

Hak kelangsungan hidup

Hak perlindungan

Hak tumbuh kembang

Hak berpartisipasi

Konvensi Hak Anak


KERANGKA KONSEPTUAL
PROSES TUMBUH KEMBANG ANAK
LINGKUNGAN

IBU KELUARGA SARANA KEBIJAKAN


• Pendidikan • Nenek/Kakek PENDIDIKAN PEMERINTAH
• Gizi • Ayah “DEPKES”
• KB • Saudara SARANA
PELAYANAN ORGANISASI
KESEHATAN PROFESI
NUTRISI “IDI IBI PPNI”
SUASANA
• ASI
RUMAH SARANA
• PASI
• MPASI IBADAH ORG. NASIO-
NAL/INTER

MIKRO MINI MESO MAKRO

KEBUTUHAN DASAR ANAK


ASUH ASIH ASAH

PRENATAL  NEONATUS  BAYI  BALITA  ANAK  REMAJA


TUMBUH - KEMBANG

SI-300404
Ismael S,1991
Buku Rapor Kesehatanku Tingkat SD/MI, SMP/MTS
dan SMA/SMK/MA

Buku Catatan Kesehatan, berisi :


 Hasil pemeriksaan/penjaringan
kesehatan peserta didik
 Hasil pemeriksaan kesehatan lain
saat di sekolah
 Grafik IMT
 Kartu Menuju Bugar
 Kemampuan/ kecakapan peserta
didik terkait kesehatan
Continuum of Care
through out the life cycle
Tenaga kesehatan profesional

SOP ALGORITHME

BUKU RAPORT
KESEHATANKU

BUKU
KIA

Masyarakat
berdaya
Continuum of Care
home-based to facility-based

Posyandu TPA, BKB, Pos PAUD

Keluarga

PUSKESMAS
RS
SEKOLAH
SOP ALGORITHME

RR
Definisi

IMUNISASI

Merupakan proses induksi imunitas secara artifisial (buatan),


baik dengan cara vaksinasi (induksi kekebalan secara aktif)
maupun pemberian antibodi (induksi kekebalan secara pasif)

17
Pengertian Herd Immunity
• Merupakan tingkat kekebalan suatu komunitas terhadap suatu
penyakit tertentu

• Perlindungan terhadap suatu penyakit di sebuah komunitas, akibat


tercukupinya proporsi populasi yang memiliki imunitas, sehingga
mencegah penyebaran penyakit
Efek positif herd immunity
• Perlindungan kepada yang tidak memiliki
imunitas

• Mencegah terjadinya mutasi/evolusi dari


pathogen

• Eradikasi penyakit
Ilustrasi Herd Immunity
Pentingnya
Program Imunisasi
• Vaksin:
– ↗ promosi kesehatan
– Jangkauan luas
– Dampak segera
– Efektif & menyelamatkan jiwa

Key point:
Dampak imunisasi pada status kesehatan masyarakat dunia tak
terbantahkan. Kecuali kesediaan air bersih, tidak ada yang lain, bahkan
antibiotik, memiliki dampak besar dalam penurunan angka kematian dan
kesakitan (kecacatan) dan pertumbuhan populasi
Prioritas Vaksin:
Vaksinasi yang Aman

VAKSIN  Orang sehat

Standar keamanan yang tinggi

Tanggung jawab NRA(BPOM)

Pra-registrasi: KIPI: KIPI:


Uji Klinis Monitor/ Peninjauan
Investigasi terus menerus
Kematangan Program Imunisasi (Robert T Chen)

Sumber: WHO. Dasar-dasar Keamanan Vaksin, Modul 1: Introduksi Keamanan Vaksin. Dapat diakses pada:
http://in.vaccine-safety-training.org/vaccine-safety-in-immunization-programmes.html
Vaccine Safety
• Deteksi dan pelaporan
KIPI merupakan
langkah awal untuk
memperkuat
monitoring keamanan
vaksin (vaccine safety).
• Dengan meningkatnya
keamanan vaksin,
keamanan pasien
(patient safety) tentu
akan meningkat.
Tujuan Penyelenggaraan Imunisasi

Menurunkan kesakitan, kecacatan & kematian akibat Penyakit yang


Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
dengan menggunakan vaksin

Tuberculosis Difteri Pertusis Tetanus Polio Campak Hepatitis B

Hemophillus Pneumonia Human Papiloma Rubella rotavirus HIV


Influenzae type B Virus Malaria
DENGUE
DENGUE
Perkembangan Imunisasi
di Indonesia (1956-2017)

