You are on page 1of 53

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN


HEPATIS

Sri Mulyati Rahayu


Pendahuluan
• Infeksi virus hepatitis B merupakan
masalah kesehatan yang cukup besar di
Indonesia
• Prevalensi Hsb Ag :
– 3 – 17% (Soewigno dan Muljanto, 1984)
– 5 – 10% (sulaiman 1985)
Pendahuluan

• Dari angka – angka tersebut indonesia digolongkan


daerah prevalensi infeksi sedang dan tinggi menurut
klasifikasi WHO (Deinhart dan Gust, 1982).
– prevalensi didaerah pedesaan relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan didaerah kota terutama pada
kelompok masyarakat yang terpencil termasuk yang tinggal
di pulau – pulau kecil.
– Prevalensi infeksi VHB pada
WTS relatif lebih tinggi dibanding
kan dengan populasi umum sedang
kan Hbs pada petugas kesehatan
tidak jauh berbeda dengan angka
yang didapatkan pada populasi
umum.
PENGERTIAN HEPATITIS

• INFLAMMASI / DEGENERASI / NEKROSIS

INFEKSI TOKSIK
* HEPATITIS VIRUS * OBAT
* KIMIA

AUTOIMUN
* GVHD
* ALLOGRAFT REJECTION
* ANA
5 MACAM TIPE HEPATITIS VIRUS
A B C D E

•VIRUS HVA HVB HVC HVD HVE


•FAMILY PICORNA HEPADNA PLAVI SATELLITE CALCI
•UKURAN 27 nm 42nm 30-60nm 34-37nm 35-39nm
•GENOME RNA DNA RNA RNA RNA
•KEMATIAN 0,2% 0,2-1% 0,2% 2-20% 35-39%
PD MASA AKUT
•KRONISITAS (-) 2-7% 50-70% 2-70% (-)
•PENULARAN FEKO ORAL PARENTERAL PARENTERAL PARENTERAL FEKOO
SEKSUAL SEKSUAL SEKSUAL
PERINATAL
•ANTIGEN HAVAg HBSAg HCVAg HDVAG HBEAg
HBeAg
HBcAg
•ANTIBODI ANTI HAV ANTI HBs ANTI HCV ANTI HVD ANTI HVE
ANTI Hbe
ANTI HBc
•MARKER HAV-RNA HVB-DNA / HCV-RNA HVD=RNA PARTI
POLIMERASE KEL VIR
HEPATITIS VIRUS A (HVA)
• INFEKSI VIRUS AKUT
• PENULARAN FEKO-ORAL
• RESERVOIR MANUSIA
• TIDAK PERNAH MENJADI KERIER
• VIRUS DI EKRESI MELALUI TINJA MULAI MINGGU KE
II
• INSIDEN SANGAT BERVARIASI
(3 KASUS - 250 KASUS/100.000)
• >>> di NEGARA BLM BERKEMBANG /
KUMUH
• DIPENGARUHI SOSIO-EKONOMI
MASALAH HVA
• ANGKA PENULARAN TINGGI (KLB)
ok: INFEKSI ASIMPTOMATIK (± 3½ KALI
INF. SIMPTOMATIK)
TERUTAMA UMUR < 5 TAHUN
SANITASI / HIGIENE SANGAT KURANG
SOSIO EKONOMI KURANG
• MENGGANGGU PENDIDIKAN ANAK
(PERLU ISTIRAHAT / PERAWATAN 2-8 mg /
PROLONG 4 bl)
• FULMINAN (0,5%)
PATOLOGI DAN PATOGENESIS

• NEKROSIS SEL HATI


• REGENERASI
• INFILTRASI SEL RADANG DI PARENCHIM
/PERIPORTAL
• RETENSI BILIRUBIN (STASIS)
• GANGGUAN FAAL HATI
• SEMBUH SEMPURNA
•0,2% FULMINAN
GEJALA KLINIS
• MI : 14-40 HARI (2-6 MINGGU)
• SANGAT DIPENGARUHI UMUR
• GEJALA PRODROMAL:
ANOREKSIA, LETARGI, MUNTAH, SAKIT PERUT,
PANAS, SAKIT KEPALA
• PASCA PRODROMAL:
IKTERUS, KENCING KUNING GELAP spt AIR THE
PEKAT, PRURITUS,ANAK TDK TAMPAK SAKIT
BERAT.
PEMERIKSAAN FISIK
• SKLERA IKTERIK
• HATI MEMBESAR
• KADANG KADANG SPLENOMEGALI

