You are on page 1of 31

LAPORAN JAGA

ANEMIA HEMOLITIK DENGAN SUSPECT TB


IDENTITAS PASIEN

• NAMA : TN. P
• JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
• TANGGAL LAHIR : 3 JULI 1941
• USIA : 76 TAHUN
• ALAMAT : GARON 3/1 CANDIGARON SUMOWONO
• NO. REKAM MEDIS : 142187-2018
• TANGGAL MASUK : 5 FEBRUARI 2018
• AGAMA : ISLAM
• PEKERJAAN : PETANI
• STATUS : MENIKAH
Keluhan Utama
• Sesak nafas dan lemas

RPS
• Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa dengan keluhan sesak nafas, lemas dan batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS.
• Keluhan yang dialami pasien terus menerus. Sesak yang dialami pasien tidak dipengaruhi aktivitas maupun posisi tubuh yang lebih tinggi. Selain itu, pasien
mengeluhkan BAK lancar namun warnanya seperti teh, kemudian pasien belum BAB selama 3 hari terakhir ini, dan pasien tidak terlalu memperhatikan warna dari
fesesnya. Gejala lain mata pasien berwarna kuning dan ada demam naik turun. Selain itu, pasien mengaku terdapat penurunan berat badan tapi tidak drastis.

RPD
• riwayat hipertensi, DM, keganasan, riwayat penyakit jantung, riwayat penyakit hati, riwayat penyakit batu empedu, dan
riwayat penyakit paru sebelumnya disangkal.
RPO
• Pasien tidak pernah menjalani pengobatan 6 bulan atau riwayat pengobatan
dalam jangka lama
• Pasien mengaku jika tidak enak badan, sering meminum jamu tapi tidak tahu
persis nama maupun kandungan jamu tersebut.

R Sos-Ek
• Pasien tidak meminum alkohol dan menggunakan Napza
• Pasien merupakan petani yang sering bolak balik sawah. Pasien jarang
olahraga.
PEMERIKSAAN FISIK
• STATUS GENERALIS
• KEADAAN UMUM : TAMPAK SAKIT SEDANG
• KESADARAN : COMPOS MENTIS
• BERAT BADAN : 55 KG BMI : 19.03 (NORMAL)
• TINGGI BADAN : 170 CM
• TEKANAN DARAH : 111/53 MMHG  MAP :72
• NADI : 81 X/MENIT
• PERNAPASAN : 28 X/MENIT
• SUHU : 37,5º C
PEMERIKSAAN FISIK
1. KEPALA
• BENTUK : NORMOCEPHALE.

• RAMBUT : WARNA HITAM, DISTRIBUSI RAMBUT MERATA, RAMBUT TIDAK

MUDAH DICABUT.

• MATA : PELPEBRA TIDAK CEKUNG DAN TIDAK EDEMA, KONJUNGTIVA ANEMIS (+/+), SKLERA IKTERIK (+/+), REFLEX
CAHAYA (+/+), ISOKOR, 3MM/3MM

• TELINGA : NORMOTIA, TIDAK ADA CAIRAN YANG KELUAR DARI TELINGA.

• HIDUNG : BENTUK NORMAL, TIDAK ADA DEVIASI SEPTUM, TIDAK HIPEREMIS, DAN TIDAK ADA SECRET YANG KELUAR
DARI LUBANG HIDUNG.

• TENGGOROKAN : FARING TIDAK HIPEREMIS, TONSIL T1-T1.

• MULUT : MUKOSA BIBIR LEMBAB, TIDAK PUCAT, TIDAK SIANOSIS.


PEMERIKSAAN FISIK
LEHER
• INSPEKSI : PROPORSI LEHER DALAM BATAS NORMAL, TIDAK TERLIHAT
ADANYA MASSA ATAU BENJOLAN, TIDAK ADA HAMBATAN DALAM
PERGERAKAN.
• PALPASI : TRAKEA TERLETAK DITENGAH, TIDAK TERABA PEMBESARAN TIROID,
KGB TIDAK TERABA.

THORAX
PARU-PARU
• INSPEKSI : BENTUK DADA NORMOCHEST, PERGERAKAN DINDING DADA

SIMETRIS, TIDAK TERLIHAT ADANYA LUKA/ MASSA DIDAERAH DADA.

• PALPASI : VOCAL FREMITUS SAMA ANTARA DADA KANAN DAN KIRI.

• PERKUSI : SUARA PERKUSI SONOR PADA SELURUH LAPANG PARU.

• AUSKULTASI: SUARA NAFAS VESIKULER LEMAH, RONKHI BASAH KASAR (+/+), WHEEZING (-/-).
PEMERIKSAAN FISIK
JANTUNG
• INSPEKSI : PULSASI IKTUS KORDIS TIDAK TERLIHAT.

