You are on page 1of 69

1.

Hipofungsi kelenjar hipofisis (hipopituitarisme)


dapat terjadi akibat penyakit pada kelenjar
sendiri atau pada hipotalamus. (Robbins Cotran
Kumar)

2.Hipopitutarisme is pituitary insuffisienency from


destruction of the anterior lobe of the pituitary
gland. (Diane C. Baughman)

3.Hipopituitarisme mengacu kepada keadaan


sekresi beberapa hormon hipofisis anterior yang
sangat rendah. (Elizabeth C Erorwin)
4.Hipopituitarisme adalah hiposekresi satu
atau lebih hormon hipofise anterior. (Barbara
C. Long)
5.Hipopituitarisme adalah disebabkan oleh
macam – macam kelainan antara lain
nekrosis, hipofisis post partum(penyakit
shecan), nekrosis karena meningitis basalis
trauma tengkorak, hipertensi maligna,
arteriasklerosis serebri, tumor granulema dan
lain – lain (Kapita Selekta Edisi:2)
1. Hipofisis Anterior (Adenohipofisis)
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior
berperan utama dalam pengaturan fungsi
metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya
yaitu:
 Hormon Pertumbuhan
Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh dengan
cara mempengaruhi pembentukan protein,
pembelahan sel, dan deferensiasi sel.
 Adrenokortikotropin (Kortikotropin)
Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal,
yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolism
glukosa, protein dan lemak.
 Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin)
Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan
triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan
selanjutnya mengatur kecepatan sebagian
besar reaksi kimia diseluruh tubuh.
 Prolaktin
Meningkatkan pertumbuhan kelenjar
payudara dan produksi air susu.
 Hormon Perangsang Folikel dan Hormon
Lutein
Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan
aktivitas reproduksinya.
2. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)
Ada 2 jenis hormon:
 Hormon Antideuretik (disebit juga
vasopresin)
Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam
urin dan dengan cara ini akan membantu
mengatur konsentrasi air dalam cairan
tubuh.
 Oksitosis.
Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar
payudara ke putting susu selama pengisapan
dan mungkin membantu melahirkan bayi
pada saat akhir masa kehamilan.
3. Pars Intermedia
Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan
posterior yang relative avaskular, yang pada
manusia hamper tidak ada sedangkan pada
bebrapa jenis binatang rendah ukurannya
jauh lebih besar dan lebih berfungsi.
 Hipopituitarisme adalah keadaan yang timbul
sebagai akibat hipofungsi hipofisis.
Definisi hormone hipofisis depan dapat terjadi
dari 3 jalur :
1. Kelainan di dalam kelenjar yang dapat
merusak sel – sel sekretorik.
2. Kelainan di dalam atau yang berdekatan
dengan tangkai hipofise dimana dapat
menyebabkan penghentian penyebaran
faktor – faktor yang berasal dari
hipotalamus.
3. Kelainan di dalam hipotalamus sendiri
dimana dapat merusak pelepasan bahan
pengatur pada hipofise depan.
Penyebab yang secara primer mempengaruhi
kelenjar hipofisa (hipopituitarisme primer):
 Tumor hipofisa
 Berkurangnya aliran darah ke hipofisa (akibat
perdarahan hebat, bekuan darah, anemia)
 Infeksi dan peradangan
 Sarkoidosis atau amiloidosis
 Penyinaran
 Pengangkatan kelenjar hipofisa melalui
pembedahan
 Penyakit autoimun.
Penyebab yang secara primer
mempengaruhi hipotalamus (hipo
pituitarisme sekunder) :
 Tumor hipotalamus
 Peradangan
 Cedera kepala
 Kerusakan pada hipofisa,
pembuluh darah maupun sarafnya
akibat pembedahan.
 Hipopituitarisme mempengaruhi fungsi
kelenjar endokrin yang dirangsang oleh
hormon-hormon hipofisa anterior, karena itu
gejala bervariasi tergantung kepada jenis
hormon apa yang kurang.
Gejala-gejalanya biasanya timbul secara
bertahap dan tidak disadari selama beberapa
waktu, tetapi kadang terjadi secara mendadak
dan dramatis.