1956 1973 1974 1976 1980 1982 1997 2004 2013 2016 2017

Hepatitis
Cacar Tetanus Polio Haemofilus
B influensa tipe b
(DPT/HB/Hib)
MR
BCG DPT
Campak
DPT/HB
PCV
(Kombinasi)
JE
Sepanjang 6 dasawarsa, semakin banyak penyakit menular
yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia
IPV
HPV
KEBERHASILAN
IMUNISASI
ABAD 20
 Eradikasi Cacar (Variola),
1977 kasus Cacar terakhir, Somalia 
1980  Imunisasi Cacar Stop

ABAD 21
 Eliminasi Eradikasi Polio: Eliminasi
Tetanus 2006 Indonesia Campak &
Maternal 2014 Regional Rubella 2020
dan Asia
Neonatal Tenggara
 Mei 2016 2020 ?? Eradikasi?
1. Mempertahankan INDONESIA
BEBAS POLIO
2. Mempertahankan pencapaian
ELIMINASI TETANUS MATERNAL
DAN NEONATAL (MNTE)

3. Mencapai ELIMINASI CAMPAK DAN


PENGENDALIAN RUBELA/CRS
 Pelaksanaan Crash Program
Campak di 183 kab/kota 28
provinsi Agustus 2016
 Pelaksanaan Kampanye
Imunisasi MR  2017 - 2018
 Introduksi Vaksin MR
menggantikan vaksin Campak
pada imunisasi rutin
PERMENKES NO. 12 TAHUN 2017 TENTANG
PENYELENGGARAAN IMUNISASI
Jenis Imunisasi
(Permenkes No. 12 Th 2017)

Imunisasi adalah suatu upaya untuk


menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila
suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak
akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan

Imunisasi Program
Imunisasi Pilihan
Yaitu imunisasi yang diwajibkan kepada
Yaitu imunisasi yang dapat diberikan kepada
seseorang sebagai bagian dari masyarakat
seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam
dalam rangka melindungi yang bersangkutan
rangka melindungi yang bersangkutan dari
dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang
penyakit tertentu
dapat dicegah dengan imunisasi
Imunisasi Program
(Permenkes No. 12 Th 2017)
Imunisasi Tambahan Imunisasi Khusus
Imunisasi Rutin
Penetapan pemberian Melindungi seseorang
1. Imunisasi imunisasi tambahan dan masyarakat terhadap
Dasar berdasarkan kajian penyakit tertentu pada
epidemiologis oleh situasi tertentu :
2. Imunisasi Menteri, Kadinkes meningitis meningokokus,
Lanjutan provinsi, atau Kadinkes yellow fever, rabies, dan
Kab/Kota) poliomyelitis

Imunisasi Lanjutan :
- Baduta Mempertahankan tingkat
kekebalan dan untuk
- Anak Usia Sekolah memperpanjang masa
Dasar perlindungan anak yang sudah
mendapatkan Imunisasi dasar
- WUS
Jadwal Imunisasi Program
(Permenkes No. 12 Th 2017)
UMUR (BULAN) JENIS IMUNISASI

0 Hepatitis B (< 24 jam)


1 BCG, OPV1
2 DPT-HB-Hib1, OPV2
3 DPT-HB-Hib2, OPV3
4 DPT-HB-Hib3, OPV4, IPV
9 Campak/MR
18 DPT-HB-Hib4, Campak/MR

-DT HPV* HPV*


-Campak/MR Td
* hanya di Prov/Kab/Kota Terpilih
*MR secara nasional, 2017 di P. Jawa, 2018 di
luar P. Jawa
*HPV di DKI, eksoansi

1 SD 5 SD 6 SD

BULAN IMUNISASI ANAK SEKOLAH


Perubahan Jadwal lmunisasi Td pada BIAS
(Permenkes No. 12 Th 2017)

• Tujuan:
Memperpanjang usia perlindungan sasaran dari
penyakit tetanus dan difteri rnelalui statusT5
• Mekanisme peralihan jadwal:
• Tahun 2017 dan 2018 pemberian imunisasi Td
hanya dilakukan pada anak kelas 2 SD/sederajat
• Mulai tahun 2019, pemberian imunisasi Td sudah
dapat diberikan pada anak kelas 2 dan 5 SD
sederajat
Penyelenggaraan Imunisasi Program
(Permenkes No. 12 Th 2017)

Tujuan Pendekatan Keluarga:


