You are on page 1of 78

Psikofarmaka dan Efek Samping

Ekstrapiramidal

Agustine Mahardika
dr. Azhari Cahyadi Nurdin, Sp.K.J.
Pendahuluan
o Perilaku  perubahan SSP
o Terapi obat efektif
o Tidak sederhana
o Perlu penjelasan
o Farmakologi perlu diketahui

2
Pinsip-Prinsip Umum
Farmakokinetik
Absorbsi  Masuk darah ke otak
Larut dalam GIT
Distribusi :
 Terikat Protein
 Bebas
Metabolisme & Ekskresi
• Metabolit tak aktif
• Liver  metabolisme utama
• Ekskresi : feses, urin, keringat, air ludah, dan air mata
• ASI
3
Farmakodinamik
o Mekanisme reseptor
o Indeks terapeutik
o Toleransi
o Dependensi
o Fenomena putus zat

4
Keadaan-Keadaan Khusus
o Anak-anak
o Usia lanjut
o Wanita hamil & menyusui
o Sakit fisik

5
Antipsikotika
STEPS Pemilihan Antipsikotika

• Safety: aman (obat lini I), risiko jangka panjang rendah


• Tolerability: profil ES , direkomendasikan monoterapi
• Effectiveness: dosis efektif minimum dan adekuat
• Price & Payment: biaya murah, seimbang biaya dan keuntungan ( farmakoekonomi)
• Simplicity: sekali sehari, interaksi obat , dihindari polifarmasi, kecuali kalau monoterapi betul-betul
tidak adekuat

7
Antipsikotik Generasi Pertama vs. Kedua

Antipsikotik Generasi 1 Antipsikotik Generasi 2

Contoh Haloperidol, Chlorpromazine, Risperidone, Olanzapine, Quetiapine,


Trifluoperazine, Fluphenazine Aripiprazole, Clozapine
Efektif untuk Gejala positif (halusinasi, waham) Gejala Positif dan Gejala negatif
(menarik diri, cenderung pasif, bicara
kurang, tidak ada motivasi, afek
menumpul dll.)
Efek Samping Ekstrapiramidal ++ +
Efek Samping Kardiometabolik + +++
(peningkatan berat badan,
dislipidemia, toleransi glukosa
terganggu)
Antipsikotika Generasi – I (Tipik)

9
Antipsikotika Generasi-I (APG-I)

APG-I

Fenotiazin:
Fenotiazin Alifatik Tioksantin: Dibenzoksapin: Dihidroindol: Difenilbutil
Butirofenon:
Piperidin Tioksen (Navane)
Haloperidol Loksapin Molindol piperidin:
piperazin
Pimozid

10
Profil Farmakologi

• Antagonis reseptor dopamin tipe D2 di:


▫ mesolimbik  efek anti psikotik
▫ mesokortek -- gejala kognitif
▫ tuberoinfundibular  prolaktin 
▫ nigrostriatal  EPS
• Antagonis reseptor kolinergik (M1)
• Antagonis  (1 dan 2)
• Antagonis H1

11
Sistem Dopaminergik

Jaras Nigrostriatal
Sub. Nig ke striatum
Kontrol motorik
EPS
Kematian neuron
Jaras Tuberoinfundibular
menimbulkan peny. Parkinson
Hipotalamus ke hipofisis
Regulasi hormon
Perilaku maternal, kehamilan
Jaras Mesolimbik & mesokorteks Pengolahan sensorik
Hiperprolaktinemia
VTA ke NA, Amigdale, Hipokamous, dan PFC
. Memori, Motivasi dan respons emosi
. Reward dan keinginan , Adiksi
. Halusinasi
Hiperfungsi mesolimbik  gejala positif
Hipofungsi mesokorteks  gejala negatif, gejala
kognitif

12
Indikasi

• Skizofrenia
• Skizoafektif
• Psikosis organik
• Psikosis akibat zat
• Ganggaun mood
• Gangguan kepribadian
• Sindrom Tourette
• Penyakit Huntington
• Nausea, emesis, cekukan