• PALPASI : TIDAK TERABA PULSASI IKTUS KORDIS.

• PERKUSI : BATAS JANTUNG DALAM BATAS NORMAL

• AUSKULTASI : BUNYI JANTUNG I-II MURNI REGULAR, TIDAK ADA MURMUR

DAN TIDAK ADA GALLOP.

ABDOMEN
• INSPEKSI : DATAR, DINDING PERUT TIDAK TEGANG, TIDAK TERLIHAT ADA

MASSA.

• AUSKULTASI : BISING USUS (+) NORMAL

• PALPASI : PERUT SUPEL, TIDAK NYERI TEKAN PADA 9 REGIO ABDOMEN, HEPAR TIDAK TERABA MEMBESAR, LIEN TERABA PADA SCHUFFNER I
TEPI TAJAM KONSISTENSI KENYAL DAN TIDAK NYERI TEKAN.

• PERKUSI :-
PEMERIKSAAN FISIK
EKSTREMITAS
• SUPERIOR : EDEMA (-) PUCAT (+)
• INFERIOR : EDEMA (-) PUCAT (+)
• TURGOR KULIT : <2 DETIK
• AKRAL : HANGAT -/- SUPERIOR ET INFERIOR
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

DARAH PERIFER LENGKAP


Hemoglobin
Leukosit 3.7 g/dl L 13.2-17.3 g/dL
Eritrosit 45.700 H 3.8-10.6 ribu
Hematokrit 900.000 L 4,4-5,9 juta
Trombosit 12% L 40-52 %
MCV 280.000 150.000-400.000
MCH 133.3 fL H 82-98 fL
MCHC 40.8 H 27-32 pg
RDW 30.6 g/dl L 32-37 g/dL
MPV 37.1 % H 10-16 %
9.9 mikro m3 7-11 mikro m3
HITUNG JENIS

Basofil 0,7% H 0-1 %


Eosinofil 0.1 % L 2-4 %
Neutrophil 64.7 % 50-70 %
Limfosit 28.4 % 26-40 %
Monosit 6,1 % 2-8 %
PCT 0.277% 0.2-0.5 %
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Jenis Pemeriksaan Kimia Klinik Hasil Nilai Rujukan

SGOT 1104 U/L H 0-50 U/L


SGPT 686 IU/L H 0-50 IU/L
Ureum 115.1 mg/dl H 10-50 mg/dl
Kreatinin 1.27 mg/dl H 0.62-1.1 mg/dl
Bilirubin total 9.34 mg/dl H 0.2-1.1 mg/dl
Bilirubin direk 4.09 mg/dl H 0-0.2 mg/dl
Bilirubin indirek 5.25 mg/dl H 0.0-0.8 mg/dl
LDH 3396 mg/dl H 50-150 U/L
GDS 90 mg/dl <200 mg/dl
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Jenis Pemeriksaan Elekrolit Hasil Nilai Rujukan

Natrium (Na) darah 145 136-146 mEq/L


Kalium (K) darah 4.0 3,5-5,1 mEq/L
Klorida (Cl) darah 109 H 98-106 mEq/L
HASIL EKG

PEMERIKSAAN EKG

Kesan : Takikardi
HASIL RONTGEN THORAKS

Suspect TB
DIAGNOSIS KLINIS

• - OBSERVASI DYSPNEU E.C SUSP TB

• - ANEMIA GRAVIS

PENATALAKSANAAN

• IVFD RL 10 TPM

• O2 10 LPM NRM

• MEDIKAMENTOSA :
• INJEKSI CEFTRIAXONE 2X1 GR
• PO PARACETAMOL 3X500 MG K/P
• PO AMBROXOL 3X1

• TRANSFUSI PRC 1 KOLF/6 JAM

PROGNOSIS

• AD VITAM : ET DUBIA

• AD FUNGTIONAM : ET DUBIA

• AD SANATIONAM : ET DUBIA
PEMERIKSAAN GOL DARAH
No No Kantong Gol Darah Pemeriksaan Gol. Darah
Mayor Minor
1 E 8072005 A 4+ 4+
2 E 8072051 A 4+ 4+
3 E 807 2048 A 4+ 4+
4 E D718 2534 A 4+ 4+