 Bisa terjadi kekurangan satu, beberapa
atau semua hormon hipofisa anterior.

Kekurangan gonadotropin (LH dan FSH)


pada wanita pre-menopause bisa
menyebabkan:
- terhentinya siklus menstruasi
(amenore)
- kemandulan
- vagina yang kering
- hilangnya beberapa ciri seksual
wanita.
Pada pria, kekurangan gonadotropin
menyebabkan:
- impotensi
- pengkisutan buah zakar
- berkurangnya produksi sperma
sehingga terjadi kemandulan
- hilangnya beberapa ciri seksual pria
(misalnya pertumbuhan badan dan
rambut wajah).
 Kekurangan gonadotropin juga terjadi
pada sindroma Kallmann, yang juga
menderita:
- celah bibir atau celah langit-langit mulut
- buta warna
- tidak mampu membaui sesuatu.
 Kekurangan TSH menyebabkan hipotiroidisme,
yang menimbulkan gejala berupa:
- kebingungan
- tidak tahan terhadap cuaca dingin
- penambahan berat badan
- sembelit
- kulit kering.
1. Sakit kepala dan gangguan penglihatan
atau adanya tanda – tanda tekanan intra
kranial yang meningkat.
Mungkin merupakan gambaran penyakit bila
tumor menyita ruangan yang cukup besar.
2. Gambaran dari produksi hormon
pertumbuhan yang berlebih termasuk
akromegali (tangan dan kaki besar demikian
pula lidah dan rahang), berkeringat banyak,
hipertensi dan artralgia (nyeri sendi).
3. Hiper Prolaktinemia :
Amenore atau oligomenore galaktore (30%),
infertilitas pada wanita, impotensi pada pria.
4. Sindrom Chusing :
Obesitas sentral, hirsutisme, striae, hipertensi,
diabetesmilitus, osteoporosis.
5. Defisiensi hormon pertumbuhan : (Growt
Hormon = GH)
gangguan pertumbuhan pada anak – anak.
6. Defisiensi Gonadotropin :
impotensi, libido menurun, rambut tubuh
rontok
pada pria, amenore pada wanita.
7. Defisiensi TSH :
rasa lelah, konstipasi, kulit kering gambaran
laboratorium dari hipertiroidism.
8. Defisiensi Kortikotropin :
malaise,anoreksia, rasa lelah yang nyata, pucat,
gejala – gejala yang sangat hebat selama
menderita penyakit sistemik ringan biasa,
gambaran laboratorium dari penurunan fungsi
adrenal.
9. Defisiensi Vasopresin : poliuria, polidipsia,
dehidrasi, tidak mampu memekatkan urin.
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
 Amati bentuk dan ukuran tubuh,
ukur BB dan TB, amati bentuk dan ukuran
buah dada, pertumbuhan rambut axila dan
pubis pada klien pria amati pula
pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan
kumis)
b. Palpasi :
 Palpasi kulit, pada wanita
biasanya menjadi kering dan kasar.
 Tergantung pada penyebab hipopituitary,
perlu juga dikaji data lain sebagai data
penyerta seperti bila penyebabnya adalah
tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan
terhadap fungsi serebrum dan fungsi nervus
kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala.
2. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap
kemampuan klien dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya.
3. Data penunjang dari hasil pemeriksaan
diagnostik seperti :
a. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan
atau erosi sella tursika.
b. Pemeriksaan serum darah : LH dan FSH GH,
prolaktin, alsdosteron, testosteron, kartisol,
androgen, test stimulasi yang mencakup uji
toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing
hormon
1. Pemeriksaan Laboratorik.
Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidraksi
kortikosteroid dalam urin menurun, BMR
menurun.
2. Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis
Sella Tursika
a. Foto polos kepala
b. Poliomografi berbagai arah(multi
direksional)
c. Pneumoensefalografi
d. CT Scan
e. Angiografi serebral
3. Pemeriksaan Lapang Pandang
a. Adanya kelainan lapangan pandang mencurigakan
b. Adanya tumor hipofisis yang menekan kiasma optik
4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen atau
testosteron
b. Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH
c. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau
supresan hormon, dan dengan melakukan pengukuran
efeknya terhadap kadar hormon serum.
d. Tes provokatif.
