You are on page 1of 46

Elyza Fazlilawati

Feri purnanda
Heri Fikrizal
Muhammad nawawi
Nazirah
Nurul Amani
Konsep Dasar Leukimia
Anatomi fisiologi darah
Darah manusia adalah
cairan jaringan tubuh.
Fungsi utamanya adalah
mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel di
seluruh tubuh. Darah
juga menyuplai jaringan
tubuh dengan nutrisi,
mengangkut zat-zat sisa
metabolisme, dan
mengandung
berbagai bahan penyusun
sistem imun yang
bertujuan
mempertahankan tubuh
dari berbagai penyakit.
DARAH TERDIRI
ATAS: Plasma Darah
Sekitar 91% plasma
Sel-Sel Darah darah terdiri atas air.
Sel-sel darah pada Selebihnya adalah zat
manusia, terdiri atas sel terlarut yang terdiri dari
darah merah (eritrosit), protein plasma (albumin,
sel darah putih (leukosit), protrombin, fibrinogen,
dan keping darah dan antibodi), garam
(trombosit). Dalam sel-sel mineral, dan zat-zat yang
darah, kandungan sel darah diangkut darah (zat
putih dan keping darah makanan, sisa metabolisme
sebanyak 1%, sedangkan sel gas-gas, dan hormon).
darah merah sebanyak Fibrinogen yang ada dalam
99%. plasma darah merupakan
bahan penting untuk
pembekuan darah jika
terjadi luka. Proses
pembekuan darah ini akan
dijelaskan pada bahasan
selanjutnya
 Peredaran darah pada manusia
dibagi atas:
 Sistem Peredaran Darah Besar (Sistemik)

Ventrikel kiri– aorta – pmbuluh nadi – pembuluh kapiler – vena cava


superior dan vena cava inferior – atrium kanan.

 Sistem Peredaran Darah Kecil (Pulmonal)

Atrium kanan jantung – arteri pulmonalis – paru-paru – vena


.
pulmonalis – ventrikel kiri jantung.
Pengertian
Leukemia
Leukemia adalah
neoplasma akut atau kronis
dari sel-sel pembentuk darah
dalam sumsum tulang dan
limfa (Reeves, 2001). Sifat
khas leukemia adalah
proliferasi tidak teratur atau
akumulasi sel darah putih
dalam sumsum tulang,
menggantikan elemen sumsum
tulang normal. Proliferasi
juga terjadi di hati, limpa,
dan nodus limfatikus. Terjadi
invasi organ non hematologis
seperti meninges, traktus
gastrointestinal, ginjal, dan
kulit.
Development of Leukemia in the Bloodstream

Stage 1- Normal Stage 2- Symptoms Stage 3- Diagnosis

Legend

White Cell
Red Cell
Stage 5a- Anemia
Platelet
Blast
Stage 4- Worsening
Germ /
kuman
Stage 5b- Infection
Etiologi Faktor predisposisi:
Penyebab LLA sampai sekarang 1. Faktor genetik: virus
belum jelas, namun tertentu menyebabkan
kemungkinan besar karena terjadinya perubahan struktur
virus (virus onkogenik). gen (T cell leukimia-
lymphoma virus/HTLV)
Faktor lain yang berperan 2. Radiasi ionisasi: lingkungan
antara lain: kerja, prenatal, pengobatan
1. Faktor eksogen seperti sinar kanker sebelumnya
X, sinar radioaktif, dan bahan 3. Terpapar zat-zat kimiawi
kimia (benzol, arsen, seperti benzen, arsen,
preparat sulfat), infeksi kloramfenikol, fenilbutazon,
(virus dan bakteri). dan agen anti neoplastik.
2. Faktor endogen seperti ras 4. Obat-obat imunosupresif,
3. Faktor konstitusi seperti obat karsinogenik seperti
kelainan kromosom, herediter diethylstilbestrol
(kadang-kadang dijumpai 5. Faktor herediter misalnya
kasus leukemia pada kakak- pada kembar satu telur
adik atau kembar satu 6. Kelainan kromosom
telur).
Patofisiologi
Klasifikasi Leukimia
1. Leukemia Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai sel stem hematopeotik yang kelak
berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit,
granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua
kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat
sesuai bertambahnya usia.
1. Leukemia Mielogenus Krinis (LMK)
LMK juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel
stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal
dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih
ringan. LMK jarang menyerang individu di bawah 20
tahun.
3.Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK merupakan kelainan ringan mengenai individu
usia 50 – 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak
menunjukkan gejala. Penyakit baru terdiagnosa saat
pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit.