13
Efek Samping

• Efek samping kognitif


• EPS
• Sindrom malignansi neuroleptik
• Efek kardiak

14
Interaksi Obat

• Dimetabolisme di hepar dengan enzim sitokrom P450 2D6 dan 3A4


• Hati-hati pemberian bersamaan dengan:
• inhibitor 2D6 (fluoksetin, paroksetin, simetidin, eritromisin, dan quinidin 
efek samping 
• Inhibitor poten 3A4 (nefazodon, fluoksetin, fluvoksamin, dan
ketokonazol)

15
Bentuk Sediaan
o Tablet

o Cairan (serenace drop)

o APG-I depo  haloperidol & flufenazin (pelarut minyak, nyeri,


hematom, EPS & TD)

16
Antipsikotik Generasi 1
Nama Obat Sediaan Dosis Berapa kali pemberian Efek samping
harian tersering
Anjuran
Haloperidol - Oral: 0,5 mg, 1,5 mg, 2 mg, 5 mg; 5 – 20 Oral: 2 – 3 kali per hari EPS, Galactorrhea,
- Injeksi short acting: 5 mg/mL; mg/hari Amenorrhea
- Injeksi long acting (Haloperidol Injeksi long acting: 2 – 4 minggu
Decanoate): 50 mg/mL sekali

Chlorpromazine Oral: 100 mg 300 – 1000 2 – 3 kali per hari EPS, Galactorrhea,
mg/hari Amenorrhea

Trifluoperazine Oral: 1 mg, 5 mg 15 – 20 2 kali per hari EPS, Galactorrhea,


(Stelazine, Stelosi) mg/hari Amenorrhea

Fluphenazine Injeksi long acting: 25 mg/mL - Injeksi long acting: 2 – 4 minggu EPS, Galactorrhea,
(Skizonoate) sekali Amenorrhea
Antipsikotika Generasi – II (APG-II)

18
Antipsikotika Generasi-II (Atipik)

• EPS 
• Efek terhadap prolaktin  atau sementara
• Efektif untuk simtom positif, negatif, mood, dan kognitif
• Efektif untuk skizofrenia refrakter terhadap terapi
• Memblok 5HT2  D2,
• Lebih selektif di mesolimbik (ML>NS)
• Cepat disosiasinya dari reseptor D2

19
Antipsikotik Generasi 2
Nama Obat Sediaan Dosis harian Berapa kali Efek samping tersering
Anjuran pemberian
Risperidone Oral: 1 mg, 2 mg, 3 mg 2 – 8 mg/hari 1 – 2 kali per hari EPS, Sindrom Metabolik
(Dislipidemia, Risiko Tinggi utk
Diabetes), Galactorrhea, Amenorrhea

Olanzapine Oral: 5 mg, 10 mg 10 – 30 mg/hari 1 kali per hari Peningkatan Berat Badan, Sedasi
(malam) Berat, Sindrom Metabolik
(Dislipidemia, Risiko Tinggi utk
Diabetes)
Quetiapine - Oral Immediate Release: 25 300 – 800 mg/hari - Immediate release: 2 Peningkatan Berat Badan, Sedasi
(Seroquel) mg, 200 mg, 400 mg kali per hari Berat, Sindrom Metabolik
- Oral Extended Release (XR): - Extended release: 1 (Dislipidemia, Risiko Tinggi utk
200 mg, 300 mg, 400 mg kali per hari Diabetes), hipotensi

Aripiprazole Oral: 5 mg, 10 mg 10 – 30 mg/hari 1 kali per hari Akathisia

Clozapine Oral: 25 mg, 100 mg 150 – 600 mg/hari 2 -3 kali per hari Agranulositosis, Peningkatan Berat
Badan, Sedasi Berat, Sindrom
Metabolik (Dislipidemia, Risiko
Tinggi utk Diabetes)
Risperidon (Risperdal)