1. Kardiovaskuler.
a. Hipertensi.
b. Tromboflebitis.
c. Tromboembolisme.
d. Percepatan uterosklerosis.
2. Imunologi.
 Peningkatan resiko infeksi dan penyamaran
tanda – tanda infeksi.
3. Perubahan mata.
a. Glaukoma.
b. Lesi kornea.
4. Muskuloskeletal.
a. Pelisutan otot.
b. Kesembuhan luka yang jelek.
c. Osteoporis dengan fraktur kompresi
vertebra, fraktur patologik tulang panjang,
nekrosis aseptik kaput femoris.
5. Metabolik.
 Perubahan pada metabolisme glukosa
sindrome penghentian steroid.
6. Perubahan penampakan.
a. Muka seperti bulan (moon face).
b. Pertambahan berat badan.
c. Jerawat.
DIAGNOSA BANDING
1. Gangguan hipotalamus.
2. Penyakit organ ’target’
seperti gagal tiroid primer, penyakit addison
atau gagal gonadal rimer.
3. Penyebab sindrom chusing lain termasuk
tumor adrenal, sindrome ACTH ektopik.
4. Diabetes insipidus psikogenik atau
nefrogenik.
5. Syndrom parkinson
 Pengobatan lebih ditujukan kepada
menggantikan kekurangan hormon target, bukan
hormon hipofisa
 Jika penyebabnya adalah tumor hipofisa yang
kecil, maka dilakukan pengangkatan tumor.
Setelah pembedahan harus diberikan penyinaran
berkekuatan tinggi untuk membunuh sisa sel-sel
tumor. Terapi penyinaran cenderung
menyebabkan hilangnya fungsi hipofisa secara
perlahan, baik sebagian maupun keseluruhan.
Karena itu fungsi kelenjar target biasanya dinilai
setiap 3-6 bulan untuk tahun pertama kemudian
setiap tahun pada tahun berikutnya.
1. Kausal.
 Bila disebabkan oleh tumor, umumnya dilakukan
radiasi.
 Bila gejala – gejala tekanan oleh tumor progresif
dilakukan
operasi.
2. Terapi Substitusi
a. Hidrokortison antara 20 – 30 mg sehari
b. Puluis tiroid / tiroksin diberikan setelah terapi
dengan hidrokortison.
c. Testosteron pada penderita laki – laki
berikan suntikan testosteron enantot atau
testosteron siprionat 200 mg intramuskuler tiap
2 minggu. Dapat juga diberikan fluoxymestron
10 mg per-os tiap hari.
d. Esterogen diberikan pada wanita secara
siklik untuk mempertahankan siklus haid.
Berikan juga androgen dosis setengah
dosis pada laki – laki hentikan bila ada gejala
virilisasi ’’growth hormone’’ bila terdapat
dwarfisme.
3. Tumor hipofisis, diobati dengan
pembedahan radioterapi atau obat (misal :
akromegali dan hiperprolaktinemia dengan
hymocriptine).
4. Beberapa cara pengobatan sering dilakukan.
5. Defisiensi hormon hos diobati sebagai
berikut : penggantian GH untuk defisiensi GH
pada anak – anak, tiroksin dan kortison untuk
defisiensi TSH dan ACTH, penggantian
androgen atau esterogen untuk defisiensi
gonadotropin sendiri (isolated) dapat diobati
dengan penyuntikan FSH atau HCG.
6. Desmopressin dengan insuflasi masal dalam
dosis terukur.
1 PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan
ini
antara lain mencakup:
1. Riwayat penyakit masa lalu
 Adakah penyakit atau trauma pada kepala
yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi
pada kepala.
2. Sejak kapan keluhan diarasakan
 Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa
balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada
masapraremaja.
3. Apakah keluhan terjadi sejak lahir.
 Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada
klien kretinisme.
4. Kaji TTV dasar untuk
perbandingan dengan hasil pemeriksaan yang akan
datang.