PEMERIKSAAN LABORATORIUM:
• BILIRUBIN & UROBILIN URIN MENINGKAT (++
s/d+++)
• FAAL HATI: SGOT & SPT MENINGKAT
BILIRUBIN II MENINGKAT
PEMERIKSAAN BIOPSI HATI
• NEKROSIS & INFLAMASI

DIAGNOSIS:
• ALLOANAMNESIS:
GEJALA PRODROMAL, IKTERUS /
KENCING KUNING THE PEKAT
• PEMERIKSAAN FISIK:
IKTERUS & HEPATOMEGALI
DIAGNOSIS PASTI:
• PEMERIKSAAN SEROLOGIS :
IgM anti HAV (+) (AKUT)
IgG antiHAV (+) PERNAH INFEKSI
PENGOBATAN:
• SELF-LIMITED
• TDK ADA OBAT SPESIFIK
• ISTIRAHAT PD MASA AKUT
• DIET YG CUKUP / (DH II)
• ROBORANSIA
PENCEGAHAN:
• MENINGKATKAN HIGIENE & SANITASI
• MENINGKATKAN SOSIO EKONOMI
• IMUNISASI AKTIF
VAKSEN HVA
• STRAIN HM 175 (HAVRIX)
(BECHEM LABORATORY)
• DOSIS: 720 EU (ELLISA UNIT)
= 0,5 ml IM
• JADWAL : 0, 1, & 6 BULAN
• PRIORITAS: BEPERGIAN KE DAERAH ENDEMIK
• DOSIS DEWASA : 1ml (1440 EU)
IMUNISASI PASIF
• BAGI YG KONTAK ERAT DG
PENDERITA DIBERIKAN SERUM IMUN
GLOBULIN HVA (Serum IgA) DOSIS:
0,02ml/kgBB (IM) 1x
• BAGI YG BERADA DI DAERAH
ENDEMIK (KONTAK YG LAMA)
DOSIS: 0,05ml/kgBB TIAP 4-6 BULAN.
HEPATITIS VIRUS B (HBV)
EPIDEMIOLOGI / MASALAH:
• MENYEBABKAN INFEKSI KRONIS

• KERIER SIROSIS / KANKER HATI


• DI DUNIA ± 300-400 JUTA KERIER
± 250 JUTA MATI / TAHUN
• INDONESIA: ENDEMISITAS SEDANG
TINGGI (2-25%)
MASALAH KESEHATAN:
• RISIKO MENJADI KRONIS
• INFEKSI PD MASA NEONATUS / BAYI
90% (KRONIS)
• INFEKSI PD UMUR 2-5 TAHUN 50%
(KRONIS)
• INFEKSI PD UMUR > 5 TAHUN /
DEWASA  5-10% (KRONIS)
ETIOLOGI
• VHB
• Famili HEPADNA VIRUS
• NON-SITOPATIK
• HEPATOTROPIK
• KELOMPOK DNA / DOUBLE STRANDED
PENULARAN
PERENTERAL

VERTIKAL HORIZONTAL
( IBU HAMIL ) (ORANG KE ORANG)
* SUNTIKAN / TRANFUSI /TATTO
INFEKSI BAYI * HUB. SEKSUAL / CIUMAN
(Risiko menjadi kronis 90%) * CABUT GIGI / SUNTIKAN
* INFUS, OPERASI LUKA
* CAIRAN TUBUH (SPERMA,
CAIRAN VAGINA,
* GIGITAN SERANGGA .
* GIGITAN SERANGGA .
(INJURY)
GEJALA KLINIS
• MASA INKUBASI : 6 MINGGU-6 BULAN
• GEJALA PRODROMAL: MUAL, ANOREKSIA, NYERI
PERUT, NYERI SENDI
• BEBERAPA HARI KEMUDIAN: MATA KUNING
(IKTERUS) KENCING KUNING TEH PEKAT (PD ANAK
TIDAK SELALU ADA / ASIMPTOMATIK)
• DAPAT TERJADI PD SAAT INI GEJALA KOMPLIKASI
FULMINAN ( PANAS TINGGI, KEJANG DAN
KESADARAN MENURUN)
PEMERIKSAAN FISIK
• IKTERUS
• HEPATOMEGALI
• KADANG-KADANG DISERTAI
SPLENOMEGALI
• ANAK TIDAK TAMPAK SAKIT BERAT
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