Penanggungjawab:
1. Meningkatkan akses keluarga terhadap
Pemerintah Pusat dan pelayanan kesehatan yang komprehensif
Pemerintah Daerah 2. Mendukung pencapaian SPM Kab/Kota dan
SPM Provinsi
Pendekatan 3. Mendukung pelaksanaan JKN
keluarga, utk 4. Mendukung tercapainya program indonesia
meningkatkan sehat
akses pelayanan
imunisasi

Check status imunisasi


catat.
dorong ke tempat pelayanan
Pengelolaan Limbah
(Permenkes No. 12 Th 2017)

• Rumah sakit, Puskesmas, klinik dan fasilitas


pelayanan kesehatan lainnya yang
menyelenggarakan Imunisasi bertanggung jawab
terhadap pengelolaan limbah imunisasi sesuai
dengan persyaratan dan ketentuan peraturan
perundang-undangan

• Dokter atau bidan praktek perorangan yang


memberikan pelayanan imunisasi, pemusnahan
limbah vial dan/atau ampul Vaksin harus
diserahkan ke institusi yang mendistribusikan
Vaksin
Penyelenggaraan Imunisasi Pilihan
(Permenkes No. 12 Th 2017)
• Pelaksana : dokter atau dokter spesialis sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
• Vaksin harus diperoleh dari industri farmasi atau
pedagang besar farmasi yang memiliki izin sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
– Bagi praktik dokter harus memperoleh Vaksin dari
apotek yang memiliki izin sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
• Penyelenggara Imunisasi Pilihan bertanggung jawab
terhadap pengelolaan limbah Imunisasi yang
dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan
Pencatatan dan Pelaporan
(Permenkes No. 12 Th 2017)
• Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan Imunisasi harus melakukan pencatatan dan
pelaporan secara rutin dan berkala serta berjenjang, meliputi
– cakupan Imunisasi,
– stok dan pemakaian Vaksin, ADS, Safety Box,
– monitoring suhu,
– kondisi peralatan Cold Chain, dan
– kasus KIPI atau diduga KIPI
• Pencatatan pelayanan Imunisasi rutin menggunakan buku
kesehatan ibu dan anak, buku kohort ibu/bayi/balita, buku
rapor kesehatanku, atau buku rekam medis
• Fasilitas pelayanan kesehatan swasta wajib mencatat dan
melaporkan setiap bulan ke Puskesmas wilayahnya dengan
menggunakan format yang berlaku
Definisi KIPI (WHO)
• KIPI adalah setiap kejadian medis yang
tidak diinginkan yang terjadi setelah
pemberian imunisasi, kejadian ikutan ini
tidaklah harus memiliki hubungan sebab
akibat dengan vaksin.
• Kejadian ikutan dapat berupa gejala yang
membuat tidak nyaman atau tanda klinis
penyakit tertentu, atau hasil laboratorium
yang tidak normal
Sumber: WHO. Causality Assessment of an Adverse Event Following Immunization (AEFI): user
manual for the revised WHO classification. 2013; p.2. Dapat diakses pada: http://in.vaccine-safety-
training.org/
Klasifikasi KIPI
• Klasifikasi Lapangan
• --> untuk petugas kesehatan di lapangan
• Klasifikasi Kausalitas KIPI
•  untuk telaah komnas dan komda KIPI
• - kausalitas WHO 2009
• - kausalitas WHO 2013
Klasifikasi Lapangan KIPI
• Tujuan penentuan klasifikasi lapangan: agar
petugas di Puskesmas/ Layanan primer dapat
segera melakukan penanganan dan tindakan
preventif lainnya
• Misalnya jika ditemukan adanya kesalahan
prosedur akibat kurang sempurnanya tindakan
a/antiseptis maka harus segera dilakukan
perbaikan
• KIPI yang diklasifikasikan sebagai koinsidens
dapat membantu mengurangi kekhawatiran
masyarakat tentang keamanan vaksin
Klasifikasi Lapangan KIPI,
WHO 1999
1. Reaksi vaksin
2. Kesalahan program/teknik pelaksanaan
imunisasi
3. Reaksi suntikan
4. Faktor kebetulan (koinsidens)
5. Tidak diketahui
Definisi KIPI berdasarkan kausal
(WHO,2014)
2 3
1 4
Reaksi yang Reaksi yang
Reaksi yang Reaksi yang 5
berhubungan berhubungan
berhubungan berhubungan
dengan defek dengan Koinsiden
dengan dengan
kualitas kesalahan
produk vaksin kecemasan
vaksin prosedur