• Derivat benzisoksazol

• Afinitas terhadap 5-HT2A , terhadap D2, H1, adrenergik  1 dan 


2 moderat

• Afinitas terhadap 5-HT2A  10-20 X lebih kuat : D2

21
Olanzapin (Zyprexa)
• Derivat tinobenzodiazepin

• Diberikan kepada penderita skizofrenia pada tahun 1995

• Afinitas terhadap D2, D3, D4,D5, 5-HT2, Muskarinik, H1, 1

• Afinitas 5-HT2A dan 5-HT2C , 5-HT3 (sedang), 5-HT1 (rendah)

22
Indikasi
• Skizofrenia
• Gangguan bipolar mania, campuran, akut dan rumatan
• Gangguan kepribadian ambang
• Anoreksia nervosa
• PTSD

23
Quetiapin

• Skizofrenia simtom positif, negatif, dan global

• Gangguan mood bipolar (manik, campuran dan depresi)

• Agresi

24
Aripiprazol: aktivitas intrinsik pada reseptor D2

Intrinsic Activity Describes the Ability


of a Compound to Stimulate Receptors
D2 receptor
Full receptor activity
Full agonist (dopamine)

Antagonist (haloperidol, etc) No receptor activity

Partial receptor activity


Partial agonist (aripiprazole)

Tamminga. J Neural Transm. 2002;109:411. 25


Indikasi

• Agitasi akut pada skizofrenia dan gangguan bipolar


• Terapi akut dan pemeliharaan pasien dengan skizofrenia
• Terapi episode akut mania dan campuran dan pemeliharaan
pada skizofrenia
• Terapi tambahan pada gngguan depresi mayor

26
Obat APG-II Depo
• Injeksi Consta
• Dosis 25 mg atau 37,5 mg/3 mingg
• Efektif untuk akut dan jangka panjang
• Ditoleransi baik
• Perlu untuk pasien yang tidak patuh

27
Antidepresan

28
Jenis-Jenis Antidepresan
 Tricyclics and Tetracyclics (TCA)

 Serotonin Selective Reuptake Inhibitors (SSRIs)

 Dual Serotonin -Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI)

 Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)

 Norepinephrine and Dopamine Reuptake Inhibitor (NDRI)

29
29
Tricyclics and Tetracyclics Antidepressants

30
Indikasi TCA/Tetra CA

• Gangguan Depresi Mayor


• Melankolia atau depresi berat
• Depresi ansietas
• Depresi atipik
• Depresi psikotik
• Depresi bipolar
• Distimia
• Gangguan panik
• GOK

31
Tricyclics and Tetracyclics Antidepressants

Jenis TCA/Tetra CA Dosis (mg)

Amitriptilin, 25 , 50,100 mg 50-150

Klomipramin, 25, 50, 75 mg 100-200

Imipramin 10, 25,50 mg 50-150

Maprotilin 25,50, 75 mg 50-150

32
Efek Samping TCA/TetraCA
• Efek antikolinergik
• mulut kering, konstipasi, mata kabur, gangguan traktus urinarius, bingung,
penurunan kognitif

• Efek kardiovaskuler, misalnya, takikardia, pemanjangan interval QT, depresi segmen


ST, mendatarnya gelombang T, hipotensi ortostatikk

• Efek antihistamin (sedasi, delirium, nafsu makan , BB )

• Menurunkan ambang kejang

• Letal bila dosis berlebihan

33
Serotonin Selective Reuptake Inhibitors
(SSRIs)

34
Serotonin Selective Reuptake Inhibitors (SSRIs)

• Menghambat ambilan serotonin

• Pada kolinergik muskarinik, H1, adrenergik 1, 2, , D1,D2, 5-HT1A, 5-HT2A

• Ditoleransi baik, keamanan luas, toksik jantung (-), hipotensi ortostatik (-)

