You are on page 1of 110

MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

-. Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang


merubah energi listrik menjadi energi gerak
dengan menggunakan gandengan medan listrik
dan mempunyai slip antara medan stator dan
medan rotor.
-. Motor induksi merupakan motor yang paling
banyak kita jumpai dalam industri.
Konstruksi motor tiga phasa
Bagian Motor Induksi Tiga Phasa
Stator
-. Stator adalah bagian dari mesin yang tidak berputar
dan terletak pada bagian luar. Dibuat dari besi bundar
berlaminasi dan mempunyai alur – alur sebagai
tempat meletakkan kumparan.
Rotor

- Rotor
Adalah bagian dari mesin yang berputar bebas
dan letaknya bagian dalam. Terbuat dari besi
laminasi yang mempunayi slot dengan batang
alumunium / tembaga yang dihubungkan
singkat pada ujungnya.
- Rotor ada macam:
Rotor sangkar bajing (squarrel cage)
Rotor Belitan
Rotor Sangkar
Konstruksi rotor sangkar
( squarrel-cage rotor )
Rotor kumparan ( wound rotor )

Kumparan dihubungkan bintang dibagian


dalam dan ujung yang lain dihubungkan
dengan slipring ke tahanan luar. Kumparan
dapat dikembangkan menjadi pengaturan
kecepatan putaran motor.
Pada kerja normal slipring hubung singkat
secara otomatis, sehingga rotor bekerja
seperti rotor sangkar.
Jenis Rotor Belitan
Konstruksi rotor kumparan
( wound rotor ).
Keuntungan motor tiga phasa
-.Konstruksi sangat kuat dan sederhana
terutama bila motor dengan rotor sangkar.
-. Harganya relatif murah dan kehandalannya
tinggi.
-. Effesiensi relatif tinggi pada keadaan normal,
tidak ada sikat sehingga rugi gesekan kecil.
-. Biaya pemeliharaan rendah karena
pemeliharaan motor hampir tidak diperlukan.
KERUGIAN PENGGUNAAN MOTOR
INDUKSI

 Kecepatan tidak mudah dikontrol


 Power faktor rendah pada beban ringan

 Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus


nominal
PRINSIP KERJA MOTOR
(Gaya Lorentz)
F = Gaya
B = Kerapatan fluks
I = Arus
L = Konduktor

Arus listrik (i) yang dialirkan di dalam


suatu medan magnet dengan kerapatan
Fluks (B) akan menghasilkan suatu gaya
Sebesar:
Nilai F Dipengaruhi Banyaknya Lilitan ( N )
Linear Motor
Prinsip kerja 3 Phasa

1. Bila sumber tegangan tiga phasa dipasang pada kumpara


stator, maka pada kumparan stator akan timbul medan putar
dengan kecepatan n 
120 f
ns = kecepatan
s
sinkron
120 f P

ns  f = frekuensi sumber
p = jumlah kutup
P
2. Medan putar stator akan memotong
konduktor yang terdapat pada sisi rotor,
akibatnya pada kumparan rotor akan
timbul tegangan induksi ( ggl ) sebesar

E2 s  44,4 fN
E = tegangan induksi ggl
f = frekkuensi
N = banyak lilitan
Q = fluks
3. Karena kumparan rotor merupakan
kumparan rangkaian tertutup, maka
tegangan induksi akan menghasilkan
arus ( I ).
4. Adanya arus dalam medan magnet akan
menimbulkan gaya ( F ) pada rotor.
5. Bila torsi awal yang dihasilkan oleh gaya
F pada rotor cukup besar untuk memikul
torsi beban, maka rotor akan berputar
searah dengan arah medan putar stator.
6. Untuk membangkitkan tegangan induksi E2s agar tetap
ada, maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara
kecepatan medan putar stator ( ns )dengan kecepatan putar
rotor ( nr ).

