You are on page 1of 36

Asuhan Keperawatan Kritis

dengan gangguan kardiovaskular


Destiya Dwi P., S.Kep., Ners,M.Kep.
Anatomi Fisiologi Sistem Kardiovaskular
Sistem Peredaran Darah Jantung
• Peredaran darah sistemik 
jantung - seluruh tubuh -
jantung.
• Peredaran darah kecil 
jantung - paru-paru -
jantung.
Hipertensi Krisis/emergensi
• Hipertensi krisis merupakan peningkatan tekanan darah lebih dari
180/120 mmhg yang disertai dengan kerusakan target organ yang
dapat mengamcam jiwa.
• Target organ yang bisa rusak adalah otak (stroke), jantung (infark
miokard akut) dan ginjal dimana terjadi gagal ginjal akut dengan
oliguria dan atau hematuria (Urden, Stacy & Lough, 2010 dan Jevon,
et., al., 2008)
Klasifikasi Hipertensi Krisis
• Hipertensi emergensi (darurat)  ditandai dengan TD Diastolik > 120
mmHg, disertai kerusakan berat dari organ sasaran yag disebabkan
oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut
• Hipertensi urgensi (mendesak)  TD diastolik > 120 mmHg dan
dengan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ sasaran.
Patofisiologi Hipertensi Krisis
Penanganan Hipertensi Krisis
• Tujuan utama dari penanganan krisis hipertensi adalah mencegah
progresifitas kerusakan organ target.
• Target penurunan tekanan darah sistolik dalam satu jam pertama
sebesar 10 – 15% dari takanan darah sistolik awal dan tidak melebihi
25 %.
• Jika kondisi pasien cukup stabil maka target tekanan darah dalam 2
sampai 6 jam selanjutnya sekitar 160 /100 – 110 mmHg Selanjutnya
hingga 24 jam kedepan tekanan darah dapat diturunkan hingga
tekanan sistoliknya 140 mmHg
• Pemberian cairan kristaloid akan memperbaiki perfusi organ dan
mencegah penurunan tekanan darah yang drastis akibat efek obat
antihipertensi
• Pemberian cairan sebaiknya diberikan setelah target penurunan
tekanan darah dalam 1 jam telah tercapai dan perlu pemantauan
yang ketat.
• Pada saat target tekanan darah yang diharapkan telah tercapai maka
pemberian obat – obat oral antihipertensi dapat segera dimulai dan
obat intravena dapat diturunkan perlahan – lahan hingga dihentikan.
Diagnosa dan intervensi keperawatan
• perfusi jaringan yang tidak efektif
kriteria perbaikan yang diharapkan pada pasien tersebut berupa :
• pasien sadar penuh
• kulit teraba hangat
• nadi bilateral kuat dan sama
• Pengisian kapileri kurang dari 3 detik
• tekanan darah sistolik < 140 mmHg, diastolic < 90 mmHg,
• MAP 70 – 120 mmHg, frekuensi nadi 60 – 100 kali / menit
• tidak ada aritmia yang mengancam
• urin 30 ml/jam atau 0,5 – 1 ml/KgBB/jam,
• nilai BUN < 20 mg/dl
• kreatinin <1,5 mg/dl.
Monitoring yang perlu dilakukan pada pasien berupa :
• monitoring tekanan darah dan mencatat setiap peningkatan atau
penurunan yang tiba –tiba
• memantau produksi urin setiap jam dan mencatat jika adanya darah
dalam urin
• monitoring EKG untuk memantau ada tidaknya aritmia atau
perubahan segmen ST dan gelombang T yang menunjukkan adanya
iskemik atau injuri miokard.
Penanganan yang perlu
• diberikan pada pasien berupa oksigen 2 – 4 L/menit untuk
mempertahankan atau memperbaiki oksigenasi
• Meminimalkan kebutuhan oksigen dengan memposisikan pasien
tetap istirahat ditempat tidur
• membantu pasien untuk menurunkan kecemasannya
• Memberikan makanan cair pada fase akut
• memberikan obat – obatan sesuai kolaborasi dengan dokter
• menyiapkan pasien dan keluarganya untuk intervensi pembedahan
jika ada indikasi.
Congestive Heart Failure (CHF)
• Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung memompa
darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan
terhadap oksigen dan nutrien.
• Gagal jantung adalah kumpulan gejala yang kompleks dimana seorang
pasien harus memiliki tampilan berupa: Gejala gagal jantung (nafas
pendek yang tipikal saat istrahat atau saat melakukan aktifitas disertai
/ tidak kelelahan); tanda retensi cairan (kongesti paru atau edema
pergelangan kaki); adanya bukti objektif dari gangguan struktur atau
fungsi jantung saat istrahat (PERKI).
Klasifikasi CHF berdasarkan NYHA
Klasifikasi CHF Berdasarkan Killip
etiologi CHF
• kelainan otot jantung
• Aterosklerosis koroner
• Hipertensi sistemik atau pulmonal
• Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif
Patofisiologi CHF
Manifestasi Klinis
Penatalaksanaan CHF
1) Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
2) Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan
bahan-bahan farmakologis.
3) Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi
diuretik diet dan istirahat
Terapi Farmakologi
• Diuretik (Diuretik tiazid dan loop diuretik)
• Antagonis aldosteron
• Obat inotropik
• Glikosida digitalis
• Vasodilator (Captopril, isosorbit dinitrat)
• Inhibitor ACE
Nursing Diagnosis
Nursing Intervention
Angina Pektoris
• Angina pektoris adalah rasa tidak enak di dada sebagai akibat dari
suatu iskemik miokard tanpa adanya infark.
Klasifikasi Angina Pektoris
• Classical effort angina (angina klasik/angina stabil)
Serangan nyeri dada khas yang timbul waktu bekerja. Berlangsung
hanya beberapa menit dan menghilang dengan nitrogliserin atau
istirahat. Nyeri dada dapat timbul setelah makan, pada udara yang
dingin, reaksi simpatis yang berlebihan atau gangguan emosi.
• Angina tak stabil (Angina preinfark, Insufisiensi koroner akut)
nyeri di dada yang timbul waktu istirahat atau saat kerja ringan dan
berlangsung lebih lama.
Clinical manifestation
• Chest pain. The pain is often felt deep in the chest behind the
sternum and may radiate to the neck, jaw, and shoulders.
• Numbness. A feeling of weakness or numbness in the arms, wrists
and hands.
• Shortness of breath. An increase in oxygen demand could cause
shortness of breath.
• Pallor. Inadequate blood supply to peripheral tissues cause pallor.
Patofisiologi Angina Pektoris
Komplikasi
• Myocardial infarction. Myocardial infarction is the end result of
angina pectoris if left untreated.
• Cardiac arrest. The heart pumps more and more blood to
compensate the decreased oxygen supply, and.the cardiac muscle
would ultimately fail leading to cardiac arrest.
• Cardiogenic shock. MI also predisposes the patient to cardiogenic
shock.
Medical Management

