You are on page 1of 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

LANSIA DENGAN GANGGUAN


SYSTEM PENDENGARAN
Kelompok VII
1. ERLANGGA BAYU PUTRA
2. LAELA NURHASANAH
3. SISKY FEBRILIANA
DEFINISI
• Gangguan pendengaran merupakan suatu keadaan yang menyertai lanjutnya usia.
Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ corti berupa
hilangnya sel epitel syaraf yang di mulai pada usia pertengahan (Vander Cammen,
1991).
• Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis. fenonema tersebut sebagai
suatu penyakitsimetris bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progresif
lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan dihubungkan dengan penuaan.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berbagai faktor yang telah diteliti adalah: nutrisi,
faktor dan arteriosklerosis. Penurunan pendengaran terutama berupa sensorineural,
tetapi juga dapat berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbiskusis.
(Rees and Deekert, 1990).
Klasifikasi gangguan pendengaran
•Gangguan pendengaran konduktif
•Gangguan pendengaran tipe sensori – neural
•Presbiskusis
•Tinitus
•Persepsi Pendengaran Abnormal
•Gangguan Terhadap Lokalisasi Suara
ETIOLOGI
Etiologi di bagi menjadi 2 yaitu:
a. INTERNAL
b. EKSTERNAL
Tanda dan Gejala
1. Berkurangnya pendengaran secara perlahan dan progresif perlahan pada kedua
telinga dan tidak disadari oleh penderita.
2. Suara-suara terdengar seperti bergumam, sehingga mereka sulit untuk mengerti
pembicaraan.
3. Sulit mendengar pembicaraan di sekitarnya, terutama jika berada di tempat dengan
latar belakang suara yang rama.
4. Suara berfrekuensi rendah, seperti suara laki-laki, lebih mudah didengar daripada
suara berfrekuensi tinggi.
5. Bila intensitas suara tinggi akan timbul rasa nyeri di telinga.
6. Telinga terdengar berdenging (tinnitus).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan dengan garputala
2. Audiometri
3. Audimetri Ambang Bicara
4. Diskriminasi
5. Timpanometri
6. Alat Bantu Dengar
7. Pencangkokan Koklea
PENATALAKSANAAN
Terdapat beberapa pilihan terapi untuk penderita prebikusis, diantaranya:
1. Kurangin paparan terhadap bising.
2. Gunakan pelindung telinga (ear plegs atau ear muffs) untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut.
3. Gunakan alat pendengar.
4. Lakukan latihan untuk meningkat keterampilan membaca gerak bibir
dan latihan mendengar.
5. Berbicaralah kepada penderita prebikusis dengan nada rendah dan jelas.
6. Dengan memahami kondisi yang dialami oleh para lansia dan
memberikan terapi yang tepat bagi mereka, diharapkan kita dapat
membantu mengatasi masalah sosial yang mungkin mereka alami akibat
adanya keterbatasan fungsi pendengaran mereka.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1) Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status perkawinan, pekerjaan, alamat,
tanggal masuk rumah sakit, golongan darah dan lain sebagainya.

2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Klien susah mendengar pasien atau rangsang suara
Lanjutan
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1. Saat sekarang keluarga klien mengatakan susah mendengar pesan atau rangsangan
berupa suara.
2. Ketika berbicara dengan orang lain klien tidak mengerti terhadap pembicaraan.
3. Untuk lebih mengerti, klien sering meminta untuk mengulangi pembicaraan.
4. Keluarga klien mengatakan lebih senang menyendiri dan dengan kesendiriannya itu
klien mengekspresikan kesepian dan keluarga klien mengatakan bahwa klien sering
menarik diri dari lingkungan dan tidak mau tampil bersama anggota keluarga.
5. Untuk mengisi kebosanannya, keluarga klien mengatakan bahwa klien lebih banyak
tidur dan tidak mau melakukan aktivitas apapun.
6. Komunikasi dengan klien sebagian besar berjalan melalui pesan-pesan tertulis.
Lanjutan
3. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian daun telinga
1) Inspeksi
a) Kesimetrisan daun telinga (simetris kiri dan kanan).
b) Posisi telinga normal yaitu sebanding dengan titik puncak.
c) Penempatan pada lipatan luar mata (masih terdapat/tampak atau tidak).
d) Terdapat pembengkakan pada Auditorius eksternal atau tidak.
2) Palpasi
1. Apakah terdapat nyeri.
2. Apakah ada pembengkakan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang
pendengaran bagian dalam.
2. Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.
3. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
INTERVENSI
1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan 2. Kurang aktivitas berhubungan dengan
degenerasi tulang pendengaran bagian dalam. menarik diri dengan lingkungan.
TUJUAN TUJUAN
Komunikasi verbal klien berjalan baik. klien dapat melakukan aktivitas tanpa kesulitan.
KRITERIA HASIL KRITERIA HASIL
1. Menerima pesan melalui metode alternative. 1. Menceritakan perasaan-perasaan bosan
2. Mengerti apa yang diungkapkan. 2. Melaporkan adanya peningkatan dalam aktivitas yang
menyenangkan.
3. Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan untuk
berkomunikasi. 3. Menceritakan metode koping terhadap perasaan marah atau
depresi yang disebabkan oleh kebosanan.
4. Menggunakan alat bantu dengar dengan cara yang tepat.
INTERVENSI
5. Klien dapat menerima keadaan dirinya.
1. Beri motivasi untuk dapat saling berbagi perasaan dan
INTERVENSI
pengalaman
1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam penerimaan pesan
2. Bantu klien untuk mengatasi perasaan marah dari berduka
2. Periksa apakah ada serumen yang mengganggu pendengaran.
3. Variasikan rutinitas sehari-hari
3. Bicara dengan pelan dan jelas.
4. Libatkkan individu dalam merencanakan rutinitas sehari-hari
4. Gunakan alat tulis pada waktu menyampaikan pesan.
3. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
TUJUAN
klien dapat menerima keadaan dirinya.
KRITERIA HASIL
1. Mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri
2. Berhubungan sosial dengan orang lain
3. Mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan
orang lain
4. Membina hubungan saling percaya dengan perawat
INTERVENSI
1. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau bergaul
atau menarik diri.
3. Diskusi bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang mungkin.
4. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.