7. Perbedaan antara kecepatan nr dengan ns disebut


dengan slip ( S ) yang dinyatakan dengan persamaan:
n s  nr
S  100%
ns
8. Jika ns = nr tegangan akan terinduksi dan arus tidak
mengalir pada rotor, dengan demikian tidak ada torsi yang
dapat dihasilkan. Torsi suatu motor akan timbul apabila
ns > nr.
9. Dilihat dari cara kerjanya motor tiga phasa disebut
juga dengan motor tak serempak atau asinkron.
Contoh soal
 Motor enam kutub disuplai dari sumber 60 Hz fasa
tiga. Kecepatan rotor pada beban penuh adalah 1140
rpm. Tentukan:
a) kecepatan sinkron dari medan magnet
b) slip per unit
c) kecepatan rotor untuk sebuah hasil
beban yang dikurangi di slip s = 0,02
Penyelesaian
Diketahui :
p =6
f = 60 Hz
nr = 1140 rpm
 Kecepatan sinkron
120 f 120 x60
ns  
p 6
7200
  1200 rpm
6
 Slip pada beban penuh

n s  nr 1200  1140
s 
ns 1200
60
  0,05 atau 5%
1200
 Kecepatan putar rotor bila s = 0,02

ns  nr nr
s  1
ns ns
nr
0,02  1 
1200
nr  (1  0,02) x1200
 1176 rpm
TEGANGAN TERINDUKSI PADA ROTOR

 Pada saat standstill (slip = 100%)


– Medan putar rotor maksimum
– Fluks dalam stator sama dengan dalam rotor
– Tegangan yang dibangkitkan maksimum,
tergantung pada belitan rotor
– Tegangan yang diinduksikan ke rotor tergantung
pada ratio belitan
– Frekuensi rotor sama dengan frekuensi stator
 Pada saat bergerak:
– medan putar rotor maksimum
– fluks dalam stator sama dengan dalam rotor
– tegangan yang dibangkitkan berkurang sesuai
dengan slip yang terjadi
– Frekuensi rotor semakin berkurang sesuai
dengan penurunan slip
 Dapat disimpulkan bahwa:
– Er = s x EBR
 Er tegangan induksi rotor
 EBR tegangan induksi rotor saat standstill

– fR = s x f S

 fR frekuensi rotor
 fS frekuensi stator
Contoh Soal
 A three-phase 60 Hz four-pole 220-V
wound induction motor has a stator
winding Delta connected and a rotor
winding Y connected. The rotor has 40%
as many turns as the stator. For a rotor
speed of 1710 r/min, calculate:
– The slip
– The block rotor-induced voltage per phase EBR
– The rotor-induced voltage per phase ER
– The voltage between rotor terminals
– The rotor frequency
Solution
 The slip

120. f 120 x60


ns    1800 r / min
p 4

nr 1710
s  1  1  0,05
ns 1800
 The block rotor-induced voltage per
phase EBR
EBR  40% of Vstator / phase

EBR  0,4x220  88 V / phase

 The rotor-induced voltage per phase


ER
ER  sEBR  0,05x88  4,4 V
 The voltage between rotor terminals

VL  L ( rotor)  3 VR
VL L ( rotor)  3 x4,4  7,62 V

 The rotor
frequency
f R  sf  0,05x60  3 Hz
Arus Rotor
Lilitan rotor dihubung singkat dan tidak mempunyai
hubungan langsung dengan sumber, arusnya
diinduksikan oleh fluks magnet bersama (φ)
antara stator dan rotor lewat celah udara,
sehingga arus rotor bergantung pada perubahan-
perubahan pada stator;
Bila tegangan sumber V1 diberikan pada stator, pada
stator timbul tegangan E1 yang diinduksikan oleh
fluks-fluks tersebut, juga menimbulkan tegangan
E2 pada rotor, (E2= E1 pada saat rotor ditahan dan
S.E2= E1 pada waktu motor berputar) . Besarnya
arus rotor I2 akan diimbangi dengan kenaikan
arus stator tapi dengan arah berlawanan agar
fluks magnet bersama (φm) tetap konstan.
RANGKAIAN ROTOR

 Di rotor dalam tiap kondisi diperoleh


kesimpulan:
– Arus short circuit rotor dibatasi oleh impedansi
rotor
– Impedansi terdiri dari dua komponen yaitu:
 Resistansi rotor RR
 Reaktansi diri sXBR (XBR Reaktansi diri rotor pada
stand-still)
– Selama reaktansi diri merupakan fungsi dari
frekuensi, reaktansi proportional terhadap slip
Rangkaian Rotor
Tegangan induksi rotor (E2S) dan
reaktansi rotor (X2) dipengaruhi slip,
maka arus rotor:
E2 S SE2
I2  
( R2 )  ( X 2 S )
2 2
( R2 )  ( SX 2 )
2 2