CONTOH CONTOH
Kegagalan CONTOH Demam
CONTOH
pabrik vaksin Transmisi Vasovagal setelah
CONTOH untuk syncope imunisasi
infeksi
Trombositope- menginaktivas pada (hubungan
melalui vial
nia pasca i secara seorang sementara)
multidosis
pemberian komplit suatu dewasa dan parasit
yang
vaksin campak lot vaksin IPV muda malaria
terkontami-
yang nasi setelah yang
menyebabkan imunisasi. diisolasi dari
polio paralitik darah.
PENYEBAB KIPI: Komponen dan Cara
Pemberian
Komponen Vaksin:
• Antigen: Viral-Bacteria (live-attenuated/ hidup dilemahkan, inaktif),
subunit, toxoid—membentuk imunitas
• Stabilizer: MgCl2 MgSO4—stabilisasi rantai dingin
• Adjuvan: Al--merangsang pembentukan antibodi terhadap antigen
dalam vaksin secara lebih efektif
• Antibiotik: neomycin mencegah kontaminasi bakteri pada kultur sel
• Pengawet: Thiomersal, Formaldehyde, derivat Phenol

RUTE PEMBERIAN:

PENANGANAN
• Oral
• Intradermal
KIPI
VAKSIN • Subkutan
• Intramuskular
REAKSI YANG BERHUBUNGAN
DENGAN PRODUK VAKSIN
KIPI Serius vs Berat
KIPI Serius KIPI Berat
(Serious AEFI) (Severe AEFI)
Kejadian medis yang tidak
Istilah asli dari reaksi berat
mengenakkan, pada
KIPI
dosis berapapun,
menyebabkan:
• Kematian Tidak berhubungan dengan
masalah medis jangka
• Mengancam jiwa
panjang
• Dirawat di RS
• Kecacatan serius/
Kejadiannya sendiri mungkin
permanen
hanya masalah medis minor
• Kelainan kongenital (contoh: demam, tetapi
• Membutuhkan tindakan berdasarkan keparahannya
guna mencegah cacat digolongkan menjadi BERAT
atau kerusakan
permanen
• Menimbulkan keresahan
di masyarakat
KIPI Serius (Serious Event)

KIPI dikatakan serius jika:


• Menyebabkan kematian
• Mengancam jiwa
• Dirawat di RS
• Kecacatan serius/ permanen
• Merupakan kelainan kongenital/cacat lahir
• Membutuhkan tindakan guna mencegah cacat
atau kerusakan permanen
• Menimbulkan keresahan di masyarakat
KIPI Berat (Severe Event)

Istilah berat digunakan untuk mendekskripsikan


intensitas suatu kejadian ( ringan, sedang, atau
berat); kejadiannya sendiri mungkin hanya
merupakan masalah medis minor
(contoh:demam sebagai reaksi minor yang
sering, tetapi berdasarkan keparahannya dapat
digolongkan sebagai demam ringan atau demam
sedang).
Kelompok Reaksi Vaksin

Reaksi vaksin diklasifikasikan menjadi 2 kelompok:

Reaksi Ringan Reaksi

Biasanya terjadi beberapa jam Biasanya tidak menyebabkan


setelah penyuntikan masalah berkepanjangan

Selesai dalam waktu singkat dan Dapat menyebabkan kecacatan


tidak terlalu berbahaya

Lokal (nyeri, merah, bengkak Jarang mengancam jiwa


pada tempat penyuntikan)

Sistemik (demam, malaise, nyeri Termasuk kejang dan alergi


otot, nyeri kepala, hilang nafsu sebagai reaksi tubuh atas
makan komponen tertentu vaksin
FREKUENSI REAKSI VAKSIN

Sering ≥ 10%
sekali* Sering terjadi dan umumnya dengan gejala ringan :
 sebagai bagian dari respons imunitas terhadap
vaksin,
 biasanya hilang sendiri,
Sering ≥ 1% and < 10%  contohnya :
o demam,
o lemah badan.