5. Berat dan tinggi badan saat lahir atau kaji


pertumbuhan fisik klien. Bandingkan perumbuhan anak
dengan standar.
6. Keluhan utama klien:
a. Pertumbuhan lambat.
b. Ukuran otot dan tulang kecil.
c. Tanda – tanda seks sekunder tidak berkembang, tidak
ada rambut pubis dan rambut axila, payudara tidak
tumbuh,
penis tidak tumbuh, tidak mendapat haid, dan lain –
lain.
d. Interfilitas.
e. Impotensi.
f. Libido menurun.
g. Nyeri senggama pada wanita.
Pemeriksaan fisik
a. Amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur BB dan
TB, amati bentuk dan ukuran buah dada,
pertumbuhan rambut axila dan pubis pada klien
pria amati pula pertumbuhan rambut wajah
(jenggot dan kumis).
b. Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi
kering dan kasar.
Tergantung pada penyebab hipopituitary,perlu
juga dikaji
data lain sebagai data penyerta seperti bila
penyebabnya
adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan
terhadap fungsi serebrum dan fungsi nervus
kranialis dan
adanya keluhan nyeri kepala.
8. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap
kemapuan klien dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya.
9. Data penunjang dari hasil pemeriksaan
diagnostik seperti :
a. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan
atau erosi sella tursika.
b. Pemeriksaan serta serum darah : LH dan
FSH GH, androgen, prolaktin, testosteron,
kartisol, aldosteron, test stimulating yang
mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi
tiroid releasing hormone.
1. Gangguan citra tubuh yang berhubungan
dengan perubahan struktur tubuh dan fungsi
tubuh akibat defisiensi gonadotropin
dan defisiensi hormon pertumbuhan.
2. Koping individu tak efektif berhubungan
dengan kronisitas kondisi penyakit.
3. Harga diri rendah berhubungan dengan
perubahan penampilan tubuh.
4. Gangguan persepsi sensori (penglihatan)
berhubungan dengan gangguan transmisi
impuls sebagai akibat penekanan tumor pada
nervus optikus.
5. Ansietas berhubungan dengan
ancaman atau perubahan status kesehatan.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan
menurunnya kekuatan otot.
7. Resiko gangguan integritas kulit
(kekeringan) berhubungan dengan
menurunnya kadar hormonal.
3 INTERVENSI
 Secara umum tujuan yang diharapakan dari
perawatan klien dengan hipofungsi hipofisis
adalah :
1. Klien memiliki kembali citra tubuh yang
positif dan harga diri yang tinggi.
2. Klien dapat berpartisipasi aktif dalam
program pengobatan.
3. Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup
sehari – hari.
4. Klien bebas dari rasa cemas.
5. Klien terhindar dari komplikasi.
1. Dx : Gangguan Citra Tubuh yang Berhubungan
dengan Perubahan Struktur Tubuh dan Fungsi
Tubuh Akibat Defisiensi Gonadotropin dan
Defisiensi Hormon Pertumbuhan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien
memiliki
kembali citra tubuh yang positif dan harga diri
yang tinggi.
 Kriteria Hasil :
1. Melakukan kegiatan penerimaan, penampilan
misalnya: kerapian, pakaian, postur tubuh, pola
makan, kehadiran diri.
2. Penampilan dalam perawatan diri / tanggung
jawab peran.
Intervensi :
1. Dorong individu untuk mengekspresikan
perasaan.
R/ Kita dapat mengkaji sejauh mana tingkat
penolakan terhadap kenyataan akan kondisi
fisik tubuh, untuk mempercepat teknik
penyembuhan / penanganan.
2. Dorong individu untuk bertanya mengenai
masalah, penanganan, perkembangan,
prognosa kesehatan.
R/ Dengan mengetahui proses perjalanan
penyakit tersebut maka klien
secara bertahap akan mulai menerima
kenyataan.
3. Tingkatkan komunikasi terbuka, menghindari
kritik / penilaian tentang perilaku klien.
R/ Membantu untuk tiap individu untuk memahami
area dalam program sehingga salah pemahaman
tidak terjadi.