• Ada 6 jenis SSRI

35
Jenis – Jenis SSRI
Jenis SSRI Dosis Nama Dagang
(mg/hari)
Fluoksetin, 10,20,40 mg, once 20-60 Prozac 
daily
Sertralin, 25,50,100 mg,once daily 50-200 Zoloft®
MOIs TCAs SSRIs: Lain-lain
Paroksetin, 10, 20,40 mg, once 20-50 Xeroxat®
• Effexor XR®
daily (venlafaxine)
• Cymbalta®
(duloxetine)
Fluvoksamin, 25, 50, 100 mg, once 50-300 Luvox
daily or split
Citalopram 10, 20, 40 mg, once 20-60 Cipram
daily
Escitalopram, 5, 10, 20 mg, once 10-20 Cipralex®
daily Zoloft Product Training
36
Indikasi SSRI

o Depresi o PDD (premenstrual


o GOK
MOIs TCAs SSRIs: disphoric disorder)
Lain-lain
o Gangguan Panik
• Effexor XR®
o Gangguan Cemas o Eyakulasi prematur
(venlafaxine)
• Cymbalta®
(duloxetine)
o Gangguan Makan o Sinrom nyeri

o Rasa Marah o Alkoholisme

o PTSD o Obesitas

Zoloft Product Training


37
Efek samping SSRI
o Lini pertama karena efek sampingnya lebih bisa ditoleransi
o Efek sampingnya mual, sakit kepala, insomnia, dan disfungsi seksual
o Efek samping biasanya pada awal pengobatan

38
Monoamine Oxidase Inhbitors (MAOI)

o MAOI  tidak boleh digabung dengan SSRI atau trisikllik


o Moklobemid  (Aurorix)  MAO-A reversibel (RIMA)
o Efek sampingnya hipotensi ortostatik, mulut kering, sedasi, BB , dan disfungsi
seksual
o Dosis 300-600 mg/hari
o Efektif untuk nyeri kronik, terutama fibromialgia
o Cimetidine (turunkan dosis)
o Setelah makan

39
Selective Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitor
(SNRIs)
Inhibisi ambilan serotonin dan norepinefrin  ketersediaan neurotransmiter dan pemanjangan
interaksi dengan pasca sinaps

Duloxetin: dosis 20, 30 dan 60 mg/hari


Venlafaxine: dosis 75-150, 225 mg/hari
(bisa sampai 375 mg/hari

Depresi terkait dengan defisit serotonin dan/ atau norepinefrin, meningkatkan aktivitasnya 
berefek antidepresan

Rabasseda X. Drugs of Today 2004, 40(9):773-970


40
Antiansietas

41
Benzodiazepin

o Antiansietas kuat, onset kerja cepat


o Ansietas kronik  butuh terapi lama
o  4 bulan terapi  putus zat (40%-80%)
o Dosis efektif paling rendah & turunkan pelan-pelan (10%/3 hari)
o Pemberian 2-4 minggu + antidepresan
o Alprazolam, klonazepam, klobazam, diazepam, lorazepam

42
Farmakodinamik
o Waktu paruh berpengaruh
o Waktu paruh pendek (alprazolam) ketergantungan cepat
o Lewat sawar plasenta
o Terdapat di ASI
o Berpengaruh pada bayi

43
Absorbsi
o Solubilitas berpengaruh (lemak)
o Puncak plasma 30 menit
o Waktu paruh menentukan frekuensi pemberian obat
o Lewat di sawar otak
o Terikat kuat dengan protein

44
Farmakodinamik
o Sistem GABA ( GABA A )
o Sedasi ( GABA formasi retikularis )
o Memori ( GABA hipokampus )
o Relaksasi otot ( GABA medula spinalis)

45
Pemakaian Jangka Panjang
o Toleransi dan dependensi
o Kekambuhan dan gejala putus obat
o Putus zat  Cognitive behavioral therapy
o Bergantung dosis awal
o Lama penggunaan dibatasi
o Penurunan dosis  edukasi kepatuhan pasien 