Tidak sering ≥ 0,1% and < 1%


Jarang, biasanya gejalanya lebih berat:
Jarang ≥ 0,01% and < 0,1% Biasanya membutuhkan keterangan medis,
Contohnya :
o Reaksi alergi berat (syok anafilaksis), ini
termasuk reaksi berlebihan terhadap antigen
atau komponen vaksin,
Sangat < 0,01% o Reaksi spesifik terhadap vaksin tertentu
jarang
misalnya osteitis yang disebabkan pemberian
BCG.
Reaksi Ringan
Sering – Sering sekali

Vaksin Reaksi lokal Demam Rewel, tdk enak


(nyeri,pembengkakan,k >38oC badan & gejala
emerahan) sistemik

BCG 90 – 95 % - -
Hib 5 – 15 % 2 – 10 % -
Hep B Dws: 15 % ; Anak: 5 % - 1–6 %
Measles ~10 % 5 – 15 % 5 % ruam
/ MMR
Polio - <1% < 1 %**
(OPV)
~10 %* ~10 % ~25 %
DTP Sampai 50 % Sampai 50 Sampai 55 %
(pertusi %
s)
* Kejadian (rate) reaksi lokal mungkin meningkat pd booster, bisa sampai 50-85%
** Gejala: diare, sakit kepala, dan/ atau nyeri otot.
Reaksi Berat
Jarang – Sangat jarang sekali

Vaksin Reaksi Interval awitan Rate per sejuta


dosis
BCG Lymfadenitis Supuratif 2-6 bulan 100-1000
BCG osteitis 1-12 bulan 1-700
BCG Diseminata 1-12 bulan 2
Hib Tidak diketahui -
Hep B Anafilaksis 0-1 jam 1-2
Sindrom Guillain Barré 1-6 minggu 5
Measles/ Kejang demam 5-12 hari 333
MMR Trombositopenia 15-35 hari 33
Anafilaksis 0-1 jam 1-50
Ensefalopati - <1
Polio Vaccine-associated paralytic 4-30 hari 0.76-1.3
(OPV) poliomyelitis (VAPP) (dosispertama)
Risiko meningkat pada dosis 0.17 (dosis
pertama, dewasa, dan berikutnya)
penderita imunokompromais 0.15 (kontak)
REAKSI BERAT (2)
JARANG SEKALI- SANGAT JARANG SEKALI

Interval Rate per sejuta


Vaksin Reaksi awitan dosis

Tetanus Neuritis brakial 2-28 hari 5-10


Anafilaksis 0-1 jam 1-6
Abses steril 1-6 minggu 6-10
Tetanus-difteri Sepert reaksi tetanus

DTP Persisten inconsolable


screaming (>3 jam) 0-24 jam 1000-60 000
Kejang 0-3 hari 570
Hypotonic,hyporesponsive
episode (HHE) 0-24 jam 570
Anafilaksis / renjatan 0-1 jam 20
Ensefalopati 0-3 hari 0-1
REAKSI YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KESALAHAN PROSEDUR
Kesalahan Program (1)
Kesalahan Program Perkiraan KIPI
Tidak steril Infeksi
• Pemakaian ulang alat suntik / • Abses lokal di daerah suntikan
jarum • Sepsis, sindrom syok toksik
• Sterilisasi tidak sempurna • Infeksi penyakit yang
• Vaksin / pelarut terkontaminasi ditularkan lewat darah:
• Pemakaian sisa vaksin utk hepatitis, HIV
beberapa sesi vaksinasi • Abses lokal karena kurang
kocok
Salah pakai pelarut vaksin • Efek negatif obat, mis. insulin
• Pemakaian pelarut vaksin yg • Kematian
salah • Vaksin tidak efektif
• Memakai obat sbg vaksin atau
pelarut vaksin
Kesalahan Program (2)
Kesalahan Program Perkiraan KIPI
Penyuntikan salah tempat • Reaksi lokal / abses
• BCG subkutan • Reaksi lokal / abses
• DPT/DT/TT kurang dalam
• Suntikan di bokong • Kerusakan Nervus
Isiadikus
Transportasi / penyimpanan • Reaksi lokal akibat vaksin
vaksin tidak benar beku
• Vaksin tidak aktif (tidak
potent)
Mengabaikan indikasi • Tidak terhindar dari
kontra reaksi yang berat
Pentingnya Mengenal
Indikasi Kontra
• Mengabaikan indikasi kontra  muncul reaksi
vaksin yang sebetulnya dapat dihindari
– Diperlukan pengetahuan bagi pelaksana imunisasi
untuk memperhatikan instruksi penggunaan vaksin
yang benar serta penanganan reaksi vaksin

