You are on page 1of 12

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

“HALUSINASI”
Anggota kelompok :

Diah arlina
Mayasari rizqiah
Nur Muhammad
Sulindah
Tuti sukreni
Pendahuluan
Salah satu gangguan jiwa berat yang banyak terjadi di seluruh dunia adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan penyakit
neurologis yang mempengaruhi persepsi klien, cara berpikir, bahasa, emosi dan perilaku sosialnya. Salah satu gejala yang paling
sering muncul pada Skizofrenia adalah munculnya halusinasi yaitu sekitar 70 % (Yosep, 2007). Menurut Nuraeni (2009), pasien yang
terdiagnosis medis skizofrenia sebanyak 70% mengalami gangguan jiwa halusinasi pendengaran, 20% mengalami halusinasi
penglihatan dan 10% mengalami halusinasi penghidu, pengacapan dan perabaan. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa
jenis halusinasi yang paling banyak diderita oleh pasien dengan skizofrenia adalah halusinasi pendengaran.

Hasil laporan data di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta tahun 2012 menunjukkan bahwa pasien rawat inap
yang menderita halusinasi memiliki presentasi 78% dari jumlah pasien rawat inap seluruhnya di tahun tersebut. Data lain
menunjukkan bahwa jumlah penderita halusinasi pada bulan Januari 2012 sebanyak 128 orang, bulan Februari 2012 sebanyak 90
orang, bulan Maret 2012 sebanyak 132 orang, serta bulan April 2012 sebanyak 140 orang, dengan 70% di antaranya memiliki
diagnosis keperawatan halusinasi pendengaran.

Hasil laporan data di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta tahun 2017 menunjukkan bahwa pasien rawat inap
ruang puri nurani di bulan Juni yang menderita isolasi sosial sebanyak 3 orang, RPK/PK sebanyak 2 orang dan halusinasi sebanyak
34 orang. Bulan Juli tahun 2017 yang menderita RPK/PK sebanyak 1 orang dan halusinasi sebnyak 38 orang. Bulan Agustus tahun
2017 yang menderita RPK/PK sebanyak 3 orang dan halusinasi sebanyak 39 orang. Banyaknya angka kejadian halusinasi semakin
jelas bahwa dibutuhkan peran perawat untuk membantu pasien agar dapat mengontrol halusinasinya.
pengkajian

Data demografi

Nama : Tn. Hd
Tempat, tgl lahir : Purwokerto, 11 juli 1964
Usia : 53 tahun
Jenis kelamn : Laki-laki
Status : Menikah
Agama : Islam
Ruang praktek : Ruang Puri/Napza
Tgl pengkajian : 15 September 2017
Tgl masuk RS : 11 September 2017
Studi kasus
Tn. Hd berusia 53 tahun dibawa ke RSJ Soeharto Heerdjan oleh petugas PSBL Harapan Sentosa. Klien
mengatakan tidak tahu kenapa dibawa kesini mungkin karena sakit. Klien mengatakan sudah lama tinggal
di panti dari tahun 2009, awalnya dia di telpon dari pihak panti untuk membereskan bangunan dipanti dan
akhirnya tinggal disana. Klien mengatakan semenjak di panti dan sampai saat ini mendengar suara-suara
seperti orang yang sedang ngobrol berisik sekali (suara tidak jelas) tetapi tidak ada wujudnya, klien
mengabaikan suara tersebut dan terkadang kesal dan marah-marah. Klien mendengar suara tersebut
disiang dan malam hari saat klien sedang tidak tidur. Klien mengatakan dulu semenjak sakit (halusinasi) di
panti tidak mau mengikuti kerja bakti yang biasa dia lakukan dan disini (RSJ) tidak mempunyai teman dekat
dan belum kenal dengan teman sekamarnya. Klien mengatakan dulu saat bekerja ada yang mengatakan
kepadanya “kamu tidak tahu apa-apa, kamu bodoh, kamu tidak bisa apa-apa” tetapi klien diam saja dan
istri pernah bilang “terserah kemana aja, pulang bawa uang!”. Klien mengatakan merasa sedih karena ayah
dan anak satu-satunya meninggal dunia, saat ditanya oleh perawat kapan dia menjawab tidak tahu. Klien
berasal dari keluarga tidak mampu dan berpendidikan tidak tamat SD. Berdasarkan hasil observasi
didapatkan data klien terlihat sedih, menghindar dari keramaian, duduk sendirian, banyak diam, terkadang
melamun, jarang ngobrol dengan teman sekamar, terkadang menunduk, bingung, gelisah, afek labil, kontak
mata kurang, disorientasi waktu, tempat dan orang.
Analisa Data
Data Masalah keperawatan

Ds: kehilangan
Klien mengatakan merasa sedih anak satu-satunya dan ayahnya
meninggal dunia. Saat ditanya oleh perawat sejak kapan ditinggalkan,
klien menjawab tidak tau dan lupa.

Do:
Ketika berbicara tentang anak & ayahnya, klien terlihat sedih, menunduk,
dan berbicara dengan nada lemah.

Ds: Koping keluarga tidak


• Klien mengatakan tinggal serumah dengan istrinya karena pekerjaan efektif
klien sudah lama tidak pulang-pulang kerumah, saya bekerja di malang
dan istri di jakarta.
• Klien mengatakan semenjak saya bekerja di malang jarang
berkomunikasi dengan istrinya, hanya seperlunya saja. Segala sesuatu
diputuskan oleh istrinya, kalau tidak dia marah-marah dan ngambek.