46
Alprazolam
• Gangguan Cemas : 1-4 mg/h, dosis awal 0,75 mg
• Gangguan panik : hingga 6 mg, dosis awal 1,5 mg
• Lebih dari 12 minggu dependency meningkat
• Tappering
Lorazepam
• 2-6 mg/h dalam 2-3 dosis terpisah
• Katatonia mulai 1-2mg/h
• Metabolit inaktif
Diazepam
• 4-40 mg
• Sediaan injeksi
• Waktu paruh panjang
Jenis-jenis Sindrom Ekstrapiramidal
1.Parkinsonism
2.Distonia Akut
3.Akathisia
4.Tardive Diskinesia
5.Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM)
1. Parkinsonism
Gejala
 Parkinsonism  “menyerupai penyakit parkinson”
 Gejala-gejala parkinsonism:
1. Rigiditas (kekakuan)
2. Tremor, biasanya mempengaruhi ekstremitas, lidah, rahang
3. Bradikinesia (gerakan yang lambat), dapat berupa penurunan aktivitas motorik, pembicaraan
yang melambat, berkurangnya ayunan lengan saat berjalan, dan muka topeng.
 Bila muncul salah satu gejala di atas pada pasien yang menggunakan antipsikotik  parkinsonism
 Gejala-gejala lain parkinsonism: keseimbangan yang buruk, shuffling gait (cara berjalan dengan
langkah pendek-pendek dan menyeret)
• Risiko mengalami parkinsonism, lebih tinggi pada:
▫ Pasien yang menggunakan antipsikotik generasi pertama
▫ Pasien dengan usia lanjut (di atas 60 tahun)
▫ Risiko mengalami parkinsonism relatif lebih besar pada wanita
dibandingkan pria
Prinsip tata laksana parkinsonism
• Menurunkan dosis atau menghentikan obat antipsikotik.
• Jika opsi tersebut tidak dapat dilakukan, maka dapat dilakukan penggantian obat
antipsikotik dari generasi pertama (haloperidol, chlorpromazine, trifluoperazine) ke
generasi kedua (risepridone, quetiapine, olanzapine, aripiprazole, clozapine).
Clozapine merupakan antipsikotik dengan risiko sindrom ekstrapiramidal yang paling
rendah.
• Jika kedua opsi di atas tidak dapat dilakukan, maka dapat diberikan obat-obat
antiparkinson
Obat-obat Anti-parkinson
Nama Jenis Obat Dosis (mg/hari)

Amantadine Dopamine agonist 100 - 300


Benztropine Antihistamine & Anticholinergic 1-6
Biperiden Anticholinergic 2-6
Diphenhydramine Antihistamine & Anticholinergic 25 - 100
Ethopropazine Antihistamine & Anticholinergic 50
Orphenadrine Antihistamine 300
Procyclidine Anticholinergic 6 - 20
Trihexyphenidyl Anticholinergic 2 - 12
Tata laksana parkinsonism
• Pada parkinsonism berat:
▫ Injeksi Difenhidramin 25 mg intramuskuler, dapat diulang dengan
selang 1 jam, maksimal 100 mg per hari
▫ Jika telah teratasi, dilanjutkan dengan pemberian trihexyphenidil
per oral

• Pada parkinsonism ringan-sedang:


▫ Trihexyphenidil per oral, 2 – 12 mg per hari, dibagi dalam 2 atau 3
kali pemberian
2. Distonia akut
Pendahuluan
• Distonia akut adalah kontraksi involunter pada satu atau sekelompok otot.
• Sekitar 10 persen pasien dalam pengobatan antipsikotik mengalami distonia akut, terutama pasien
usia muda.
• Distonia akut sering terjadi pada penggunaan antipsikotik potensi kuat seperti haloperidol dan
risperidone.
• Gejalanya sering menakutkan bagi pasien dan merupakan salah satu alasan ketidakpatuhan pada
terapi antipsikotik.
Manifestasi Klinis Distonia Akut
 Posisi yang tidak normal pada kepala dan leher. Pasien merasa lehernya tertarik pada satu sisi
(torticollis)
 Trismus (spasme otot-otot rahang)
 Disartria (bicara cadel)
 Tongue protrussion (lidah menjulur)
 Krisis okulogirik (mata tertarik ke satu sisi)
 Opisthotonus (posisi yang abnormal pada badan, badan melengkung ke arah belakang)
 Distonia laring  mengancam jiwa