4. Berikan kesempatan berbagi rasa dengan
individu yang mengalami pengalaman yang
sama.
R/ Sebagai problem solving
5. Bantu staf mewaspadai dan menerima
perasaan sendiri bila merawat pasien lain.
 R/ Perilaku menilai, perasaan jijik, marah dan
aneh dapat mempengaruhi perawatan /
ditransmisikan pada klien, menguatkan harga
negatif / gambaran.
IMPLEMENTASI
 Mendorong klien untuk mengungkapkan
perasaan.
 Mendorong klien untuk meningkatkan proses
koping terhadap orang lain.
 Mendorong klien untuk berbagi rasa dengan
individu yang mengalami pengalaman yang
sama.
 Membantu klien dalam aktivitas perawatan
diri melibatkan juga orang lain.
 Membantu klien untuk dapat terlibat dalam
aktivitas perawatan diri.
 EVALUASI
S : Keluarga mengatakan bahwa klien mulai
melakukan kegiatan penerimaan diri misalnya :
perawatan diri.
O : Aktivitas peningkatan diri misalnya :
penampilan, kerapian, pola makan, dan lain –
lain.
 Kemampuan dalam penampilan perawatan diri /
tanggung jawab peran membaik, misalnya :
penampilan dalam aktifitas keterlibatan sosial.
A : Masalah gangguan citra tubuh berangsur –
angsur teratasi.
P : Lanjutkan intervensi hingga keadaan
membaik.
2. DX .Koping Individu Tak Efektif berhubungan
dengan Kronisitas Kondisi Penyakit.
Tujuan :
Setelah dilakuan tindakan keperawatan tingkat
koping individu meningkat.
Kriteria Hasil :
1. Mengungkapkan perasaan yang berhubungan
dengan keadaan emosional.
2. Mengidentifikasi pola koping personal
dan konsekuensi perilaku yang diakibatkan.
3. Mengidentifikasi kekuatan personal dan
menerima dukungan melalui hubungan
keperawatan.
4. Membuat keputusan dan dilanjutkan dengan
tindakan yang sesuai / mengubah situasi
provokatif dalam lingkungan personal.
Intervensi :
1. Kaji status koping individu yang ada.
R/ Meningkatkan proses interaksi sosial karena
klien mengalami peningkatan komunikatif.
2. Berikan dukungan jika individu berbicara.
R/ Klien meningkatkan rasa percaya diri
kepada orang lain.
3. Bantu individu untuk memcahkan masalah
(problem solving).
R/ Dengan berkurangnya ketegangan,
ketakutan klien akan menurun dan tidak
mengucil /
mengisolasikan diri dari lingkungan.
4. Instruksikan individu untuk melakukan
teknis relasi, dalam proses teknik
pembelajaran penatalaksanaan stress.
R/ Ketepatan penanganan dan proses
penyembuhan.
5. Kolaborasi dengan tenaga ahli psikologi
untuk proses penyuluhan.
R/ Klien mengerti tentang penyakitnya.
IMPLEMENTASI
 Mengkaji status koping individu yang ada.
 Memberikan dukungan jika individu
berbicara.
 Melakukan tindakan komunikasi terapeutik
dengan membina hubungan saling percaya
kepada klien.
 Membantu individu dalam memecahkan
masalah (problem solving).
 Mengajarkan teknik relaksasi.
EVALUASI
S : Klien mengungkapkan keinginan untuk
berpartisipasi dalam proses sosialisasi,
interaksi sosial.
O : Kondisi emosional terkontrol, pasien tidak
mudah marah, tingkat stress menurun, klien
mulai ikut serta dalam tindakan
pengobatan, klien mulai berkomunikasi
kepada perawat serta tenaga kesehatan
lain.
A : Masalah teratasi.
P : Hentikan intervensi.
3. DX . Harga diri Rendah berhubungan dengan
Perubahan Penampilan Tubuh.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
Keperawatan harga diri meningkat.
Kriteria hasil :
1. Mengungkapkan hasil perasaan dan pikiran
mengenai diri.
2. Mengidentifikasikan dua atributif positif
mengenai diri.
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya perawat dan
klien.