Atau
E2
I2 
( R2 / S )  ( X 2 )
2 2
Rangkaian Rotor
R2 SX2 R2/S X2
I2 I2

S.E2 E2

Karena 1 S Rangkaian Equivalen


R2 / S  R2  R2 ( ) motor induksi mirip dengan
S transformator, rangkaian
sekunder transformator
Rangkaian rotor menjadi: dianggap sebagai rotor,
I2 R2 X2
1 S I 22 R2 = daya yang hilang
R2 ( ) sebagai panas
S
E2 1 S
2
I R2 (
2 )= daya yang keluar dari
S rotor sebagai daya
motor
 Sebagai hasil, arus rotor menjadi

ER
IR 
RR  X R
2 2

bila, maka,
ER  sE BR
sEBR
X R  sX BR IR  2
RR  (sX BR ) 2

ER  E1 , EBR  E2
X R  X 1 , X BR  X 2
jika penyebut dan pembilang dibagi dengan s,
maka:
Pembagian dengan s
EBR merubah titik
IR 
RR 2 referensi dari rotor ke
[ ]  X BR
2
rangkaian stator
s
sehingga rangkaian ekuivalen rotor per fasa
menjadi:
 Untuk tujuan menyamakan dengan
rangkaian resistansi rotor RR yang
sebenarnya, maka RR/s dipisah dalam
dua komponen:
RR RR
  RR  RR
s s
RR 1
 RR  RR (  1)
s s
 sehingga rangkaian ekuivalen rotor
menjadi sebagai berikut:
RANGKAIAN EKUIVALEN ROTOR
Rangkaian Ekivalen Motor
Induksi
Gelombang fluks celah udara berputar membangkitkan ggl lawan
pada stator, besar tegangan terminal stator berbeda dari ggl
lawan sebesar jatuh tegangan pada impedansi bocor stator,
dimana:
V1 = Tegangan terminal stator
V  E  I (R  jX )
1 1 1 1 1
E1 = ggl lawan yang dihasilkan
I1 = arus stator
R1 = resistansi stator
X1 = reaktansi bocor stator
Fluks celah udara resultan yang dihasilkan oleh gabungan agm arus
rotor dan stator, arus stator dapat dipecah menjadi dua
komponen, komponen beban dan komponen penguat. Komponen
beban I2 menghasilkan suatu agm yang tepat melawan agm arus
rotor. Rangkaian ekivalen yang menggambarkan gejala stator
maka efek rotor harus disertakan yaitu dengan memandang arus
dan tegangan rotor dan stator dalam bentuk besaran rotor yang
diketahui.
Lanjutan
R1 X1 I2

I1 Iφ
Ic Im
+ +
V1 GC Bm E1
- -

Hubungan tegangan Erotor yang diimbaskan pada


rotor sebenarnya dan tegangan E2S yang
diimbaskan pada rotor ekivalen :

E2 S  aErotor
Lanjutan
Arus rotor sebenarnya dan arus rotor ekivalen:
I rotor
I 2S 
a
Impedansi bocor frekuensi slip Z2S dari rotor
ekivalen dan impedansi bocor frekuensi slip
Zrotor sebenarnya :
2
E2 S a Erotor
Z 2S    a Z rotor
2

I 2S I rotor
Harga tegangan, arus dan impedansi berpatokan
pada stator, karena rotor terhubung singkat ,
hubungan fasor antar ggl frekuensi slip E2S dan
arus I2S pada fasa tersebut
Lanjutan dimana:
Z2S =impedansi bocor rotor frek.
E2 S
 Z 2 S  R2  jSX 2 slip berpatokan pada stator
R2 = tahanan patokan
I 2S SX2= reaktansi bocor patokan
pada frek. slip

Gelombang fluks mengimbaskan tegangan rotor


frekuensi slip E2S dan ggl lawan stator E1, karena
kecepatan relatif gelombang fluks terhadap rotor
adalah s kali kecepatan terhadap stator maka harga
efektif ggl stator dan rotor: E
dan arus stator 2 S  sE1
sX2
I 2S  I 2
IS2
+
R2
E2 S sE1 E2S
atau 
-
I 2S I2
Lanjutan
Torsi rotor dan stator adalah berlawanan karena arus
rotor I2S dihasilkan ggl rotor E2S sedangkan arus rotor
I2 mengalir melawan ggl lawan ststor E1, maka
persamaan diatas dapat ditulis:
sE1 E2 S
  R2  jsX 2
I2 I 2S
Dengan membagi dengan s, persamaan impedansi
rotor menjadi:
E1 R2
  jX 2
I2 s
Yang berarti stator melihat keadaan magnetik pada
celah udara yang menghasilkan tegangan stator
imbas E1 dan arus beban stator I2 berupa R2/s + jX2
yang dihubungkan pada E1.
Lanjutan