Gejala-gejala distonia harus dibedakan dengan kejang, tetanus, katatonik, dan infeksi otak
(meningitis)
Onset Distonia Akut
• Distonia akut biasa muncul dengan onset cepat setelah:
▫ memulai terapi antipsikotik
▫ peningkatan dosis antipsikotik
▫ Penurunan/penghentian penggunaan obat-obatan untuk mengatasi sindrom ekstrapiramidal
(seperti trihexyphenidil)
• Dapat muncul dalam hitungan menit setelah pemberian injeksi antipsikotik
• 10 % kasus distonia terjadi pada jam pertama setelah dimulai terapi
Distonia Akut dan Kepatuhan Pengobatan
• Distonia akut sering berkaitan dengan ketidakpatuhan pengobatan.
• Pasien yang mengalami distonia akut sering melaporkan reaksi “alergi” setelah
penggunaan antipsikotik tertentu.
• Pasien atau keluarga pasien sering merasa ‘trauma’ setelah kejadian distonia akut 
dapat mempengaruhi penerimaan terhadap pengobatan
• Pasien yang mengalami distonia akut akan memiliki risiko juga untuk mengalami
sindrom ekstrapiramidal lain seperti parkinsonism dan sindrom neuroleptik maligna 
membutuhkan obat proflaksis seperti trihexyphenidil
Tata Laksana Distonia Akut
 Pasien dan keluarganya harus selalu diinformasikan mengenai risiko terjadinya distonia
akibat penggunaan obat. Pasien dan keluarga juga dianjurkan untuk melaporkan segera jika
muncul gejala distonia.
 Berikan reassurance (jaminan dan rasa aman) pada pasien dan keluarganya bahwa distonia
adalah akibat penggunaan obat antipsikotik, dimana gejala tersebut dapat diatasi dengan
cepat menggunakan obat.
 Untuk mengatasi distonia akut secara cepat, diberikan:
 Diphenhydramine 25 - 50 mg secara I.M./I.V./per oral. Dapat diulangi dalam
30 menit. Dosis maksimal 100 mg per 24 jam.
 Setelah distonia dapat diatasi, berikan edukasi kepada pasien dan keluarganya untuk tetap
melanjutkan pengobatan antipsikotik. Edukasi pasien dan keluarganya bahwa dengan
profilaksis menggunakan obat seperti trihexyphenidil (2-12 mg/hari) distonia
biasanya tidak akan muncul lagi.
3. Akathisia
Manifestasi Klinis
 Akathisia adalah perasaan subjektif kegelisahan motorik yang bermanifestasi sebagai keinginan untuk
terus bergerak

 Manifestasi klinis:
 Menumpukan badan bergantian dari satu kaki ke kaki lain bergantian
 Berjalan di tempat
 Tidak bisa untuk duduk diam
 Perasaan gelisah
 Mengubah-ubah posisi tubuh ketika duduk
 Menggoyang-goyangkan kaki saat duduk

 Pasien dengan terapi Antipsikotik Generasi 1:


 41% akan mengalami akathisia ringan
 21% akan mengalami akathisia sedang sampai berat
• Akathisia harus dibedakan dengan perilaku yang berkaitan dengan gejala psikotik
(agitasi)

