You are on page 1of 38

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN

GANGGUAN STROKE DAN GANGGUAN


DEPRESI PADA LANSIA
Disusun Oleh :
1. Wiji Rahayuningtyas P1337420616012
2. Septyan Dwi Nugroho P1337420616002
3. Ari Firmanto P1337420616020
4. Wahyu Widyastuti P1337420616028
5. Feti milllati Islami P1337420616036
6. Rizka Puji Lestasi P1337420616045
7. Aghustina Pigome P1337420616052
LANSIA DENGAN
GANGGUAN STROKE
Definisi
Menurut WHO, stroke adalah manifestasi klinik dari
gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh
yang berlangsung dengan cepat. Berlangsung lebih dari 24
jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya
penyebab selain daripada gangguan vaskuler. Persoalan
pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada
daerah otak tertentu.
Epidemologi
Di seluruh bagian dunia, stroke merupakan penyakit yang
terutama mengenai populasi usia lanjut. Insidensi pada usia
75-84 tahun sekitar 10 kali dari populasi 55-64 tahun. Di
Inggris stroke merupakan penyakit kedua setelah infark
miokard akut (AMI) sebagai penyebab kematian utama usia
lanjut, sedangkan di Amerika stroke masih merupakan
penyebab kematian usia lanjut ketiga. Dengan makin
meningkatnya upaya pencegahan terhadap penyakit
hipertensi, diabetes mellitus, dan gangguan lemak, insiden
stroke di Negara-negara maju makin menurun.
Jenis Stroke
Menurut Lumbantobing (2002) kelainan yang terjadi akibat
gangguan peredaran darah stroke dapat dibagi menjadi 2
golongan, yaitu:
1. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragik)
Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh
darah otak. Infark iskemic terbagi menjadi dua, yaitu
stroke trombotik dan stroke embolik.
Harsono (2002 : 30) membagi stroke non haemoragi
berdasarkan bentuk klinisnya antara lain :
A. Serangan Iskemia Sepintas atau Transient Ischemic
Attack (TIA)
B. Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/Reversible
Ischemic Neurologik Defisit (RIND).
C. Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in
evolution)
D. Completed Stroke
2. Perdarahan (Stroke Hemoragik)
Stroke hemoragik disebabkan oleh pembuluh darah
yang bocor atau pecah di dalam atau di sekitar otak
sehingga menghentikan suplai darah ke jaringan otak
yang dituju.
Stroke hemoragik dibagi menjadi dua, yaitu :
A. Perdarahan intraserebral
B. Perdarahan subarachnoid
Etiologi

1. Thrombosis
2. Embolisme serebral
3. Iskemia serebral
4. Hemoragi serebral
Faktor Resiko

A. Faktor resiko utama :


1. Hipertensi
2. Diabetes mellitus
3. Penyakit jantung
B. Faktor resiko tambahan :
1. Kadar lemak darah yang tinggi
2. Kegemukan atau obesitas
3. Merokok
4. Riwayat keluarga dengan stroke
5. Lanjut usia
Manifestasi Klinis

1. Kehilangan motorik
2. Kehilangan komunikasi
3. Gangguan persepsi
4. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologi
5. Disfungsi kandung kemih
Patofisiologi

A. Storke Hemoragik
1. Hemoragi ekstradural
2. Hemoragi subdural
3. Hemoragi subarachnoid
4. Hemoragi intraserebral
B. Stroke Non Hemoragik
1. Pada stroke trombotik, oklusi disebabkan karena adanya
penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena
thrombus yang makin lama makin menebal, sehingga aliran
darah menjadi tidak lancer
2. Stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas
dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli
tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil
dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang
menyempit, yaitu arteri carotis di bagian tengah atau
Middle Carotid Artery ( MCA )
Pemeriksaan Penunjang
1. Anografi
2. CT-Scan
3. EEG (Elektro Encephalogram)
4. Pungsi Lumbal
5. MRI
6. Ultrasonografi Dopler
7. Sinar X Tengkorak
Komplikasi
Komplikasi utama pada stroke menurut Smeltzer C.
Suzanne yaitu:
1. Hipoksia Serebral
2. Penurunan darah serebral
3. Luasnya area cedera
Penatalaksanaan