• Oxygen therapy. Oxygen therapy is usually initiated at the onset of


chest pain in an attempt to increase the amount of oxygen delivered
to the myocardium and reduce pain.
Pharmacologic Therapy

• Nitroglycerin gives long term and short term reduction of myocardial


oxygen consumption through selective vasodilation within three
(3) minutes.
• Beta-blockers reduces myocardial oxygen consumption by blocking
beta-adrenergic stimulation of the heart.
• Calcium channel blockers have negative inotropic effects.
• Antiplatelet medications prevent platelet aggregation; and
anticoagulants prevent thrombus formation.
Nursing Assessment

In assessing the patient with angina, the nurse may ask regarding the
following:
• Location of pain.
• Characteristics of pain.
• Health history.
• Pain scale.
• Onset of pain.
• Cause of pain.
• Measures that relieve pain.
• Other symptoms that occur with pain.
Nursing Diagnosis

• Ineffective cardiac tissue perfusion secondary to CAD as evidenced


by chest pain or other prodromal symptoms.
• Death anxiety related to cardiac symptoms.
• Deficient knowledge about the underlying disease and methods for
avoiding complication
• Noncompliance, ineffective management of therapeutic regimen
related to failure to accept necessary lifestyle changes.
Nursing Interventions

• Treating angina. The nurse should instruct the patient to stop all activities
and sit or rest in bed in a semi-Fowler’s position when they experience
angina, and administer nitroglycerin sublingually.
• Reducing anxiety. Exploring implications that the diagnosis has for the
patient and providing information about the illness, its treatment, and
methods of preventing its progression are important nursing interventions.
• Preventing pain. The nurse reviews the assessment findings, identifies the
level of activity that causes the patient’s pain, and plans the patient’s
activities accordingly.
• Decreasing oxygen demand. Balancing activity and rest is an important
aspect of the educational plan for the patient and family.
Discharge and Home Care Guidelines

• Reduce anginal attacks. Activities should be planned to minimize the


occurrence of angina episodes.
• Follow-up monitoring. The patient may need reminders about follow-
up monitoring, including periodic blood laboratory testing and ECGs.
• Adherence. The home care nurse may monitor the patient’s
adherence to dietary restrictions and to prescribed antianginal
medications.
TERIMAKASIH