• Indikasi kontra yang tidak berdasarkan bukti


 dapat menurunkan cakupan dan mengurangi
kepercayaan masyarakat akan keamanan
vaksin
– pernyataan perhatian pada label produksi terkadang
tidak sesuai apabila dipakai sebagai indikasi kontra
mutlak
Contoh Indikasi Kontra
(Kebijakan Imunisasi WHO 2002)
Vaksin Indikasi Kontra
SEMUA vaksin Reaksi anafilaksis terhadap vaksin/ komponennya;
demam yang berat
DTP Anafilaksis terhadap dosis sebelumnya atau terhadap
salah satu komponennya
Campak Reaksi berat pada vaksinasi sebelumnya, gangguan
imunitas bawaan atau didapat (tetapi bukan HIV tanpa
gejala), kehamilan
Mumps Defisiensi imun didapat / imunosupresi, alergi
neomycin, gelatin. Hindari kehamilan meskipun belum
ditemukan adanya gangguan pada kehamilan.

Hepatitis B Anafilaksis pada dosis sebelumnya


Yellow fever Alergi telur, defisiensi imun, HIV simptomatik,
hipersensitifitas pada dosis sebelumnya, kehamilan
Reaksi yang Berhubungan dengan
Kecemasan
• Reaksi suntikan langsung
– Rasa sakit, bengkak & kemerahan
• Reaksi suntikan tidak langsung
– Rasa takut / cemas
– Nafas tertahan
– Pernafasan sangat cepat  light headedness, dizziness
– Pusing, mual / muntah  anak-anak
– Kejang  kasus jarang
– Pingsan / Sinkope  sering, anak-anak lebih tua & dewasa
– Hysteria massal
Kebetulan (Koinsiden)
• Kejadian yang timbul, terjadi secara kebetulan
setelah imunisasi

• Ditemukan kejadian yang sama di saat


bersamaan pada kelompok populasi setempat
tetapi tidak diimunisasi

Vaksin disalahkan sebagai


penyebabnya
Penyebab Tidak Diketahui
• Kejadian yang dilaporkan belum dapat
dikelompokkan ke dalam salah satu
penyebab
• Dibutuhkan kelengkapan informasi lebih
lanjut
PENETAPAN KAUSALITAS
KIPI
Kausalitas KIPI
• Penetapan kausalitas :
– analisis secara sistematis terhadap data KIPI, yang
bertujuan untuk menentukan hubungan kausalitas
antara kejadian medis tersebut dengan vaksin
yang diberikan
• Setiap kasus harus dianalisis berdasarkan data
klinis dengan melihat kesesuaian berdasarkan
waktu dan jenis vaksin yang diberikan
Kausalitas KIPI
Kualitas analisis kausalitas KIPI tergantung pada:
• Kualitas pelaporan KIPI dalam hal responsif,
efektivitas dan kualitas investigasi KIPI
• Ketersediaan data medis dan laboratoris serta akses
terhadap informasi atau data dasar
• Kualitas proses melakukan analisis kausalitas
Kausalitas KIPI
• Reaksi KIPI yang terkait komponen vaksin
– Contoh: ekstremitas bengkak setelah penyuntikan vaksin DTP
• Reaksi KIPI yang terkait cacat mutu vaksin
– Contoh: kegagalan pabrik meng-inaktifkan vaksin-vaksin polio
sehingga terjadi polio paralisis
• Reaksi KIPI akibat kesalahan prosedur
– Contoh: transmisi infeksi akibat vial multidosis yang terkontaminasi
(jarum yang ditusukkan berulang tidak steril
• Reaksi KIPI akibat kecemasan karena takut disuntik
– Contoh: vasovagal syncope pada remaja saat/sesudah vaksinasi
• Kejadian koinsiden
– Contoh: demam saat vaksinasi, sebenarnya demam akibat malaria
Algoritma penilaian
kausalitas
Kausalitas KIPI 2013
C. Hubungan kausal
A. Hubungan kausal
B. Inderterminate tidak konsisten
konsisten
dengan imunisasi

B1. Hubungan temporal.


Informas A1. Reaksi terkait produk Konsisten tetapi tidak cukup
vaksin bukti. Hal ini perlu penelitian
i A2. Reaksi terkait kualitas lebih lanjut Koinsidental
lengkap/ vaksin B2. Dari berbagai faktor disebabkan karena kejadian
A3. Reaksi terkait terdapat konsistensi dan di luar vaksin
adekuat kesalahan prosedur vakin inkonsistensi kausalitas
A4. Reaksi terkait dengan imunisasi, mungkin
kecemasan berhubungan dengan
kejadian koinsiden