1. Perawatan umum stroke :


a. Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat, bila
perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah.
b. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, sebaiknya dengan
kateterisasi intermiten.
c. Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus.
d. Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi.
e. Suhu tubuh harus dipertahankan normal.
f. Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi
menelan baik
g. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan
h. Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis
rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi.
2. Perawatan pasca stroke
a. Rehabilitasi Stroke
b. Kognisi dan komunikasi
c. Dukungan psikologis
LANSIA DEGAN
GANGGUAN DEPRESI
Definisi

Depresi adalah suatu bentuk gangguan suasana hati yang


mempengaruhi kepribadian seseorang. Depresi juga
merupakan persamaan dari perasaan sedih, murung, kesal,
tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya
menggunakan istilah depresi untuk merujuk pada keadaan
atau suasana yang melibatkan kesedihan, rasa kesal, tidak
mempunyai harga diri, dan tidak bertenaga.
Etiologi

1. Polifarmasi
2. Kondisi medis umum
3. Teori neurobiologi
4. Teori psikodinamik
5. Teori kognitif dan perilaku
6. Teori psikoedukatif
7. Teori psikososial
Klasifikasi Depresi

1. Depresi ringan
2. Depresi sedang
3. Depresi berat
Gejala Depresi

1. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini


2. Keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik
3. Secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter,
penyakit sistemik dan penyakit degeneratif.
4. Secara psikologik
5. Gejala social
Penyebab depresi pada lansia

1. Penyakit fisik
2. Penuaan
3. Kurangnya perhatian dari pihak keluarga
4. Gangguan pada otak (penyakit cerebrovaskular)
5. Faktor psikologis, berupa penyimpangan perilaku
6. Serotonin dan norepinephrine
7. Zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang
8. Faktor biologis, misalnya faktor genetik, perubahan struktural
otak, faktor risiko vaskular, kelemahan fisik.
Dampak depresi pada lansia
1. Depresi dapat meningkatkan angka kematian pada
pasien dengan penyakit kardiovaskuler
2. Pada depresi timbul ketidakseimbangan hormonal yang
dapat memperburuk penyakit kardiovaskular
3. Metabolisme serotonin yang terganggu pada depresi
akan menimbulkan efek trombogenesis
4. Perubahan suasana hati (mood) berhubungan dengan
gangguan respons imunitas termasuk perubahan fungsi
limfosit dan penurunan jumlah limfosit
5. Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas sel
natural killer
6. Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang buruk
pada program pengobatan maupun rehabilitasi
Penatalaksanaan depresi pada lansia

1. Terapi biologik
2. Terapi psikososial (psikoterapi)
3. Perubahan gaya hidup
4. Diet sehat
Fokus pengkajian

1. Pengkajian
a. Identifikasi kusus tanda dan gejala depresi pada
lansia
b. Gunakan skrining tools untuk mengidentifikasi
depresi pada lansia
2. Riwayat
a. Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fisik
untuk adanya tanda dan gejala karakteristik yang
berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis
b. Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan
scrining yang tepat, seperti geriatric depresion scale
c. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian
keperawatan
d. Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga
3. Diagnosa keperawatan
a. Mobilitas fisik, hambatan b.d gangguan konsep diri,
depresi, ansietas berat
b. Gangguan pola tidur b.d ansietas
c. Membahayakan diri, resiko b.d perasaan tidak
berharga dan putus asa
4. Intervensi keperawatan
a. Mobilitas fisik, hambatan b.d gangguan konsep diri,
depresi, ansietas berat
1) Bicara secara langsung dengan klien; hargai
individu dan ruang pribadinya jika tepat
2) Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk
membuat pilihan perawatan
3) Susun sasaran aktivitas progresif dengan klien
4) Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa
dilakukan pasien saat ini
b. Gangguan pola tidur b.d ansietas
1) Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami
dari pola yang biasanya
2) Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut
sebelum tidur
3) Kurangi asupan kafein pada sore dan malam hari
4) Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan
yang tenang untuk memfasilitasi agar pasien dapat
tidur
c. Membahayakan diri, resiko b.d perasaan tidak
berharga dan putus asa
1) Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh
diri
2) Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri
3) Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang
pernah dimiliki klien dalam menyelesaikan masalah
5. Evaluasi
a. Berpartisipasi dalam menentukan perawatan diri
b. Melakukan kegiatan positif dalam menyelesaikan
masalah
c. Klien mampu mengungkapkan penyebab gangguan
tidur
d. Klien mampu menetapkan cara yang tepat untuk
memenuhi kebutuhan tidur
e. Mengenali cara-cara untuk mencegah bunuh diri
f. Mendemonstrasikan cara menyelesaikan masalah
yang konstruktif