4. Leukemia Limfositik Akut (LLA)


LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast.
Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak
dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4
tahun, setelah usia 15 tahun. LLA jarang terjadi.
Limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum
tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu
perkembangan sel normal.
Tanda dan Gejala
1. Anemia
2. Suhu tubuh tinggi dan mudah infeksi
3. Perdarahan
4. Penurunan kesadaran
5. Penurunan nafsu makan
6. Kelemahan dan kelelahan fisik
Pemeriksaan Diagnostik
 Pemeriksaan darah tepi, gejala yang terlihat adalah
adanya pansitopenia, limfositosis yang kadang-kadang
menyebabkan gambaran darah tepi monoton dan
terdapat sel blast (menunjukkan gejala patogonomik
untuk leukemia).
 Pemeriksaan sumsum tulang ditemukan gambaran
monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik
patologis sedangkan sistem lain terdesak (aplasia
sekunder).
 Pemeriksaan biopsi limfa memperlihatkan proliferasi
sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfa
yang terdesak seperti: limfosit normal, RES,
granulosit, pulp cell.
Penatalaksanaan
1. Program terapi 2. Pengobatan
a. Memperbaiki keadaan imunologik
umum Bertujuan untuk
b. Pengobatan spesifik menghilangkan sel
c. fase Pelaksanaan
leukemia yang ada di
Kemoterapi: dalam tubuh agar
pasien dapat sembuh
sempurna. Pengobatan
seluruhnya dihentikan
setelah 3 tahun remisi
terus menerus.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANEK
DENGAN LEUKIMIA
pengkajian
1. Riwayat penyakit:
Kaji adanya tanda-tanda
trombositopenia :
Kaji adanya tanda-tanda anemia
 Pucat
 Purpura
 Kelemahan
 Perdarahan membran
 Sesak mukosa
 Nafas cepat

Kaji adanya tanda-tanda


Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
leukopenia  Limfadenopati

 Demam  Hepatomegali

 Infeksi

(SplenomegaliSuriadi,R dan Rita


Yuliani,2001
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti
pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang
yang dikemas dengan sel leukemia, agen kimia
pengobatan antileukemik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya
sistem pertahanan tubuh
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan akibat anemia
4. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang
berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit.
5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan
berhubungan dengan mual dan muntah
DX 1: Nyeri berhubungan dengan agen fisikal
seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum
tulang yang dikemas dengan sel leukemia, agen
kimia pengobatan antileukemik
- tujuan:
klien tidak mengalami nyeri atau nyeri
menurun
- Kriteria hasil:
Skala nyeri pasien berkurang
Tindakan
Rasional
a. Kaji keluhan nyeri,
perhatikan perubahan pada a. Membantu mengkaji
derajat dan sisi kebutuhan untuk
intervensi, dapat
b. Berikan lingkungan tenang mengidentifikasi terjadinya
dan kurangi rangsangan komplikasi
penuh stress
b. Meningkatkan istirahat
c.Tempatkan pada posisi dan meningkatkan
nyaman dan sokong sendi, kebutuhan koping
ekstremitas dengan bantal.
c. Dapat menurunkan
d. Berikan obat sesuai ketidaknyamanan
indikasi: analgesic, contoh: tulang/sendi
asematinofen(tylenol)
d. Diberikan untuk nyeri
e.Narkotik: kodein, meperdin ringan
(demetol),
morfin,hidromorfan e. Digunakan bila nyeri
(dilaudis) hebat.
DX 2 : Resiko infeksi berhubungan dengan
menurunnya sistem pertahanan tubuh

