You are on page 1of 21

ASUHAN KEPERAWATAN

LABIOPALATOSKIZIS,
HISPRUNG DAN ATRESIA ANI

OLEH

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SEBELAS APRIL SUMEDANG
2017/2018
LABIOPALATOSKIZIS

Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada


daerah mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing pada
bibir) yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio (Hidayat, 2005).

Labio palatoskizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa
celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto, 2001).

Labio palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir
atas, gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya
perkembangan emberio.
HEREDITER

1. Mutasi Gen
2. Kelainan Kromosom
ETIOLOGI
FAKTOR
LINGKUNGAN

 Faktor Usia Ibu


 Obat-obatan
 Nutrisi
 Penyakit Infeksi
 Radiasi
 Stress
 Trauma
PATOFISIOLOGI
TANDA DAN GEJALA

Terjadi pemisahan Terjadi pemisahan bibir


langit-langit dan langit-langit

Terjadi pemisahan
Infeksi Telinga
bibir

Pada bayi terjadi regurgitasi


Berat badan tidak nasal ketika menyusui yaitu
bertambah keluarnya air susu dari hidung
KOMPLIKASI

Gangguan
Bicara Terjadi otitis
Aspirasi
media

Distress Resiko infeksi


Pernafasan saluran nafas

Tumbuh Kembang Gangguan


terhambat pendengaran
Perubahan harga diri
dan citra tubuh
Masalah Gigi
Kesulitan makan
PENATALAKSANAAN

Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan


cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah bayi
berusia 2 bulan, dengan berat badan yang
meningkat, dan bebas dari infeksi oral pada saluran
napas dan sistemik.
HIRSCHPRUNG
Hirschprung atau Megakolon adalah penyakit tidak
adanya sel-sel ganglion dalam rektum atau bagian
rektosigmoid colon. Akibat ketidakadaan ini
menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya
peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan
(Betz, Cecily & Sowden, 2003).

Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah


kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus
tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi
pada bayi aterm denagn berat lahir ≤ 3 kg, lebih
banyak laki – laki dari pada perempuan
ETIOLOGI
Kegagalan sel-sel krista neuralis untuk
bermigrasi ke dalam dinding suatu bagian
saluran cerna bagian bawah termasuk kolon
dan rektum

Riwayat keluarga yang terkena penyakit


tersebut. Terdapat kecenderungan bahwa
penyakit Hirschsprung dipengaruhi oleh
riwayat atau latar belakang keluarga dari ibu.
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
PERIODE BAYI PERIODE ANAK-ANAK

 Konstipasi kronis
 Malnutrisi
 Anemia
 Gagal mengeluarkan  Perut membuncit (abdomen
mekonium dalam 48 jam distention)
setelah lahir  Pemeriksaan rectal touche (colok
dubur) menunjukkan sfingter anal yang
 Muntah berisi empedu padat/ketat, dan biasanya feses akan
 Enggan minum langsung menyemprot keluar dengan
 Distensi abdomen bau feses dan gas yang busuk
 Terdapat tanda-tanda edema, bercak-
 Obstruksi usus bercak kemerahan khususnya di sekitar
umbilicus, punggung dan di sekitar
genitalia ditemukan bila telah terdapat
komplikasi peritonitis
 Infeksi serius dengan diare, demam
dan muntah dan kadang-kadang
dilatasi kolon yang berbahaya
KLASIFIKASI HISPRUNG

Ultra short segment : Ganglion tidak ada pada


bagian yang sangat kecil dari rectum

Short segment : Ganglion tidak ada pada


rectum dan sebagian kecil dari colon

Long segment : Ganglion tidak ada pada


rectum dan sebagian besar colon

Very long segment: Ganglion tidak ada pada


seluruh colon dan rectum dan kadang
sebagian usus kecil.
KOMPLIKASI
Gawat Striktura
Pernafasan AKut Enterokolitis Ani
nekrotans

Inkontinensia
Obstruksi Usus

Ketidakseimbangan Gangguan
cairan dan elektrolit pendengaran

Konstipasi

Abses Pneumatosis
perikolon Usus
Perforasi dan
septikemi
PENATALAKSANAAN

PERIOPERATIF OPERATIF

 Tindakan Bedah sementara


 Tindakan Bedah Definitif
a. Prosedur Swenson
 Diet b. Prosedur Duhamel
 Terapi Farmakologi c. Prosedur Soave
d. Myomectomy Anorectal

POST OPERATIF

Pada awal jangka masa postoperatif


sesudah PERPT (Primary Endorectal Pull-
Through), pemberian makanan peroral
dimulakan segera untuk membantu
penyesuaian (adaptasi usus) dan
penyembuhan anastomosis
ATRESIA ANI
Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya
.Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya
lubang atau saluran anus (Donna, 2003). Atresia ani adalah tidak
lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau
tertutupnya anus secara abnormal. Atresia ani atau anus imperforata
adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian
endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak
sempurna.
ETIOLOGI
Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara
komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi, atau
pembentukan anus dari tonjolan Embrionik

Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur,


sehingga bayi lahir tanpa lubang anus

Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab


atresia ani, karena ada kegagalan pertumbuhan saat
bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau 3 bulan

Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan


rektum, sfingter, dan otot dasar panggul
TANDA DAN GEJALA
Mekonium tidak keluar dalam 24 jam
pertama setelah kelahiran

Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu


rektal pada bayi

Mekonium keluar melalui sebuah fistula


atau anus yang letaknya salah.

Perut kembung

Bayi muntah-muntah pada umur 24-48


jam
PENATALAKSANAAN

Pembuatan kolostomi

PSARP (Posterio Sagital


Ano Rectal Plasty)

Tutup kolostomi
KONSEP DASAR ASUHAN
KEPERAWATAN