R/ Rasa percaya diri meningkat, pasien menerima
kenyataan akan penampilan tubuh.
2. Tingkatkan interaksi sosial.
R/ Pasien akan merasa berarti, dihargai, dihormati,
serta diterima oleh lingkungan.
3. Diskusikan harapan / keinginan / perasaan.
R/ Dengan cara pertukaran pengalaman perasaan
akan lebih mampu dalam mencegah faktor
penyebab terjadinya
harga diri rendah.
4. Rujuk kepelayanan pendukung.
R/ Memberikan tempat untuk pertukaran masalah
dan pengalaman yang sama.
IMPLEMENTASI :
 Membina hubungan saling percaya antar
perawat dengan klien.
 Meningkatkan interaksi sosial.
 Meningkatkan harga diri dengan cara
mendukung segala tindakan, harapan atau
keinginan pasien.
S : Klien mengatakan mulai menerima
kenyataan
dan tidak mengatakan hal yang muluk –
muluk atau hal yang negatif tentang
dirinya.
O : Expresi malu rasa bersalah berkurang.
 Tanda – tanda depresi menurun.
 Mulai mencoba untuk mencoba sesuatu /
situasi baru.
 Berkurangnya perilaku penyalahgunaan diri
(misalnya : pengrusakan, usaha bunuh diri
dan lain - lain).
A : Masalah teratasi.
P : Hentikan intervensi
4. DX. Gangguan Persepsi Sensori (Penglihatan)
berhubungan dengan Kesalahan Interpertasi
Sekunder, Gangguan Transmisi, Impuls.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
penglihatan berangsur – angsur membaik.
Kriteria Hasil :
1. Menunjukkan tanda adanya penurunan
gejala yang menimbulkan gangguan persepsi
sensori
2. Mengidentifikasi dan menghilangkan
faktor resiko jika mungkin.
3. Menggunakan rasionalisasi dalam tindakan
penanganan.
Intervensi :
1. Kurangi penglihatan yang berlebih.
R/ Mengurangi tingkat ketegangan otot mata,
meningkatkan relaksasi mata.
2. Orientasikan terhadap keseluruhan 3 bidang
(orang, tempat, waktu).
R/ Untuk mengetahui faktor penyebab melalui tes
sensori indera penglihatan.
3. Sediakan waktu untuk istirahat bagi klien tanpa
gangguan.
R/ Meningkatkan kepekaan indera penglihatan
melalui stimulus indera khususnya penglihatan.
4. Gunakan berbagai metode untuk menstimulasi
indera.
R/ Mempertahankan normalitas melalui waktu
lebih muda bila tidak mampu menggunakan
penglihatan.
IMPLEMENTASI
 Mengurangi penglihatan yang berlebihan.
 Mengorientasikan klien terhadap orang,
tempat dan waktu.
 Menyediakan waktu istirahat atau tidur bagi
pasien tanpa gangguan.
 Gunakan berbagai metode untuk
menstimulasi indera.
S : Klien mengatakan adanya halusinasi
penglihatan.
O : Orientasi terhadap orang, tempat dan
waktu
membaik. Stimulas terhadap lingkungan
membaik.
 Resiko cidera mata yang mengganggu
penglihatan, misalnya : ikterus, konjungtes
stimulasi indera penglihatan membaik /
mengalami peningkatan.
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan.
5. DX.Ansietas berhubungan dengan
Perubahan Status Kesehatan.
Tujuan :
Ansietas berhubungan dengan perubahan
status
kesehatan berkurang.
Kriteria hasil :
1. Peningkatan kenyaman psikologis dan
fsikologis.
2. Menggambarkan ansietas dan pola
kopingnya.
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya.
R/ Komunikasi terapeutik dapat memudahkan
tindakan.
2. Catat respon verbal non verbal pasien.
R/ Mengetahui perasaan yang sedang dialami
klien.
3. Berikan aktivitas yang dapat menurunkan
ketegangan.
R/ Kondisi rileks dapat menurunkan tingkat
ancietas.
4. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode
menghentikan tidur.
R/ Mengatasi kelemahan, menghemat energi dan
dapat meningkatkan kemampuan koping.