Do:
Klien berbicara dan mencurahkan isi hatinya
Data Masalah keperawatan
Ds: Harga diri rendah
• Klien mengatakan dulu saat bekerja ada yang mengatakan kepadanya “kamu
tidak tahu apa-apa, kamu bodoh, kamu tidak bisa apa-apa” tetapi klien diam saja
dan tidak berdaya
• Klien mengatakan istrinya pernah bilang “terserah kemana aja, pulang bawa
uang!”
• Klien mengatakan pendidikan tidak tamat SD
• Klien mengatakan merasa sedih karena anak satu-satunya dan ayahnya meninggal
dunia.
• Klien mengatakan berasal dari keluarga kurang mampu.

Do :
Ketika berbicara tentang anak & ayahnya, klien terlihat sedih, menunduk, dan
berbicara dengan nada lemah

Ds: Isolasi sosial


• Klien mengatakan ingin pulang, tidak mempunyai teman dekat disini dan belum
kenal dengan teman sekamarnya.
• Klien mengatakan semenjak sakit (halusinasi) di panti tidak mau mengikuti kerja
bakti yang biasa dia lakukan.

Do:
Menghindar dari keramaian, duduk sendirian, banyak diam, terkadang melamun,
jarang ngobrol dengan teman sekamar.
Data Masalah keperawatan
Ds: Gangguan persepsi sensori:
• Klien mengatakan mendengar suara-suara seperti orang yang Halusinasi pendengaran
sedang ngobrol berisik sekali tetapi tidak ada wujudnya, kemudian
• Klien mengabaikan suara tersebut. klien mendengar suara itu
disiang dan malam hari saat klien sedang tidak tidur.

Do:
Klien berbicara cepat dan larut dalam ceritanya, bingung, gelisah,
afek labil, kontak mata kurang, disorientasi waktu, tempat dan orang

Ds: Resiko perilaku kekerasan


• Klien mengatakan mendengar suara-suara seperti orang yang
sedang ngobrol berisik sekali tetapi tidak ada wujudnya, klien
terkadang kesal dan marah-marah.
• klien mendengar suara itu disiang dan malam hari saat klien sedang
tidak tidur

Do: -
Pohon masalah :
Resikko perilaku kekerasan

Gangguan presepsi sensori:


Halusinasi pendengaran

Isolasi social

Harga diri rendah

Kehilangan Koping keluarga tidak efektif

Masalah keperawatan :
1. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran

2. Koping keluarga tidak efektif

3. Harga diri rendah

4. Isolasi social

5. Resiko perilaku kekerasan.


Rencana keperawatan
Klien Kriteria evaluasi Intervensi

Tujuan: • Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi, Bantu klien mengenal halusinasinya :
Klien mampu situasi pencetus, dan mampu memperagakan • Isi
mengenali cara mengontrol halusinasi • Waktu terjadinya;
halusinasi yang • Klien dapat menyebutkan kegiatan yang sudah • Frekuensi;
dialaminya, dilakukan dan mampu memperagakan cara • Situasi pencetus;
mengontrol bercakap-cakap dengan orang lain. • Perasaan saat terjadi halusinasi
halusinasinya, dan • Klien mampu menyebutkan kegiatan yang sudah
mengikuti dilakukan dan mampu membuat jadwal kegiatan Latih megontrol halusinasi dengan cara
program sehari-hari serta mampu memperagakannya. menghardik, tahapan tindaka meliputi :
pengobatan • Klien mampu menyebutkan kegiatan apa saja • Jelaskan cara menghardik halusinasi;
secara optimal. yang sudah dilakukan dan mampu menyebutkan • Peragakan cara menghardik;
manfaat dari program pengobatan • Minta klien memperagakan ulang;
• Pantau penerapan cara ini, beri penguatan
perilaku klien.
• Masukkan dalam jadwal kegiatan sehari-
hari.
penutup
A. Kesimpulan

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara
yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang
agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yangdialamatkan pada
pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengansuara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti
bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya
bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya.
Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain. Sesuai yang dialami oleh
Tn. Hd. halusinasi tersebut mendengar suara-suara seperti orang yang sedang ngobrol berisik sekali tetapi tidak ada
wujudnya. Dari kasus yang kelompok temukan peran keluarga sangatlah penting yaitu perhatian yang tulus serta
keberadaan orang tua dan istri dalam keseharian sangat membantu klien jiwa. Adanya dukungan dari keluarga, klien
merasa kehadirannya di inginkan didalam keluarga tersebut sehingga klien termotivasi untuk sembuh.

B. Saran

Diharapkan mahasiswa lebih aktif didalam mengkaji klien dan lebih menganalisa masalah yang di hadapi oleh klien
dengan begitu diharapkan diagnosa yang ditegakkan sesuai dengan kebutuhan klien. Mahasiswa juga perlu
menerapkan kegiatan-kegiatan kreatif yang dapat menstimulus klien didalam berinteraksi dengan para mahasiswa hal
ini berkaitan dengan membina hubungan saling percaya antara mahasiswa dan klien.
TERIMA KASIH