• URINE :Bil (++) (+++), Urobilin (++ +++)


• FAAL HATI: Peningkatan SGOT & SGPT
Bil I & II (terutama Bil II)
DIAGNOSIS
• ALLOANAMNESIS (KELUHAN IKTERUS
/ URIN KUNING
KELUHAN PRODROMAL
• PEMERIKSAAN FISIK : IKTERUS /
HEPATOMEGALI
• LAB: URINE (BILIRUBIN DAN
UROBILIN)
• FAAL HATI (SGOT & SGPT dan Bilirubin
meningkat )
PENGOBATAN
• TIDAK SPESIFIK
• SIMPTOMATIK & SUPORTIF:
ISTIRAHAT PD MASA AKUT, DIET YG
CUKUP / DH II
• MEDIKAMENTOSA: INTERFERON ALFA
/ ADENOSIN ARABINOSA BELUM
MEMUASKAN DAN ADA EFEK
SAMPING
PENCEGAHAN
• VAKSINASI AKTIF (PALING UTAMA)
PRIORITAS : BAYI BARU LAHIR, ANAK
REMAJA & PETUGAS KESEHATAN
• TINDAKAN UMUM / PENGGUNAAN
ALAT STERIL, SKRINING DONOR
DARAH, MEMPERGUNAKAN SARUNG
TANGAN
Agent
• Virus B berupa partikel 2 lapis berukuran 42 nm.
• Lapisan luar virus ini terdiri atas antigent yang disingkat HBs Ag (Hepatitis
B-Surface Antigent)
• Antigent permukaan ini membungkus bagian dalam virus yang disebut
partikel inti atau core.
• Partikel mengandung bahan – bahan sbb:
– genome virus terdiri atas rantai DNA
– Suatu antigent yang disebut hepatitis B
care antigen (HBc Ag), suatu protein yang
tidak larut. Dalam serum, HBc Ag ini tidak
dideteksi karena HBc Ag hanya ada dalam
partikel ini yang selalu diliputi oleh antigen permukaan.
– Antigen e atau Hbe Ag, yang merupakan protein yang bisa larut, dan karena itu
dalam serum yang banyak mengandung virus maka deteksi antigen Hbe ini akan
positif.
Cara penularan
• Penularan infeksi HBV dapat dibagi menjadi 3 cara yaitu
– cara penularan melaui kulit
• Virus tidak dapat menembus kulit yang utuh  infeksi VHB melalui hanya
dapat terjadi melalui 2 cara yaitu:
– tembus kulit oleh tusukan jarum atau alat lain yang tercemar oleh bahan yang
infektif (apparent perkutaneous inoculations (cara penularan parental)
– kontak antara bahan yang infektif pada kulit dengan kelainan atau lesi (inapparent
percutaneous inculations)(Francis,1981).
– cara penularan melaui mukosa
• Selaput lendir yang menurut penelitian dapat menjadi port d’entre infeksi
VHB adalah selaput lendir: mulut, mata, hidung, saluran makanan bagian
bawah dan alat kelamin (Frances, dkk,1981).
– cara penularan melaui perinatal (penularan vertikal)
Cara penularan
• Salah satu cara penularan melalui mukosa yang sangat penting 
hubungan kelamin. 42% suami atau istri mendapat penularan. Terbukti pula
bahwa hubungan kelamin dengan banyak pasangan mningkatkan
kemungkinan penularan infeksi HBV. (Redeker, dkk, 1975)
• wanita tuna susila yang pada umumnya menunjukkan prevalensi petunjuk
serologik infeksi HBV yang relatif tinggi dibandingkan dengan populasi pada
umumnya (Deinstag, 1984),
• penularan melalui hubungan seksual ini, bisa juga terjadi pada hubungan
kelamin homoseksual.
• Walaupun hubungan kelamin tidak selalu disertai kontak dengan darah
tetapi pada hubungan tersebut kemungkinan untuk terjadinya pertukaran
sekreta antara pasangan seksual sangat besar (Deinstag,1984).
Penularan
• Didaerah dengan prevalensi infeksi virus B rendah, penularan
biasanya terjadi pada orang dewasa, sedangkan diderah dengan
prevalensi tinggi penularan kebanyakan terjadi pada masa bayi dan
anak – anak
• Makin muda umur seorang anak mendapat infeksi virus B maka
makin besar kemungkinan menjadi persisten. Pada orang dewasa
yang terkena infeksi virus B kemungkinan persistensi infeksi hanya
5 – 10%. Tetapi pada anak – anak dibawah umur 3 tahun, angka
persisten yang timbul akibat infeksi pada masa bayi dan anak –
anak inilah yang banyak menimbulkan kasus sirosis hati dan
hepatoma dikemudian hari.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas
penularan
• konsentrasi virus
• Volume Inoculume
• lama “exposure”
• cara masuk VHB kedalam tubuh
• kesetaraan individu yang bersangkutan
Faktor yang mempengaruhi efektivitas
penularan
• konsentrasi virus