Tidak terklasifikasi
Informas
i tidak Jelaskan informasi
lengkap tambahan yang dibutuhkan
untuk klasifikasi:
Pertimbangan untuk
Penilaian Kausalitas KIPI
• Asosiasi temporal: apakah pasti kejadian ikutan didahului oleh
vaksinasi?
• Penjelasan lain: mungkinkah kejadiannya hanya kebetulan, misalnya
akibat hal lain di luar produk vaksin, kesalahan imunisasi atau
kecemasan saat diimunisasi?
• Bukti adanya hubungan: adakah bukti klinis atau laboratorium?
• Bukti sebelumnya: adakah KIPI serupa yang pernah dilaporkan
dalam studi/ literatur atau sumber lainnya?
• Population-based evidence: apakah jumlah kejadian yang terjadi
melampaui jumlah perkiraan kejadian dalam sebuah populasi? (merujuk
dari lembar informasi WHO)
• Dapat diterima secara biologis: dapat dijelaskan sesuai
perjalanan alamiah, patofisiologi penyakit tersebut, bukti laboratorium
atau pada hewan percobaan
Penanganan Awal KIPI
oleh Petugas Medis
Penanganan KIPI Ringan
yang Sering Terjadi
Syok Anafilaksis

0.01 ml/kg/dosis, IM
PELAPORAN KIPI
KIPI Seperti Apa
yang Harus Dilaporkan?
• KIPI serius
• Kejadian yang berkaitan dengan vaksin baru
• KIPI yang terjadi mungkin akibat kesalahan
prosedur
• Kejadian signifikan tanpa penyebab jelas yang
terjadi dalam 30 hari pasca vaksinasi
• Kejadian yang menyita perhatian orang tua atau
komunitas
• Bengkak, kemerahan, nyeri pada lokasi
penyuntikkan yang terjadi lebih dari 3 hari atau
bengkak menjalar sampai ke sendi terdekat
Investigasi
Laporan KIPI
• Tidak seluruh laporan KIPI dilakukan
investigasi. Laporan KIPI yang perlu
dilakukan investigasi, antara lain:
– KIPI serius (serious AEFI)
– Kumpulan KIPI ringan
– Sinyal dan kejadian yang berhubungan
dengan vaksin baru
Investigasi
Laporan KIPI
• Laporan KIPI yang perlu dilakukan
investigasi, antara lain:
– KIPI yang mungkin disebabkan oleh
immunization-error (abses bakteri, reaksi lokal
berat, demam tinggi atau sepsis, BCG
limfadenitis, toxic shock syndrome, kumpulan
KIPI)
– Kejadian signifikan tanpa sebab yang jelas,
terjadi dalam 30 hari pasca imunisasi
– Kejadian yang membuat khawatir orang tua
atau komunitas
Deteksi dan
Pelaporan KIPI
• Orang yang bisa mengenal / mendeteksi
KIPI
– orang tua, petugas kesehatan baik di fasilitas
imunisasi maupun di ruangan gawat darurat di RS
• Kejadian yang harus dideteksi
– Kejadian yang sesuai dengan definisi dan kriteria
kasus
– Kejadian yang berkaitan dengan definisi kasus
– Semua kejadian lain yang dipercaya akibat imunisasi
Pelaporan Kasus
Diduga KIPI
• Dokter praktek swasta dan Rumah Sakit :
- Harus melapor kasus diduga KIPI ke Dinas
Kesehatan dan atau Komda PP-KIPI
setempat
- Harus melengkapi formulir pelaporan
- Bila perlu bisa meminta bantuan ke
Dinas Kesehatan / Komda PP-KIPI
setempat
Isi Laporan KIPI
• Identitas
• Jenis vaksin
• Penanggung jawab
• Gejala klinis & pengobatan
• Saat imunisasi : jam, hari, tanggal.
• Saat terjadinya KIPI : jam, hari, tgl.
• Riwayat imunisasi terdahulu
• Pemeriksaan penunjang
• Prognosis
• Aspek hukum
• Kronologis (cara penyelesaian KIPI)
Pelaporan &
Investigasi KIPI
MOH
Komite
Peninjau
KIPI NIP NRA