R1 X1 a X2

IΦ I2
I1 R2
GC Bm + S
E1
-

E2
I2 
( R2 / S ) 2  ( X 2 ) 2
E2 S SE2
I2  
( R2 ) 2  ( X 2 S ) 2 ( R2 ) 2  ( SX 2 ) 2
Analisa Rangkaian Eqivalen
Rangkaian eqivalen menterjemahkan sifat-sifat
motor induksi pada keadaan mantap: Perubahan
arus, kecepatan dan rugi-rugi bila torsi beban
berubah, torsi start dan torsi maksimum. Dari
rangkaian equivalen terlihat daya keseluruhan
yang dialihkan ke celah udara (Pag) dari stator:
R2
Pag  q1.I .
2
2
q1 = jumlah fasa stator,
S
Rugi-rugi I2R rotor = q1 . I22 . R2 sehingga
R2
PMek  Pag  rugi  rugi.I .R2  q1.I .
2
2  q1.I 22 .R2
2
2
S
(1  S )
Maka
 q1.I .R2
2
2
S
Pmek Motor = (1 - S) Pag
Lanjutan
Daya yang diberikan pada rotor sebesar (1-S)
dirubah menjadi daya mekanik dan sebagian S
hilang sebagai rugi-rugi I2R , bila motor bekerja
pada slip yang besar merupakan piranti yang
tidak efisien. Bila aspek daya ditekan rangkaian
eqivalen menjadi

R1 X1 X2 R2

IΦ I2
1 S
I1 R2 ( )
S
GC Bm
Lanjutan
Pmek tiap fasa stator besarnya sama dengan daya
yang diserap oleh tahanan

Torsi elektromagnetik (T) = Pmek . ωs atau


P = ( 1 – S ) . ωs . T

Pmek = q1 . I22 . R2 (1-S)/S atau q1 . I22 . R2 (1-S)/S


= ωs . T
dimana:
1 2 R2 T = torsi (Newton
sehingga T  .q1.I 2 .
S S meter)
f = frekuensi (Hz)
Kecepatan sudut :
4. . f
S 
kutub
Lanjutan
Torsi dan daya mekanis bukan harga keluaran rotor
karena masih ada rugi gesekan, rugi perlilitan dan rugi
beban tersebar yang tetap diperhitungkan. Bila
konduktansi GC dari rangkaian equivalen dihilangkan
dan rugi-rugi diabaikan maka rangkaian eqivalen
menjadi:

R2
R1 X1 X2 R1 X1 X2
a a

IΦ I2
I1 I1
I2 RS IΦ 1 S
V
Zf Xφ S V R2 ( )
S

b
Bila P = daya motor, T= torsi (kopel), ω = kecp sudut,
maka : P 3
T 
'
.E1.I 2 .Cos
 
bila Z1 = R1 +jX1 dianggap kecil maka E1 = V1 , maka
3 a2 sR2
T  .V 2
Tmak bila dt/ds =0
 (a 2 R 2 ) 2  s 2 (a 2 X 2 ) 2
1

sehingga V12
Tmak  3. .a 2 . X 2
2
Kesimpulan:
Untuk S kecil, S2 (a2 X2)2 diabaikan shg T=S (T – S)
Untuk memperoleh Tmak pada saat start (s=1)
dengan membuat R2 = X2, Tmak dapat diubah
dengan mengatur X2 atau V1 (tegangan sumber)
KOMPONEN DAYA PADA ROTOR
 ROTOR POWER INPUT (RPI)
 ROTOR COPPER LOSS (RCL)

 ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)

 OUT-PUT POWER

Ketiga komponen daya tersebut


didapat dari persamaan:
RR 1 bila ruas kanan dan
 RR  RR (  1) ruas kiri dari
s s persamaan ini dikalikan
dengan IR2, maka:
RR 1
 I R RR  I R RR (  1)
2 2 2
IR
s s
Dimana:
2 RR
IR ROTOR POWER INPUT (RPI)
s
2
I R RR ROTOR COPPER LOSS (RCL)