– indikator VHB yang paling praktis dan paling baik adalah Hbe Ag
(France, dkk,1981, Dienstag, 1984).
– Bila Hbe Ag (+) maka penularan akan terjadi pada 10 – 20%
individu
– Bila Hbe Ag (-) kemungkinan penularan hanya 1 – 2,5% (Seef
dkk, 1978).
– dalam penularan perinatal:
» bila Hbe Ag ibu (+), maka penularan dpat terjadi pada 90 – 100%
bayi yang dilahirkan.
» Bila Hbe Ag ibu (-), maka penularan hanya terjadi pada 10 – 25%
dari bayi yang dilahirkan (Okada, dkk,1976, Stevens dkk, 1976).
Faktor yang mempengaruhi efektivitas
penularan
• Volume inokulum
– setelah tranfusi dengan darah yang VHBs Ag Positif
kemungkinan untuk timbulnya infeksi sampai 75%.
– Sedangkan risiko untuk mendapat infeksi VHB setelah suntikan
dengan jarum yang tercemar oleh darahyang HBs Ag Positif
adalah kurang dari 15%
– Makin besar volume inoculume, masa tunas dari penyakit makin
pendek dan gejala klinik makin berat.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas
penularan
• lama “exposure”
– penularan infeksi VHB perinatal melalui tusukan jarum yang
tercemar oleh darah yang HBs Ag dan Hbbe positif hanya
menimbulkan infeksi pada 10 – 20%. Sedangkan penularan
melalui hubungan seksual pada suami istri terjadi pada 23 –
42% dari kasus, (dkk 1977).
– Hal ini dapat diterangkan karena penularan melalui hubungan
seksual pada suami istri terjadi berulang kali dan dalam waktu
yang lebih lama (Diestag, 1984).
Faktor yang mempengaruhi efektivitas
penularan
• cara masuk VHB kedalam tubuh
– penularan perkutan HBs Ag bisa Positif dalam waktu 1 minggu
dan SGPT sudah meningkat 6 minggu setelah penularan.
– Penularan peroral HBs Ag baru positif 2 bulan setelah
penularan dan SGPT meningkat dalam 3 bulan.
– Hal tersebut mungkin disebabkan karena perbedaan jumlah
virus yang berhasil masuk kedalam peredaran darah dan
mencapai hati (Dienstag 1984).
• kesetaraan individu yang bersangkutan:
– walaupun suatu cara penularan ukup efektif tetapi bila individu
tersebut sudah kebal maka tak akan terjadi penularan
(Dienstag 1984).
Kelompok populasi dengan risiko tertular
yang tinggi
– staf serta penderita pada tempat perawatan untuk Px dengan
lemah mental.
– penghuni institusi yang besifat tertutup, misalnya penjara dll.
– pecandu narkotika (terutama yang menggunakan obat suntik)
– staf dan penderita uni hemodialisis
– petugas kesehatan yang sering berhubungan dengan darah
maupun produk yang berasal dari darah
– penderita yang sering mendapat transfusi darah misal :
penderita thelasemia, hemofilia, dll
Kelompok populasi dengan risiko tertular
yang tinggi
– individu yang sering berganti – ganti pasangan seksual
– pria homo seksual
– suami/istri atau anggota keluarga penderita yang menderita
infeksi VHB kronik
– bayi yang dilahirkan oleh ibu yang HBs Ag positif
– individu – individu yang tinggal didaerah dengan prevalensi
infeksi VHB yang tinggi
– populasi dari golongan sosial – ekonomi rendah yang tinggal
dalam daerah berjejal (crowded) dan higiene kurang walaupun
tinggal didaerah dengan prevalensi infeksi VHB rendah.
Manifestasi klinik
• Ada tiga manifestasi utama infeksi virus
heptitis B adalah
– hepatitis akut
– hepatitis kronik
– carrier sehat
Manifestasi klinik
• Hepatitis akut :
perjalanan penyakit dibagi menjadi 4 tahap yaitu:
– masa inkubasi berkisar antara 28 – 225 dengan rata – rata 75 hari. tergantung
pada dosis inokulum yang infektif makin besar dosis makin pendek masa
inkubasi HB.
– fase pra ikterik : Keluhan paling dini adalah malaise disertai anorexia dan
dysgensia (perubahan pada rasa) mual sampai muntah serta rasa tidak enak
pada perut kanan atas. Febris jarang didapatkan dan walaupun ada tinggi. Pada
fase ini dapat terjadi febris, gejala kulit dan anthralgin.
– Fase ikterik : berkisar antara 1 sampai 3 minggu, tetapi juga dapat terjadi hanya
beberapa hari atau selama 6 – 7 bulan.
– fase penyembuhan