Komite IP Provinsi
Provinsi

IP Daerah Rumah Sakit

IP Layanan Kesehatan
Primer
Pelaporan
Komunitas
Investigasi
Formulir Pelaporan KIPI
Form Laporan KIPI Kolom ini hanya diisi oleh Komnas PP KIPI
FORMULIR PELAPORAN KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI
Kode sumber data : ..........................................
(KIPI) 2005 Tgl. terima : …./…./……..
Identitas pasien Tanggal lahir : ...../...../………
Nama : ......................................... Penanggung jawab (dokter)
Nama Orang Tua : ......................................... Jenis Kelamin ..........................................................................
Alamat : .......................................................... 1. Laki-laki; 2. Perempuan Alamat (RS, Puskesmas, Klinik)
.......................................................... ............................................................................
RT/RW : ....../...... Kel./Desa ............................ Bagi Wanita Usia Subur (WUS) RT/RW : ....../...... Kel./Desa ............................
Kec. : .......................................................... 1. Hamil; 2. Tidak Hamil Kec. : ...........................................................
Kab/Kota : .......................................................... Kab/Kota: ...........................................................
Prop. : .......................................................... Keadaan umum : Prop. : ...........................................................
Telp. : .......................................................... ............................................. Telp. : ...........................................................
Kode Pos : Kode Pos :
Pemberi Imunisasi : Dokter / Bidan / Perawat / Jurim
Vaksin-vaksin yang diberikan dalam 4 minggu terakhir
Pemberian
No. Jenis Vaksin Pabrik No. Batch Oral / intrakutan / Lokasi Jumlah
Tanggal Jam
subkutan / i.m penyuntikan dosis
1
2
3
4
Tempat pemberian imunisasi : 1. RS; 2. RB; 3. Puskesmas; 4. Dokter Praktek; 5. Bidan Praktek; 6. BP; 7. Posyandu; 8. Sekolah;
9. Balai Imunisasi; 10. Bidan Desa (Polindes); 11. Rumah; 12. Pustu ; 13. Pos PIN
Manifestasi kejadian ikutan (keluhan, gejala klinis)
Waktu gejala timbul Lama gejala Perawatan / tindakan
Keluhan & Gejala Klinis
Tanggal Jam Mnt Mnt Jam Hari Tindakan darurat
Bengkak pada lokasi penyuntikan Rawat inap
Perdarahan pada lokasi penyuntikan Rawat jalan
Perdarahan lain ..................................................
Gatal Kondisi akhir pasien
Bengkak pada bibir / kelopak mata / kemaluan Sembuh
Bentol disertai gatal Tidak sembuh
Muntah Gejala sisa
Diare Meninggal
Pingsan (sinkop) ( tgl. ...........................)
Kejang Tidak ada keterangan
Sesak nafas
Demam tinggi (>390 C) lebih dari satu hari
Pembesaran kelenjar aksila
Kelemahan/kelumpuhan otot: lengan/tungkai Diagnosis : lain ?
Kesadaran menurun
Menangis menjerit terus menerus > 3 jam
Lain-lain 1. .........................................................
2. .........................................................
Diagnosis
Ensefalitis Meningitis Neuritis brankhialis Purpura trombositopenia Limfadenitis BCG
Ensefalopati Abses Syok anafilaksis Kejang demam Hemofilia
Sindrom Guillain Barre Abses dingin Urtikaria Sepsis APCD
Hipotonik hiporesponsif Selulitis Poliomielitis paralitik BCGitis Eritema multiform

Pengobatan KIPI Tindakan penanganan KIPI


Adrenalin Kortikosteroid Antipiretik ..........................
Infus Antihistamin Antibiotik ..........................
Obat-obat yang sedang diberikan Data laboratorium penunjang KIPI
.......................... .......................... ..........................
.......................... .......................... ..........................
Diagnosis lain: alergi, kelainan sejak lahir, pengobatan khusus Riwayat efek samping obat/vaksin yang pernah dialami

Berita KIPI diperoleh dari : (kader, keluarga, masyarakat, .............................. ) ............................................, tanggal ...../...../..........
Nama : Tanda tangan petugas
Hubungan dengan pasien :
Tanggal : ...../...../..........
(........................................................)
KESIMPULAN
• IMUNISASI MERUPAKAN BENTUK PENCEGAHAN
PENYAKIT YANG PALING EFEKTIF

• RUMAH SAKIT SEBAGAI BAGIAN PELAYANAN


KESEHATAN MEMEGANG PERANAN PENTING
PENINGKATAN CAKUPAN IMUNISASI

• KIPI SEBAGAI BAGIAN DARI PEMBERIAN


IMUNISASI DAPAT DIMINIMALKAN DENGAN
MELAKUKAN PROSEDUR KEAMANAN VAKSIN
VAKSIN AKAN MASUK PROGRAM

PNEUMOKOKUS
INFLUENZA
ROTAVIRUS
IPV

ALAT BARU SUNTIK


PHARMAJET
TERIMA KASIH