• Apabila akathisia disangka sebagai agitasi, dokter mungkin menyimpulkan bahwa


pasien butuh dosis antipsikotik yang lebih tinggi  memperberat gejala Akathisia
pasien
Tata Laksana Akathisia
• Propranolol : 2 x 20 mg, dapat ditingkatkan sampai 2 x 40 mg
4. Tardive
diskinesia
Manifestasi Klinis Tardive Diskinesia
• Tardive diskinesia adalah pergerakan abnormal yang muncul pada penggunaan kronis antipsikotik
• Manifestasi klinis:
▫ Mulut mengecap-ngecap, atau menghisap
▫ Wajah menyeringai
▫ Pergerakan ireguler anggota gerak(misalnya gerakan choreoathetoid-
like pada jari)
▫ Gerakan athetoid pada badan, leher, atau ekstremitas
• 10-20% pasien yang diterapi dengan Antipsikotik Generasi Pertama dalam satu tahun, akan
mengalami Tardive Diskinesia
• Pasien yang akan menerima Antipsikotik Generasi Pertama untuk waktu lama harus dipantau secara
teratur setiap 6 bulan.
Tata Laksana Tardive Diskinesia
 Rekomendasi pada pencegahan dan tata laksana Tardive Diskinesia:
 Menyediakan bukti objektif bahwa terapi antipsikotik yang diberikan
efektif
 Menggunakan dosis minimum yang efektif untuk terapi jangka panjang
 Memberi perhatian khusus pada anak, pasien lanjut usia, dan pasien
dengan gangguan mood
 Melakukan pemeriksaan rutin untuk melihat apakah timbul gejala tardive
diskinesia
 Jika Tardive Diskinesia terdiagnosis, pertimbangkan untuk mengurangi
dosis atau mengganti Antipsikotik
 Jika gejala memburuk, pertimbangkan untuk menghentikan Antipsikotik ,
mengganti Antipsikotik ke golongan yang berbeda, dan
mempertimbangkan pemberian clozapine.
5. Sindrom
neuroleptik
maligna
Sindrom Neuroleptik Maligna
• Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) adalah sindrom ekstrapiramidal yang dapat
mengancam jiwa. Oleh karena itu, pengenalan segera terhadap gejala SNM dan tata
laksana yang tepat dapat menyelamatkan pasien dari ancaman kematian.
Sindrom Neuroleptik Maligna
 Gejala utama pada SNM adalah: rigiditas (kekakuan) otot dan peningkatan suhu (>38°C) pada pasien dalam
pengobatan antipsikotik.

 Gejala-gejala lain pada SNM:


• Diaforesis (berkeringat berlebihan)
• Takikardia (denyut jantung meningkat)
• Tekanan darah meningkat atau labil
• Disfagia (tidak dapat menelan)
• Inkontinensia
• Tremor
• Perubahan kesadaran, bisa sampai koma
• Mutisme
• Leukositosis (peningkatan sel darah putih)
• Peningkatan enzim hati (SGOT, SGPT)
• Peningkatan kadar Creatine Kinase (CK)
Sindrom Neuroleptik Maligna
• SNM muncul biasanya dalam beberapa hari setelah dimulainya terapi antipsikotik atau setelah
peningkatan dosis. Umumnya terjadi dalam 10 hari pertama.
• Gejala yang lengkap akan terbentuk dalam 48 jam semenjak onset.
• Lebih sering terjadi pada pasien yang menggunakan antipsikotik potensi tinggi dengan dosis tinggi
atau dengan dosis yang ditingkatkan secara cepat.
• Insidens 1 – 10 dalam 10.000 episode penggunaan antipsikotik
• Mortalitas 20-30%
Tata Laksana Sindrom Neuroleptik Maligna
1. Pikirkan kemungkinan SNM bila terdapat demam dan rigiditas pada pasien yang menggunakan
antipsikotik
2. Segera hentikan pemberian antipsikotik
3. Monitor tanda vital pasien secara berkala
4. Lakukan pemeriksaan laboratorium. Creatine phosphokinase (CK) biasanya meningkat. Leukositosis
juga umum terjadi. Lakukan pemeriksaan darah lengkap dengan hitung jenis sel darah putih,
elektrolit, ureum, kreatinin, fungsi hati (SGOT, SGPT)
Tata Laksana Sindrom Neuroleptik Maligna
5. Lakukan terapi suportif dan simtomatik
6. Atasi demam dengan kompres es atau pendinginan melalui evaporasi. Antipiretik umumnya tidak
memberi hasil.
7. Lakukan hidrasi untuk mencegah syok dan menurunkan kemungkinan gangguan pada ginjal.
8. Perbaiki imbalans cairan dan elektrolit
9. Beberapa jenis terapi bermanfaat seperti penggunaan agonis dopamine (levodopa) dan muscle
relaxants (benzodiazepin)
10. SNM biasanya berlangsung sekitar 15 hari. Setelah masa pemulihan, lakukan pengambilan
keputusan untuk penggunaan antipsikotik. Pertimbangkan untuk penggantian antipsikotik pada
kelas dan potensi yang berbeda. Mulai dengan dosis rendah dan dititrasi secara perlahan untuk
mencegah risiko berulangnya SNM.
Selamat Belajar

78