1
I R RR (  1)
2 ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)

s
RPI = RCL + RPD
HUBUNGAN RPD DENGAN RPI

RR
RPI  I R
2

s
1 1 s
RPD  I R RR (  1)
2
RPD  I R RR (
2
)
s s
2
I R RR
RPD  (1  s)
s
RPD  RPI (1  s)
HUBUNGAN RCL DENGAN RPI

RR
RPI  I R
2

s
sRPI  I R RR RCL  I R RR
2 2

sRPI  RCL RCL  sRPI


DAYA OUT-PUT

 Daya yang dibangkitkan di poros


rotor dapat dinyatakan dengan
persamaan:
Pout = RPD - Protasional

Protasional adalah daya hilang yang


disebabkan oleh gaya gesekan
(friksi) dan angin (kipas pendingin)
TORSI YANG DIBANGKITKAN
 Torsi elektromekanik Te adalah torsi yang
dibangkitkan di celah udara yang dapat
dinyatakan dengan persamaan:

Te 
RPI 2ns
s 
s 60
 Torsi poros Td adalah torsi yang
dibangkitkan di poros rotor yang dapat
dinyatakan dengan persamaan:

Pout 2nr
Td  r 
R 60
 Bila rugi Protasional diabaikan maka Td
dapat dinyatakan dengan persamaan:
RPD
Td 
R
RANGKAIAN STATOR
 Terdiri dari
– Tahanan stator Rs
– Reaktasi induktif Xs
– Rangkaian magnetisasi (tidak boleh
diabaikan seperti trafo karena rangkaian
ini menyatakan celah udara)
 Rangkaian
stator per fasa dinyatakan
pada gambar berikut:
DIAGRAM RANGKAIAN STATOR
 Bila tegangan konstan
– Rugi inti dianggap konstan mulai dari kondisi
tanpa beban sampai beban penuh
– Rc dapat dihilangkan dari diagram rangkaian
tetapi:
 rugi inti tetap ada dan diperhitungkan pada efisiensi
– Arus magnetisasi pada motor sekitar 30% s/d
50% dari arus nominal
– Reaktansi magnetisasi merupakan komponen
penting pada rangkaian pengganti
 Sehingga penyederhanaan diagram
rangkaian stator menjadi seperti gambar
berikut:
PENYEDERHANAAN DIAGRAM
RANGKAIAN STATOR
PENGGABUNGAN DIAGRAM
RANGKAIAN ROTOR DAN STATOR

 Sisi stator sebagai referensi parameter rotor


 Untuk menggabung rangkaian rotor dengan
rangkaian stator maka dapat digunakan
konsep: “daya stator sama dengan daya
rotor”
 Sehingga EBR harus sama dengan ES
 ES = a.EBR = E’BR
 I’R = IR/a
 R’R =a2.RR
 X’BR =a2.XBR
 Konstanta a merupakan transformasi
tegangan stator ke rotor
DIAGRAM LENGKAP MOTOR
INDUKSI TIAP FASA
ANALISA ARUS (METODE LOOP)

 Dari
diagram rangkaian berikut dapat
dibuat dua persamaan:
 Loop I:
(R S  jXS  jX M )Is - (0  jX M )I'R  VS
 Loop II:
R' R
 (0  jX M )Is  (  jX' BR  jX M )I'R  0
s
 Dibuat dalam bentuk matrik didapat:

 RS  j ( X S  X M )  (0  jX M )   I  V
 S
 R' R     
S

  (0  jX M )  j ( X 'BR  X M )  I 'R   0 
 s 
 Tentukannilai deteminant ()
konstanta matrik, dengan:
RS  j ( X S  X M )  (0  jX M )
 R' R
 (0  jX M )  j ( X 'BR  X M )
s
 Arus IS didapat dengan persamaan:

VS  j 0  (0  jX M )
R'R
0  j ( X ' BR  X M )
IS  s

 Arus IR didapat dengan persamaan:
 RS  j ( X S  X M ) (VS  j 0)
  (0  jX ) 
I 'R   M 0 

 Arus magnetisasi IM diperoleh dari:
IM = IS – I’R

 Faktordaya motor didapat dari Cos


sudut arus stator IS
KOMPONEN DAYA TIGA FASA

 STATOR POWER INPUT (SPI)

SPI  3xISVS cos 

 STATOR COPPER LOSS (SCL)

SCL  3xIS RS
2
KOMPONEN DAYA TIGA FASA

 ROTOR POWER INPUT (RPI)


R'R
RPI  3xI ' R
2

s
 ROTOR COPPER LOSS (RCL)

RCL  3xI ' R R' R


2
KOMPONEN DAYA TIGA FASA

 ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)