- Tujuan:
Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi

- Kriteria hasil:
anak tampak sehat
Tindakan Rasional

1. Pantau suhu dengan teliti


1. Untuk mendeteksi
2. Tempatkan anak dalam
ruangan khusus kemungkinan infeksi
3. Anjurkan semua pengunjung 2. Untuk meminimalkan
dan staff rumah sakit untuk terpaparnya anak dari sumber
menggunakan teknik mencuci infeksi
tangan dengan baik
4. Evaluasi keadaan anak terhadap 3. Untuk meminimalkan pajanan
tempat-tempat munculnya pada organisme infektif
infeksi seperti tempat 4. Untuk intervensi dini
penusukan jarum, ulserasi
mukosa, dan masalah gigi penanganan infeksi
5. Inspeksi membran mukosa 5. Rongga mulut adalah medium
mulut. Bersihkan mulut yang baik untuk pertumbuhan
dengan baik organisme
6. Berikan periode istirahat tanpa
gangguan 6. menambah energi
7. Berikan diet lengkap nutrisi 7. Untuk penyembuhan dan
sesuai usia regenerasi seluler
8. Berikan antibiotik sesuai 8. Untuk mendukung pertahanan
ketentuan
alami tubuh
9. Diberikan sebagai profilaktik
atau mengobati infeksi khusus
DX 3: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan akibat anemia
- tujuan:
terjadi peningkatan toleransi aktifitas

- Tindakan
1. Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dala aktifitas
sehari-hari
2. Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa
gangguan
3. Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas
yang diinginkan atau dibutuhkan
4. Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan
ambulasi
- Rasional
1. Menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
2. Menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi
seluler atau penyambungan jaringan
3. Mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu
pemilihan intervensi
4. Memaksimalkan sediaan energi untuk tugas
perawatan diri

DX 4: Resiko terhadap cedera/perdarahan yang


berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit

- tujuan:
klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
- Tindakan:
1. Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan
khususnya pada daerah ekimosis
2. Cegah ulserasi oral dan rectal
3. Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
4. Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
5. Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah
menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)
6. Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
7. Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol
perdarahan hidung

- Rasional
1. Karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya
anemia
2. Karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
3. Untuk mencegah perdarahan
4. Untuk mencegah perdarahan
5. Untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
6. Karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
7. Untuk mencegah perdarahan
DX 5: Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan
dengan mual dan muntah

- Tujuan:
1. Tidak terjadi kekurangan volume cairan
2. Pasien tidak mengalami mual dan muntah

- Tindakan
1. Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
2. Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan
program kemoterapi
3. Kaji respon anak terhadap anti emetic
4. Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
5. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
6. Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
DX 6: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah, efek
samping kemoterapi atau stomatitis

 - Tujuan: mengalami peningkatan asupan nutrisi yang


adekuat
 - Kriteria hasil : penambahan berat badan, bebas tanda
malnutrisi, nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g%
).

 Intervensi:
1. Catat asupan makanan setiap hari
2. Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.
3. Berikan makanan yang disukai anak
4. Berikan porsi nasi sedikit tetapi sering
5. Anjurkan anak membersihkan mulutnya sebelum makan
 Rasional:
1. Mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi
2. Memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan
cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa.
3. Anak lebih berselera untuk makan
4. Tidak membuat anak bosan untuk makan
5. Menghindari rasa mual dan muntah
- Rasional
1. Untuk mencegah mual dan muntah
2. Untuk mencegah episode berulang
3. Karena tidak ada obat antiemetik yang secara
umum berhasil
4. Bau yang menyengat dapat menimbulkan mual
dan muntah
5. Karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan
baik
6. untuk mempertahankan hidrasi
evaluasi
1. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
2. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat
kemampuan, adanya slaporan peningkatan toleransi
aktifitas.
3. Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
4. Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak
mengalami mual dan muntah
5. Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak
adanya rasa tidak nyaman
6. Masukan nutrisi adekuat
7. Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan
atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak
mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
Konsep Dasar Rhabdomiosarkoma

Anatomi fisiologi
sel
Pengertian sel
 Sel berasal dari kata ‘cella’ yang berarti ruangan
berukuran kecil maka sel merupakan unit (kesatuan,
zahrah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat
melaksanakan kehidupan.

 Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di


dalam sel. Makhluk hidup (organisme) tersusun dari
satu sel tunggal (uniselular), misalnya
bakteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan protozoa)
atau dari banyak sel (multiselular).
Pengertian Rhabdomiosarkoma
Rhabdomiosarkoma Rabdomiosarkoma
adalah suatu penyakit merupakan keganasan
tumor ganas yang yang sering didapatkan
aslinya berasal dari pada anak-anak dengan
jaringan lunak ( soft umur rata-rata 6
tissue ) tubuh, tahun. Ditandai
termasuk disini adalah dengan tampak adanya
jaringan otot, tendon massa tumor, tumor
dan connective tissue. ini dapat tumbuh
dimana saja di dalam
tubuh.
Etiologi
Faktor predisposisi nya
antara lain :
a. Kelainan kongenital.
b. Sindrom yang jarang
Penyebab dari seperti Beckwith-
rhabdomyosarkoma Wiedemann Syndrome
sendiri sampai saat ini dan Recklinghausen
belum diketahui secara syndrome.
jelas. Dari data
epidemiologi ada c. Kelainan yang
indikasi bahwa faktor diturunkan dalam
genetik tampaknya pembentukan tumor
mempunyai peranan (autosom dominan,
penting pada penyebab kromosom 17).
setidaknya untuk
beberapa jenis sarcoma d. Li-Fraumeni Syndrome
pada anak. e. Neurofibromatosis type
1 (NF 1)
Patofisiologi
Tanda Dan Gejala
1. Massa dari rabdomyosarkoma yang dapat dilihat dan
dirasakan, bisa dirasakan nyeri maupun tidak.
2. Perdarahan pada hidung, vagina, rectum, atau
mulut dapat terjadi jika tumor terletak pada area
ini.
3. Rasa geli, nyeri serta pergerakan dapat terjadi jika
tumor menekan saraf pada area yang terkena.
4. Penonjolan serta kelopak mata yang layu, dapat
mengindikasikan suatu tumor dibelakang area ini.
Penatalaksanaan
1. Pembedahan
2. Radio Terapi
3. Transplantasi stem
cell
4. Terapi Lain
5. Kemoterapi
pengkajian
1. Biodata (nama, jenis kelamin, usia, dll)
2. Riwayat kesehatan masa lalu
3. Riwayat kesehatan keluarga
4. Riwayat kesehatan sekarang
5. Kaji kemampuan koping keluarga dan sistem
pendukung.
 Kaji infeksi  Kaji jumlah darah
 Pada semua tahap putih
kanker, pasien dikaji  Fungsi dari sel-sel darah
terhadap faktor-faktor putih sering rusak pada
yang meningkatkan pasien kanker.
infeksi. Tempat  Pendarahan
terjadinya infeksi yang
umum, seperti faring,  Pasien kanker juga
kulit, area perienal, dipantau terhadap
traktus urinarius, dan faktor yng memperberat
traktus respiratorius, di pendarahan. Faktor
kaji dengtan sering. tersebut mencakup
supresi sumsum tulang
akibat radiasi,
kemoterapi dan obat-
obat lainnya.
 Masalah nutrisi
 Pengkajian maslah nutrisi pasien adalah suatu bagian
penting dari peran parawat. Gangguan status nutrisi
dapat memberi konstibusi pada pejuang penyakit,
inkompentasi imun, insiden infeksi yang meningkat,
perlambatan pembaikan jaringan, kehilangan kemapuan
fungsi, dan penurunan kapasitas untuk melanjutkan
pengobatan antineoplastik.