• Gejala fisik pada hepatitis akut


– hepatomegali, biasanya tidak terlalu besar
– nyeri tekan daerah hati tanpa tanda – tanda
hepatomegali (lebih banyak)
– Splenomegali ringan: 10 – 25% kasus
– Pembesaran kelenjar bening ringan
Manifestasi klinik
• Labotarium:
– billirubin serum meningkat
– kadar enzim aminotransferase (SGOT & SGPT) meningkat
– kadar alfa fetoprotein mencapai 400 ng/l
– HBs Ag positif  masa tunas sudah positif
– Hbe Ag positif menjadi negatif dengan timbulnya gejala
– DNA polymerase & DNA VHB positif menjadi negatif dengan
timbulnya gejala
– Anti – HBc positif sebelum permulaan timbulnya gejala
– Anti – HBs positif pada fase penyembuhan
Manifestasi klinik
• Hepatitis B kronis
– keradangan dan nekrosis pada hati yang menetap (persistent) akibat infeksi
virus hepatitis B dan gangguan faal hati tetapi terjadi selama lebih dari 6 bulan
– pada umumnya penderita menunjukkan keluhan yang ringan dan tidak khas.
Pemeriksaan fisik juga tidak khas.
– Faktor – faktor predisposisi yang mempengaruhi seorang yang menderita infeksi
virus hepatitis B mengalami infeksi VHB akut atau kronik, yaitu:
• umur
• jenis kelamin
• faktor imunologik
– neonatus : 90 – 100% akan menjadi infeksi kronik, bila infeksi VHB terjadi saat
dilahirkan.
– Bila infeksi VHB terjadi pada anak – anak kecil kemungkinan ingfeksi menjadi
kronik : 20 – 30%.
– Infeksi VHB pada orang dewasa akan menjadi kronik pada 5 – 10%.
Pencegahan infeksi HBV
• pemeriksaan HBs Ag sebelum transfusi darah dan tidak menggunakan
menggunakan darah yang HBs Ag positif.
• sterilisasi virusidal untuk semua alat – alat yang rendah dipakai untuk
melakukan tindakan yang parental.
• imunisasi (pasif aktif dan gabungan imunisasi pasif dan aktif
• imunisasi pasif dengan hepatitis B imune globulin (HBIG).
» Untuk pencegahan infeksi pada lingkungan endemik
» Untuk pencegahan hepatitis pasca transfusi
» Untuk pencegahan infeksi VHB akibat hemodialins
» Untuk pencegahan infeksi VHB akibat hubungan kelamin
» Untuk pencegahan infeksi VHB melalui tusukan jarum
» Untuk pencegahan infeksi VHB parinatal
Pengkajian Keperawatan
• Riwayat terpapar virus hepatitis (acut):
parenteral, mukosa membrane, seksual,
darah dan cairan tubuh orang dengan
hepatitis B, ketergantungan obat intravena.
Perjalanan keluar negeri.
• Gejala prodromal : anoraksia, nyeri abdomen,
fatique, mual, muntah, malaise, kongesti
hidung, mialgia, urtikaria, gangguan
penciuman dan rasa, berat badan menurun.
• Jaundice : sclera dan kulit kuning, urine kotor
(warna teh), feses seperti tanah liat,
mengeluh kulit gatal.
• Abdomen : tenderness (kepekaan) pada
kuadran kanan atas,
hepatosplenomegali.
• Tanda-tanda kegagalan hati: asits,
perdarahan (urin/feses), bingung,
letargi, tremor dorsifleksi tangan.
• Tanda-tanda komplikasi sistemik ( mis :
edema paru dan gagal jantung ) : bunyi
rales jantung, nadi irregular/
lemah/cepat, napas pendek/ sesak.
Diagnosa Keperawatan

1. Infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat


(leucopenia) dan depresi imun
2. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan
berlebihan melalui muntah dan diare,
perpindahan area ke tiga (asites).
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b/d kegagalan masukkan untuk memenuhi
kebutuhan metabolic (anoreksia, mual/muntah),
gangguan absorbsi dan metabolisme
pencernaan makanan (empedu tertahan,
penurunan peristaltic).
4. Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
umum, penurunan kekuatan.
5. Resti kerusakan integritas kulit b/d
akumulasi garam empedu dalam
jaringan.
6. Resti infeksi kontak b/d terpapar
terhadap virus hepatitis.
Intervensi Keperawatan
• Infeksi b/d pertahan primer tidak adekuat
(leucopenia) dan depresi imun.
– Lakukan tehnik isolasi untuk infeksi interik dan
pernafasan sesuai kebijakan RS.
– Lakukan cuci tangan efektif
– Batasi pengunjung sesuai indikasi
– Jelaskan prosedur isolasi pada pasien/orang
terdekat
– Kolaborasi/atur pemberian obat sesuai indikasi
( Hepasil kaps. 3 x 1 peroral, Epatin tab. 2 x 1
peroral, infuse Aminoleban 500 ml/24 jam).
• Kekurangan volume cairan b/d kehilangan
berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan
area ketiga (asites).
– Monitor intake dan output
– Monitor tanda-tanda vital, pengisian kapiler,
turgor kulit dan membrane mukosa
– Anjurkan banyak minum air putih sebatas
toleransi
– Periksa asites/pembentukan edema, ukur
lingkar abdomen sesuai indikasi.
– Obserfasi tanda-tanda perdarahan seperti
hematuria, melena, ekimosis.
• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan
metabolik (anoreksia, mual/muntah), gangguan
absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan
(empedu tertahan, penurunan peristaltik).
– Monitor pemasukan diet/jumlah kalori, berikan
makanan sedikit dalam frekuensi sering.
– Lakukan perawatan mulut sebelum makan
– Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
– Berikan tambahan makanan /nutrisi dukungan
total via enteral/parenteral bila dibutuhkan
– Kolaborasi ahli gizi
– Kolaborasi/atur pemberian terapi
Metoclorpropamide dan vit. B komp.
• Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
umum, penurunan kekuatan
– Berikan bantuan dengan cepat dan
sesuai toleransi
– Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi,
bantu lakukan latihan rom aktif atau pasif
– Libatkan keluarga/orang terdekat dalam
pemenuhan aktifitas pasien
– Monitor kadar LFT
• Resti kerusakan integritas kulit b/d
akumulasi garam empedu dalam
jaringan.
– Gunakan air mandi dingin, hindari sabun
alkali, berikan minyak alami sesuai
kebutuhan.
– Anjurkan untuk tidak menggunakan kuku
dalam menggaruk, melepaskan pakaian
ketat, berikan sprei katun lembut
– Berikan masage pada waktu tidur
– Kolaborasi terapi antihistamin seperti
diphenhidramin.
• Resti infeksi kontak b/d terpapar terhadap
virus hepatitis
– Gunakan enteric precaution sekurang-
kurangnya 1 mggu setelah serangan jaundice
– Ajarkan cuci tangan yang benar
– Jelaskan pentingnya personal hygiene
– Lakukan imunisasi bila memungkingkan