1
RPD  3 xI ' R R' R (  1)
2

s
 ROTASIONAL LOSS (PR)
Rugi-rugi yang disebabkan oleh gesekan
dan angin
 OUTPUT POWER (PO)
PO = RPD - PR
Daya Motor
Daya masuk stator P1 = 3. V1 . I1 . Cos φ
Daya masuk motor (terdapat pada celah udara)
P2 = 3. E1 . I2’ . Cos φ
P2 = 3. ( I2’ ). a2 [R2 + R2 (1-s)/s]
P2 = 3. ( I2’ )2. a2 [R2 /s]
Daya keluar rotor (daya mek pada rotor
termasuk rugi-rugi)
Pmek = 3. ( I2’ )2. a2 [R2 (1 – s)/s]
Rugi tembaga rotor:
PCU = 3. ( I2’ ) . A2 R2
Jadi
P2 = Pm: PCU = 1 : ( 1- s) : s
KOMPONEN DAYA TIGA FASA
PAg PConv

Pout=TInd . ωm
P1 = 3V1I1Cos φ

Psgesek PStray
PRCL + angin
PInti
PSCL
Rugi-rugi :
Rugi tembaga stator
PCUS = PSCL = 3. ( I12 ). R1
Rugi Inti Besi Stator
Pinti =PCORE =3(V12)/Rinti =3(I22)(R2/S)
Rugi Celah Udara
PAG = PIn - PSCL- Pinti
Rugi tembaga Rotor
PCUR = PRCL = 3. ( I22 ) . R2 = S. PAG
Daya Keluar Rotor (Pmek+Rugigesek/angin)
Pmek =PAG –PRCL=3(I22)R2/S -3(I22)R2
=3(I22) R2(1/S – S)
=3(I22) R2 (1-S)/S
Lanjutan
Dapat juga dituliskan
Pmek = PAG – PRCL
= PAG – S PAG = PAG ( 1 – S )
Bila rugi gesek ,angin & stray diketahui
maka daya keluar dapat dihitung
POUT = PMEK – PAG – PMisc
POut
Efisiensi  x100%
Pin
Pin  Rugi POut
 x100%  x100%
Pin POut  Rugi
DIAGRAM ALIR DAYA PADA
MOTOR INDUKSI TIGA FASA

SPI
RPI
RPD
POUT

SCL RCL PR
ANALISA ARUS
(METODE PENYEDERHANAAN)
 Mengacu pada diagram lengkap
motor induksi tiap fasa
 Untuk tujuan menyederhanakan
analisa, pindahkan parameter XM
mendekati sumber tegangan maka
didapat diagram rangkaian seperti
berikut:
PENYEDERHANAAN RANGKAIAN
EKUIVALEN MOTOR INDUKSI
 Dari rangkaian penyederhanaan didapat
persamaan arus I’R sebagai berikut:
VS
I 'R 
R'BR
( RS  )  j ( X S  X 'R )
s
 Arus pemagnetan IM sebagai berikut:

VS
IM 
jX M
 Arus stator IS sebagai berikut:
IS  I M  I'R
 Bila mengikuti gambar rangkaian maka
rugi tembaga stator SCL menggunakan
arus I’R. Tetapi untuk mengurangi error
yang tinggi pada perhitungan efisiensi
maka SCL dihitung menggunakan
persamaan berikut:
SCL  3xIS RS
2

 Perhitungan daya dan rugi-rugi yang lain


sama seperti perhitungan metode LOOP
 Faktor daya motor didapat dari Cos
sudut arus stator IS
EFISIENSI ()

 Menyatakan perbandingan daya output


dengan daya input

Pout Pin  Ploos Ploos


   1
Pin Pin Pin
 Bila dinyatakan dalam prosen maka,
Pout
 x100%
Pin
Contoh Soal
A three-phase 220-V 60-Hz six-pole 10-hp induction
motor has following circuit parameters on a per phase
basis referrred to the stator:
RS = 0.344 W R’R = 0.147W
XS = 0.498 W X’R = 0.224W X’M = 12.6W
Assuming a Y-connected stator winding. The
rotational losses and core loss combined amount to
262 W and may be assumed constant. For slip of 2.8
% determine:
– the line current and power factor
– the shaft torque and output horse power
– the efficiency
SOLUTION (LOOP METHODE)

 the phase voltage


is:
220 / 3  127 V
 the equivalent circuit is given in Figure:
 Loop I:
(0,344  j13,098)Is - (0  j12,6)I'R  127
 Loop II:
 (0  j12,6)Is  (5,25  j12,824)I'R  0
 Dibuat dalam bentuk matrik didapat:

