You are on page 1of 12

Kelompok III

- Apriyani Bantu - Hamdan yusuf


- Ayu sintia - Gufron dunggu
- Ayun polimengo - Indah sri wahyuni mohamad
- Ivah ruskia ningsih
- Delfiyanti umar
- Ismiyatii mooduto
- Desi yantiko - Mira ana
- Fatmawati hamza - Mirandawati saleh
- fatmiyati hasan
Kanker lambung adalah sejenis kanker
saluran cerna dengan insidensi paling tinggi.
akhir tahun 1997 telah dibuktikan bahwa
Helicobacter pylori juga memegang peranan
kausal pada semua tumor ini. banyak pengidap
kanker lambung semula melalui gastritis kronis
dan atrofia sel diduga berangsur-angsur
menyebabkan berkembangnya tumor ganas.
pembedahan dan radiasi kini tidak diperlukan
lagi karena kuman dapat dibasmi dengan
antibiotika. (Tjay, Tan Joan : 2002)
1. Faktor predisposisi
a. Faktor genetik
b. Faktor umur

2. Faktor presipitasi
a. Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap atau yang
diawetkan
b. Infeksi H.pylori
c. Sosioekonomi
d. Mengonsumsi rokok dan alkohol
e. NSAIDs
f. Anemia pernisiosa
 Anemia,
 Penurunan berat badan
 Disfagia
 Nausea
 Kelemahan
 Hematemesis
 Regurgitasi
 Mudah kenyang
 Asites perut membesar
 Kram abdomen
 Darah yang nyata atau samar dalam tinja
 Kanker lambung paling sering muncul dari lapisan mukosa
lambung. Sebagian besar kanker ini terjadi di kurvatura minor
lambung di daerah pilori dan antral. Prognosis lebih baik untuk
kanker lambung yang melibatkan lesi polipoid; dan prognosis
buruk bagi ulserasi kanker, prognosis terburuk jika terjadi
infiltrasi. Kanker lambung menyebar dengan perluasan langsung
ke pankreas, melalui limfatik, dan dengan infiltrasi hematogen
menyebar ke hati, paru-paru, dan tulang rute khusus
bergantung pada lokasi dan jenis tumor. Beberapa tumor
menembus, beberapa berulserasi, dan beberapa menyebar
sepanjang bidan jaringan.
 Kanker lambung berstadium menggunakan klasifikasi
tumor, nodus, dan metastasis (TNM) dengan stadium I sampai
dengan IV. Kanker dapat direseksi pada stadium awal sebelum ia
menyebar ke dinding lambung. Angka kelangsungan hidup 5
tahun sekitar 90% untuk penyakit lokal sedangkan pada stadium
tiga akan jatuh di bawah 10%. Pada kanker lambung lanjutan,
tingkat kelangusngan hidupnya hampir nol.
 Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas
pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk
polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata,
perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.
 Tipe II (superficial type)
Dapat dibagi atas 3 sub tipe:
a. Tipe II.a. (Elevated type), Tampaknya sedikit elevasi
mukosa lambung.Hampir seperti tipe I, terdapat
sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar.
b. Tipe II.b. (Flat type), Tidak terlihat elevasi atau
depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan
pada warna mukosa.
c. Tipe II.c. (Depressed type), Didapatkan
permukaan yang iregular dan pinggir tidak
rata (iregular) hiperemik / perdarahan.
 Tipe III. (Excavated type)
Menyerupai Bormann II (tumor ganas
lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti
tipe II c dan tipe III atau tipe III dan tipe II c,
dan tipe II a dan tipe IIc.
 Endoskopi untuk biopsi dan pencucian
sitologis adalah pemeriksaan diagnostik
umum.
 Pemeriksaan sinar-X terhadap saluran GI atas
dengan barium, karena metastase sering
terjadi sebelum tanda peringatan ada
 Pemindai tomografi komputer, pemindai
tulang, dan pemindai hepar dilakukan dalam
menentukan luasnya metastasis.
 Tidak ada pengobatan yang berhasil
menangani karsinoma lambung kecuali
mengangkat tumornya. Bila tumor dapat
diangkat ketika masih terlokalisasi di
lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor
telah menyebar ke area lain yang dapat
dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak
dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien
ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala
seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan
reseksi tumor.
 Volume darah dipersiapkan dan
antibiotik diberikan bila terdapat
akhlorhidria. Jika melibatkan kolon, maka
dilakukan bowel cleansing dan antibakteri
yang sesuai. Empat sampai enam unit darah
disiapkan bila diperlukan transfusi. Tes faal
paru dilakukan sesuai indikasi. Pemasangan
selang nasogastrik atau Levin diperlukan
untuk mengosongkan lambung sebelum
operasi.
◦ Posisi Pasien, Insisi dan Eksposur
 Operator berdiri di sisi kanan penderita dan
menggunakan lampu kepala. Posisi penderita anti
Trendelenburg akan sangat membantu. Eksposur
yang baik dapat dicapai melalui insisi chevron, walau
insisi midline sampai xiphoid juga memberikan
eksposur yang memadai, pada orang gemuk dapat
sampai infraumbilikal.
◦ Tehnik Operasi
 Diseksi dimulai dengan memisahkan omentum dari
kolon transversum Keseluruhan kolon transversum,
termasuk fleksura hepatika dan lienalis, dibebaskan
dari omentum dan ditarik ke bawah. Omentum ditarik
ke atas, bersamaan dengan kolon transversum ditarik
ke bawah, cabang-cabang vena antara vena
gastroepiploika kanan dan vena kolika media diligasi.
1. Tehnik Rekonstruksi Pasca Gastrektomi Total
 Rekonstruksi yang dilakukan harus
mengembalikan fungsi transit intestinal dan
nutrisi yang baik. Pasase makanan dengan
mudah dipertahankan dengan esofago-
jejunostomi simpel, tetapi kehilangan berat
badan persisten, refluks esofageal dan
biasanya sindrom dumping yang berat dapat
mempengaruhi kualitas hidup Untuk mengatasi
masalah-masalah pencegahan refluks,
preservasi transit duodenal dan khususnya
membuat reservoir gastrik merupakan tujuan
utama dari rekonstruksi.