Cell Grouphing Rhesus Golongan Darah


Anti-A Anti-B Anti D Ba 6% A positif
4+ Negatif 4+
TINJAUAN PUSTAKA

• ANEMIA
 PENURUNAN JUMLAH MASSA ERITROSIT (RED CELL MASS) SEHINGGA TIDAK DAPAT MEMENUHI
FUNGSINYA UNTUK MEMBAWA OKSIGEN DALAM JUMLAH YANG CUKUP KE JARINGAN PERIFER.
KLASISIKASI
No Morfologi Sel Keterangan Jenis Anemia
1. Anemia Bentuk eritrosit yang - Anemia Pernisiosa
makrositik - besar dengan - Anemia defisiensi folat
normokromik konsentrasi
hemoglobin yang
normal
2. Anemia Bentuk eritrosit yang - Anemia defisiensi besi
NO KELOMPOK KRITERIA ANEMIA
mikrositik - kecil dengan - Anemia sideroblastik
1. Laki-laki dewasa < 13 g/dl hipokromik konsentrasi - Thalasemia
hemoglobin yang
2. Wanita dewasa tidak hamil < 12 g/dl
menurun
3. Wanita hamil < 11 g/dl 3. Anemia Penghancuran atau - Anemia aplastik
normositik - penurunan jumlah - Anemia posthemoragik
normokromik eritrosit tanpa disertai - Anemia hemolitik
kelainan bentuk dan - Anemia Sickle Cell
konsentrasi - Anemia pada penyakit
hemoglobin kronis
ANEMIA HEMOLITIK

I. DEFINISI
ANEMIA YANG DISEBABKAN KARENA KECEPATAN PENGHANCURAN SEL DARAH MERAH (ERITROSIT) YANG
MENINGKAT DARI NORMALNYA. PADA ANEMIA HEMOLITIK, TERJADI KERUSAKAN SEL ERITROSIT YANG LEBIH
AWAL DARI UMUR ERITROSIT NORMAL (RATA-RATA 110-120 HARI).
EPIDEMIOLOGI
• JUMLAH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA
• KEJADIAN 1:100.000 PADA POPULASI UMUM
• DI INDONESIA INSIDENNYA DIPERKIRAKAN 1-14%, PREVALENSI DEFISIENSI G6PD DI JAWA TENGAH
SEBESAR 15%, DI INDONESIA BAGIAN TIMUR DISEBUTKAN BAHWA INSIDEN DEFISIENSI G6PD ADALAH
1,6 - 6,7%
ETIOLOGI
1) GANGGUAN INTRAKORPUSKULAR  KARENA ADANYA GANGGUAN PADA METABOLISME ERITROSIT ITU SENDIRI
CTHNYA : GANGGUAN PADA STRUKTUR DINDING ERITROSIT, GANGGUAN ENZIM, GANGGUAN PEMBENTUKAN HB

2.)GANGGUAN EKSTRAKORPUSKULER
• OBAT-OBATAN, RACUN ULAR, JAMUR, BAHAN KIMIA (BENSIN, SAPONIN, AIR), TOKSIN (HEMOLISIN) STREPTOCOCCUS, VIRUS,
MALARIA, LUKA BAKAR.
• HIPERSPLENISME. PEMBESARAN LIMPA APAPUN SEBABNYA DAPAT MENYEBABKAN PENGHANCURAN ERITROSIT.
• ANEMIA OLEH KARENA TERJADINYA PENGHANCURAN ERITROSIT AKIBAT TERJADINYA REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI SEPERTI:
A. INKOMPATIBILITAS ABO ATAU RHESUS.
B. ALERGEN YANG BERASAL DARI LUAR TUBUH, KEMUDIAN MENIMBULKAN REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI YANG
MENYEBABKAN HEMOLISIS.
C. HEMOLISIS AKIBAT PROSES AUTOIMUN.
ETIOLOGI
BERDASARKAN ADA ATAU TIDAK KETERLIBATAN KOMPLEKS IMUN :
• ANEMIA HEMOLYSIS IMUN, ADALAH HEMOLYSIS YANG TERJADI KARENA KETERLIBATAN ANTIBODY YANG
BIASANYA IGG DAN IGM YANG SPESIFIK UNTUK ANTIGEN ERITROSIT PASIEN.
• B. ANEMIA HEMOLYSIS NON IMUN. HEMOLISIS TERJADI TANPA KETERLIBATAN IMMUNOGLOBULIN TETAPI
DEFEK MOLECULAR, ABNORMALITAS STRUKTUR MEMBRAN, BIAS JUGA KARENA INFEKSI SEPERTI
MALARIA.
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
• MENDADAK MUAL, PANAS BADAN, MUNTAH, MENGGIGIL, NYERI PERUT, PINGGANG DAN EKSTRIMITAS, LEMAH BADAN, SESAK NAFAS, PUCAT
• 2. GANGGUAN KARDIOVASKULER
• 3. BAK WARNA MERAH/GELAP
• BENTUK KRONIS, KELUHAN LEMAH BADAN BERLANGSUNG DALM PERIODE BEBERAPA MINGGU SAMPAI BULAN. BENTUK ASIMPTOMATIK BIASANYA
TANPA GEJALA. BENTUK SEDANG BERAT : PUCAT, SUBIKTERIK, SPLENOMEGALI, PETEKHIE, PURPURA.