0,344  j13,098  (0  j12,6)   I S  127


  (0  j12,6)     
 5,25  j12,824  I 'R   0 
 Tentukannilai deteminant ()
konstanta matrik, dengan:

0,344  j13,098  (0  j12,6)



 (0  j12,6) 5,25  j12,824
 1,81  j 4,41  j 68,76 - 167,97 - (-158.76)
 7,4  j 73,17
a. Arus IS didapat dengan persamaan:
127  j 0  (0  j12,6)
0 5,25  j12,824
IS 

127  j 0  (0  j12,6)
0 5,25  j12,824

 7,4  j 73,17
666,75  j1628.65

 7,4  j 73,17
 23,64 - j11,25  23,93  28,04
Arus IR didapat dengan persamaan:
5,25  j12,824 127  j 0
 (0  j12,6) 0
I 'R 
 7,4  j 73,17
0  j1600,2

 7,4  j 73,17
 22,747  j 2,19  21,757  5,77
Power faktor motor (diambil dari sudut
IS): PF  cos( 28,04)  0,88
b. The shaft torque and output horse
power
Kecepatan sinkron dari motor adalah :
120  f s 120  60
ns    1200 rpm
P 6
Kecepatan rotor adalah :
nr  (1  s)ns  (1  0,028)  1166 rpm
Kecepatan sudut rotor adalah :
2nr 2 x 1166
r    122,1 rad/detik
60 60
Rotor Power Input adalah :
R' R
RPI  3I 'R
2

s
 3 x 21,757 x 5,25  7455,531 W
2

Rotor Power Developed adalah :


RPD  RPI (1  s )
 7455.531(1 - 0,028)
 7246.776 W
Power Output adalah :
Pout = RPD – Protasional
= 7246,776 – 262
= 6984,776 W
Torsi motor adalah :
Pout 6984.776
Td    57.2 N - m
R 122,1
Horsepower motor adalah :
Pout 6984.776
HP    9.36
746 746
Power loos adalah :
Protasional + Core loss = 262 W
RCL = 0,028 x 7455,351 = 208.75 W
SCL = 3x23,932x 0,344 = 590,97 W +
Total loss = 1061,72 W
c. Efisiensi motor adalah :
Pout
 x100%
Pout  Ploss
6984,776
  86,8%
6984,776  1061,72
SOLUTION (Penyederhanaan)
 the phase voltage
is:
220 / 3  127 V
 the equivalent circuit is given in Figure:
Arus IR didapat dengan persamaan:
127
IR 
0,344  5,25  j 0,722
 22,52  7,4
 22,33 - j 2,88 A
Arus IM didapat dengan persamaan:

127
IM    j10,08 A
j12,6
a. Arus Sumber IS didapat dari :
I S  22,33  j (2,88  10,08)
 22,33 - j12,96
 25,82  30,1 A

Power faktor motor (diambil dari sudut


IS):
PF  cos( 30,1)  0,865
b. The shaft torque and output horse
power
Kecepatan sinkron dari motor adalah :
120  f s 120  60
ns    1200 rpm
P 6
Kecepatan rotor adalah :
nr  (1  s)ns  (1  0,028)  1166 rpm
Kecepatan sudut rotor adalah :
2nr 2 x 1166
r    122,1 rad/detik
60 60
Rotor Power Input adalah :
R' R
RPI  3I 'R
2

s
 3 x 22,52 x 5,25  7988 W
2

Rotor Power Developed adalah :


RPD  RPI (1  s )
 7988(1 - 0,028)
 7764 W
Power Output adalah :
Pout = RPD – Protasional
= 7764 – 262
= 7502 W
Torsi motor adalah :
Pout 7502
Td    61.4 N - m
 R 122,1
Horsepower motor adalah :
Pout 7502
HP    10.1
746 746
Power loos adalah :
Protasional + Core loss = 262 W
RCL = 0,028 x 7988 = 224 W
SCL = 3x25,822x 0,344 = 688 W +
Total loss = 1174 W
c. Efisiensi motor adalah :
Pout
 x100%
Pout  Ploss
7502
  86,5%
7502  1174
Perbandingan Kedua Metode
 Arus sumber