IMPLEMENTASI
 Mengkaji tingkat ansietas.
 Memberikan kenyamanan dan ketentraman
hati.
 Memberikan aktivitas yang dapat
menurunkan ketegangan.
 Mencegah adanya faktor penyebab ansietas.
 Mengajarkan teknik penghentian ansietas
untuk mengatasi stres teknik relaksasi.
EVALUASI
S : Klien merasa cemas, gelisah dan ketakutan.
O : Wajah tegang, tampak pucat. Peningkatan
frekuensi pernafasan, frekuensi jantung dan
tekanan darah.
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi.
6. DX.Defisit Perawatan Diri berhubungan
dengan
Menurunnya Kekuatan Otot.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien
dapat aktif dalam aktifitas perawatan diri.
Kriteria hasil :
1. Mengidentifikasi kemampuan aktifitas
perawatan diri.
2. Melakukan kebersihan optimal setelah
bantuan dalam perawatan diberikan.
3. Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam
aktifitas, perawatan diri / pemenuhan
kebutuhan dasar.
Intervensi :
1. Kaji faktor penyebab menurunnya defisit
perawatan diri.
R/ Menghambat faktor penyebab dapat
meningkatkan perawatan diri.
2. Tingkatkan partisipasi optimal.
R/ Partisipasi optimal dapat memaksimalkan
perawatan diri.
3. Evaluasi kemampuan untuk berpartisipasi dalam
setiap aktivitas perawatan.
R/ Dapat menumbuhkan rasa percaya diri klien.
4. Beri dorongan untuk mengexpresikan perasaan
tentang kurang perawatan diri.
R/ Dapat memberikan kesempatan pada klien
untuk melakukan perawatan diri.
IMPLEMENTASI
 Mengkaji faktor penyebab menurunnya defisit
perawatan diri.
 Meningkatkan keterlibatan klien secara total
dalam kegiatan perawatan diri.
 Mengevaluasi kemampuan untuk
berpartisipasi dalam setiap aktifitas
perawatan diri.
 Memberi dorongan untuk mengungkapkan
perasaan tentang kurang perawatan diri.
S : Keluarga klien mengatakan bahwa klien
mulai
melakukan aktifitas perawatan diri atau
personal hygene.
O : Perubahan gaya hidup, misalnya : pola
makan, istirahat teratur.
 Perubahan penampilanbepakaian, kerapian.
 Perubahan peningkatan aktivitas personal
hygene, misalnya : menggosok gigi dll
A : Masalah teratasi.
P : Hentikan intervensi
7. DX. Resiko Gangguan Integritas Kulit
(Kekeringan) berhubungan dengan Menurunnya
Kadar Hormonal.
Tujuan :
Setelah dilakukan keperawatan integritas kulit
dalam kondisi normal.
Kriteria hasil :
1. Mengidentifikasi faktor penyebab.
2. Berpartisipasi dalam rencana pengobatan yang
dilanjutkan untuk meningkatkan penyembuhan
luka.
3. Menggambarkan etiologi dan tindakan
pencegahan.
4. Memperlihatkan integritas kulit bebas dari luka
tekan.
Intervensi :
1. Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk
hidrasi yang adekuat.
2. Berikan dorongan latihan rentang gerak dan
mobilisasi.
R/ Meningkatkan pemeliharaan fungsi otot / sendi.
3. Ubah posisi atau mobilisasi.
R/ Meningkatkan posisi fungsional pada
ekstrimitas.
4. Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein
untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen
positif.
R/ Kelemahan dan kehilangan pengaturan
metabolisme terhadap makanan dapat
mengakibatkan malnutrisi.
5. Pertahankan tempat tidur sedatar mungkin.
R/ Posisi datar menjaga keseimbangan tubuh
dan mencegah retensi cairan pada daerah
tertentu sehingga tidak terjadi edema lokal.
 O : Mukosa kulit lembab.
 Tonus otot meningkat.
 Luka tekan atau ulkus berkurang, berangsur
mengalami penyembuhan.
A : Masalah teratasi.
P : Hentikan intervensi.