PEMERIKSAAN FISIK
• TAMPAK PUCAT DAN IKTERUS
• TIDAK DITEMUKAN PERDARAHAN DAN LIMFADENOPATI
• DITEMUKAN HEPATOMEGALI DAN SPLENOMEGALI
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• HEMOGLOBIN
• HEMATOKRIT
• INDEKS ERITROSIT
• HAPUSAN DARAH TEPI
• RETIKULOSIT
• ANALISIS HB
• COOMB’S TEST,
• TES FRAGILITAS OSMOTIK,
• URIN RUTIN, FESES RUTIN, PEMERIKSAAN ENZIM-ENZIM
TATALAKSANA
TERAPI ANEMIA HEMOLITIK DAPAT DIGOLONGKAN MENJADI 3 YAITU:
TUJUAN PENGOBATAN ANEMIA HEMOLITIK MELIPUTI:
• MENURUNKAN ATAU MENGHENTIKAN PENGHANCURAN SEL DARAH MERAH.
• MENINGKATKAN JUMLAH SEL DARAH MERAH
• MENGOBATI PENYEBAB YANG MENDASARI PENYAKIT.
TATALAKSANA
TRANSFUSI WASHED RED CELL
INDIKASI TRANSFUSI DARAH UNTUK : 1
• PERDARAHAN AKUT DAN MASIF (YANG MENGANCAM JIWA PENDERITA) ATAU TIDAK ADA RESPON
SEBELUMNYA DENGAN PEMBERIAN CAIRAN KOLOID/KRISTALOID.
• PENYEBAB ANEMIA KONGENITAL YANG MEMERLUKAN TRANSFUSI DARAH SECARA PERIODIK.
• SETIAP ANEMIA DENGAN TANDA-TANDA ANOREKSIA AKUT DAN BERAT YANG MENGANCAM JIWA
PENDERITA.
TATALAKSANA
ANEMIA HEMOLITIK AUTOIMUN :
• GLUKOKORTIKOID : PREDNISON 40 MG/M2 LUAS PERMUKAAN TUBUB (LPT)/HARI.
• SPLENOKTOMI : PADA KASUS YANG TIDAK BERESPON DENGAN PEMBERIAN GLUKOKORTIKOID
• IMUNOSUPRESIF : PADA KASUS GAGAL STEROID DAN TIDAK MEMUNGKINKAN SPLENOKTOMI
- AZATIOPRIN : 80 MG/M2/HARI, ATAU
- SIKLOFOSFAMID : 60-75 MG/M2/HARI
• OBAT IMUNOSUPRESIF DIBERIKAN SELAMA 6 BULAN. KEMUDIAN TAPPERING OFF, BIASANYA DIKOMBINASIKAN
DENGAN PREDNISON 40 MG/M2 LPT/HARI. DOSIS PREDNISON DITURUNKAN BERTAHAP DALAM WAKTU 3
BULAN
TATALAKSANA
• TRANSFUSI BERKALA, PERTAHANKAN HB 10 GR %
• DESFERAL UNTUK MENCEGAH PENUMPUKAN BESI , DOSIS INISIAL 20 MG/KGBB, DIBERIKAN 8-12 JAM INFUS SC DI
DINDING ANTERIOR ABDOMEN, SELAMA 5 HARI/MINGGU.
• DIBERIKAN BERSAMA DENGAN 100-200 MG VITAMIN C PER ORAL UNTUK MENINGKATKAN EKSKRESI FE
• PADA KEADAAN PEMUNPUKAN FE BERAT, TERUTAMA DISERTAI KOMPLIKASI JANTUNG DAN ENDOKRIN
- DEFEROXAMINE DIBERIKAN 50 MG/KGBB SECARA INFUS KONTINUE IV

• SPLENEKTOMI, UMUR OPTIMAL 6-7 THN


• PADA HEMOLISIS KRONIK DIBERIKAN
 ASAM FOLAT 0,15-0,3 MG/HARI UNTUK MENCEGAH KRISIS MEGALOBLASTIK
KOMPLIKASI

• HIPERGLIKEMIA
• GAGAL GINJAL AKUT
• HEMIGLOBINURIA
PROGNOSIS

• PROGNOSIS PADA ANEMIA HEMOLITIK TERGANTUNG PADA ETIOLOGI DAN DETEKSI DINI
• PROGNOSIS JANGKA PANJANG PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT INI BAIK
• SPLENEKTOMI DAPAT MENGONTROL PENYAKIT INI ATAU PALING TIDAK MEMPERBAIKINYA
TERIMAKASIH 