 Metode Loop

I S  23,64 - j11,25  23,93  28,04 A


 Metode Pendekatan

I S  22,33 - j12,96  25,82  30,1 A


Perbandingan Kedua Metode
 Torsi Poros dan Output
Horsepower

 Metode Loop
Td  57,2 N  m HP  9,36

 Metode Pendekatan

Td  61,4 N  m HP  10,1
Perbandingan Kedua Metode
 Efisiensi

 Metode Loop
  86,8%
 Metode Pendekatan

  86,5%
Soal & penyelesaian
 Suatu motor induksi 3 fasa, 440 volt, 25
HP, 50 Hz mempunyai 4 pasang kutub,
dengan putaran 1470 RPM pada beban
penuh. Tentukan :
a. Slip motor
b. Torsi induksi
c. Kecepatan motor bila torsi
dilipatduakan
d. Daya motor pada saat torsi
dilipatduakan
a. Putaran sinkron
120. f 120.50
ns    1.500 Rpm
P 4
Kecepatan sudut (ωs)
(rad ) (men) 120.50 (rad )
s  ns .2. .   157,2
men (60 det) 4 det

(ns  nr ) (1500  1470)


Slip  .100%   2,0%
ns 1500
b. Torsi Induksi=
W
25 HP.(746 )
POut HP
Tind  
m nr .(2. .
rad 1men
)( )
r 60 s
W
25 HP.(746 )
 HP  212,21N .m
rad 1men
1470 Rpm.(2 . )
r 60 s
Dalam satuan Inggris:

5252.PC 0 nv 5252.(25HP )
Tind    89,32lb. ft
nm r
1470
min
c. Jika motor dibebani 2 kali torsi, maka Slip
akan meningkat 2 kali = 0,02 x 2= 0,04
atau 40% sehingga kecepatan motor:
nm = (1 – s) (ns) =
= ( 1 – 0,04) (3000 r/men) = 1440 r/men
d. Daya motor :
2.TInd .nm 89,3.1440
PConv    344,75Hp
746 746

2.TInd .nm 2.89,3.1500


PConv    51,0lb / ft
5252 5252
2. Suatu motor induksi 3 fasa, 440 volt, 25 HP, 50 Hz mempunyai 4
pasang kutub yang terhubung secara bintang, memiliki impedansi
perfasa yang dipandang dari sisi rangkaian stator ;
 R1 = 0,645 Ω R2 = 0,325 Ω
 X1 = 1,115 Ω X2 = 0,460 Ω Xm = 26,2 Ω

Bila rugi gesek dan angin sebesar 950 watt dan bersifat tetap, rugi inti
sudah include denga rugi gesek dan angin. Slip pada rotor sebesar 2,1
% pada tegangan dan frekuensi kerja normal, tentukan menurut
penyelesaian Matrik.
a Kecepatan stator danΩ kecepatan
R1 = 0,645 R2 = 0,325 Ω sudutnya

b. Kecepatan rotor dan kecepatan


X1 = 1,115 Ω
sudut rotor
X2 = 0,460 Ω Xm = 26,2 Ω

c. Arus yang mengalir pada stator


d. Gambar rangkaian pengganti berikut besaran-besarannya
e. Faktor daya
f. Daya konversi (conv) dan daya keluaran (Pout)
g. Torsi induktif dan torsi beban
h. Efisiensi motor
SOLUTION (LOOP METHODE)
a.Ns = 120 x F/P
= 120 x 50/4=1500 rpm
Ws = Ns x 2π x 1/60 s
=1500 x 2 x 3,14 x 1/60=157 rad/s
Nr =(1-S)xNs =
=(1 – 0,021)x1500=1470 rpm
Ws = Nr x 2π x 1/60 s
=1470 x 2 x 3,14 x 1/60=135 rad/s
SOLUTION (LOOP METHODE)
 the phase voltage
is: 440 / 3  254 V
 the equivalent circuit is given in Figure:

0,645 Ω 1,115 Ω 0,460 Ω

26,2 Ω 0,325 Ω
254 V
 Loop I:
(0,645  j1,115)Is - (0  j 26,2)I'R  254
 Loop II:
 (0  j 26,2)Is  (0,46  j0,325)I'R  0

 Dibuat dalam bentuk matrik didapat:

0,645  j1,115  (0  j 26,2)   I S  254


  (0  j 26,2) 0,460  j 0,325  I '    0 
  R   
 menetukan nilai deteminant ()
konstanta matrik, dengan:
0,645  j1,115  (0  j 26,2)

 (0  j 26,2) 0,46  j 0,325
 (0,645  j1,115)(0,46  j 0,325) - ((0  j 26,2)( (0  j 26,2))
 ( 0,416  1,243 )( 0,211  0,105 )  ( 0  686,44 )( 0  686,44 )
 ( 1,659 )( 0,316 )  ( 686 )( 686 )
 (1,285 * 0,562)  (