 Kaji tingkatan nyeri


 Nyeri dan rasa tidak nyaman pada kanker mungkin
berkaitan pada malignasi yang mendasari, desakan
tekanan oleh tumor, prosedur pemeriksaan diagnostik,
atau banyak pengobatan kanker yang mungkin
digunakan.
Diagnosa dan intervensi kep.
 Dx 1: resiko terhadap infeksi b/d perubahan respon imunologi
Tujuan : pencegahan infeksi
Kriteria hasil : resiko nfeksi tidak terjadi
 Intervensi:
 Kaji pasien terhadap bukti adanya infeksi ( periksa TTV setiap 4 jam
sekali, inspeksi semua tempat yang berperan sebagai jalan masuk untuk
patogen, seperti: letak intravena, luka, lipatan kulit, dll)
Rasional: tanda dan gejala infeksi mungkin berkurang pada hospes yang
mengalami imunosupresi.
 Lakukan tindakan untuk meminimalkan infeksi
Rasional: pemajanan terhadap infeksi berkurang
 Instruksikan semua orang yang memasuki ruang pasien mencuci tangan
dengan baik sebelum dan sesudah memasuki ruangan
Rasional: tangan merupakan sumber signifikan dari kontaminasi kuman
 Berikan dorongan pada pasien untuk ambulasi dalam ruangan kecuali
dikontraindikasikan
Rasional: meminimalkan kerusakan kulit dan stasis sekresi pulmonari
 Kaji letak intravena setiap hari terhadap bukti adanya infeksi
Rasional: septikemia stafilokokus nosokomial sangat berkaitan dengan
kateter intravena
 Dx 3: nyeri dan ketidaknyaman
Tujuan: reda dari rasa nyeri dan ketidaknyamanan
Kriteria hasil: rasa nyeri berkurang dan merasa nyaman
 Intervensi:
 Kaji karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan: lokasi, kualitas,
frekuensi, durasi, dll
Rasional: memberikan dasar untuk mengkaji perubahan pada
tingkat nyeri dan mengevaluasi intervensi
 Kaji faktor lain yang menunjang nyeri, keletihan, marah pasien
Rasional: memberikan data tentang faktor-faktor yang
menurunkan kemampuan pasien untuk mentoleransi nyeri dan
meningkatkan tingkat nyeri
 Kaji respon prilaku pasien terhadap nyeri dan pengalaman nyeri
Rasional: memberikan informasi tambahan tentang nyeri pasien
 Berikan obat analgetik sesuai indikasi
Rasional: untuk meredakan rasa nyeri yang dialami pasien
 Dx 2: perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan muntah

Tujuan : memperkecil jumlah episode mula dan muntah sebelum, selama, dan
sesudah kemoterapi
Kriteria hasil : mual dan muntah berkurang
 Intervensi:
 Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan
toleransi pasien
Rasional: setiap pasien merespon berbeda terhadap makanan setelah kemoterapi.
Suatu diet yang mengandung makanan yang dapat meredakan mual/muntah
pasien akan sangat membantu.
 Cegah pandangan, bau, dan bunyi-bunyi yang tidak menyenagkan di
lingkungannya.
Rasional: sensasi tidak menyenangkan dapat menstimulasi pusat mual/muntah
 Gunakan ditraksi, teknik relaksasi, dan imajinasi sebelum, selama, dan setelah
kemoterapi
Rasional: menurunkan ansietas yang dapat menunjang terhadap mual/muntah,
kondisi psikologis dapat juga diturunkan
 Pastikan hidrasi yang adekuat sebelum, selama, dan setelah pemberian obat: kaji
masukan dan haluaran
Rasional: volume cairan yang adekuat akan mengencerkan kadar obat, mengurangi
stimulasi reseptor muntah
 Berikan dorongan hygiene oral yang sering
Rasional: mengurangi rasa yang tidak mengenakkan
 Dx 4: keletihan dan intoleransi aktivitas
Tujuan: peningkatan toleransi aktivitas dan penurunan tingkat
keletihan
Kriteria hasil: meningkatnya toleransi aktifitas dan menurunnya
keletihan
 Intervensi:
 Berikan dorongan untuk istirahat beberapa periode selama siang
hari, terutama sebelum dan sesudah latihan fisik
Rasional: selama istirahat energi dihemat dan tingkat energi
diperbarui.
 Tingkatkan jam tidur total pada malam hari
Rasional: tidur membantu untuk memulihakan tingkat energi
 Kaji terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Rasional: dapat menunjang terhadap perubahan transmisi saraf dan
fungsi otot
 Kaji terhadap sumber ketidaknyamanan
Rasional: koping dengan ketidaknyamanan membutuhkan
penghematan energi
 Berikan strategi untuk memfasilitasi mobilisasi
Rasional: kerusakan mobilitas membutuhkan peningkatan
penghematan energi
evaluasi
1. resiko nfeksi tidak terjadi
2. mual dan muntah berkurang
3. meningkatnya toleransi aktifitas dan
menurunnya keletihan
4. rasa nyeri berkurang dan merasa nyaman